Jumat, 06 Maret 2020
Mesjid Abu Bakar Siddiq di Mekkah
Masjidil Haram Saat Kosong Setelah Sterilisasi
![]()
Kakbah yang biasanya penuh dengan jemaah pun terlihat kosong. Biasanya para jemaah melakukan berbagai ibadah di lokasi tersebut, seperti salat hingga tawaf.
![]()
Sejumlah petugas pun membersihkan area Kakbah. Diharapkan dengan demikian virus corona tidak bisa menyebar di tempat suci ini.
![]()
Penutupan sementara dua masjid suci itu akan dilaksanakan di luar waktu salat. Disebutkan penutupan sementara itu dilaksanakan satu jam setelah salat Isya pada hari Kamis (5/3/2020) dan dibuka lagi satu jam sebelum salat Subuh pada hari Jumat (6/3/2020).
![]()
Sebelumnya pemerintah Arab juga telah melakukan moratorium terhadap ibadah umrah untuk seluruh negara termasuk Indonesia.
Keutamaan Menghadap Kabah - Pengetahuan
Tentang Ka'bah
Sejarah Masjidil Haram
Masjid ini dibangun mengelilingi Ka’bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah Sholat. Allah subhanahuwata’ala menetapkan hukum-hukum khusus untuk masjid ini dalam Al Quran, yang berbeda dari mesjid lainnya. Seperti beribadah di sini pahalanya 100.000 kali lipat dari masjid lainnya.
Masjid terbesar di dunia ini memiliki luas mencapai 356.800 meter persegi dengan kemampuan menampung jamaah sebanyak 820.000 jamaah ketika musim Haji dan mampu bertambah menjadi dua juta jamaah ketika sholat Ied.
Masjid Pertama yang Dibangun di Bumi
Setelah mengetahui betapa agungnya Masjidil Haram ini, mari kita tengok sejarah panjang masjid. Sejarah masjid ini tidak lepas dari sejarah Kak’bah pada masa Nabi Ibrahim ‘alayhissalam. Allah mengatakan, dalam Surah Ali Imran ayat 96, bahwa Masjidil Haram merupakan masjid pertama yang dibangun di muka bumi.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
Artinya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran: 96)
Juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar berkata:
Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi?, ia menjawab: “Masjidlil haram”.
Saya berkata: Lalu setelah itu?, beliau menjawab: “Masjidil Aqsha”. Saya berkata: Berapa tahun jarak dibangunnya antara kedua masjid tersebut ?, beliau menjawab: “40 tahun”.
Bangunan Ka’bah yang merupakan qiblat umat Islam, terletak di tengah Masjidil haram yang tingginya mencapai 15 meter, seperti kamar besar yang berbentuk kubus, dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam melalui perintah Allah sebagai berikut:
وَإِذْ بَوَّأْنَا لإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat (petunjuk) kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku` dan sujud” (QS. al Hajj: 26)

Serangan Pasukan Gajah ke Ka’bah
Pasca dibangunnya Ka’bah, sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan, seluruh umat muslim maupun non muslim berbondong-bondong menuju Ka’bah untuk beribadah. Hal ini membuat Raja Abrahah di Yaman geram, dan membuat tandingan Ka’bah, berupa gereja “Al Qullais”.
Karena jemaah haji tidak mau berkunjung ke Al Qullais tersebut, Abrahah pun semakin geram, dan memutuskan bersama pasukan gajahnya menyerbu Ka’bah. Warga Mekkah yang tidak siap dan minim persenjataan, hanya bertawakal pada Allah dengan melihat penyerangan tersebut dari bukit-bukit di sekitar Ka’bah.
Sesampainya di depan Ka’bah, pasukan gajah Raja Abrahah itu dihujani bebatuan yang sangat panas, sehingga membuat badannya terluka dan mati. Bebatuan tersebut dibawa sekelompok burung ababil atas perintah Allah ta’ala. Sekelompok burung Ababil tersebut, masing-masing membawa tiga batu kecil, satu di paruhnya, dan dua lagi di kakinya. Allah telah menyebutkan kejadian tersebut dalam Al Qur’an, pada surat Al Fiil ayat 1-5.
Fase Pembangunan Kakbah
Ulama sekaligus ahli sejarah Arab Saudi, Wahab bin Munabbih berkata: “Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, kemudian ‘Amaliqah, kemudian Jurhum, kemudian Qushai bin Kilab dari kabilah Quraiys. Mereka orang-orang Quraisy membangun Ka’bah dari bebatuan yang berasal dari lembah yang mereka pikul dipundak mereka, tinggi bangunan mencapai 20 hasta. Jarak antara bangunan Ka’bah dan perintah membangunnya selama 5 tahun, dan antara pintu keluar dan bangunannya selama 15 tahun.
Ada kisah yang terkenal ketika kaum Qurays tersebut membangun Ka’bah, ketika sampai di pojok (tempat hajar aswad) mereka berselisih siapa yang lebih berhak untuk mengembalikannya?
Sampai satu sama lain dari mereka beradu argumen lalu salah satunya berkata: “Kami sepakat untuk memberikannya kepada seseorang yang pertama kali mendatangi jalan ini. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali mendatanginya, ia pada saat itu masih seorang pemuda, mereka sudah menjadikannya hakim (penentu) untuk memutuskan peletakan hajar aswad.
Maka Rasulullah meletakkan kainnya, dan meyuruh ketua setiap kabilah untuk memegang tiap ujung kain tersebut, mereka pun mengangkat kain tersebut untuk dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah yang meletakan hajar aswad tersebut pada tempatnya.

Tembok yang Mengelilingi Ka’bah Cikal-Bakal Masjidil Haram Dibangun
Pada zaman Rasulullah, Ka’bah tidak memerlukan tembok yang mengelilinginya. Sampai pada zaman sahabat menjadi klahifah, tembok tersebut dibutuhkan. Pertama kali dinding yang mengelilingi Ka’bah dibangun pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Kebijakan tersebut diambil oleh Umar disebabkan banyak rumah-rumah warga sekitar yang terus mendekati Ka’bah, maka Umar berkata: “Sesungguhnya Ka’bah ini adalah Baitullah, dan setiap rumah harus memiliki halaman, dan bangunan kalian semua telah memasuki halaman Ka’bah, bukannya halaman Ka’bah yang memasuki rumah kalian”.
Umar pun membeli rumah-rumah yang berdekatan dengan Ka’bah dan menghancurkannya untuk memperluas halaman Ka’bah. Bagi sebagian warga yang menolak untuk dibeli Umar tetap menghancurkan rumah-rumahnya dengan tetap menyediakan ganti ruginya agar bisa dimanfaatkan pada saatnya nanti. Beliau membangun dinding tanpa pondasi dan meletakkan lampu di atasnya.
Kemudian pada masa Utsman juga membeli rumah-rumah yang lain dengan harga yang lebih mahal tentunya, bahkan diriwayatkan bahwa beliau yang pertama kali memberinya atap pada saat ada perluasan masjid. Sedangkan pada masa Ibnu Zubair beliau mendetailkan (memperindah) bangunannya dan tidak memperluasnya, ia memberinya tiang yang berhias batu marmer, dan memperindah pintunya.
Setelah itu pada masa Abdul Malik bin Marwan ia menambahkan tinggi dinding masjid, dan membawakan pagar dari Mesir lewat laut ke Jeddah dan dari Jeddah segera dibawa ke Makkah dan menyuruh Hajjaj bin Yusuf untuk memolesnya. Ketika al Walid bin Abdul Malik memimpin ia menambahkan perhiasan Ka’bah, dan merubah pancuran dan atapnya. Setelah itu Manshur dan anaknya Mahdi naik menjadi khalifah, keduanya juga menambah keindahan masjid.
Di dalam Masjidil Haram terdapat beberapa situs diniyah, yaitu maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,ialah batu tempat pijakan kaki beliau ketika membangun Ka’bah. Demikian juga sumur zam-zam ia adalah mata air yang Allah ta’ala keluarkan untuk ibunda Hajar dan anaknya Isma’il alaihis salam ketika keduanya sedang kehausan.
Di Masjidil Haram juga terdapat hajar aswad, yang berasal dari bebatuan surga, demikian juga Maqam Ibrahim. Sebagaimana hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr berkata: Saya mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Sesungguhnya pojok (hajar aswad) dan maqam Ibrahim adalah batu mulia yang berasal dari bebatuan surga, yang Allah hilangkan cahayanya, andai saja tidak dihilangkan maka keduanya akan menyinari seluruh ufuk timur dan barat”. (HR. Tirmidzi)
Kisah Nyata, 40 Tahun Lalu Masjidil Haram Pernah Diserang Teroris - Pengetahuan

Sudah lebih dari 40 tahun yang lalu kelompok militan ekstremis berhasil menduduki Masjidil Haram di Makkah, tempat paling suci bagi umat Islam. Peristiwa yang tiba-tiba itu mengejutkan semua umat Islam di seluruh dunia.
Peristiwa mengerikan itu terjadi pada tanggal 20 November 1979 ketika ribuan jamaah sedang bersiap-siap untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah di Masjidil Haram. Di antara jamaah yang banyak itu, terdapat 200 orang militan ekstremis yang dipimpin oleh Juhayman Al-Otaibi. Ia merupakan mantan pasukan elit Garda Nasional yang kecewa.

Saat itu waktu itu menunjukkan hampir pukul 05.25, ketika imam selesai memimpin Salat Subuh. Juhayman dan para pengikutnya mendorong sang imam ke samping dan mengambil mikrofon.
Seketika mulai terdengar suara peluru sehingga mengubah tempat paling suci dan damai tersebut menjadi sangat mencekam.
Pemerintah setempat langsung bergerak cepat, Pemerintah Arab Saudi langsung mengirimkan peringatan kepada para penyerang melalui sebuah megafon yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan olehnya bertentangan sepenuhnya dengan ajaran Islam.
Himbauan itu tak digubris oleh para penyerang, malah dari sebuah menara Masjidil Haram, penembak jitu mulai menembak mati orang-orang tak berdosa di luar Masjidil Haram.
Saat itu Raja Khaled langsung mengumpulkan ulama senior untuk membahas serangan ini, akhirnya para ulama mengeluarkan fatwa untuk menghukum mati mereka sesuai dengan instruksi syariah Islam.
Namun, Raja Khaled meminta agar nyawa orang-orang tidak bersalah harus tetap dilindungi dan juga menghimbau untuk tidak merusak Kakbah dan sebisa mungkin menangkap para penyerang hidup-hidup.
Dipenuhi dengan semangat yang menggebu-gebu untuk membebaskan Masjidil Haram dari kendali kelompok ekstremis, tentara Arab Saudi bekerja sangat keras dan menjalankan sesuai dengan rencana agar mereka berhasil mengendalikan seluruh masjid.
“Kami memasuki Masjidil Haram dengan kendaraan militer untuk mengangkut rekan-rekan kami di dalam area Masa'a, dekat Gunung Al-Marwa. Tembakan itu datang dari mana-mana ke arah kami, ” ujar Hizam Al-Mastouri, tentara Saudi yang ikut dalam pertempuran tersebut seperti dikutip dari Arab News, Jumat (28/2/2020).
Dia menambahkan bahwa para sahabat Juhayman bersembunyi di banyak sudut Masa'a. “Mereka bisa melihat kita, sementara kita tidak bisa melihat mereka. Seiring waktu, komandan tentara membuat perubahan rencana dengan cara yang sesuai dengan situasi tersebut, ”kata Al-Mastouri.
Khaled Almaeena, mantan pemimpin redaksi Arab News, menggambarkan bahwa kejadian itu sangat mengerikan.
"Itu adalah pemandangan yang menyedihkan melihat tempat tersuci dalam Islam kosong. Tidak ada jamaah. Bahkan, ada tembakan dari menara dan aku bisa melihat kepulan asap dari berbagai menara. Ada bau mesiu dan asap,” katanya.
Almaeena menjelaskan, sesekali helikopter akan melayang tinggi di langit, menjaga jarak dari perimeter Masjidil Haram. “Serangan dan pendudukan masjid mengejutkan semua orang. Dan butuh waktu bagi kita semua, termasuk pasukan keamanan, untuk mengetahui apa yang sebenarnya, ”katanya.
Ketika ditangkap, kelompok esktrimis diperlakukan dengan murah hati dan lembut. Pangeran Saud Al-Faisal mendekati Juhayman dan bertanya kepadanya mengapa ia melakukan tindakan ini. Juhaiman Al-Otaibi, pemimpin kelompok ekstrimis tersebut menjawab, “Itu gerakan setan.”
Pangeran juga bertanya kepadanya apakah dia mengeluh tentang sesuatu atau menginginkan sesuatu. Juhayman menunjuk ke luka kecil di kakinya dan meminta air.
Hari-hari yang mencekam, kumandang azan indah nan merdu dari Masjidil Haram yang tidak pernah terdengar dalam beberapa hari akhirnya berakhir. Insiden itu, berlangsung selama dua minggu, merenggut lebih dari 100 nyawa.
Senin, 02 Maret 2020
Sebagian Tempat Bersejarah Mekkah dan Madinah
Lokasinya masih sekitaran Masjidil Haram dari pintu keluar Marwah ambil ke arah kiri terus lurus ke arah terminal bus Jarwal, ikuti kanopi terminal nanti tepat diujung kanopi ada bangunan kecil, dipagar ram kawat. Jarang orang yang tahu, menurut cerita Rasulullah SAW pernah bermalam di tempat iti dan mandi di sumurnya, baru kemudian beliau masuk ke Masjidil Haram melakukan haji dan umrah. Untuk mengenang tempat dimana Rasulullah SAW bermalam tersebut dibangun sebuah masjid yang diberi nama dengan masjid Bir Dzi Thuwa (Bir = Sumur).
Mesjid sudah tidak digunakan lagi tapi sumur Thuwa masih ada.
Masjid Ijabah (4- 5 - 6)
Keluar dari Gate 36 Masjid Nabawi dekat pemakaman Baqi cuman harus melawan cuaca panas atau bisa keluar melalui pintu 25 Masjid Nabawi masuk terowongan pertokoan di basement, lebih adem tapi lebih jauh, keluar dari eskalator toko ada pasar grosir oleh2 Madinah dan pangkalan taxi mobil pribadi, pangkalan bis carteran, dengan pemukim, pendatang dan jamaah kebanyakan dari India, Irak dan Bangladesh, yang ke mesjid Ijabah juga lebih banyak mereka daripada jemaah Indonesia. Mesjid ada di jalan raya depan pasar, hati2 saat menyeberang. Di tempat ini Rasulallah SAW mendirikan solat sambil berdoa sangat lama, dan di bekas tempat sholat Nabi SAW dibangunlah sebuah masjid diberi nama Masjid Ijabah, yang memiliki arti dikabulkan.
“Saya telah memohon kepada Allah sebanyak tiga hal. Allah mengabulkan yang dua dan menolak yang satu."
Mesjid tidak selalu terbuka untuk umum
namun pada waktu tertentu alias sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.
Jannatul Baqi (7 - 8 - 9)
Kematian itu adalah suatu kepastian, dan syarat utama kematian adalah " WA LAA TAMUUTUNNA ILLA WA ANTUM MUSLIMUUN : Artinya : jangan Kalian mati kecuali dalam keadaan Muslimuun (Pasrah)
Lokasinya berdekatan dengan Gate 36 Masjid Nabawi. Baqi artinya tempat dimana terdapat tunggul berbagai jenis pohon, dari situlah dinamakan Baqi’ Al-Gharqad. Al-Gharqad adalah pohon berduri yang sangat besar. Dahulu Baqi’ Al-Gharqad adalah kebun dengan pepohonan berduri namun, karena kaum muslim banyak yang ingin sekali di kuburkan di Baqi mereka pun menebang pepohonan yang ada disana untuk di jadikan pemakaman.merupakan tempat pemakaman yang ada di kota Madinah Arab Saudi. Dan peraturannya jamaah laki-laki hanya di perbolehkan untuk masuk ke dalam area makam. Jamaah perempuan hanya bisa melihat pemakaman dari luar, melalui pagar jeruji. jam buka pemakaman mulai dari setelah ibadah sholat subuh hingga menjelang dzuhur.