Abu Dhabi – Jeddah
Jeddah – Mekkah
Mekkah - Madinah
Madinah - Dubai
Dubai - Jakarta
Yang pertama kami mohon maaf kepada Bapak Asep beserta keluarga karena hingga pagi tadi kami tidak mendapatkan Hotel *Andalus Golden Suites* namun kami mendapatkan Hotel *Mirage Salam* in syaa Allah hotel sama setaraf *4.
Ternyata memang benar bahwa ketika Allah sudah mengundang kita untuk ibadah Umroh atau Haji, mau bagaimanapun kondisi kita, Allah pasti mampukan dan berikan kemudahan kita untuk memenuhi panggilan-Nya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhinya. Dan mereka meminta kepada-Nya, maka Ia berikan kepada mereka (Ia kabulkan).” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Syekh Al-Albani)
Alhamdulillah itu terjadi pada keluarga kami, belum ada perencanaan tabungan untuk ‘umroh, tetapi alhamdulillah Allah berikan kemudahan-kemudahan kepada kami untuk bisa berangkat ‘umroh secara mandiri.
Untuk makan termasuk selama di Mekkah dan Madinah kami selalu membeli di restoran sekitar hotel, masjid dan di food court yang terletak didalam mall. Menu-menu yang bisa ditemukan kebanyakan merupakan masakan Timur Tengah, namun kita juga bisa menemukan menu Asia dan Western. Tetapi tetap menu mie baso dengan sambel cabe yang kami cari.
Harga rata-rata sama per menu yang kami pilih mulai dari SR 20 dan setiap kali makan kami menghabiskan rata-rata SR 75 untuk kami berempat dan sehari budget untuk makan sekitar SR 150.
Packing harus dilakukan dengan seteliti mungkin sebab ukuran koper tidaklah terlalu besar, selain itu ada batas maksimum berat bagasi sebesar 20 kg/orang. Dari hasil browsing dan tanya-tanya ke orang yang sudah pernah umroh, cuaca di bulan Februari masih dingin dan berkisar antara 15 – 20 C, iklim di Arab Saudi kering sehingga tidak gampang berkeringat. Karena itulah, saya memutuskan hanya membawa 1 baju perhari, dengan jadwal mandi digeser sesudah dan sebelum tidur, jadi malamnya saya hanya menggunakan baju tidur yang bisa dipakai berkali-kali.
Ini penerbangan ke luar negeri pertama saya bersama Etihad Airways. Mengapa Etihad? Bukan saya yang memilih melainkan pihak biro travelnya. Jika kita pergi ke Jeddah, dari Jakarta, menggunakan Etihad, maka kita akan transit di Abu Dhabi selama beberapa jam.
Pukul 22.50 waktu setempat (20/2), saya tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dari Abu Dhabi, pesawat baru akan berangkat ke Jeddah pukul 01.55 (20/2), saat itu kita memakai armada Scoop. Rata-rata waktu transit berkisar antara 2.5 - 5 jam. Karena cukup lelah dan mengantuk, saya tidak sempat jalan-jalan keliling bandara (padahal biasanya antusias saat berada di tempat baru, bandara sekali pun hehe). Area istirahat di Bandara Abu Dhabi menyediakan ruang tunggu yang sangat lega dengan tempat duduk empuk, serta banyak kafe dan restoran yang menyajikan makanan halal. Saya dan beberapa jamaah memanfaatkan waktu transit untuk membersihkan diri dan istirahat di ruang tunggu. Ruang mandi dan mushola cukup banyak di Bandara Abu Dhabi. Bandara ini terkenal sangat luas, bersih dan ramah bagi jemaah yang ingin bersiap mengenakan kain ihram. Sedikit membeli kue dan minuman memakai mata uang Dirham, bila tidak punya Dirham, maka mata uang dollar USA mereka menerima. Selain mata uang itu tidak diterima.
Karena menggunakan Etihad, pesawat kami transit kembali selama 3 jam di bandara Abu Dhabi. Berhubung ceritanya, dirham UAE saya masih tersisa dan saya bingung buat apa juga dibawa pulang karena jumlahnya sedikit, akhirnya kami malah keliling-keliling Duty Free cuma buat beli … permen dan coklat, haha, secara uangnya cuma cukup buat beli itu, harganya juga selangit namanya juga di bandara. Sisanya mungkin nanti.akan saya belanjakan di Dubai.
Untuk kami yang akan menjalankan ibadah umroh, dan sedang berada di dalam pesawat, maka kita mengambil miqat di wilayah Yalamlam atau lokasi yang sejajar dengannya, dan bukan di Jeddah. Bagaimana kita tahu kalau sudah tiba di lokasi miqat? Jangan khawatir, pilot atau pramugari akan memberikan pengumuman via speaker saat tiba di lokasi miqat. Rasa-rasanya akan cukup merepotkan jika semua jamaah berganti pakaian ikram saat di pesawat. Sehingga, disarankan, saat transit beberapa jam di Abu Dhabi, kita dapat memanfaatkannya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Untuk laki-laki, bisa segera menggunakan kain ikram. Sedangkan, untuk perempuan ada beberapa pilihan. Pertama, bersuci di rumah dan menggunakan pakaian ikram sejak di bandara. Kedua, sama seperti jemaah laki-laki, berganti baju saat transit di Abu Dhabi. Saya sendiri memilih yang pertama. Sehingga, saat transit, saya tinggal membersihkan diri dan beristirahat sejenak (baca: berdiam diri sambil memanfaatkan wifi bandara yang super kencang). Sekitar pukul 04.00 waktu setempat (20/2), kami tiba di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Berfoto sejenak dengan latar mobil F1 dan memotret Aquarium besar di bandara. Sesuai prosedur, rombongan harus melakukan pengecekan dokumen di bagian imigrasi bandara. Ujian kesabaran tahap satu dimulai karena pengecekan di imigrasi ini cukup memakan waktu yang lama, apalagi untuk jamaah laki-laki.
Kami tiba sekitar pukul 20.00, penerbangan selanjutnya ke Mekkah dijadwalkan sekitar pukul 23.30. Kali ini kami bertemu banyak jamaah asal Indonesia dari biro tour lainnya yang sudah memadati ruang tunggu. Warning umroh untuk jamaah Indonesia memang “nyeremin” seperti jangan jalan-jalan sendiri atau jangan sampai kepisah rombongan. Wajar sih, kebanyakan jamaah memang adalah manula yang gampang bingung dan mudah tersesat, jadi warning-nya banyak. Saat akan ke WC atau shalat mereka akan pergi beramai-ramai dan sesudahnya duduk manis di dekat pemandu rombongan. Jangankan keluar negeri, banyak juga yang baru naik pesawat pertama kalinya saat umroh, kasihan memang memperhatikan kakek nenek renta, apalagi rata-rata rombongan jamah indonesia itu rasio antara pemandu dengan jamaahnya 1:30, jadi banyak yang agak terlantar juga. Contohnya saat naik pesawat, mereka bingung duduknya di mana, saat sang pemandu ngurus yang satu, yang lain akan keteter. Maka wajarlah warning saat umroh itu banyak untuk menghindari jamaah tersesat dan hilang, belum lagi karena adanya kendala bahasa.
Akhirnya setelah transit di Bandara Abu Dhabi kurang lebih 3 jam, kami pun berangkat menuju Jeddah menggunakan maskapai Scoot. Maskapai Scoot bagus untuk kategori maskapai berbiaya rendah. Hanya crew pramugaranya yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan jutek. Perjalananan Abu Dhabi - Jeddah hanya memakan waktu sekitar 3 jam, waktu di Jeddah lebih lambat 4 jam dibanding Jakarta.
Suasana Bandara Jeddah sendiri cukup ramai walau tidak terlalu padat, kami menunggu sekitar satu jam untuk imigrasi dan bagasi (bagasi sudah diambilkan oleh pihak travel, jadi kita cukup duduk manis). Sesudah itu kami diajak masuk ke dalam bus yang akan membawa kami ke hotel, di dalam bus kami diperkenalkan dengan ustadz yang akan menjadi pembimbing jamaah kami selama ibadah umroh, namanya ustadz Salman Al Farisi, seorang ustadz yang ternyata asal Garut, seusia anak-anak saya (masih relatif muda) serta para kru lainnya yang terdiri atas pak supir dan kernet yang dua-duanya asli Indonesia.
Selama perjalanan hati saya membuncah haru, antara bahagia dan tidak percaya kalau saya diizinkan menjejakkan kaki kembali di Kota Suci ini. Jalan raya yang kami lalui membelah pegunungan batu, para saksi bisu dalam perjuangan kaum Muslimin, saya membayangkan tanah mana yang dulu dipijak Rasulullah, bukit mana yang dulu dilalui Rasulullah.
Pemandangan di perjalanan didominasi dengan gurun pasir dan pegunungan batu. Saya membayangkan perjuangan Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Mekah ke Madinah yang begitu hebatnya, betapa tidak jarak ratusan kilometer dengan medan yang seberat itu rela beliau tempuh sebagai salah satu langkah perjuangan dalam menegakkan agama Allah. Ustadz Salman mengingatkan kami semua untuk senantiasa memperbanyak bacaan talbiyah, salawat dan doa. Bis rombongan kami berhenti sejenak di rest area sekedar ke toilet atau membeli makanan kecil. Dari rest area ini hanya butuh waktu sejam hingga mencapai Mekkah, dari sebelum batas kota Mekkah menara Abraj al Bait atau yang lebih dikenal dengan Mekkah Royal Clock Tower sudah terlihat. Ustadz Salman kembali mengingatkan kami untuk mengulangi bacaan talbiyah serta senantiasa menjaga hati, lisan dan perbuatan selama menunaikan ibadah Umroh. Beliau bercerita beberapa kisah selama memandu umroh salah satunya mengenai salah satu anggota jamaahnya beberapa waktu lalu, saat mendekati kota mekkah sang jamaah tersebut pucat, panik serta tidak mau masuk dan akhirnya malah memilih terbang pulang ke tanah air, beberapa waktu kemudian ternyata sang jamaah mengakui kalau dia sering mengandalkan “kontrak” dengan syaitan dalam menyukseskan bisnisnya, saat akan memasuki mekkah dia merasa ada bara api ditempelkan ke badannya dan bisikan “pulang, kau tidak boleh masuk”. Cerita tersebut membuat kami semua merinding dan merasakan atmosfir sang tanah haram.
Bus berhenti di terowongan jalan raya, saat itu sopir menjelaskan bahwa ini sudah masuk shalat isya sehingga jalanan di sekitar masjidil haram sudah ditutup. Beliau menyarankan agar rombongan turun di sini dengan membawa barang-barang berharga sementara bus akan memutar mencari rute lainnya dan bagasi akan diantarkan. Kami berjalan sekitar 200m menuju ke hotel, di Mekah kami menginap di Al Safwah Royal Orchid Hotel yang kalau dari petanya terletak persis di depan Masjidil Haram, patokannya WC 3, saat hajian tahun 2019 saya ingin sekali menginap di Hotel ini, karena dekat masjid dan karena dibawah hotel banyak toko-toko yang menjual oleh-oleh murah. Alhamdulillah umroh kali ini bersama anak-anak doa saya terkabul. Ustadz Salman menyuruh kami untuk shalat Dzuhur di hotel, makan siang dan sesudahnya berkumpul kembali di lobby pukul 15.00 sore untuk mulai melaksanakan ibadah umroh.
Rombongan private kami diberi dua kunci kamar hotel sementara bagasi akan dibawakan oleh kru travel, kami hanya mampir sebentar ke kamar hotel untuk meletakkan ransel dan mengambil wudhu. Setelah itu kami bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh, di lobby hotel bawah kami bertemu dengan rombongan Sukabumi, kami pun bergabung dengan ibu-ibu untuk menuju Masjidil Haram.
Suara adzan shubuh sudah berkumandang sehingga kami mempercepat langkah kami, di pelataran masjidil haram sudah banyak jamaah berkumpul dan menggelar sajadah. Kami terus bergerak masuk ke dalam masjid (karena menurutnya shaf depan pasti masih ada yang kosong), benar saja setelah blasak-blusuk sampai ke depan akhirnya kami menemukan ruang yang cukup untuk berempat. Selesai sholat
Saya memperhatikan tingkah polah pedagang pashmina yang menjajakan dagangannya dengan cara mengibas-ibaskan kain panjang ke udara, selain itu ada juga pedagang gamis, korma, coklat dll. Para pedagang di sini tertib, tidak ada yang berjualan di pinggir jalan apalagi sampai memakan badan jalan, juga mereka semua patuh dengan aturan Islam yang mana melarang berdagang di dalam area masjid, jadi mereka ya hanya berdagang di plaza Sofwa tersebut.
Makan pagi disajikan di restoran hotel, di restoran saya kembali bertemu dengan suami dan anak-anak, di sini juga kami banyak bertemu dengan jamaah umroh dari biro tour lainnya. Saking banyaknya jamaah dari Indonesia, satu ruangan diperuntukkan khusus untuk jamaah Indonesia, ada tulisannya “for indonesian”, menunya pun dibuat bercita rasa Indonesia lengkap dengan sambal dan kerupuk, berasnya tetap beras lokal arab yang panjang-panjang dan sulit menemukan sayur dalam menu harian (karena pertanian tidak subur di wilayah Arab), kalaupun ada hanya kubis, tidak ada lainnya, bagaimanapun kami sudah sangat bersyukur dengan menu yang terbilang mewah ala hotel tersebut.
Di dalam masjid beratus-ratus galon berisi air zam-zam disediakan gratis, jadi alhamdulillah tidak usah takut kehausan. Saya sempat bertemu dengan beberapa cleaning service yang ternyata dari Indonesia. Lantai masjid terbuat dari marmer yang sangat sejuk dan dingin di kulit, sementara chandelier bergaya arab dan kaligrafi memenuhi atap dan dinding. Di dalam masjid sudah disediakan rak-rak berisi al qur’an yang bisa dibaca oleh siapapun.
Hal lucu lainnya adalah, kalau kamu wanita muda jalan-jalan di toko tanpa suami, bahkan walaupun dengan sesama teman perempuan, kamu akan sering ditanya oleh penjualnya apakah sudah menikah atau belum. 0rang-orang arab memang menganggap wanita melayu cantik-cantik. Kalau kamu jawab belum, bisa jadi mereka akan serius melamar. Pedagang di Madinah- Mekkah rata-rata mengerti angka dalam bahasa indonesia, walau tidak bisa berbahasa indonesia mereka lancar menyebutkan satu dua tiga, sehingga memudahkan dalam transaksi tawar menawar.
Setelah saya bandingkan, harga kurma maupun penganan lainnya lebih murah di pedagang keliling dibanding di toko. Ingat coklat kerikil ataupun coklat sebesar permen yang biasa dijadikan oleh-oleh umroh kan? belilah di pedagang keliling karena harganya jauh lebih murah. Juga kerudung lebar kembang-kembang aneka warna khas arab dan abaya hitam juga banyak dijual di pedagang keliling.
Hari kedua Pukul 08.30 Waktu Arab Saudi semua anggota jamaah sudah bersiap di lobby karena hari ini agenda kami padat. Hari ini kami akan mengunjungi Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Arafah, Mina, Muzdalifah dan selepas itu mengambil miqot kembali di Masjid Aisyah untuk melaksanakan Umroh Kedua.
Saat masjid makin penuh, askar-askar wanita berpakaian serba hitam dan bercadar menyuruh orang-orang masuk ke dalam dan merapatkan saf. Mereka memberi komando dalam campuran bahasa yang paling mungkin adalah bahasa mayoritas para jamaah yang datang. Mengingat Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, banyak tempat di sini juga diberikan keterangan dalam bahasa Indonesia selain dalam bahasa Arab dan Inggris. Semua jamaah di sini dipanggil dengan sebutan hajjah. Sehingga seringkali terdengar para askar menyuruh kami masuk ke dalam sambil berteriak : “Ya Hajjah, thoriq, thoriq.” Disusul dengan bahasa Indonesia dalam logat khas Arab yang terdengar asing di telinga saya. “Ibu, jalan ibu.”
Beruntungnya, hanya beberapa langkah dari depan hotel, Masjid Nabawi sudah di depan mata. Tips buat yang akan kesini : ingat-ingat nomor pintu masjid yang terdekat dengan hotel kalian. Karena masjid Nabawi Madinah ini luasnya luar biasa!
Saya tertarik dengan kerumunan orang di dekat hotel yang sepertinya sedang membagikan sesuatu. Seorang membagikan gelas kertas dan seorang lagi menuangkan minuman. Bagi saya yang senang dengan berbagai pengalaman baru ala backpacker, ini adalah kesempatan mencicipi kuliner khas dari penduduk setempat. Saya ikut mengantri dan mendapatkan segelas minuman hangat berwarna pink. Saya sudah sering mencoba teh susu Arab, tapi yang ini berbeda. Saya membawanya ke hotel dan meminumnya di kamar. Rasanya agak mirip sekoteng Indonesia, ada rasa susu hangat, rempah dengan butiran serupa kacang mede yang gurih.
Saya membuka tirai dan menikmati pemandangan dari balik jendela kamar. Madinah masih ramai sampai sekitar pukul satu pagi. Di luar hanya tampak orang-orang yang pulang ke hotel dari masjid, beberapa toko yang masih buka serta proyek pembangunan yang belum selesai.
Tempat city tour pertama yang kami kunjungi adalah masjid Quba untuk salat sunah dua rakaat di sana. Masjid Quba adalah adalah majid yang pertama kali dibangun oleh Nabi. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa salat sunah dua rakaat di masjid Quba setara dengan pahala umroh yang sempurna. Ini bukan berarti menggugurkan umroh ke Mekah, sebagaimana pahala umroh ramadhan yang setara dengan haji bersama Rasul tidak menggugurkan kewajiban berhaji.
Bus bergerak kembali ke lokasi perang Uhud, makam para syuhada Uhud, lokasi perang Khandaq, tujuh masjid dan masjid kiblatain. Karena kami mengejar keutamaan salat dzuhur di masjid Nabawi, semua sepakat untuk tidak berhenti dan hanya melihat sekilas dari atas bus
Hari-hari di Madinah kami isi dengan beribadah. Di area masjid Nabawi, para peziarah nampak sangat ramai. Apalagi jika kita berada di area karpet hijau, Raudah. Area yang disebut-sebut sebagai taman surga. Tempat diantara makam dan mimbar rasul.
Setelah cukup beristirahat, saya dan suami kembali ke masjid nabawi untuk melihat-lihat suasana. Kami berdecak kagum saat melihat kubah-kubah payung yang bisa buka tutup dan sudah menjadi icon bagi masjid nabawi. Masjid Nabawi sangat besar dan memiliki banyak pintu, tapi tidak usah takut tersesat, tiap pintu memiliki nomor sendiri (tentunya bisa kan ya baca huruf arab), tinggal diingat saja kita masuk dari pintu nomor berapa. Area shalat lelaki dan perempuan dipisah jauh.
Madinatunnabi, Madinah Al-munawarah, kota yang bercahaya, kota kecintaan Rasul yang diberkahi, yang telah dimohonkan oleh beliau agar dicintai melebihi kota Mekah. Di sini, terbaring tubuh Rasul yang jasadnya tidak akan dimakan binatang tanah beserta dua sahabat beliau yang mulia.
Betapa Rasul mencintai kota ini dan betapa saya amat berat meninggalkannya. Kalau saja bukan karena pahala salat di masjidil Haram yang nilainya 100 kali lipat dibanding masjid Nabawi, mungkin saya tidak akan pernah mau meninggalkan kota ini menuju mekah.
Saya merindukan madinah yang baru saja kami tinggalkan. Saya merasakan kerinduan yang sangat seumpama lava yang mendidih dalam otak. Bergejolak dalam hati saya. Saya masih merasakan segarnya zam zam pertama yang saya minum di Nabawi. Saya masih bisa merasakan kurma ruthob yang agak sepat di ujungnya, namun ranum di tengahnya. Saya masih merasakan aroma aspal kering yang terpanggang matahari.
Saya memandangi Nabawi sampai hilang dari pandangan.
Saya berharap bisa kembali.