Jumat, 05 Juni 2026

Let’s start with Singapore.


Pagi itu berangkat Pukul 07.30 dari Batam Centre (nyambung ke Mega Mall) perjalanan kurang lebih 45 menit, karena perbedaan waktu Batam dan Singapore 1 jam, tiba di HarbourFront Singapore jam 09.30 waktu Singapore. 

Perjalanan kali ini balik hari alias pergi pagi pulang malam, jadi pulangnya last ferry pukul 21.20 waktu Singapore tiba di Batam pukul 10.00 malam. Lokasi check in ada di lantai 3 kawasan Vivo City Pelabuhan HarbourFront Singapore.


Let’s start with Singapore.

Sebenarnya, yang paling menantang di Singapura bukan biaya masuk objek-objek wisatanya, karena objek-objek wisata di Singapura ya tempat-tempat publiknya sendiri yang bisa dikunjungi dengan gratis. Singapura menawarkan seisi kotanya. Kecuali kalau kamu ke Sentosa Island atau Universal Studios Singapore (USS), itu jelas mahal. Yang paling menantang menurut gue adalah biaya hidupnya, terutama makan dan minum

Sama seperti Indonesia, Singapura adalah sebuah negara tropis dengan hawa panas lembab yang menyergap setiap saat. Kamu akan membutuhkan banyak asupan air minum selama berkeliling kota. Nah, daripada kamu membeli banyak botol air mineral mending kamu bawa air minum botol dari Batam.

Untuk makanan jangan ditanya, termasuk mahal untuk ukuran emak-emak. Jadi beli ditempat yang pasti-pasti saja.





Buat yang mau beli oleh-oleh, kamu bisa ubek-ubek itu Bugis Street, Chinatown Street Market, Little India, sama Lucky Plaza (di Orchard Road). Chinatown Street Market buka dari sore hingga malam, ada banyak pernik oriental di situ. Di Bugis Street, kamu bisa beli pernak-pernik, baju-baju, sampai makanan-makanan impor Jepang. Waktu itu temen gue beli sebungkus besar Kitkat seharga 10 SGD. Begitu pun Lucky Plaza. Di Bugis bahkan banyak jajanan murah, misalnya jus beraneka rasa dan warna seharga 1.5 SGD.














Karena waktu cuman sehari rasanya masih belum puas. Perjalanan ke luar negeri serasa perjalanan Bandung-Jakarta, karena hanya 45 menit. Perjalanan singkat terasa menyenangkan kalau tidak memaksakan semua destinasi didatangi, tapi yang bisa diceritakan dengan tenang nanti setelah pulang.


Kenangan di Malaysia





Saya tidak sedang merencanakan nostalgia, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Malaysia. Tapi begitulah ingatan bekerja. Satu potongan cerita orang lain—ekspresi kagum, kekagokan kecil, langkah yang masih ragu—cukup untuk menyeret saya kembali ke satu waktu yang jauh, ke tahun 2024, ketika saya sendiri menjadi seseorang yang benar-benar “baru” dalam dunia perjalanan.

Duduk diam. Menahan kantuk. Mengamati sekitar. Rasanya aneh berada di kota asing pada jam di mana sebagian besar penghuninya masih tidur. Tidak ada hiruk pikuk, tidak ada landmark megah—hanya bangunan bandara, lampu terang dan waktu yang berjalan pelan.

Kami mengambil penerbangan paling pagi, karena akan menguntungkan ketika tiba di Malaysia siang dan belum terlalu sore. Jadi bisa mengeksplore banyak tempat di Kuala Lumpur. Dataran Merdeka, Pasar Seni / Central Market, KLCC Petronas, shopping di Pavilion dan KL Sentral. Setelahnya kita akan makan malam lanjut menuju hotel di Bukit Bintang, Sleeping Lion untuk check in dan istirahat.




Dataran Merdeka, banyak bangunan tua dan bersejarah seperti Katedral St Mary Virgin, Perpustakaan Kuala Lumpur, Masjid Jamek banyak lagi. Disebut Dataran Merdeka karena tempat ini merupakan deklarasi kemerdekaan Malaysia dan Pusat Pemerintahan Kuala Lumpur pada masa penjajahan Inggris.


Kuala Lumpur.

KL terasa seperti titik tengah antara Singapura dan Jakarta. Tidak setertib Singapura, tapi juga tidak sepadat Jakarta. Kota yang hidup, tapi tidak melelahkan. Modern, tapi masih memberi ruang untuk bernapas.





Pasar Seni tertua atau Central Market sudah ada sejak tahun 1888. Di tempat ini pusat penjualan suliuvenir khas Malaysia. Mulai dari gantungan kunci, kaos, miniature, magnet kulkas. Harga tidak bisa ditawar. Tapi kondisi pasar sangat nyaman, bersih dan terang dan nyaman karena dalam gedung terpasang AC. Dalam pasar ada 3 lorong, Lorong India, Melayu dan China. Selesai berbelanja bisa makan siang di food court yang banyak pilihan hidangan, mie baso pun ada. 10 menit dari Dataran Merdeka, berjalan kaki kita sudah sampai di Central Market. 




Dahulunya Central Market pasar besar yang menjual bahan-bahan basah untuk keperluan harian penduduk Kuala Lumpur. Selain Pasar Seni, Petaling Street juga bisa menjadi alternatif belanja.


Setelah sarapan pagi, bersiap menuju Genting Highland, tapi sebelumnya singgah terlebih dahulu di Batu Caves, patung raksasa, anak tangga dan kuil peribadatan umat Hindu. 

Dewa Murugan dengan tinggi 43meter konon patung Dewa Hindu tertinggi di dunia.
Keunikan lainnya adalah 272 anak tangga menuju kuil peribadatan. Setelah melewati anak tangga, akan disambut pendeta Hindu mengajak untuk beribadah. Tapi tidak saya lakukan. Batu Caves adalah Bukit Kapur yang punya banyak gua dan kuil. Letaknya di Gombak, Selangor.


Tangga masuk berwarna warni ke tempat peribadatan umat Hindu


Burung dara dan monyet masih banyak berkumpul di wisata Batu Caves



Dari Batu Caves ke Genting Highland ditempuh dalam waktu 45menit. Makan siang dan mencoba Cable Car di Genting Highland.









Selama di Malaysia, 4 hari 3 malam, kami menginap di Hotel Sleeping Lion Bukit Bintang. Hotel yang dekat dengan Alor Street, Mal Pavillion, Fahrenheit 88 dan Lot 10 Shopping Centre. 



Mal yang saling berdekatan di Bukit Bintang.


Hotel yang bersih dan nyaman serta dekat untuk berjalan-jalan di daerah Bukit Bintang, walaupun ukuran kamar tidak terlalu besar, tapi sangat-sangat cukup untuk beristirahat.'




Lobby hotel Sleeping Lion Bukit Bintang.


Interior kamar selama Di Malaysia, Sleeping Lion Bukit Bintang




Mal paling mewah di Kuala Lumpur, City Centre. Letaknya persis dibawah Menara kembar Petronas. Di luar mal ada taman hijau luas dengan kolam air mancur, taman bermain anak dan jalur olah raga. Kolam air mancur, setelah waktu maghrib akan menyajikan air mancur menari dengan sorotan lampu warna warni.






Esok harinya kami ke Lokasi Berjaya Hills, Bukit Tinggi, jaraknya 1 jam dari Kuala Lumpur. Kawasan ini seperti suasana pegunungan yang sejuk. Bangunan klasik warna-warni dengan arsitektur kayu. Tempat wisata ini dekat juga dengan Desa Jepang, Javanese Village dan Botanical Garden.






Makan pagi kita menuju Wanjo, dari Resto ini Menara Kembar Petronas terlihat menjulang. Nasi Lemak Wanjo Kampung Baru, kedai nasi lemak legendaris dari tahun 1963. Terletak di Kampung Baru, Raja Muda Musa. Sistem pemesanan, kita mengantre lalu menunjuk langsung lauk pauk yang diinginkan, seperti di Warung Tegal kalau di Indonesia. Nasi Lemak, ayam goreng rempah jadi andalan di warung ini. 


Nasi lemak untuk sarapan. Nasi kandar untuk mengisi perut, meski harus siap berkeringat. Saya tidak mencari yang viral. Saya hanya mengikuti insting dan rekomendasi acak. Dan entah kenapa, semuanya terasa pas.





Tidak lengkap rasanya kalau tidak mencoba durian Musang King, walaupun harganya cukup mahal, sekedar penasaran kami mencobanya.



Excitement perjalanan pertama selalu terasa berbeda. Kita belum tahu apa-apa, jadi segalanya terasa baru. Jalanan, aroma, suara, bahkan cara orang berbicara. Kita tidak membandingkan, karena memang belum punya pembanding.

Kuala lumpur tidak menyambut saya dengan sesuatu yang dramatis. Tidak ada kejadian besar. Tapi justru dari kesederhanaan itulah kenangan itu bertahan. Saya masih bisa mengingat perasaan “akhirnya sampai”, perasaan bahwa dunia ternyata lebih luas dari yang selama ini saya bayangkan.

Perjalanan pertama mungkin tidak sempurna. Rutenya berantakan. Keputusannya setengah nekat, tapi dari sanalah semuanya bermula. Dan Malaysia—dengan Airport KLIA 2, Bukit Bintang, dan secangkir teh tarik—akan selalu menjadi bagian dari cerita itu. Suatu waktu nanti kembali bersama membawa cerita yang lebih sempurna.