Rabu, 03 Juni 2026

Umroh ElNoor Plus Dubai (1)

Jakarta – Abu Dhabi

Abu Dhabi – Jeddah

Jeddah – Mekkah

Mekkah - Madinah

Madinah - Dubai

Dubai - Jakarta

Assalamualaikum Kang Acu, tiasa meser 3 bahan seragam batik deui, jahit kemeja seragam batik untuk Bapana sareng barudak kumargi salah motong di penjahit ..terpaksa beli bahan lagi dan jahit baju lagi 😔 

Rencana Manasik  Umroh
Hari: Jumat 
Tgl : 9 Februari 2024
Waktu : Pukul 16.00 WIB
Tempat : Villa Sadu

Konfirmasi dari Haji Huda :
Berangkat tgl 19 Februari 2024
1. Pesawat Etihad transit Abu Dhabi memakai seragam batik yang dibagikan, waktu transit kurang lebih 3 jam
2. Masa transit di Abu Dhabi berganti ihram
3. Abu Dhabi ke Mekkah waktu perjalanan 3 jam, pesawat Scoop

Di Mekkah
1. Pullman Zamzam Hotel diusahakan / di Sofwah Tower.
2. City tour dan lain-lain termasuk ke Thaif sudah dalam anggaran
3. Makan 3x sehari
4. Berangkat ke Madinah naik kereta cepat, untuk bagasi diikutsertakan di bus dengan rombongan lain yang berbeda paket. Kereta cepat diprioritaskan hanya membawa tas kabin.

Di Madinah
1. Diusahakan di Hotel Andalus Classy 
2. City tour dan lain-lain sudah dalam anggaran

Kepulangan :
1. Pesawat Etihad Airways
2. Turun di Dubai menginap semalam 
3. Dubai - Jakarta dengan Etihad Airways

Aspirasi ti enin hoyong istri hungkul 4 orang sekamarna kumaha atuh yang artinya itu termasuk dalam Paket Silver Quad, jadi saya dan anak-anak berikut suami tidur terpisah, dan saya harus siap tidur sekamar dengan ibu mertua, kakak ipar dan tante dari mertua yang saya tidak terlalu dekat. Tapi itu ngga menjadi masalah soal hotel dan kamar, tujuan kan untuk ibadah.

Di lantai 3 itu ada 3 Hotel Safwah Royal Orchid, posisi hotel ada di belakang WC 3 : 
1. Hotel Dar al eiman
2. Hotel Al Ghufron
3. Hotel Safwah Orchid

Bismillah 
Assalamualaikum wr wb... untuk semua jamaah di persiapkan semua perlengkapan jangan sampai ada yg tertinggal insyaalloh qita ketemu di hari senin tgl 19 Februari di Bandara Soekarno Hatta sehat sehat semua jamaah 🤲🏻 lancarrrr segalanya 
Kanggo anu 9 orang ti Sukabumi angkat na sareng program na sami sareng cuman benten hotel sareng nu itu mah teu ngangge kereta cepat
Kin pami ka Madinah na benten private nganggo kereta cepat

Assalamualaikum ibu/bapak Ngiring bingah tiasa ngarencangan Progam Umroh El Noor kaping 19 February 2024.
Izin tepangkeun nami abdi Salman Al Farisi insyaallah kin di Saudi ngarencangan ibu/bapak.
mudah"an arurang sadaya neras disehatken sehingga progam ibadah umroh nubade dilakonan ditampi sareng kenging barokahna🤲🤲🙏🙏




Yang pertama kami mohon maaf kepada Bapak Asep beserta keluarga karena hingga pagi tadi kami tidak mendapatkan Hotel *Andalus Golden Suites* namun kami mendapatkan Hotel *Mirage Salam* in syaa Allah hotel sama setaraf *4.
Kemudian kami mohon maaf untuk di Madinah harus di gabung dengan group yang lain dikarenakan hotel *3 sudah full dan tidak mungkin untuk di dapatkan. Maka kami Up grade hotel untuk sisa group yg harusnya *3 mejadi berbarengan di Mirage Salam bersama Pak Asep dan keluarga.
Kami mohon maaf sebesar - besarnya atas ketidak tepatan Hotel di Madinah. Dikarenakan kepadatan jamaah di Madinah dan keterbatasan hotel di Madinah
Semoga Bapak dan Keluarga dapat memaklumi. 
Baarokallahu Fikeum.
Muhamad Nurul Huda.
Insyaallah ini lagi di usahakan ke *5. 
Akhirnya setelah ramai di group WA selama dalam perjalanan kereta cepat Mekkah - Madinah, sesampai di Madinah kami mendapat kabar ditempatkan di Hotel Taiba Front Inn, Allhamdulillah.

Ternyata memang benar bahwa ketika Allah sudah mengundang kita untuk ibadah Umroh atau Haji, mau bagaimanapun kondisi kita, Allah pasti mampukan dan berikan kemudahan kita untuk memenuhi panggilan-Nya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhinya. Dan mereka meminta kepada-Nya, maka Ia berikan kepada mereka (Ia kabulkan).” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Syekh Al-Albani)

Alhamdulillah itu terjadi pada keluarga kami, belum ada perencanaan tabungan untuk ‘umroh, tetapi alhamdulillah Allah berikan kemudahan-kemudahan kepada kami untuk bisa berangkat ‘umroh secara mandiri.


Sebagai bentuk tahadduts bin ni’mah (menceritakan kebahagiaan dan rasa syukur kami atas kenikmatan yang Allah berikan), Saya ingin berbagi cerita kami di haramain termasuk biaya-biaya yang kami habiskan.

Untuk makan termasuk selama di Mekkah dan Madinah kami selalu membeli di restoran sekitar hotel, masjid dan di food court yang terletak didalam mall. Menu-menu yang bisa ditemukan kebanyakan merupakan masakan Timur Tengah, namun kita juga bisa menemukan menu Asia dan Western. Tetapi tetap menu mie baso dengan sambel cabe yang kami cari.


Harga rata-rata sama per menu yang kami pilih mulai dari SR 20 dan setiap kali makan kami menghabiskan rata-rata SR 75 untuk kami berempat dan sehari budget untuk makan sekitar SR 150.

Packing harus dilakukan dengan seteliti mungkin sebab ukuran koper tidaklah terlalu besar, selain itu ada batas maksimum berat bagasi sebesar 20 kg/orang. Dari hasil browsing dan tanya-tanya ke orang yang sudah pernah umroh, cuaca di bulan Februari masih dingin dan berkisar antara 15 – 20 C, iklim di Arab Saudi kering sehingga tidak gampang berkeringat. Karena itulah, saya memutuskan hanya membawa 1 baju perhari, dengan jadwal mandi digeser sesudah dan sebelum tidur, jadi malamnya saya hanya menggunakan baju tidur yang bisa dipakai berkali-kali.


Dengan diantar oleh keluarga besar suami dan menyewa bus isi 30 penumpang, saya dan suami dan anak-anak serta ibu mertua, bibi dan kakak ipar dan ponakan bertolak ke Bandara Soekarno Hatta. 
Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta setelah Ashar dan landing di Bandara Abu Dhabi Pukul 01.07 waktu Abu Dhabi tanggal 20 Februari 2024
Alhamdulillah, tepat pukul 15.30 pesawat bertolak ke Abu Dhabi. Kami menggunakan maskapai Etihad yang merupakan maskapai full board sehingga penerbangan long haul tidak terlalu jenuh. Karena sudah malam saya tentunya langsung tidur. Bismillah.

Perjalanan kali ini terasa menyenangkan. Kalau boleh digambarkan, rasanya syahdu ceria-ceria gimana gitu. Mungkin karena berangkat bersama anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Seperangkat rasa kesepian karena saat pergi berhaji sudah digembok di kotak dan diceburkan jauh ke Laut Jawa. Yang tersisa, rasa sumringah sekaligus ‘sadar diri’ karena perjalanan religi bersama anak-anak akhirnya terkabul.

Ini penerbangan ke luar negeri pertama saya bersama Etihad Airways. Mengapa Etihad? Bukan saya yang memilih melainkan pihak biro travelnya. Jika kita pergi ke Jeddah, dari Jakarta, menggunakan Etihad, maka kita akan transit di Abu Dhabi selama beberapa jam.


Pukul 22.50 waktu setempat (20/2), saya tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dari Abu Dhabi, pesawat baru akan berangkat ke Jeddah pukul 01.55 (20/2), saat itu kita memakai armada Scoop. Rata-rata waktu transit berkisar antara 2.5 - 5 jam.  Karena cukup lelah dan mengantuk, saya tidak sempat jalan-jalan keliling bandara (padahal biasanya antusias saat berada di tempat baru, bandara sekali pun hehe). Area istirahat di Bandara Abu Dhabi menyediakan ruang tunggu yang sangat lega dengan tempat duduk empuk, serta banyak kafe dan restoran yang menyajikan makanan halal. Saya dan beberapa jamaah memanfaatkan waktu transit untuk membersihkan diri dan istirahat di ruang tunggu. Ruang mandi dan mushola cukup banyak di Bandara Abu Dhabi. Bandara ini terkenal sangat luas, bersih dan ramah bagi jemaah yang ingin bersiap mengenakan kain ihram. Sedikit membeli kue dan minuman memakai mata uang Dirham, bila tidak punya Dirham, maka mata uang dollar USA mereka menerima. Selain mata uang itu tidak diterima.

Karena menggunakan Etihad, pesawat kami transit kembali selama 3 jam di bandara Abu Dhabi. Berhubung ceritanya, dirham UAE saya masih tersisa dan saya bingung buat apa juga dibawa pulang karena jumlahnya sedikit, akhirnya kami malah keliling-keliling Duty Free cuma buat beli … permen dan coklat, haha, secara uangnya cuma cukup buat beli itu, harganya juga selangit namanya juga di bandara. Sisanya mungkin nanti.akan saya belanjakan di Dubai. 

Untuk kami yang akan menjalankan ibadah umroh, dan sedang berada di dalam pesawat, maka kita mengambil miqat di wilayah Yalamlam atau lokasi yang sejajar dengannya, dan bukan di Jeddah.  Bagaimana kita tahu kalau sudah tiba di lokasi miqat? Jangan khawatir, pilot atau pramugari akan memberikan pengumuman via speaker saat tiba di lokasi miqat. Rasa-rasanya akan cukup merepotkan jika semua jamaah berganti pakaian ikram saat di pesawat. Sehingga, disarankan, saat transit beberapa jam di Abu Dhabi, kita dapat memanfaatkannya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Untuk laki-laki, bisa segera menggunakan kain ikram. Sedangkan, untuk perempuan ada beberapa pilihan. Pertama, bersuci di rumah dan menggunakan pakaian ikram sejak di bandara. Kedua, sama seperti jemaah laki-laki, berganti baju saat transit di Abu Dhabi. Saya sendiri memilih yang pertama. Sehingga, saat transit, saya tinggal membersihkan diri dan beristirahat sejenak (baca: berdiam diri sambil memanfaatkan wifi bandara yang super kencang). Sekitar pukul 04.00 waktu setempat (20/2), kami tiba di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Berfoto sejenak dengan latar mobil F1 dan memotret Aquarium besar di bandara. Sesuai prosedur, rombongan harus melakukan pengecekan dokumen di bagian imigrasi bandara. Ujian kesabaran tahap satu dimulai karena pengecekan di imigrasi ini cukup memakan waktu yang lama, apalagi untuk jamaah laki-laki.

Kami tiba sekitar pukul 20.00, penerbangan selanjutnya ke Mekkah dijadwalkan sekitar pukul 23.30. Kali ini kami bertemu banyak jamaah asal Indonesia dari biro tour lainnya yang sudah memadati ruang tunggu. Warning umroh untuk jamaah Indonesia memang “nyeremin” seperti jangan jalan-jalan sendiri atau jangan sampai kepisah rombongan. Wajar sih, kebanyakan jamaah memang adalah manula yang gampang bingung dan mudah tersesat, jadi warning-nya banyak. Saat akan ke WC atau shalat mereka akan pergi beramai-ramai dan sesudahnya duduk manis di dekat pemandu rombongan. Jangankan keluar negeri, banyak juga yang baru naik pesawat pertama kalinya saat umroh, kasihan memang memperhatikan kakek nenek renta, apalagi rata-rata rombongan jamah indonesia itu rasio antara pemandu dengan jamaahnya 1:30, jadi banyak yang agak terlantar juga. Contohnya saat naik pesawat, mereka bingung duduknya di mana, saat sang pemandu ngurus yang satu, yang lain akan keteter. Maka wajarlah warning saat umroh itu banyak untuk menghindari jamaah tersesat dan hilang, belum lagi karena adanya kendala bahasa.

Akhirnya setelah transit di Bandara Abu Dhabi kurang lebih 3 jam, kami pun berangkat menuju Jeddah menggunakan maskapai Scoot. Maskapai Scoot bagus untuk kategori maskapai berbiaya rendah. Hanya crew pramugaranya yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan jutek. Perjalananan Abu Dhabi - Jeddah hanya memakan waktu sekitar 3 jam, waktu di Jeddah lebih lambat 4 jam dibanding Jakarta.

Suasana Bandara Jeddah sendiri cukup ramai walau tidak terlalu padat, kami menunggu sekitar satu jam untuk imigrasi dan bagasi (bagasi sudah diambilkan oleh pihak travel, jadi kita cukup duduk manis). Sesudah itu kami diajak masuk ke dalam bus yang akan membawa kami ke hotel, di dalam bus kami diperkenalkan dengan ustadz yang akan menjadi pembimbing jamaah kami selama ibadah umroh, namanya ustadz Salman Al Farisi, seorang ustadz yang ternyata asal Garut, seusia anak-anak saya (masih relatif muda) serta para kru lainnya yang terdiri atas pak supir dan kernet yang dua-duanya asli Indonesia.

Selama perjalanan hati saya membuncah haru, antara bahagia dan tidak percaya kalau saya diizinkan menjejakkan kaki kembali di Kota Suci ini. Jalan raya yang kami lalui membelah pegunungan batu, para saksi bisu dalam perjuangan kaum Muslimin, saya membayangkan tanah mana yang dulu dipijak Rasulullah, bukit mana yang dulu dilalui Rasulullah. 

Pemandangan di perjalanan didominasi dengan gurun pasir dan pegunungan batu. Saya membayangkan perjuangan Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Mekah ke Madinah yang begitu hebatnya, betapa tidak jarak ratusan kilometer dengan medan yang seberat itu rela beliau tempuh sebagai salah satu langkah perjuangan dalam menegakkan agama Allah. Ustadz Salman mengingatkan kami semua untuk senantiasa memperbanyak bacaan talbiyah, salawat dan doa. Bis rombongan kami berhenti sejenak di rest area sekedar ke toilet atau membeli makanan kecil. Dari rest area ini hanya butuh waktu sejam hingga mencapai Mekkah, dari sebelum batas kota Mekkah menara Abraj al Bait atau yang lebih dikenal dengan Mekkah Royal Clock Tower sudah terlihat. Ustadz Salman kembali mengingatkan kami untuk mengulangi bacaan talbiyah serta senantiasa menjaga hati, lisan dan perbuatan selama menunaikan ibadah Umroh. Beliau bercerita beberapa kisah selama memandu umroh salah satunya mengenai salah satu anggota jamaahnya beberapa waktu lalu, saat mendekati kota mekkah sang jamaah tersebut pucat, panik serta tidak mau masuk dan akhirnya malah memilih terbang pulang ke tanah air, beberapa waktu kemudian ternyata sang jamaah mengakui kalau dia sering mengandalkan “kontrak” dengan syaitan dalam menyukseskan bisnisnya, saat akan memasuki mekkah dia merasa ada bara api ditempelkan ke badannya dan bisikan “pulang,  kau tidak boleh masuk”. Cerita tersebut membuat kami semua merinding dan merasakan atmosfir sang tanah haram.

Bus berhenti di terowongan jalan raya, saat itu sopir menjelaskan bahwa ini sudah masuk shalat isya sehingga jalanan di sekitar masjidil haram sudah ditutup. Beliau menyarankan agar rombongan turun di sini dengan membawa barang-barang berharga sementara bus akan memutar mencari rute lainnya dan bagasi akan diantarkan. Kami berjalan sekitar 200m menuju ke hotel, di Mekah kami menginap di Al Safwah Royal Orchid Hotel yang kalau dari petanya terletak persis di depan Masjidil Haram, patokannya WC 3, saat hajian tahun 2019 saya ingin sekali menginap di Hotel ini, karena dekat masjid dan karena dibawah hotel banyak toko-toko yang menjual oleh-oleh murah. Alhamdulillah umroh kali ini bersama anak-anak doa saya terkabul. Ustadz Salman menyuruh kami untuk shalat Dzuhur di hotel, makan siang dan sesudahnya berkumpul kembali di lobby pukul 15.00 sore untuk mulai melaksanakan ibadah umroh. 

Rombongan private kami diberi dua kunci kamar hotel sementara bagasi akan dibawakan oleh kru travel, kami hanya mampir sebentar ke kamar hotel untuk meletakkan ransel dan mengambil wudhu. Setelah itu kami bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh, di lobby hotel bawah kami bertemu dengan rombongan Sukabumi, kami pun bergabung dengan ibu-ibu untuk menuju Masjidil Haram.

Suara adzan shubuh sudah berkumandang sehingga kami mempercepat langkah kami, di pelataran masjidil haram sudah banyak jamaah berkumpul dan menggelar sajadah. Kami terus bergerak masuk ke dalam masjid (karena menurutnya shaf depan pasti masih ada yang kosong), benar saja setelah blasak-blusuk sampai ke depan akhirnya kami menemukan ruang yang cukup untuk berempat. Selesai sholat



Saya memperhatikan tingkah polah pedagang pashmina yang menjajakan dagangannya dengan cara mengibas-ibaskan kain panjang ke udara, selain itu ada juga pedagang gamis, korma, coklat dll. Para pedagang di sini tertib, tidak ada yang berjualan di pinggir jalan apalagi sampai memakan badan jalan, juga mereka semua patuh dengan aturan Islam yang mana melarang berdagang di dalam area masjid, jadi mereka ya hanya berdagang di plaza Sofwa  tersebut.



Makan pagi disajikan di restoran hotel, di restoran saya kembali bertemu dengan suami dan anak-anak, di sini juga kami banyak bertemu dengan jamaah umroh dari biro tour lainnya. Saking banyaknya jamaah dari Indonesia, satu ruangan diperuntukkan khusus untuk jamaah Indonesia, ada tulisannya “for indonesian”, menunya pun dibuat bercita rasa Indonesia lengkap dengan sambal dan kerupuk, berasnya tetap beras lokal arab yang panjang-panjang dan sulit menemukan sayur dalam menu harian (karena pertanian tidak subur di wilayah Arab), kalaupun ada hanya kubis, tidak ada lainnya, bagaimanapun kami sudah sangat bersyukur dengan menu yang terbilang mewah ala hotel tersebut.


Di dalam masjid beratus-ratus galon berisi air zam-zam disediakan gratis, jadi alhamdulillah tidak usah takut kehausan. Saya sempat bertemu dengan beberapa cleaning service yang ternyata dari Indonesia. Lantai masjid terbuat dari marmer yang sangat sejuk dan dingin di kulit, sementara chandelier bergaya arab dan kaligrafi memenuhi atap dan dinding. Di dalam masjid sudah disediakan rak-rak berisi al qur’an yang bisa dibaca oleh siapapun.

Hal lucu lainnya adalah, kalau kamu wanita muda jalan-jalan di toko tanpa suami, bahkan walaupun dengan sesama teman perempuan, kamu akan sering ditanya oleh penjualnya apakah sudah menikah atau belum. 0rang-orang arab memang menganggap wanita melayu cantik-cantik. Kalau kamu jawab belum, bisa jadi mereka akan serius melamar. Pedagang di Madinah- Mekkah rata-rata mengerti angka dalam bahasa indonesia, walau tidak bisa berbahasa indonesia mereka lancar menyebutkan satu dua tiga, sehingga memudahkan dalam transaksi tawar menawar.

Setelah saya bandingkan, harga kurma maupun penganan lainnya lebih murah di pedagang keliling dibanding di toko. Ingat coklat kerikil ataupun coklat sebesar permen yang biasa dijadikan oleh-oleh umroh kan? belilah di pedagang keliling karena harganya jauh lebih murah. Juga kerudung lebar kembang-kembang aneka warna khas arab dan abaya hitam juga banyak dijual di pedagang keliling.

Hari kedua Pukul 08.30 Waktu Arab Saudi semua anggota jamaah sudah bersiap di lobby karena hari ini agenda kami padat. Hari ini kami akan mengunjungi Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Arafah, Mina, Muzdalifah dan selepas itu mengambil miqot kembali di Masjid Aisyah untuk melaksanakan Umroh Kedua.

Kesan saya pada Mekkah berbeda dengan Madinah yang sejuk, tenang dan tertib, Mekkah ini lebih bising dan berdebu, mungkin karena proses konstruksi masjidil haram sedang berlangsung. Di mana-mana tower crane dan berbagai peralatan konstruksi bertebaran. Masjidil Haram dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat yang sangat tinggi, pelatarannya sudah dilapisi marmer semua, saat waktu shalat tiba, para jamaah yang tidak bisa masuk ke dalam masjid dapat menggunakan pelataran ini, walau nggak enaknya setelah selesai kita nggak bisa lama-lama duduk berdoa karena bakalan diusir oleh para polisi syariah sebab pelataran ini juga jalan umum.
Tata letak dan navigasi arahnya memang lebih membingungkan dibanding di madinah, sehingga membuat kesempatan tersesat lebih besar, kuncinya hafalkan ikon mencolok seperti gedung bertingkat sebagai patokan. 

Hotel kami (Safwah Orchid) memang terletak persis di depan Masjidil Haram, tapi untuk menuju ke masjid nabawi kami harus menggunakan eskalator/lift  lalu melewati sejumlah pertokoan dan jembatan yang langsung terhubung dengan pelataran masjid. Kalau salah jembatan bisa jadi akan salah masuk hotel karena plang hotel memang tidak terpampang jelas dari arah Masjidil Haram (abaikan saya yang memang hobi jalan-jalan sendirian mencari rute baru, keluar masuk gedung entah apa sekedar memuaskan rasa ingin tahu), hafalkan juga hotel kita ada di lantai berapa, karena hampir semua bangunan di sini merangkap hotel dengan pertokoan dan shopping mall di bawahnya.

Lebih dari seribu tahun lalu Nabi Muhammad SAW harus menempuh perjalanan delapan hari dari Makkah ke Madinah. Nabi Muhammad disebutkan kerap melakukan perjalanan saat malam hari dan beristirahat ketika siang. Kini jamaah bisa menjalani perjalanan itu hanya dalam dua jam lebih berkat adanya Haramain High Speed Railway. Selain kereta cepat, dua kota suci itu dapat ditempuh dengan menggunakan bus dengan durasi waktu 6-8 jam perjalanan.
Ada lima Stasiun yang dilewati kereta cepat ini, Stasiun Madinah, stasiun King Abdullah Economic, Stasiun King Abdul Aziz International Aitport, Stasiun Jeddah dan Stasiun Makkah.
Sebelum masuk ke bangunan stasiun, tour leader memberikan lembaran kertas tiket yang sengaja dicetak. Nanti, barcode yang ada dalam kertas itu akan dipindai pada pintu otomatis menuju lantai 2. Untuk kelas ekonomi, harga tiket kereta cepat berkisar antara 150-200 SAR (Saudi Arabia Riyal). Setara Rp650 ribu sampai Rp870 ribu.
Kami sekeluarga cukup antusias menggunakan moda transportasi ini. Membayangkan naik kereta dengan kecepatan 300 km per jam, akan seperti apa ya. Karena kami pun belum sempat merasakan naik Whoos. Jadi perdana kami coba kereta cepat justru di Arab Saudi ini. 
Tiap pintu gerbang berwarna kuning dan tampak megah. Mungkin terbuat dari emas, entahlah, saya tidak begitu tahu. Bagian dalam masjid berbentuk seperti terowongan besar dengan lengkungan-lengkungan berlapis berwarna abu-abu dan putih. interiornya mengingatkan saya dengan istana Al-Hambra yang pernah saya lihat gambarnya karena cukup mirip. Tiang-tiang masjidnya besar, terbuat dari marmer, dengan lampu-lampu gantung dan lampu dinding yang cahaya dan warnanya bisa disesuaikan.
Atap masjid dihiasi kaligrafi, dengan beberapa kubah yang ternyata bisa digeser sehingga langit akan terlihat. Bagian lain berbentuk ukiran berwarna abu-abu. Ada sekitar sembilan ukiran yang masing-masing coraknya berbeda. Di bawah tiang masjid diletakkan rak sepatu kecil, dan tempat menyimpan kursi lipat untuk para lansia yang salat sambil duduk. Di atasnya, terdapat rak kecil tempat menaruh quran berwarna hijau dalam berbagai ukuran. Termos-termos besar berwarna coklat berderet di banyak tempat. Karena ini bulan ramadhan, termos-termos air itu kosong. Tapi menjelang asar, termos-termos itu akan diisi dengan air zam-zam dingin yang menyegarkan.
Saat masjid makin penuh, askar-askar wanita berpakaian serba hitam dan bercadar menyuruh orang-orang masuk ke dalam dan merapatkan saf. Mereka memberi komando dalam campuran bahasa yang paling mungkin adalah bahasa mayoritas para jamaah yang datang. Mengingat Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, banyak tempat di sini juga diberikan keterangan dalam bahasa Indonesia selain dalam bahasa Arab dan Inggris. Semua jamaah di sini dipanggil dengan sebutan hajjah. Sehingga seringkali terdengar para askar menyuruh kami masuk ke dalam sambil berteriak : “Ya Hajjah, thoriq, thoriq.” Disusul dengan bahasa Indonesia dalam logat khas Arab yang terdengar asing di telinga saya. “Ibu, jalan ibu.”

Beruntungnya, hanya beberapa langkah dari depan hotel, Masjid Nabawi sudah di depan mata. Tips buat yang akan kesini : ingat-ingat nomor pintu masjid yang terdekat dengan hotel kalian. Karena masjid Nabawi Madinah ini luasnya luar biasa!

Saya tertarik dengan kerumunan orang di dekat hotel yang sepertinya sedang membagikan sesuatu. Seorang membagikan gelas kertas dan seorang lagi menuangkan minuman. Bagi saya yang senang dengan berbagai pengalaman baru ala backpacker, ini adalah kesempatan mencicipi kuliner khas dari penduduk setempat. Saya ikut mengantri dan mendapatkan segelas minuman hangat berwarna pink. Saya sudah sering mencoba teh susu Arab, tapi yang ini berbeda. Saya membawanya ke hotel dan meminumnya di kamar. Rasanya agak mirip sekoteng Indonesia, ada rasa susu hangat, rempah dengan butiran serupa kacang mede yang gurih.
Saya membuka tirai dan menikmati pemandangan dari balik jendela kamar. Madinah masih ramai sampai sekitar pukul satu pagi. Di luar hanya tampak orang-orang yang pulang ke hotel dari masjid, beberapa toko yang masih buka serta proyek pembangunan yang belum selesai.

Tempat city tour pertama yang kami kunjungi adalah masjid Quba untuk salat sunah dua rakaat di sana. Masjid Quba adalah adalah majid yang pertama kali dibangun oleh Nabi. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa salat sunah dua rakaat di masjid Quba setara dengan pahala umroh yang sempurna. Ini bukan berarti menggugurkan umroh ke Mekah, sebagaimana pahala umroh ramadhan yang setara dengan haji bersama Rasul tidak menggugurkan kewajiban berhaji.

Bus bergerak kembali ke lokasi perang Uhud, makam para syuhada Uhud, lokasi perang Khandaq, tujuh masjid dan masjid kiblatain. Karena kami mengejar keutamaan salat dzuhur di masjid Nabawi, semua sepakat untuk tidak berhenti dan hanya melihat sekilas dari atas bus

Hari-hari di Madinah kami isi dengan beribadah. Di area masjid Nabawi, para peziarah nampak sangat ramai. Apalagi jika kita berada di area karpet hijau, Raudah. Area yang disebut-sebut sebagai taman surga. Tempat diantara makam dan mimbar rasul.

Setelah cukup beristirahat, saya dan suami kembali ke masjid nabawi untuk melihat-lihat suasana. Kami berdecak kagum saat melihat kubah-kubah payung yang bisa buka tutup dan sudah menjadi icon bagi masjid nabawi. Masjid Nabawi sangat besar dan memiliki banyak pintu, tapi tidak usah takut tersesat, tiap pintu memiliki nomor sendiri (tentunya bisa kan ya baca huruf arab), tinggal diingat saja kita masuk dari pintu nomor berapa. Area shalat lelaki dan perempuan dipisah jauh. 


Saya merindukan masjid Nabawi yang indah dan kehijauan di malam hari. Saya merindukan moment di Raudhah. Saya merindukan berbuka puasa di halaman masjid menikmati sobekan roti khubus. Saya merindukan susu hangat yang dibagikan orang di jalan sepulang tarawih. Saya bahkan merindukan sengatan udara panas saat ke masjid sehingga saya selalu memakai kacamata gelap dan masker.
Madinatunnabi, Madinah Al-munawarah, kota yang bercahaya, kota kecintaan Rasul yang diberkahi, yang telah dimohonkan oleh beliau agar dicintai melebihi kota Mekah. Di sini, terbaring tubuh Rasul yang jasadnya tidak akan dimakan binatang tanah beserta dua sahabat beliau yang mulia.
Betapa Rasul mencintai kota ini dan betapa saya amat berat meninggalkannya. Kalau saja bukan karena pahala salat di masjidil Haram yang nilainya 100 kali lipat dibanding masjid Nabawi, mungkin saya tidak akan pernah mau meninggalkan kota ini menuju mekah.
Saya merindukan madinah yang baru saja kami tinggalkan. Saya merasakan kerinduan yang sangat seumpama lava yang mendidih dalam otak. Bergejolak dalam hati saya. Saya masih merasakan segarnya zam zam pertama yang saya minum di Nabawi. Saya masih bisa merasakan kurma ruthob yang agak sepat di ujungnya, namun ranum di tengahnya. Saya masih merasakan aroma aspal kering yang terpanggang matahari.
Saya memandangi Nabawi sampai hilang dari pandangan.
Saya berharap bisa kembali.
Aamiin.






Kamis, 23 April 2026

Tak Lagi Panjang



Andai ayah atau ibu

Bila sedang sakit

Dan tak lagi merasa malu walau auratnya terlihat dihadapanmu...

Percayalah

Itu pertanda tubuhnya semakin lemah dan  ajalnya kian menghampiri

Saat itu...

Bukan lagi tentang malu

Tentang sungkan

Tentang risih atau tidak

Tetapi 

Tentang betapa rapuhnya manusia diujung usia

Jaga mereka penuh kasih

Karena waktu bersama tidak lagi panjang.

Yang.....Jika Ommy Meninggal Nanti. Ommy Tidak Perlu

Sering-sering kamu ziarahi.
Tidak perlu kamu nangis-nangis di makam Ommy.
Ngga perlu itu.

Asalkan Yayang rajin ibadah
Tidak maksiat
Ommy sudah sangat bahagia.
Berdoalah selalu sebagai anak yang berbakti.
Dimanapun kamu berada.
Sering-sering kirimkan Ommy doa disetiap sujud terakhir.
Itu sudah membuat bahagia.

Jika suatu hari nanti Ommy tak lagi pulang
Ke rumah
Jangan cari Ommy di kamar yang kosong
Carilah Ommy di setiap doa yang Yayang panjatkan
Terutama sehabis sholat

Panggil Ommy lewat sedekah
Yang diam-diam Yayang siapkan atas nama Ommy
Jika rindu datang sesakan dada
Jangan tahan tangis yaa
Tapi jangan juga berlama-lama
Sebab air mata Yayang terlalu berharga untuk tumpah
Untuk sesuatu yang tak akan bisa kembali
Simpan air mata Yayang untuk sujud
Biar Allah ganti jadi penenang hati
Itu sudah lebih dari pelukan

Semoga nanti Yayang
Menjadi kebanggaan Ommy di akhirat nanti.

Aamiin

Rabu, 22 April 2026

Batasan Keluarga

Sering terjadi : satu orang paling mampu dalam keluarga, ditarik terus ke pusaran tuntutan - alasan orangtua, perhatian, kewajiban, saudara kandung, sampai akhirnya jadi beban tiada habisnya.

Ini bukan soal keluarga. Ini pola.

Keluarga : orangtua ~ saudara kandung ~ yang suka menuntut berlebihan biasanya tidak fokus ke dirinya sendiri. 
Energinya keluar, mengatur, menekan bahkan "tantrum" kalau tidak dituruti. 
Dalam hubungan, ini mirip pola bucin berlebihan - maunya dituruti terus.

Masalahnya, yang sering kena justru orang empatik :
Mudah iba
Ingin membahagiakan
Tidak enakan

Akhirnya :
Dimanfaatkan
Diperas pelan-pelan
Dijadikan sandaran tanpa batas

Ini banyak terjadi di keluarga.
Terutama jika orangtua tidak punya kekuatan :
~Ekonomi
~Wawasan
~Pemahaman agama yang salah

Dan anggota keluarga lain :
~ saudara kandung
~ kakak
~ adik
merasa berhak bicara ~ memaksa menuruti apa yang mereka inginkan ~ dan mereka sendiri diam tidak berbuat apa-apa.

Solusinya bukan melawan dengan emosi, tapi sadar batas.

Berhenti merasa harus : ~Mendengarkan semua suara.
~Tidak semua omongan harus direspon.
~Tidak semua tuntutan harus dipenuhi.

Tutup telinga.
Tutup mata, dalam arti :
Tidak reaktif, tidak terseret drama.

Memberi tetap boleh. 
Tapi sebatas kemampuan :
~Perhatian secukupnya
~Uang secukupnya.
~Tenaga secukupnya.
~Bukan berlebihan, apalagi keterpaksaan.

Karena ketika berhenti memberi, disitu keluarga beranggapan :
~ pelit
~ jahat
~ tidak mau membantu
~ pihak lain mencampuri, 
kepada keluarga sendiri ~ tantrum.

Karena satu hal yang harus jelas :
Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang di keluargamu.
Bahkan orangtua sekalipun.

Kalaupun dipaksakan:
Kamu habis
Dan mereka tidak pernah puas

Keinginan manusia itu tidak ada ujungnya.
Dituruti~minta lagi~minta lagi~terus begitu~seperti pola.

Makanya batas itu penting

Batas bukan berarti pelit
Batas adalah bentuk kasih sayang yang sehat.

Kalau tidak ada batas :
Kamu hancur
Hubungan keluarga juga hancur

Dengan batas : 
Kamu tetap tidak kehilangan diri

Memberi pun harus jujur :
Bukan supaya dianggap baik
Bukan supaya diakui
Bukan supaya tidak diomongi
Tidak dimusuhi
Tapi karena memang ingin memberi ~ sewajarnya. 

Kalau diomongi ? Tetap tenang
Kalau dimusuhi ? Tetap stabil

Memberi ya memberi
Tidak ya tidak memberi

Tidak perlu drama
Yang penting : kamu tidak jadi korban
Biarkan mereka tantrum sendiri.

Prinsip ini bukan cuma untuk keluarga.
Tapi ke semua orang.

Karena pada akhrnya
Bataslah yang menyelamatkan kamu.
Dan menyelamatkan hubungan.
Daripada semua ikut tenggelam karena tidak ada batas.

Kebaikan yang dilakukan terus-menerus pelan-pelan akan berubah menjadi kewajiban. Tidak semua orang sadar kapan batas itu terlewati.
Hari ini, kamu membantu karena ingin.
Besok, mereka meminta tanpa ragu.
Lusa, mereka menuntut seolah itu memang sudah seharusnya.
Sampai pada akhirnya, kebaikan yang dulu lahir dari hati berubah menjadi beban yang dipikul dengan terpaksa.
Dan yang paling menyakitkan, bukanlah karena lelah melakukannya, melainkan kenyataan bahwa mereka tidak lagi melihatnya sebagai sebuah kebaikan, tetapi hanya sebagai sesuatu yang memang harus wajib kamu lakukan.

DB

Sabtu, 05 Juli 2025

Pekanbaru

Tradisi dan Adat Budaya Pekanbaru-Melayu Riau

Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Darimanapun asalmu selama kita berada di kota bertuah ini, maka wajib menjaga tradisi dan adat tunjuk ajar Melayu Pekanbaru.

Julukan Kota Pekanbaru adalah Pekanbaru Kota Bertuah. Julukan Bertuah ini adalah akronim Dari Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman, Harmonis.

Kenapa Pekanbaru disebut kota bertuah 
Karena hal tersebut untuk menggambarkan kondisi terbaik yang diinginkan penduduk Pekanbaru.

Pekanbaru terletak di tepi Sungai Siak, diceritakan pada awalnya merupakan kota kecil yang memiliki pasar atau pekan yang bernama Senapelan.
Wilayah Senapelan (Pekanbaru) pada awalnya pernah menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hal ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah, yang dianggap sebagai pendiri Pekanbaru modern. 
Dengan berbagai pertimbangan seperti ekonomi dan politik yang berkembang di Wilayah Riau, beliau pada saat itu memindahkan pusat kerajaan dari Mempura ke Senapelan. Senapelan saat itu dipimpin oleh Kepala Suku yang disebut Batin. 
Pada tanggal 23 Juni 1784, Senapelan yang akhirnya disebut Pekanbaru resmi berdiri dan akhirnya tanggal tersebut itu pula yang ditetapkan sebagai Hari jadi Kota Pekanbaru. 
Pekanbaru menjadi kota pada tahun 1948, meningkat menjadi kotapraja tahun 1956, dan menjadi ibukota provinsi Riau sebagai pengganti Kota Tanjung Pinang pada tahun 1959. Saat ini Pekanbaru memiliki 15 kecamatan dengan 83 kelurahan dan luas wilayah 446.50km2.

Pekanbaru merupakan kota ketiga terbesar di Sumatera setelah Medan dan Palembang, terkenal dengan hasil produksi minyak, baik minyak bumi maupun minyak yang dihasilkan dari kelapa sawit.
Pekanbaru tidak memiliki banyak objek wisata sektor alam, tapi ada banyak jasa pariwisata yang menawarkan kelebihan seperti pusat perbelanjaan, pasar wisata pasar bawah, hotel, bandara, terminal bus antar kota dan antar provinsi, pelabuhan dan kuliner. 
Masyarakat Pekanbaru pun bersifat kosmopolitan, karena dipengaruhi oleh letak strategis ditengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatera. Ada  banyak etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini, seperti suku Minangkabau, Melayu yang merupakan suku asli Riau, kemudian Jawa, Batak dan Tionghoa. Adapun adat, kebudayaan dan bahasa daerah melayulah yang mengatur tingkah laku dan kegiatan masyarakat yang bertempat tinggal di Pekanbaru. Kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh budaya Islam.
Tradisi, kebudayaan, dan adat istiadat masyarakat Pekanbaru menjadi satu kesatuan yang mendorong negara Indonesia semakin dikenal hingga ke mancanegara.
Bukan hanya itu saja, Pekanbaru juga menjadi salah satu kota yang memiliki beragam minuman, makanan, dan buah-buahan khas.
Seperti Gulai ikan patin, mie sagu, bolu kemojo,durian, nenas dan es lancang kuning dan masih banyak lainnya.
Saat ini Pekanbaru juga menjadi salah satu daerah di Indonesia yang cukup produktif dalam berwirausaha.

Mempunyai penduduk yang ulet dan gigih kini Pekanbaru pun mempunyai berbagai produk khas yang tak kalah populernya, seperti Batik Corak Pekanbaru, Kain tenun songket Pekanbaru, produk pisang kipas, kerupuk kulit patin dan masih banyak lagi yang lainnya.
Meskipun sudah sangat berkembang dan menjadi daerah yang maju, tetapi masyarakatnya tidak melupakan tradisi, kebudayaan, serta adat istiadat Pekanbaru-Melayu Riau yang sudah ada sejak dahulu.
Kesadaran dari dalam diri menjadikan setiap warga Pekanbaru tetap mempertahankan kelestarian tradisi dan juga keberagaman budayanya.
Tak heran bila beberapa warisan adat budaya berikut ini tetap lestari hingga sekarang!

Rumah Adat

Di Pekanbaru terdapat Rumah Adat Khas yang disebut Selaso Jatuh Kembar atau Balai Selaso. Bangunan yang sangat luas ini seperti rumah tapi fungsinya bukan merupakan tempat tinggal. Di dalam rumah adat ini terdapat Balai Adat, tempat berkegiatan bersama, sebagai tempat yang dipergunakan untuk melakukan pertemuan dan musyawarah. 
Keunikan dari rumah adat Selaso Jatuh Kembar adalah banyaknya hiasan dinding, jendela, pintu, birai tangga (pagar dinding rendah tepi tangga). 
Salah satu ukiran yang terkenal adalah Itik Sekawan. Ukiran ini merupakan gambar sekawanan itik yang berbaris rapi menggambarkan kehidupan masyarakat yang kompak dan selalu berdampingan. 
Ukiran terkenal lainnya adalah Pucuk Rebung, yang bentuknya menyerupai tunas, dan terbagi beberapa jenis.
1. Pucuk Rebung Kaluk Paku menggambarkan gotong royong dan saling tolong menolong di masyarakat.
2. Pucuk Rebung Bertunas menggambarkan hilangnya rasa lapar dan haus serta permasalahan hidup, agar penghuni rumah selalu sejahtera dan berkecukupan.
3. Pucuk Rebung Sekuntum menggambarkan musyawarah untuk mufakat.
4. Pucuk Rebung Sirih Tunggal menggambarkan agar aura negatif hilang dari dalam rumah.

Tak hanya hiasan dinding, ukiran bermakna juga dapat terlihat di birai tangga rumah adat ini. Coraknya ada yang berombak Awan Larak menggambarkan kelancaran rezeki masyarakat, kemudian ada pula yang berupa corak Lebah Gantung yang menggambarkan ketekunan dan kegigihan layaknya lebah.

Tarian adat 
Tari persembahan merupakan salah satu tarian yang menjadi kebanggaan dan icon seni masyarakat melayu dan sudah dijadikan tarian wajib dalam menyambut tamu di Pekanbaru.
Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu dan ditampilkan untuk menghormati dan menyambut tamu yang datang. Tari persembahan ini identik dengan pengajuan tepak sirih kepada orang yang dihormati dan meminta untuk mencoba sirih yang telah diberikan. Ini merupakan tradisi yang turun menurun dalam rakyat Melayu. Suka atau tidak, para tamu juga wajib memakan daun sirih yang sudah diberikan para penari. 

Pakaian Adat
Sebagian masyarakat sudah tahu bahwa Kota Pekanbaru mempunyai pakaian adat yang sangat khas. Pakaian tersebut memang sangat populer di Pekanbaru-Riau bahkan juga telah digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah lainnya.
Pakaian adat untuk wanita dan pria yang merupakan busana tradisional dan biasa dikenakan masyarakat Pekanbaru, baik itu untuk kegiatan sehari-hari maupun dikenakan saat upacara-upacara adat.
Pakaian adat wanita sehari-hari disebut : Baju Kurung
Desainnya sederhana dengan tampilan lengan panjang dan atasan yang menjuntai hingga sebawah lutut, memberikan simbol nilai-nilai kesopanan agar dijunjung tinggi oleh masyarakat. Baju kurung ini biasa digunakan sehari-hari, dibuat longgar dan tidak ketat, agar tidak menampakan lekuk tubuh yang memakainya.

Kemudian salah satu pakaian adat lainnya adalah Kebaya Laboh.
Kebaya laboh digunakan untuk acara-acara resmi seperti upacara adat atau perkawinan. Kebaya Laboh dipadukan dengan kain songket sebagai bawahan. Kebaya Laboh sebenarnya mirip dengan Kebaya pada umumnya. Perbedaannya pada panjang Kebaya, jika panjangnya tiga jari diatas lutut maka menunjukan wanita yang memakainya belum menikah. Sementara jika menjuntai sampai tiga jari dibawah lutut, maka dapat diketahui bahwa wanita yang memakainya telah menikah.

Sedangkan pakaian adat untuk pria menggunakan pakaian adat berupa baju Kurung Cekak Musang dan  Baju Kurung Belanga. 
Baju Kurung Belanga umumnya dibuat setelan dengan celana. Dikenakan pula kain samping atau kain songket ditambah penutup kepala berupa songkok, ikat kepala, juga tanjak. Tanjak dibuat dari jenis kain yang sama dengan baju dan celana atau kain samping atau kain songket.
Bentuk pakaian adat untuk pria lainnya ada yang disebut Baju Cekak Musang, mirip dengan busana Baju Kurung Belanga hanya ketika dikenakan terutama dalam acara resmi dilengkapi dengan penutup kepala berupa kopiah berwarna hitam. 

Warna-warna yang digunakan untuk pakaian adat Pekanbaru untuk wanita dan pria ini cenderung cerah dan dominan warna merah, kuning dan hijau. Ketiga warna ini masing-masing melambangkan nilai-nilai penting yang dihormati di masyarakat. Hijau melambangkan nilai rohani dan kepatuhan. Kuning melambangkan nilai kebesaran keluarga raja. Merah melambangkan nilai keberanian dan kepahlawanan.

Biasanya motif kain songket Pekanbaru selalu menggunakan gambar dasar dengan bentuk geometri sebagai salah satu ciri khasnya.
Sehingga kain songket Pekanbaru mudah sekali dikenali, terlebih lagi karena kain tersebut selalu menggunakan kain yang berbahan dasar tenun. 
Tetapi karena ingin terus mengikuti kebutuhan konsumen, kain tenun songket Pekanbaru juga mulai dibuat sesuai dengan perkembangan bahan pakaian di masa sekarang. Salah satunya adalah penggunaan kain katun akan tetapi makna alam yang tersimpan dalam setiap motif hiasan kain tetap selalu ada.
Sejak dahulu masyarakat Pekanbaru-Melayu Riau memang sudah terkenal akan keterikatannya dengan alam.
Bahkan banyak ritual kebudayaan di daerah Pekanbaru yang ditambahkan unsur alam oleh masyarakat ketika pelaksanaannya.

Masyarakat Pekanbaru-Melayu Riau sangat bangga akan warisan budaya mereka dan berusaha untuk tetap menjaga serta mempertahankan dan melakukan kegiatan yang dianggap penting keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. 
Beberapa tradisi budaya Pekanbaru-Melayu Riau yang menjadi warisan budaya secara turun temurun yang terkenal antara lain :

Petang Megang
Mengaji budak ditengah surau
Surau dibangun tepi sepadan
Tradisi bernama petang belimau
Tempat bersuci menyambut Ramadhan

Masyarakat Pekanbaru memiliki tradisi Petang Megang untuk memanjatkan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat menjelang bulan puasa. Petang Megang memiliki istilah lain yaitu Balimau Kasai.
Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Pekanbaru untuk menyambut bulan suci Ramadhan. 
Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis dan jeruk kapas, dicampur dengan harum-haruman dari bunga dan daun tujuh rupa seperti, serai wangi, daun nilam, akar siak dan mayang pinang. 
Tradisi Petang Megang biasanya dimulai dengan ziarah ke makam para leluhur yang merupakan tokoh agama yang dihormati, kemudian setelah selesai shalat ashar di Mesjid Raya, rombongan bergerak ke Rumah Singgah Tuan Kadi yang berada di pinggiran sungai Siak, sambil dilakukan arak-arakan oleh warga masyarakat sekitar, tokoh agama dan pemimpin adat dan pemimpin daerah. Dengan diiringi kesenian Kompang, atau alat musik tradisional khas Melayu, arak-arakan menuju lokasi upacara Petang Megang yang dilangsungkan di tepian Sungai Siak.
Kemudian dilakukan acara Mandi Balimau yang secara simbolis dilakukan pengguyuran terhadap beberapa anak yatim. Dilanjutkan setelahnya dengan lomba menangkap itik di sungai siak serta rangkaian lomba dan acara lainya. Terakhir masyarakat akan turun bersama untuk bersih-bersih atau mandi di Sungai Siak.

Rumah Singgah Tuan Kadi itu apa ? Rumah Singgah Tuan Kadi adalah rumah peninggalan sejarah yang ada di Kota Pekanbaru. Rumah yang berbentuk limas ini dulunya berfungsi sebagai rumah singgah bagi Sultan Siak Sri Indrapura apabila berkunjung ke Senapelan yang merupakan cikal bakal Kota Pekanbaru. Dulunya Senapelan merupakan atau Kota Pekanbaru saat ini merupakan daerah kekuasaan Sultan Siak.

Di Rumah Singgah Tuan Kadi inilah Sultan Siak beserta pengiringnya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumah Tuan Kadi lainnya, rumah ini terletak di tepi Sungai Siak, tak jauh di bawah Jembatan Siak III.

Tradisi adat dari Pekanbaru lainnnya adalah Berinai Curi.
Sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan, peralatan berinai (berupa bubuk pacar arab atau pasta henna), yang akan digunakan untuk melukis kuku jari tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki calon pengantin wanita diambil diam-diam (dicuri) dari rumah calon pengantin wanita. Makna dari tradisi Berinai Curi adalah menolak malapetaka atau bencana, menjauhkan pengantin dari kemalangan dan gangguan jin jahat terutama bagi calon pengantin wanita dan dipercaya akan membuat wajah pengantin semakin bercahaya saat hari pernikahan tiba.

Tradisi lainnya di masyarakat Pekanbaru disebut sebagai Tepuk Tepung Tawar.
Tradisi Tepuk Tepung Tawar adalah tradisi yang wajib dilakukan terutama saat acara pernikahan, khitanan, aqiqah, pengukuhan adat, berangkat naik haji hingga menempati rumah baru. Maknanya adalah memberikan doa selamat.
Sebelum pelaksanaan tepuk tepung tawar tercatat sejumlah bahan yang wajib ada, yaitu beras kunyit, beras putih, beras bertih, air wangi dan bunga rampai. Kelima bahan tersebut memiliki makna khusus. Beras kunyit simbol adat melayu yang kental berwarna kuning sekaligus diharapkan agar diberi murah rezeki, beras putih bermakna kesucian. Beras bertih bermakna kemakmuran. Bunga rampai bermakna keindahan. Air wangi bermakna sebagai penyejuk hati orang yang ditepuk tawari.
Prosesi tepuk tepung tawar dilakukan dengan mengambil daun yang telah diikat dan dicelupkan ke bahan-bahan air wangi yang sudah dipersiapkan untuk dipercikan ke tangan yang ditepung tawari. Selanjutnya orang yang melakukan tepuk tepung tawar mengambil beras kunyit, beras putih, beras bertih dan bunga rampai untuk ditaburkan pada orang yang sedang menjalani prosesi adat sambil membaca sholawat. Jumlah orang yang ditunjuk untuk penepuk tepung tawar haruslah berjumlah ganjil.

Kebudayaan serta adat istiadat masyarakat Pekanbaru-Riau sudah banyak mengalami perkembangan.
Tetapi masih banyak masyarakat yang bersedia melestarikannya sebagai warisan orang-orang terdahulu, seperti halnya tradisi Petang Megang yang sampai saat ini masih sering dipertunjukkan.

Karenanya adat istiadat adalah bagian dari kekayaan budaya suatu daerah atau bangsa. Oleh karena itu Cara Menghargai Keberagaman Budaya Daerah
1.Tidak menjelek-jelekan atau menghina        suku dan ras bangsa lain 
2. Menghormati adat istiadat daerah lain.
3. Senantiasa untuk mau mengenal adat   istiadat dari berbagai budaya suku yang 
    ada di Indonesia.

Pergi naik pesawat
Ke Kota Semarang
Bangsa ini punya beribu adat
Adat budaya peninggalan nenek moyang.










Ondel-ondel

Ondel-ondel adalah boneka besar berpasangan yang awal mulanya dibuat untuk keperluan upacara adat penyembuh wabah penyakit yang disebut juga upacara tolak ba'la. Upacara tolak ba'la salah satunya diadakan untuk mengusir wabah penyakit yang menyerang suatu perkampungan. Dikisahkan saat itu ada suatu kampung yang hampir penduduk di kampung itu mengalami wabah penyakit. Di masa itu dokter dan rumah sakit masih belum dikenal, yang ada hanya dukun yang mengobatinya. Dikisahkan dukun pun bermeditasi mencari petunjuk obat mujarab, dan dari meditasinya dukun memperoleh pesan (wangsit)  untuk membuat sepasang orang-orangan yang ukurannya sangat besar. Orang-orangan itu disebut yang dapat mengusir roh jahat di kampung tersebut.
Akhirnya penduduk kampung membuat orang-orangan berbentuk besar tanpa nama yang dipikul dan diarak bersama-sama oleh masyarakat kampung untuk mengusir roh jahat.
Ternyata apa yang dilakukan dukun dan penduduk kampung membuahkan hasil, seluruh penduduk sembuh dari wabah penyakit yang menyerang kampung.
Penduduk kampung meyakini orang-orangan yang dibuat itu merupakan sarana meminta pertolongan dari kekuatan gaib sehingga dijadikan ritual saat suatu kampung mengalami hal-hal yang tidak diinginkan yang digunakan sebagai ritual mengusir roh jahat, dan diimplementasikan ke dalam boneka tersebut sebagai wujud dari roh baik sebagai pengusirnya dan lambat laun menjadi kebiasaan adat.
Asal usul penamaan ondel-ondel sendiri berawal karena ukuran boneka yang sangat besar, yang perlu dipikul oleh beberapa orang sehingga mengakibatkan boneka itu seakan berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dari menggelengkan kepala itu lahir sebutan dari masyarakat untuk boneka besar itu yakni Ondel-ondel. Seiring perkembangan waktu, Ondel-ondel itu pun diberi nama, yaitu Kobar untuk boneka laki-laki yang ditandai dengan wajah merah dan Borah untuk boneka perempuan, yang ditandai dengan wajah putih.
Ondel-ondel yang awalnya berfungsi sebagai penolak ba'la, saat ini lebih berfungsi sering dipertunjukan untuk menyemarakan pesta rakyat, penyambutan tamu kehormatan, arak-arakan pengantin sunat atau acara pernikahan. Wajah dan gambaran dari Ondel-ondel masa kini lebih manis dan bersahabat, sejalan dengan fungsi ondel-ondel yang berubah dari boneka tolak ba'la menjadi boneka penghibur bagi semua kalangan usia.