Istri mati-matian menghemat uang bulanan
Suami mati-matian ngumpetin uang dari istri
Agar bisa kasih uang bulanan
Ke keluarga besarnya
Ke ibunya
Ke kakaknya
Sedangkan
Orangtuaku tidak dia ingat sama sekali.
Tuhan tidak tidur..

Istri mati-matian menghemat uang bulanan
Suami mati-matian ngumpetin uang dari istri
Agar bisa kasih uang bulanan
Ke keluarga besarnya
Ke ibunya
Ke kakaknya
Sedangkan
Orangtuaku tidak dia ingat sama sekali.
Tuhan tidak tidur..


Sering kali orangtua istri terlupakan
Dalam pernikahan
Dan
Yang menjadi prioritas orangtua suami
Dibuatkan rumah
Dibelikan kendaraan
Rutin dikunjungi
Diperjuangkan tanpa ragu
Tapi orangtua istri,
Hanya mendengar kabar
Tidak dianggap
Meski tak berkata apapun
Suami pun kadang berkata :
"aku wajib patuh pada ibuku"
Dan....
"Kamu istri, wajib taat pada suami"
Agama dijadikan tameng
Padahal yang sedang dibela,
Bukan ajaran tapi
Ego
Agama mengajarkan adil, cinta dan keseimbangan
Bukan mengabaikan satu pihak
Demi membenarkan yang lain
Istri punya orangtua
Yang ingin melihat anaknya bahagia
Yang juga mendoakan tanpa suara
Tidak menuntut banyak
Tidak ingin dilayani seperti raja
Seperti ratu
Mereka hanya ingin :
Anak perempuannya dihargai dan
Dibahagiakan
Tapi banyak suami bilang :
"Orangtua istri bukan tanggungjawabku..."
Padahal istri yang kamu minta taat itu
Lahir dan tumbuh dari cinta orangtuanya
Keluarganya
Adik-adiknya
Mereka mendidik dia menjadi perempuan yang dibanggakan
Menghormati orangtua istri
Bukan soal hukum atau wajib
Tapi soal akal sehat dan hati nurani.




Stop curhat minta tolong
Ke keluarga mereka !
Karena yang kamu harapkan
Jadi penyelamat....
Belum tentu melihat masalahnya
Seperti kamu
Saat hubungan mulai tidak sehat,
Kamu berpikir :
Kalau orangtuanya tahu
Pasti mereka akan menegur dia
Tapi kenyataannya tidak begitu
Kamu datang membawa fakta
Mereka datang membawa ikatan keluarga puluhan tahun
Tebak siapa yang mereka percaya
Kamu menceritakan luka
Mereka mendengar :
Anak kami sedang dijelek-jelekkan
Yang kamu sampaikan sebagai masalah
Diterjemahkan sebagai serangan
Kamu berharap dilindungi
Tapi justru kamu diminta :
"Sabar ya"
"Maklumi saja"
"Namanya juga rumah tangga"
Tidak jarang...
Kamu curhat hari ini
Besok sudah diputar balikan
Akhirnya kamu menghadapi dua pihak sekaligus
Satu pihak yang menyakitimu
Satu pihak sistem yang membelanya
Mereka terbiasa menormalisasi perilaku itu selama bertahun-tahun
Berhenti berharap
Mereka akan berubah menjadi penyelamat
Kadang yang paling menyakitkan bukan saat tidak dipercaya oleh pasangan
Tapi saat seluruh sistem dibelakangnya ikut membenarkan...





Suamimu tidak merasa salah
Bukan karena dia benar
Tapi karena di sekelilingnya
Banyak yang membenarkan
Perbuatannya
Kalau satu keluarganya bilang dia korban dan
Istrinya yang bermasalah,
Dia merasa untuk apa dia harus berubah ?
Bukan cuman dia yang rusak
Tapi lingkungannya ya memberi tepuk tangan
Pun sama rusaknya...




