Kamis, 23 April 2026

Tak Lagi Panjang




Andai ayah atau ibu

Bila sedang sakit

Dan tak lagi merasa malu walau auratnya terlihat dihadapanmu...

Percayalah

Itu pertanda tubuhnya semakin lemah dan  ajalnya kian menghampiri

Saat itu...

Bukan lagi tentang malu

Tentang sungkan

Tentang risih atau tidak

Tetapi 

Tentang betapa rapuhnya manusia diujung usia

Jaga mereka penuh kasih

Karena waktu bersama tidak lagi panjang.

Yang.....Jika Ommy Meninggal Nanti. Ommy Tidak Perlu

Sering-sering kamu ziarahi.
Tidak perlu kamu nangis-nangis di makam Ommy.
Ngga perlu itu.

Asalkan Yayang rajin ibadah
Tidak maksiat
Ommy sudah sangat bahagia.
Berdoalah selalu sebagai anak yang berbakti.
Dimanapun kamu berada.
Sering-sering kirimkan Ommy doa disetiap sujud terakhir.
Itu sudah membuat bahagia.

Jika suatu hari nanti Ommy tak lagi pulang
Ke rumah
Jangan cari Ommy di kamar yang kosong
Carilah Ommy di setiap doa yang Yayang panjatkan
Terutama sehabis sholat

Panggil Ommy lewat sedekah
Yang diam-diam Yayang siapkan atas nama Ommy
Jika rindu datang sesakan dada
Jangan tahan tangis yaa
Tapi jangan juga berlama-lama
Sebab air mata Yayang terlalu berharga untuk tumpah
Untuk sesuatu yang tak akan bisa kembali
Simpan air mata Yayang untuk sujud
Biar Allah ganti jadi penenang hati
Itu sudah lebih dari pelukan

Semoga nanti Yayang
Menjadi kebanggaan Ommy di akhirat nanti.

Aamiin

Rabu, 22 April 2026

Batasan Keluarga

Sering terjadi : satu orang paling mampu dalam keluarga, ditarik terus ke pusaran tuntutan - alasan orangtua, perhatian, kewajiban, saudara kandung, sampai akhirnya jadi beban tiada habisnya.

Ini bukan soal keluarga. Ini pola.

Keluarga : orangtua ~ saudara kandung ~ yang suka menuntut berlebihan biasanya tidak fokus ke dirinya sendiri. 
Energinya keluar, mengatur, menekan bahkan "tantrum" kalau tidak dituruti. 
Dalam hubungan, ini mirip pola bucin berlebihan - maunya dituruti terus.

Masalahnya, yang sering kena justru orang empatik :
Mudah iba
Ingin membahagiakan
Tidak enakan

Akhirnya :
Dimanfaatkan
Diperas pelan-pelan
Dijadikan sandaran tanpa batas

Ini banyak terjadi di keluarga.
Terutama jika orangtua tidak punya kekuatan :
~Ekonomi
~Wawasan
~Pemahaman agama yang salah

Dan anggota keluarga lain :
~ saudara kandung
~ kakak
~ adik
merasa berhak bicara ~ memaksa menuruti apa yang mereka inginkan ~ dan mereka sendiri diam tidak berbuat apa-apa.

Solusinya bukan melawan dengan emosi, tapi sadar batas.

Berhenti merasa harus : ~Mendengarkan semua suara.
~Tidak semua omongan harus direspon.
~Tidak semua tuntutan harus dipenuhi.

Tutup telinga.
Tutup mata, dalam arti :
Tidak reaktif, tidak terseret drama.

Memberi tetap boleh. 
Tapi sebatas kemampuan :
~Perhatian secukupnya
~Uang secukupnya.
~Tenaga secukupnya.
~Bukan berlebihan, apalagi keterpaksaan.

Karena ketika berhenti memberi, disitu keluarga beranggapan :
~ pelit
~ jahat
~ tidak mau membantu
~ pihak lain mencampuri, 
kepada keluarga sendiri ~ tantrum.

Karena satu hal yang harus jelas :
Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang di keluargamu.
Bahkan orangtua sekalipun.

Kalaupun dipaksakan:
Kamu habis
Dan mereka tidak pernah puas

Keinginan manusia itu tidak ada ujungnya.
Dituruti~minta lagi~minta lagi~terus begitu~seperti pola.

Makanya batas itu penting

Batas bukan berarti pelit
Batas adalah bentuk kasih sayang yang sehat.

Kalau tidak ada batas :
Kamu hancur
Hubungan keluarga juga hancur

Dengan batas : 
Kamu tetap tidak kehilangan diri

Memberi pun harus jujur :
Bukan supaya dianggap baik
Bukan supaya diakui
Bukan supaya tidak diomongi
Tidak dimusuhi
Tapi karena memang ingin memberi ~ sewajarnya. 

Kalau diomongi ? Tetap tenang
Kalau dimusuhi ? Tetap stabil

Memberi ya memberi
Tidak ya tidak memberi

Tidak perlu drama
Yang penting : kamu tidak jadi korban
Biarkan mereka tantrum sendiri.

Prinsip ini bukan cuma untuk keluarga.
Tapi ke semua orang.

Karena pada akhrnya
Bataslah yang menyelamatkan kamu.
Dan menyelamatkan hubungan.
Daripada semua ikut tenggelam karena tidak ada batas.

Kebaikan yang dilakukan terus-menerus pelan-pelan akan berubah menjadi kewajiban. Tidak semua orang sadar kapan batas itu terlewati.
Hari ini, kamu membantu karena ingin.
Besok, mereka meminta tanpa ragu.
Lusa, mereka menuntut seolah itu memang sudah seharusnya.
Sampai pada akhirnya, kebaikan yang dulu lahir dari hati berubah menjadi beban yang dipikul dengan terpaksa.
Dan yang paling menyakitkan, bukanlah karena lelah melakukannya, melainkan kenyataan bahwa mereka tidak lagi melihatnya sebagai sebuah kebaikan, tetapi hanya sebagai sesuatu yang memang harus wajib kamu lakukan.

Tidak semua orang perlu kita bantu, hidup mereka bukan tanggungjawab kita.
Bukan karena tidak berempati.
Bukan berarti kita jahat.
Tapi beberapa orang perlu belajar,
Untuk bertanggungjawab atas pilihan mereka.
Kita tidak harus membahagiakan semua orang.
Manusia bertanggung jawab atas hidupnya masing-masing.

DB