Sering terjadi : satu orang paling mampu dalam keluarga, ditarik terus ke pusaran tuntutan - alasan orangtua, perhatian, kewajiban, saudara kandung, sampai akhirnya jadi beban tiada habisnya.
Ini bukan soal keluarga. Ini pola.
Keluarga : orangtua ~ saudara kandung ~ yang suka menuntut berlebihan biasanya tidak fokus ke dirinya sendiri.
Energinya keluar, mengatur, menekan bahkan "tantrum" kalau tidak dituruti.
Dalam hubungan, ini mirip pola bucin berlebihan - maunya dituruti terus.
Masalahnya, yang sering kena justru orang empatik :
Mudah iba
Ingin membahagiakan
Tidak enakan
Akhirnya :
Dimanfaatkan
Diperas pelan-pelan
Dijadikan sandaran tanpa batas
Ini banyak terjadi di keluarga.
Terutama jika orangtua tidak punya kekuatan :
~Ekonomi
~Wawasan
~Pemahaman agama yang salah
Dan anggota keluarga lain :
~ saudara kandung
~ kakak
~ adik
merasa berhak bicara ~ memaksa menuruti apa yang mereka inginkan ~ dan mereka sendiri diam tidak berbuat apa-apa.
Solusinya bukan melawan dengan emosi, tapi sadar batas.
Berhenti merasa harus : ~Mendengarkan semua suara.
~Tidak semua omongan harus direspon.
~Tidak semua tuntutan harus dipenuhi.
Tutup telinga.
Tutup mata, dalam arti :
Tidak reaktif, tidak terseret drama.
Memberi tetap boleh.
Tapi sebatas kemampuan :
~Perhatian secukupnya
~Uang secukupnya.
~Tenaga secukupnya.
~Bukan berlebihan, apalagi keterpaksaan.
Karena ketika berhenti memberi, disitu keluarga beranggapan :
~ pelit
~ jahat
~ tidak mau membantu
~ pihak lain mencampuri,
kepada keluarga sendiri ~ tantrum.
Karena satu hal yang harus jelas :
Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang di keluargamu.
Bahkan orangtua sekalipun.
Kalaupun dipaksakan:
Kamu habis
Dan mereka tidak pernah puas
Keinginan manusia itu tidak ada ujungnya.
Dituruti~minta lagi~minta lagi~terus begitu~seperti pola.
Makanya batas itu penting
Batas bukan berarti pelit
Batas adalah bentuk kasih sayang yang sehat.
Kalau tidak ada batas :
Kamu hancur
Hubungan keluarga juga hancur
Dengan batas :
Kamu tetap tidak kehilangan diri
Memberi pun harus jujur :
Bukan supaya dianggap baik
Bukan supaya diakui
Bukan supaya tidak diomongi
Tidak dimusuhi
Tapi karena memang ingin memberi ~ sewajarnya.
Kalau diomongi ? Tetap tenang
Kalau dimusuhi ? Tetap stabil
Memberi ya memberi
Tidak ya tidak memberi
Tidak perlu drama
Yang penting : kamu tidak jadi korban
Biarkan mereka tantrum sendiri.
Prinsip ini bukan cuma untuk keluarga.
Tapi ke semua orang.
Karena pada akhrnya
Bataslah yang menyelamatkan kamu.
Dan menyelamatkan hubungan.
Daripada semua ikut tenggelam karena tidak ada batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar