Selasa, 09 Juni 2020

Pengetahuan

“Wajar dong, Mama lebih perhatian sama kakakmu. Kamu tahu sendiri, kan? Kakakmu bandel dan keras orangnya. Kalo nggak dikasih perhatian, gimana masa depannya? Kamu paham, kan?”

“Coba ya, kamu bisa seperti adikmu. Ganteng, pintar, masuk finalis duta wisata, jadi penyiar radio...”

Potongan-potongan dialog itu bukan lagi hal baru bagi anak yang merasakan orang tua yang pilih kasih. Sadar atau tidak, orang tua pilih kasih tidak bisa dihindari. Sekali pun orang tua menegaskan bahwa perlakuan pada setiap anak adil dan sama rata, tetap saja anak memiliki persepsi yang berbeda tentang kasih sayang orang tua.

Terkadang, anak merasa orang tua terlalu menyayangi saudaranya yang lain. Anak akan menyimpan kemarahan dan kesedihan dalam hati ketika orang tua membanding-bandingkan dirinya dengan saudaranya yang lain. Mungkin tujuannya ingin memotivasi, namun efek yang dirasakan si anak justru kebalikannya.

Saat saudaranya mendapat barang yang lebih bagus, anak diam-diam memiliki harapan yang sama. Ia tak berani mengutarakannya karena takut dianggap iri. Anak lebih suka memendam perasaannya dari orang tua.

Jangan mengira anak tidak bisa merasakan adanya perbedaan rasa, perhatian, dan kasih sayang dari orang tua. Meski anak dianggap masih kecil, ia bisa merasakan adanya pilih kasih yang dilakukan orang tua. Ia dapat mengerti bahwa orang tua jauh lebih perhatian dan menyayangi satu anak dibandingkan anak lainnya.

Lantaran masalah pilih kasih yang tak berujung, memutuskan untuk memiliki anak tunggal adalah jalan terbaik. Anak tunggal otomatis takkan merasa dirinya pilih kasih sebab dia adalah satu-satunya dalam keluarga. Mereka yang terlahir sebagai anak tunggal tidak perlu merasakan pengaruh negatif akibat perlakuan diskriminatif, dibanding-bandingkan, dan kekurangan kasih sayang.

Menurut psikolog asal Washington DC, Dr. Elen Weber Libby, orang tua yang memiliki anak kesayangan jangan menampakkan hal itu secara mencolok di depan anak-anak lainnya. Hal ini akan membahayakan bagi anak. Dalam bukunya The Favorite Child, ia mengatakan bahwa anak kesayangan yang diperlakukan secara berlebihan oleh orang tua akan berdampak buruk bagi anak lainnya. Anak itu akan merasa dirinya tidak penting dalam keluarga, rendah diri, dan berbagai efek negatif lainnya.

Sebuah survei yang dilakukan University of Manchester’s Faculty of Life Sciences menunjukkan, tiap orang tua memiliki anak kesayangan. Hasil survei ini telah dimuat di Jurnal Echology pada tahun 2007.

Anak yang kurang diistimewakan cenderung mengalami agresivitas yang lebih. Timbul niat memberontak di hatinya. Ia akan mencari pelampiasan di luar keluarga. Anak seperti ini akan mencari perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di luar keluarga. Kelak jika ia dewasa dan menikah, ia memutuskan akan memiliki anak tunggal agar pengalaman buruknya di masa kecil tidak terulang. Agar anaknya tidak perlu merasakan apa yang ia rasakan.

Kamis, 04 Juni 2020

Makna Talbiyah

JAMAAH calon haji yang berangkat ke Tanah Suci tidak luput dari bacaan talbiyah. Kalimat dengan lafadz "Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarikalaka labbaik" itu memiliki makna yang agung karena memuat ketauhidan dan kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala, kemudian juga penegasan larangan untuk tidak sekali-kali melakukan kemusyrikan.

Arti lengkapnya adalah:

"Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."

Makna filosofi dari melafazkan talbiyah sesungguhnya berkaitan dengan situasi Kakbah sebelum datang ajarang agama Islam.

Ketika masa jahiliah dan awal-awal kedatangan Islam, Kakbah telah lama dijadikan sebagai tempat kemusyrikan. Ratusan patung dan gambar dewa memenuhi Kakbah ketika itu. Orang-orang dari berbagai negeri secara rutin menggelar ritual atau tradisi kemusyrikan di sana.

Saat pembebasan Kota Makkah oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan kaum Muslimin, Kakbah dibersihkan dari semua atribut dan praktik kemusyrikan. Pengunjung Kakbah pun dilarang mengerjakan sesuatu yang mengindikasikan penyekutuan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah)." (QS Quraisy: 3).

Berdasarkan uraian tersebut, maka filosofi dan keutamaan bertalbiyah dalam beribadah umrah atau haji setidaknya menyangkut hal-hal berikut ini:

1. Datang memenuhi undangan Allah Subhanahu wa ta'ala

Guna memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa ta'ala, setiap orang yang berumrah atau berhaji hendaknya bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri, baik secara mental maupun spiritual.

Jamaah haji atau umrah adalah tamu Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebagai tamu tentunya harus memenuhi segala aturan telah ditetapkan, terutama ketika berada di Tanah Suci.

Bisa datang memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa ta'ala merupakan suatu kehormatan besar sekaligus kebahagiaan tersendiri yang patut disyukuri. Rasa syukur ini bisa melalui lisan atau amal ibadah.

2. Bertauhid dan mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala

Allah Subhanahu wa ta'ala itu Maha Esa. Keesaan-Nya harus tetap terjaga dan suci, tidak boleh ternodai oleh makhluk, termasuk Kakbah, Hajar Aswad, atau yang lainnya.

Islam mengajarkan tauhid, serta mengajarkan orang yang bertauhid supaya ikhlas memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa ta'ala. Hal ini berarti setiap orang yang bertauhid harus tunduk kepada-Nya. Jamaah yang melantunkan talbiyah melahirkan pernyataan tunduk mutlak kepada petunjuk-petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala.

3. Rendah hati

Mengumandangkan talbiyah dengan berpakaian ihram melahirkan sikap tawadhu, merendahkan diri dan hati terhadap kemahabesaran Allah Subhanahu wa ta'ala, sekaligus meelahirkan kesatuan manusia di antara sesama jamaah sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang berkewajiban mengabdi kepada-Nya.

Kakbah sendiri sudah menunjukkan kesederhanaan. Bangunan simpel berbentuk kubus, tanpa ukiran, tanpa aksesori, tanpa emas, berlian. Ia hanya berhias kaligrafi sebagai pengingat Allah Subhanahu wa ta'ala.

4. Bebas kemusyrikan

Keberadaan Kakbah sebagai Rumah Allah Subhanahu wa ta'ala hendaknya menjadi sumber inspirasi bagi keberadaan rumah kehidupan kita yang bebas dari segala macam kemusyrikan. Kesucian Kakbah adalah simbol dari kesucian hati bagi orang-orang yang senantiasa mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala. Termasuk saat mengumandangkan talbiyah.

Masjid Al Khaif Mina Makkah

Masjid Al-Khaif merupakan salah satu masjid yang memiliki sejarah peradaban Islam yang terletak di kawasan Mina.

Masjid yang sudah dibangun sejak zaman Rasulullah ini memiliki beberapa keunikan. Salah satunya adalah tempat Nabi pernah salat dan menyampaikan khotbahnya yang terkenal, yakni khotbah 'Hajjatul Wada’.

Nama masjid ini mengacu pada kata 'khayf' yang berarti kaki gunung, tanah di antara dua gunung atau tanah yang lebih tinggi. Hal ini karena Masjid Al-Khaid berlokasi di kaki Gunung Safa’ih atau Sabih di Mina, tak jauh dari lokasi Jumrah Ula.

Selain bernama Al-Khaif, masjid ini juga terkenal dengan sebutan masjid 70 Nabi. Dalam sejumlah hadis Ahlusunah disebutkan bahwa terdapat 70 Nabi yang pernah salat di masjid ini. Selain itu, catatan dari hadis Imam Baqir as menyebutkan terdapat 700 nabi, sementara hadis lain menyebutkan 1.000 nabi.

Masjid ini juga memiliki nama lain masjid Al-Muaisyumah, yang diambil dari nama pohon, yakni pohon Al-Muaisyumah yang terdapat di masjid tersebut.

Secara arsitektur, masjid ini dibangun dengan 403 tiang dan mampu menampung hingga 100 ribu jemaah. Di dekat masjid terdapat penginapan yang ditujukan untuk tamu besar Kementerian Keislaman Arab Saudi karena masjid ini memang terletak di dekat kantor administrasi Kementerian Keislaman Arab Saudi.

Meski megah dan luas, masjid ini hanya dibuka selama 30 hari per tahunnya, yakni pada bulan Dzulhijjah atau saat musim Haji.

Hingga kini, masjid tersebut terus melakukan pemugaran dan menambahkan penambahan pintu masuk bagi jemaah perempuan.1

Kamis, 28 Mei 2020

Asal Usul Garam


Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya mengapa air laut rasanya asin. Padahal dalam ilmu pengetahuan dijelaskan bahwa laut merupakan muara dari aliran sungai yang rasanya tawar.

Ternyata, rasa asin itu tidak luput dari peran Nabi Ibrahim as sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin Al-Qalyubi.

Konon, Nabi Ibrahim as ingin sekali memberi hadiah kepada umatnya Nabi Muhammad sebagai bentuk cinta kepada penutup para nabi tersebut.

Nabi Ibrahim berharap ia bisa menjamu Nabi Muhammad sampai hari kiamat dengan sesuatu yang bermanfaat.

Keinginan Nabi Muhammad itu pun diadukan kepada Allah Swt.

Allah pun menjawab, "Engkau tidak akan mampu wahai Ibrahim."

Nabi Ibrahim yang bersikeras berkata lagi, "Engkau lebih tahu dengan keadaanku serta memiliki kuasa untuk mengabulkan keinginanku ini."

Atas permohonan Nabi Ibrahim yang berserah diri itu akhirnya Allah mengabulkannya.

Dengan segenap kehendak Allah, malaikat Jibril diutus oleh-Nya untuk mengambil segenggam kapur dari surga.

Malaikat Jibril lalu membawa kapur tersebut ke Jabal Abi Qubais di Makkah dan menaburkannya ke seluruh bumi. Tempat-tempat yang terkena taburan itu lalu menjadi asin (mengandung garam) termasuk air laut.

hikmah dari apa yang dilakukan Nabi Ibrahim tersebut adalah bahwa kita sudah selayaknya memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya terlebih ketika menjamu tamu.

Nabi Ibrahim sendiri dikenal sebagai orang yang mengajarkan menjamu tamu seperti apa yang dikatakan Rasulullah saw dalam hadisnya.

Rasulullah bersabda, “Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrahim." (Lihat Ash-Shahihah, 725).

Selain itu Rasulullah juga bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” 



Rabu, 20 Mei 2020

Kisah Nabi Yunus - Pengetahuan

Nabi Yunus alaihisalam (AS) ibnu Mata as diutus oleh Allah kepada penduduk kota Nainawi, yaitu suatu kota besar yang terletak di negeri Mausul (Mosul), Irak. Kisah mengenai Nabi Yunus ini disebutkan di dalam beberapa surat dalam Alquran, yakni Surat Al Anbiya, Yunus, Ash-Shaffat dan Nun.

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَۚفَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـــْۨـجِى الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempit­nya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap. Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkan­nya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman". (QS. Al Anbiya: 87-88).

Dalam ayat tersebut dikisahkan Nabi Yunus menyeru mereka untuk menyembah Allah Swt, tetapi mereka menolak dan tetap tenggelam di dalam kekafirannya. Maka Yunus pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah seraya mengancam mereka bahwa dalam waktu tiga hari lagi akan datang azab dari Allah.

Setelah mereka melihat tanda-tanda datangnya azab itu dan mereka mengetahui bahwa nabi mereka tidak dusta dalam ancamannya, maka mereka keluar menuju ke padang sahara bersama anak-anak mereka dengan membawa ternak unta dan ternak lainnya milik mereka yang mereka pisahkan antara induk dan anaknya.

Kemudian mereka memohon kepada Allah dengan merendahkan diri, dan menyeru-Nya untuk meminta pertolongan, semua ternak unta dan anak-anaknya mengeluarkan suara lenguhan, begitu pula sapi dan anak-anaknya, dan juga kambing dan anak-anaknya. Akhirnya Allah tidak jadi menurunkan azab kepada mereka. Kisah ini disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

"Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (Yunus: 98)

Sesudah itu Yunus as pergi meninggalkan kaumnya dan menaiki perahu bersama suatu kaum. Di tengah laut, perahu oleng; mereka merasa takut akan tenggelam (karena keberatan penumpang).

Maka mereka mengadakan undian di antara mereka untuk menentukan siapa yang bakal dilemparkan ke dalam laut untuk meringankan beban muatan perahu. Akhirnya undian jatuh ke tangan Yunus, tetapi mereka menolak, tidak mau melemparkannya. Lalu dilakukan undian lagi, ternyata kali itu undian jatuh ke tangan Yunus lagi. Mereka menolak, lalu mengadakan undian lagi. Ternyata undian jatuh ke tangan Yunus juga. Hal ini disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ

"Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (Ash-Shaffat: 141)

Yakni undian jatuh ke tangannya. Maka Yunus as melucuti pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam laut. Saat itu Allah telah memerintahkan kepada ikan paus dari laut hijau —menurut apa yang diceritakan oleh Ibnu Masud- membelah lautan dan sampai di tempat Yunus, lalu menelannya saat Yunus menceburkan diri ke laut.

Allah telah memerintah­kan kepada ikan paus itu, "Janganlah kamu memakan secuil pun dari dagingnya, jangan pula mematahkan tulangnya, karena sesungguhnya Yunus itu bukanlah rezeki makananmu, melainkan perutmu Aku jadikan sebagai penjara buatnya."

Zun Nun adalah nama ikan paus itu menurut riwayat yang sahih, lalu dikaitkan dengan nama Nabi Yunus karena ia ditelan olehnya. Makna harfiyahnya ialah orang yang mempunyai ikan besar.Firman Allah Swt.: "ketika ia pergi dalam keadaan marah. (Al-Anbiya: 87)

Menurut Ad-Dahhak, Yunus marah terhadap kaumnya. lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). (Al-Anbiya: 87)

Ibnu Masud dan Ibnu Abbas serta lain-lainnya mengatakan ikan paus itu membawa Yunus menyelam hingga sampai di dasar laut, lalu Yunus mendengar suara tasbih batu-batu kerikil di dasar laut. Maka pada saat itu juga Yunus mengucapkan:

"Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Anbiya: 87).

Ketika Yunus telah berada di dalam perut ikan besar, ia menduga dirinya telah mati. Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya, ternyata bergerak, lalu ia bersujud di tempatnya, dan menyeru Tuhannya, "Wahai Tuhanku, saya jadikan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia ini tempat bersujud kepada Engkau."

Nabi Yunus tinggal di dalam perut ikan besar selama empat puluh hari. Rasulullah Saw. telah bersabda:"Ketika Allah hendak menyekap Yunus di dalam perut ikan besar, Allah memerintahkan kepada ikan besar untuk menelannya, tetapi tidak boleh melukai dagingnya dan tidak boleh pula meremukkan tulangnya. Setelah ikan besar sampai di dasar laut, sedangkan di perutnya terdapat Yunus.

Yunus mendengar suara, maka Yunus berkala dalam hatinya, "Suara apakah ini?” Lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya, sedangkan ia berada di dalam perut ikan, bahwa suara itu adalah suara tasbih hewan-hewan laut. Maka Yunus pun bertasbih pula dalam perut ikan besar itu; suara tasbihnya terdengar oleh para malaikat. Maka mereka bertanya, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar suara (tasbih) yang lemah di kedalaman yang jauh sekali lagi terpencil.

”Allah berfirman, "Itu adalah suara hamba-Ku, Yunus. Dia durhaka kepada-Ku, maka Aku sekap dia di dalam perut ikan di laut.” Para malaikat bertanya, "Dia adalah seorang hamba yang saleh, setiap malam dan siang hari dilaporkan ke hadapan­Mu amal saleh darinya.” Allah berfirman, "Ya, benar.” Maka pada saat itu para malaikat memohon syafaat buat Yunus, akhirnya Allah memerintahkan kepada ikan besar itu untuk mengeluarkan Yunus, lalu ikan besar melemparkannya ke tepi pantai, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya, "Sedangkan ia dalam keadaan sakit." (Ash-Shaffat: 145)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw.—menceritakan kisah berikut, "Bahwa Yunus a.s. ketika mulai memanjatkan doa berikut di dalam perut ikan, yaitu, "Ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya."

Maka doanya itu naik sampai di bawah Arasy, maka para malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, ada suara lemah yang telah dikenal bersumber dari negeri yang terasing." Allah berfirman, "Tidakkah kalian ketahui suara itu?" Mereka bertanya, "Tidak, wahai Tuhanku, siapakah dia?" Allah berfirman, "Dia adalah hamba-Ku Yunus."

Mereka berkata, "Hamba-Mu Yunus yang sampai sekarang masih tetap dilaporkan ke hadapan-Mu amalnya yang diterima dan doanya diperkenankan." Mereka berkata pula, "Wahai Tuhan kami, tidakkah Engkau merahmatinya berkat amal yang dikerjakannya di saat dia senang, karenanya Engkau selamatkan dia di saat mendapat cobaan?" Allah berfirman, "Baiklah," maka Allah memerintahkan kepada ikan besar itu agar memuntahkannya ke daerah yang tandus.

Firman Allah Swt.: "Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. (Al-Anbiya: 88)Yaitu Kami keluarkan dia dari dalam perut ikan dan dari kegelapannya. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Al-Anbiya: 88)

Yakni apabila mereka berada dalam kesengsaraan, lalu berdoa kepada Kami seraya bertobat, terlebih lagi jika mereka mengucapkan doa yang disebutkan dalam ayat ini saat mendapat musibah. Di dalam hadis Nabi Saw. telah disebutkan anjuran untuk membaca doa ini di saat tertimpa musibah.

Sad ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: "Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata."



Kisah Saudah binti Zam'ah

SETELAH wafatnya Abu Thalib (paman nabi) lalu disusul Sang Istri Siti Khadijah, Rasulullah SAW dilanda kesedihan mendalam. Betapa tidak, keduanya merupakan orang yang dekat dan dicintai Rasulullah. Setelah meninggalnya Khadijah, Rasulullah tidak menikah selama satu tahun. (: Masya Allah, Mahar Nabi Kepada Khadijah Ternyata Rp1,3 Miliar)

Menurut Muhammad Hasan Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, selama 28 tahun Nabi hanya beristerikan Siti Khadijah seorang, tiada yang lain.

Kondisi yang dialami Rasulullah membuat para sahabatnya turut sedih sehingga Khaulah binti Hakim yang tak lain istri Utsman bin Maz'un diutus menemui Rasulullah. Khaulah merupakan salah satu perempuan mukmin dan salehah.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, Khaulah menyampaikan kesedihannya atas meninggalnya Siti Khadijah. Dia pun menanyakan kepada Rasulullah alasan belum menikah lagi. Rasulullah menjawab, "Apakah ada seseorang setelah saya setelah Khadijah?" kata Rasulullah. (: 11 Ramadhan, Hari Kesedihan Nabi Saat Ditinggal Wafat Istri Tercinta)

Mendengar pernyataan Rasulullah tersebut, Khaulah lalu menawarkan Saudah binti Zam'ah, perempuan yang lebih tua dari Rasulullah.

Rasulullah kemudian berkata, "Baiklah, pinanglah dirinya buatku!"

Saudah merupakan putri dari Zam'ah bin Qais dari Suku Quraisy. Beliau berasal dari keturunan Luiy, salah satu nenek moyang dari Rasulullah.

Ayah Saudah merupakan salah satu orang pertama yang memeluk Islam pada awal masa kenabian. Saudah pertama kali menikah, yaitu dengan sepupunya sendiri, Sakran bin Amr bin Abd Syams. Dari pernikahannya dikaruniai seorang putra bernama Abdurrahman. Saudah dan suaminya lalu memeluk Islam setelah dakwah Islam gencar dilakukan oleh Nabi SAW. Namun, suami Saudah meninggal ketika perjalanan dari Abyssinia ke Makkah atau kembali dari hijrahnya.

Mendapat tugas Rasulullah, Khaulah segera beranjak menuju kediaman Saudah. "Kebaikan dan berkah apa yang dimasukkan Allah kepadamu, wahai Saudah?" kata Khaulah ketika mereka bertemu.

Saudah balik bertanya karena tidak tahu maksudnya, "Apakah itu, wahai Khaulah?"

Khaulah menjawab, "Rasulullah SAW mengutus aku untuk meminangmu."

Saudah berkata dengan suara gemetar, "Aku berharap engkau masuk kepada ayahku dan menceritakan hal itu kepadanya."

Dan ayahnya yang sudah tua, sedang duduk-duduk santai. Khaulah memberinya salam, lalu si ayah berkata, "Apakah kau datang melamar pagi-pagi, siapakah dirimu?"

"Saya Khaulah binti Hakim," jawabnya.

Lalu ayah Saudah menyambutnya. Kemudian Khaulah berkata padanya, "Sesungguhnya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib meminang anak perempuanmu."

Ayah Saudah berkata, "Muhammad adalah seorang yang mulia. Lalu apa yang dikatakan oleh sahabatmu (Rasulullah)?"

"Dia menyukai hal itu," jawab Khaulah.

Kemudian ayah Saudah berkata, "Sampaikan padanya (Muhammad) agar datang ke sini!"

Kemudian Rasulullah SAW datang padanya dan menikahi Saudah.

Dari Ibnu Abbas diceritakan bahwa Nabi SAW meminang Saudah yang sudah mempunyai lima anak atau enam anak yang masih kecil-kecil.

Saudah berkata, "Demi Allah, tidak ada hal yang dapat menghalangi diriku untuk menerima dirimu, sedang kau adalah sebaik-baik orang yang paling aku cintai. Tapi aku sangat memuliakanmu agar dapat menempatkan mereka, anak-anakku yang masih kecil, berada di sampingmu pagi dan malam."

Rasulullah SAW berkata padanya, "Semoga Allah menyayangi kau, sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah mereka yang menunggangi unta, sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang bersikap lembut terhadap anak di waktu kecilnya dan merawatnya untuk pasangannya dengan tangannya sendiri."

Pernikahan Nabi SAW dengan Saudah dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian dan setelah kematian Siti Khadijah di Makkah. Dikatakan dalam riwayat lain tahun kedelapan Hijrah dengan mahar sekitar 400 dirham. Rasulullah kemudian mengajaknya berhijrah ke Madinah.

Menurut Haekal, tidak ada suatu sumber yang menyebutkan, bahwa Saudah adalah seorang wanita yang cantik, atau berharta atau mempunyai kedudukan yang akan memberi pengaruh karena hasrat duniawi dalam perkawinannya itu.

Melainkan soalnya ialah, Saudah adalah isteri orang yang termasuk mula-mula dalam lslam, termasuk orang-orang yang dalam membela agama, turut memikul pelbagai macam penderitaan, turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan Nabi hijrah ke seberang lautan itu.

Saudah juga sudah Islam dan ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut menderita. Kalau sesudah itu Rasulullah kemudian mengawininya untuk memberikan perlindungan hidup dan untuk memberikan tempat setarap dengan Umm'l-Mu'minin, maka hal ini patut sekali dipuji dan patut mendapat penghargaan yang tinggi.

Beri Jatah ke Aisyah

Setelah Saudah semakin tua, dia mengetahui kedudukan Aisyah di mata Rasulullah. Dia berkata, "Wahai Rasulullah, aku memberikan jatah satu hari untukku pada Aisyah, agar engkau dapat bersamanya dalam satu hari itu."

Ketika bersama Saudah, Nabi menerima ayat tentang hijab dan hal itu dikarenakan istri-istri Nabi SAW keluar pada malam hari menuju ke dataran tinggi di bukit-bukit. Kemudian Umar bin Al-Khathab berkata pada Nabi SAW, "Wahai Nabi, berilah perintah agar istri-istrimu berhijab."

Namun, tidak jua Nabi melakukan apa yang disarankan Umar. Kemudian ketika Saudah keluar pada malam hari untuk menunaikan makan malam, dan dia adalah seorang wanita yang cukup tinggi. Kemudian Umar memanggilnya dan berkata, "Wahai Saudah, sekarang kami tahu itu engkau untuk memberi motivasi agar memanjangkan hijab yang kau kenakan." Kemudian Allah menurunkan ayat hijab.

Saudah dikenal sebagai orang yang suka bersedekah. Umar bin Khathab pernah mengirim sekantung penuh dengan dirham padanya. Kemudian Saudah bertanya, "Apa ini?"

Mereka berkata, "Dirham yang banyak."

Lalu Saudah berkata, "Dalam kantung seperti setandang kurma, wahai jariyah, yakinkan diriku." Kemudian dia membagi-bagikan dirham tadi.

Aisyah berkata, "Bahwa sebagian isteri-isteri Nabi SAW berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang paling cepat menyusulmu ?"

Nabi SAW menjawab, "Yang terpanjang tangannya di antara kalian."

Kemudian mereka mengambil tongkat untuk mengukur tangan mereka. Ternyata, Saudah adalah orang yang terpanjang tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui, bahwa maksud dari panjang tanganya adalah suka sedekah. Saudah memang suka memberi sedekah dan dia yang paling cepat menyusul Rasulullah di antara kami." (HR Syaikhain dan Nasai)

Saudah juga memiliki akhlak yang terpuji. Aisyah, Ummul Mukminin, pernah berkata, "Tiada seorang pun yang lebih aku kagumi tentang perilakunya selain Saudah binti Zam’ah yang sungguh hebat."

Saudah meriwayatkan sekitar lima hadis dari Rasulullah SAW. Dan beberapa sahabat turut meriwayatkan darinya seperti, Abdullah bin Abbas, Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin Sa’ad bin Zarah Al-Anshari. Abu Daud dan Nasa’i juga menggunakan periwayatan darinya.

Saudah wafat di Madinah pada bulan Syawal tahun 54, pada masa kekhalifahan Muawiyah.

Ketika mendengar Saudah meninggal dunia Ibnu Abbas bersujud. "Rasulullah SAW berkata, bila kau melihat suatu ayat, maka bersujudlah kalian, dan ayat yang paling agung daripada emas adalah para istri Nabi SAW," kata Ibnu Abbas.

وَلَقَدۡ فَتَـنَّا الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ‌ فَلَيَـعۡلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ صَدَقُوۡا وَلَيَعۡلَمَنَّ الۡكٰذِبِيۡنَ

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.


Senin, 18 Mei 2020

Doa Rasulullah Kepada Abu Bakar

Abu Bakar RA pernah meminta diajari doa Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sebuah doa yang bisa kupanjatkan dalam sholatku."

Rasulullah SAW menjawab, "Ucapkanlah, Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsira wa laa yaghfirudz dzunuba illa anta faghfirli min 'indika maghfiratan innaka antal ghafurur rahim (Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan maha penyayang)

(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari, nomor 6839)