Minggu, 11 Desember 2022

Menuju Mekkah (3)


Tepat jam 1 malam bus sampai di pemondokan haji di wilayah Misfalah 2. Karena sudah malam, kami tidak dapat melihat bangunan hotel yang akan kami tempati selama satu bulan di kota Mekkah. Kloter 56/JKS ditempatkan di hotel yang bersebelahan dengan hotel dari Kabupaten Bandung , yang diberi nama Hotel Indonesia 809 dan Hotel Indonesia 810. Hotel ini nantinya juga menjadi tempat pemondokan jamaah haji dari Kuningan, Bogor, Cirebon dan wilayah Jawa Barat lainnya. 

Setelah selesai pembagian kamar dan penyerahan koper, kami disuruh istirahat di kamar masing-masing. 

Kamarnya sederhana, tapi bersyukurlah. Sepertinya bangunan hotel ini hotel lama, bintang ***, itu terlihat dari cat dan furniturnya. Pemilik hotel di kawasan misfalah kebanyakan membangun hotel yang warna cat dan arsitektur bangunan mirip-mirip semua.

Saya mencoba beristirahat di kamar, namun saya tidak bisa tidur, hanya tidur-tiduran saja. Jadi teringat, jamaah haji yang laki-laki masih dalam berpakaian ihram,. Selama istirahat di dalam kamar mereka tidak boleh mengganti pakaian, harus tetap memakai dua lembar kain tidak berjahit. Pakaian ihram tidak boleh dibuka di hadapan jamaah haji yang lainnya meskipun sesama laki-laki, sebab aurat tidak boleh kelihatan oleh orang lain. Jika terbuka, batal ihramnya dan harus membayar dam atau denda. Kita boleh membuka pakaian ihram di dalam toilet jika ingin BAK atau BAB. Selama tidur-tiduran di atas kasur, saya juga tidak berani memakai selimut, karena khawatir membatalkan ihram.

Rombongan kloter 56/JKS turun dari bis, tepat di Hotel Al Zaer Al Khalil, Misfalah Mekkah. Jamaah masing-masing telah mendapat nomor kamar, saya mendapat no 422 di lantai 6, dari 15 lantai, sekamar dengan Adik ipar, Erna, dan Ibu Komariah serta Ibu Saroh. Setelah istirahat sebentar kami bersiap-siap melaksanakan umrah ke Mekkah, dengan mengambil miqot di Tana'eem dikenal dengan Masjid Saidatina Aisyah. Ibadah umrah terdiri dari ihram, tawaf, dan sa’i. Selama umrah kita akan berpakaian ihram, bagi laki-laki menggunakan hanya dua lembar kain tidak berjahit, bagi perempuan gamis putih dengan tangan tertutup.bUntuk pembaca ketahui, rukun haji itu ada enam yaitu ihram, wukuf, tawaf ifadah, sa’i, tahalul, dan tertib.


Sehari sebelum berangkat ke Mekkah, saat masih di Bandung, oleh KBIH kami semua diwajibkan mengemasi semua barang ke dalam koper besar. Koper besar akan dikumpulkan keesokan paginya di depan kamar masing-masing untuk diangkut dengan bus ke Mekkah. Koper kecil berisi pakaian ganti, kain ihram, peralatan mandi, dan barang pribadi lainnya. Hal ini dimaksudkan bila Koper jamaah tercecer bisa cepat ada cadangan pakaian di koper kecil.

Hari itu Jumat tanggal 25 Juli 2019, kami jamaah haji Kloter 56/JKS akan berangkat umrah ke Mekkah setelah sholat Subuh. Pakaian ihram laki-laki hanya dua lembar kain yang tidak berjahit, tidak boleh pakai pakaian apapun lagi seperti pakaian dalam. Boleh memakai sabuk agar kain ihram tidak lepas. Sedang pakaian ihram wanita, bisa gamis atau setelan putih dan atasan mukena putih. 

Setelah waktu Subuh, kami diperintahkan turun ke lantai dasar hotel untuk bersiap masuk bus. Kami hanya membawa tas kecil saja. Setiap rombongan sudah tahu busnya masing-masing, nomor bus sama sejak dari Bandung. Rombongan KBIH saya menempati bus nomor 2.

Miqat di Masjid Tan'im

Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit dari hotel, sampailah jamaah haji di Masjid Tan'im, masjid tenpat miqot terdekat dari Masjidil Haram.

Sedangkan jamaah haji yang yang hendak umrah ke Mekkah dan datang  dari Madinah, mereka wajib mengambil miqat di Masjid Bir Ali.  Bir dalam bahasa Arab artinya sumur, dulu di tempat ini Ali bin Abi Thalib membangun sumur sehingga diberi nama Bir Ali.

Di Masjid Tana' eem atau Masjid Saidatina Aisyah ini, jamaah haji melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, setelah itu melafalkan niat ihram: Labbaika Allahumma umratan, yang artinya Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berumroh. Sesaat setelah mengucapkan niat umrah tersebut, maka berlakulah larangan-larangan ihram seperti tidak boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting kuku dan rabut, tidak boleh memperlihatkan aurat, tidak boleh berhubungan suami-istri, dan masih banyak lagi larangan yang harus dipatuhi. Jika dilanggar, maka jamaah haji terkena dam atau denda yang besarnya seharga satu ekor kambing.

Setelah melafalkan niat ihram, kami masuk kembali ke dalam bus. Bus hanya membawa rombongan jamaah haji Kloter 56/JKS, rombongan 7 saja yang bergerak menuju kota Mekkah. Perjalanan dari Masjid Tan'in ke kota Mekkah tidak banyak memakan waktu. Pada sore hari itu terlihat di kiri kanan jalan pemandangan yang tandus dan gersang. Bukit batu dan tanah berpasir, hanya itu saja yang terlihat. Sekali-sekali tanpak perumahan penduduk dan bangunan-bangunan yang seperti tidak berpenghuni. Di dalam bus jamaah lebih banyak duduk berdiam diri saja, atau mengikuti Pak ustad pembimbing melantunkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik. Labbaikalaa syarikalaka labbaik. Innal hamda, wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikalak. Sebentar lagi saya akan berjumpa dengan Baitullah di tanah suci Mekkah. Perasaan saya bercampur aduk.


Saya duduk tidak terlalu belakang mulai merasakan perut tidak enak. Sakit melilit-lilit, perut ditekan terasa keras. Rupanya perut saya kembung masuk angin. Saya memang suka masuk angin apalagi kurang waktu tidur. Menyesal tidak minum jamu tolak angin sebelum berangkat tadi. Saran saya, jamaah haji membawa cukup banyak jamu tolak angin dari tanah air karena sangat bermanfat sekali di sana ketika badan terasa kurang enak.

Memasuki perbatasan kota Mekkah, bus harus melapor ke pos perbatasan (check point). Di sini petugas Arab Saudi naik ke atas bus untuk memeriksa penumpang bus guna memastikan bahwa semuanya adalah jamaah haji yang legal. Oleh karena itu, kartu identitas haji kita harus selalu dibawa dan biasanya pembimbing haji yang akan memberikan laporan.  Pemeriksaaan itu bertujuan untuk mencegah masuknya pendatang ilegal ke kota Mekkah. Selama musim haji, Arab Saudi memang sangat ketat memeriksa setiap orang yang masuk ke kota Mekkah. Hanya jamaah haji dan orang-orang yang punya izin khusus yang boleh masuk ke Tanah Haram. Hal ini bisa dimaklumi karena selama musim haji kota Mekkah akan sangat padat dengan jamaah haji dari seluruh dunia. Masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan dengan urusan haji dapat membuat kota Mekkah akan macet total.

Setelah pemeriksaan beres, jamaah haji mendapat sambutan selamat datang berupa paket makanan ringan dan sebotol air zam-zam dari Kerajaan Arab Saudi. Wah, bahagia rasanya diperlakukan sebagai tamu yang dihormati. Pemerintah Arab Saudi sebagai pengayom dua tanah suci (Mekkah dan Madinah) memang melayani tamu-tamu Allah yang datang ke negara itu dengan sungguh-sungguh. Berbagai infrastruktur dibangun besar-besaran di kedua tanah haram tersebut demi kenyamanan jamaah haji.

Dari titik check point, bus memasuki kota Mekkah. Dari atas bus tampaklah Menara Zamzam di kejauhan. Menara zamzam adalah bangunan tertinggi di kota Mekah, ia selalu tampak di mana saja kita berada.


Foto ini adalah rupa hotel 809 tempat kami menginap jika dilihat pada siang hari



hotel tempat pemondokan kami. Kloter 56/JKS, Hotel 809, Maktab 70.

Hotel Indonesia lainnya

kamar hotel tempat kami menginap


Teman sekamar.

Bersiap ke Masjidil Haram

Sebelum ashar kami bersiap untuk melaksanakan shalat ke Masjidil Haram. Kawasan Misfalah alhamdulillah letaknya tidak  jauh dari Masjidil Haram. Untunglah juga Pemerintah RI menyediakan layanan bus-bus yang selalu beredar dari pemondokan haji ke Masjidil Haram. 

Bus-bus tersebut diberi nama bus Shalawat yang merupakan singkatan dari Shalat Lima Waktu. Jamaah haji Indonesia gratis naik bus tersebut. Kapan saja jamaah haji ingin pergi ke Haram untuk sholat maka tunggulah bus tersebut lewat di depan hotel. Nanti jika pulang dari Masjidil Haram ke hotel, jamaah dapat naik bus itu kembali dari terminal di dekat Haram. Terminal untuk bus kami bernama Ajyad dan nomor bus kami adalah nomor 11.

Penampakan bus Shalawat pada siang hari

Terminal Ajyad


Perjalanan dengan bus Shalawat pada dinihari dari hotel ke Masjidil Haram memakan waktu 10 menit saja. Bus Shalawat bernomor 11  berhenti di terminal Ajyad. Dari terminal Ajyad kami berjalan kaki menuju kompleks Masjidil Haram. Sepanjang jalur dari terminal Ajyad ke pintu Masjidil Haram dipenuhi toko-toko dan restoran yang berjualan kebutuhan jamaah haji (makanan, buah-buahan, kurma, pakaian, asesori, dan sebagainya). Berbagai restoran cepat saji khas Arab berderet menawarkan makanan yang menggoda (restoran broast).

Menunggu bus shalawat no 11 depan hotel

Lapangan terminal Ajyad

Sambil berjalan menuju Masjidil Haram, saya memandang menara Zamzam. 

Menara Zamzam berdiri dengan gagahnya di beranda Masjidil Haram, tampak dari arah terminal bus. Di menara ini terdapat puluhan hotel dan mal. Jamaah haji ONH plus (sekarang bernama program Haji Khusus atau Haji Furoda, untuk membedakannya dengan program haji reguler) biasanya menginap di hotel-hotel di Menara Zamzam, bukan di pemondokan seperti yang kami tempati. Cukup berjalan 50 meter dari Menara Zamzam langsung masuk Masjidil Haram.

Menara Zamzam adalah bangunan paling tinggi di Kota Mekah. Dimana pun kita berada di Mekah pasti dapat melihat menara ini dari kejauhan. Di puncaknya berdiri bangunan bulan sabit dari emas murni yang beratnya berton-ton. Lalu sebuah jam besar yang menjadi patokan waktu di Mekah.

Crane-crane yang terlihat di dalam foto di atas menunjukkan bahwa pembangunan perluasan Masjidil Haram masih terus berlangsung. Sejak saya umrah bersama keluarga besar  tahun 2007 hingga naik musim haji tahun ini, tampaknya perluasan Masidil Haram belum selesai-selsesai juga.

Kami memasuki Haram dari pintu King Abdul Aziz, jangan lupa saat masuk masjid kaki kanan lebih dulu. Ini adalah pintu masuk jika keluar dari Mal Tower Zamzam, atau kami juga bisa masuk melalui jembatan dari depan WC nomor 3 ambil arah kanan. Dari pintu ini kami berjalan kaki ke arah ka’bah melewati jalur menuju tempat tawaf. 

Meski waktu saat itu dinihari, jamaah haji yang melakukan sa’i ramai sekali. Untuk diketahui, rangkaian ibadah umrah terdiri dari thawaf, sa’i, dan ditutup dengan tahalul. Suhu udara di jalur sa’i ini lumayan dingin karena di sana banyak sekali dipasang kipas angin yang meniupkan udara dingin di dalam ruangan. Brrr….

Setelah berjalan kaki melalui jalur dalam masjid sampailah kami ke mataf, yaitu tempat melakukan thawaf. Allahu Akbar, tampaklah di depan kami ka’bah, Baitullah, Rumah Allah, yang selama ini hanya dapat dilihat gambarnya saja. Kami ingin thawaf di plaza, yaitu lantai dasar yang langsung berhadapan dengan ka’bah. Dari lantai dua kami turun ke lantai dasar. Suasana plaza di depan ka’bah saat dinihari itu sangat ramai dengan jamaah haji yang thawaf maupun yang sholat. Jamaah haji dari seluruh dunia sudah berdatangan ke Mekkah, jadi wajar saja Masjidil Haram saat itu sudah padat.


Ka’bah, kiblat ummat Islam sedunia. Sepotong bulan menggantung di atas kota Mekkah. Sungguh indah sekali malam itu.

Rombongan KBIH kami thawaf dalam satu kelompok. Jamaaah perempuan berada di tengah, lalu dibentengi di kiri kanannya dengan jamaah laki-laki. Pembimbing haji berada di depan memimpin thawaf. Agar suara pembimbing dapat didengar oleh jamaah, setiap memutar ka’bah ustad pembimbing memandu bacaan doa, kami lalu melafalkan doa yang dibaca Pak Ustad. 

Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari sudut ka’bah yang terdapat hajarul aswad (batu hitam) dan setiap putaran berakhir di sudut itu juga (Surah ke 19 Al Quran ayat 47 sampai 49). Dari Hajar Aswad berdoa Subhanallah walhamdulillah wa'la ila haillah wallahu akbar. Doa itu berhenti pas di Maqom Ibrahim. Dari Maqom Ibrahim ke Rukun Yamani minta doa apapun yang kita inginkan. Dari Rukun Yamani ke Hajar Aswad baca doa sapu jagat. Rabana atina fidunya hasanah wafil akhirati hasanatan wa qina aja bannar. 
Untuk mengetahui letak Hajarul Aswad dari kejauhan, tedapat lampu berwarna hijau di sudut dinding masjid. Jamaah haji melihat ke lampu hijau itu untuk memulai putaran berikutnya. Bacaan yang dibaca ketika memulai putaran dari hajarul aswad adalah bismillahi allahu akbar sambil mengangkat tangan kanan dan mengecupnya (sebagai simbol mencium hajarul aswad).  Ketika melewati sudut ka’bah yang bernama sudut Yamani, jamaah juga melafalkan bacaan yang sama tatapi tanpa mengecup tangan.

Sebenarnya pada setiap putaran kita bebas membaca doa apa saja, namun Kemenag RI  telah meyediakan buku kecil yang berisi kumpulan doa selama thawaf dan sa’i. Jamaah yang melakukan thawaf sendiri dapt membaca doa di buku itu sembari memutar ka’bah.

Selesai tawaf kita usahakan dapat sholat sunat di depan maqom ibrahim, rakaat pertama al fatihah dan al kafirun, rakaat kedua al fatihah dan al ikhlas.

Kemudian minum air zamzam ya, dengan memakai tangan kanan dan menghadap Ka'bah, disunahkan sambil berdiri.

Sa'i dimulai dari Bukit Shafa


Jalur melakukan sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah

Sekarang bukit Safa dan bukit Marwah sudah tidak ada lagi seperti zaman dulu. Pembangunan perluasan Masjidil Haram mengakibatkan kedua bukit itu telah dipapas. Yang tersisa adalah sebagian potongannya yang dijadikan memorabilia sebagai tanda di situ terdapat kedua bukit tersebut. Saat ini tempat sa’i sudah sangat nyaman dan terdiri dari tiga lantai.

Bukit Marwa

Sa’i dimulai dari Safa dan setelah tujuh kali berlari maka akan berakhir di Marwa. Saat Sa'i pun kita dapat mengamalkan doa sapu jagat. Pada  lintasan dari Safa ke Marwa maupun sebaliknya ada bagian lintasan yang ditandai dengan lampu berwarna hijau. Jamaah laki-laki disunahkan berlari-lari kecil pada bagian lintasan ini, sedangkan jamaah perempuan cukup berjalan cepat atau berjalan biasa saja. Di sepanjang lintasan sa’i terdapat kran air zamzam. Jamaah yang lelah dapat berhenti dulu untuk minum air zamzam lalu meneruskan sa’inya.


Ibadah sa’i kami terpotong dengan sholat Subuh. Setelah berlari sebanyak lima kali, adzan Subuh berkumandang. Sa’i pun dihentikan sementara. Kami mencari  tempat di lintasan sa’i untuk bersiap-siap sholat Subuh berjamaah. Selesai sholat Subuh, ritual sa’i yang tersisa pun dituntaskan. Alhamdulillah, pukul 6 pagi kami sudah selesai menuntaskan sa’i. 

Ibadah umrah diakhiri dengan tahalul, dilakukan di Bukit Marwah, yaitu memotong sedikit rambut sebagai simbol halal melakukan apa-apa yang dilarang selama berihram. Kami sudah boleh memakai pakaian bisa, namun pakaian biasa ada di kamar hotel, jadi nanti di sana saja.

Tuntas sudah ibadah umrah. Kami berjalan keluar Haram menuju terminal Ajyad. Kami menaiki bus shalawat kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebelum pulang, saya singgah dulu ke restoran Grapari Mekkah  di Tower Zamzam lantai P3 yang tadi saya lewati. Makanannya enak banyak bumbu seperti di rumah, perut sudah lapar. Saya membeli bala-bala goreng dengan banyak potongan cabe rawit, nikmat sekali sekaligus makan baso grapari ditempat.

Saya melakukan umroh ke dua dengan mengambil miqot di Masjid Ja'ranah. Tempat yang kira-kira jauhnya 24km dari Masjidil Haram Makkah. Melalui kawasan kemah untuk berhaji nanti, tapi karena malam tidak terlihat perkemahannya.

Miqot ke tiga kembali ke Masjid Saiditina Aisyah karena paling dekat ke Masjidil Haram.


Dari Asrama Haji Menuju Mekkah 2019


Setelah menempuh perjalanan 3 jam dari Bandung (termasuk istirahat dan makan di RM Cibening Sari, Purwakarta),  akhirnya  rombongan 10 bus Kloter 56/JKS sampai di Embarkasi Haji  Bekasi. Ini adalah embarkasi untuk jamaah haji dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Dulu embarkasi ini bernama Asrama Haji Pondok Gede. Kabarnya tahun depan embarkasi haji untuk jamaah haji Jawa Barat dipindahkan ke Bandara Kertajati, Majalengka. Tahun ini belum bisa di Kertajati karena asrama haji belum dibangun.

Di Embarkasi Haji Bekasi kami cukup lama menunggu untuk masuk aula dan belum bisa beristirahat di asrama. Kami harus menunggu selesainya pemrosesan kedatangan jamaah haji Kloter lain dari Tasikmalaya. Sambil menunggu masuk aula, jamaah haji duduk-duduk saja di lorong asrama. Udara kota Bekasi saat itu terasa gerah, jamaah yang kelelahan selama perjalanan banyak yang duduk tertidur sambil terangguk-angguk. Semua jamaah haji memakai seragam batik nasional yang berwarna hijau. Seragam batik ini dipakai saat keberangkatan dan saat kepulangan. Tetapi, di Tanah Suci banyak juga jamaah haji Indonesia tetap memakai batik ini sehari-hari ketika ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Batik menjadi identitas jamaah haji Indonesia. Dengan melihat jamaah yang memakai seragam batik tersebut, maka tahulah kita jika mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air di Tanah Suci.

Duduk-duduk menunggu panggilan masuk aula

Kompleks embarkasi Haji Bekasi cukup luas. Di dalamnya terdapat asrama, masjid, aula, dan lapangan untuk manasik haji. Ada minatur ka’bah di tengahnya. Keberadaan kami di embarkasi ini hanya selama 18 jam, jadi mana sempat untuk latihan manasik haji. Jadilah ka’bah mini itu hanya untuk dipandang-pandang. Insya Allah kami akan melihat ka’bah yang sebenarnya dalam waktu beberapa hari lagi.

Embarkasi Haji Bekasi

Setelah rombongan Kloter lain selesai diproses, rombongan jamaah haji Kloter 56 dipanggil untuk masuk ke dalam aula. Di dalam aula ini ada seremoni penyambutan jamaah haji, lalu serah terima jamaah haji hari PPIH Kabupaten Bandung Barat ke PPIH Pusat, dan beberapa pengarahan yang cukup lama. Tidak apa-apalah, jamaah haji banyak yang berusia lanjut, jadi kepada mereka memang perlu pengarahan secara detil. Selain itu, di sini jamaah haji juga diperiksa kembali kesehatannya. Khusus untuk jamaah haji perempuan yang masih berusia produktif, ada lagi tes urin untuk memastikan sedang tidak hamil. Jika teryata positif hamil, maka jamaah tersebut terpaksa dibatalkan keberangkatannya.

Di dalam aula , menerima berbagai pengarahan dan uang riyal.

Tibalah pembagian yang ditunggu-tunggu, he..he. Setiap jamaah mendapat living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Living cost adalah tradisi Pemerintah RI sejak dulu. Living cost diberikan sebagai bekal jamaah selama di Tanah Suci. Di Tanah Suci jamaah haji mendapat makan 40 kali  (makan siang dan makan malam) berupa layanan catering haji. Tidak setiap hari jamaah haji mendapat catering makan, ada sejumlah hari tidak mendapat catering, yaitu beberapa hari sebelum dan sesudah pelaksanaan wukuf. Selain itu, jamaah haji tidak mendapat sarapan pagi. Sarapan pagi harus dibeli atau disiapkan sendiri. Jadi, uang living cost itu tujuanya digunakan sebagai bekal membeli makanan selama tidak mendapat layanan catering, juga untuk membeli sarapan pagi setiap hari, dan membeli barang kebutuhan lainnya. Namun dalam pengamatan saya di Tanah Suci, living cost yang dibagikan lebih banyak digunakan jamaah haji untuk membeli oleh-oleh di Madinah dan Mekah. .

Umumnya jamaah haji juga telah menyiapkan bekal uang sendiri dalam bentuk pecahan riyal. Ada jamaah yang membawa banyak riyal, tapi saya pribadi membawa secukupnya saja, hanya beberapa ratus riyal saja yang saya tukarkan di bank dan money charger di belakang rumah di Garut. Saya tidak punya uang banyak, apalagi anak saya saat itu mau masuk ke PTN, butuh biaya besar. Palingan saya bawa uang rupiah besarnya hanya 1 juta. Tidak perlu khawatir kekurangan uang riyal di Saudi. Selain ada jasa penukaran uang di sana, kalau kita punya kartu ATM dengan logo VISA (contohnya kartu ATM Bank Mandiri), maka kita bisa menarik uang riyal di ATM mana saja di Saudi.

Nah, selain dapat uang di atas, jamaah haji mendapat lagi souvenir dari Kemenkes RI, berupa obat-obatan (oralit, krim anti pegal-pegal, hansaplast, dll), setumpuk masker (padahal saya sudah membeli banyak masker sebelum berangkat, di sini dapat banyak masker lagi), dan tabung air semprot. Walah, tas koper dan tas tentengan saya sudah penuh, mau ditaruh dimana lagi barang-barang souvenir tadi. Jamaah haji mendapat satu buah koper, satu tas tenteng, dan satu tas paspor dari maskapai. Hanya tiga tas itu saja yang boleh dibawa ke dalam pesawat. Koper sudah dibawa duluan dari Bandung Barat oleh truk ke bandara, tas tenteng sudah penuh dan padat, akhirnya terpaksalah dicari-cari ruang di dalam tas tenteng untuk memasukkan souvenir dari Kemenkes.

Setelah dua jam di dalam aula, akhirnya jamaah haji mendapat pembagian kamar asrama untk beristirahat. Saya mendapat kamar di gedung baru, gedung D lantai 3 kamar 302, suami saya di gedung E lantai 6 kamar 604 , satu kamar berisi 3 tempat tidur dalam bentuk springbed ukuran 100x200. Gedungnya baru, maka kamar mandinya di dalam, dan AC nya jalan. Gedung lama kamar mandinya di luar. Kemuadian ACnya ada yang tidak jalan. Bayangkan malam hari terasa gerah sekali, pasti tidak bisa tidur. Di Asrama haji ini, mungkin karena jamaah hanya keluar masuk, kamar tidak terlalu dibersihkan, kulit saya yang sensitif langsung gatal2 karena alergi. Ah, memang saya tidak akan bisa tidur, sebab jam 6 pagi nanti harus siap-siap bangun lagi untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta.

Hmmm…malam yang melelahkan. Saya tidak bisa memejamkan mata sepicing pun di dalam kamar asrama. Selain gatal, juga banyak nyamuk. Kebetulan juga teman sekamar baru, sulit beradaptasi. Sebenarnya saya dan adik ipar beruntung, menjadi jamaah haji yang mendapat kamar di gedung yang baru, karena kamarnya mirip dengan kamar di hotel bintang tiga. Tapi saya tetap mensyukuri apapun yang saya terima.


Jam 4 malam jamaah harus bangun dan siap-siap untuk berangkat ke bandara. Mandi bersih2 dan langsung memakai baju ihrom. Jamaah melewati proses pemindain X-ray di embarkasi, semua bawaan jamaah berupa tas tenteng dan tas paspor diperiksa dengan sinar X untuk memastikan tidak ada benda-benda terlarang dan ciaran yang melebihi 100 ml. Jadi, nanti di bandara kita tidak melewati pemeriksaan X-ray lagi, sebab jamaah haji langsung diantar ke tangga pesawat. Antrian saat proses ini lama sekali, yang tadinya bawa aqua, akhirnya saya habiskan juga saat itu kala proses mengantri. 

Jam enam pagi akhirnya jamaah haji masuk ke dalam bus-bus untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Bus-bus dikawal kembali oleh mobil patwal dari embarkasi menuju bandara. Sesampai di bandara, mula-mula kita dibawa ke bagian imigrasi bandara. Saya kira kita akan diperiksa lagi oleh imigrasi Indonesia, ternyata bukan. Di bandara Soekarno-Hatta kita melewati imigrasi Saudi! Ya, untuk mempersingkat pemeriksaan imigrasi di Saudi, petugas imigrasi dari Saudi didatangkan langsung ke Jakarta. Di sini paspor dan data biometrik kita dicocokkan kembali oleh petugas Saudi. Proses ini menurut saya akan mempersingkat antrian jamaah di bandara kedatangan, sebab di bandara Saudi tidak perlu pemeriksaaan imigrasi lagi, jamaah haji bisa langsung keluar bandara setelah turun dari pesawat.


Berangkat!

Delay.....Jam 10 pagi jamaah baru mulai memasuki pesawat. Jam 10 lebih 15 menit pesawat pun take-off. Pesawat yang membawa jamaah haji Kloter 56/JKS adalah dari maskapai Saudia Airlines. . Garuda Indonesia hanya membawa jamaah haji dari beberapa bandara saja, antara lain Padang, Solo, Banda Aceh, Makassar, dan Banjarmasin, selebihnya diangkut oleh maskapai Saudi. Menurut saya maskapai Saudia ini bagus, pesawatnya lebar dan besar. Susunan kursinya dalam satu baris 3, 4, 3. Sajian makanannya juga enak. Selama dalam penerbangan penumpang mendapat dua kali makan (meal), dan berbagai snack serta minuman. Pramugarinya selain orang Arab juga ada orang Indonesia. Pengumuman disampaikan dalam bahasa Arab dan dalam Bahasa Indonesia.

Sepuluh jam di dalam pesawat cukup menjemukan. Saya dapat mengisi waktu dengan tidur atau menikmati hiburan (flight entertainmet) melalui layar  TV di depan kursi kita. Saya duduk sebaris dengan adik saya Dani dan istrinya Erna. Suami saya di kursi sebelah saya. Di luar sana hanya terlihat awan dan cahaya terang (kami berangkat pagi hari). Oh ya, jika anda nanti menjadi jamaah haji yang berangkat pada gelombang kedua, maka anda sudah harus memakai kain ihram ketika masuk pesawat karena nantinya anda langsung ke Mekkah untuk melaksanakan umrah wajib. 

Untuk jamaah haji pada gelombang satu tetap memakai pakaian biasa karena belum akan melaksanakan umrah.

Memasuki wilayah daratan Saudi terlihatlah pemandangan yang tandus. Bukit batu dan gurun pasir yang tandus terlihat di bawah sana. Masya Allah, di negeri yang tandus inilah Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT kepada kaum Quraish yang jahiliyah.

Bukit-bukit batu yang tandus terlihat dari atas pesawat.

Tepat pukul 19.00 waktu Arab Saudi, pesawat mendarat di Jeddah di Bandara King Abdul Aziz Mekkah. Alhamdulillah, perjalanan sangat lancar. Tiba di bandara King Abdulaziz kami disambut dengan suhu udara 41 derajat Celcius! Arab Saudi sedang musim panas pada bulan Juli hingga September. Suhu siang hari sangat panas, udara malam hari terasa gerah.

Alhamdulillah, pesawat yang membawa Kloter 56/JKS mendarat di Jeddah di bandara King Abdulaziz.

Tidak perlu berlama-lama di bandara ini.  Tidak ada pemeriksaan imigrasi lagi karena sudah dilakukan di bandara Soekarno-Hatta. Jamaah haji dapat langsung keluar bandara. Koper-koper dan tas tenteng sudah diurus oleh porter dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke hotel. Jamaah haji segera menuju hotel tempat pemondokan selama berada di Mekkah. Rombongan saat keluar bandara rasanya seperti dikejar2 kebingungan,  karena banyak bis berjajar, paspor diserahkan kepada mereka yang jemaah sendiri tidak tahu siapa. Kami nai bus nomor 02  karena merasa saat di embarkasi haji Bekasi nama kami tercatat di Bis 02. Dari Jeddah kami melanjutkan ke Mekkah dengan naik bis selama kurang lebih 1.5 jam. Bisnya bagus, berAC dan sopir tidak ngebut. Karena lelah saya tertidur dalam bis. Bis banyak berhenti di perjalanan karena pemeriksaan polisi dari Mekkah. Pemandangan diluar gelap, walaupun lampu dibeberapa tempat menyala terang.

Kami adalah jamaah haji Gelombang 2, jadi akan berada di Mekkah dulu selama tigapuluh hari, baru kemudian pindah ke Madinah.


Dari Bandung Ke Asrama Haji 2019



Selama satu bulan lebih, lebih tepatnya 42 hari, saya berbahagia karena saya menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, Haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya sudah berniat untuk menuliskan perjalanan haji sepulang dari sana, Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman haji dengan maksud berbagi pengalaman kepada 
yang belum pernah naik haji, atau saya sekedar bernostalgia merajut kenangan dalam hati dan pikiran saya yang sudah pernah menunaikan haji.

************************************************************************************

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu selama tujuh tahun pun tiba, kami mendaftar Desember 2012, mendapat undangan dari Allah SWT Juli 2019. Setelah mengikuti manasik selama tiga bulan di KBIH Az-Zairin Kabupaten Bandung, akhirnya kami ( saya, suami, adik kandung saya dan istrinya) diberitahu bahwa keberangkatan haji ke tanah suci adalah pada tanggal 23 Juli 2019.

23 Juli 2019. Saya dan jamaah lain di KBIH tersebut tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter 56), dengan kode JKS embarkasi Asrama Haji Bekasi, kami semua ternyata bergabung dengan KBIH Al Mukhtariyah dari Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Tanggal 23 Juli 2019 sesudah sholat subuh semua keluarga sudah berkumpul di rumah Soreang sebelum berangkat ke Kota Baru Parahyangan, Bandung Barat. Semua jamaah haji Kabupaten Bandung Barat berangkat ke embarkasi Bekasi dari tempat ini. Kami dilepas oleh keluarga. Ada sedikit rasa sedih di hati, karena disaat keberangkatan, anak saya Andre sedang mengikuti Ujian PTN di Unpad Jatinangor. Di sana rasanya saya memperhatikan yang namanya tidak tertahankan lagi isak tangis dan peluk cium yang mengharukan antara jamaah haji dengan keluarganya, seperti hendak pergi selama-lamanya dan tidak bertemu lagi. Pergi haji masih dianggap pergi ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama (42 hari). Belum tentu jamaah haji bisa pulang ke tanah air, mungkin saja ditakdirkan wafat di Tanah Suci. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan. Setiap tahun memang ratusan jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Faktor penyakit bawaan dari tanah air atau usia lanjut merupakan faktor terbesar meninggalnya jamaah haji di sana.


Saya pun larut dalam kesedihan. Apalagi meninggalkan anak dan mamah serta bapak yang kelihatan sedih di rumah tanpa kehadiran saya. Namun, saya selalu teringat kata-kata ustadz pembimbing haji ketika manasik. Katanya, jika kita berangkat haji, maka pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT.  Pasrahkan saja keluarga kita dan harta yang kita tinggalkan kepada Allah. Biarlah Allah saja yang menjaganya. Insya Allah dengan memasrahkan diri kepada Allah kita dapat berangkat ke Tanah Suci dengan tenang.

Di gedung tentara Kota Baru Parahyangan semua rombongan jamaah haji Kloter 56/JKS dari berbagai KBIH dikumpulkan. Jamaah haji Kloter 56/JKS semuanya kurang lebih ada 426 orang. Mereka berasal dari beberapa KBIH yang ada di Kabupaten Bandung Barat dan beberapa orang jamaah haji mandiri (tidak tergabung dalam KBIH manapun).

Kloter 56/JKS,  diberikan pengarahan dan kiat-kiat sehat di Tanah Suci. Setelah serangkaian seremoni, akhirnya jamaah haji masuk ke dalam bus masing-masing, siap berangkat ke embarkasi Jawa Barat di Bekasi. Rombongan kami naik bis no. 02. 

Bersiap-siap memasuki bus

Berangkat ke Embarkasi Haji Bekasi

Satu persatu bus rombongan haji (10 bus) meninggalkan Gedung Kota Baru Parahyangan. Para pengantar,  yang merupakan keluarga jamaah haji, yang menunggu di luar (tidak boleh masuk ke dalam gedung, walau sebagian ada juga yang bisa masuk) menyemut memberikan lambaian tangan selamat jalan. Tak terasa air mata pun menetes. Sungguh mengharukan. Sepanjang jalan dari Kota Baru hingga perempatan lampu merah di pintu tol padalarang para pengantar berbaris melambaikan tangan. Perjalanan haji adalah perjalanan jauh, mungkin juga perjalanan menuju kematian. Para pengantar itu sengaja datang beramai-ramai ke tempat kami. Ada yang menyewa angkot, minibus, atau membawa mobil pribadi.

Lambaian tangan selamat jalan dari pengantar

Para keluarga pengantar jamah haji berbaris sepanjang jalan melambaikan tangan selamat jalan

Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikalaka labbaik. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Mata saya mendadak basah.

Bus-bus rombongan jamaah haji selama perjalanan dari embarkasi menuju Embarkasi Haji di Bekasi dikawal oleh mobil Patwal polisi sehingga mendapat prioritas jalan. Bunyi sirine meraung-raung sepanjang jalan. Bahkan, ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT,  khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP saja.

Di Kabupaten Purwakarta bus berhenti di RM Cibening Sari untuk makan siang. Wah penjual oleh2 sudah banyak disana. Penukaran uang rupiah ke real pun ada.  Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mentraktir jamaah haji makan siang gratis di rumah makan tersebut. Memang selama mengikuti haji mulai berangkat dari Bandung Barat hingga kembali ke Bandung Barat, jamaah haji mendapat banyak perlakuan istimewa. Mungkin sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Oh iya, kloter saya, Kloter 56/JKS, termasuk dalam keberangkatan gelombang kedua. Sebagaimana diketahui, pemberangkatan jamaah haji tahun 2019 dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dari tanggal 6 Juli – 19 Juli 2019, jamaah haji diterbangkan ke Madinah dulu. Gelombang kedua dari tanggal 20 Juli – 5 Agustus 2019, jamaah haji diterbangkan ke Mekkah via Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jamaah haji gelombang satu akan berada di Madinah selama sembilan hari sebelum bertolak ke Mekah, sedangkan jamaah haji gelombang kedua tinggal di Mekkah dulu selama 31 hari, baru kemudian pindah ke Madinah selama sembilan hari. Jadi, jamaah haji gelombang satu nantinya pulang ke tanah air melalui bandara Jeddah, sedangkan jamah haji gelombang dua pulang melalui bandara Madinah.

Pembagian dua gelombang ini karena jamaah haji Indonesia sangat banyak jumlahnya tahun ini mencapai 250.000 orang, sehingga tidak mungkin diangkut semuanya secara serentak dalam satu periode. Mengangkut 250.000 orang dengan pesawat terbang sama dengan memindahkan seluruh penduduk sebuah kabupaten di Sumatera, dan menurut saya ini adalah sebuah pekerjaan raksasa.

Berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua sama-sama memiliki plus minus. Jika berangkat pada gelombang satu, maka perginya lebih awal dan pulangnya ke tanah air juga lebih awal. Minusnya adalah terlalu lama menunggu puncak ibadah haji (wukuf di Arafah), energi jamaah sudah terkuras untuk mengerjakan ibadah sunnah di Madinah dan Mekkah, sehingga ketika tiba masa puncak haji kondisi kebugaran dan kesehatan jamaah sudah mulai menurun. Padahal, inti ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah.

Sebaliknya jika berangkat pada gelombang kedua, jarak waktunya dengan puncak ibadah haji tidak terlalu lama menunggu, sehingga jamaah masih dalam keadaan fit untuk menjalani puncak ibadah haji di Armina (Arafah, Mudzdalifah, dan Mina). Sisa waktu setelah puncak ibadah haji dapat digunakan untuk ibadah sunnah di Makkah dan Madinah. Minusnya adalah untuk mereka yang sudah berumur setelah puncak ibadah haji selesai, jamaah haji biasanya sudah diliputi perasaan homesick untuk pulang ke kampung halaman.

Sayangnya jamaah haji tidak dapat memilih diberangkatkan pada gelombang satu atau dua, karena urutan keberangkatan ditentukan oleh Kemenag (mungkin melalui pengundian?). Namun, biasanya beberapa KBIH tertentu sudah memiliki “kebiasaan” berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua setiap tahun. Tinggal kita saja mencari-cari informasi KBIH ini biasanya berangkat pada gelombang satu, KBIH yang itu biasanya pada gelombang dua. Kebetulan KBIH saya biasanya kebagian gelombang dua. Beberapa KBIH di Bandung Barat sudah langganan berangkat pada gelombang dua, misalnya KBIH Al Mukhtariyah, Al Burdah, dan lain-lain.

Kembali ke kisah perjalanan kami ke embarkasi Bekasi. Selama perjalanan ke embarkasi saya lebih banyak duduk diam mungkin pertama karena keberangkatan ibadah haji ini seperti mimpi, kedua persiapan untuk berangkat sangat sempit. Ketiga Melamun banyak hal :-). Akankah saya dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan lancar? Dapatkah saya melupakan sejenak urusan duniawi ini, fokus beribadah kepada Allah saja? Banyak lagi yang saya lamukan, namun sebagimana kata ustad pembimbing, pasrahkan semua urusan hidup ini hanya kepada Allah SWT saja.