Rabu, 30 September 2020

Kisah Jablah Yang Murtad Setelah Berhaji

Jablah bin Ayham bin Harits Al-A'raaz bin Syamar Al-Ghossani adalah raja Ghossan yang masuk Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Raja Jablah penguasa negeri Syam saat akan di-Qishas oleh Khalifah Umar karena memukul hidung saudaranya seimannya saat menunaikan ibadah haji.

Nasiruddin S.AG MM dalam bukunya "Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam" menceritakan saat itu setelah Jablah masuk Islam, Ia hendak menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menunaikan ibadah haji ke kota Makkah. Karena Jablah merupakan orang penting ia mengirim surat ke Madinah pusat pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab atas rencananya akan menunaikan ibadah haji.

"Surat itu isinya menginformasikan bahwa Jablah akan mengunjungi kota Madinah sebagai ibu kota pemerintahan Islam pada masa itu untuk bersilahturahmi dengannya setelah itu menunaikan ibadah haji," katanya.

Dengan senang hati Khalifah Umar Bin Khathab menerima maksud kedatangan tersebut. Umar berjanji akan melayaninya sebagai tamu kehormatan bagi khalifah di Ibu Kota Madinah.

Jablah bin Ayham bin Harits Al-A'raaz bin Syamar Al-Ghossani pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah sambil menyiapkan 500 orang yang terdiri dari keluarga kerajaan, kaum kerabat, handa taulan dan para pengawalnya untuk menunaikan ibadah haji di Kota Makkah.

Ketika rombongan tersebut sudah memasuki kota Madinah, Jablah bin Ayham mengutus pengawalnya untuk menginformasikan ke kedatangannya kepada Khalifah Umar bin Khathab. Betapa senangnya khalifah mendengar kedatangan raja Ghossan itu.

"Lalu Umar memerintahkan para penduduk kota Madinah menyambut kedatangannya sambil menyiapkan hidangan untuk tamu terhormat itu," katanya.

Sementara itu Jablah memerintahkan seratus orang pengawalnya untuk mengenakan pakaian ketentaraan yang terbuat dari sutra. Para pengawal tersebut dengan gagahnya mengendarai kuda yang berhiaskan emas, permata dan aneka hiasan lainnya.

Sedangkan Raja Jablah sendiri mengenakan mahkota yang bertahtakan intan permata dan berlian yang indah dan mahal. Pada saat rombongan kerajaan Al-Ghossani memasuki gerbang kota Madinah para Penduduk Madinah, maka keluar penduduk kota tersebut, tua muda anak-anak, kaum remaja, kaum bapak, kaum ibu sorak sorai menyambut kedatangan Raja Ghossan tamu kehormatan Khalifah Umar bin Khattab.

Sementara itu para janda dan anak gadis setempat sangat terheran-heran dengan pakaian yang dikenakan raja Jablah saat itu. "Semua memuji keindahan dan kemewahan pakaian kerajaan tersebut," katanya.

Ketika sampai di kota Madinah, Raja Jablah langsung menemui Khlifah Umar untuk memberi tahu kedatangannya. Khalifah Umar langsung menyambut kedatangannya dengan penuh penghormatan dan ramah tamah seorang khalifah terhadap pembesar negeri lainnya.

"Assalamualaikum wahai amirul mukminin apa kabarnya Anda saat ini?"

" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Khalifah Umar dengan penuh kehormatan.

"Alhamdulillah berkat doa anda sekalian, sampai saat ini saya dalam keadaan sehat wal afiat," kata Umar.

Kemudian Umar Bin Khattab menjamu tamunya dengan ramah tamah serta menghidangkan makanan sebagai pengisi perut atas perjalanan yang melelahkan bagi raja Jablah Al-Ghossani bersama romobongan. Lalu keduanya ngobrol asik tentang kondisi keamanan dan kesejahteraan rakyat di negeri sekitar Syam.

Tak lama kemudian, raja Jablah Al-Ghossani berkata kepada Khalifah Umar. "Wahai Amirul Mukminin sebenarnya kedatangan saya ke kota Makkah nanti adalah untuk menunaikan ibadah haji tahun ini," katanya.

Khalifah Umar pun menyambut positif maksud kedatangannya seraya berkata. " Insya Allah saya juga akan melaksanakan ibadah haji tahun ini. Dan jika tidak keberatan bagaimana kita berangkat bersama-sama ke kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji," ajak Umar.

Akhirnya Khalifah Umar bersama-sama berangkat bersama rombongan kerajaan Al-Ghossani untuk melaksanakan ibadah haji. Sesampainya di Kota Makkah mereka bersama-sama melaksanakan tawaf qudum sebagai tanda kedatangan mereka di Baitullah Ka'bah dan mereka berbaur dengan kaum Muslimin lainnya melaksanakan tawaf dengan khusu dan khidmat.

Ketika Jablah sedang melakukan tawaf di sekeliling Ka'bah, tiba-tiba kain ihramnya tanpa disadari terinjak oleh kaki seorang lelaki dari bani Fazaroh, hingga terlepas dari tubuhnya. Betapa terkejut Jablah dengan hal itu. lalu dengan perasaan kesal ia pukul muka lelaki tersebut dengan tangannya hingga berdarah.

Akhirnya lelaki dari bani Fazaroh itu tidak menerima perlakuan Jablah terhadapnya, karena ia melakukan hal itu tidak dengan sengaja. Kemudian ia datang dan mengadu kepada Khalifah Umar tentang perlakuan raja Ghossan itu terhadapnya.

"Umar memang seorang khalifah yang sangat arif dan bijaksana serta memperhatikan pengaduan rakyat kecil dan keluhan umatnya," katanya.

Maka, ia pun mendengarkan semua pengaduannya tersebut serta mengakomodasikan untuk dicarikan jalan keluar yang terbaik baginya. Setelah itu ia mengutus seseorang untuk memanggil Jablah agar menghadapnya

Umar bertanya. "Hai Jablah, benarkah anda telah memukul seorang lelaki dari bani Fazaroh ketika ia sedang tawaf di sekeliling Ka'bah? "Tanya Khalifah Umar kepada Jablah.

Dengan angkuh Jablah menjawab, "Benar Amirul Mukminin. Memang benar saya telah memukul hidung lelaki itu karena ia dengan sengaja telah menginjak kain ihram saya, hingga akhirnya terlepas dari tubuh saya. Kalau seandainya saja bukan karena kemuliaan Ka'bah baitullah aku sudah saya tebas batang lehernya! ".

Lalu Umar berkata, "Baiklah, karena anda telah melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain, maka sebaiknya minta maaf kepadanya, dan kalau tidak saya akan memerintahkan kepadanya untuk menuntut balas atas perbuatan anda tersebut. Karena bagaimanapun anda tidak boleh berbuat sewenang-wenang terhadap sesama muslim!"

Jablah terkejut dan balik bertanya, "Apa yang akan anda lakukan terhadap saya, hai Amirul mukminin?" Umar menjawab, saya akan menyuruh lelaki dari bani Fazaroh yang pernah anda cederai untuk memukul hindung anda."

Betapa terkejutnya Jablah mendengar ucapan Khalifah Umar bin Khathab itu saya bertanya. "Ya Amirul mukminin, bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? anda sendiri telah mengetahui, bahwa saya ini adalah seorang pembesar dari negeri Syam, sedangkan lelaki itu hanyalah rakyat jelata.

Dengan tegas Khalifah Umar berkata kepadanya. "Ketahuilah olehmu hai Jablah sesungguhnya Islam itu telah mempersatukan anda sebagai seorang pembesar suatu kaum dengan lelaki tersebut yang hanya rakyat jelata. Sebenarnya antara anda dengannya tidak ada keistimewaan apa-apa, kecuali keimanan dan ketakwaan."

Namun Jablah menyambutnya dengan jawaban yang tidak menyenangkan, "Saya mengira bahwa saya akan menjadi lebih mulia dan dihormati setelah saya memeluk agama Islam. Akan tetapi, pada kenyataannya saya malah lebih diabaikan dari sebelumnya."

Khalifah Umar mulai kesal dan berkata kepadanya. "Sudahlah, anda jangan banyak berkomentar! Kalau anda tetap bersikeras untuk tidak minta maaf kepada lelaki itu, maka saya akan suruh dia untuk menuntut balas kepada anda."

Tetapi, Jablah tetap bersikeras dan tidak mau minta maaf kepadanya, hingga akhirnya ia berkata.

"Kalau Amirul mukminin tetap memaksa saya untuk meminta maaf kepadanya maka saya akan pindah kepada agama Nasrani"

Lalu Khalifah Umar menjawab. "Kalau anda berpindah ke agama Nasrani, maka dengan sangat terpaksa sekali saya akan tebas batang leher anda karena sebelumnya anda telah mengikrarkan dengan suka hati untuk masuk ke dalam agama Islam, dan seandainya sekarang anda akan berpindah agama, maka saya akan memerangi anda," kata Umar.

Ketika melihat keseriusan dan ketegasan sikap Khalifah Umar tersebut, Jablah merasa takut dan ciut juga hatinya. Lalu ia berpikir sejenak dan berkata.

"Baiklah akan saya pikirkan terlebih dahulu hal ini secara masak-masak malam ini,"

Sebenarnya pada saat itu sudah berkumpul para pengawal Jablah dan beberapa orang lelaki dari bani Fazaroh di luar rumah Khalifah Umar yang masing-masing siap membela dan mempertahankan kehormatannya, hingga dikawatirkan akan terjadi pertumpahan darah antara kedua kelompok tersebut. Telah mendengar ucapan Jablah itu maka Umar pun menyuruh mereka untuk membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.

Sementara itu ketika malam telah menyelimuti bumi dan para penduduk kota Makkah telah lelap dari tidurnya, Jablah beserta beberapa orang pengawalnya mengendap-endap untuk dapat melarikan diri menuju ke negeri Syam. Dan ketika adzan subuh telah dikumandangkan, ternyata Jablah dan rombongannya telah melarikan diri dari kota Makkah menuju ke negeri Syam.

Sesampainya di negeri Syam, 500 orang pengikutnya pergi ke kota konstantinopel sekarang kita mengenalnya dengan sebutan kota Istambul untuk menemui kaisar Heraklius. Di hadapan kaisar Romawi tersebut Jablah beserta para pengikutnya menyatakan masuk ke dalam agama Nasrani.

Selasa, 29 September 2020

Haji 2019 23 Juli KBB

Berkumpul di Pusdikav Kota Baru Parahyangan Pukul 08.00 WIB. Dibuka olah Bupati Umbara Pukul 09.00 WIB. Berangkat Ke Asrama Haji Pukul.11.00 WIB ke Asrama Haji Pondok Gede. Makan Siang di Rumah Makan Melati Purwakarta. Banyak yang berdagang penguat tali tas slempang haji dan penukaran uang rupiah ke real Saudi. Perjalanan lanjut Pukul 13.00 WIB. Sampai di Pondok Haji Pukul 16.00 WIB, dimulai dengan pembagian kamar. Satu kamar diisi 4 calon jemaah haji dari berlainan KBIH. Makan malam dilakukan di Gedung E dekat kamar. Setelahnya jemaah istirahat di kamar masing2 atau belanja keperluan di stand2 di lantai bawah. Pukul 08.00 pagi berangkat ke Bandara Soekarno Hatta Tangerang. 

Tengah malam sampai di Makkah. Tiba di hotel, koper besar belum datang. Di mulai dari rombongan pertama masuk hotel dan langsung naik ke lantai yang telah ditentukan, kemudian mereka menempati kamar yang telah disiapkan. Begitu setiap anggota rombongan sudah menempati kamar masing-masing, petugas kloter memerintahkan rombongan berikutnya masuk ke hotel, begitu seterusnya sampai rombongan terakhir. Kami tergabung di kloter 56 kebagian di lantai 6 (Makkah) – jadi cukup lama nunggu antrian di lift. Daftar tiap rombongan ditempel juga di dinding hotel. Penunjukan hotel haji reguler sudah ditentukan, jadi ada jamaah yang dapat hotel bintang 3 atau 4. Untuk bintang 5 biasanya ditempati haji khusus. Satu lantai di hotel biasanya ditempati satu kloter daerah masing2. Lantai 11 Hotel Al Zaer Al Khalil Makkah diperuntukan tempat mencuci dan menjemur pakaian untuk semua lantai. 

Senin, 28 September 2020

Kisah Nabi Adam menempuh perjalanan dari India menuju Makkah.

Sebuah riwayat bahwa saat diturunkan ke bumi, Nabi Adam yang berada di India, diperintahkan Allah SWT untuk berhijrah ke Makkah, tempat Hawa berada.

Dalam perintah tersebut, Allah SWT juga memerintahkan Adam untuk bertawaf dan meminta ampun atas kesalahan yang telah diperbuatnya.

Allah SWT berfirman, “Pindahlah dari negeri Hindi (India) ke Makkah; thawaf-lah di sekitar tempat Baitullah dan mintalah pengampunan dari-Ku, tentu Aku akan mengampuni kesalahanmu.”

Kemudian Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk menuntun Adam dan menunjukkan ke jalan menuju Makkah, bersamaan dengan itu, Adam juga diberikan sebuah tongkat dari pohon kayu As, salah satu jenis pepohonan di surga yang panjangnya 20 siku.

Setelah Adam memasuki Makkah, Allah mewahyukan kepadanya untuk thawaf di tempat yang akan menjadi Baitullah tersebut. Dia mengerjakan thawaf sebanyak 7 kali tanpa memakai penutup kepala dan bertelanjang. Setelah Adam mengerjakan itu, Allah mengampuni kesalahannya dan menerima tobatnya, dan tawafnya diibaratkan sebagai pelebur dosa. Setelahnya, Adam diperintahkan untuk pergi ke Arafah, dan berdiam di sana. Disanalah Adam dan Hawa akhirnya bertemu. Sejak saat itu, diam (wuquf) di Arafah dijadikan salah satu bagian dari ritual ibadah. Tempat tersebut diberi nama Arafah karena menjadi tempat Adam dan Hawa bertemu.

Menurut sebuah riwayat, perpisahan antara Adam dan Hawa terjadi selama 500 tahun. Dikatakan pula bahwa saat turun ke bumi, Adam disertai delapan binatang yang berpasang-pasangan, salah satunya sepasang domba dan kambing. Adam lalu diperintahkan untuk minum dari susu mereka dan membuat pakaian dari bulu-bulunya.

Saat tiba di bumi, Adam mengadu kepada Tuhan, dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak tahu waktu-waktu untuk beribadah.” Atas pengaduan ini, Allah SWT menurunkan seekor ayam jantan sebesar kerbau yang besar, warnanya putih. Apabila ayam tersebut mendengar para malaikat bertasbih di langit, maka ia juga akan ‘bertasbih’ di bumi. Dari tasbih ayam jantan itu, Adam tahu bahwa itulah waktu-waktu ibadah.

Selanjutnya, Adam menanam pepohonan, menggali sumur, dan membuat rumah. Lalu Allah menurunkan 21 sahifah (lembaran) yang memuat keterangan haramnya bangkai, darah, daging babi, dan lain sebagainya. Bersamaan dengan itu, diturunkan juga huruf-huruf hijaiyah (alfabet) yang berjumlah 29.

Huruf-huruf tersebut dipelajari Adam agar bisa membaca shuhuf (lembaran-lembaran). Tidak ada satupun yang mampu menambah satu huruf pun ke dalam shuhuf tersebut. Sebab, hukum Tuhan itu pasti dan sempurna.

Dalam bukunya, cendekiawan Islam asal Persia itu menuliskan, jumlah anak yang dilahirkan oleh Hawa berasal dari 20 kandungan. Dalam setiap kandungan ada dua anak, laki-laki dan perempuan. Jadi, dia memiliki 40 anak, laki-laki dan perempuan.

Diriwayatkan bahwa anak-anak Adam selama Adam hidup terus-menerus melahirkan keturunan hingga jumlahnya mencapai sekitar 40 ribu laki-laki dan perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

“Yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS An-Nisaa’ : 1).

Ketika keturunan Adam kian membanyak, satu sama lain mulai bertengkar. Maka Allah menurunkan tongkat dari surga kepada Adam untuk dipakai mendidik anak-anaknya ketika mereka menentangnya. Oleh karena itu, dikatakan pula bahwa tongkat itu berasal dari surga.



Rabu, 23 September 2020

Kisah Pergi Haji Zaman Kolonial

Berbagai arsip yang mendokumentasikan pola komunikasi pada era kolonialisme Belanda di Nusantara menunjukkan pemerintahan penjajah memantau secara melekat aktifitas ibadah haji muslim Indonesia.

Profesor Charles Jeurgens dari Universitas Leiden, Belanda, dalam satu pernyataan, membahas temuan itu di Universtas Australia Barat (UWA), Perth, dengan menjelaskan, pemerintahan kolonialis Belanda khawatir mereka yang pergi haji akan membawa semangat perlawanan terhadap kolonialisme.

“Belanda mencoba mengendalikannya,” ujar pria yang fokus penelitiannya melihat pola transfer informasi era kolonial Belanda.

sejarawan Dien Majid dalam buku Berhaji di Masa Kolonial misalnya, mengisahkan si Gapoeng alias Halimatusa’diyah yang berlayar menuju Makkah menggunakan kapal Samoa—kapal angkut milik J.G.M Herklots, salah satu agen haji di masa itu—pada 1893 mesti kehilangan suami dan harta bendanya karena diterjang badai.

“… Kira-kira soedah 7 hari berlajar satoe malam dapat angin besar sampei hampir-hampir terbalik kapal itoe dan ajer masuk kadalam kapal sampai pagi-pagi di tjari saja poenja laki tiada lagi dan barang-barang saja itoe joega semoea soedah habis roepanja djatoeh masok laoet…”

Peti besar berisi pakaian, 21 karung goni berisi perbekalan, dan uang tunai 150 Gulden habis ditelan badai semalam yang juga menewaskan suaminya. “Makanan selama dalam kapal djikaloe ada orang jang soedah dapat nasi jang ada kasihan, dia beri sedikit-sedikit baharoe saja makan. Kalo tiada kasihan orang-orang itoe tiadalah saja makan.”

Diketahui kemudian bahwa kapal yang digunakan Herklots saat itu merupakan kapal pengangkut batu bara dan tidak dirancang sebagai kapal penumpang. Akibatnya, Herklots mendapat kritik dari agen-agen haji lainnya.

Menurut M. Shaleh Putuhena dalam Historiografi Haji Indonesia (2007), perjalanan haji pada masa itu tidak dapat dipisahkan dari aktivitas perdagangan dan diplomatik. Orang-orang dari Nusantara yang berkesempatan melakukan ibadah haji untuk pertama kalinya bukanlah jemaah haji murni, melainkan para pedagang. Lainnya merupakan utusan sultan dan para musafir penuntut ilmu. Kebanyakan dari mereka menetap lama di Semenanjung Arab sembari menanti bulan haji (hlm. 105).

Pertumbuhan agama Islam yang bermula di Pasai sejak abad ke-7 memunculkan minat studi Islam di Nusantara. Para penuntut ilmu dari berbagai daerah berdatangan untuk berpartisipasi dalam lembaga pendidikan Islam di Pasai. Tidak sedikit pula di antara mereka yang melanjutkan studi ke Haramain sambil melaksanakan ibadah haji.

Mereka yang berhasil menuntaskan pendidikan kemudian kembali ke tanah kelahiran untuk mendirikan pusat studi keagamaan yang sama. Demikian pula tradisi mencari guru hingga ke Hijaz melahirkan banyak ulama dan syekh terkemuka di Nusantara abad ke-17.

Shaleh Putuhena menuliskan di antara mereka yang tercatat beribadah haji sambil melanjutkan pendidikan terdapat nama Muhammad Yusuf (1626-1699) atau lebih dikenal dengan sebutan Syekh Yusuf. Setelah melaksanakan ibadah haji, Syekh Yusuf pernah singgah di Madinah untuk menuntut ilmu di Masjid Nabawi. Ia dikenal sebagai ulama berpengaruh di Kerajaan Gowa dan pernah menetap di Banten untuk melawan VOC.

Seperti halnya perjalanan Syekh Yusuf, lanjut Putuhena, perjalanan jemaah haji di masa kolonial lebih banyak dilakukan secara sporadis. Biasanya mereka melakukan pelayaran secara bersama-sama dengan menumpang kapal dagang. Ada yang memutuskan menetap di Haramain dan ada yang kembali.

Ada pula yang mengaku sudah menunaikan haji, tapi tak bisa dipastikan kebenarannya. Pada 21 April 1716, misalnya, pelabuhan Batavia menerima 10 orang dari berbagai etnis yang mengaku jemaah haji. Meskipun datang bergelar haji, tidak diketahui kapan mereka berangkat ke Makkah.

Pemerintah Kolonial Turun Tangan Keberangkatan jemaah haji dari Hindia Belanda menjadi lebih terorganisasi memasuki abad ke-19. Para syekh dari berbagai daerah muncul sebagai “biro perjalanan” yang mengatur pemberangkatan calon jemaah dari wilayah mereka. Selain menyiapkan rute, para syekh juga menyediakan kapal khusus jemaah haji yang dapat menampung sampai ratusan orang.

Pada 1825 sekitar 200 orang dari berbagai karesidenan datang melapor kepada polisi. Mereka membawa kabar bahwa akan diadakan perjalanan ibadah haji dengan menumpang kapal khusus bernama Magbar yang disediakan Syekh Umar dari Bugis.

Peristiwa ini, menurut M. Dien Majid dalam Berhaji di Masa Kolonial (2008), cukup membuat pemerintah Hindia Belanda kaget. Ini karena jumlah peserta haji yang datang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Dengan alasan keselamatan, pemerintah kolonial kemudian menetapkan langkah politik untuk mengatur kepergian dan kepulangan jemaah haji (hlm. 82-84).

Faktanya, alasan keselamatan bukanlah satu-satunya. Menurut pandangan pemerintah, lanjut Dien Majid, kelompok kecil yang mulai getol megorganisasi keberangkatan haji berpotensi membentuk golongan tak bekerja yang mengantarkan kepada fanatisme.

Ketakutan ini merujuk pada sejarah tradisional Banten yang menuturkan kisah perjalanan haji Sunan Gunung Jati yang dilalui dengan cara gaib dan cenderung keramat bagi rakyat kecil. Karena itu pemerintah merasa perlu mengawasi siapa saja dan berapa jumlah orang yang naik haji.

“Gambaran ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah kolonial menganggap mereka yang telah menunaikan ibadah haji sebagai suatu ‘golongan pendeta’ […] dan dengan demikian sangat terpandang di mata penduduk,” kata Jacob Vredenbergt dalam tulisannya, “Ibadah Haji: Beberapa Ciri dan Fungsinya di Indonesia”, yang dimuat dalam Indonesia dan Haji: Empat Karangan di Bawah Redaksi Dick Douwes dan Nico Kaptein (1997: 8). “Hal ini akan menyebabkan pembentukan golongan yang memiliki waktu luang, dan memanfaatkan wibawa mereka di tengah rakyat untuk menentang pemerintah.”

Merespon laporan dari 200 orang tersebut, pemerintah mengeluarkan Resolusi pada 1825. Seperti yang sama-sama dicatat Shaleh Putuhena dan Dien Majid, isinya adalah pemerintah Hindia Belanda memberi izin kepada 200 jemaah haji untuk berlayar ke Makkah menggunakan kapal Magbar. Syaratnya: para jemaah haji wajib dibekali paspor haji dan harus membayar ongkos naik haji sebesar f110.

Kebijakan yang Gagal

Seiring berlalunya waktu, Resolusi 1825 mulai dianggap usang. Kriteria-kriteria haji yang ditetapkan pemerintah tak lagi diindahkan. Banyak jemaah haji yang memilih berangkat ke Makkah menggunakan agen pelayaran yang dikelola para syekh dari Singapura dan Malaka. Para Syekh ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan syekh-syekh asal Semenanjung Arab dan menerima sejumlah premi atas jasa mereka mengangkut jemaah haji.

“Bagi banyak jemaah perjalanan melalui semenanjung Malaya dan Singapura juga merupakan kesempatan bagus untuk menghindari pengawasan paspor (dan vaksinasi) pihak pemerintah Hindia-Belanda,” tulis Vredenbergt.

Tak jarang pula ada yang menyalahgunakan gelar haji dengan menghentikan perjalanan hajinya di Singapura, lalu kembali ke Hindia Belanda sambil mengaku haji. Saat itu orang-orang lazim menyebut mereka sebagai “haji Singapura”.

Keadaan tersebut merugikan pemerintah, baik dari segi ekonomi maupun politik. Menurut catatan Dien Majid, akibat kejadian yang berlarut-larut itu kebijakan haji di Hindia Belanda direvisi berkali-kali sepanjang hampir seratus tahun, mulai dari 1825 sampai 1922.

Di Hindia Belanda, pengelolaan haji dilakukan oleh Gouverneur Generaal Nederlandsch Indie (GGNI) dan Algemeene Secretaris (Sekretariat Umum). Selain bertugas mengeluarkan paspor, kedua departemen ini juga bertugas mengatur kapal haji. Di saat bersamaan, maskapai Inggris juga mulai terlibat dalam pengangkutan jemaah haji.

Berkat keterlibatan Belanda dan Inggris, sejak paruh kedua abad ke-19, jemaah haji tidak lagi berangkat menggunakan kapal layar milik para syekh, tetapi diangkut menggunakan kapal uap.

Di samping bidang angkutan, pengaturan kuota haji juga semakin tampak di tahun 1872. Kala itu pemerintah Belanda mulai membuka konsulat di Jeddah yang khusus menangani administrasi dan izin tinggal jemaah haji dari Hindia Belanda di Makkah. Dari sinilah total jumlah jemaah haji yang berangkat setiap tahun mulai terpantau.

Jacob Vredenbergt mengikhtisarkan angka kuota jemaah haji dari 1873 sampai 1899 melalui data yang terangkum dalam Koloniaal Verslag. Menurut data yang dipaparkan, setidaknya sudah ada 19 wilayah di Hindia Belanda yang memberangkatkan calon jemaah haji secara rutin setiap tahun. Daerah-daerah yang paling banyak memberangkatkan jemaah haji sepanjang tahun-tahun tersebut antara lain: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Palembang, Sumatra Barat, dan Kalimantan Tenggara.

Akan tetapi, menurut Vredenbergt, data yang tersedia tidaklah akurat. Terdapat banyak perbedaan antara data yang dilaporkan konsulat di Jeddah dengan Koloniaal Verslag. Kuat dugaan masih ada banyak sekali jemaah haji yang tidak terdata atau pergi tanpa surat-surat resmi.

J.G.M Herklots merupakan salah satu generasi pertama biro perjalanan haji yang dilibatkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengurusi perjalanan dari Nusantara ke Makkah. Selain Herklots, ada pula Borneo Company Limited, Rotterdam Lloyd dan Ocean, Firma Gellatly Henkey Sewell & Co, Firma Aliste, Jawa & Co. Agen-agen haji ini tergabung dalam wadah bernama Kongsi Tiga.

Keberadaan agen haji ini dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengeruk keuntungan dengan memungut biaya tinggi sebesar 110 Gulden. Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels itu, para calon jemaah haji didata oleh pemerintah kolonial dan harus memiliki dokumen perjalanan resmi atau paspor dari bupati setempat.

Secara tak resmi, pemerintah kolonial meminta para bupati itu untuk menghambat arus lonjakan jemaah haji dengan berbagai syarat. Caranya, tak cuma melaporkan biaya perjalanan, para calon jemaah haji juga harus memastikan bahwa ia memiliki uang yang cukup untuk keluarganya selama si calon jemaah pergi berhaji.

Sepulang dari Makkah, para jemaah ini juga harus melapor dan mengikuti serangkaian tes terlebih dulu sebelum resmi menyandang gelar haji. Jika tidak melapor maka si jemaah akan dikenai denda sebesar 25-100 Gulden. Jika ia dinilai gagal dalam tes, maka si jemaah tidak diperbolehkan menggunakan gelar haji ataupun berpakaian seperti haji.

Penipuan

kelompok warga Cilegon, melayangkan sebuah surat protes pada Gubernur Jenderal di Batavia. Isinya soal kongkolikong Johanes Gregorius Marinus Herklots alias J.G.M. Herklots, bos agen perjalanan haji The Java Agency, dengan Wedana Cilegon bernama Entol Goena Djaja. Untuk menjaring jamaah haji sebanyak-banyaknya, perusahaan haji itu menggunakan jasa pejabat lokal dan keluarga mereka sebagai tenaga pemasaran. Hadiahnya: pejabat itu plus keluarganya diberi tiket gratis ke Mekah.

Tergiur dengan tiket haji gratis, para pejabat ini memakai kekuasaannya: memaksa rakyat yang hendak pergi haji untuk menggunakan perusahaan Herklots. Yang tak menggunakan perusahan itu, ditahan pas-nya (izin jalan, semacam paspor). Karena takut terhadap penguasa, dengan terpaksa banyak orang naik kapal Herklots sesuai perintah.

Dengan kongkolikong macam ini, pada musim haji 1893, Herklots berhasil menjaring lebih dari 3.000 jamaah dari, menurut J. Vrendenbregt dalam The Haddj merujuk data Indisch Verslag, keseluruhan jamaah yang berjumlah 8.092 orang.

Gubernur Jenderal, yang sudah menerima banyak keluhan soal kebusukan agen haji milik J.G.M Herklots, menerima surat ini pada pertengahan Juni 1893. Isinya, sebagaimana dikutip dari buku Berhaji Di Masa Kolonial karya Dien Majid, antara lain: “…semoea toeroet Entol Goena Djaja soedah berdjanji sama itoe toean agen Herklots, dia poenya anak (Entol Hadji Moestafa) dan mertoea (Hadji Karis) pegi di Mekkah dengan pordeo tida bajar ongkos kapal, makan dan minoem djoega pordeo dan djoega misti dapat kamar, tapi banjak sekali orang-orang jang dari district Tjilegon tida seneng menoempang di itoe kapal/agen toean Herklots, melaenkan dia orang takoet sama Kapala District Tjilegon Wedana Entol Goena Djaja…”

Gubernur Jenderal juga menerima somasi dari Konsul Belanda di Jedah tentang pungutan liar yang dilakukan agen haji Herklots. Jamaah harus membayar tiket pulang yang telah ditetapkan f.95 plus f.500 sebagai jasa bagi Herklots. Konsul memohon Gubernur Jenderal supaya mendeportasi Herklots dan mengadili kejahatannya. Meski perbuatan Herklots dikategorikan melanggar hukum tapi Gubernur Jenderal tak punya wewenang untuk mendeportasi Herklots.

Menurut Dien Majid, Konsul Belanda di Jedah lantas melobi Gubernur Jedah Ismail Haki Pasha supaya mendeportasi Herklots. Pasha tak bisa mengabulkannya dan bilang, “Herklots di sini hanya sibuk bekerja untuk melaksanakan penanganan keagamaan.”

Usaha keras Konsul untuk mendeportasi dan mengadili Herklots tak mempengaruhi bisnis haji Herklots secara keseluruhan. Herklots masih leluasa menjaring calon haji dan menebarkan tipu-tipu yang lebih parah.

Penampakan Pergi Haji Tempo Doeloe Penampakan Pergi Haji Tempo Doeloe

Pengalaman R. Adiningrat, residen Cirebon, bisa jadi contoh. Laporan Residen Cirebon tanggal 10 Juli 1893, sebagaimana dikutip Dien Majid, menyebutkan pengalaman buruknya menggunakan agen Herklots. Saat membeli tiket, Adiningrat dilayani oleh W.H. Herklots, adik J.G.M. Herklots. Adiningrat musti membayar f.150 plus premi f. 7,50 per kepala; lebih mahal dari tarif pemerintah sebesar f.110. Padahal di reklamenya, Herklots menawarkan harga lebih murah: “Harga menoempang f.95 satoe orang troes sampai di Djeddah dan anak-anak oemoer dibawah 10 taoen baijar separo harga, anak yang menetek tidak baijar.”

Sialnya lagi, menjelang tanggal keberangkatan haji, W.H. Herklots kabur duluan dari Cirebon dan dia berangkat ke Jedah menggunakan kapal De Taroba.

J.G.M. Herklots dan teman Arabnya, Syekh Abdul Karim, “penunggu Kabah”, juga menipu pihak berwenang Mekah dan memanfaatkan mereka untuk menjaring jamaah haji yang hendak pulang ke Hindia Belanda. Herklots memakai identitas palsu untuk bisa masuk Mekah, yakni Haji Abdul Hamid, pribumi Hindia Belanda beragama Islam. Identitas baru ini perlu karena orang-orang non-Muslim tak diperkenankan masuk Mekah.

Herklots menggunakan identitas palsu ini untuk mengajukan pinjaman pada Syarif Mekah. Syarif Mekah bersedia memberi pinjaman f.150.000 dengan dua catatan. Pertama, di kantor Herklots ditempatkan dua jurutulis Syarif Mekah, yang bertugas mengawasi kegiatan kongsi, terutama jumlah jamaah. Setiap sore mereka mengambil keuntungan sesuai perjanjian yang disepakati. Kedua, di pihak lain, para syeikh kepercayaan Syarif Mekah membantu Herklots mencari jamaah yang telah selesai menunaikan ibadah haji untuk pulang ke tanah air.

Dengan kesepakatan ini Herklots mendapat perlindungan. Dan dengan bantuan para syeikh, dia bisa leluasa menjaring para jamaah yang hendak pulang sementara agen-agen haji lain susah-payah mendapatkannya.

Di Mekah, para “Haji Jawa”, sebutan untuk jamaah haji Hindia Belanda, dipaksa naik kapal api dari agen Herklots. Supaya tak pindah ke kapal lain, mereka diwajibkan membayar tiket sejak di Mekah.

Jamaah haji yang telah membayar mahal ini dibuat terlantar saat menunggu tanpa kepastian kapan kapal carteran Herklots dari Batavia datang. Mereka menunggu di tenda-tenda di lapangan terbuka tanpa fasilitas memadai.

Para jamaah, yang kehabisan duit itu, mengadukan perlakuan buruk Herklot pada konsulat Belanda di Jedah dan bikin konsulat Belanda geram. Mereka memaksa Herklots mengembalikan uang tiket tanpa harus menunggu kapal carteran. Herklots bersedia mengembalikan separo dari harga tiket, 31 ringgit. Selain keluhan keterlambatan dan penelantaran, banyak jamaah haji mengeluhkan fasilitas kapal pengangkut jamaah. Majid menulis, kapal Samoa yang dipakai Herklots tak dirancang sebagai kapal penumpang. Akibatnya, dek atas dan bawah penuh penumpang dengan ventilasi yang buruk. Banyak penumpang jatuh sakit.

Majid juga mengutip kesaksian Sin Tang King, gelar raja muda Padang yang berganti nama menjadi Haji Musa, salah seorang penumpang kapal, “Sampai di Djeddah saja liat ada banjak kapal tetapi tiada kapal boleh kami naik di lain kapal hanja misti masok kapal Samoa, dan kapal lain sewanya tjoema 15 ringgit ada djoega jang 10 ringgit djikaloe orang maoe naik di lain kapal oewang jang telah dibajar di Mekkah itoe ilang sadja. Satoe doewa orang jang ada oewang dia tiada perdoeli ilang oewangnja 37 ringgit itoe dia sewa lain kapal, sebab di kapal Samoa tiada bisa tidoer dan tiada boleh sambahjang karena semoewa orang ada 3.300 (sepandjang chabar orang) djadi bersoesoen sadja kami jang tiada oewang boewat sewa lain kapal…”

Kapal Samoa berangkat menuju Batavia pada 7 Agustus 1893 dan transit semalam di Aden. Setelah berlayar dua hari dari Aden, menurut kesaksian Si Tang Kin, tepat hari Selasa sekira pukul 17.00 Samoa dihajar badai dahsyat. Kapten kapal tak memberi tahu akan datangnya badai sehingga pintu terbuka dan orang-orang di kapal riuh, berhimpit-himpitan dengan peti, hingga ada yang kepalanya pecah, putus kakinya, atau terhempas ke laut. Dalam satu malam, seratusan orang tewas. Mereka dibuang begitu saja ke laut tanpa disembahyangkan atau dikafani.


Kamis, 27 Agustus 2020

Kisah Tentang Pohon Hayat


Kalau ini Pohon Hayat (Pohon kehidupan )
Disana ( lauhul mahfudz ) terdapat pohon besar yang daunnya sangat banyak, hanya Allah yang tahu jumlahnya, setiap ada makhluq hidup ( manusia-jin-hewan ) meninggal, maka daun secara teratur rontok dan jatuh tergantung nama dan jumlah makhluq yang meningggal.

Setiap ada anak manusia-jin atau hewan lahir, maka tumbuhlah dedaunan sesuai nama dan banyak nya makluq hidup yang tumbuh, dan malaikat izroil selalu mengawasi pohon tersebut.

Pohon apakah itu ? itu adalah "pohon hayat". dimana malaikat izroil dengan mudah mendata dan mengawasi setiap makhluq yang lahir dan meninggal.

Menjelang empat puluh hari kematian makhluq, maka dedaunan yang ada namanya akan mulai layu dan mengiring, lalu akan jatuh tepat di akhir 40 harinya.

Pernahkah kalian merasakan kuping berdenging ? itu sebagai tanda daun yang ada nama kita tergesek oleh daun makhluq lain yang telah meninggal dan terjatuh,





Suatu Kali Ibrahim bertanya pada Malaikat Maut :
Ya Malaikat Maut...apa yang kau lakukan seandainya ada orang yang mati di Timur dan lainnya di Barat atau jika sebuah negeri diserang penyakit atau kelompok tentara di medan pertempuran...


Malaikat itu menjawab:

"Ya pesuruh Allah, nama orang-orang ini tercatat  di dalam Lauh Mahfuz, tempat seluruh nasib manusia ditulis. Aku menatapnya tak putus-putus. Ia memberitahuku saat dimana masa hidup setiap makhluk hidup di Bumi sampai ke penghabisan, manusia atau binatang."

"Ada juga pohon disebelahku, namanya Pohon Hayat. Ia diliputi dedaunan kecil yang banyak sekali, lebih kecil dari daun zaitun dan lebih banyak lagi. Kapan saja seseorang manusia lahir di Bumi, pohon itu menumbuhkan sehelai daun baru. Di atas daun itu ditulis nama orang tersebut. Dengan memakai pohon itu, aku tau siapa yang lahir dan mati."

"Ketika seseorang menjelang mati, daunnya mulai melayu dan mengering. Daun miliknya jatuh dari pohon ke Lembaran yang Terjaga (Lauh Mahfudz). Nama orang itu dihapus dari Lauuh Mahfuzh. Peristiwa ini terjadi 40 hari sebelum kematian yang sebenarnya orang itu. Kami diberi tahu 40 hari sebelum kematiannya yang akan datang. Orang itu sendiri mungkin tahu dan mungkin dia melanjutkan hidupnya dengan penuh harapan dan renca. Bagaimanapun, kami di surga tahu dan memiliki informasi itu."

Sungguh maha kuasa Allah telah menciptakan sesuatu yang di luar nalar manusia.
Namun sebagian pendapat berbeda pandangan tentang pohon sidrotul muntaha dengan pohon hayat.
Bedanya jika pohon sidrotul muntaha itu daunya sebesar telinga gajah,  kalau pohon hayat itu daunnya kecil-kecil dan ada nama kita tertera di situ dan letaknya di lauhul makhfudz.

Kisah Tentang Aisyah


Fakta penting tentang Aisyah, istri Nabi Muhammad:

1. Ummu Al-Mu'minin

Aisyah binti Abu Bakar adalah salah satu istri Nabi Muhammad. Ia adalah putri Abu Bakar (khalifah pertama), hasil dari pernikahan dengan isteri keduanya, yakni Ummi Ruman. Dalam tradisi Islam, Aisyah kerap dijuluki sebagai ummu al-mu'minin yang artinya ibu orang-orang Mukmin. Ia dianggap sebagai sumber otoritatif dari banyak hadis yang membicarakan kehidupan pribadi Nabi Muhammad.

2. Aisyah adalah satu-satunya istri Nabi Muhammad yang saat dinikahi berstatus perawan. Sedangkan istri-istri Nabi Muhammad yang lain adalah janda

Aisyah dilahirkan empat atau lima tahun setelah Muhammad diutus menjadi Rasulullah. Ketika Abu Bakar merasa putrinya sudah cukup umur untuk dinikahkan, ia memilih Jubayr bin Mut’im. Tapi pernikahan tersebut batal. Ayah Jubair, Mut‘im bin ‘Adi, menolak Aisyah lantaran Abu Bakar telah memeluk Islam. Istri Mut’im bin Adi mengatakan enggak mau keluarganya mempunyai hubungan dengan kaum Muslim yang dapat menyebabkan Jubair berpindah ke agama baru itu.

3. Ditentang Kaum Syiah

Menurut Kecia Ali dalam The Lives of Muhammad (2014) (menurut Hisham ibn ‘Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang Rasulullah SAW pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada umur 9 tahun. Aisyah menjadi istri ketiga Nabi Muhammad setelah Khadijah dan Saudah binti Zam’ah. Tapi sebenarnya terdapat berbagai pendapat mengenai pada umur berapa sebenarnya Nabi Muhammad menikahi Aisyah. Sebagian besar hadis (termasuk sahih Bukhari dan sahih Muslim) menyatakan bahwa upacara perkawinan tersebut terjadi ketika Aisyah berusia 6, dan ia diantarkan memasuki rumah tangga Nabi Muhammad sejak umur 9. Tapi pendapat pakar menyebut setidaknya Aisyah berumur 19 saat menikah dengan Nabi.

4. Aisyah adalah istri Nabi Muhammad yang paling banyak meriwayatkan hadis

Dalam buku Women’s Rebellion & Islamic Memory (1996), Fatima Mernissi menjelaskan bahwa Aisyah menghasilkan hadis lebih banyak daripada Ali bin Abu Thalib. Ia mengutip pendapat Ibn Hajar, pengarang tujuh belas jilid Fath al-Bari, bahwa Ali hanya meriwayatkan 29 hadis, sementara Aisyah meriwayatkan 242 hadis. Sedangkan menurut Ibn Hajar, Fatimah (anak Rasullah SAW) nggak menyumbangkan apa-apa, meski ia adalah putri Nabi Muhammad dan istri Ali.

5. Aisyah mengobarkan perlawanan terhadap Ali bin Abu Thalib setelah Nabi Muhammad wafat

Kaum Syiah memberikan dukungan tanpa syarat kepada Ali dan hal itu karena mereka cenderung menentang Aisyah. Bahkan di era modern, ideologi Syiah masih masyhur, Ali Syariati dari Iran berpendapat bahwa wanita Muslim yang ideal adalah Fatimah, putri Rasulullah, yang enggak memainkan peranan politik yang nyata dalam Islam.

Bagi kaum Syiah, Aisyah adalah antimodel. Ia dicitrakan sebagai wanita yang menyeramkan. Kaum wanita, bagi kaum Syiah, harus berpuas diri seperti Fatimah, dengan menjadi ibu yang baik, anak wanita yang baik, dan istri yang baik.

Di Mesir, Sa’id al-Afghani menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk menulis biografi Aisyah. Pada bab pendahuluan dan simpulannya, al-Afghani mengatakan bahwa dia melakukan hal itu untuk membuktikan bahwa kaum wanita harus dihalangi dari kancah politik. Bukunya, Aisha and Politics (1971), merupakan suatu susunan yang sistematis dari seluruh karya konservatif mengenai kaum wanita.

Aisyah menganjurkan pembangkangan, ia memimpin pasukan ke medan perang sebagai penentang Khalifah Ali bin Abu Thalib pada 4 Desember 656 Masehi (36 Hijriah). Atas tindakannya itu, menurut Charis Waddy dalam Wanita dalam Sejarah Islam (1987), Aisyah ikut membantu jatuhnya sang khalifah. Salah satu akibat pertentangan Ali-Aisyah adalah terpecahnya kaum Mukmin menjadi Syiah dan Sunni.

6. Takziah terbanyak

Aisyah wafat pada Senin malam, 17 Ramadan 58 Hijriyah atau (13/07/678), saat melaksanakan salat sunah witir. Hal ini disampaikan menurut mayoritas ulama. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa ia wafat pada tahun 57 H dalam usia 63 tahun, sekian bulan. Para sahabat Ansar yang berdatangan bahkan nggak pernah menemukan satu hari pun yang lebih banyak orang bertakziah daripada hari itu, sampai-sampai penduduk sekitar Madinah turut berdatangan. Aisyah dikuburkan di permakaman Baqi’. Salat jenazahnya diimami Abu Hurairah dan Marwan bin Hakam yang saat itu adalah Gubernur Madinah.


Ziarah Kubur

Ziarah kubur sangat dianjurkan bagi Muslim karena banyak manfaat yang diperoleh. Secara bahasa ziarah artinya berkunjung. Sedangkan secara istilah, ziarah adalah mengunjungi makam orang yang sudah meninggal untuk mendoakannya, bertabaruk ataupun mengingat untuk kematian dan hari akhirat.

Para ulama menyatakan hukum ziarah kubur adalah sunah. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW:

Di antara dalil-dalil Sya’i tentang disunahkannya ziarah adalah sebagaimana hadist-hadist berikut.

عَنْ بَرِيْدَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِىْ زِيَارَةِ قَبْرِ اُمَّةِ فَزُوْرُوْهَا فَاِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلآخِرَةِ.(رواه الترمذي.٩٧٠) “

Dari Buraidah, ia berkata Rasulullah SAW bersabda “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.

Berkata as-Syaikh ‘Abdul Mu’thi as-Saqaa dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah “Berziarah dikuburan orang-orang muslim disunahkan bagi para pria berdasarkan hadits riwayat Muslim “Aku (dulu) melarang kalian berziarah kubur, (sekarang) berziarahlah karena ia mengingatkan kalian pada akhirat”.

Sedang bagi para wanita ziarah kubur hukumnya makruh bila bukan kuburan nabi,orang alim, orang shalih atupun kerabat, sedang menziarahi kuburan nabi dan orang yang telah disebutkan sunah baginya bila kuburannya masih dalam satu daerah atau diluar daerah saat dia bersama mahramnya.

Disunahkan memperbanyak ziarah dengan tujuan supaya dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat.

Berziarah ke makam para wali dan orang-orang shaleh juga telah menjadi tradisi para ulama salaf. Di antaranya adalah Imam al-Syafi’I radhiallahu anhu jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Seperti pengakuan beliau dalam rfiwayat yang shahih.

Dari Ali bin Maimun berkata” Aku mendengar imam al Syafi’i berkata” Aku selalu bertabaruk dengan Abu Hanifah dan berziarah mendatangi makamnya setiap hari. Apabila aku memiliki hajat, maka aku salat dua rakaat, lalu mendatangi makam beliau,dan aku mohon hajat itu kepada Allah SWT di sisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul.” ( Tarikh Baghdad,juz 1, hal. 123)

Hari dan Waktu Ziarah

Pada dasarnya ziarah kubur tidak dibatasi oleh hari maupun waktu. Namun, para ulama menyatakan ada hari-hari yang dianjurkan untuk berziarah di antaranya hari Kamis setelah 'asar dan Jumat.

Disebutkan dalam kitab I’anat at-Thalibin juz II hlm.142:

فَقَدْ رَوَى اْلحَاكِمُ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ اَبَوَيْهِ اوَ ْاَحَدَهُمَا فِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً غَفَّرَ اللهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدَيْهِ.

Hadist riwayat hakim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Siapa ziarah ke makam orang tuanya setiap hari Jumat, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatatnya sebagai bukti baktinya kepada orang tua".

Editor : Kastolani Marzuki

Share

Saat ziarah kubur ke makam orang tua, makam nabi, wali, maupun orang-orang saleh dianjurkan untuk membaca Alquran (Surat Yaasiin dan Al Ikhlas), tahlil dan berdoa.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ مُعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:(رواه ابو داود، ٢٧١٤) يس” اِقْرَؤُوْ عَلَى مَوْتَاكُمْ

Dari Ma’qilbin Yasar R.A berkata, Rosululloh SAW bersabda; Bacalah surat Yasin pada orang-orang mati di antara kamu,. “ (HR. Abu Dawud :2714 )

Di bagian lagi Imam Nawawi juga berkata:

قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)

"Imam Syafii dan ulama Syafi'iyah berkata: Disunahkan membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus" (al-Adzkar I/162 dan al-Majmu' V/294)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اْلأَنْصَارِيِّ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّيَ، قَالَ: فَلَمَّا صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَسُوِّيَ عَلَيْهِ، سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلاً، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ سَبَّحْتَ؟ ثُمَّ كَبَّرْتَ؟ قَالَ: لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ.

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallaahu ‘anhu berkata : Pada suatu hari kami keluar bersama Rasulullah saw menuju Sa’ad bin Mu’adz ketika meninggal dunia. Setelah Rasulullah saw menshalatinya,ia diltakkan di dalam kubur, dan kemudian diratakan dengan tanah, maka Rasulullah saw membaca tasbih, dan kami membaca tasbih dalam waktu yang lama. Baginda membaca takbir dan kami membaca takbir pula.

Kemudian baginda ditanya : Wahai Rasulullah, mengapa engkau membaca tasbih, kemudian membaca takbir?Baginda menjawab : Sungguh kuburan hamba Alloh yang shaleh ini benar-benar menghimpitnya,maka aku membacanya sehingga Alloh melepaskannya dari himpitan itu. (Hadits riwayat Ahmad dalam al-Musnad 14873, 15029, al-Hakim al-Tirmidzi dalam Nawadir Hadits di atas shahih dan sanadnya bernilai hasan).

Berikut susunan bacaan tahlil dan doa ziarah kubur yang dikutip dari Kitab Majmu’ Syarif dikutip iNews.id dari nu.online:

1. Pengantar Al-Fatihah

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Artinya, “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Untuk yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, dan para sahabatnya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah…”

2. Al-Fatihah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الَّمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. اَمِينْ

Artinya, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terlontar. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Kauanugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Semoga Kaukabulkan permohonan kami.”

3. Surat Al-Ikhlas (3 kali).

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. اَللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكٌنْ لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, ‘Dialah yang maha esa. Allah adalah tuhan tempat bergantung oleh segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.’” (3 kali).

4. Tahlil dan Takbir.

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.”

5. Surat Al-Falaq.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَاثاتِ فِى الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada tuhan yang menguasai waktu subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus nafasnya pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia mendengki.’”

6. Tahlil dan Takbir.

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah mahabesar.”

7. Surat An-Nas.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. اِلَهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُوْرِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada tuhan manusia, raja manusia. Sesembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Dari setan dan manusia.’”

8. Tahlil dan Takbir. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.

9. Surat Al-Fatihah.

10. Awal Surat Al-Baqarah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. المّ. ذَلِكَ الكِتابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدَى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَا اُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْاَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ. اُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ، وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Alif lam mim. Demikian itu kitab ini tidak ada keraguan padanya. Sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad SAW) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari tuhannya. Merekalah orang orang yang beruntung.”

11. Surat Al-Baqarah ayat 163.

وَاِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَّاحِدٌ لاَ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Artinya, “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang maha esa. Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

12. Ayat Kursi (Surat Al-Baqarah ayat 255)

اللهُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَاْ خُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَّهُ مَا فِى السَّمَوَاتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ اِلاَّ بِاِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَينَ اَيْدِيْهِمِ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلاَ يُحْيِطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ اِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ، وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمُا، وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيْمُ

Artinya, “Allah, tiada yang layak disembah kecuali Dia yang hidup kekal lagi berdiri sendiri. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberikan syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat menjaga keduanya. Dia maha tinggi lagi maha agung.”

13. Surat Al-Baqarah ayat 284-286.

لِلَّهِ مَا فِى السَّمَوَاتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ. وَاِنْ تُبْدُوْا مَافِى اَنْفُسِكُمْ اَوْ تَخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ. فَيَغْفِرُ لَمِنْ يَّشَاءُ وَيُعْذِّبُ مَنْ يَّشَاءُ. وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ. اَمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ. كُلٌّ اَمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ. لَانًفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهِ. وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا. لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتْسَبَتْ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَاْنَا. رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا. رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ. وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

14. Surat Hud ayat 73 sebanyak tiga kali.

ارْحَمْنَا، يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن

Artinya, “Kasihani kami, wahai Tuhan yang maha kasih.” (3 kali).

رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِ اِنَّهُ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ

15. Surat Al-Ahzab ayat 33.

اِنَّمَا يُريِدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا

Artinya, “Sungguh Allah berkehendak menghilangkan segala kotoran padamu, wahai ahlul bait, dan menyucikanmu sebersih-bersihnya,” (Surat Al-Ahzab ayat 33).

16. Surat Al-Ahzab ayat 56.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bacalah shalawat untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

17. Shalawat Nabi (3 kali).

اَلَّلهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ صَلَاةٍ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

18. Salam Nabi

وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ اَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ

Artinya, “Semoga Allah yang maha suci dan tinggi meridhai para sahabat dari pemimpin kami (Rasulullah).”

19. Surat Ali Imran ayat 173 dan Surat Al-Anfal ayat 40.

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ. نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ Artinya, “Cukup Allah bagi kami. Dia sebaik-baik wakil. (Surat Ali Imran ayat 173). Dia sebaik-baik pemimpin dan penolong,” (Surat Al-Anfal ayat 40).

20. Hauqalah.

وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Artinya, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang maha tinggi dan agung.”

21. Istighfar (3 kali).

اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ

Artinya, “Saya mohon ampun kepada Allah yang maha agung.” (3 kali).

22. Doa Tahlil.

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، فَلَكَ الحَمْدُ قَبْلَ الرِّضَى وَلَكَ الحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى وَلَكَ الحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ عَنَّا دَائِمًا أَبَدًا

اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ بِالقُرْآنِ العَظِيْمِ رَحْمَةً وَاسِعَةً، وَاغْفِرْ لَهُ مَغْفِرَةً جَامِعَةً يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ اللهُمَّ اغْفِرْ لَها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

وَاجْعَلِ اللهُمَّ ثَوَابًا مِثْلَ ثَوَابِ ذَالِكَ فِي صَحَائِفِنَا وَفِي صَحَائِفِ وَالِدِيْنَا وَمَشَائِخِنَا وَالسَّادَاتِ الحَاضِرِيْنَ وَوَالِدِيْهِمْ وَمَشَائِخِهِمْ خَاصَّةً وَإِلَى أَمْوَاتِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً

Artinya,

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dilontar. Dengan nama Allah yang maha pengasih, lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam sebagai pujian orang yang bersyukur, pujian orang yang memperoleh nikmat sama memuji, pujian yang memadai nikmat-Nya, dan pujian yang memungkinkan tambahannya. Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji sebagaimana pujian yang layak bagi kemuliaan dan keagungan kekuasaan-Mu.

Maha suci Engkau, kami tidak (dapat) menghitung pujian atas diri-Mu sebagaimana Kaupuji diri sendiri. Hanya bagi-Mu pujian sebelum ridha. Hanya bagi-Mu pujian setelah ridha. Hanya bagi-Mu pujian ketika Kau meridhai kami selamanya.”

“Ya Allah, turunkanlah rahmat yang luas kepadanya (arwah ahli kubur) dengan berkat Al-Qur’an yang agung, ampunilah ia dengan ampunan yang luas, wahai Penguasa dunia dan akhirat, Tuhan sekalian alam.”

“Ya Allah, ampunilah dirinya (perempuan), kasihanilah dirinya, afiatkan dirinya, dan maafkanlah dirinya, wahai Tuhan sekalian alam.”