Sabtu, 23 Februari 2013

Fatamorgana

Sejauh kau pergi dimanapun jini
Kita berada di bawah lengkung langit yang sama
Tentunya kau tahu
Dalam buku batinku terguris namamu
Kadang,ketika halaman putih penuh olehmu
Aku mendamba hujan untuk meluruhkan kenangan
Kata-katamu kadang bunga biru kadang rumput perdu
Membuatku mekar gemetar
Tapi biarlah kuingat tanpa sesal
Jika kelak kau kembali
Tiap kata punya makna sendiri
Mungkin tak lagi kau kenali


Tangerang Melati Mas



Minggu, 13 Januari 2013

Di dalam Kereta

Aku memandangi gerimis dari balik jendela
Derasnya telah sampai ke dada
Membanjiri hati dan ingatan
Sementara kereta membawa ragaku pada satu impian
Jiwaku masih menapaki rel yang lain
Dengan impian lain
Ketika rumah dan sawah berlarian ke arahku
Kemuadian menjauh meninggalkanku
Yang masih sibuk menimbang kata

Jerit

Jeriku tak lagi kau dengar
Dihembus rangkaian kabar
Saat doa membius
Aku perempuan lapar
Yang selalu mengisap isak
Suaraku tak lagi kau hampiri
Bahkan saat gelas ku lemparkan
Dan kau hanya sembunyi
Diantara tumpukan pakaian kotor



Menumpuk Puisi

Ku tumpuk  puisiku 

Ku tumpuk 

Tak lagi aku jenguk
Tak ada yang mengetuk
Cahaya saling silang
Membuat mata silau
Kutulis lagi puisi lalu ku tumpuk
Tak lagi ku peluk
Waktu meruntuhkan seluruh perkataanku
Memaku pintu
Bakarlah tubuhmu,puisiku
Bacalah api yang menghanguskanmu




Minggu, 14 Oktober 2012

.........

Membaca adalah melibatkan diri kita didalamnya.
Menyelusuri jejak dan sejarah tokoh-tokoh di dalamnya, mencecap segala rasa yang dihadirkan dalan cerita.
Kebahagiaan, kesedihan, penghinaan, penderitaan, ketekunan, pun ketegaran memiliki pesan tersendiri.
Aku biasanya berbaring dengan buku pada perutku, menghadap langit-langit kamar.
Sebuah buku terbuka untuk ku.
Segelas air putih dan beberapa gorengan dipiring kiriku ikut menemani.
Bahkan ketika aku sendiri.


Cahaya Dalam Sunyi

Ketika gelap dan hening mencapai puncaknya, gelombang laut pasang di dada melayarkan aku ke negeri yang amat jauh. Sejauh itu pula taringnya berlayar dan menancap di urat nadi leherku. Sedikit perih tapi melegakan. Dan tiba-tiba aku merasa sangat lapar dan dahaga. Barangkali hanya aku yang tetap setia mencari cahaya dengan mengendap-ngendap dalam sunyi.




Ujian

Setiap kali terdengar ketukan
Hanya bayang-bayang yang memanjang
Di depan berdiri lelaki tampan
Selalu, berdekatan
Kau singgah di depan, dibelakang
Kadang jua disamping bersebelahan
Kaulah yang pertama kali berderit
Sebelum yang lain menyembunyikan punggung tangan
Menyisakan waktu mengisi teka teki perjuangan
Sehabis menyelesaikan isian
Kau ajak aku mengimami akal yang lusuh
Digerus pergesekan otak kiri dan otak kanan
Rongga ini lebih hiruk dari segala macam peperangan
Dan akal kita lebih sibuk dari mesin pesawat tempur, katamu
Kau ajak aku membenarkan letak setiap jawaban
Karena aku sering lupa akal dimana kita rumahkan
Di dada atau di kepala?
Lupa pula
Dimana kelak nanti kita bersama


1995