Sabtu, 18 November 2023

Hari-hari Terakhir di Mekkah (10)



Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. Hampir tiga puluh puluh hari saya telah meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji di Mekkah hanya 30 hari. 

Ka’bah yang selalu dirindukan

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.


Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk
 kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).



Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkin tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.


Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 56/JKS akan pulang nanti tanggal 4 September 2019 melalui bandara Kota Madinah. Jamaah haji gelombang kedua masih ada yang tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.


Sebelum berangkat ke Kota Madinah, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf Wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. (Tapi ternyata Masjidil Haram penuh sesak, pada akhirnya rombongan kami melakukan tawaf Wa'da di roof top Masjidil Haram). Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari-hari tasyrik,jadi kami bisa ke Haram naik bus lagi. Masjidil Haram sesak dengan jamaah karena ternyata jamaah haji dari berbagai negara juga melakukan tawaf Wa'da dan untuk pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan dengan Baitullah. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah. Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah KBIH  meninggalkan Masjidil Haram. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah rasanya sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak dan orangtua serta adik bungsu saya, semoga kami semua segera bersama2 bisa umroh dan berhaji kembali. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar dikabulkan semua doa yang saya panjatkan. Saya menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.


Saya mengisi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Kami berjalan ke arah pintu keluar Masjidil Haram melalui jalur sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang dari pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

Persiapan Ke Madinah

Sehari sebelum keberangkatan ke Madinah, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dimasukan ke dalam bus. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Bandara  untuk mengeluarkannya.


Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Madinah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Jam 9 pagi waktu Saudi bus bergerak meninggalkan Mekkah. Ada perasaan sedih meninggalkan kota ini pada saat lagi betah-betahnya disini. Jamaah haji tidak akan kembali lagi ke Mekkah, jadi hari ini adalah hari terakhir kami di Mekkah. Magnit utama di Mekkah adalah Masjidil Haram dan Ka'bah berada disana. Di Mekkah inilah seluruh umat Rasulullah ingin kembali untuk berumroh dan berhaji, mengenang perjuangannya di masa lalu. 

Selamat tinggal kota Mekkah. Izinkan saya bisa kembali lagi ke sini bersama anak, orangtua,adik2 dan seluruh keluarga besar melaksanakan umrah dan kembali berhaji suatu hari nanti.


Pemandangan Baitullah difoto dari Zamzam tower.

Istana Raja Salman, tempat menjamu tamu-tamu kenegaraan yang akan umroh dan berhaji. Sebelah kanan dari arah Zamzan Tower .

Mushola Hotel Al Zair Al Khalil di lantai 6 

Lantai di hotel Zamzam Tower tempat area ke Fast Food

bis yang akan membawa kami ke Madinah. Berat rasanya meninggalkan Kota Mekkah.




 

Selamat Datang di Kota Madinah


Selamat datang di kota Nabi, Madinah yang penuh barokah, ahlan wa sahlan. Inilah Madinah, kota yang damai dan tenteram. Ya Rasulullah, saya sampai ke kotamu yang warganya dulu menyambutmu beserta kaum muhajrin lainnya dengan ramah dan tangan terbuka.

Enam jam perjalanan dengan bus sampailah kami di hotel Barokah Ohoud.  Hotel Barokah Ohoud terletak persis di belakang Masjid Nabawi, yaitu di balik pagar masjid, tepatnya pintu gerbang 6 dan atau pintu gerbang 7. Sangat dekat sekali, hanya sepelemparan batu saja, kurang lebih 500 meter. 


Hotel Barokah Ohoud, tempat kami menginap, terletak Gate 6 dan Gate 7


Pemerintah RI telah menyewa puluhan hotel di sekitar Masjid Nabawi. Hotel-hotel untuk pemondokan jamaah haji Indonesia di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi, paling dekat 50 meter dan paling jauh adalah 500 m. Kondisi ini sangat berbeda ketika di Mekah, hotel pemondokan jamaah haji Indonesia letaknya cukup jauh dari Masjidil Haram, paling dekat 1 km, paling jauh 7 km dari Haram (sebutan untuk masjidil haram).

Hotel-hotel di sekitar Masjid Nabawi



Sesampai  di hotel, petugas kloter dan ketua rombongan  langsung melakukan pembagian kamar. Satu kamar bisa diisi dengan empat hingga enam orang. Hotel Barokah Ohoud tidak terlalu besar, terdiri dari 15 lantai, kamar-kamarnya sangat banyak. Hotel ini dapat menampung 15.000 jamaah haji. Hotel Barokah Ohoud menjadi pemondokan jamaah dari berbagai kloter dan daerah di tanah air. Jamaah haji yang menempati hotel ini saya ketahui datang dari Garut, Karawang, Kabupaten Cirebon Tegal, Kabupaten Bandung, dan lain-lain.

Satu kamar dengan empat tempat tidur


Satu persoalan selama tinggal di hotel di Madinah adalah tidak ada tempat untuk menjemur pakaian, padahal kita cukup lama di Madinah yaitu selama sembilan hari. Hotel di Madinah tidak menyediakan rooftop untuk menjemur pakaian sebagaimana hotel di Mekah. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa laundry di hotel atau laundry di luar, tetapi tentu harganya cukup mahal. Alternatifnya adalah menjemur pakaian di dalam kamar mandi. Namun saya melihat jendela di sebelah tempat tidur saya bisa digeser sedikit jendelanya. Lubang-lubang jeruji di balik jendela itu ternyata bisa digunakan untuk mengaitkan gantungan jemuran. Saya membawa beberapa gantungan jemuran dari rumah. Jadilah kami dan teman sekamar bergantian menjemur pakaian di balik jendela itu. Menjemur pakaian di Madinah tidak perlu menunggu waktu lama untuk kering. Udara yang panas membuat pakaian basah cepat kering. Tiga sampai empat jam saya jemur pada siang hari sudah kering.

Karena hotel ini menampung belasan ribu jamaah haji, maka kejadian yang menguji kesabaran adalah saat naik lift menuju lantai kamar. Usai sholat di Masjid Nabawi, ratusan jamaah haji dalam waktu yang bersamaan kembali ke hotel  untuk beristirahat dan makan. Lift yang tersedia di berbagai sisi di hotel jumlahnya terbatas sementara yang mau naik ratusan orang. Maka yang terjadi adalah tumpukan jamaah yang tidak sabar untuk antri naik lift. Usai sholat Dzuhur dan Isya di Masjid Nabawi adalah saat-saat rush hour di depan lift hotel.

Pemandangan padatnya jamaah menunggu naik lift saat rush hour 



Tipikal orang Indonesia adalah  tidak mau antri atau membentuk barisan yang tertib. Mereka saling dorong untuk masuk lift terlebih dahulu. Lift bergerak menuju setiap lantai untuk menurunkan jamaah dari lantai dua sampai lantai 15, lalu kembali ke bawah. Terbayang kan lama sekali menunggu lift itu turun kembali ke lantai dasar. Oleh karena itu, banyak jamaah haji memilih menunggu dulu di masjid sampai merasa antrian di lift sudah mulai berkurang, baru kemudian pulang.

Antri naik lift

Masjid Nabawi yang terletak persis dibelakang hotel memudahkan saya dan jamaah lain untuk setiap waktu ke sana. Cukup berjalan kaki selama 5 menit sampailah kita ke pintu masjid.  Masjid Nabawi sangat luas. Kata ustad pembimbing haji kami, dulu luas kota Yastrib (Madinah sekarang) adalah seluas masjid Nabawi sekarang.

Berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi melalui pelatarannya memakan waktu setengah jam. Waktu yang cocok untuk berjalan mengelilingi  Masjid Nabawi adalah seusai sholat subuh, sore hari menjelang Maghrib, atau malam selepas Isya. Saat itu udara kota Madinah sudah mulai sejuk. Payung-payung raksasa di pelataran masjid sudah menguncup. Ketika siang hari, payung-payung itu dikembangkan agar jamaah terlindung dari panas menyengat. Payung-payung dikembangkan secara otomatis dari sentralnya setiap usai sholat Subuh dan dikuncupkan lagi menjelang sholat Mahgrib. Sangat menarik menyaksikan detik-detik payung-payung itu mengembang atau menguncup saat bersamaan. Jika pada siang hari kita datang ke masjid,  kita tidak dapat melihat rupa masjid secara utuh karena tertutup oleh payung-payung itu. Jadi waktu terbaik memotret masjid adalah saat payung itu menguncup.

Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.


Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.



Jamaah haji harus menghafal nomor-nomor pintu masjid dan nomor pintu gerbang agar tidak kesasar. Pintu masuk masjid banyak sekali, jadi jangan sampai lupa nomornya. Masuk dari pintu berapa dan keluar lagi melalui pintu yang sama. Jangan sekali-sekali merasa takabur dengan mengatakan “ah, gampang kok“, seringkali saya mendengar cerita jamaah yang tidak tahu arah pulang karena merasa takabur. Jadi, hati kita harus dibersihkan, jangan sombong atau takabur.  Dulu waktu saya umrah pintu gerbang tidak diberi nomor, hanya bangunan toilet yang diberi nomor, sekarang setiap pintu gerbang sudah diberi nomor. Hotel saya terletak di antara gerbang nomor 6 dan 7.

Saat malam hari setelah sholat Isya atau sholat Subuh adalah saat yang cukup syahdu untuk  berjalan-jalan di pelataran masjid menikmati rupa Masjid Nabawi. Langit malam di atas masjid Nabawi tampak bersih tanpa awan. Tidak tampak bintang-bintang, tetapi sepotong bulan sabit terlihat menggantung begitu indahnya.

Di antara ribuan jama’ah perempuan di Masjid Nabawi yang juga banyak berbusana serba hitam, keberadaannya tetap sangat terlihat khas. Berjubah hitam, bercadar, berkaus tangan dan berkaus kaki, sehingga hanya meninggalkan sepasang mata yang awas, menyelidik, siap menyapu sekeliling masjid. Askar. Kucari artinya adalah tentara, pengawal. Memang untuk menertibkan ribuan jama’ah dari berbagai negara dengan macam-macam karakter, kebiasaan dan ‘kebandelan’, diperlukan petugas yang tegas, waspada kalau perlu cerewet, agar suasana dan kondisi sholat berjama’ah di masjid nan agung itu berlangsung khidmat, khusyu dan tertib.

Sebelum bisa masuk masjid, jamaah harus bersih, siapa saja tak akan lolos dari 2 sang askar. Mereka akan mengobok-obok tas, mengenali isinya dengan memegang, jika ada yang dicurigai sebagai kamera profesional atau makanan basah berkuah atau membawa tas belanja maka serta merta sang jama’ah ditahan tidak boleh masuk; alternatifnya adalah sholat di pelataran luar masjid. 

Jadi di dalam masjid bisa dilihat para askar berjalan hilir mudik di antara shaf-shaf jama’ah. Instruksinya dalam bahasa Arab, bahasa Inggris, atau Melayu terdengar lantang dan galak. Saya kagum akan refleks mereka mengenali ras kami para jama’ah. Para askar itu akan langsung berbahasa melayu jika berhadapan dengan kami warga Indonesia atau Malaysia: “Ibu….ibu….ke sana…ke sana…!! Sambil telunjuknya menunjuk ke sisi masjid yang masih menyisakan banyak tempat kosong. Saat berhadapan dengan jama’ah dari Turki, Mesir, Mongolia, atau Uzbekistan mereka berbahasa Inggris atau Arab.

Lain halnya jika berhadapan dengan jama’ah Afrika, bahkan yang berasal dari jazirah Arab askar-askar itu sangat galak dan keras. Karena sang jama’ah sering ngeyel malah bebantah-bantahan. Di larang masuk karena sudah tak ada tempat, malah ngotot sholat di jalan tempat lalu lalang. Astaghfirullah.

Sepotong bulan di atas langit Madinah.

Jamaah haji berada di Madinah selama sembilan hari untuk dapat melaksanakan arbain, yaitu sholat wajib 40 kali di Masjid Nabawi. Karena pemondokan jamaah haji hampir seluruhnya sangat dekat dengan masjid Nabawi, maka jamaah haji insya Allah dapat melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali di sana. Saya sudah menghitung sejak  mulai check-in  di hotel hingga check-out, memang pas waktunya untuk 40 kali sholat wajib di Masjid Nabawi. Sholat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunnah, jadi jamaah haji tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan. Tapi kalau badan sehat usahakanlah karena kesempatan sholat di Masjid Nabawi adalah langka, tidak akan kita dapatkan kalau kita sudah pulang ke tanah air.

Selama di Madinah jamaah haji mendapat makan dari Pemerintah RI setiap hari dua kali sehari (makan siang dan makan malam). Pemerintah Indonesia menyediakan layanan catering haji tahun ini sebanyak 40 kali, lebih banyak daripada tahun lalu yang hanya 25 kali. Perusahaan catering haji di Madinah dan Makkah wajib menyediakan makanan dengan menu Indonesia. Bumbu-bumbu masakan didatangkan dari Indonesia. Koki yang memasak makanan sudah dilatih oleh tim dari NHI,  sebuah perguruan tinggi bidang perhotelan di Bandung, agar bisa memasak masakan dengan menu Indonesia.

Catering haji di Madinah (nasi kotak untuk makan siang)

Catering haji diantar ke hotel tempat jamaah menginap dua kali sehari. Satu paket catering terdiri dari nasi kotak, buah segar (bervariasi, kadang pisang, apel, pir, atau jeruk), dan satu botol air mineral atau juice buah. Biasanya paket catering sudah sampai di hotel pukul 10 pagi untuk makan siang dan pukul 16 sore untuk mkakan malam. Jadi, sebelum sholat Dzuhur dan sebelum sholat Maghrib kita sudah bisa makan. Kalau jamaah ingin tetap berada di Masjid Nabawi dari Maghrib sampai Isya, maka sebaiknya makan malam sebelum berangkat sholat maghrib ke Masjid Nabawi sudah bisa dilakukan di hotel. Sehingga,  pulang sholat Isya dari Masjid Nabawi jamaah tinggal beristirahat (tidur) saja lagi.

Layanan catering di Madinah dan Makkah, menu catering di Madinah cenderung lebih enak rasanya dan lebih variatif dibandingkan menu catering di Makkah. Memang soal rasa sangat subyektif pada setiap orang. Menu catering di Makkah cenderung membosankan (itu-itu saja) dan kurang ada rasa (bumbu), sedangkan menu catering di Madinah lebih kaya bumbu. Tapi saya tetap memakannya, anggap saja semua itu adalah rezeki dari Allah dan jangan ditolak.

Menu catering di Madinah cenderung pedas, sedangkan di Makkah rasanya manis. Bagi saya yang orang Sunda, saya merasa cocok dengan catering di Madinah, tetapi kurang cocok dengan catering di Makkah. Untunglah saya membawa bekal rendang dari Bandung, sehingga kalau menu cateringnya kurang cocok dengan lidah saya, maka rendang iniah sang “penyelamat” makan, he..he. Saya rasa hampir setiap jamaah haji dari  setiap daerah membawa masakan khas mereka sendiri  ke Tanah Suci untuk mengantisipasi masakan yang kurang sesuai selera.

Menu makan siang dari catering haji

Untuk sarapan pagi jamaah haji harus mencari sendiri. Bekal mie instan seperti Indomie dari tanah air buat saya tidak cukup membantu untuk sarapan pagi. Sebenarnya kita tidak perlu membawa banyak mie instan dari tanah air, sebab di Makkah dan Madinah mie instan Indomie dalam kemasan bahasa Arab banyak dijual di supermarket maupun toko-toko kelontong di sana, harganya 2 riyal (1 riyal sekitar 4000 rupiah).

Tentu membosankan dan kurang menyehatkan jika sarapan pagi selalu dengan mie instan terus. Di sekitar hotel banyak gerai yang menjual kentang goreng dan kebab khas Arab bernama shawarma. Kentang goreng dan shawarma harganya sama yaitu 5 riyal. Shawarma isinya potongan daging ayam panggang yang dicampur dengan sayur kol yang sudah disiram dengan saus, lalu dibungkus dengan lapisan roti tipis seperti kebab umumnya. Rasanya segar dan gurih, lebih enak jika ditambahkan saus cabe.

Pedagang shawarma (kebab Arab). 

Beberapa restoran Indonesia juga terdapat di sekitar hotel. Ada bakso, ikan goreng, tempe, dan lain-lain, tetapi harganya cukup mahal. Bakso di Grapari Madinah yang terletak di Hotel Millenium lantai dasar misalnya, harganya 15 riyal (60 ribu rupiah), sudah termasuk satu botol air minum. Biasanya restoran Indonesia ramai saat sarapan pagi usai sholat subuh.

37880786_1969617303106285_2325967507975831552_n

Rumah makan Indonesia di Hotel Andalusia, dekat gerbang 17

37775469_1969618939772788_6720018750306779136_n

Bakso si Doel, 14 riyal, akan tetapi karena saya sudah suka dengan Bakso Grapari2 seharga 15 riyal di Hotel Millenium yang letaknya dekat pemondokan saya, Hotel Barakah Ohoud. Masuk ke Milennium ambil arah ke eskalator, turun satu kali berdekatan dengan jasa laundry. Enak segar rasa bumbunya terasa seperti di kampung halaman...nasi goreng, bakwan goreng macam2 menu Indonesia, yang pasti sambal cabenya ..segar nikmat.

Usai sholat Subuh di Masjid Nabawi jamaah haji kembali ke hotel, sebagian lagi jalan-jalan di pertokoan yang banyak terdapat di lantai dasar dan lantai basement setiap hotel, apalagi kalau bukan untuk  berbelanja. Oh iya, hampir setiap hotel di sekitar masjid Nabawi memiliki pertokoan di lantai dasar dan basement. Antara satu hotel dan hotel lain sering ada jalur bawah tanah yang menghubungkan pertokoan itu. Paling banyak toko yang menjual perhiasan emas, sajadah, peci haji, dan jam tangan. Ibu-ibu sangat senang mengunjungi toko emas, sebab emas di Madinah dan Makkah kualitasnya bagus-bagus.

Jamaah haji Indonesia dengan ciri khas kain sarungnya.


Jamaah haji Indonesia mudah kita temukan di mana-mana di Madinah. Pertama karena jumlahnya paling banyak dibandingkan dari negara lain. Kedua, ciri khasnya adalah pakaian mereka. Jamaah haji Indonesia dikenali dari kopiahnya, baju batiknya, atau kain sarungnya.  Kebiasaan orang Indonesia, terutama kaum santri atau nahdliyin dari Jawa, yang selalu memakai sarung ketika ke masjid juga dibawa ke Tanah Suci.  Namun itulah kekhasan bangsa kita. Sarung dan batik adalah salah satu ciri khas jamaah haji Indonesia. Selain itu kita patut bersyukur, jamaah haji Indonesia paling lama tinggal di Madinah, sementara jamaah negara Malaysia, Jepang dan banyak lagi mereka berada di Kota Madinah hanya selama tiga hari.


Berhaji


Ritual ibadah haji sudah ditentukan waktu dan tempatnya sesuai syariat dalam Alquran dan Hadits. Setiap tahun waktu dan tempat itu tidak akan pernah berubah.

Ada beberapa tempat yang telah ditentukan dalam pelaksaan haji memiliki sejarah masing-masing. Sehingga layak dikinjungi berulang-ulang saat umrah atau setelah ritual wajib haji selesai.

Pemimpin rombongan idealnya harus mengetahui dan memahami saat rekreasi dalam perjalanan haji diselenggarakan. Rekreasi tidak harus menggunakan kendaraan, dengan berjalan kaki pun dapat dilaksanakan.

Ini merupakan salah satu langkah antisipatif untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kebosanan.

Tentu saja tempat yang dituju diutamakan yang terdapat unsur sejarahnya. Tempat mana yang dituju sangat bergantung pada kejelian pemimpin rombongan, oleh karenanya, pengetahuan tentang tempat rekreasi itu harus dikuasai oleh pemimpin rombongan dan dan calon jamaah haji.

Selama berhaji, calon jamaah haji mempunyai banyak kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan beberapa tempat yang bernilai sejarah tinggi dalam perkembangan Islam.

Tempat-tempat bersejarah itu berada di Makkah, Madinah dan Jeddah. Upayakan jamaah dapat memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat itu agar berhaji mempunyai wawasan yang luas terhadap perkembangan Islam.

"Untuk itu sebelum berangkat calon jamaah dapat mempelajari tempat-tempat bersejarah itu dengan membaca buku, memutar CD," katanya.

Yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan di tempat-tempat itu agar hal-hal yang dilarang dapat dihindari. Beberapa tempat sejarah itu di antaranya adalah di Makkah meliputi Masjidil Haram sekitar Masjidil Haram dan sekitar Mekah, sedang di Madinah meliputi Masjid Nabawi sekitar Masjid Nabawi dan sekitar Madinah.

Misalnya di Masjidil Haram itu ada Kabah, Hijr Ismail, Multazam, Maqom Ibrahim, pintu Ka'bah, Safa ke Marwah, bekas Darun Nadwah, bekas rumah al-arqam.

Sekitaran Masjidil Haram ada rumah Khadijah, rumah kelahiran Nabi, masjid kucing (Abu Hurairah) Masjid Syajarah Masjid Jin, Makam Ma'la, Masjid Abu Bakar, Makam Khadizah.

Sekitar Makkah ada Jana Tsur, Arafah, Jabal Rahmah, Multazam, Mina (Jamarot) Masjid Bai'h, Jabal Nur (Gua Hir) Masjid Ji'ronah, Jabal kurban, Masjid tan'im, Masjid Aisyah pembuatan kiswah, museum dua masjid Suci, masjid sumaisy (hudaibiyah).

Masjid Nabawi ada Raudhah, makam Nabi, rumah nabi, mimbar nabi, tiang-tiang bersejarah, Ahlul Suffah. Di sekitar Masjid Nabawi ada Makam Baqi, Masjid Ali bin Abi Tholib, Masjid Abu Bakar, Masjid Ghamamah, Masjid Umar Bin Khattab, pasar kurma, Masjidil Ijabah, Masjid Abu Dzar al-ghifari, Tsaqifah Bani Sa'idah.

Di sekitar Madinah ada Masjid Quba, Masjid Jum'ah, Jabal Uhud, Makam Hamzah, Masjid Syuhada, Uhud, Khandaq, Masjid qiblatain, percetakan Alquran. Pusat pengolahan kurma. Kebun Kurma, Mantiqa Baidah, (Bukit Magnet) peternakan unta perah.

Di Jeddah ada Laut Merah, masjid Rahmat, Masjid apung, air muncrat, monumen di kota Jeddah, pertokoan Quraisy (balad) pertokoan Mahmud Said (Oasis).

Tidak semua tempat tersebut dapat dikunjungi dalam satu waktu, akan tetapi dapat dilakukan dengan pengaturan waktu yang baik dan tepat. Ada beberapa tempat yang bahkan mungkin tidak dapat dikunjungi karena keterbatasan waktu.

Kunjungan atau ziarah diupayakan waktunya tidak mengganggu kegiatan ibadah jamaah, misalnya ziarah diselenggarakan:

1. Bukan pada hari Jumat

2. Jamaah tidak dalam keadaan lelah.

3. Upayakan semua jamaah dapat ikut serta dan kembali dalam keadaan sehat sehingga dapat melakukan kegiatan lainnya.

4. Upaya untuk dilaksanakan sebelum namun tidak dekat dengan hari H, kecuali kalau memang dalam keadaan terpaksa.

5. Upayakan memberikan penjelasan atau pengajian tentang sejarah, apa yang harus dilakukan jamaah terhadap tempat-tempat yang akan diziarahi sebelum pelaksanaan, sehingga jamaah dapat memahami tempat tersebut dan yang lebih penting jamaah tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.

Rabu, 12 Juli 2023

Sejarah Setrika


Setrika adalah alat elektronik andalan di setiap rumah. Inilah sejarah penemuan dan perkembangan teknologinya.

Setrika sudah ada sejak peradaban China, sampai akhirnya teknologi modern mengubahnya hari ini. Inilah urutannya:

1. Periode Tiongkok

Tidak ada catatan pasti kapan menyetrika dilakukan. Tapi catatan pertama mengindikasikan abad ke-1 SM di Tiongkok, orang-orang sudah menggunakan panci logam yang diisi air panas untuk menghaluskan pakaian dan menghapus lipatan kain.

2. Abad ke-17

Di periode ini, setrika menggunakan lembaran besi besar yang biasa disebut besi datar, dilengkapi pegangan yang dipanaskan di atas api. Tujuannya untuk menghaluskan kerutan kain. Cara penggunaannya harus menunggu besi tersebut panas kemudian berhenti ketika sudah dingin, lalu mengulangi dari awal lagi.

Setrika arang

Melompat lebih jauh lagi, orang menggunakan kotak besi yang diisi bara panas atau sisipan logam panas. Untuk membuat lebih efisien, orang menggunakan beberapa setrika sekaligus.

Hal ini untuk mengantisipasi proses yang panjang dan melelahkan karena harus dipanaskan dahulu. Ketika satu setrika mulai dingin, maka mereka akan beralih ke setrika lain yang sudah panas.

3. Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20

Pada periode ini, perkembangan besi sudah jauh lebih modern. Banyak ditemukan setrika yang dipanaskan dengan etanol, gas alam, atau minyak ikan paus.

Setrika listrik

Perangkat ini ditemukan oleh Henry W Seeley tahun 1880-an di New York. Alat ini menggunakan alumunium atau baja tahan karat untuk memanaskan plat dengan suhu yang bisa dipertahankan secara stabil. Terdapat thermostat yang menghidupkan dan mematikan elemen pemanas jika terlalu panas atau dingin.

Alat ini mulai masuk di pasaran tahun 1920-an dengan thermostat untuk mengontrol suhu.

Setrika uap

Thomas Sears adalah orang di balik penemuan setrika uap. Pertama kali digunakan oleh perusahaan pembersih New York tahun 1926. tapi, baru pada 1938 setrika ini sukses secara komersial. Dijual dengan harga US$ 10 (Rp 149.732) setrika uap membanjiri pasar pada pertengahan 1900-an.

Logam terbaru

Saat ini, penyempurnaan setrika sudah banyak dilakukan untuk memudahkan pekerjaan menyetrika. Terdapat beberapa fitur yang perlu diperhatikan ketika membeli setrika baru, seperti pengumpul anti kerak agar keluaran uap tidak terpengaruh kerak kapur, pengaturan mati otomatis, fitur semprot agar lebih mudah menghaluskan kerutan, dan tapak setrika Andilium agar lebih tahan lama.