
Hotel Barokah Ohoud, tempat kami menginap, terletak Gate 6 dan Gate 7
Satu persoalan selama tinggal di hotel di Madinah adalah tidak ada tempat untuk menjemur pakaian, padahal kita cukup lama di Madinah yaitu selama sembilan hari. Hotel di Madinah tidak menyediakan rooftop untuk menjemur pakaian sebagaimana hotel di Mekah. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa laundry di hotel atau laundry di luar, tetapi tentu harganya cukup mahal. Alternatifnya adalah menjemur pakaian di dalam kamar mandi. Namun saya melihat jendela di sebelah tempat tidur saya bisa digeser sedikit jendelanya. Lubang-lubang jeruji di balik jendela itu ternyata bisa digunakan untuk mengaitkan gantungan jemuran. Saya membawa beberapa gantungan jemuran dari rumah. Jadilah kami dan teman sekamar bergantian menjemur pakaian di balik jendela itu. Menjemur pakaian di Madinah tidak perlu menunggu waktu lama untuk kering. Udara yang panas membuat pakaian basah cepat kering. Tiga sampai empat jam saya jemur pada siang hari sudah kering.Karena hotel ini menampung belasan ribu jamaah haji, maka kejadian yang menguji kesabaran adalah saat naik lift menuju lantai kamar. Usai sholat di Masjid Nabawi, ratusan jamaah haji dalam waktu yang bersamaan kembali ke hotel untuk beristirahat dan makan. Lift yang tersedia di berbagai sisi di hotel jumlahnya terbatas sementara yang mau naik ratusan orang. Maka yang terjadi adalah tumpukan jamaah yang tidak sabar untuk antri naik lift. Usai sholat Dzuhur dan Isya di Masjid Nabawi adalah saat-saat rush hour di depan lift hotel.
Masjid Nabawi yang terletak persis dibelakang hotel memudahkan saya dan jamaah lain untuk setiap waktu ke sana. Cukup berjalan kaki selama 5 menit sampailah kita ke pintu masjid. Masjid Nabawi sangat luas. Kata ustad pembimbing haji kami, dulu luas kota Yastrib (Madinah sekarang) adalah seluas masjid Nabawi sekarang.
Berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi melalui pelatarannya memakan waktu setengah jam. Waktu yang cocok untuk berjalan mengelilingi Masjid Nabawi adalah seusai sholat subuh, sore hari menjelang Maghrib, atau malam selepas Isya. Saat itu udara kota Madinah sudah mulai sejuk. Payung-payung raksasa di pelataran masjid sudah menguncup. Ketika siang hari, payung-payung itu dikembangkan agar jamaah terlindung dari panas menyengat. Payung-payung dikembangkan secara otomatis dari sentralnya setiap usai sholat Subuh dan dikuncupkan lagi menjelang sholat Mahgrib. Sangat menarik menyaksikan detik-detik payung-payung itu mengembang atau menguncup saat bersamaan. Jika pada siang hari kita datang ke masjid, kita tidak dapat melihat rupa masjid secara utuh karena tertutup oleh payung-payung itu. Jadi waktu terbaik memotret masjid adalah saat payung itu menguncup.

Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.
Jamaah haji harus menghafal nomor-nomor pintu masjid dan nomor pintu gerbang agar tidak kesasar. Pintu masuk masjid banyak sekali, jadi jangan sampai lupa nomornya. Masuk dari pintu berapa dan keluar lagi melalui pintu yang sama. Jangan sekali-sekali merasa takabur dengan mengatakan “ah, gampang kok“, seringkali saya mendengar cerita jamaah yang tidak tahu arah pulang karena merasa takabur. Jadi, hati kita harus dibersihkan, jangan sombong atau takabur. Dulu waktu saya umrah pintu gerbang tidak diberi nomor, hanya bangunan toilet yang diberi nomor, sekarang setiap pintu gerbang sudah diberi nomor. Hotel saya terletak di antara gerbang nomor 6 dan 7.Saat malam hari setelah sholat Isya atau sholat Subuh adalah saat yang cukup syahdu untuk berjalan-jalan di pelataran masjid menikmati rupa Masjid Nabawi. Langit malam di atas masjid Nabawi tampak bersih tanpa awan. Tidak tampak bintang-bintang, tetapi sepotong bulan sabit terlihat menggantung begitu indahnya.
Di antara ribuan jama’ah perempuan di Masjid Nabawi yang juga banyak berbusana serba hitam, keberadaannya tetap sangat terlihat khas. Berjubah hitam, bercadar, berkaus tangan dan berkaus kaki, sehingga hanya meninggalkan sepasang mata yang awas, menyelidik, siap menyapu sekeliling masjid. Askar. Kucari artinya adalah tentara, pengawal. Memang untuk menertibkan ribuan jama’ah dari berbagai negara dengan macam-macam karakter, kebiasaan dan ‘kebandelan’, diperlukan petugas yang tegas, waspada kalau perlu cerewet, agar suasana dan kondisi sholat berjama’ah di masjid nan agung itu berlangsung khidmat, khusyu dan tertib.
Jadi di dalam masjid bisa dilihat para askar berjalan hilir mudik di antara shaf-shaf jama’ah. Instruksinya dalam bahasa Arab, bahasa Inggris, atau Melayu terdengar lantang dan galak. Saya kagum akan refleks mereka mengenali ras kami para jama’ah. Para askar itu akan langsung berbahasa melayu jika berhadapan dengan kami warga Indonesia atau Malaysia: “Ibu….ibu….ke sana…ke sana…!! Sambil telunjuknya menunjuk ke sisi masjid yang masih menyisakan banyak tempat kosong. Saat berhadapan dengan jama’ah dari Turki, Mesir, Mongolia, atau Uzbekistan mereka berbahasa Inggris atau Arab.
Lain halnya jika berhadapan dengan jama’ah Afrika, bahkan yang berasal dari jazirah Arab askar-askar itu sangat galak dan keras. Karena sang jama’ah sering ngeyel malah bebantah-bantahan. Di larang masuk karena sudah tak ada tempat, malah ngotot sholat di jalan tempat lalu lalang. Astaghfirullah.
Jamaah haji berada di Madinah selama sembilan hari untuk dapat melaksanakan arbain, yaitu sholat wajib 40 kali di Masjid Nabawi. Karena pemondokan jamaah haji hampir seluruhnya sangat dekat dengan masjid Nabawi, maka jamaah haji insya Allah dapat melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali di sana. Saya sudah menghitung sejak mulai check-in di hotel hingga check-out, memang pas waktunya untuk 40 kali sholat wajib di Masjid Nabawi. Sholat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunnah, jadi jamaah haji tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan. Tapi kalau badan sehat usahakanlah karena kesempatan sholat di Masjid Nabawi adalah langka, tidak akan kita dapatkan kalau kita sudah pulang ke tanah air.
Selama di Madinah jamaah haji mendapat makan dari Pemerintah RI setiap hari dua kali sehari (makan siang dan makan malam). Pemerintah Indonesia menyediakan layanan catering haji tahun ini sebanyak 40 kali, lebih banyak daripada tahun lalu yang hanya 25 kali. Perusahaan catering haji di Madinah dan Makkah wajib menyediakan makanan dengan menu Indonesia. Bumbu-bumbu masakan didatangkan dari Indonesia. Koki yang memasak makanan sudah dilatih oleh tim dari NHI, sebuah perguruan tinggi bidang perhotelan di Bandung, agar bisa memasak masakan dengan menu Indonesia.
Catering haji diantar ke hotel tempat jamaah menginap dua kali sehari. Satu paket catering terdiri dari nasi kotak, buah segar (bervariasi, kadang pisang, apel, pir, atau jeruk), dan satu botol air mineral atau juice buah. Biasanya paket catering sudah sampai di hotel pukul 10 pagi untuk makan siang dan pukul 16 sore untuk mkakan malam. Jadi, sebelum sholat Dzuhur dan sebelum sholat Maghrib kita sudah bisa makan. Kalau jamaah ingin tetap berada di Masjid Nabawi dari Maghrib sampai Isya, maka sebaiknya makan malam sebelum berangkat sholat maghrib ke Masjid Nabawi sudah bisa dilakukan di hotel. Sehingga, pulang sholat Isya dari Masjid Nabawi jamaah tinggal beristirahat (tidur) saja lagi.
Layana catering di Madinah dan Makkah, menu catering di Madinah cenderung lebih enak rasanya dan lebih variatif dibandingkan menu catering di Makkah. Memang soal rasa sangat subyektif pada setiap orang. Menu catering di Makkah cenderung membosankan (itu-itu saja) dan kurang ada rasa (bumbu), sedangkan menu catering di Madinah lebih kaya bumbu. Tapi saya tetap memakannya, anggap saja semua itu adalah rezeki dari Allah dan jangan ditolak.
Menu catering di Madinah cenderung pedas, sedangkan di Makkah rasanya manis. Bagi saya yang orang Sunda, saya merasa cocok dengan catering di Madinah, tetapi kurang cocok dengan catering di Makkah. Untunglah saya membawa bekal rendang dari Bandung, sehingga kalau menu cateringnya kurang cocok dengan lidah saya, maka rendang iniah sang “penyelamat” makan, he..he. Saya rasa hampir setiap jamaah haji dari setiap daerah membawa masakan khas mereka sendiri ke Tanah Suci untuk mengantisipasi masakan yang kurang sesuai selera.
Untuk sarapan pagi jamaah haji harus mencari sendiri. Bekal mie instan seperti Indomie dari tanah air buat saya tidak cukup membantu untuk sarapan pagi. Sebenarnya kita tidak perlu membawa banyak mie instan dari tanah air, sebab di Makkah dan Madinah mie instan Indomie dalam kemasan bahasa Arab banyak dijual di supermarket maupun toko-toko kelontong di sana, harganya 2 riyal (1 riyal sekitar 4000 rupiah).
Tentu membosankan dan kurang menyehatkan jika sarapan pagi selalu dengan mie instan terus. Di sekitar hotel banyak gerai yang menjual kentang goreng dan kebab khas Arab bernama shawarma. Kentang goreng dan shawarma harganya sama yaitu 5 riyal. Shawarma isinya potongan daging ayam panggang yang dicampur dengan sayur kol yang sudah disiram dengan saus, lalu dibungkus dengan lapisan roti tipis seperti kebab umumnya. Rasanya segar dan gurih, lebih enak jika ditambahkan saus cabe.
Beberapa restoran Indonesia juga terdapat di sekitar hotel. Ada bakso, ikan goreng, tempe, dan lain-lain, tetapi harganya cukup mahal. Bakso di Grapari Madinah yang terletak di Hotel Millenium lantai dasar misalnya, harganya 15 riyal (60 ribu rupiah), sudah termasuk satu botol air minum. Biasanya restoran Indonesia ramai saat sarapan pagi usai sholat subuh.

Rumah makan Indonesia di Hotel Andalusia, dekat gerbang 17

Bakso si Doel, 14 riyal, akan tetapi karena saya sudah suka dengan Bakso Grapari2 seharga 15 riyal di Hotel Millenium yang letaknya dekat pemondokan saya, Hotel Barakah Ohoud. Masuk ke Milennium ambil arah ke eskalator, turun satu kali berdekatan dengan jasa laundry. Enak segar rasa bumbunya terasa seperti di kampung halaman...nasi goreng, bakwan goreng macam2 menu Indonesia, yang pasti sambal cabenya ..segar nikmat.
Usai sholat Subuh di Masjid Nabawi jamaah haji kembali ke hotel, sebagian lagi jalan-jalan di pertokoan yang banyak terdapat di lantai dasar dan lantai basement setiap hotel, apalagi kalau bukan untuk berbelanja. Oh iya, hampir setiap hotel di sekitar masjid Nabawi memiliki pertokoan di lantai dasar dan basement. Antara satu hotel dan hotel lain sering ada jalur bawah tanah yang menghubungkan pertokoan itu. Paling banyak toko yang menjual perhiasan emas, sajadah, peci haji, dan jam tangan. Ibu-ibu sangat senang mengunjungi toko emas, sebab emas di Madinah dan Makkah kualitasnya bagus-bagus.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar