Sabtu, 18 November 2023

Selamat Datang di Kota Madinah


Selamat datang di kota Nabi, Madinah yang penuh barokah, ahlan wa sahlan. Inilah Madinah, kota yang damai dan tenteram. Ya Rasulullah, saya sampai ke kotamu yang warganya dulu menyambutmu beserta kaum muhajrin lainnya dengan ramah dan tangan terbuka.

Enam jam perjalanan dengan bus sampailah kami di hotel Barokah Ohoud.  Hotel Barokah Ohoud terletak persis di belakang Masjid Nabawi, yaitu di balik pagar masjid, tepatnya pintu gerbang 6 dan atau pintu gerbang 7. Sangat dekat sekali, hanya sepelemparan batu saja, kurang lebih 500 meter. 


Hotel Barokah Ohoud, tempat kami menginap, terletak Gate 6 dan Gate 7


Pemerintah RI telah menyewa puluhan hotel di sekitar Masjid Nabawi. Hotel-hotel untuk pemondokan jamaah haji Indonesia di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi, paling dekat 50 meter dan paling jauh adalah 500 m. Kondisi ini sangat berbeda ketika di Mekah, hotel pemondokan jamaah haji Indonesia letaknya cukup jauh dari Masjidil Haram, paling dekat 1 km, paling jauh 7 km dari Haram (sebutan untuk masjidil haram).

Hotel-hotel di sekitar Masjid Nabawi



Sesampai  di hotel, petugas kloter dan ketua rombongan  langsung melakukan pembagian kamar. Satu kamar bisa diisi dengan empat hingga enam orang. Hotel Barokah Ohoud tidak terlalu besar, terdiri dari 15 lantai, kamar-kamarnya sangat banyak. Hotel ini dapat menampung 15.000 jamaah haji. Hotel Barokah Ohoud menjadi pemondokan jamaah dari berbagai kloter dan daerah di tanah air. Jamaah haji yang menempati hotel ini saya ketahui datang dari Garut, Karawang, Kabupaten Cirebon Tegal, Kabupaten Bandung, dan lain-lain.

Satu kamar dengan empat tempat tidur


Satu persoalan selama tinggal di hotel di Madinah adalah tidak ada tempat untuk menjemur pakaian, padahal kita cukup lama di Madinah yaitu selama sembilan hari. Hotel di Madinah tidak menyediakan rooftop untuk menjemur pakaian sebagaimana hotel di Mekah. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa laundry di hotel atau laundry di luar, tetapi tentu harganya cukup mahal. Alternatifnya adalah menjemur pakaian di dalam kamar mandi. Namun saya melihat jendela di sebelah tempat tidur saya bisa digeser sedikit jendelanya. Lubang-lubang jeruji di balik jendela itu ternyata bisa digunakan untuk mengaitkan gantungan jemuran. Saya membawa beberapa gantungan jemuran dari rumah. Jadilah kami dan teman sekamar bergantian menjemur pakaian di balik jendela itu. Menjemur pakaian di Madinah tidak perlu menunggu waktu lama untuk kering. Udara yang panas membuat pakaian basah cepat kering. Tiga sampai empat jam saya jemur pada siang hari sudah kering.

Karena hotel ini menampung belasan ribu jamaah haji, maka kejadian yang menguji kesabaran adalah saat naik lift menuju lantai kamar. Usai sholat di Masjid Nabawi, ratusan jamaah haji dalam waktu yang bersamaan kembali ke hotel  untuk beristirahat dan makan. Lift yang tersedia di berbagai sisi di hotel jumlahnya terbatas sementara yang mau naik ratusan orang. Maka yang terjadi adalah tumpukan jamaah yang tidak sabar untuk antri naik lift. Usai sholat Dzuhur dan Isya di Masjid Nabawi adalah saat-saat rush hour di depan lift hotel.

Pemandangan padatnya jamaah menunggu naik lift saat rush hour 



Tipikal orang Indonesia adalah  tidak mau antri atau membentuk barisan yang tertib. Mereka saling dorong untuk masuk lift terlebih dahulu. Lift bergerak menuju setiap lantai untuk menurunkan jamaah dari lantai dua sampai lantai 15, lalu kembali ke bawah. Terbayang kan lama sekali menunggu lift itu turun kembali ke lantai dasar. Oleh karena itu, banyak jamaah haji memilih menunggu dulu di masjid sampai merasa antrian di lift sudah mulai berkurang, baru kemudian pulang.

Antri naik lift

Masjid Nabawi yang terletak persis dibelakang hotel memudahkan saya dan jamaah lain untuk setiap waktu ke sana. Cukup berjalan kaki selama 5 menit sampailah kita ke pintu masjid.  Masjid Nabawi sangat luas. Kata ustad pembimbing haji kami, dulu luas kota Yastrib (Madinah sekarang) adalah seluas masjid Nabawi sekarang.

Berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi melalui pelatarannya memakan waktu setengah jam. Waktu yang cocok untuk berjalan mengelilingi  Masjid Nabawi adalah seusai sholat subuh, sore hari menjelang Maghrib, atau malam selepas Isya. Saat itu udara kota Madinah sudah mulai sejuk. Payung-payung raksasa di pelataran masjid sudah menguncup. Ketika siang hari, payung-payung itu dikembangkan agar jamaah terlindung dari panas menyengat. Payung-payung dikembangkan secara otomatis dari sentralnya setiap usai sholat Subuh dan dikuncupkan lagi menjelang sholat Mahgrib. Sangat menarik menyaksikan detik-detik payung-payung itu mengembang atau menguncup saat bersamaan. Jika pada siang hari kita datang ke masjid,  kita tidak dapat melihat rupa masjid secara utuh karena tertutup oleh payung-payung itu. Jadi waktu terbaik memotret masjid adalah saat payung itu menguncup.

Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.


Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.



Jamaah haji harus menghafal nomor-nomor pintu masjid dan nomor pintu gerbang agar tidak kesasar. Pintu masuk masjid banyak sekali, jadi jangan sampai lupa nomornya. Masuk dari pintu berapa dan keluar lagi melalui pintu yang sama. Jangan sekali-sekali merasa takabur dengan mengatakan “ah, gampang kok“, seringkali saya mendengar cerita jamaah yang tidak tahu arah pulang karena merasa takabur. Jadi, hati kita harus dibersihkan, jangan sombong atau takabur.  Dulu waktu saya umrah pintu gerbang tidak diberi nomor, hanya bangunan toilet yang diberi nomor, sekarang setiap pintu gerbang sudah diberi nomor. Hotel saya terletak di antara gerbang nomor 6 dan 7.

Saat malam hari setelah sholat Isya atau sholat Subuh adalah saat yang cukup syahdu untuk  berjalan-jalan di pelataran masjid menikmati rupa Masjid Nabawi. Langit malam di atas masjid Nabawi tampak bersih tanpa awan. Tidak tampak bintang-bintang, tetapi sepotong bulan sabit terlihat menggantung begitu indahnya.

Di antara ribuan jama’ah perempuan di Masjid Nabawi yang juga banyak berbusana serba hitam, keberadaannya tetap sangat terlihat khas. Berjubah hitam, bercadar, berkaus tangan dan berkaus kaki, sehingga hanya meninggalkan sepasang mata yang awas, menyelidik, siap menyapu sekeliling masjid. Askar. Kucari artinya adalah tentara, pengawal. Memang untuk menertibkan ribuan jama’ah dari berbagai negara dengan macam-macam karakter, kebiasaan dan ‘kebandelan’, diperlukan petugas yang tegas, waspada kalau perlu cerewet, agar suasana dan kondisi sholat berjama’ah di masjid nan agung itu berlangsung khidmat, khusyu dan tertib.

Sebelum bisa masuk masjid, jamaah harus bersih, siapa saja tak akan lolos dari 2 sang askar. Mereka akan mengobok-obok tas, mengenali isinya dengan memegang, jika ada yang dicurigai sebagai kamera profesional atau makanan basah berkuah atau membawa tas belanja maka serta merta sang jama’ah ditahan tidak boleh masuk; alternatifnya adalah sholat di pelataran luar masjid. 

Jadi di dalam masjid bisa dilihat para askar berjalan hilir mudik di antara shaf-shaf jama’ah. Instruksinya dalam bahasa Arab, bahasa Inggris, atau Melayu terdengar lantang dan galak. Saya kagum akan refleks mereka mengenali ras kami para jama’ah. Para askar itu akan langsung berbahasa melayu jika berhadapan dengan kami warga Indonesia atau Malaysia: “Ibu….ibu….ke sana…ke sana…!! Sambil telunjuknya menunjuk ke sisi masjid yang masih menyisakan banyak tempat kosong. Saat berhadapan dengan jama’ah dari Turki, Mesir, Mongolia, atau Uzbekistan mereka berbahasa Inggris atau Arab.

Lain halnya jika berhadapan dengan jama’ah Afrika, bahkan yang berasal dari jazirah Arab askar-askar itu sangat galak dan keras. Karena sang jama’ah sering ngeyel malah bebantah-bantahan. Di larang masuk karena sudah tak ada tempat, malah ngotot sholat di jalan tempat lalu lalang. Astaghfirullah.

Sepotong bulan di atas langit Madinah.

Jamaah haji berada di Madinah selama sembilan hari untuk dapat melaksanakan arbain, yaitu sholat wajib 40 kali di Masjid Nabawi. Karena pemondokan jamaah haji hampir seluruhnya sangat dekat dengan masjid Nabawi, maka jamaah haji insya Allah dapat melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali di sana. Saya sudah menghitung sejak  mulai check-in  di hotel hingga check-out, memang pas waktunya untuk 40 kali sholat wajib di Masjid Nabawi. Sholat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunnah, jadi jamaah haji tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan. Tapi kalau badan sehat usahakanlah karena kesempatan sholat di Masjid Nabawi adalah langka, tidak akan kita dapatkan kalau kita sudah pulang ke tanah air.

Selama di Madinah jamaah haji mendapat makan dari Pemerintah RI setiap hari dua kali sehari (makan siang dan makan malam). Pemerintah Indonesia menyediakan layanan catering haji tahun ini sebanyak 40 kali, lebih banyak daripada tahun lalu yang hanya 25 kali. Perusahaan catering haji di Madinah dan Makkah wajib menyediakan makanan dengan menu Indonesia. Bumbu-bumbu masakan didatangkan dari Indonesia. Koki yang memasak makanan sudah dilatih oleh tim dari NHI,  sebuah perguruan tinggi bidang perhotelan di Bandung, agar bisa memasak masakan dengan menu Indonesia.

Catering haji di Madinah (nasi kotak untuk makan siang)

Catering haji diantar ke hotel tempat jamaah menginap dua kali sehari. Satu paket catering terdiri dari nasi kotak, buah segar (bervariasi, kadang pisang, apel, pir, atau jeruk), dan satu botol air mineral atau juice buah. Biasanya paket catering sudah sampai di hotel pukul 10 pagi untuk makan siang dan pukul 16 sore untuk mkakan malam. Jadi, sebelum sholat Dzuhur dan sebelum sholat Maghrib kita sudah bisa makan. Kalau jamaah ingin tetap berada di Masjid Nabawi dari Maghrib sampai Isya, maka sebaiknya makan malam sebelum berangkat sholat maghrib ke Masjid Nabawi sudah bisa dilakukan di hotel. Sehingga,  pulang sholat Isya dari Masjid Nabawi jamaah tinggal beristirahat (tidur) saja lagi.

Layanan catering di Madinah dan Makkah, menu catering di Madinah cenderung lebih enak rasanya dan lebih variatif dibandingkan menu catering di Makkah. Memang soal rasa sangat subyektif pada setiap orang. Menu catering di Makkah cenderung membosankan (itu-itu saja) dan kurang ada rasa (bumbu), sedangkan menu catering di Madinah lebih kaya bumbu. Tapi saya tetap memakannya, anggap saja semua itu adalah rezeki dari Allah dan jangan ditolak.

Menu catering di Madinah cenderung pedas, sedangkan di Makkah rasanya manis. Bagi saya yang orang Sunda, saya merasa cocok dengan catering di Madinah, tetapi kurang cocok dengan catering di Makkah. Untunglah saya membawa bekal rendang dari Bandung, sehingga kalau menu cateringnya kurang cocok dengan lidah saya, maka rendang iniah sang “penyelamat” makan, he..he. Saya rasa hampir setiap jamaah haji dari  setiap daerah membawa masakan khas mereka sendiri  ke Tanah Suci untuk mengantisipasi masakan yang kurang sesuai selera.

Menu makan siang dari catering haji

Untuk sarapan pagi jamaah haji harus mencari sendiri. Bekal mie instan seperti Indomie dari tanah air buat saya tidak cukup membantu untuk sarapan pagi. Sebenarnya kita tidak perlu membawa banyak mie instan dari tanah air, sebab di Makkah dan Madinah mie instan Indomie dalam kemasan bahasa Arab banyak dijual di supermarket maupun toko-toko kelontong di sana, harganya 2 riyal (1 riyal sekitar 4000 rupiah).

Tentu membosankan dan kurang menyehatkan jika sarapan pagi selalu dengan mie instan terus. Di sekitar hotel banyak gerai yang menjual kentang goreng dan kebab khas Arab bernama shawarma. Kentang goreng dan shawarma harganya sama yaitu 5 riyal. Shawarma isinya potongan daging ayam panggang yang dicampur dengan sayur kol yang sudah disiram dengan saus, lalu dibungkus dengan lapisan roti tipis seperti kebab umumnya. Rasanya segar dan gurih, lebih enak jika ditambahkan saus cabe.

Pedagang shawarma (kebab Arab). 

Beberapa restoran Indonesia juga terdapat di sekitar hotel. Ada bakso, ikan goreng, tempe, dan lain-lain, tetapi harganya cukup mahal. Bakso di Grapari Madinah yang terletak di Hotel Millenium lantai dasar misalnya, harganya 15 riyal (60 ribu rupiah), sudah termasuk satu botol air minum. Biasanya restoran Indonesia ramai saat sarapan pagi usai sholat subuh.

37880786_1969617303106285_2325967507975831552_n

Rumah makan Indonesia di Hotel Andalusia, dekat gerbang 17

37775469_1969618939772788_6720018750306779136_n

Bakso si Doel, 14 riyal, akan tetapi karena saya sudah suka dengan Bakso Grapari2 seharga 15 riyal di Hotel Millenium yang letaknya dekat pemondokan saya, Hotel Barakah Ohoud. Masuk ke Milennium ambil arah ke eskalator, turun satu kali berdekatan dengan jasa laundry. Enak segar rasa bumbunya terasa seperti di kampung halaman...nasi goreng, bakwan goreng macam2 menu Indonesia, yang pasti sambal cabenya ..segar nikmat.

Usai sholat Subuh di Masjid Nabawi jamaah haji kembali ke hotel, sebagian lagi jalan-jalan di pertokoan yang banyak terdapat di lantai dasar dan lantai basement setiap hotel, apalagi kalau bukan untuk  berbelanja. Oh iya, hampir setiap hotel di sekitar masjid Nabawi memiliki pertokoan di lantai dasar dan basement. Antara satu hotel dan hotel lain sering ada jalur bawah tanah yang menghubungkan pertokoan itu. Paling banyak toko yang menjual perhiasan emas, sajadah, peci haji, dan jam tangan. Ibu-ibu sangat senang mengunjungi toko emas, sebab emas di Madinah dan Makkah kualitasnya bagus-bagus.

Jamaah haji Indonesia dengan ciri khas kain sarungnya.


Jamaah haji Indonesia mudah kita temukan di mana-mana di Madinah. Pertama karena jumlahnya paling banyak dibandingkan dari negara lain. Kedua, ciri khasnya adalah pakaian mereka. Jamaah haji Indonesia dikenali dari kopiahnya, baju batiknya, atau kain sarungnya.  Kebiasaan orang Indonesia, terutama kaum santri atau nahdliyin dari Jawa, yang selalu memakai sarung ketika ke masjid juga dibawa ke Tanah Suci.  Namun itulah kekhasan bangsa kita. Sarung dan batik adalah salah satu ciri khas jamaah haji Indonesia. Selain itu kita patut bersyukur, jamaah haji Indonesia paling lama tinggal di Madinah, sementara jamaah negara Malaysia, Jepang dan banyak lagi mereka berada di Kota Madinah hanya selama tiga hari.


Berhaji


Ritual ibadah haji sudah ditentukan waktu dan tempatnya sesuai syariat dalam Alquran dan Hadits. Setiap tahun waktu dan tempat itu tidak akan pernah berubah.

Ada beberapa tempat yang telah ditentukan dalam pelaksaan haji memiliki sejarah masing-masing. Sehingga layak dikinjungi berulang-ulang saat umrah atau setelah ritual wajib haji selesai.

Pemimpin rombongan idealnya harus mengetahui dan memahami saat rekreasi dalam perjalanan haji diselenggarakan. Rekreasi tidak harus menggunakan kendaraan, dengan berjalan kaki pun dapat dilaksanakan.

Ini merupakan salah satu langkah antisipatif untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kebosanan.

Tentu saja tempat yang dituju diutamakan yang terdapat unsur sejarahnya. Tempat mana yang dituju sangat bergantung pada kejelian pemimpin rombongan, oleh karenanya, pengetahuan tentang tempat rekreasi itu harus dikuasai oleh pemimpin rombongan dan dan calon jamaah haji.

Selama berhaji, calon jamaah haji mempunyai banyak kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan beberapa tempat yang bernilai sejarah tinggi dalam perkembangan Islam.

Tempat-tempat bersejarah itu berada di Makkah, Madinah dan Jeddah. Upayakan jamaah dapat memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat itu agar berhaji mempunyai wawasan yang luas terhadap perkembangan Islam.

"Untuk itu sebelum berangkat calon jamaah dapat mempelajari tempat-tempat bersejarah itu dengan membaca buku, memutar CD," katanya.

Yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan di tempat-tempat itu agar hal-hal yang dilarang dapat dihindari. Beberapa tempat sejarah itu di antaranya adalah di Makkah meliputi Masjidil Haram sekitar Masjidil Haram dan sekitar Mekah, sedang di Madinah meliputi Masjid Nabawi sekitar Masjid Nabawi dan sekitar Madinah.

Misalnya di Masjidil Haram itu ada Kabah, Hijr Ismail, Multazam, Maqom Ibrahim, pintu Ka'bah, Safa ke Marwah, bekas Darun Nadwah, bekas rumah al-arqam.

Sekitaran Masjidil Haram ada rumah Khadijah, rumah kelahiran Nabi, masjid kucing (Abu Hurairah) Masjid Syajarah Masjid Jin, Makam Ma'la, Masjid Abu Bakar, Makam Khadizah.

Sekitar Makkah ada Jana Tsur, Arafah, Jabal Rahmah, Multazam, Mina (Jamarot) Masjid Bai'h, Jabal Nur (Gua Hir) Masjid Ji'ronah, Jabal kurban, Masjid tan'im, Masjid Aisyah pembuatan kiswah, museum dua masjid Suci, masjid sumaisy (hudaibiyah).

Masjid Nabawi ada Raudhah, makam Nabi, rumah nabi, mimbar nabi, tiang-tiang bersejarah, Ahlul Suffah. Di sekitar Masjid Nabawi ada Makam Baqi, Masjid Ali bin Abi Tholib, Masjid Abu Bakar, Masjid Ghamamah, Masjid Umar Bin Khattab, pasar kurma, Masjidil Ijabah, Masjid Abu Dzar al-ghifari, Tsaqifah Bani Sa'idah.

Di sekitar Madinah ada Masjid Quba, Masjid Jum'ah, Jabal Uhud, Makam Hamzah, Masjid Syuhada, Uhud, Khandaq, Masjid qiblatain, percetakan Alquran. Pusat pengolahan kurma. Kebun Kurma, Mantiqa Baidah, (Bukit Magnet) peternakan unta perah.

Di Jeddah ada Laut Merah, masjid Rahmat, Masjid apung, air muncrat, monumen di kota Jeddah, pertokoan Quraisy (balad) pertokoan Mahmud Said (Oasis).

Tidak semua tempat tersebut dapat dikunjungi dalam satu waktu, akan tetapi dapat dilakukan dengan pengaturan waktu yang baik dan tepat. Ada beberapa tempat yang bahkan mungkin tidak dapat dikunjungi karena keterbatasan waktu.

Kunjungan atau ziarah diupayakan waktunya tidak mengganggu kegiatan ibadah jamaah, misalnya ziarah diselenggarakan:

1. Bukan pada hari Jumat

2. Jamaah tidak dalam keadaan lelah.

3. Upayakan semua jamaah dapat ikut serta dan kembali dalam keadaan sehat sehingga dapat melakukan kegiatan lainnya.

4. Upaya untuk dilaksanakan sebelum namun tidak dekat dengan hari H, kecuali kalau memang dalam keadaan terpaksa.

5. Upayakan memberikan penjelasan atau pengajian tentang sejarah, apa yang harus dilakukan jamaah terhadap tempat-tempat yang akan diziarahi sebelum pelaksanaan, sehingga jamaah dapat memahami tempat tersebut dan yang lebih penting jamaah tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.

Rabu, 12 Juli 2023

Sejarah Setrika


Setrika adalah alat elektronik andalan di setiap rumah. Inilah sejarah penemuan dan perkembangan teknologinya.

Setrika sudah ada sejak peradaban China, sampai akhirnya teknologi modern mengubahnya hari ini. Inilah urutannya:

1. Periode Tiongkok

Tidak ada catatan pasti kapan menyetrika dilakukan. Tapi catatan pertama mengindikasikan abad ke-1 SM di Tiongkok, orang-orang sudah menggunakan panci logam yang diisi air panas untuk menghaluskan pakaian dan menghapus lipatan kain.

2. Abad ke-17

Di periode ini, setrika menggunakan lembaran besi besar yang biasa disebut besi datar, dilengkapi pegangan yang dipanaskan di atas api. Tujuannya untuk menghaluskan kerutan kain. Cara penggunaannya harus menunggu besi tersebut panas kemudian berhenti ketika sudah dingin, lalu mengulangi dari awal lagi.

Setrika arang

Melompat lebih jauh lagi, orang menggunakan kotak besi yang diisi bara panas atau sisipan logam panas. Untuk membuat lebih efisien, orang menggunakan beberapa setrika sekaligus.

Hal ini untuk mengantisipasi proses yang panjang dan melelahkan karena harus dipanaskan dahulu. Ketika satu setrika mulai dingin, maka mereka akan beralih ke setrika lain yang sudah panas.

3. Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20

Pada periode ini, perkembangan besi sudah jauh lebih modern. Banyak ditemukan setrika yang dipanaskan dengan etanol, gas alam, atau minyak ikan paus.

Setrika listrik

Perangkat ini ditemukan oleh Henry W Seeley tahun 1880-an di New York. Alat ini menggunakan alumunium atau baja tahan karat untuk memanaskan plat dengan suhu yang bisa dipertahankan secara stabil. Terdapat thermostat yang menghidupkan dan mematikan elemen pemanas jika terlalu panas atau dingin.

Alat ini mulai masuk di pasaran tahun 1920-an dengan thermostat untuk mengontrol suhu.

Setrika uap

Thomas Sears adalah orang di balik penemuan setrika uap. Pertama kali digunakan oleh perusahaan pembersih New York tahun 1926. tapi, baru pada 1938 setrika ini sukses secara komersial. Dijual dengan harga US$ 10 (Rp 149.732) setrika uap membanjiri pasar pada pertengahan 1900-an.

Logam terbaru

Saat ini, penyempurnaan setrika sudah banyak dilakukan untuk memudahkan pekerjaan menyetrika. Terdapat beberapa fitur yang perlu diperhatikan ketika membeli setrika baru, seperti pengumpul anti kerak agar keluaran uap tidak terpengaruh kerak kapur, pengaturan mati otomatis, fitur semprot agar lebih mudah menghaluskan kerutan, dan tapak setrika Andilium agar lebih tahan lama.

Rabu, 28 Juni 2023

Kisah Haji Nusantara




Lebaran Idul Adha atau lebaran kurban berangkai dengan proses haji. Mereka yang pulang dari Tanah Suci di waktu itu lalu mendapat sematan haji.

Kisah sematan haji memang lebih dikenal sejak masa penjajahan Belanda, padahal maknanya lebih besar. Lalu, haji kecil, apa itu? 

Begini kisahnya.

"Kisah Haji Nusantara", tradisi meletakkan gelar "haji" atau "hajjah" di depan nama orang Indonesia usai menunaikan ibadah haji.

Tradisi itu sah-sah saja. Salah satu alasannya adalah sejak masa silam, perjalanan menuju Tanah Suci bagi orang Nusantara adalah perjuangan berat tersendiri, harus mengarungi lautan, menerjang badai berbulan-bulan, menghindari perompak, hingga menjelajah gurun pasir.

Seorang yang berhasil melalui ujian tersebut, dan berhasil kembali selamat ke Tanah Air, kemudian dianggap berhasil mendapat anugerah dan kehormatan, apalagi Ka'bah dan Mekkah adalah kiblat suci umat Islam sedunia.

Itu mengapa dalam perkembangannya lazim di Indonesia ada pemberian gelar bagi jemaah haji usai menunaikan ibadah di Tanah Suci. Masyarakat menambahkan kata haji atau hajjah saat menyebut nama mereka

Penyebutan haji di kawasan Islam Melayu

Bahwa tradisi seperti itu sebetulnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di dunia Islam Melayu bagian lain juga begitu, baik Malaysia, Singapura, Brunei, dan bahkan Thailand Selatan.

Tradisi di Mesir Utara bahkan bukan hanya memberi gelar haji, tapi juga melukis rumahnya dengan gambar Ka'bah dan moda transportasi yang digunakan ke Mekkah

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, gelar haji dinilai penting dan membanggakan, mencerminkan status sosial tertentu. Menurut Dadi, tradisi penyematan gelar ini bisa dilihat dari tiga perspektif.

Pertama, secara keagamaan, haji adalah perjalanan untuk menyempurnakan rukun Islam. Perjalanan yang jauh dan panjang, biaya yang mahal, persyaratan yang tidak mudah, membuat haji menjadi sebuah perjalanan ibadah yang semakin penting dan tidak semua orang bisa lakukan.

Untuk itulah gelar Haji dianggap layak dan terus disematkan bagi mereka yang berhasil melakukan ibadah haji.

Haji di masa Belanda

Sejak awal abad 20, industri perjalanan haji semakin besar. Sejumlah perusahaan kapal Belanda juga turut serta di dalamnya. Jemaah haji Nusantara pun semakin besar jumlahnya.

Perjalanan haji relatif lebih mudah dan cepat, tapi gelar haji tetap digunakan dan bahkan semakin popular.

Kedua, secara kultural, narasi dan cerita-cerita menarik, heroik, dan mengharukan selama berhaji juga terus berkembang menjadi cerita popular, sehingga semakin banyak orang tertarik naik haji.

Sebagian besar tokoh-tokoh masyarakat juga bergelar haji. Cerita-cerita ini terus bersambung hingga kini sehingga menjadi semacam genre tersendiri sebagai memoir.

Hal-hal inilah yang membuat ibadah haji semakin penting dan gelar haji di Indonesia punya nilai dan status sosial yang tinggi.

Ketiga, dari perspektif kolonial, penyematan gelar haji juga punya ceritanya tersendiri. Dulu, karena takut akan pengaruh haji bagi gerakan anti-penjajahan, pemerintah kolonial Belanda berusaha untuk membatasi jamaah haji, dengan berbagai cara.

Salah satu caranya adalah membuka Konsulat Jenderal pertama di Arabia pada 1872. Tugas konsulat ini adalah mencatat pergerakan jamaah dari Hindia Belanda, dan mengharuskan mereka memakai gelar dan atribut pakaian haji agar mudah dikenali dan diawasi.

Itu dari perspektif kolonial. Padahal menurut Snouck Hurgronje, yang meneliti haji, saat itu, jemaah haji tidak layak ditakuti sebagai anti-penjajah.

Oman menambahkan bahwa tradisi menyematkan gelar haji di depan nama, tentu jangan sampai merusak keikhlasan berhaji.

Salah satu ciri haji mabrur adalah menjadi orang yang ikhlas dan muhsin (berbuat baik) sepanjang masa, selalu menebar kedamaian, baik ketika maupun usai menunaikan ibadah haji.

Haji kecil

Menyitir Haji kecil adalah nama lain dari umrah. Haji dan umrah adalah dua ibadah berbeda yang memiliki nama lain yang sama sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha.

Jika Idul Fitri hadir dengan istilah lain al-'idul ashghar (id kecil), dan Idul Adha dengan istilah al-'idul akbar (id besar), maka ibadah haji pun dikenal dengan nama lain al-hajjul akbar (haji besar) dan umrah dengan nama al-hajjul ashghar (haji kecil).

Istilah ini sudah ada sekitar 14 abad silam, disebut oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Abu Bakr, bahwa ia pernah menulis sebuah surat kepada 'Amr bin Hazm.

Pada lembaran itu tertulis, Annal 'umrata hiya al-hajjul ashgharu (Ibadah umrah sejatinya adalah haji kecil (al-Umm, juz 2, hal. 145). Hal ini tentu untuk menjawab kegelisahan umat tentang apa sebenarnya umrah tersebut, sekaligus sebagai kelanjutan atas keterangan bahwa inti ibadah haji yang membedakannya dengan yang lain adalah wukuf di Arafah.

Sehingga umrah yang tanpa wukuf ini, di samping memiliki cara pelaksanaan yang sama, disebut sebagai "haji kecil".

Tidak banyak ulama yang mendefinisikan umrah. Mereka rata-rata mendefinisikan haji. Karena mungkin bagi mereka cukup dengan mendefinisikan haji, umrah pun ikut. Hanya saja, di dalamnya nanti diterangkan ihwal wukuf di Arafah sebagai pembeda antara haji dan umrah.

Jumat, 23 Juni 2023

Tradisi dan Adat Budaya Melayu Pekanbaru

Tradisi dan Adat Budaya Melayu Pekanbaru

Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. 
Darimanapun asalmu selama kita berada di kota bertuah ini, maka wajib menjaga tradisi dan adat tunjuk ajar Melayu Pekanbaru.

Julukan Kota Pekanbaru adalah Pekanbaru Kota Bertuah. Julukan Bertuah ini adalah akronim Dari Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman, Harmonis.

Kenapa Pekanbaru disebut kota bertuah?  
Karena hal tersebut untuk menggambarkan kondisi terbaik yang diinginkan penduduk Pekanbaru.

Pekanbaru terletak di tepi Sungai Siak, diceritakan pada awalnya merupakan kota kecil yang memiliki pasar atau pekan yang bernama Senapelan.
Wilayah Senapelan (Pekanbaru) pada awalnya pernah menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hal ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah, yang dianggap sebagai pendiri Pekanbaru modern. 
Dengan berbagai pertimbangan seperti ekonomi dan politik yang berkembang di Wilayah Riau, beliau pada saat itu memindahkan pusat kerajaan dari Mempura ke Senapelan. Senapelan saat itu dipimpin oleh Kepala Suku yang disebut Batin. 

Pada tanggal 23 Juni 1784, Senapelan yang akhirnya disebut Pekanbaru, resmi berdiri dan akhirnya tanggal tersebut itu pula yang ditetapkan sebagai Hari jadi Kota Pekanbaru. 
Pekanbaru menjadi kota pada tahun 1948, meningkat menjadi kotapraja tahun 1956, dan menjadi ibukota provinsi Riau sebagai pengganti Kota Tanjung Pinang pada tahun 1959. Saat ini Pekanbaru memiliki 15 kecamatan dengan 83 kelurahan dan luas wilayah 446.50km2.

Pekanbaru merupakan kota ketiga terbesar di Sumatera setelah Medan dan Palembang, terkenal dengan hasil produksi minyak, baik minyak bumi maupun minyak yang dihasilkan dari kelapa sawit.
Pekanbaru tidak memiliki banyak objek wisata sektor alam, tapi ada banyak jasa pariwisata yang menawarkan kelebihan seperti pusat perbelanjaan, pasar wisata pasar bawah, hotel, bandara, terminal bus antar kota dan antar provinsi, pelabuhan dan kuliner. 
Masyarakat Pekanbaru pun bersifat kosmopolitan, karena dipengaruhi oleh letak strategis ditengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatera. Ada  banyak etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini, seperti suku Minangkabau, Melayu yang merupakan suku asli Riau, kemudian Jawa, Batak dan Tionghoa. 
Adapun adat, kebudayaan dan bahasa daerah melayulah yang mengatur tingkah laku dan kegiatan masyarakat yang bertempat tinggal di Pekanbaru. Kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh budaya Islam.

Tradisi, kebudayaan, dan adat istiadat masyarakat Pekanbaru menjadi satu kesatuan yang mendorong negara Indonesia semakin dikenal hingga ke mancanegara.
Bukan hanya itu saja, Pekanbaru juga menjadi salah satu kota yang memiliki beragam minuman, makanan, dan buah-buahan khas.
Seperti Gulai ikan patin, mie sagu, bolu kemojo,durian, nenas dan es laksamana ngamuk dan masih banyak lagi lainnya.
Saat ini Pekanbaru juga menjadi salah satu daerah di Indonesia yang cukup produktif dalam berwirausaha.
Mempunyai penduduk yang ulet dan gigih kini Pekanbaru pun mempunyai berbagai produk khas yang tak kalah populernya, seperti Batik motif pekanbaru, kain songket Pekanbaru, produk pisang kipas, produk kerupuk kulit patin dan masih banyak yang lainnya.


Berbeda dengan batik di Pulau Jawa, proses pembuatan batik Pekanbaru-Riau tak menggunakan lilin sebagai pembatas warna. Batik Pekanbaru Riau proses pembuatannya dengan dicap atau batik cap perunggu. 
Seiring perjalanan waktu, penggunaan logam perunggu ini pun berakhir dan digantikan dengan bahan kayu yang lunak yang disebut kerajinan 'telepuk'.
Kerajinan telepuk ini menggunakan bahan cap yang berasal dari buah-buahan keras, seperti kentang. Untuk telepuk sendiri memiliki gambar bunga-bungaan pada kain atau kertas.
Meskipun sudah sangat berkembang dan menjadi daerah yang maju, tetapi masyarakatnya tidak melupakan tradisi, kebudayaan, serta adat istiadat Pekanbaru-Melayu Riau yang sudah ada sejak dahulu.
Kesadaran dari dalam diri menjadikan setiap warga Pekanbaru tetap mempertahankan kelestarian tradisi dan juga keberagaman budayanya.

Tak heran bila beberapa warisan adat budaya berikut ini tetap lestari hingga sekarang!

Rumah Adat

Di Pekanbaru terdapat Rumah Adat Khas yang disebut Selaso Jatuh Kembar atau Balai Selaso. Bangunan yang sangat luas ini seperti rumah tapi fungsinya bukan merupakan tempat tinggal. Di dalam rumah adat ini terdapat Balai Adat, tempat berkegiatan bersama, sebagai tempat yang dipergunakan untuk melakukan pertemuan dan musyawarah. 
Keunikan dari rumah adat Selaso Jatuh Kembar adalah banyaknya hiasan dinding, jendela, pintu, birai tangga (pagar dinding rendah tepi tangga). 
Salah satu ukiran yang terkenal adalah Itik Sekawan. Ukiran ini merupakan gambar sekawanan itik yang berbaris rapi menggambarkan kehidupan masyarakat yang kompak dan selalu berdampingan. 
Ukiran terkenal lainnya adalah Pucuk Rebung, yang bentuknya menyerupai tunas, dan terbagi beberapa jenis.
1. Pucuk Rebung Kaluk Paku menggambarkan gotong royong dan saling tolong menolong di masyarakat.
2. Pucuk Rebung Bertunas menggambarkan hilangnya rasa lapar dan haus serta permasalahan hidup, agar penghuni rumah selalu sejahtera dan berkecukupan.
3. Pucuk Rebung Sekuntum menggambarkan musyawarah untuk mufakat.
4. Pucuk Rebung Sirih Tunggal menggambarkan agar aura negatif hilang dari dalam rumah.

Tak hanya hiasan dinding, ukiran bermakna juga dapat terlihat di birai tangga rumah adat ini. Coraknya ada yang berombak Awan Larak menggambarkan kelancaran rezeki masyarakat, kemudian ada pula yang berupa corak Lebah Gantung yang menggambarkan ketekunan dan kegigihan layaknya lebah.

Tarian adat 

Tari persembahan merupakan salah satu tarian yang menjadi kebanggaan dan icon seni masyarakat melayu dan sudah dijadikan tarian wajib dalam menyambut tamu di Pekanbaru.
Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu dan ditampilkan untuk menghormati dan menyambut tamu yang datang. 

Tari persembahan ini identik dengan pengajuan tepak sirih kepada orang yang dihormati dan meminta untuk mencoba sirih yang telah diberikan. Ini merupakan tradisi yang turun menurun dalam rakyat Melayu. Suka atau tidak, para tamu juga wajib memakan daun sirih yang sudah diberikan para penari. 

Pakaian Adat
Sebagian masyarakat sudah tahu bahwa Kota Pekanbaru mempunyai pakaian adat yang sangat khas. Pakaian tersebut memang sangat populer di Pekanbaru-Riau bahkan juga telah digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah lainnya.
Pakaian adat untuk wanita dan pria yang merupakan busana tradisional dan biasa dikenakan masyarakat Pekanbaru, baik itu untuk kegiatan sehari-hari maupun dikenakan saat upacara-upacara adat.

Pakaian adat wanita sehari-hari disebut : 

Baju Kurung. 
Desainnya sederhana dengan tampilan lengan panjang dan atasan yang menjuntai hingga sebawah lutut, memberikan simbol nilai-nilai kesopanan agar dijunjung tinggi oleh masyarakat. Baju kurung ini biasa digunakan sehari-hari, dibuat longgar dan tidak ketat, agar tidak menampakan lekuk tubuh yang memakainya.

Kemudian salah satu pakaian adat lainnya adalah Kebaya Laboh.
Kebaya laboh digunakan untuk acara-acara resmi seperti upacara adat atau perkawinan. Kebaya Laboh dipadukan dengan kain songket sebagai bawahan. Kebaya Laboh sebenarnya mirip dengan Kebaya pada umumnya. Perbedaannya pada panjang Kebaya, jika panjangnya tiga jari diatas lutut maka menunjukan wanita yang memakainya belum menikah. Sementara jika menjuntai sampai tiga jari dibawah lutut, maka dapat diketahui bahwa wanita yang memakainya telah menikah.

Sedangkan pakaian adat untuk pria menggunakan pakaian adat berupa baju Kurung Cekak Musang dan  Baju Kurung Belanga. 
Baju Kurung Belanga umumnya dibuat setelan dengan celana. Dikenakan pula kain songket ditambah penutup kepala berupa, songkok atau tanjak. 
Tanjak dibuat dari jenis kain yang sama dengan kain songket.


Bentuk pakaian adat untuk pria lainnya ada yang disebut Baju Cekak Musang, mirip dengan busana Baju Kurung Belanga hanya ketika dikenakan terutama dalam acara resmi dilengkapi dengan penutup kepala berupa kopiah berwarna hitam. Kain samping bisa memakai kain songket atau kain sarung.

Penggunaan sarung pada pakaian adat pria pada dasarnya sama dengan perempuan, tiga jari diatas lutut menandakan bawa pria tersebut belum menikah dan tiga jari dibawah lutut memberi simbol kalau pria tersebut sudah menikah.

Warna-warna yang digunakan untuk pakaian adat Pekanbaru untuk wanita dan pria ini cenderung cerah dan dominan warna merah, kuning dan hijau. Ketiga warna ini masing-masing melambangkan nilai-nilai penting yang dihormati di masyarakat. Hijau melambangkan nilai rohani dan kepatuhan. Kuning melambangkan nilai kebesaran keluarga raja. Merah melambangkan nilai keberanian dan kepahlawanan.

Biasanya motif kain songket Pekanbaru selalu menggunakan gambar dasar dengan bentuk geometri sebagai salah satu ciri khasnya.
Sehingga kain songket Pekanbaru mudah sekali dikenali, terlebih lagi karena kain tersebut selalu menggunakan kain yang berbahan halus atau sutra.
Tetapi karena ingin terus mengikuti kebutuhan konsumen, kain songket Pekanbaru juga mulai dibuat sesuai dengan perkembangan bahan pakaian di masa sekarang. Salah satunya adalah penggunaan kain katun akan tetapi makna alam yang tersimpan dalam setiap motif hiasan kain tetap selalu ada.

Sejak dahulu masyarakat Pekanbaru-Melayu Riau memang sudah terkenal akan keterikatannya dengan alam. Oleh karena itu motif batik atau motif songket sendiri terdiri dari flora dan florist. Hal itu sebagai wujud bahwa keberagaman hayati atau kekayaan alam di Pekanbaru-Riau masih terjaga.

Bahkan banyak ritual kebudayaan di daerah Pekanbaru yang ditambahkan unsur alam oleh masyarakat ketika pelaksanaannya.

Beberapa tradisi budaya Pekanbaru-Melayu Riau yang menjadi warisan budaya secara turun temurun yang terkenal antara lain :
Petang Megang
Mengaji budak ditengah surau
Surau dibangun tepi sepadan
Tradisi bernama petang belimau
Tempat bersuci menyambut Ramadhan

Masyarakat Pekanbaru memiliki tradisi Petang Megang untuk memanjatkan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat menjelang bulan puasa. Petang Megang memiliki istilah lain yaitu Balimau Kasai.
Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Pekanbaru untuk menyambut bulan suci Ramadhan. 
Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis dan jeruk kapas, dicampur dengan harum-haruman dari bunga dan daun tujuh rupa seperti, serai wangi, daun nilam, akar siak dan mayang pinang. 

Tradisi Petang Megang biasanya dimulai dengan ziarah ke makam para leluhur yang merupakan tokoh agama yang dihormati, kemudian setelah selesai shalat ashar di Masjid Raya Pekanbaru yang dibangun atas perintah Sultan ke-4 Kerajaan Siak Sri Indrapura, yakni Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, rombongan bergerak ke Rumah Singgah Tuan Kadi yang berada di pinggiran sungai Siak, sambil dilakukan arak-arakan oleh warga masyarakat sekitar, tokoh agama dan pemimpin adat dan pemimpin daerah. Dengan diiringi kesenian Kompang, atau alat musik tradisional khas Melayu, arak-arakan menuju lokasi upacara Petang Megang yang dilangsungkan di tepian Sungai Siak.

Kemudian dilakukan acara Mandi Balimau yang secara simbolis dilakukan pengguyuran terhadap beberapa anak yatim. Dilanjutkan setelahnya dengan lomba menangkap itik di sungai siak serta rangkaian lomba dan acara lainya. Terakhir masyarakat akan turun bersama untuk bersih-bersih atau mandi di Sungai Siak.



Rumah Singgah Tuan Kadi
 
Rumah Singgah Tuan Kadi adalah rumah peninggalan sejarah yang ada di Kota Pekanbaru. Rumah yang berbentuk limas ini dulunya berfungsi sebagai rumah singgah bagi Sultan Siak Sri Indrapura apabila berkunjung ke Senapelan yang merupakan cikal bakal Kota Pekanbaru. 

Di Rumah Singgah Tuan Kadi inilah Sultan Siak beserta pengiringnya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumah Tuan Kadi lainnya, rumah ini terletak di tepi Sungai Siak, tak jauh di bawah Jembatan Siak III.

Tradisi adat lainnnya adalah Berinai Curi.

Sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan, peralatan berinai (berupa bubuk pacar arab atau pasta henna), yang akan digunakan untuk melukis kuku jari tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki calon pengantin wanita dan atau pria diambil diam-diam (dicuri) dari rumah calon pengantin. Makna dari tradisi Berinai Curi adalah menolak malapetaka atau bencana, menjauhkan pengantin dari kemalangan dan gangguan jin jahat terutama bagi calon pengantin wanita dan dipercaya akan membuat wajah pengantin semakin bercahaya saat hari pernikahan tiba.

Tradisi lainnya di masyarakat disebut sebagai Tepuk Tepung Tawar.


Tradisi Tepuk Tepung Tawar adalah tradisi yang wajib dilakukan terutama saat acara pernikahan, khitanan, aqiqah, pengukuhan adat, berangkat naik haji hingga menempati rumah baru. Maknanya adalah memberikan doa selamat.
Sebelum pelaksanaan tepuk tepung tawar tercatat sejumlah bahan yang wajib ada, yaitu beras kunyit, beras putih, beras bertih, air wangi dan bunga rampai. Kelima bahan tersebut memiliki makna khusus. Beras kunyit simbol adat melayu yang kental berwarna kuning sekaligus diharapkan agar diberi murah rezeki, beras putih bermakna kesucian. Beras bertih bermakna kemakmuran. Bunga rampai bermakna keindahan. Air wangi bermakna sebagai penyejuk hati orang yang ditepuk tawari.

Prosesi tepuk tepung tawar dilakukan dengan mengambil daun yang telah diikat dan dicelupkan ke bahan-bahan air wangi yang sudah dipersiapkan untuk dipercikan ke tangan yang ditepung tawari. Selanjutnya orang yang melakukan tepuk tepung tawar mengambil beras kunyit, beras putih, beras bertih dan bunga rampai untuk ditaburkan pada orang yang sedang menjalani prosesi adat sambil membaca sholawat. Jumlah orang yang ditunjuk untuk penepuk tepung tawar haruslah berjumlah ganjil.

Kebudayaan serta adat istiadat masyarakat Pekanbaru-Riau sudah banyak mengalami perkembangan.
Tetapi masih banyak masyarakat Pekanbaru yang bersedia melestarikannya sebagai warisan orang-orang terdahulu, seperti halnya tradisi Petang Megang yang sampai saat ini masih sering dipertunjukkan.

Karenanya adat istiadat adalah bagian dari kekayaan budaya suatu daerah atau bangsa. Oleh karena itu Cara Menghargai Keberagaman Budaya Daerah
1.Tidak menjelek-jelekan atau menghina        suku dan ras bangsa lain 
2. Menghormati adat istiadat daerah lain.
3. Senantiasa untuk mau mengenal adat        istiadat dari berbagai budaya suku yang      ada di Indonesia.

Pergi naik pesawat
Ke Kota Semarang
Bangsa ini punya beribu adat
Adat budaya peninggalan nenek moyang.

Biodata :
Dini Widiani Badar, atau Dini Asep Sontani, lahir di Kota Garut, dan sekarang menetap di kota Bandung. Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 015 pagi Jakarta, dan melanjutkan pendidikan di SMPN 3 Jakarta dan SMAN 37 Jakarta. Menempuh studi strata satu di Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta dan melanjutkan di Universitas Padjajaran Bandung, mengambil program Notariat. Sejak tahun 1998 hingga sekarang menjalankan tugas sebagai Notaris dan PPAT di Kabupaten Garut. Saat ini sebagai Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini daerah Pekanbaru, dengan Pengawas Ikatan Adhyaksa Dharmakarini daerah Pekanbaru, bapa Asep Sontani Sunarya.