Senin, 12 Desember 2022

Puncak Ibadah Haji 7




Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji. Berhaji tanpa wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah. Haji adalah wukuf di Arafah, demikian sabda Rasulullah. Apapun kondisinya, baik sehat atau sakit, jamaah haji harus hadir di Arafah. Oleh karena itu, menjaga kesehatan selama masa penantian wukuf adalah hal yang mutlak. Sakit saat wukuf jelas merepotkan. Mungkin karena sakit yang cukup berat maka anda harus diangkut oleh ambulans ke Arafah, terpaksalah wukuf di dalam mobil ambulans. Atau, kalau pun tidak dibawa oleh mobil ambulans, mungkin anda di dalam tenda merasa sangat tidak nyaman karena badan sedang tidak fit.

Selama masa penantian di Mekkah, jamaah haji dihimbau tidak memforsir tenaga untuk beribadah ke Harom serta kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga. Satu tips kesehatan yang rutin saya lakukan adalah minum air putih sebanyak-banyaknya setiap hari. Terapi minum air putih terbukti mampu membuat badan tetap fit selama di Tanah Suci. Selain itu, untuk menjaga daya tahan tubuh, saya rajin makan buah-buahan yang banyak mengandung air. Buah-buahan di Saudi tidak terlalu mahal harganya. Buah favorit yang rutin saya beli di Mekkah adalah buah plum. Buah ini berwarna merah kehitaman, sekilo harganya 12 riyal. Kandungan vitamin C di dalam buah plum sangat tinggi, jadi ia merupakan antioksidan yang bagus. Pak Ustad menyarankan untuk tidak mengkonsumsi buah anggur, karena dapat menyebabkan batuk. Kalau sudah batuk di Tanah Suci, lama sembuhnya. Selain itu kami.diberi nasihat agar tidak banyak makan nasi sebagai karbohidrat, alasannya agar lancar saat buang air besar nanti.

Tahun 2019 ini, Pemerintah Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah jatuh pada hari Sabtu tanggal 10 Agustus 2019 (9 Zulhijah) dan Hari Raya Idul Adha hari Selasa  tanggal 11 Agustus 2019 (10 Zulhijjah), hari Minggu.

Kabarnya di Indinesia ada perbedaan tanggal, tapi sebenarnya ini tidak perlu dipermasalahkan, karena bumi ini tidaklah datar, jadi lumrah saja terjadi perbedaan penetapan awal bulan Zulhijjah antara Saudi dan Indonesia. Tetapi, ada juga sebagian orang Indonesia yang menjadikan Saudi sebagai rujukan sehingga mereka melaksanakan puasa Arafah sama dengan waktu wukuf di Saudi. Artinya, dalam pandangan mereka, jika melaksanakan puasa Arafah pada hari Selasa maka hukumnya haram sebab hari itu sudah masuk Idul Adha. Ah, sudahlah, perdebatan semacam ini tidak perlu dibesar-besarkan.

Kembali ke cerita wukuf. Meskipun wukuf akan dilaksanakan pada hari Sabtu siang, namun jamaah haji Indonesia sudah berangkat ke Arafah sejak hari Jumat pagi. Hal ini dilakukan karena yang akan diangkut adalah 250.000 lebih jamaah haji, tentu tidak mungkin ke Arafah dalam waktu yang serempak apalagi jumlah bus juga terbatas. Setiap Kloter diangkut secara bergiliran. Kloter kami, Kloter 56/ JKS kebagian berangkat pada pukul 13.00 setelah Dhuhur.

Ada juga KBIH tertentu yang tidak ikut pengaturan Pemerintah, mereka melaksanakan tarwiyah, yaitu mengikuti Sunnah Rasul dengan berangkat lebih dahulu ke Mina sebelum ke Arafah. Dikutip bahwa Tarwiyah adalah melakukan napak tilas perjalanan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Jamaah Tarwiyah akan melakukan perjalanan dari Makkah ke Mina sejauh 14 kilometer. Lalu, setelah itu perjalanan berlanjut keesokan harinya dari Mina ke Arafah untuk bergabung dengan jamaah lainnya yang berangkat dari Makkah, langsung ke Arafah untuk menjalani wukuf.

Umumnya KBIH yang melaksanakan tarwiyah berangkat ke Mina satu hari lebih cepat daripada yang diatur oleh Pemerintah RI. Mereka berangkat tanggal 7 Zulhijjah sore ke Mina, bermalam di tenda-tenda di Mina, barulah tanggal 8 Zulhijjah sore mereka berangkat ke Arafah. Jika melaksanakan tarwiyah, maka Pemerintah RI tidak memfasilitasi transportasi dan akomodasi, semua biaya ditanggung oleh jamaah haji yang melaksanakan tarwiyah, sebab mereka harus mengusahakan bus sendiri, menyiapkan catering sendiri, dll. Selain itu, mereka harus menandatangani surat pernyataan untuk menanggung segala resiko dan bertanggung jawab atas kajadian apapun.


Berangkat ke Padang Arafah

KBIH saya ikut pengaturan oleh Pemerintah RI saja. Dua jam sebelum waktu Dhuhur jemaah sudah melaksanakan mandi besar. Saya menyiapkan satu tas ransel yang akan dibawa yang berisi cadangan baju ihram, baju ganti, peralatan mandi, mie instan, dan camilan lain. Setelah sholat Dhuhur dan Ashar dijamak di kamar hotel, kami mulai memakai pakaian ihram. Selanjutnya berdiam di kamar menunggu instruksi dari Pak Ustad pembimbing untuk turun ke lobby. Duh,  perasaan saya bercampur aduk karena sebentar lagi kami akan ke Arafah. Niat harus diluruskan kembali, salah niat maka hajinya tidak mabrur. Jam 13.00 siang jamaah haji turun ke lobby hotel. Di sana ustad kembali memberikan bimbingan dan meluruskan niat berhaji. Kami jamaah haji saling berpelukan dan bahkan bertangisan meminta maaf jika selama bergaul di Mekkah dan Madinah melakukan perbuatan yang menyinggung perasaan jamaah lain. Lalu, mulailah kami bersama-sama mengucapkan doa niat haji, yaitu labbaikallah humma hajjan, yang artinya Ya Allah kupenuhi panggilan-Mu untuk berhaji. Rasanya ingin menangis sesegukan saat itu. Sesaat sesudah mengucapkan niat haji itu, maka berlakulah larangan-larangan selama memakai pakaiaan ihram seperti yang pernah saya sebutkan pada tulisan tentang umrah.

Berangkatlah kami naik bus-bus yang sudah menunggu di depan hotel. Selama dalam perjalanan ke Arafah, kami tak putus-putusnya mengucapkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarika laka labbaik. Saya duduk pada kursi paling belakang.  Selama di dalam bus terbayang wajah anak dan orangtua di rumah. Bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk. Pada hari wukuf besok adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa kepada Allah. Saya sudah memendam doa yang akan saya sampaikan nanti di Arafah, salah satunya doa meminta kelancaran, kesehatan dan kebaikan untuk anak dan orangtua saya.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 45 menit, sampailah rombongan bus kami di tenda yang akan menjadi penginapan kami satu hari satu malam di Arafah. Jamaah haji Indonesia di Arafah ditempatkan di sektor South East Asian Pilgrims. Cuaca di Arafah sangatlah panasnya. Padang Arafah yang dulu gersang sekarang sudah mulai menghijau, banyak tumbuhan yang telah ditanam bertahun-tahun dan sudah meninggi. Lumayanlah untuk mengurangi kegerahan. Harus ingat, jangan mematahkan ranting2 yang mengganggu jalan kita yaa....

Tenda-tenda wukuf di Arafah

Jamaaah haji bergaya ketika difoto

Satu kloter menempati beberapa satu buah tenda. Satu tenda ukurannya cukup besar. Permadani sebagai alas duduk atau tidur terbentang di atas lantai tanah. Satu tenda ada beberapa kapling, dibagi untuk beberapa KBIH, atau satu tenda untuk satu KBIH jika jamaahnya banyak. Satu kapling dapat menampung 30 orang jamaah jika tidur berjejer. Lumayan berdesak-desakan. Jamaah pria dan wanita berada di dalam satu tenda, namun jamaah wanita ditempatkan di sudut agar tidak bercampur dengan jamaah haji pria. Di dalam tenda terdapat empat buah kipas angin besar yang juga menyemprotkan uap air. Namun kipas angin tersebut tidak cukup membantu menurunkan hawa yang gerah. Duh, panasnya. Apalah lagi panasnya nanti di Padang Mahsyar ya. Padang Arafah merupakan perumpamaan Padang Mahsyar, semua manusia berkumpul mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing di hadapan Allah SWT.


Suasana di dalam tenda kami

Fasilitas yang tersedia di perkampungan tenda adalah toilet yang berpintu banyak, setiap kamar toilet disediakan shower air panas dan sebuah kloset jongkok. Jamaah haji bisa mandi dan buang hajat di sana. Ingat, jangan memakai sabun atau shampo ya, kita masih berpakain ihram. Toilet untuk pria dan wanita dipisahkan, tetapi saling membelakangi. Fasilitas lainnya adalah kran air panas dan air dingin. Air panas diperlukan jika jamaah ingin membuat teh, kopi, atau memasak mie instan, letaknya di depan tenda kloter.

Aktivitas jamaah di dalam tenda antara lain sholat, makan, ngobrol, mengaji, tidur-tiduran, dan sebagainya. Jamaah yang tidak tahan dengan suasana gerah di dalam tenda pergi keluar untuk duduk-duduk atau sekedar jalan-jalan melihat suasana Arafah. Selama di tenda kita harus selalu ingat masih berpakaian ihram dan larangan-larangan selama berihram tetap berlaku.

Hujan badai yang Dahsyat

Sehari sebelum wukuf terjadi peristiwa yang mencekam, yaitu hujan yang sangat dahsyat.  Ini pertama kali saya merasakan hujan yang luar biasa  di tengah gurun.

Jadi ceritanya begini. Hari Jumat sore waktu Saudi (sehari sebelum wukuf) jamaah haji Indonesia sudah berada di Arafah, sebagian juga sudah di Mina untuk mengikuti Tarwiyah.

Sore hari ketika saya di dalam tenda untuk langit di atas sana terlihat mendung. Mungkin akan hujan, pikir saya. Saat sholat masuk Ashar berlangsung di dalam tenda, di luar sana terdengar suara gemuruh. Angin bertiup menderu-deru seperti tornado. Listrik padam. Sholat pun menjadi tidak konsen lagi. Lama-lama kok makin keras dan mulai menggoyang-goyang tenda dan menarik-nariknya ke atas. Tenda seperti mau copot. Sangat menakutkan. Hujan badai ini kira2 berlangsung selama 20 menit lalu berhenti. Ketika saya longok keluar, hampir semua benda sudah berantakan akibat berterbangan.

Tapi secara umum tidak ada jamaah yang terluka. Konstruksi tenda sepetinya dirancang tahan terhadap badai pasir yang sering melanda negara gurun. Namun merasakan sendiri berada di tengah badai pasir ini tentu pengalaman yang berbeda. Mungkin Tuhan punya cara menyambut kami dengan menunjukkan kuasanya melalui badai pasir itu. Wallahu alam.

Setelah badai behenti, saya keluar tenda untuk melihat keadaan sekitar. Olala, sandal, kursi, meja, dan bungkus makanan sudah berterbangan ke mana-mana. Pasir bertebaran di mana-mana hingga masuk ke dalam tenda.  Beberapa foto setelah badai dapat dilihat di bawah ini.

Badai tidak hanya di Arafah dan Mina, tetapi juga sampai ke kota Mekkah. 

Foto tenda yang roboh setelah badai pasir (Sumber foto: Okezone.com)

Wukuf di Arafah

Pagi hari tanggal 9 Zulhijjah  (10 Agutsus 2019), jamaah haji mulai bersiap-siap untuk melaksanakan wukuf. Waktu wukuf adalah setelah adzan Dhuhur hingga terbenam matahari. Oh iya, sehari sebelum wukuf hingga hari wukuf, pasokan makanan tidak pernah berhenti datang ke tenda-tenda. Catering dari Kemenag RI rutin datang untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Mie instan, biskuit, buah-buahan, air minum, yoghurt, dan lain-lain sangat berlimpah. Makanan tidak hanya datang dari Kemenag RI, tetapi juga dari dermawan kota Mekkah. Sungguh bingung menghabiskan makanan-makanan itu.

Sambil menunggu waktu wukuf tiba, jamaah haji duduk-duduk, sekedar mengobrol,  membaca Al-Quran, membaca doa, dan sebagainya. Tepat ketika waktu Dhuhur tiba, salah seorang jamaah di tenda mengumandangkan adzan. Ini berarti waktu  pelaksanaan wukuf sudah tiba. Inilah awal haji yang sesungguhnya. Kami mengatur shaf-shaf di dalam tenda untuk sholat jamak Dhuhur dan Ashar. Suasana di dalam tenda sangat syahdu dan khusu’. Selesai sholat, salah seorang ustad tampil ke depan shaf untuk mengisi khutbah wukuf. Isi khutbahnya mengingatkan tentang dosa-dosa yang telah kita perbuat, inilah saatnya kita meminta ampunan kepada Allah SWT. Diingatkan juga perumpamaan wukuf di Arafah dengan hari bekumpulnya manusia di Padang Mahsyar kelak. Saya dan jamaah lain ada yang menangis, mungkin teringat dengan banyaknya dosa yang pernah kita lakukan selama hidup ini. Seusai khutbah, jamaah haji saling berpelukan meminta maaf.

Sesudah sholat dan khutbah wukuf, masing-masing jamaah larut dengan dirinya sendiri. Waktu wukuf adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Di saat wukuf itu pintu langit terbuka, para malaikat turun ke bumi. Ada tiga tempat yang mustajab untuk berdoa, tempat di mana doa-doa dikabulkan. Yang pertama di Multazam (tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), kedua di Raudhah, dan ketiga di Arafah saat wukuf. Insya Allah doa-doa kita selama wukuf akan diijabah oleh Allah SWT. Mungkin diijabah sekarang, atau ditunda nanti. Wallahu alam. Saya  berdoa apa saja. Saya meminta apa saja. Semua doa dan permohonan yang sudah saya siapkan dari rumah saya tumpahkan di sana, terkhusus doa untuk kesembuhan anak saya yang sulung. Saya berdoa sampai menangis. Saya memang bingung, apa yang harus saya ungkapkan.nYa Allah, kabulkanlah doa-doa hamba, hamba datang ke tanah Arafah ini, memohon agar doa-doa yang saya panjatkan terbang memasuki pintu-pintu langit yang sedang membuka.

Selesai berdoa, saya habiskan waktu hingga matahari terbenam dengan membaringkan badan sejenak, atau membaca semua doa dan zikir yang tertera di dalam buku karangan K.H Miftah Farid. Janganlah abaikan masa-masa emas puncak haji ini dengan kesia-siaan. Belum tentu kita bisa datang lagi ke Arafah, karena haji hanya sekali seumur hidup. Mau berhaji lagi haru menunggu puluhan tahun. 

Ini foto suasana mabit di Muzdalifah

suasana wukuf di Padang Arafah

Lokasi tenda jamaah haji Indonesia cukup jauh dari Jabal Rahmah. Umumnya jamaah yang menyemut di sini adalah jamaah dari India, Pakistan, Turki, dan negera Timur Tengah lainnya. 

Menjelang sore, jamaah haji sudah berkemas-kemas untuk meninggalkan Arafah, menuju Mina sambil bermalam di Mudzdalifah. Bus-bus sudah siap menunggu di luar kampung tenda. Bus-bus ini akan akan bolak-balik dari Arafah ke Mina untuk menjemput jamaah haji. Jamaaah haji Indonesia sangat banyak, jadi tidak mungkin sekali angkut.

Setelah wukuf di Arafah, ketika hari mulai sore saat matahati tenggelam (bada maghrib), jemaah haji bergerak ke Muzdalifah untuk bermalam (mabit). "Jika kamu telah selesai di Arafah, maka berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram (Muzdalifah) QS: Al-Baqarah:198. Secara umum jarak antara Padang Arafah ke Muzdalifah hanya sekitar 9KM, namun karena waktu tempuh merambat pelan waktu bisa 4 jam perjalanan lebih karena penuh sesaknya bis-bis besar yang mengangkut ribuan jamaah. 

Saat turun dari bis, para jamaah seperti ditumpahkan di sebuah lapangan yang tandus. Semua jamaah sibuk mengurus dirinya sendiri. Tidak ada orang lain yang membantu dan mengurus keperluan kita di tempat tersebut. 

Di Muzdalifah selain mengerjakan sholat Maghrib dan Isya yang di jamak dan qosor, jemaah juga berzikir sambil beristirahat. Sementara itu masih banyak jemaah yang mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumroh, padahal oleh pemerintah arab saudi batu kerikil telah disiapkan dalam bungkus2 kecil.  Sebelum tengah malam bis2 penjemput mulai datang satu persatu dan kadang jeda waktunya agak lama, sementara jamaah mulai banyak yang tidak sabaran untuk meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam (ba'da zawal). Setiap kali bis datang, rombongan jamaah berebutan sampai banyak jamaah yang tergencet atau kena sikutan, padahal pembatas pagar stainless kokoh terpasang, dimaksud agar antrian rapi. Berebut bis ingin buru-buru ke Mina untuk melempar jumroh Aqobah selain juga berpikir sekedar ingin segera beristirahat di Tenda Mina, berharap tempat akan nyaman. Padahal mabit di Muzdalifah sekurang2nya sampai tengah malam jam 12 malam (bada zawal), walaupun yang afdol adalah waktunya berlangsung sampai subuh. Keadaan di Muzdalifah yang saya dengar merupakan miniatur keadaan ketika manusia menghadapi pengadilan Allah Yang Maha Adil kelak. Bahwa di hari pengadilan nanti, kelak semua manusia berada dalam kebingungan. Mereka berlari kesana kemari mencari jalan keselamatan.






Jalan-jalan Seputaran Kota Mekkah (6)

Menghitung hari, seperti judul sebuah lagu. Begitulah, jamaah haji Gelombang 2 berada di Mekkah sambil menghitung hari menuju waktu puncak haji, yaitu saat wukuf di Arafah. Sambil menunggu datangnya waktu wukuf, mungkin tidak ada salahnya jalan-jalan di seputaran kota Mekkah, mengunjungi beberapa sudut kota, dan yang paling penting mengunjungi beberapa situs bersejarah seperti Gua Hira, Jabal Rahmah, Masjid Jin, dan sebagainya.


Seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, kota Mekkah adalah kota jasa dan perdagangan. Sebagai kota jasa, kota Mekah dipenuhi dengan hotel-hotel untuk menampung jamaah haji pada musim haji dan jamah umrah yang selalu datang setiap hari dari seluruh dunia. Bangunan apapun yang kita temui di Mekkah, kalau tidak hotel ya toko atau restoran. Penduduk Mekkah sendiri tinggal di pinggiran kota, di rumah-rumah yang beratap beton, atau di apartemen. Rumah dan apartemen di sana tidak memiliki atap, karena hujan sangat jarang turun. Jangan bayangkan ada talang air atau selokan di kota ini.


Beberapa hari setelah berada di Mekkah, rombongan KBIH kami mengadakan city tour di kota Mekkah. Kunjungan pertama adalah pergi ke Exhibition Of The Two Holly Mosque Architecture, museum yang menceritakan sejarah arsitektur dua masjid suci terletak di kota Mekkah daerah Um Al Joud, dekat Pabrik Kiswah, berdiri dari tahun 2000, dan menjadi tempat destinasi terpopuler. 


Selepas dari Museum, rombongan jamaah haji selanjutnya mengunjungi padang Arafah dan Mina untuk melihat tempat wukuf dan tenda-tenda tempat mabit. Jadi, istilahnya jamaah haji mengenal medan terlebih dahulu. Padang Arafah tidak lagi gersang, banyak pepohonan yang tumbuh di sana. Kami ditunjukkan tempat wukuf jamaah haji Indonesia. Kemudian kami juga mengunjungi Jamarat tempat kami nanti akan melempar jumroh. Whuiiih selain udara panas menyengat tempat jamarat yang luas dan ke'eng juga semakin membuat jamaah ingin segera cepat-cepat keluar. 

Ada tujuh gunung berbeda yang mengelilingi kota suci Makkah. Ketujuh gunung tersebut menjadi saksi peristiwa bersejarah di kota tersebut.

Salah satu gunung paling terkenal di Makkah adalah Gunung Abu Qubays. Gunung ini berlokasi di Timur Masjid Al Haram. Pada masa pra-Islam, gunung tersebut diberinama Al Amin (dapat dipercaya) dan merupakan tempat penyimpanan hajar aswad ketika Makkah dilanda banjir. 

Gunung kedua adalah gunung Khandama yang terletak di belakang Gunung Qubays. 

Yang ketiga, Gunung Quaiqian, atau Jabal Hindi, terletak di sebelah barat Masjid Al Haram. Menurut sejarah Makkah, diberi nama Quaiqian karena dentingan pedang selama pertempuran antara suku Jurhum dan Katura.

Keempat, terletak di Timur Laut kota yakni Jabal Al-Nour, atau Gunung Cahaya, tempat gua Hira berada, tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama.

Mengunjungi Jabal Rahmah

Di tengah Padang Arafah terdapat sebuah bukit batu yang tidak terlalu tinggi, dan selalu menjadi sasaran jamaah untuk mendakinya meskipun tidak ada sunnahnya. Bukit itu bernama Jabal Rahmah. Jabal Rahmah adalah bukit batu tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah selama jangka waktu yang sangat lama. FYI, Adam dan Hawa diusir dari surga dan diturunkan ke bumi pada dua tempat berbeda setelah mereka tergoda oleh iblis untuk memakan buah larangan. Mereka bertemu kembali di bukit ini.

Di Padang Arafah

Pemandangan dari atas Jabal Rahmah

Pemerintah Saudi membangun tugu di atas bukit ini. Untuk mendaki bukit ini tidak sulit. Ada tangga batu yang disediakan. Bukitnya tidak terlalu tinggi. Tapi lihatlah apa yang dilakukan beberapa jamaah di atas bukit ini. Mereka sholat dan berdoa menghadap ke arah tugu, padahal seharusnya ke arah kiblat. Aksi vandalisme pun tak luput dilakukan sebagian jamaah. Tulisan grafiti pada batu dan tugu merusak lingkungan Jabal Rahmah. Suasana yang ramai dimanfaatkan pula oleh PKL dan pengemis untuk mencari rezeki.

Tugu di puncak Jabal Rahmah

Coret2 di Jabal Rahmah 

Di mana ada keramaian, disitu ada penjual kaki lima termasuk di Jabal Rahmah sekalipun

Pengemis di Jabal Rahmah

Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan menuju Mina. Mina adalah perkampungan tenda. Nanti setelah wukuf di Arafah, jamaah haji melontar jumrah di Mina. Saat kami kunjungi Mina sangat sepi. Hanya tenda-tenda yang tegak membisu. Sesekali kereta LRT yang berwarna melintas dari Mudzdalifah ke Mina. Oh Mina, tunggulah kedatangan kami tanggal 10 Zulhijjah nanti.

Kereta komuter mlintasi Mina

Mengunjungi Gua Hira di Jabal Nur

Salah satu situs bersejarah yang patut dikunjungi jamaah haji di Mekkah adalah bukit batu bernama Jabal Nur. Di puncak Jabal Nur inilah terdapat Gua Hira, gua tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk pertama kali, yaitu surat Al-Alaq. Setiap hari Jabal Nur ramai didaki oleh jamaah haji. Mengunjungi Jabal Nur tidak disunnahkan dan bukan bagian dari ibadah haji. Tetapi, mumpung masih berada di Mekkah kapan lagi ke sana, mungkin demikian di dalam pikiran jamaah haji. Kata ustad pembimbing, untuk mendaki jabal Nur ini hingga ke Gua Hira dibutuhkan fisik yang kuat karena bukitnya terjal (kemiringan 60 derajat). Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncaknya. Saya tidak sanggup mendaki Jabal Nur. Suami akhirnya pergi bersama rombongan.



Dari pemondokan haji kami di Misfalah jarak ke Jabal Nur kira-kira 5 km saja, jadi tidak perlu naik taksi ke sana. Pagi hari setelah sarapan, suami dan beberapa jamaah di KBIH berjalan kaki dari hotel menuju Jabal Nur. Saya tidak ikut serta, memdengar cerita saja, sudah bikin napas ngos-ngosan. Cuaca cukup adem pada pagi hari. Dalam waktu satu jam saja mereka sudah dapat melihat Jabal Nur dari dekat. Dari kejauan tampak garis putih bergerak-gerak, itulah jamaah haji yang sedang mendaki ke puncak.

Jabal Nur


Kemiringan Jabal Nur adalah 45 sampai 60 derajat. Mendaki Jabal Nur membuat nafas ngos-ngosan. Untung jalurnya sudah dibuat bertangga batu. Tiap berjalan 5 meter rombongan berhenti dulu buat istirahat untuk atur pernapasan. Hampir saja menyerah ketika sudah sampai 2/3 perjalanan. Tidak kuat. Maklum sudah tidak muda lagi, padahal dulu mereka termasuk cukup rajin mendaki gunung. Tetapi seorang bapak dari Madura berkata kapan lagi ke sini, mumpung sedang haji. Rombongan pun jadi bersemangat lagi, masa harus menyerah, padahal sudah dua pertiga jalan. Akhirnya dengan menahan haus yang amat sangat (suami hanya membawa satu botol aiar mineral), sampai juga suami ke puncak bukit. Alhamdulillah. Perlu waktu satu jam lebih untuk sampai ke puncak bukit Jabal Nur. Di puncak itulah terdapat Gua Hira, tempat pertama kali wahyu diturunkan dengan perantaraan Malaikat Jibril (Surat Al-alaq ayat 1-5).

Jalur yang masih landai.

Belanja kebutuhan sehari-hari di minimarket samping hotel

Terbayang ya, bagaimana dulu Siti Khadijah naik turun bukit ini mengantarkan makanan setiap hari kepada suaminya, Muhammad, yang mengasingkan diri ke Gua Hira. Dulu tentu tidak ada jalur tangga batu seperti sekarang.

Untuk mencapai lokasi Gua Hira, kita harus melewati celah sempit yang diapit oleh batu-batu besar. Menurut perkiraan saya hanay orang yang berbadan kurus yang bisa melewatinya. Namun ajaibnya, orang-orang India dan Turki yang berbadan gemuk pun bisa melintir masuk ke dalam celah tersebut.

Celah batu sempit menuju lokasi Gua Hira

Setelah berjuang melewati celah sempit, ahirnya sampailah suami dan rombongan di depan pintu Gua Hira. Masya Allah, banyak sekali orang antri untuk masuk ke dalamnya. Gua Hira itu ukurannya kecil, untuk masuk ke dalamnya orang harus merunduk. Yang menyedihkan adalah aksi coret-coretan grafiti di bukit ini, termasuk di pintu gua Hira. Sampah botol plastik bertebaran sepanjang jalur pendakian. Pengunjung tidak mengamalkan hadis bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Yang bikin ngeri dan takut ternyata banyak babon (monyet tak berekor) di dekat gua Hira. Kalau tidak hati-hati mereka merebut tas kita, dikira isinya makanan.

Massa menyemut untuk masuk ke dalam Gua Hira

Pintu Gua Hira. Tulisan grafiti pada batu merusak situs sejarah.

Orang-orang saling dorong ingin masuk ke dalam Gua Hira. Ada yang terjepit dan berteriak kesakitan. Mungkin teringat perjuangan untuk mencium Hajar Aswad, kira-kira perjuangannya sama dengan rebutan untuk masuk ke Gua Hira ini. Rombongan mengurungkan niat untuk masuk ke dalam Gua Hira. Merasa sudah cukup puas bisa sampai ke lokasi Gua Hira. Terbayang oleh saya dulu Rasulullah berkhalwat di gua ini. Di Gua inilah Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad dan menyampaikan wahyu pertama dari Allah SWT.

Pemandangan dari atas Jabal Nur luar biasa. Tampaklah dari kejauhan Menara Zamzam, kota Mekah, dan pemukiman penduduk. Semua bangunan di Mekah setipe yaitu berbentuk kotak dan tanpa atap miring (genteng atau seng). 

Pemandangan Kota Mekkah dari puncak Jabal Nur.

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Semua pemandangan terlihat tandus. Di tengahnya berdiri bukit2 batu yang gersang. Tidak ada satupun pepohonan di bukit2 itu. Bagaimana mau tumbuh pohon karena semua bukit adalah batu, tidak ada tanahnya. Justru di daerah tandus yang keras inilah Tuhan mengutus Nabi Muhammad ke tengah bangsa Quraisy yang jahiliyah.

Jalan seputaran Mekkah juga bisa memandang hotel bintang lima yang berada di kawasan Jabal Omar, diantaranya hotel Hyatt Regency, Hilton Convention, Hilton Suites, Double Tree, JW Mariot dan Conrad, dari kamar hotel tersebut pemandangannya full Masjidil Haram. Jamaah reguler tidak mungkin mondok di hotel tersebut 

Pergi ke apotik di Mekkah

Wisata ke Zamzam Tower
Tahun 2019 ini ada wisata baru di Mekkah, dikenal dengan sebutan Zamzam Tower atau Menara Jam Makkah. Menara dengan tinggi 601 meter dan 76 lantai ini merupakan gedung tertinggi ketiga di dunia. Posisi pertama adalah Burj Khalifa, di Dubai dan kedua Ada Shanghai Tower di China. Naik lift di tempat ini cepatnya minta ampun, kepala sedikit pusing.
Zamzam tower merupakan bagian dari mal di komplek Abraj al Bait, yang letaknya depan Masjidil Haram. Yang paling menarik saat berkunjung ke tempat ini dengan biaya 150 real Saudi (300 real dengan makan siang), ketika adzan atau waktu sholat tiba semua aktivitas di Zamzam Tower akan di hentikan dan pelataran di luar akan di jadikan tempat salat berjamaah. Sebaiknya sesuaikan jadwal kunjungan dengan jadwal shalat. Di Lantai satu ada miniatur alam semesta hingga galaksi dengan audio visual. Lantai dua khusus perputaran bulan, bumi dan matahari. Lantai ketiga mempelajari metode menentukan waktu dan panorama kota Mekkah.

Di Zamzam Tower juga ada supermarket terkenal di kalangan jamaah, Bin Dawood. yang terletak di lantai dasar. Jika masuk dari arah pintu utama yang tepat di depan Masjidil Haram, supermarket ini ada disebelah kanan pintu masuk. Kedua, ada di Kompleks Hotel Hilton. Bin Dawood menyediakan segala macam kebutuhan jemaah, dari belanja kebutuhan oleh-oleh sampai kebutuhan sehari-hari. Tapi buat saya, kalau beli oleh-oleh yang murah bersahabat lebih baik di lantai bawah shofa hotel letaknya disamping Zamzam Tower,  kalau dari arah terminal Azyad sebelum masuk pelataran Masjid,  harga bisa di tawar apalagi kalau beli banyak.

Tour ke Thaif yang tidak kami kunjungi.
Sebenarnya ada satu tempat lain yang juga menjadi keinginan jamah haji untuk mengunjunginya di luar kota Mekkah yaitu kota Thaif.
Thaif merupakan salah satu kota yang memiliki hawa sejuk, karena berada di lembah pegunungan Asir dan penunungan Al Hada. Kota yang terletak sekitar 67 kilometer atau 1 jam 45 menit dari Kota Makkah Al Mukarramah ini terkenal dengan perkebunan Delima, Kurma, sayuran lainnya, termasuk juga banyak tumbuh pohon Zaqqum, pohon berduri.

Pohon langka yang namanya tercantum dalam Al-Quran. Pohon ini memiliki duri yang tajam dan besar. Pohon ini juga merupakan jenis pohon langka yang tak tumbuh di Indonesia atau negara lainnya.

Menariknya lagi, kisah tentang pohon Zaqqum ini tertuang dalam Al-Quran Surat Al-Waqiah ayat 52-56. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa para penghuni neraka kelak akan diberikan makanan yang luar biasa pahitnya dari pohon Zaqqum.

Kesejukan kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pariwisata di musim panas. Bahkan para raja dan kerabatnya banyak membangun tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini. Sehingga Thaif juga mendapat julukan Qaryah Al Mulk atau Desa Para Raja.

Demikian juga beragam macam sayur-mayur dan bunga-bungaan. Bunga-bungaan seperti ambar, misik, dan yasmin dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat minyak wangi. Hasil tanaman yang melimpah ruah tersebut sebagiannya diekspor ke berbagai negara. Selain dikenal dengan keindahan dan kesejukan alamnya, kota Thaif juga menyimpan sejarah perkembangan penyebaran agama Islam dan sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Di kota inilah Rasulullah SAW pertama kali mendapat tantangan, cemoohan, pengusiran bahkan sempat dilempari batu oleh kabilah Tsaqif, kabilah terbesar di kota Thaif.

Untuk mengingatkan kembali, sejarah tentang Thaif terjadi pada waktu tiga tahun sebelum hijrah, Rasulullah SAW melakukan perjalanan ke Thaif untuk berdakwah. Perjalanan ini dilakukan tak lama setelah wafatnya sang istri, Khadijah RA serta sang paman sekaligus pelindung utama beliau, Abu Thalib, yang di sebut Tahun Kesedihan.

Wafatnya kedua sosok yang disegani itu membuat kaum Quraisy semakin berani menentang dan mengganggu Rasulullah SAW. Untuk mengantisipasi kekejaman kaum kafir Quraisy kala itu, akhirnya secara diam-diam Rasulullah SAW melakukan perjalanan syiar dengan berjalan kaki ke Thaif. Rasulullah SAW tinggal di Thaif selama 10 hari untuk berdakwah sekaligus meminta perlindungan.

Namun ternyata, penduduk kota itu melakukan penolakan dan memperlakukan Nabi Muhammad SAW dengan kasar. Bahkan mereka melempari Rasulullah SAW dengan batu hingga kakinya terluka. Tindakan brutal ini membuat sahabat Rasulullah SAW, Zaid bin Haritsah RA ikut turun tangan membela dan melindungi beliau. Namun kepala sang sahabat juga terluka akibat lemparan batu.


Ziarah dalaman sekitar Masjidil Haram juga bisa kita lakukan :
Bukit Shofa
Merupakan tempat dimulainya sunnah sa’i terletak kurang lebih 100m dari Ka’bah.
Bukit Marwah
Marwah terletak sekitar 350m dari Ka’bah.

Bukit Shofa dan Marwah
Siti Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi ditinggalkan di Mekkah yang tandus. Saat itu, Siti Hajar mulai kehabisan persediaan air dan bekal. Sementara, Nabi Ismail yang masih bayi menangis kelaparan. Maka, Siti Hajar berlari menuju Bukit Shafa, dan Bukit Marwah untuk mencari sumber air jaraknya sekitar 450m. Siti Hajar berlari bolak-balik hingga tujuh kali, namun tak kunjung menemukan sumber air. Saat itulah, ia melihat sumber air dari tanah di bawah kaki Nabi Ismail, yang sekarang disebut mata air sumur zamzam yang ketaknya dekat dengan Ka'bah. Dengan sigap, ia mengumpulkan air tersebut, seraya berkata zamzam dalam bahasa Arab, yang berarti berkumpul. 

Sumur Zamzam
Sumur air Zamzam berasal dari zaman Nabi Ibrahim AS dan terletak 21 meter di sebelah timur Kakbah, dekat halaman Masjidil Haram. Dikisahkan bahwa sumur air Zamzam muncul secara tiba-tiba dengan mengeluarkan air ketika putra Nabi Ibrahim, yaitu Ismail kehausan dan menangis di padang pasir bersama ibunya, Hajar.

Jabal Qubais - sebagian sudah jadi Istana Raja Saudi keluarga Bani Saud.
Tahun 2007 jamaah calon haji bisa melihat hiruk pikuknya pusat perdagangan di Jalan Al Gudaria yang berada di antara Kampung Qararah dan Suq ul-Lail, yang jaraknya 50 meter dari Masjidil Haram. Di jalan itulah dulu ada sebuah pasar tradisinal yang disebut Pasar Seng sepanjang 300 meter. Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jamaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka dan tinggal kenangan. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen.

Selain itu, sejumlah bukit batu di sekitar depan Masjidil Haram juga menghilang. Salah satu di antaranya Jabal (bukit) Abu Qubais. Saat ini Jabal Abu Qubais, yang letaknya di muka pintu Babusalam Masjidil Haram itu, hilang berganti bangunan Istana Raja Saudi yang tinggi dan megah. Istana ini juga berguna bagi para pemimpin atau tamu negara yang akan beribadah di Makkah. Pada awal pembangunan di bukit ini ditentang sebagian kalangan umat Muslim. Pasalnya, banyak peristiwa bersejarah yang berkaitan dengan Jabal Abu Qubais ini.  Jabal Abu Qubais yang dulunya dikenal juga dengan sebutan Jabal al Amin (bukit kepercayaan). Karena, Allah SWT telah menyelamatkan batu atau Hajar Aswad ketika topan dan banjir bah dasyat di zaman Nabi Nuh AS. Hajar Aswad kembali ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS atas pertolongan Malaikat Jibril, ketika akan membangun Baitullah yang hancur.
1. Mujizat Nabi Muhammad SAW membelah bulan, 
2. Nabi Ibrahim AS, memanggil umatnya untuk berhaji setelah adanya Ka'bah dengan talbiyah
3. Tempat pertama diturunkannya batu Hajar Aswad sebelum diletakan di Ka'bah.  
4. Saksi sejarah laut menjadi asin di zaman Nabi Ibrahim AS dengan menerima kapur dari surga yang di letakkan ditempat2 tertentu sehingga air jadi asin.
5. Tempat pengambilan batu pondasi Ka'bah.
6. Dulu dipuncak Jabal Abu Qubais terdapat sebuah mesjid kecil yang dinamakan Masjid Bilal, masjid tersebut dibangun di atas bekas tapak kaki Nabiyullah Ibrahim AS disaat beliau sedang melakukan seruan panggilan ibadah haji.
7. Jabal Qubais letaknya sangat berdekatan dengan Masjidil Haram, letaknya searah dengan letak Hajar aswad, berdekatan dengan Bukit Marwa.

Jabal Quaiqu'an / Jabal Hindi -terletak di sebelah barat Masjid Al Haram - seberangan Jabal Qubais.
Diberi nama Quaiqian karena dentingan pedang selama pertempuran antara suku Jurhum dan Katura. Jabal Qua’iqu’an atau juga dinamakan juga Qaiqu’an adalah bukit yang berada di sebelah selatan Masjidil Haram, terletak di daerah pintu menuju arah Syamiah dan berhadapan dengan bukit Marwah. Jabal ini memilki banyak nama diantaranya jabal al-‘Abadi atau jabal Al-Sulaimaniyah atau jabal Al-Sudan atau jabal al-Hindi, dan ketinggiannya kurang lebih 410 m dari permukaan laut. Jabal Qaiqu’an merupakan jabal yang memilki nilai sejarah yang peting diataranya mukjizat Rasulullah SAW disaat membelah bulan di Jabal Abi Qubais menjadi dua belahan dengan tunjukan jari beliau, bulan benar-benar terbelah dua, satu belahan berada di atas Jabal Qubais, dan belahan kedua bergerak kearah Jabal Qaiqu’an. Jabal ini merupakan Jabal akhsyabi atau bukit berbatu yang sangat keras setelah jabal Abu Qubais. Telah diriwatkan bahwa Jibril as pernah datang kepada Rasulllah saw lalu berkata ” Wahai Muhammad, seandainya kamu berkehendak agar aku hempaskan ke dua gunung batu keras ini kepada mereka (kafir Quraisy), maka akan kulakukan”. yang dimaksud dengan dua gunung batu keras disini adalah jabal Abi Qubais dan jabal Qaiqu’an. Wallahu’alam.

Zamzam Sabeel - tempat pengumpul air zamzam masuknya di jadwal. 
Berada di belakang Masjidil Haram. Disini bisa minum sepuasnya, membawa air zamzam sebanyak2nya dan bahkan sebagian jamaah mandi pakai air zamzam ini bahkan ada yang mencuci pakaian ihrom. Alhamdulillah saya sempatkan mandi disini. 

Tapak Rumah Kelahiran Nabi Muhammad SAW - Maulid Nabi.
Kenangan satu-satunya yang tersisa dari bangunan bersejarah yang dihamcurkan di kota Mekkah adalah Maulid Nabi. Sebuah bangunan yang dulunya merupakan rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat ini bangunan ini dijadikan perpustakaan dan selalu terkunci rapat dan dijaga askar. Terletak berdekatan dengan tempat mengerjakan Sa'i, arah timur Masjidil Haram. Kawasan ini dikenali sebagai Suq al-Layl atau Shib Ali. Kini, dibangun sebuah perpustakaan dengan nama “Maktabah Makkah Al-Mukarramah”. 

Tapak Rumah Siti Khadijah - lantai berbeda di pelataran Masjidil Haram dekat Maulid Nabi. 
Kini, rumah Khadijah telah menjadi bagian dari pelataran Masjid Al-Haram. Persisnya terletak di dekat Bab An-Nabi (Pintu Nabi) Masjid Al-Haram.
Sedangkan rumah yang pernah didiami Nabi setelah beliau berumahtangga dengan Khadijah RA berada di dekat pintu Babussalam Masjidil Haram. Rumah tersebut sekarang sudah tidak ada bekasnya sama sekali.

Tapak Rumah Abu Jahal - depan Maulid Nabi - sekarang dialih fungsikan menjadi WC umum. 
Namun tanah peninggalannya bukan dijadikan tempat ibadah melainkan menjadi toilet umum bagi jamaah haji dan umroh. Letaknya di dekat pintu keluar Bukit Marwa, tempat orang mengakhiri ibadah Sa’i. Begitu keluar dari pintu 22,23,24 atau 25 di Marwa pasti akan menemukannya.

Pemakaman Ma'la
Beberapa tokoh penting dalam sejarah Islam dimakamkan di sini. Mereka antara lain Siti Aminah, ibu Nabi Muhammad SAW; Abdul Muthalib, kakek Rasulullah; Paman Nabi, Abu Thalib kemudian ada istri pertama Nabi Muhammad SAW yaitu Siti Khadijah. Pemakaman Ma'la terbentang di bukit Jabal As-Sayyidah, perkampungan Al-Hujun yang letaknya hanya berjarak sekitar 1,1 kilometer dari Masjidil Haram, Kota Mkkah. Tepatnya, di kawasan Dahlatul Jin tak jauh dari Masjid Jin. Kompleks pemakaman Ma'la ukurannya tak sebesar Al Baqi di Madinah. Area pemakaman itu dibatasi oleh dinding batu putih yang mengelilinginya. Sejarahnya Ma'la dipenuhi dengan marmer yang indah dan batu-batu putih.