Sabtu, 17 April 2021

Kisah Rasulullah Bagian 119

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

Bagian 119
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Berhaji*

Rasulullah ﷺ mengumumkan bahwa tahun itu kaum muslimin akan berangkat haji ke Mekah. Maka berangkatlah Rasulullah ﷺ beserta 1400 orang muslim. Semuanya mengenakan pakaian ihram untuk menunjukkan bahwa mereka berniat beribadah, bukan berperang.

Selain pedang di pinggang, tidak ada lagi senjata yang mereka bawa. Kaum muslimin juga membawa 70 unta yang akan disembelih selesai berhaji. Istri Rasulullah ﷺ yang terundi mengikuti perjalanan ini adalah ummu Salamah.

Namun orang-orang Quraisy sangat khawatir mendengar keberangkatan ini.

“Ini pasti tipu muslihat Muhammad agar bisa menyerang kita,”
seru para pemimpin Mekah.

Maka orang-orang Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta 200 orang pasukan berkuda untuk menghalangi kaum muslimin. Sementara itu di daerah Usfan, Rasulullah ﷺ dan rombongannya bertemu dengan seseorang dari bani Kaab. Rasulullah ﷺ Bertanya kepadanya tentang keadaan Mekah.

“Mereka sudah mendengar tentang perjalanan Tuan ini!” sahut orang itu.

“Lalu mereka berangkat dengan mengenakan pakaian kulit harimau. Mereka bersumpah bahwa mereka akan menghalangi perjalanan Tuan.”

“Oh, kasihan orang Quraisy,” kata Rasulullah ﷺ. “Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya kalau mereka membiarkan kami? Kalau aku sampai binasa, itu yang mereka harapkan.”

Kalau Allah memberiku kemenangan mereka akan berbondong-bondong masuk Islam. Tetapi mereka pasti akan berperang saat mereka punya kekuatan. Aku akan terus berjuang sampai Allah memberi kemenangan atau leherku ini terpenggal.

Untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ingin berperang. Rasulullah ﷺ meminta seorang Pandu untuk memimpin di jalan sulit berliku di pegunungan untuk menghindari pasukan Khalid bin Walid yang sudah menunggu di daerah Kira Al Ghamim.

Rombongan itu berhasil melewati pasukan berkuda musuh dan berhenti di Hudaibiyah.

“Ya Rasulullah di lembah ini tidak ada air, tidak cocok untuk tempat berhenti,” ujar seorang sahabat

Rasulullah ﷺ mengambil anak panah dan menancapkannya ke dasar sebuah sumur kering. Ketika ditarik memancarlah air yang tiada habisnya.

*Saling Tukar Utusan*

Kedua pihak kini saling memikirkan langkah selanjutnya. Orang Quraisy sudah siap berperang namun mereka mengirim dulu Budail bin Warko dan beberapa orang ke perkemahan kaum muslimin. Tujuan Budail untuk berunding sekaligus mengetahui kekuatan lawan.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Budail,

“Sesungguhnya kami datang bukan untuk memerangi seseorang, tetapi untuk melakukan haji. Rupanya orang-orang Quraisy sudah buta akibat peperangan. Jika mereka menghendaki damai dan membiarkan kami berhaji berarti mereka masih punya nyali. Tetapi jika mereka menghendaki perang maka demi Allah aku pasti akan melayani mereka sampai aku menang atau Allah menentukan lain,”

“Akan kusampaikan perkataanmu ini kepada mereka,” kata Budail.

Namun orang Quraisy belum puas. Mereka mengirim Hulais bin Al Qamah. Melihat kedatangan Hulais dari jauh, Rasulullah ﷺ bersabda,

“itu adalah Hulais, Dia berasal dari kaum yang sangat menghormati hewan kurban. Lepaskanlah hewan-hewan kurban kita. Melihat banyaknya hewan kurban Hulais terharu,

“Tidak selayaknya orang-orang Quraisy menghalangi mereka memasuki Masjidil Haram.”

Hulais kembali dan Mengatakan agar kaum muslimin tidak dihalangi, orang-orang Quraisy marah kepada Hulais. kemudian mereka mengirim Urwah bin Mas’ud sebagai utusan ketiga.

Urwah pun bertemu Rasulullah ﷺ yang memegangi janggut, sambil bicara. Namun setiap kali itu pula Al Mughiroh, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ menepis tangannya. Padahal sebelum masuk Islam Al Mughiroh sering dilindungi Urwah.

Kecintaan Al-Mughirah kepada Rasulullah ﷺ membuatnya tidak bisa membiarkan Urwah menyentuh beliau walau hanya sesaat. Setelah jelas mengetahui maksud kedatangan Rasulullah ﷺ, Urwah pun kembali.

“Wahai saudaraku Quraisy,” demikian kata Urwah,

“Aku pernah menemui Kaisar dari kisra. Demi Allah tidak pernah kulihat seorang raja yang diperlakukan para sahabat seperti Muhammad, mengagungkannya.

Setiap kali Muhammad berwudhu para sahabat berebut menyediakan airnya. Setiap ada helai rambut Muhammad jatuh mereka akan mengambilnya dan aku tidak akan diserahkan kepada orang lain walau harus mati. Terimalah tawaran Muhammad.”

Bersambung

Rabu, 14 April 2021

Gua Tsur


Gua Tsur berlokasi di sebuah bukit yang bernama serupa, bukit Tsaur (Jabal Tsaur). Letaknya di sebelah selatan kota Mekkah. Orang arab menggambarkan bukit Tsur ini seperti perahu terbalik dengan punggung perahu menghadap ke atas.

Tidak mudah untuk mencapai lokasi Gua Tsur, apalagi kebanyakan jamaah umrah dan haji yang sebagian besar berusia lanjut. Butuh waktu setengah jam mendaki. Pasalnya, lokasi Gua Tsur berada diketinggian 748 menter dari permukaan laut, artinya lebih tinggi ketimbang Gua Hira yang hanya 458 meter dari permukaan laut..

Menurut riwayat para ahli sejarah, jarak kota Mekkah ke Gua Tsur mencapai 14,4 km. Hal tersebut dihitung merujuk pada rute masa itu. Di era modern, jarak Mekkah menuju Gus Tsur hanya 6 Km.

Dituliskan Ganaislamika, Tsur sendiri sebenarnya berarti sapi jantan. Tetapi penamaan ini berasal dari orang yang pernah tinggal disini, Tsur bin Abi Manaf bin Add. Nama asli bukit ini adalah Ath’hal, yang berarti berwarna kelabu. Kemudian nama ini berubah menjadi Tsaur Ath’hal, dan akhirnya disebut Tsaur, atau sekarang menjadi Tsur

Berikut detail Gua Tsaur:

Panjang gua 18 jengkal atau sekitar 3,5 meter.

Tinggi dan lebarnya masing-masing sekitar 5 jengkal atau 1 meter.

Kamis, 08 April 2021

Para Istri Rasulullah


Istri-istri Nabi Muhammad Saw merupakan para wanita yang mulia, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Mereka merupakan para wanita yang senantiasa mendapatkan gelar ummul mukminin yaitu ibu dari orang-orang yang beriman.

Selain itu wanita-wanita inilah yang nantinya akan mendampingi Rasullah Saw di Syurga.

1. Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘Anha (556-619 M)

Khadijah adalah seorang wanita yang berasal dari bangsa Quraisy, Beliau lahir pada tahun 68 sebelum hijriah. Akan tetapi beliau terkenal memiliki kemuliaan, baik dari segi nasab maupun akhlaknya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda “wanita terbaik ialah Maryam putri imran dan Khadijah” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Status khadijah sebelum menikah dengan Rasullah adalah janda yang ditinggalkan wafat oleh dua suami terdahulunya, yang bernama Abi Haleh Al Tamimy dan Oteaq Almakzomy. Bagi Rasullah Saw, Khadijah adalah istri Beliau yang pertama.

Dan selama menikah dengan Khadijah, Rasullah tidak pernah melakukan poligami, kecuali ketika setelah Khafijah wafat. Khadijah merupakan istri yang paling dicintai oleh Rasullaj setelah Aisyah Radhiyallahu’ Anha. Bahkan karena kecintaan Beliau terhadap Khadijah membuat Aisyah cemburu.

2. Saudah binti Zam’ah Bin Qois Radhiyallahu ‘Anha (596-674 M)

Saudah merupakan wanuta yang dinikahi oleh Rasullah setelah Khadijah wafat. Beliau adalah satu-satunya istri Rasullah hingga beliau menikah dengan Aisyah.

Saudah merupakan janda dari seorang sahabat bernama Sakran bin Amr Al-Amiry yang wafat di Habasyah. Lalu datanglah Rasullah meminang Saudah, dan akhirnya Beliau menikahi Saudah pada bulan Ramadhan tahun 10 hijriyah.

Saudah adalah salah datu istri Baginda Rasul yang taat dan setia hingga Beliau wafat, ketika Rasullah hendak menceraikannya, maka Saudah pun memohon agar Rasullah tidak melakukan hal itu.

3. A’isyah binti Abi Bakr As-Shidiq Radhiyallahu ‘Anha (614-678)

Ummu Abdillah Aisyah Ash-Siddiqoh binti Ash-Shiddiq adalah wanita yang dinikahi oleh Rasullah setelah Saudah binti Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah putri dari sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Keistimewaan lain yang dimiliki A’isyah adalah bahwa kesuciannya telah diakui Allah SWT dari atas langit ketujuh, dan malaikat telah menampakkan A’isyah kepada Baginda Rasul sebelum Beliau menikahi A’isyah.

A’isyah adalah wanita paling dicintai Rasullah, pernikahan beliau Shalallahu Alaihi Wassalam deng A’isyah terjadi pada bulan Syawal tahun 11 setelah kenabian, tepatatnya dua tahun lima bulan setelah peristiwa hijrah serta setahun setelah pernikahan Beliau dengan Saudah berlangsung.

Saat menikah dengan Rasullah A’isyah berumur 6 tahun, dia adalah satu-satunya wanita yang dinikahi Rasullah dalam keadaan masih gadis atau perawan.

Dia adalah istri Rasullah yang paling paham tentang agama serta yang paling pandai, bahkan secara mutlak dia adalah wanita terpandai di antara para wanita lainnya.

4. Hafshah binti Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhuma (607-antara tahun 648 dan 665 M)

Hafshah adalah seorang janda, di mana suaminya yang bernama Khunais bin Khudzafah As-Sahmi telah meninggal sekitar tahun 2-3 Hijriyah pada saat terjadi perag badar. Hafshah menikah dengan Rasullah ketika berusia 21 tahun.

Pernikahan tersebut terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah. Hafshah menjalani kehidupan rumah tangga bersama Rasullah selama 8 tahun, dan ketika usianya menginjak 29 tahun, Rasullah Shalallahu Alaihi Wassalam wafat.

5. Zainab binti Kuzaimah Radhiyallahu ‘Anha (595-625 M)

Zainab terkenal dengan kedermawanannya yang ia miliki, sehingga ia mendapat gelar sebagao Ummul Masakin (Ibunya orang-orang miskin). Beliau berasal dari bangsa Quraisy dan merupakan janda dari seorang pahlawan pada masa terjadinya perang uhud yang bersama Abdullah bin Jahsy Radhiallahu ‘Anh.

Zainab dinikahi Rasullah pada bulan Ramadhan tahun 3 Hijriyah, akan tetapi ketika pernikahan tersebut belum mencapai 8 bulan, Zainab wafat. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Akhir tahun 4 Hijriyah, tepatnya ketika Zainab berusia 30 tahun. Jenazahya dimakamkan di Baqi’.

6. Ummu Salamah, Hindun binti Abi Umayyah Radhiyallahu ‘Anha (599-689 M)

Sebelum menikah dengan Rasullah Sholallahu Alaihi Wassalam, Immi Salamah merupakan istri darisorang Muhajirin yang pertama kali memeluk islam yang bernama Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi Al-Qurasyi.

Akan tetapi pada tahun 4 Hijriah, Abu Salamah meninggal dunia. Ummu Salamah dinikahi Rasullah ketika dia berusia 28 tahun yaitu sekitar tahun 4 H.

7. Zainab binti Jahsy Bin Rabab Radhiyallahu ‘Anha (588-641 M)

Sebelum menikah dengan Rasullah, Zainab binti Jahsy bin Rabab Radhiyallahu ‘Anha bernama Barra’. Dia adalah istri dari Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam.

Akan tetapi dalam pernikahan mereka terdapat ketidakcocokan sehingga keduanya pun bercerai. Pernikahan yang terjadi antara Rasullah dan Zainab berlangsung tanpa adanya wali dan saksi. Pernikahan tersebut terjadi pada bulan Dzul Qa’dh tahun 5 H. Akan tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa Rasullah dan Zainab menikah pada tahun 6 H.

8. Juwairiyah binti Al-Harits Radhiyallahu ‘Anha (605-670 M)

Juwairiyah adalah janda dari Musafi’ bin Shafwan yang meninggal dalam peperangan yang terjadi antara pasukan Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam dengan Bani Musthaliq di lembah Al-Muraisi yang merupakan salah satu daerah sumber air bagi bani Musthaliq, Juwairiyah dianggap wanita yang paling berkah oleh kaumnya, karena setelah pernikahannya sengan Rasullah, banyak sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam yang membebaskan budak mereka yang berasal dari Bani Musthaliq.

9. Ummu Habibah binti Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma (591-665 M)

Ummu Habibah adalah saudara sepupu di Utsman Bin Affan. Ibunya yang bernama Shafiyah Binti Abil ‘Ash adalah saudara dari affan yang merupakan ayah dri Utsman. Sebelum menikah dengan Rasullah, Ummu Habibah telah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy.

Akan tetapi suaminya tersebut meninggal di Habasyah. Dari pernikahanya itu, Ummu Habibah dikaruniai seorang putri yang bernama Habibah.

10. Shafiyah binti Huyai Bin Akhtab (628-672 M)

Sebelum menikah dengan Rasullah, Syafiyah pernah menikah dengan dua lelaki, yang pertama dengan Salam bin Masykam ketika ia belum masuk islam, dan setelah berpisah, lalu Shafiyah binti Huyai bin Akhtab menikah dengan Kinanah bin Abil Haqiq yang akhirnya terbunuh ketika kaum musliin menaklukan Bani Nadzir.

Sementara itu Shafiyah menjadi salah satu budak tawanan. Pernikahan Rasullah dengan Shafiyah terjadi pada tahun 7 H, yaitu setelah Bani Nadzir berhasil ditaklukkan. Syafiyah disebut sebagai wanita Shadiqah oleh Rasullah yang artinya wanita yang jujur imannya.

11. Maimunah binti Al-Harits Radhiyallahu ‘Anhu (602-681 M)

Maimunah adalah saudara dari ibu kandung Khalid bin Walid yang bernama Lubabah As-Shugra. Selain itu, Maimunah juga merupakan saudara seibu dari istri Rasullah yang bernama Zainab binti Khuzaimah.

Pernikahan antara Rasulah dengan Maimunah binti Al-Harits Radhiyallahu ‘Anhu terjadi pada bulan Dzul Qo’dah tahun 7 H seusai urah qadha. Maimunah meninggal pada tahun 61 H di Saraf, yaitu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari ibadah haji. Jenazahya dimakamkan di Saraf.

Selain kesebelas istri, Rasullah juga memiliki dua budak wanita, yaitu:

12. Mariyah Al-Qibtiyah

Mariyah merupakan hadiah yang diterima Rasullah dari raja Maqauqis sebagai jawaban atas surat Beliau yang mengajaknya untuk memeluk agama islam. Dari Mariyah Al-Qibtiyah, Rasullah mendapatkan seorang putra yang bernama Ibrahim. Akan tetapi Ibrahim meninggal ketika usianya belum genap dua tahun.

13. Raihannah binti Al-Quradziyah

Raihannah awalnya adalah seorang tawanan dari Bani Quraidzah, lalu Rasullah menjadikannya sebagai budak. Akan tetapi pendapat yang lain menyatakan bahwa Rasullah telah membebaskan Raihanah lalu menjadikkanya istri.

Ashabul Kahfi

Lokasi gua tempat Ashabul Kahfi tertidur masih diperdebatkan para pakar. Ada setidaknya lima lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi gua tempat Ashabul Kahfi tertidur

Ashabul Kahfi memang kisah terkenal. Bercerita tentang tujuh manusia dan satu ekor anjing yang tinggal di gua selama ratusan tahun karena menghindari penguasa yang dzalim, menjadi kisah inspiratif mengenai keteguhan iman dan keberanian. Namun yang paling menarik untuk ditelusuri adalah, apakah Ashabul Kahfi benar-benar terjadi?

Disebutkan nama ketujuh anggota Ashabul Kahfi sekaligus anjingnya. Nama-nama tersebut adalah bukti bahwa Ashabul Kahfi bukanlah kisah fiksi semata. Ia betul-betul terjadi dalam sejarah ummat manusia. Pertanyaan berikutnya yang menarik untuk diajukan adalah, dalam babak sejarah semacam apa dan di mana kasus Ashabul Kahfi muncul?

Dari cerita yang sering kita dengar, satu variabel yang bisa dijadikan sandaran adalah gambaran mengenai rezim penguasa yang giat menindas penganut agama samawi. Berdasarkan variabel ini, para ulama kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan sejarah di mana ia terjadi. M. Quraish Shihab misalnya, dalam Tafsir Al-Misbah mengutip pendapat dari pengarang tafsir Al-Muntakhab yang terdiri dari sekelompok ulama dan pakar Mesir berusaha mengungkap tempat dan waktunya melalui isyarat-isyarat Al-Qur’an. Singkatnya, ditemukanlah dua kemungkinan peristiwa sejarah.

Berdasarkan peristiwa tersebut, maka ditemukan setidaknya lima lokasi gua tempat Ashabul Kahfi tertidur. Di mana saja?

Pertama adalah Gua di Episus atau Epsus, satu kota tua di Turki, sekitar 73 km dari kota Izmir dan berada di suatu gunung di desa Ayasuluk. Gua ini populer di kalangan umat Nasrani dan sebagian umat Islam. Tetapi tidak ada bekas masjid atau rumah peribadatan sekitarnya, padahal al-Qur’an menjelaskan bahwa sebuah masjid dibangun di lokasi itu. Arahnya pun tidak sesuai dengan apa yang dilukiskan oleh al-Qur’an. Al-Qur’an melukiskan bahwa matahari bersinar pada saat terbitnya di arah kanan gua dan ketika terbenam di arah kirinya, dan ini berarti pintu gua harus berada di arah selatan, padahal pintu gua tersebut tidak demikian.

Kedua adalah Gua di Qasium dekat kota ash-Shalihiyyah di Damaskus.

Ketiga adalah Gua al-Batra’ di Palestina.

Keempat adalah Gua yang katanya ditemukan di salah satu wilayah di Skandinavia. Konon di sana ditemukan tujuh mayat manusia yang tidak rusak bercirikan orang-orang Romawi dan diduga merekalah Ashabul Kahfi.

Kelima adalah Gua Rajib, yang berlokasi sekitar delapan kilometer dari kota Amman, ibukota Kerajaan Jordania, di satu desa bernama Rajib. Goa itu berada di suatu bukit, di mana ditemukan satu batu besar yang berlubang pada puncak selatan bukit itu. Pinggirnya di bagian timur dan barat terbuka sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam goa. Pintu goa berhadapan dengan arah selatan.

Di dalam goa terdapat batu sebagai peti mayat yang digunakan orang Nasrani dengan ciri masa Byzantium, jumlahnya delapan atau tujuh buah. Juga terdapat gambar berwarna merah dari seekor anjing serta beberapa gambar lainnya. Di atas goa itu terdapat bekas-bekas rumah peribadatan ala Byzantium dan mata uang serta peninggalan-peninggalan yang menunjukkan bahwa tempat itu dibangun pada masa Justiunus (418 – 427 M.) dan beberapa peninggalan lain.

Tempat peribadatan itu diubah dan dialihkan menjadi masjid dengan menara dan mihrab ketika kaum muslimin menguasai daerah itu. Di lokasi depan pintu goa ada juga bekas-bekas bangunan masjid yang lain yang kelihatannya dibangun oleh kaum muslimin pada awal masa Islam, dan yang terus menerus dipelihara dan direnovasi dari saat ke saat. Masjid ini dibangun di atas puing-puing gereja Romawi, sebagaimana halnya masjid yang berada di atas goa.

Goa ini ditemukan pada tahun 1963. Peneliti dan pakar purbakala, Rafiq Wafa ad-Dajani, menulis hasil penelitiannya dalam sebuah buku yang ia namai “Iktisyaf Kahf Ashhab al-Kahf/ Penemuan Gua Ashhab al-Kahfi” yang terbit pada tahun 1964, di mana ia menguraikan jerih payah yang dideritanya dalam rangka penelitian itu, serta ciri-ciri goa tersebut dan peninggalan-peninggalan yang ditemukan di sana. Semua itu mengantar kepada keyakinan bahwa goa itulah Goa Ashhab al-Kahfi yang disebut dalam al-Qur’an. Goa itulah yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebut dalam al-Qur’an, bukan yang terdapat di Epsus, atau Skandinavia atau tempat-tempat lain.

Itulah kemungkinan lima lokasi gua tempat Ashabul Kahfi tertidur dan ada di masa lalu.

Kota Yang Disebut Dalam Al Qur'an




Dalam Al-Qur'an banyak dikisahkan sejarah masa lampau yang pernah terjadi pada masa nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan ada kisah-kisah yang berlatar di kota-kota yang juga mengandung hikmah sekaligus menjadi saksi bagaimana suatu kaum melewati sejarah kegemilangannya.

Salah satu kota yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah Makkah. Allah menyebut kota suci ini dengan beragam nama, yakni: Bakkah (QS. Ali Imran: 96), Ma’ad (QS. Al Qashshash: 85), serta disebut pula dengan Ummul Qura (QS. Asy Syura: 7 dan Al An’am: 92). Penyebutan Ummul Qura karena kota Makkah lah induk atau pusat seluruh negeri di dunia. Dalam ayat lain, Makkah juga disebut Al Balad Al Amin, yakni negeri yang aman (QS. At Tin: 3). Nama surah Al Balad pun bukan bermakna negeri secara umum, melainkan negeri Makkah.

Kemudian Madinah (Yatsrib). Kota Rasulullah terekam namanya dalam Al Qur’an di Juz 21, yakni di surat Al Ahzab ayat 13-14. Inilah kota suci kedua umat Islam, kota bercahaya di mana Masjid Nabawi berdiri, kota tujuan hijrah, serta kota awal mula kekhalifahan Islam .

Keutamaan kota Madinah begitu banyak dan tak akan pernah lekang hingga hari akhir nanti. Adapun lokasinya berada di wilayah Hijaz. Kerajaan Arab Saudi menjadikan Madinah sebagai nama ibu kota sekaligus nama provinsi.

Selain Makkah dan Madinah, ada beberapa nama kota yang juga tercantum dalam Al-Qur'an. Disarikan dari laman NU Online, berikut nama-nama kota yang ada dalam Al Qur'anul Karim ini, antara lain:

1. Al Hijr (Madain Saleh)

Bukan hanya disebut namanya, kota Al Hijr bahkan menjadi nama salah satu surat dalam Al Qur’an, yakni surat ke-15 di juz 14. Al Hijr juga disebut Madain Saleh atau kotanya Nabi Saleh. Kisah sang nabi bersama mukjizat unta ajaibnya, terjadi di kota ini. Di masa kuno, kota dengan arsitektur nabatean ini dikenal dengan nama Hegra.

Saat ini Al Hijr hanya tersisa jejaknya saja, yakni sebuah situs pahatan-pahatan gunung yang sangat megah. Kota ini tak lagi dihuni mengingat umat Nabi Shaleh, Tsamud, telah musnah karena azab. Allah menyisakan puingnya sebagai pelajaran bagi umat kemudian. Wilayah Al Hijr berada di Negara Arab Saudi dan menjadi salah satu World Heritage UNESCO.

2. Iram

Iram atau Aram merupakan kota tempat tinggal kaum ‘Aad. Kota Iram juga dikenal dengan negeri pilar karena sisa-sisa pilar yang tinggi menunjukkan peradaban kaumnya yang maju. Namun sebagaimana Al Hijr, Iram juga diazab Allah karena kaum ‘Aad membangkang pada Nabi Hud.

“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.” (QS. Al Fajr: 7-8). Lokasi kota ini berada di padang pasir Zhafar, dekat Kota Shalabah, selatan Oman.

3. Madyan

Madyan disebut Al Qur’an di banyak ayat, di antaranya Surah At Taubah: 70, Al Hijr: 78, Thaha: 40, dan Al Hajj: 44. Kota ini merupakan lokasi Nabi Syu’aib diutus. Sebagaimana Al Hijr dan Iram, Madyan pun merupakan kota yang dimusnahkan karena azab. Lokasi Kota Madyan berada di kawasan Al Bada’, dekat pantai Laut Merah, di perbatasan Yordania dan Palestina.

4. Yaman dan Kota Saba’

Negeri Yaman memang tidak disebutkan secara tegas, Al-Qur’an hanya menyebutkan gurun pasir yang berada di negara Yaman. Tempat tinggal kaum Hud bin Abdullah bin Rabah. Bukit ini menjadi nama surat dalam Al-Qur’an (Al-Ahqaf) dan disebutkan satu kali pada ayat 21.

Terdapat pula sebuah wilayah di negara Yaman yang diabadikan dalam Al-Qur’an dan dijadikan nama surat, yaitu kota Saba’. Al-Qur’an menyebut wilayah ini sebanyak dua kali, pada surat al-Naml, 22 dan Saba’ 15.

Kisah penduduk Saba’ sangat terkenal hingga nama kotanya dijadikan salah satu nama surah dalam Al Qur’an. Kota ini merupakan wilayah kekuasaan Ratu Balqis yang kemudian beriman dan menjalankan syariat yang diturunkan kepada Nabi Sulaiman.

Saba’ terkenal dengan bendungannya yang besar, yakni Bendungan Ma’rib. Bendungan inilah yang kemudian bobol akibat kaum Saba’ yang ingkar kepada Allah. Kota ini terletak di wilayah Yaman namun kini tak lagi tersisa jejaknya.

5. Mesir

Nabi Musa merupakan utusan Allah yang paling banyak disebut kisahnya dalam Al Qur’an. Karena itulah Kota Mesir pun beberapa kali disebut dalam kitabullah. Belum lagi adanya kisah Nabi Yusuf yang juga berlatar di Negeri Pyramida tersebut. Penyebutan Mesir di antaranya ada di Surah Yunus, Yusuf, Az Zukhruf, dan sebagainya.

6. Najran

Kata Najran memang tak ditemukan dalam Al Qur’an secara eksplisit . Namun kisah kota ini diabadikan dalam firman-Nya, yakni dalam Surah Al Buruj. Kisah ini sangat terkenal yakni tentang pembesar Najran yang memerintahkan pembuatan parit-parit. Api membara kemudian dinyalakan di dalam parit dan menjadi lokasi eksekusi orang-orang yang beriman. Saat ini Najran masuk wilayah Arab Saudi, di daerah perbatasan dengan Yaman.

7. Yerusalem

Sebuah artikel bertajuk “Jerusalem in the Quran” yang dipublikasikan di dalam jurnal British Journal of Middle Eastern Studies, menyatakan bahwasanya Yerusalem disebut 70 kali dalam Al Qur’an, baik secara implisit maupun eksplisit. Penyebutan Yerusalem tersebar di 21 surat. Al Qur’an menyebut Yerusalem dengan “Tanah Suci”, “Tanah yang diberkahi”, “Kota yang diberkahi.” Salah satu ayat yang menyebut Yerusalem yakni, firman Allah:

“(Musa berkata) Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Yerusalem) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al Maidah: 21).

8. Syam

Al Qur’an tidak menyebut nama Syam, namun menggambarkan kota tersebut di beberapa ayat. Allah menggambarkan Syam sebagai “negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya” (QS. Al A’raf: 137). Disebut pula sebagai “tempat kediaman yang bagus” dalam Surah Yunus: 93, “Negeri yang Kami telah memberkahinya” dalam QS. Al Anbiya: 71.

Syam merupakan negeri di sebelah timur laut Mediterania. Syam saat ini merupakan wilayah beberapa negara Timur Tengah. Di antara negara yang masuk dalam wilayah Syam yakni Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon.

Demikian beberapa kota yang disebut dalam Al Qur’an. Terdapat pula kota lain yang disebut secara implisit . Sebut saja Kota Sodom, Byzantium, dan lain sebagainya. Dikisahkannya kota-kota ini dalam Al Qur’an bertujukan agar menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Peninggalan Sejarah Islam




Islam adalah salah satu agama terbesar kedua yang ada di dunia. Sejak masa kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, Islam memang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai peninggalan sejarah Islam yang tersebar di berbagai wilayah di dunia, mulai dari bangunan mesjid, istana, benteng pertahanan, hingga senjata yang digunakan ketika berperang.

Nah, dari sekian banyak peninggalan yang masih berdiri hingga saat ini, beberapa diantaranya bahkan masih biasa digunakan sebagai tempat peribadatan umat Islam. Apa saja itu? Yuk, simak ulasan yang telah Bacaterus rangkum terkait peninggalan sejarah Islam dalam artikel di bawah.

1. Ka’bah

Salah satu peninggalan sejarah Islam yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Ka'bah. Ka’bah merupakan bangunan suci umat Islam yang berada di tengah-tengah di Masjidil Haram. Ka'bah sendiri diketahui telah ada sejak masa Nabi Adam AS. Sementara pemugaran sendiri mulai dilakukan pada masa Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Selain merupakan tempat suci bagi umat Islam, Ka ‘bah juga menjadi kiblat untuk menjalankan ibadah sholat bagi umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun sendiri Ka'bah kerap dipenuhi oleh umat Islam yang sedang melaksanakan salah satu rukun dalam Islam, yaitu Haji.

2. Masjid Nabawi

Peninggalan sejarah Islam berikutnya yang cukup penting dalam perkembangan Islam di dunia adalah Masjid Nabawi. Masjid Nabawi terletak di pusat kota Madinah, Arab Saudi. Mesjid ini dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun pertama setelah hijrah dari Mekah ke Madinah.

Sebelum menjadi salah satu mesjid terbesar dan termegah yang ada di dunia, Masjid Nabawi merupakan rumah kediaman Nabi besar Muhammad SAW. Masjid Nabawi sendiri menjadi masjid ketiga yang dibangun dalam sejarah Islam.

Selain itu menjadi tempat suci kedua umat Islam setelah Masjidil Haram. Umat Islam sendiri percaya bahwa salat di Masjid Nabawi memiliki nilai pahala 1.000 kali lipat dibandingkan dengan di masjid lain.

3. Masjidil Haram

Masjidil Haram dibangun mengelilingi Ka'bah. Masjid ini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia, selain Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarah. Masjidil Haram sendiri merupakan masjid suci utama bagi umat muslim.

Mesjid yang memiliki luas sekitar 356.800 meter persegi diketahui mampu menampung jemaah haji hingga mencapai 820.000 jemaah, bahkan dapat meningkat sebanyak dua kali lipat setiap tahunnya ketika pelaksanaan sholat Ied.

Masjidil Haram sendiri menjadi salah satu mesjid yang keberadaannya cukup penting karena di Mesjid inilah para jemaah haji melakukan beberapa rukun wajib haji, seperti tawaf, dan sai.

4. Masjid Quba

Peninggalan sejarah Islam selanjutnya yang masih berisi hingga saat ini adalah Masjid Quba. Masjid Quba adalah mesjid pertama yang dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW ketika menyelesaikan perjalanan hijrahnya dari kota Mekah. Mesjid Quba terletak di tepi kota Madinah. Mesjid ini dibangun pada 8 Rabiul Awwal atau 23 September 622 Masehi.

Pada awalnya, mesjid yang mampu menampung sekitar 20.000 jemaah ini berdiri di atas kebun kurma seluas 1.200 meter persegi. Namun, seiring waktu mesjid ini pun mengalami renovasi dan perluasan hingga mencapai 5.860 meter persegi. Nabi Muhammad SAW sendiri kerap pergi ke mesjid ini setiap hari Sabtu, Senin, dan Kamis.

5. Masjidil Al Aqsa

Masjid Al Aqsha merupakan kiblat pertama umat Islam dalam menjalankan ibadah. Mesjid Al Aqsa menjadi saksi sejarah perjalanan Isra Miraj yang telah dilakukan oleh nabi besar Muhammad SAW. Masjid Al Aqsha diketahui telah berdiri sejak Nabi Adam AS. Masjid ini kemudian dibangun oleh nabi-nabi setelahnya, yang diutus untuk kaum Bani Israil.

Mesjid Al Aqsa menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh para peziarah muslim dari seluruh dunia. Hal itu sesuai dengan anjuran dari Nabi Muhammad SAW dalam Hadist Riwayat Muslim, dimana Rasulullah bersabda bahwa Masjid Al Aqsha menjadi tempat yang perlu dikunjungi setelah Masjidil Haram di Mekah, dan Masjid An Nabawi di Madinah.

Nah, di masjid ini pula, Rasulullah diberikan wahyu oleh Allah SWT agar Nabi dan umatnya menjalankan salat 5 waktu.

6. Benteng Agra

Selain Taj Mahal, peninggalan sejarah Islam di India yang masih bisa kita lihat sampai saat ini adalah benteng Agra. Benteng ini adalah saksi bisu kejayaan Islam di negeri India. Benteng Agra sendiri adalah dinding pelindung yang mengelilingi Istana tempat tinggal keluarga raja pada masa Kerajaan Mughal hingga tahun 1638, sebelum akhirnya ibukota kerajaan berpindah ke Delhi.

Benteng Agra berdiri seluas 38 Hektar dengan tembok menjulang setinggi 21 meter dan 4 gerbang di keempat sisi benteng. Benteng bersejarah tersebut juga menjadi saksi bisu pertempuran pemberontakan India melawan kekuasaan British East India Company pada tahun 1857, yang membuat Inggris pada akhirnya menjadi penguasa langsung atas India.

7. Istana Azzahara

Beralih ke daratan Eropa, dimana di sana terdapat peninggalan sejarah kekuasaan Islam pada abad pertengahan, yang bernama Medina Azzahara, yaitu sebuah kompleks istana yang memiliki desain arsitektur menawan. Dalam bahasa Arab, Medina Azzahara sendiri memiliki arti, yaitu kota yang bersinar.

Meskipun saat ini tempat tersebut hanya meninggalkan sisa puing-puing bangunan yang telah runtuh, namun lokasi tersebut menjadi tempat wisata yang cukup populer yang ada di Spanyol. Medina Azzahara diketahui dibangun pada tahun 936 M oleh Abd ar Rahman III, pada masa khalifah Umayyah pertama. Medina Azzahara sempat menjadi pusat pemerintahan dan administrasi Andalusia.

8. Benteng Alhambra

Peninggalan sejarah agama Islam yang juga cukup menarik ada di Spanyol adalah Benteng Alhambra, yang terletak di kota Granada. Benteng Alhambra sendiri adalah bagian dari istana Alhambra, yang merupakan peninggalan dari dinasti Islam terakhir di Andalusia, yaitu Bani Ahmar. Bangunan yang memiliki desain menawan ini menjadi saksi bisu kejayaan Islam.

Istana Alhambra sendiri dibangun pada tahun 1232 M oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar di kota Granada di atas sebuah bukit bernama La Sabica. Alhambra sendiri adalah kota peninggalan kerajaan Palatine yang merupakan sisa peninggalan dari dinasti Nasrid, kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Eropa Barat.

9. Pedang Damaskus

Salah satu senjata peninggalan sejarah Islam yang cukup terkenal di dunia adalah Pedang Damaskus. Pedang ini digunakan oleh seorang pemimpin Islam bernama Salahuddin Al-Ayyubi. Pedang Damaskus merupakan senjata yang digunakan ketika terjadi perang Salib ke-3, yaitu saat pasukan muslim menghadapi gempuran tentara Kristen, yang dipimpin oleh Richard the Lionheart.

Pedang Damaskus dikenal karena kehebatan serta ketajaman yang luar biasa. Hal tersebut diungkapkan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Peter Paufler bersama koleganya dari universitas asal Jerman. Meskipun dikenal sangat tajam, namun pedang ini sangat lentur, dan ringan ketika digunakan. Pedang Damaskus sendiri menjadi salah satu pedang legendaris yang ada di dunia.

10. Mesjid Raya Xian

Salah satu peninggalan sejarah agama Islam selanjutnya datang dari negeri tirai bambu, China. Masjid Raya Xi’an adalah masjid terbesar dan tertua yang ada di China. Masjid Xian diperkirakan dibangun pada tahun 742, yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Tang sekitar 618 – 907. Masjid Raya Xi’an berdiri di lahan seluas 12.000 meter persegi.

Mesjid dengan desain arsitektur perpaduan antara gaya arsitektur tradisional khas China dan Timur Tengah ini memang cukup menawan. Meski telah lama berdiri lebih dari 1000 tahun silam, namun kondisi bangunannya sendiri masih tampak menawan. UNESCO sendiri sempat memasukkannya ke dalam daftar peninggalan kebudayaan Islam di dunia.

Wukuf Di Arafah



Wukuf di pada Arafah merupakan bagian dari rukun haji. Tidak seseorang hajinya jika tidak melaksanakan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah.

Arafah bisa juga diucapkan Arafat. Kata Arafat adalah bentuk Mufrad (singular) dengan lafadz jama (plural). Alquran menggunakan lafal jamak ini sesuai surat Al Baqarah ayat 198.

Arafah atau Arafat adalah nama satu tempat yang diucapkan dengan lafal jamak meskipun tempatnya satu, ialah karena semua sudut di tempat itu dinamakan Arafah.

Memang ada juga ulama yang membedakan makna dengan pengertian antara dua kata itu, yakni Arafah dengan lafazh mufrad, maksudnya adalah hari Arafah, sedangkan Arafat dengan lafadz jama (plurar) maksudnya adalah tempat, yaitu kawasan bumi Arafah yang menjadi tempatnya jamaah haji melakukan wukuf.

Arafah adalah nama sebuah tempat, Tanah Lapang yang datar gersang dan tandus sekitar 25 km ke arah Timur Kota Makkah dengan luas kurang lebih 3,5 × 3,5 Km atau mencapai 17,9 KM persegi. Sumber lain menyebutkan bahwa luas bumi Arafah sekitar 2 × 4 KM atau sama dengan 800 hektar.

Sehingga jika dihitung rata-rata setiap 1 meter persegi ditempati 1 orang, maka Arafah akan mampu menampung sebanyak 8 juta jamaah haji.

Di sebelah timur berbatasan dengan pegunungan sebelah utaranya membujur rangkaian bukit-bukit setinggi 200 kaki yang dinamakan Bukit Arafah. Sebelah barat adalah lembah (Wadi) Urunah dan di bagian selatannya adalah Jabal Rahmah.

Untuk diperhatikan bahwa Jabal Rahmah termasuk wilayah arafah. Sedangkan lembah urunan bukan bagian dari Arafah, sehingga melakukan wukuf urunan dianggap tak sah. Sementara itu Padang Arafah adalah tanah halal (bukan termasuk tanah haram) dan lembah Urunah itulah yang membatasi arafah dengan tanah Haram Makkah.

Jadi, Arafah adalah termasyhur tempat menunaikan manasik haji di luar batas tanah haram yang disucikan.