Minggu, 14 Oktober 2012

Ujian

Setiap kali terdengar ketukan
Hanya bayang-bayang yang memanjang
Di depan berdiri lelaki tampan
Selalu, berdekatan
Kau singgah di depan, dibelakang
Kadang jua disamping bersebelahan
Kaulah yang pertama kali berderit
Sebelum yang lain menyembunyikan punggung tangan
Menyisakan waktu mengisi teka teki perjuangan
Sehabis menyelesaikan isian
Kau ajak aku mengimami akal yang lusuh
Digerus pergesekan otak kiri dan otak kanan
Rongga ini lebih hiruk dari segala macam peperangan
Dan akal kita lebih sibuk dari mesin pesawat tempur, katamu
Kau ajak aku membenarkan letak setiap jawaban
Karena aku sering lupa akal dimana kita rumahkan
Di dada atau di kepala?
Lupa pula
Dimana kelak nanti kita bersama


1995




Radio Dalam

Pertemuan kita melekat pada kerut buah jeruk
Di celahnya, irisan daging sudah lama tak berair
Ada lidah yang telah menggeyarkan kata-kata
Selebihnya menyisa pada sekuntum melati di sebelah kiri
Sebagai siapa kau datang pada hari raya ini
Sebagai pelukan sahabat ulang tahun
Sebagai ciuman nenek di dahi
Atau sebagai lelaki yang datang menawarkan perundingan....

1998




Perkenankanlah

Perkenankanlah ku menanam mawar di sini
Jelang datang dikepala musim hujan
Yang membasuh  keletihan
Dibawah sebatang pohon
Telah kusediakan bangku panjang
Melepas lelah menghisap kesejukan
Padatkan kerinduan dan segala sakit jadi kerikil
Untuk ku lemparkan satu persatu ke telaga
Tiada guna terjebak berlama-lama menanggung masa lalu
Sebelum perpisahan diazankan
Semasa jjntung masih berupa gunung api
Ku kuburkan kerinduan di setiap rumpun mawar
Atau alihkan ke dasar terdalam telaga
Hingga ia tidak bisa lagi berbunyi

Oktober 1999
Permata Karawaci




Sabtu, 13 Oktober 2012

Mamah

Dia telah begitu banyak berjasa
Sejak awal masa
Sejak pertama mataku mengenal dunia
Dia selalu bersamamu
Menemanimu
Tapi aku masih juga tak tahu
Apa yang sebenarnya dia mau.

U11 nomor 3 Serpong

Balon karbit yang mengawang di angkasa
Seseorang telah melepaskannya
Sengaja
Atau hanya iseng belaka
Waktu demi waktu, masa ke masa
Dia cuma melayang
Entah sampai kapan
Kau tahu
Dia akan terus disana
Entah kau ada
Atau tiada
1998



Lama begitu Lama

Seperti perpustakaan tua tanpa penjaga
Buku-buku berjajar,bertumpuk,berserak,tersebar
Siang malam,kemarau hujan,orang-orang datang
Siang malam,kemarau hujan,orang-orang membaca
Siang malam,kemarau hujan,orang-orang menulis
Kisah cinta, nostalgia, malapetaka, insomnia, amnesia, paranoia

Kau sadar, engkau salah satu dari mereka.

1999


Tangerang Malam Hari

Sebuah pertemuan bukanlah
Sekedar basa-basi yang tercatat
Atau pun yang tidak tercatat
Ia senantiasa akan berlangsung
Dengan caranya
Aku takut malam ini
Untuk memainkan peranku
Sebagai kekasih atau sebagai
Pengembara
Jalan lurus serpong
Seperti hatiku yang tak tahu
Menuju ke siapa
Perlahan-lahan aku menjauh
Di sudut kota ini
Tertunduk tak berdaya
Oleh seribu kegamangan
Yang menusuk dadaku
Langit malam di Karawaci
Terlalu sepi bagi seorang
Yang hanya menatap bulan
Diantara gedung-gedung beton bertulang.

1998