Rabu, 28 Juni 2023

Kisah Haji Nusantara




Lebaran Idul Adha atau lebaran kurban berangkai dengan proses haji. Mereka yang pulang dari Tanah Suci di waktu itu lalu mendapat sematan haji.

Kisah sematan haji memang lebih dikenal sejak masa penjajahan Belanda, padahal maknanya lebih besar. Lalu, haji kecil, apa itu? 

Begini kisahnya.

"Kisah Haji Nusantara", tradisi meletakkan gelar "haji" atau "hajjah" di depan nama orang Indonesia usai menunaikan ibadah haji.

Tradisi itu sah-sah saja. Salah satu alasannya adalah sejak masa silam, perjalanan menuju Tanah Suci bagi orang Nusantara adalah perjuangan berat tersendiri, harus mengarungi lautan, menerjang badai berbulan-bulan, menghindari perompak, hingga menjelajah gurun pasir.

Seorang yang berhasil melalui ujian tersebut, dan berhasil kembali selamat ke Tanah Air, kemudian dianggap berhasil mendapat anugerah dan kehormatan, apalagi Ka'bah dan Mekkah adalah kiblat suci umat Islam sedunia.

Itu mengapa dalam perkembangannya lazim di Indonesia ada pemberian gelar bagi jemaah haji usai menunaikan ibadah di Tanah Suci. Masyarakat menambahkan kata haji atau hajjah saat menyebut nama mereka

Penyebutan haji di kawasan Islam Melayu

Bahwa tradisi seperti itu sebetulnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di dunia Islam Melayu bagian lain juga begitu, baik Malaysia, Singapura, Brunei, dan bahkan Thailand Selatan.

Tradisi di Mesir Utara bahkan bukan hanya memberi gelar haji, tapi juga melukis rumahnya dengan gambar Ka'bah dan moda transportasi yang digunakan ke Mekkah

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, gelar haji dinilai penting dan membanggakan, mencerminkan status sosial tertentu. Menurut Dadi, tradisi penyematan gelar ini bisa dilihat dari tiga perspektif.

Pertama, secara keagamaan, haji adalah perjalanan untuk menyempurnakan rukun Islam. Perjalanan yang jauh dan panjang, biaya yang mahal, persyaratan yang tidak mudah, membuat haji menjadi sebuah perjalanan ibadah yang semakin penting dan tidak semua orang bisa lakukan.

Untuk itulah gelar Haji dianggap layak dan terus disematkan bagi mereka yang berhasil melakukan ibadah haji.

Haji di masa Belanda

Sejak awal abad 20, industri perjalanan haji semakin besar. Sejumlah perusahaan kapal Belanda juga turut serta di dalamnya. Jemaah haji Nusantara pun semakin besar jumlahnya.

Perjalanan haji relatif lebih mudah dan cepat, tapi gelar haji tetap digunakan dan bahkan semakin popular.

Kedua, secara kultural, narasi dan cerita-cerita menarik, heroik, dan mengharukan selama berhaji juga terus berkembang menjadi cerita popular, sehingga semakin banyak orang tertarik naik haji.

Sebagian besar tokoh-tokoh masyarakat juga bergelar haji. Cerita-cerita ini terus bersambung hingga kini sehingga menjadi semacam genre tersendiri sebagai memoir.

Hal-hal inilah yang membuat ibadah haji semakin penting dan gelar haji di Indonesia punya nilai dan status sosial yang tinggi.

Ketiga, dari perspektif kolonial, penyematan gelar haji juga punya ceritanya tersendiri. Dulu, karena takut akan pengaruh haji bagi gerakan anti-penjajahan, pemerintah kolonial Belanda berusaha untuk membatasi jamaah haji, dengan berbagai cara.

Salah satu caranya adalah membuka Konsulat Jenderal pertama di Arabia pada 1872. Tugas konsulat ini adalah mencatat pergerakan jamaah dari Hindia Belanda, dan mengharuskan mereka memakai gelar dan atribut pakaian haji agar mudah dikenali dan diawasi.

Itu dari perspektif kolonial. Padahal menurut Snouck Hurgronje, yang meneliti haji, saat itu, jemaah haji tidak layak ditakuti sebagai anti-penjajah.

Oman menambahkan bahwa tradisi menyematkan gelar haji di depan nama, tentu jangan sampai merusak keikhlasan berhaji.

Salah satu ciri haji mabrur adalah menjadi orang yang ikhlas dan muhsin (berbuat baik) sepanjang masa, selalu menebar kedamaian, baik ketika maupun usai menunaikan ibadah haji.

Haji kecil

Menyitir Haji kecil adalah nama lain dari umrah. Haji dan umrah adalah dua ibadah berbeda yang memiliki nama lain yang sama sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha.

Jika Idul Fitri hadir dengan istilah lain al-'idul ashghar (id kecil), dan Idul Adha dengan istilah al-'idul akbar (id besar), maka ibadah haji pun dikenal dengan nama lain al-hajjul akbar (haji besar) dan umrah dengan nama al-hajjul ashghar (haji kecil).

Istilah ini sudah ada sekitar 14 abad silam, disebut oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Abu Bakr, bahwa ia pernah menulis sebuah surat kepada 'Amr bin Hazm.

Pada lembaran itu tertulis, Annal 'umrata hiya al-hajjul ashgharu (Ibadah umrah sejatinya adalah haji kecil (al-Umm, juz 2, hal. 145). Hal ini tentu untuk menjawab kegelisahan umat tentang apa sebenarnya umrah tersebut, sekaligus sebagai kelanjutan atas keterangan bahwa inti ibadah haji yang membedakannya dengan yang lain adalah wukuf di Arafah.

Sehingga umrah yang tanpa wukuf ini, di samping memiliki cara pelaksanaan yang sama, disebut sebagai "haji kecil".

Tidak banyak ulama yang mendefinisikan umrah. Mereka rata-rata mendefinisikan haji. Karena mungkin bagi mereka cukup dengan mendefinisikan haji, umrah pun ikut. Hanya saja, di dalamnya nanti diterangkan ihwal wukuf di Arafah sebagai pembeda antara haji dan umrah.

Jumat, 23 Juni 2023

Tradisi dan Adat Budaya Melayu Pekanbaru

Tradisi dan Adat Budaya Melayu Pekanbaru

Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. 
Darimanapun asalmu selama kita berada di kota bertuah ini, maka wajib menjaga tradisi dan adat tunjuk ajar Melayu Pekanbaru.

Julukan Kota Pekanbaru adalah Pekanbaru Kota Bertuah. Julukan Bertuah ini adalah akronim Dari Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman, Harmonis.

Kenapa Pekanbaru disebut kota bertuah?  
Karena hal tersebut untuk menggambarkan kondisi terbaik yang diinginkan penduduk Pekanbaru.

Pekanbaru terletak di tepi Sungai Siak, diceritakan pada awalnya merupakan kota kecil yang memiliki pasar atau pekan yang bernama Senapelan.
Wilayah Senapelan (Pekanbaru) pada awalnya pernah menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hal ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah, yang dianggap sebagai pendiri Pekanbaru modern. 
Dengan berbagai pertimbangan seperti ekonomi dan politik yang berkembang di Wilayah Riau, beliau pada saat itu memindahkan pusat kerajaan dari Mempura ke Senapelan. Senapelan saat itu dipimpin oleh Kepala Suku yang disebut Batin. 

Pada tanggal 23 Juni 1784, Senapelan yang akhirnya disebut Pekanbaru, resmi berdiri dan akhirnya tanggal tersebut itu pula yang ditetapkan sebagai Hari jadi Kota Pekanbaru. 
Pekanbaru menjadi kota pada tahun 1948, meningkat menjadi kotapraja tahun 1956, dan menjadi ibukota provinsi Riau sebagai pengganti Kota Tanjung Pinang pada tahun 1959. Saat ini Pekanbaru memiliki 15 kecamatan dengan 83 kelurahan dan luas wilayah 446.50km2.

Pekanbaru merupakan kota ketiga terbesar di Sumatera setelah Medan dan Palembang, terkenal dengan hasil produksi minyak, baik minyak bumi maupun minyak yang dihasilkan dari kelapa sawit.
Pekanbaru tidak memiliki banyak objek wisata sektor alam, tapi ada banyak jasa pariwisata yang menawarkan kelebihan seperti pusat perbelanjaan, pasar wisata pasar bawah, hotel, bandara, terminal bus antar kota dan antar provinsi, pelabuhan dan kuliner. 
Masyarakat Pekanbaru pun bersifat kosmopolitan, karena dipengaruhi oleh letak strategis ditengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatera. Ada  banyak etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini, seperti suku Minangkabau, Melayu yang merupakan suku asli Riau, kemudian Jawa, Batak dan Tionghoa. 
Adapun adat, kebudayaan dan bahasa daerah melayulah yang mengatur tingkah laku dan kegiatan masyarakat yang bertempat tinggal di Pekanbaru. Kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh budaya Islam.

Tradisi, kebudayaan, dan adat istiadat masyarakat Pekanbaru menjadi satu kesatuan yang mendorong negara Indonesia semakin dikenal hingga ke mancanegara.
Bukan hanya itu saja, Pekanbaru juga menjadi salah satu kota yang memiliki beragam minuman, makanan, dan buah-buahan khas.
Seperti Gulai ikan patin, mie sagu, bolu kemojo,durian, nenas dan es laksamana ngamuk dan masih banyak lagi lainnya.
Saat ini Pekanbaru juga menjadi salah satu daerah di Indonesia yang cukup produktif dalam berwirausaha.
Mempunyai penduduk yang ulet dan gigih kini Pekanbaru pun mempunyai berbagai produk khas yang tak kalah populernya, seperti Batik motif pekanbaru, kain songket Pekanbaru, produk pisang kipas, produk kerupuk kulit patin dan masih banyak yang lainnya.


Berbeda dengan batik di Pulau Jawa, proses pembuatan batik Pekanbaru-Riau tak menggunakan lilin sebagai pembatas warna. Batik Pekanbaru Riau proses pembuatannya dengan dicap atau batik cap perunggu. 
Seiring perjalanan waktu, penggunaan logam perunggu ini pun berakhir dan digantikan dengan bahan kayu yang lunak yang disebut kerajinan 'telepuk'.
Kerajinan telepuk ini menggunakan bahan cap yang berasal dari buah-buahan keras, seperti kentang. Untuk telepuk sendiri memiliki gambar bunga-bungaan pada kain atau kertas.
Meskipun sudah sangat berkembang dan menjadi daerah yang maju, tetapi masyarakatnya tidak melupakan tradisi, kebudayaan, serta adat istiadat Pekanbaru-Melayu Riau yang sudah ada sejak dahulu.
Kesadaran dari dalam diri menjadikan setiap warga Pekanbaru tetap mempertahankan kelestarian tradisi dan juga keberagaman budayanya.

Tak heran bila beberapa warisan adat budaya berikut ini tetap lestari hingga sekarang!

Rumah Adat

Di Pekanbaru terdapat Rumah Adat Khas yang disebut Selaso Jatuh Kembar atau Balai Selaso. Bangunan yang sangat luas ini seperti rumah tapi fungsinya bukan merupakan tempat tinggal. Di dalam rumah adat ini terdapat Balai Adat, tempat berkegiatan bersama, sebagai tempat yang dipergunakan untuk melakukan pertemuan dan musyawarah. 
Keunikan dari rumah adat Selaso Jatuh Kembar adalah banyaknya hiasan dinding, jendela, pintu, birai tangga (pagar dinding rendah tepi tangga). 
Salah satu ukiran yang terkenal adalah Itik Sekawan. Ukiran ini merupakan gambar sekawanan itik yang berbaris rapi menggambarkan kehidupan masyarakat yang kompak dan selalu berdampingan. 
Ukiran terkenal lainnya adalah Pucuk Rebung, yang bentuknya menyerupai tunas, dan terbagi beberapa jenis.
1. Pucuk Rebung Kaluk Paku menggambarkan gotong royong dan saling tolong menolong di masyarakat.
2. Pucuk Rebung Bertunas menggambarkan hilangnya rasa lapar dan haus serta permasalahan hidup, agar penghuni rumah selalu sejahtera dan berkecukupan.
3. Pucuk Rebung Sekuntum menggambarkan musyawarah untuk mufakat.
4. Pucuk Rebung Sirih Tunggal menggambarkan agar aura negatif hilang dari dalam rumah.

Tak hanya hiasan dinding, ukiran bermakna juga dapat terlihat di birai tangga rumah adat ini. Coraknya ada yang berombak Awan Larak menggambarkan kelancaran rezeki masyarakat, kemudian ada pula yang berupa corak Lebah Gantung yang menggambarkan ketekunan dan kegigihan layaknya lebah.

Tarian adat 

Tari persembahan merupakan salah satu tarian yang menjadi kebanggaan dan icon seni masyarakat melayu dan sudah dijadikan tarian wajib dalam menyambut tamu di Pekanbaru.
Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu dan ditampilkan untuk menghormati dan menyambut tamu yang datang. 

Tari persembahan ini identik dengan pengajuan tepak sirih kepada orang yang dihormati dan meminta untuk mencoba sirih yang telah diberikan. Ini merupakan tradisi yang turun menurun dalam rakyat Melayu. Suka atau tidak, para tamu juga wajib memakan daun sirih yang sudah diberikan para penari. 

Pakaian Adat
Sebagian masyarakat sudah tahu bahwa Kota Pekanbaru mempunyai pakaian adat yang sangat khas. Pakaian tersebut memang sangat populer di Pekanbaru-Riau bahkan juga telah digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah lainnya.
Pakaian adat untuk wanita dan pria yang merupakan busana tradisional dan biasa dikenakan masyarakat Pekanbaru, baik itu untuk kegiatan sehari-hari maupun dikenakan saat upacara-upacara adat.

Pakaian adat wanita sehari-hari disebut : 

Baju Kurung. 
Desainnya sederhana dengan tampilan lengan panjang dan atasan yang menjuntai hingga sebawah lutut, memberikan simbol nilai-nilai kesopanan agar dijunjung tinggi oleh masyarakat. Baju kurung ini biasa digunakan sehari-hari, dibuat longgar dan tidak ketat, agar tidak menampakan lekuk tubuh yang memakainya.

Kemudian salah satu pakaian adat lainnya adalah Kebaya Laboh.
Kebaya laboh digunakan untuk acara-acara resmi seperti upacara adat atau perkawinan. Kebaya Laboh dipadukan dengan kain songket sebagai bawahan. Kebaya Laboh sebenarnya mirip dengan Kebaya pada umumnya. Perbedaannya pada panjang Kebaya, jika panjangnya tiga jari diatas lutut maka menunjukan wanita yang memakainya belum menikah. Sementara jika menjuntai sampai tiga jari dibawah lutut, maka dapat diketahui bahwa wanita yang memakainya telah menikah.

Sedangkan pakaian adat untuk pria menggunakan pakaian adat berupa baju Kurung Cekak Musang dan  Baju Kurung Belanga. 
Baju Kurung Belanga umumnya dibuat setelan dengan celana. Dikenakan pula kain songket ditambah penutup kepala berupa, songkok atau tanjak. 
Tanjak dibuat dari jenis kain yang sama dengan kain songket.


Bentuk pakaian adat untuk pria lainnya ada yang disebut Baju Cekak Musang, mirip dengan busana Baju Kurung Belanga hanya ketika dikenakan terutama dalam acara resmi dilengkapi dengan penutup kepala berupa kopiah berwarna hitam. Kain samping bisa memakai kain songket atau kain sarung.

Penggunaan sarung pada pakaian adat pria pada dasarnya sama dengan perempuan, tiga jari diatas lutut menandakan bawa pria tersebut belum menikah dan tiga jari dibawah lutut memberi simbol kalau pria tersebut sudah menikah.

Warna-warna yang digunakan untuk pakaian adat Pekanbaru untuk wanita dan pria ini cenderung cerah dan dominan warna merah, kuning dan hijau. Ketiga warna ini masing-masing melambangkan nilai-nilai penting yang dihormati di masyarakat. Hijau melambangkan nilai rohani dan kepatuhan. Kuning melambangkan nilai kebesaran keluarga raja. Merah melambangkan nilai keberanian dan kepahlawanan.

Biasanya motif kain songket Pekanbaru selalu menggunakan gambar dasar dengan bentuk geometri sebagai salah satu ciri khasnya.
Sehingga kain songket Pekanbaru mudah sekali dikenali, terlebih lagi karena kain tersebut selalu menggunakan kain yang berbahan halus atau sutra.
Tetapi karena ingin terus mengikuti kebutuhan konsumen, kain songket Pekanbaru juga mulai dibuat sesuai dengan perkembangan bahan pakaian di masa sekarang. Salah satunya adalah penggunaan kain katun akan tetapi makna alam yang tersimpan dalam setiap motif hiasan kain tetap selalu ada.

Sejak dahulu masyarakat Pekanbaru-Melayu Riau memang sudah terkenal akan keterikatannya dengan alam. Oleh karena itu motif batik atau motif songket sendiri terdiri dari flora dan florist. Hal itu sebagai wujud bahwa keberagaman hayati atau kekayaan alam di Pekanbaru-Riau masih terjaga.

Bahkan banyak ritual kebudayaan di daerah Pekanbaru yang ditambahkan unsur alam oleh masyarakat ketika pelaksanaannya.

Beberapa tradisi budaya Pekanbaru-Melayu Riau yang menjadi warisan budaya secara turun temurun yang terkenal antara lain :
Petang Megang
Mengaji budak ditengah surau
Surau dibangun tepi sepadan
Tradisi bernama petang belimau
Tempat bersuci menyambut Ramadhan

Masyarakat Pekanbaru memiliki tradisi Petang Megang untuk memanjatkan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat menjelang bulan puasa. Petang Megang memiliki istilah lain yaitu Balimau Kasai.
Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Pekanbaru untuk menyambut bulan suci Ramadhan. 
Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis dan jeruk kapas, dicampur dengan harum-haruman dari bunga dan daun tujuh rupa seperti, serai wangi, daun nilam, akar siak dan mayang pinang. 

Tradisi Petang Megang biasanya dimulai dengan ziarah ke makam para leluhur yang merupakan tokoh agama yang dihormati, kemudian setelah selesai shalat ashar di Masjid Raya Pekanbaru yang dibangun atas perintah Sultan ke-4 Kerajaan Siak Sri Indrapura, yakni Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, rombongan bergerak ke Rumah Singgah Tuan Kadi yang berada di pinggiran sungai Siak, sambil dilakukan arak-arakan oleh warga masyarakat sekitar, tokoh agama dan pemimpin adat dan pemimpin daerah. Dengan diiringi kesenian Kompang, atau alat musik tradisional khas Melayu, arak-arakan menuju lokasi upacara Petang Megang yang dilangsungkan di tepian Sungai Siak.

Kemudian dilakukan acara Mandi Balimau yang secara simbolis dilakukan pengguyuran terhadap beberapa anak yatim. Dilanjutkan setelahnya dengan lomba menangkap itik di sungai siak serta rangkaian lomba dan acara lainya. Terakhir masyarakat akan turun bersama untuk bersih-bersih atau mandi di Sungai Siak.



Rumah Singgah Tuan Kadi
 
Rumah Singgah Tuan Kadi adalah rumah peninggalan sejarah yang ada di Kota Pekanbaru. Rumah yang berbentuk limas ini dulunya berfungsi sebagai rumah singgah bagi Sultan Siak Sri Indrapura apabila berkunjung ke Senapelan yang merupakan cikal bakal Kota Pekanbaru. 

Di Rumah Singgah Tuan Kadi inilah Sultan Siak beserta pengiringnya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumah Tuan Kadi lainnya, rumah ini terletak di tepi Sungai Siak, tak jauh di bawah Jembatan Siak III.

Tradisi adat lainnnya adalah Berinai Curi.

Sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan, peralatan berinai (berupa bubuk pacar arab atau pasta henna), yang akan digunakan untuk melukis kuku jari tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki calon pengantin wanita dan atau pria diambil diam-diam (dicuri) dari rumah calon pengantin. Makna dari tradisi Berinai Curi adalah menolak malapetaka atau bencana, menjauhkan pengantin dari kemalangan dan gangguan jin jahat terutama bagi calon pengantin wanita dan dipercaya akan membuat wajah pengantin semakin bercahaya saat hari pernikahan tiba.

Tradisi lainnya di masyarakat disebut sebagai Tepuk Tepung Tawar.


Tradisi Tepuk Tepung Tawar adalah tradisi yang wajib dilakukan terutama saat acara pernikahan, khitanan, aqiqah, pengukuhan adat, berangkat naik haji hingga menempati rumah baru. Maknanya adalah memberikan doa selamat.
Sebelum pelaksanaan tepuk tepung tawar tercatat sejumlah bahan yang wajib ada, yaitu beras kunyit, beras putih, beras bertih, air wangi dan bunga rampai. Kelima bahan tersebut memiliki makna khusus. Beras kunyit simbol adat melayu yang kental berwarna kuning sekaligus diharapkan agar diberi murah rezeki, beras putih bermakna kesucian. Beras bertih bermakna kemakmuran. Bunga rampai bermakna keindahan. Air wangi bermakna sebagai penyejuk hati orang yang ditepuk tawari.

Prosesi tepuk tepung tawar dilakukan dengan mengambil daun yang telah diikat dan dicelupkan ke bahan-bahan air wangi yang sudah dipersiapkan untuk dipercikan ke tangan yang ditepung tawari. Selanjutnya orang yang melakukan tepuk tepung tawar mengambil beras kunyit, beras putih, beras bertih dan bunga rampai untuk ditaburkan pada orang yang sedang menjalani prosesi adat sambil membaca sholawat. Jumlah orang yang ditunjuk untuk penepuk tepung tawar haruslah berjumlah ganjil.

Kebudayaan serta adat istiadat masyarakat Pekanbaru-Riau sudah banyak mengalami perkembangan.
Tetapi masih banyak masyarakat Pekanbaru yang bersedia melestarikannya sebagai warisan orang-orang terdahulu, seperti halnya tradisi Petang Megang yang sampai saat ini masih sering dipertunjukkan.

Karenanya adat istiadat adalah bagian dari kekayaan budaya suatu daerah atau bangsa. Oleh karena itu Cara Menghargai Keberagaman Budaya Daerah
1.Tidak menjelek-jelekan atau menghina        suku dan ras bangsa lain 
2. Menghormati adat istiadat daerah lain.
3. Senantiasa untuk mau mengenal adat        istiadat dari berbagai budaya suku yang      ada di Indonesia.

Pergi naik pesawat
Ke Kota Semarang
Bangsa ini punya beribu adat
Adat budaya peninggalan nenek moyang.

Biodata :
Dini Widiani Badar, atau Dini Asep Sontani, lahir di Kota Garut, dan sekarang menetap di kota Bandung. Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 015 pagi Jakarta, dan melanjutkan pendidikan di SMPN 3 Jakarta dan SMAN 37 Jakarta. Menempuh studi strata satu di Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta dan melanjutkan di Universitas Padjajaran Bandung, mengambil program Notariat. Sejak tahun 1998 hingga sekarang menjalankan tugas sebagai Notaris dan PPAT di Kabupaten Garut. Saat ini sebagai Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini daerah Pekanbaru, dengan Pengawas Ikatan Adhyaksa Dharmakarini daerah Pekanbaru, bapa Asep Sontani Sunarya.

Senin, 29 Mei 2023

Rumah Singgah Tuan Kadhi

Mengenal Rumah Singgah Sultan di Pekanbaru

Kampung Bandar Senapelan sebagai salah satu saksi sejarah di kota Pekanbaru. di sekitaran kampung ini terdapat Situs cagar budaya berkaitan dengan Kota Pekanbaru dan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Salah satu nya adalah Rumah Singgah Sultan.

Rumah Tuan Kadhi Kerajaan Siak H. Zakaria. Keberadaan Rumah Tuan Kadhi Kerajaan Siak H. Zakaria tidak terlepas dari sejarah panjang perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dalam perkembangannya wilayah Senapelan (Pekanbaru) pernah menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hal ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah sekitar tahun 1775. Dengan berbagai pertimbangan seperti ekonomi dan politik yang berkembang di wilayah Riau pada saat itu beliau memindahkan pusat Kerajaan Siak dari Mempura ke Senapelan.
Berdasarkan keterangan dari berbagai narasumber (Tengku M. Thoha, H. Syahril Rais, Anas Aismana), rumah ini merupakan rumah singgah bagi Sultan Siak Sri Indrapura apabila beliau berkunjung ke Senapelan (Pekanbaru).


Bangunan ini terdapat sekitar 20 m dari pinggir Sungai Siak (tepatnya di bawah Jembatan Siak 3 sekarang). Secara umum bangunan berbahan jenis kayu, kecuali bagian tangga (pada sisi timur bangunan) yang terbuat dari bata berspesi. Bangunan ini merupakan rumah adat tradisional melayu yang masih tersisa di Kota Pekanbaru. Bangunan berupa rumah panggung yang berdasarkan keterangan H. Syahril Rais dibangun pada tahun 1895, sedangkan bagian tangga berdasarkan inskripsi yang terdapat pada tiang dibangun pada 23 Juli 1928.

Data Arsitektural adalah data yang menjelaskan tentang kondisi arsitektural bangunan yang ditinjau dari kelengkapan unsur atau komponen bangunan seperti bagian yang masih asli, yang telah diganti atau diubah maupun bagian yang hilang dengan memperhatikan keaslian bentuk arsitekturya. Data arsitektural ini digunakan sebagai acuan untuk menetapkan langkah-langkah pemulihan bangunan berdasarkan data-data tersebut.
Denah dasar dari bangunan Rumah Adat Melayu Riau adalah berbentuk persegi panjang bangunan utara-selatan 17,52 m dan panjang bangunan barat-timur 8,67 m. Pada bagian selatan dan utara terdapat bagian yang menjorok sehingga dilihat dari atas denah bangunan ini terdiri dari tiga buah bangunan berbentuk persegi panjang yang terdiri dari dua buah persegi panjang kecil mengapit sebuah persegi panjang besar.
Untuk mempermudah dalam mengamati setiap bagian dari bangunan Rumah Adat Melayu Riau, maka bangunan ini dibagi ke dalam tiga bagian yaitu bagian kaki, bagian tubuh, dan bagian atap.


Bagian kaki dari bangunan Rumah Adat Melayu Riau berupa tonggak-tonggak terbuat dari beton. Jumlah tonggak beton yang berfungsi sebagai pondasi dari bangunan Rumah Adat Melayu Riau berjumlah 22 buah, terdiri dari 18 buah tonggak yang memiliki profil dan hiasan perbingkaian pada permukaannya sedangkan empat buah yang berada di tengah-tengah merupakan tonggak yang polos tidak ada profil dan motif hias pada permukaannya.  

Pada bagian kaki bangunan terdapat tangga untuk naik ke beranda bangunan. Tangga ini terbuat dari susunan bata berplester, pada bagian pipi tangga tertera tanggal bulan serta angka tahun dibuatnya tangga tersebut, yaitu pada tangga 23 bulan 7 tahun 1928. Dan jika diperhatikan maka tahun pembuatan tangga ini bersamaan dengan tonggak-tonggak yang menopang bangunan Rumah Adat Melayu Riau. Dasarnya adalah adanya kesamaan pada bahan dan teknik pembuatannya yaitu menggunakan bahan bata yang dilapisi dengan plester. Tangga ini dibangun kemudian, tidak bersamaan dengan pembangunan rumah ini, karena rumah ini dibangun pada tahun 1895. Dengan demikian, besar kemungkinan tangga lama terbuat dari bahan kayu, namun tidak ada bukti yang dapat membuktikan hal tersebut.

Bagian pipi tangga dihiasi dengan motif hias berbentuk geometris. Pada kedua pipi tangga ini masing-masing terdapat tiga buah tiang-tiang semu yang di permukaannya diberi motif hias berbentuk trapesium yang saling berhimpitan. Pada sudut-sudut dari lengkungan di bagian bawah terdapat motif hias berbentuk kelopak bunga. Dan pada bagian pagar langkannya terdapat motif hias berupa bintang dengan empat buah sinar.

Bagian kaki dari bangunan ini masih terbilang asli walaupun sudah mengalami perubahan yang terjadi pada tahun 1928. Pergantian yang dilakukan tentunya seiring dengan perkembangan teknologi pada khususnya berkaitan dengan bahan pada masa itu. Dalam pemugaran bangunan cagar budaya keaslian dari bentuk dan bahan merupakan salah satu prinsip yang harus diperhatikan, jika ada data yang dapat dijadikan acuan untuk mengembalikan kepada bentuk dasar saat dibangunnya bangunan ini maka pengembalian tersebut dapat dilakukan, namun jika tidak ada data yang dapat dijadikan acuan maka kondisi eksisting pada saat ini merupakan acuan dalam keaslian bentuk dan bahan.

Bagian tubuh terdiri dari dinding, pintu, jendela, serta lubang udara atau ventilasi. Pada bagian tubuh ini pula terdapat ruang-ruang yang masing-masing ruang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sebagian ruang memiliki memerlukan privasi dan proteksi sehingga terdapat pula perbedaan yang terlihat pada bagian jendela khususnya pada bagian teralis yang menjadi penutup dari rongga jendela.

Dinding bangunan merupakan bagian yang berfungsi sebagai pembatas antara ruang yang ada di dalam bangunan dengan lingkungan di luar bangunan. Bagian dinding dari bangunan Rumah Adat Melayu Riau terbuat dari bahan kayu dalam bentuk papan. Jenis kayu yang digunakan saat ini menurut informasi masyarakat adalah kayu Meranti.


Papan-papan tersebut dilekatkan pada kerangka-kerangka dinding yang juga terbuat dari kayu. Dinding ini hanya selapis pada bagian luar saja sehingga kerangka dinding terlihat pada bagian dalam rumah, oleh karena itu kerangka dinding bagian dalam dibuat halus dan diberi profil guna memberikan kesan indah pada bagian dalam rumah.

Suatu Hari


Rabu, 10 Mei 2023

Al Quran Surah At – Talaq ayat 2-3 :

Berikut ini bunyi ayat seribu dinar:

Al Quran Surah At – Talaq ayat 2-3 :

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا (٢) وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ‌ۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا (٣)

“Wa mayyattaqillaa ha yaj-‘al lahuu makhraja – wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib – wa mayyatawakkal ‘a- lallaahi fahuwa hasbuh – innallaaha baalighu amrihi – qad ja ‘a lallaahu li kulli syai in-qadra

Artinya: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya diberi-Nya kelapangan dan diberi-Nya rezeki yang tidak diduga-duga. Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya dijamin-Nya, sesungguhnya Allah sangat tegas dalam perintah-Nya dan Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu.”

Senin, 20 Maret 2023

Tentang Sorèang

Sorèang (Aksara Sunda: ᮞᮧᮛᮦᮃᮀ, Soréang) adalah ibu kota Kabupaten Bandung yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian dari Kabupaten Bandung setelah pemindahan dari Kota Bandung dan Baleendah. Soreang juga merupakan sebuah wilayah kecamatan yang terletak di Tatar Pasundan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Nama Soreang berasal dari kata dalam bahasa sunda "Soréang" yang berarti "menoleh ke belakang". Dalam makna kiasannya berarti "teringat pada masa-masa yang telah lewat". Nama ini muncul bukan tanpa alasan. Pada masa lalu, tempat yang kemudian dinamai Soreang itu menjadi tempat untuk berhenti mengaso bagi para pengelana setelah menempuh perjalanan panjang dari berbagai arah, baik dari arah utara, selatan, atau timur, sebelum menuju tempat yang lebih tinggi ke arah bukit dan gunung, atau menuju arah sebaliknya, dari arah gunung untuk menuju tempat-tempat yang lebih datar. 

Soreang menjadi “tekuklereng”, sehingga air tanah yang meresap di ketinggian gunung, ke luar di mata air dengan jumlah yang sangat berlimpah, sehingga para kelana dapat membersihkan diri, mensucikan pikiran dan hati. Bila sampai ke tempat ini memasuki petang, tempat ini berkembang menjadi pangauban, menjadi tempat untuk berteduh, berlindung dari dingin malam, dan gangguan binatang. Keesokan harinya perjalanan akan dimulai lagi menuju berbagai arah sesuai dengan tujuanya masing-masing. 

Dari tempat dengan ketinggian antara +720–740 m dpl yang melandai ke arah timur dan utara sampai ketinggian +660 m dpl, para pengelana dapat melihat kemegahan bentang alam dikala petang, dan pesonanya di pagi hari, sehingga pangauban itu sekaligus menjadi "karangtingal", menjadi titik pandang (view point) untuk melihat sekelilingnya secara sekilas pandang. 

Inilah yang menjadi alasan mengapa tempat ini dinamai Soreang. Pada pagi hari dari Soreang dapat melihat dengan nyata dengan pandangan yang bisa lepas sampai jauh. Kerucut-kerucut gunung api purba yang membiru, mencuat tinggi menembus langit. Tampak Gunung Malabar yang besar, tubuhnya melebar ke berbagai arah. Gunung Tilu, serta perbukitan yang berjajar. Gunung Burangrang dengan lembahnya yang dalam, di sebelah timurnya ada Gunung Tangkubanparahu, terlihat jelas seperti perahu yang terbalik, dan Bukit Tunggul menjadi kerucut tertinggi di jajaran itu. 

Gunung Manglayang berdiri megah di ujung timur laut, serta Gunung Geulis tampak samar-samar menunjukkan kecantikannya. Semua bentang alam ciri khas Bandung Raya ini dapat dilihat dengan sangat jelas dari Soreang sampai saat ini. Dari tempat melepas pandang ini, para kelana dapat dengan mudah untuk melaksanakan puja di puncak-puncak bukit sunyi yang indah. Hanya tinggal berjalan sedikit saja, akan sampai di Gunung Sadu (+932 m dpl). 

Di puncak bukitnya terdapat jejak budaya megalitik berupa punden berundak setengah lingkaran yang menghadap ke arah timur-timur laut. Di sebelah barat-barat lautnya, terdapat bukit-bukit yang berupa gunung api purba yang aktif empat juta tahun yang lalu. Di puncak-puncak bukit itulah laku puja dilaksanakan, seperti jejak budayanya terdapat di Gunung Singa, Gunung Lumbung, dan menerus sampai bukit-bukit yang berjajar sampai Cililin. Di kawasan inilah yang menjadi pusat pertahanan Dipati Ukur. Para leluhur Soreang sudah memilih tempat untuk beristirahat dengan sangat baik, sebelum para kelana itu melanjutkan perjalanan. Tempat ini menjadi lokasi istirahat yang dapat memenuhi harapan para kelana. Dengan segala kebaikan tempat itu, seperti air yang melimpah dan kemegahan bentang alamnya. Sesuai maknanya, Soreang itu merupakan titik pandang (view point) untuk melihat sekelilingnya, sehingga dari titik itu pula dapat mengenang perjalanan yang sudah ditempuh, serta perjalanan serta perjalanan yang akan dilakukan kemudian.

Masa Kemerdekaan

Di masa Pegolakan Kemerdekaan, Soreang merupakan salah satu medan pertempuran yang cukup sengit. Kedatangan Pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda ke Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945 memunculkan perlawanan sengit dari masyarakat Bandung dan sekitarnya sehingga lahirlah peristiwa Bandung Lautan Api. Berdasarkan kesepakatan para pejuang dan rakyat, Kota Bandung kemudian dibumihanguskan dan para pejuang mundur ke selatan ke seberang sungai Citarum untuk terus melakukan perlawanan secara gerilya. Pada waktu itu pemerintahan Kabupaten Bandung juga ikut mengungsi dan sempat berkedudukan di Soreang sebelum akhirnya terdesak kekuatan sekutu dan kembali mengungsi ke daerah lain. Setelah masa-masa revolusi selesai dan status Kewedanaan dihapuskan, maka Soreang berubah menjadi Kecamatan.

Pada dekade 1970-an dengan semakin padatnya Kota Bandung dan tumpang tindihnya peranan Bandung sebagai ibukota tiga wilayah administrasi (ibukota provinsi, ibukota kabupaten, dan sebagai kota otonom) Pemerintah Kabupaten Bandung memutuskan untuk memindahkan ibukotanya ke luar Kota Bandung. Setelah melalui berbagai pertimbangan, dipilihlah Baleendah sebagai calon ibukota yang baru. Pembangunan infrastruktur penunjang ibukota baru seperti pembuatan ruas jalan, Perkantoran, Gedung kejaksaan, Pengadilan Negeri, Gedung DPRD sebagian besar telah dikerjakan oleh Pemkab. Namun sayangnya pemindahan ibukota ini tidak dibarengi dengan kajian yang memadai dan koordinasi yang tidak berjalan baik dengan pemerintah pusat. Banjir besar pada awal tahun 1980-an membuka mata publik bahwa ibukota baru ini tidak aman dari bencana. Hal ini diperjelas dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 1986 yang menyatakan bahwa ibukota Kabupaten Berada di Kota Soreang bukan di Baleendah. Dengan terbitnya PP ini akhirnya ibukota Kabupaten Bandung secara resmi dipindahkan Ke Soreang. Pada tahun 1987 dimulai Pembangunan Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung yang berlokasi di Desa Pamekaran di pinggir jalan raya Kopo.












Kamis, 16 Maret 2023

Istana Siak Indrapura di Kepulauan Riau Pekanbaru

Pada masa sebelum kekuatan Eropa Barat mampu menguasai daratan dan perairan Asia Tenggara, belum ada Indonesia. Nusantara yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia terdiri dari pulau-pulau dan tanah yang dikuasai oleh berbagai kerajaan dan kekaisaran, kadang-kadang hidup berdampingan dengan damai sementara di lain waktu mereka berada pada kondisi berperang satu sama lain. Nusantara yang luas ini kurang memiliki rasa persatuan sosial dan politik seperti yang dimiliki Indonesia sekarang.

Jauh sebelum Indonesia resmi merdeka para masyarakat kuno nusantara telah mengenal sistem pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Kerajaan di Nusantara didirikan oleh para pedagang dari negeri tetanga dan negeri lainya seperti China, India, dan Arab. Indonesia yang saat itu menjadi jalur strategis pelayaran menjadi salah satu faktor para pedagang masuknya aliran Hindu-Budha yang dibawa oleh pedagang dari Cihna yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan di Indonesia.

Salah satu kerajaan yang pernah berdiri dan berkuasa di Pulau Sumatera adalah Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kebesaran kerajaan ini dapat dilihat dari Istana Siak Sri Indrapura yang masih berdiri hingga saat ini. Istana Siak Sri Indrapura berlokasi di Sri Indrapura, Kp. Dalam, Kabupaten Siak, Riau. Istana ini memiliki nama lain yaitu Istana Asserayyah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur. Saat ini, Istana Siak Sri Indrapura sudah berstatus sebagai cagar budaya yang ditetapkan pada tanggal 3 Maret 2004.

Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ. Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan diangkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut.

Kesultanan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil yang berasal dari Johor bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. 

Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatra dan Kalimantan. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. 

Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Dalam merebut Kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang, dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan. Namun, pusat Kerajaan Siak tidak menetap di Buantan.

Pusat kerajaan kemudian selalu berpindah-pindah dari kota Buantan pindah ke Mempura, pindah kemudian ke Senapelan Pekanbaru dan kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan Siak terakhir.

Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889-1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda.

Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II). Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta.Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968.

Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia.Makam Sultan Syarif Kasim II terletak di tengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya di samping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.

Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.

Istana Siak ini terdiri dari dua lantai dan berdenah segi empat silang. Gaya arsitektur bangunannya tampak menggabungkan gaya Melayu, Arab, dan Eropa. Setiap sudut bangunan terdapat pilar bulat dengan ujung puncaknya ada hiasan burung garuda. Pindu dan jendela istana dirancang dengan bentuk kubah serta dihiasi mozaik kaca. Ada 15 ruangan dari dua lantai Istana Siak. Lantai satu terdiri dari enam ruangan. Sementara lantai dua terdiri dari sembilan ruangan. Adapun enam ruangan di lantai satu berfungsi sebagai tempat sidang dan ruangan untuk menerima tamu. Sedangkan sembilan ruangan pada lantai dua berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan dan tamu-tamu kerajaan. Saat ini Istana Siak Sri Indrapura berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah di Provinsi Riau. Istana ini menjadi museum tempat menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Siak.

Istana Siak Sri Indrapura berlokasi di Sri Indrapura, Kp. Dalam, Kabupaten Siak, Riau. Istana ini memiliki nama lain yaitu Istana Asserayyah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur.

Saat ini, Istana Siak Sri Indrapura sudah berstatus sebagai cagar budaya yang ditetapkan pada tanggal 3 Maret 2004.