Jumat, 05 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 91

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 91*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Abdullah Bin Ubay*

Semua keberhasilan Rasulullah ﷺ itu membuat hati Abdullah bin Ubay berubah semakin sesak karena dengki.

“Jika ini dibiarkan, lenyap sudah impianku untuk menjadi pemimpin Madinah lagi seperti dulu!” demikian pikirnya.

“Aku harus mencari jalan untuk menjauhkan Muhammad dari umatnya.”

Abdullah bin Ubay mulai menyebarkan desas-desus,

“Mengapa Rasulullah ﷺ memberi bagian harta rampasan kepada Utsman bin Affan? 

Padahal, Utsman tidak ikut ke Perang Badar! Ini pasti karena Utsman lebih dicintai dari kita semua!”

“Namun para sahabat Rasulullah ﷺ segera mendatangi Abdullah bin Ubay dan memberinya peringatan agar tidak menyebarkan desas-desus.

“Utsman sudah berkeras ingin pergi, tetapi Rasullullah ﷺ memerintahkan agar tinggal di rumah dan merawat Rukayah, putrinya yang sedang sakit! Jadi, sebenarnya Utsman juga berhak atas rampasan perang!” demikian kata beberapa sahabat.

Abdullah bin Ubay terdiam, tetapi ia pun mencari jalan lain. Kemudian disebarkannya desas-desus,

“Muhammad itu mengajarkan agar kita berpaling dari harta dunia, tapi sebenarnya harta tebusan yang banyak itu ia gunakan untuk makan dan minum enak serta memiliki perabotan rumah yang mewah layaknya Kaisar Persia!”

Sambil menebarkan desas desus itu Abdullah bin Ubay diam-diam mendatangi seorang wanita Anshor dan menyuruhnya memberikan permadani yang indah dan sangat mahal kepada Aisyah.

Tanpa ada rasa curiga, Aisyah yang masih muda dan lugu pun menerimanya dengan senang.

Ketika Rasulullah ﷺ mendengar berita ini, beliau segera pulang dan menemui istrinya Aisyah yang sedang duduk-duduk di atas permadani yang mahal itu. Wajah Aisyah berseri-seri memiliki perabotan seindah itu.

“Aisyah, apa ini?” tanya Rasulullah ﷺ

“Seorang wanita Anshor datang ke sini dan melihat tikarmu,” jawab Aisyah.

“Ia kemudian mengutus orang agar menyampaikan permadani ini kepadaku.”

Rasulullah ﷺ menyuruh Aisyah untuk mengembalikan permadani itu. Kemudian beliau tidur di atas tikarnya yang biasa kembali.

Abdullah bin Ubay walaupun telah menyatakan diri sebagai Muslim dia tetap bersikap keras kepada Rasulullah ﷺ, dan menganggap Rasulullah tidak adil karena dianggap telah merampas kekuasaannya yang dipegangnya sebelum Rasulullah ﷺ datang ke Madinah.

Abdullah bin Ubay pun selalu berusaha memalingkan manusia dari ajaran Islam.

*Tidur di atas Tikar*

Umar Bin Khattab bergegas mendatangi rumah Rasulullah ﷺ. Ia ingin membuktikan bahwa desas-desus yang disebarkan orang tentang Rasulullah ﷺ yang memiliki perabot mewah itu sama sekali tidak benar.

Ketika Umar sampai di rumah Rasulullah ﷺ, sama sekali tidak dilihatnya perabot-perabot mewah yang didesas-desuskan itu. Rumah Rasulullah ﷺ tetap seperti dulu, tidak ada sama sekali yang berubah.

Mengetahui Umar Bin Khattab datang, Rasulullah ﷺ bangun dari atas tikarnya. 

Seketika itu, Umar melihat bekas-bekas tikar yang kasar membekas pada tubuh Rasulullah ﷺ. Tidak kuat menahan haru akhirnya Umar menangis.

Rasulullah ﷺ berpaling heran lalu beliau bertanya lembut,

“Ya Umar, Apa yang menyebabkan engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak akan meneteskan air mata jika aku melihat bekas-bekas tikar itu melekat pada tulang rusukmu. Hanya inilah harta kekayaanmu yang aku tahu. Sedangkan Kaisar Romawi dan Persia hidup dalam gelimangan harta benda.”

Rasulullah ﷺ merasakan betul kesedihan Umar. Beliau lalu menghibur Umar dengan memberikan pelajaran bahwa nilai seseorang tidaklah ditentukan oleh harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi tergantung pada kemampuannya untuk menyebarkan kebahagiaan kepada orang lain. Kebajikan akan membuat seseorang menjadi kekal. 

Orang yang terus-menerus melakukan kebaikan, akan menghasilkan buah kebaikan pula untuk selama-lamanya.

Sabda Rasulullah ﷺ agar kita selalu bersyukur:

“Apabila di antara kamu sekalian melihat orang yang dianugerahi harta dan rupa, maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah dari mereka, karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak merasa kekurangan nikmat yang Allah berikan kepadamu.”

Kamis, 04 Februari 2021

Kelebihan Makkah Dan Madinah



Madinah sangat identik dengan rumah kediaman Rasulullah, sedangkan Makkah dengan keberadaan Ka'bah di wilayahnya. Hal ini amatlah lumrah karena keberadaan dua simbol tersebut sangat mewakili identitas kedua kota suci tersebut.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya yang berjudul "Badai al-Fawaid" mengatakan, bahwa jawaban Ibnu Uqail al-Hanbali ketika ditanya mengenai perbandingan keistimewaan antara Hujrah dan Ka'bah adalah, "Jika yang dimaksud hanya sekedar Hujrah saja maka Ka'bah tentu lebih istimewa."

Namun, jika yang dimaksud hujroh adalah tempat kediaman Rasulullah, maka demi Allah tidak demikian pula tidak sebanding jika dibandingkan dengan Arsy dan yang menopangnya, surga Adn dan bintang-bintang yang berotasi sekalipun. Karena di dalam Hijrah tersebut terdapat jasad, di mana jika ditimbang dengan langit dan bumi, maka niscaya jasad itu akan lebih berat."

An-Nawawi berkata, "Pendapat yang terpilih adalah, bahwa langit lebih istimewa daripada bumi, tanpa jasad Rasulullah yang mulia, para ulama sepakat bahwa kota Makkah dan Madinah lebih istimewa daripada negeri-negeri lainnya. Namun, mereka berbeda pendapat dalam membandingkan keistimewaan keduanya.”

Alqurthubi mengatakan, bahwa Umar bin Khattab sebagai sahabat, dan mayoritas penduduk Madinah berpendapat bahwa kota Madinah lebih istimewa. Ini merupakan pendapat mazhab Imam Malik dan salah satu riwayat Imam Ahmad jadi perbedaannya adalah, keistimewaan yaitu dengan kecuali kan Ka'bah. Karena Ka'bah lebih istimewa daripada tempat lain yang ada di kota Madinah. Pendapat ini dikatakan oleh Ash Shalihi dalam kitab Al Madinah Al Munawaroh.

Di dalam kitab Nawadir, Tirmidzi berkata, "Aku mendengar Zubair bin Bakkar berkata," sebagian penduduk Madinah menulis sebuah buku tentang Madinah. Begitupula dengan beberapa orang penduduk Makkah menulis buku tentang kota Makkah. Masing-masing mereka menyebut kan keistimewaan daerahnya. Hingga akhirnya ada seorang penduduk Madinah yang menuliskan keistimewaan kedua daerah tersebut dalam satu buku, yang tidak ada satupun maka dapat melakukan yang sama."

Orang Madinah itu berkata, "Sungguh, setiap jiwa diciptakan dari tanah, dimana setelah wafat dia dikuburkan didalamnya. Sedangkan jiwa Rasulullah diciptakan dari tanah Madinah. Dengan demikian tanah Madinah memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan seluruh tanah bumi.” (al-Mashudi Wafa Al Wafa).

Mush'ab berkata, "Ketika Al Mahdi datang ke kota Madinah dia disambut oleh Malik dan tokoh-tokoh kota Madinah dari jarak beberapa mil. Ketika melihat Al-Mahdi menemuinya dan memeluknya. Menoleh kepada Al Mahdi dan berkata, "Wahai pemimpin Muslim sekarang engkau telah memasuki kota Madinah. Dirimu melewati kaum di sebelah kanan dan kiri. Mereka adalah putra-putra kaum Muhajirin dan Anshor. ucapkan salam kepada mereka! Sungguh, di muka bumi ini tidak ada kaum dan kota yang lebih baik dari penduduk dan kota Madinah."

"Almahdi bertanya dari mana kamu mendengar perkataan ini wahai Abu Abdullah?"

Ia menjawab. "Karena tidak ada makam seorang nabi pun yang diketahui tempatnya di muka bumi ini selain maka Nabi Muhammad. Jadi, siapa saja yang di tempat oleh makam Nabi Muhammad, maka keistimewaan mereka harus diakui dari yang lainnya." Lalu, al-Mahdi pun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya itu.

Ash-Shalihi asy-Syami berkata setelah menyebutkan kisah tersebut dalam kitabnya itu. "Pada kisah ini terdapat isyarat mengenai keistimewaan orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah."

Rasulullah pernah bersabda, "Jibril terus mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga akan menerima warisan."(HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini tidak mengkhususkan satu tetangga atas tangga lainnya.

Sumber. Abu Thalhah Muhammad Yunus Abdussttar dalal kitabnya "Kaifa Tastafidumi min al-Haramain asy-Syarifain Ayyuha az-Zair wa al-Muqim Ahwal an-Nabi fi al-Hajj" Dan judul aslinya itu dialih bahasakan menjadi "Haji, Jalan-jalan atau ibadah" oleh Nashirul Haq.Lc dan Fatkhurozi Lc.

Kisah Rasulullah Bagian 90

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 90*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Tim itu kemudian kembali, Ketika itu Al Haris bin Aus terkena ujung pedang sebagian sahabatnya sehingga terluka dan mengucurkan darah.

Setelah tiba di Hurrotul Aridl, ternyata Al Haris tidak ada di tengah-tengah mereka. 

Mereka kemudian mencarinya, lalu mereka gotong.

Setelah tiba di Baqi’ Gharqad, mereka bertakbir dan takbir mereka didengar oleh Rasulullah ﷺ . Sehingga, beliau mengetahui bahwa mereka telah berhasil membunuh Kaab, dan beliau kemudian bertakbir.

Setelah mereka sampai di hadapan beliau, beliau berkata,
“Wajah kalian berseri-seri.”

“Wajah Anda juga wahai Rasulullah.” sahut mereka.

Mereka meletakkan kepala sang thaghut tersebut di hadapan beliau, dan beliau memuji Allah atas terbunuhnya sang Thoghut itu. Beliau kemudian mengobati luka Al Haris dan sembuh seketika itu juga.

Setelah orang-orang Yahudi mengetahui kematian pemimpinnya, Kaab bin Asyraf, mereka sangat ketakutan. 

Mereka baru menyadari bahwa Rasulullah ﷺ tidak segan-segan untuk menggunakan kekuatan ketika nasehat sudah tidak diindahkan lagi oleh orang-orang yang ingin menghancurkan keamanan, menimbulkan keresahan, dan tidak menghormati perjanjian.

Mereka tidak berani bertindak sesuka hati, 

Bahkan mereka menunjukkan sikap seolah-olah mentaati perjanjian. Mereka bersembunyi di benteng bagaikan ular yang terburu-buru masuk ke dalam liangnya untuk bersembunyi.

Demikianlah untuk sementara waktu Rasulullah ﷺ dapat mencurahkan seluruh perhatiannya dalam menghadapi berbagai bahaya yang kemungkinan muncul di luar Madinah. Beban kaum muslimin semakin berkurang, sebagian besar masalah-masalah intern mereka telah terselesaikan.

*Ekspedisi Zaid Ibnul Harits*

Ekspedisi ini merupakan operasi militer yang terakhir dan paling berhasil yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum Perang Uhud. 

Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir Tahun ketiga Hijrah.

Urutan peristiwa tersebut adalah kaum Quraisy selalu dirundung kesedihan setelah terjadinya peristiwa Badar. Ketika tiba musim panas dan musim dagang Islam telah dekat, mereka dirundung kesedihan yang lain yakni perniagaannya merasa terancam.

Safwan Bin Umayyah berkata kepada orang-orang Quraisy,

“Muhammad dan para sahabatnya telah merintangi perniagaan kita. Kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat terhadap mereka, karena mereka tidak membiarkan daerah pantai. Penduduk daerah pantai berdamai dengan mereka, dan sebagian besar dari mereka telah memeluk Islam. Kita tidak tahu cara menanggulangi, apa yang dapat ditempuh kalau kita tetap tinggal dirumah.

Modal kita akan habis dimakan, sementara penghidupan kita di Mekkah tergantung pada perniagaan kita ke Syam di musim panas dan ke Habasyah di musim dingin.”

Terjadilah dialog sekitar topik tersebut. Al Aswad bin Abdul Muthalib berkata kepada Sofwan,

“Tinggalkan jalan lewat daerah pantai, dan ambillah jalan lewat Irak.”

Jalan lewat Irak merupakan jalan yang panjang melewati Najad sampai ke Syam, dan melewati sebelah timur Madinah. Orang-orang Quraisy sangat tidak mengetahui jalur tersebut, maka Al Aswad bin Abdul-Muththalib menyarankan agar menjadikan Farat bin Hayyan dan Bani Bakar bin Wa’il sebagai pemandunya, dan dia sendiri adalah pemimpin dalam perjalanan tersebut.

Berangkatlah kafilah Quraisy dipimpin oleh Safwan bin Umayyah lewat jalan baru. Namun berita tentang keberangkatan kafilah ini telah sampai ke Madinah. Sebab Khalid bin an-Nu’man telah masuk Islam. Dia bertemu dengan Nu’aim Bin Masud Al Asyja’i (ketika itu belum memeluk Islam) di sebuah tempat minum khamr (ketika itu khamr belum diharamkan) Dalam kesempatan tersebut Shalith bin Nu’man mendengar informasi dari Nu’aim bin Mas’ tentang perjalanan kafilah Quraisy. Maka Salith bin Numan segera menghadap Nabi ﷺ menyampaikan informasi yang didengarnya.

Rasulullah ﷺ segera menyiapkan pasukan yang terdiri atas 100 personil lengkap dengan kendaraannya di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah al Kilabi. Zaid pun segera berangkat, dan di daerah Najad yakni di Qordah, Zaid berhasil menyergap kafilah yang sedang lengah.

Zaid berhasil menguasai mereka, sedangkan Shafwan dan para pengawalnya melarikan diri tanpa perlawanan.

Kaum muslimin menawan pemandu kafilah, yaitu Farrat bin Hayyan. Dikatakan pula bahwa kaum muslimin juga menangkap 2 orang yang lain. Mereka mengangkut bahan ghanimah besar berupa perak dan barang-barang berharga lainnya, yang diangkut oleh kafilah semua. Barang itu nilainya sekitar 100.000.

Rasulullah ﷺ membagi-bagikan barang-barang ghanimah tersebut kepada para personil ekspedisi itu, setelah beliau ambil seperlimanya, Farrat bin Hayyan akhirnya masuk Islam di hadapan 
Rasulullah ﷺ .

Peristiwa itu merupakan tragedi dan bencana besar bagi orang-orang Quraisy, sehingga mereka semakin resah dan bertambah sedih. Di hadapan mereka tidak ada jalan kecuali dua pilihan:

~ Menghentikan kesombongan dan mengambil langkah perdamaian dengan kaum muslimin

~ Menempuh langkah peperangan untuk mengembalikan kewibawaan mereka dan melumpuhkan kekuatan kaum muslimin.

Namun mereka memilih langkah yang kedua sehingga tekat mereka semakin kuat untuk melakukan tindakan pembalasan.

Mereka giat mengadakan persiapan guna menghadapi kaum muslimin dengan kekuatan maksimal, semua itu, merupakan penyebab terjadinya Perang Uhud.

*Bersambung bagian 91*

Rabu, 03 Februari 2021

Sertifikat El

Inti dari penjelasan Biro Humas antara lain :
1. Terkait teknis penerbitan sertp El.menunggu surat keputusan menteri ATR/BPN.
2. Pemberlakuan sertp El akan di lakukan  pilot project terlebih dahulu pada beberapa wilayah prov/kab/kota
3. Setelah pemberlakuan sertipikat El. tidak ada penarikan sertipikat masyarakat, sertipikat yg ada tetap berlaku dan diberikan pelayanan seperti biasa. 
4. Sertipikat El. sementara akan prioritas diterbitkan bagi tanah tanah aset  instansi pemerintah dan BUMN sebagai pilot project sebelum mengelektronikkan sertipikat masyarakat.
4. Apabila telah diberlakukan ketentuan sertipikat El., pemilik sertipikat dapat mengajukan ALIH MEDIA dari sertipikat konvensional menjadi DIGITAL/ELEKTRONIK sebagaimana pengajuan ganti blangko bagi sertipikat lama, sesuai dengan permohonan masyarakat, jd tidak ada penarikan besar besaran.
5. Sertipikat yg dialih mediakan tsb adalah sertipikat yg tdk bermasalah karena ada gugatan di pengadilan dan tidak ada catatan catatan keberatan lain. 
🙏🙏

Kisah Rasulullah Bagian 89

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 89*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Rasulullah ﷺ mengizinkan Muhammad bin Maslamah mengatakan apa saja yang ia ingin katakan kepada Ka’ab bin Al Ashraf.

Muhammad bin Maslamah kemudian mendatangi Ka’ab bin Al Ashraf dan mengatakan,

“Orang itu (yakni Muhammad ﷺ ) meminta shodaqoh kepada kami. Dia sangat memberatkan kami.”

Ka’ab berkata:
“Rupanya, engkau telah bosan kepadanya.”

Muhammad bin Maslamah berkata,

“Kami telah mengikuti dia, dan kami tidak ingin meninggalkannya sampai kami melihat sendiri bagaimana akhir persoalannya nanti. 

Kami menginginkan engkau bersedia memberi pinjaman kepada kami satu atau dua wasaq (satu wasaq kurang lebih sama dengan 60 gantang).”

“Baiklah tetapi engkau harus memberikan barang jaminan kepadaku,” jawab Ka’ab.
Muhammad bin 

Maslamah berkata,

“Jaminan apa yang kau inginkan?”

“Berikanlah istri-istri kalian kepadaku sebagai jaminan,” jawab Ka’ab.

Muhammad bin Maslamah berkata,

“Bagaimana mungkin kami menyerahkan istri-istri kami sementara engkau adalah orang yang paling tampan.”

“Kalau begitu, Serahkanlah anak-anak kalian kepadaku,” sahut Ka’ab.

Muhammad bin Maslamah berkata,
“Bagaimana mungkin kami menyerahkan anak-anak kami sebagai jaminan. Mereka akan mencela karena digadaikan dengan satu atau dua wasaq. Ini adalah aib bagi kami. 

Kami akan menyerahkan senjata saja kepadamu sebagai barang jaminan.”

Selanjutnya ia berjanji akan datang lagi kepada Ka’ab

Abu Na’ilah juga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Muhammad bin Maslamah. Dia mendatangi Ka’ab bin Al Ashraf dan mengalunkan beberapa syair sejenak, lalu berkata,

“Wahai Ibnul Ashraf aku datang kepadamu untuk suatu keperluan. Aku akan mengatakannya hanya kepadamu, tetapi rahasiakanlah.”

Ka’ab menjawab, “Baik akan kurahasiakan.”

Abu Nailah berkata, “Kedatangan orang itu (yakni kedatangan Muhammad ﷺ di Madinah) membawa bencana bagi kami. Kami dimusuhi oleh orang-orang Arab, kami diisolasi, kami hidup serba susah, sehingga kami dan keluarga harus bekerja membanting tulang.”

Selanjutnya saling dialog seperti dialog antara Ka’ab dan Muhammad bin Maslamah.

Di sela-sela pembicaraannya itu, Abu Nailah mengatakan,
“Sesungguhnya aku bersama para sahabatku yang sependapat dengan aku. Aku ingin membawa mereka kepadamu, lalu engkau memberi mereka yang berlaku baik dalam hal tersebut.”

Dalam dialog tersebut Muhammad bin Maslamah dan Abu Naila telah berhasil mencapai apa yang diinginkannya. 

Karena setelah dialog tersebut Ka’ab tidak mencurigai senjata dan para sahabat yang mereka bawa.

Pada malam bulan purnama, malam ke 14 dari bulan Rabiul awal tahun ke-3 Hijriyah, tim tersebut berkumpul menghadap Rasulullah ﷺ , beliau kemudian mengantar mereka sampai ke Baqi’ Gharqad, lalu mengarahkan mereka dengan mengatakan,

“Berangkatlah atas nama Allah. Ya Allah, tolonglah mereka.”

Setelah itu beliau pulang dan terus melakukan sholat dan bermunajat kepada Rabbnya.

Tim itu pun tiba di benteng (tempat tinggal Ka’ab bin Al Ashraf) Abu Na’ila kemudian memanggilnya, dan Ka’ab pun bangkit untuk mendatangi mereka.

Istrinya berkata,
“Mau kemana pada saat seperti ini? Aku mendengar seperti suara yang dapat meneteskan darah.”

Ka’ab berkata,
“Ia adalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara susuku Abu Na’ilah. 

Sesungguhnya orang yang mulia itu apabila dipanggil untuk bertempur, pasti bersedia menghadapinya.”

Kemudian ia keluar menemui mereka dengan pakaian yang harum semerbak.

Abu Na’ilah telah berkata 
kepada para sahabatnya,
“Apabila ia telah datang, aku akan membelai rambutnya dan menciumnya. Dan apabila kalian melihat aku telah dapat memegang kepalanya, renggutlah dan bunuhlah dia.”

Ka’ab pun datang menghampiri mereka dan berbicara sejenak, kemudian Abu Na’ilah berkata,

“Wahai Ibnu Ashraf, bagaimana kalau kita berjalan jalan di jalanan kampung untuk berbincang-bincang menghabiskan malam-malam kita?”

“Baiklah jika kalian menghendaki,” jawab Ka’ab bin Asyrof.

Mereka kemudian keluar untuk berjalan-jalan, di tengah perjalanan Abu Nailah berkata,

“Aku belum pernah melihat engkau seharum pada malam ini.”

Kaab bangga mendengar pujian seperti itu, dan ia berkata,

“Aku mempunyai parfum wanita-wanita Arab.”
Abu Na’ilah berkata, “Bolehkah aku mencium kepalamu?” ”
“Boleh,” jawab Kaab.
Abu Na’ilah kemudian membelai kepala rambut Ka’ab dan menciumnya, demikian pula para sahabatnya.
Kemudian berjalan sejenak, lalu berkata,

“Bolehkah aku mengulanginya lagi?”

“Silahkan,” jawab Kaab.

Abu Na’ilah pun membelai rambutnya, dan tatkala sudah dapat memegangnya, ia berseru,

“Renggutlah musuh Allah ini!”

Seketika itu juga pedang-pedang mereka merenggutnya tetapi tidak memberikan manfaat sedikit pun.

Lalu Muhammad bin Maslamah mengambil sebilah pedang dan dia letakkan di bagian bawah perut lalu dia tekan sampai menembusnya.

Kaab pun terkapar dan mati seketika. Ketika itu Kaab meraung keras sehingga dapat membuat ketakutan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tidak lama kemudian, semua lampu dalam benteng dinyalakan.

*Bersambung bagian 90*

Selasa, 02 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 87

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 87*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Kemudian kaum muslimin mengepung mereka dengan ketat yaitu pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawal tahun kedua Hijrah.

Pengepungan itu berlangsung selama 15 hari sampai awal bulan Dzulqaidah. Allah timpakan rasa takut ke dalam hati mereka.

Akhirnya mereka menyerah dan bersedia menerima hukumannya yang akan diputuskan oleh Rasulullah ﷺ menyangkut budak, harta, istri, dan anak keturunan mereka.

Ketika itu Bangkitlah Abdullah bin Ubay bin Salul memainkan peran kemunafikannya. Dia mendesak Rasulullah ﷺ agar memaafkan mereka, dengan mengatakan,

“Wahai Muhammad perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik”. (Mereka adalah para sekutu kabilah Khazraj yang salah seorang pemimpin nya adalah Abdullah bin Ubay).

Permintaannya itu tidak ditanggapi oleh Rasulullah ﷺ . Abdullah bin Ubay mengulangi permintaannya tetapi beliau berpaling darinya, sambil memasukkan tangannya ke dalam baju besinya lalu berkata kepadanya,

“Tinggalkan aku!” Beliau marah dan wajahnya tampak berubah, lalu berkata lagi,

“Celakalah kau, tinggalkan aku!”

Tetapi sang munafik tersebut tetap saja pada keinginannya dan berkata,

“Tidak, demi Allah aku tidak akan meninggalkan Engkau sebelum Engkau memperlakukan para sahabatku itu dengan baik.”

“400 orang tanpa perisai dan 300 orang bersenjata lengkap yang telah membelaku terhadap semua musuh-musuhku itu, apakah Engkau habisi nyawanya dalam waktu sehari? Demi Allah aku betul-betul menghawatirkan terjadinya bencana itu.”

Rasulullah ﷺ memperlakukan si munafik tersebut yang baru sebulan menampakkan keislamannya dengan memberikan perhatian kepadanya.

Dia serahkan orang-orang Yahudi itu kepadanya dengan syarat mereka harus keluar dari Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota Madinah.

Mereka pun keluar menuju daerah di sekitar Syam, dan tidak lama kemudian sebagian besar dari mereka meninggal dunia.

Rasulullah ﷺ menerima harta kekayaan mereka. Dari harta tersebut beliau mengambil tiga keping uang, dua baju besi, tiga pedang, tiga tombak, dan seperlima ghanimah. 

Orang yang bertanggung jawab mengumpulkan ghanimah adalah Muhammad bin Maslamah.

*Perang Sawiq*

Ketika Shafwan bin Umayyah, orang-orang Yahudi, dan orang-orang munafik melakukan makar, Abu Sufyan berfikir untuk melakukan suatu tindakan yang kecil resikonya, tetapi jelas pengaruhnya.

Ia berupaya untuk segera melakukan tindakan untuk memelihara kedudukan kaumnya, dan menunjukkan kekuatan mereka.

Abu Sufyan bernazar tidak akan membasahi rambutnya dengan air karena junub sebelum menyerang Muhammad. 

Maka ia pun keluar membawa 200 tentara untuk memenuhi nadzarnya.

Mereka tiba di suatu terusan yang menghadap ke gunung Naib, dari Madinah sekitar satu barid atau 12 mil. Tetapi ia tidak berani menyerang Madinah secara terang-terangan.

Ia melakukan suatu tindakan seperti tindakan pembajakan yaitu memasuki pinggiran Madinah secara sembunyi-sembunyi di tengah-tengah kegelapan malam.

Dia mendatangi Huyai bin Al-Khattab dan meminta dibukakan pintu, namun Huyai tak mau dan merasa ketakutan. Kemudian ia mendatangi Salam bin Musykam, pemimpin Bani Nadlir pada saat itu.

Setelah meminta izin ke Salam bin Musykam, Ia pun diberi izin, diberi minum khamer dan memperoleh informasi tentang keadaan kaum muslimin pada saat ini darinya.

Kemudian pada malam itu juga Abu Sufyan keluar dan menemui para sahabatnya, lalu mengutus satu pasukan dari mereka dan menyerang suatu tempat di pinggiran kota Madinah yang bernama Aridl.

Mereka menebang dan membakar beberapa pohon kurma dan di sana mereka membunuh seorang lelaki Anshor dan sekutunya yang sedang berada di kebun mereka. Setelah itu mereka melarikan diri ke Mekah.

Peristiwa tersebut sampailah ke telinga Rasulullah ﷺ. Lalu Beliau segera mengejar Abu Sufyan dan kawan-kawannya.

Akan tetapi, mereka segera melarikan diri dengan sangat cepat, mereka melemparkan bekal makanan mereka yang berupa tepung (sawiq) dalam jumlah yang banyak untuk memperingan beban dan agar dapat lari lebih cepat lagi.

Rasulullah ﷺ pun sampai di Qarqaratul Kadar, kemudian kembali pulang, dan kaum muslimin membawa tepung (sawiq) yang dilemparkan oleh orang-orang kafir itu. 

Sehingga peristiwa ini dinamakan dengan perang sawiq.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqaidah tahun kedua Hijriyah dua bulan setelah peristiwa Badar.

Dalam perang ini Rasulullah menyerahkan urusan Madinah kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir.

*Bersambung kebagian 88*

Kisah Rasulullah Bagian 86

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 86*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
Mereka kemudian menangis dan saling berangkulan antara kaum Aus dan kaum Khazraj, kemudian meninggalkan tempat bersama Rasulullah ﷺ dengan penuh ketaatan. Allah telah memadamkan dari mereka tipu daya musuh Allah, Ibnu Qais.

Itulah, apa yang dilakukan dan diupayakan oleh Yahudi untuk menimbulkan keresahan dan permusuhan di tengah-tengah kaum muslim, dan menghalangi jalan dakwah Islam. Dalam hal ini mereka memiliki berbagai program. 

Mereka menebarkan berbagai isu, beriman pada pagi hari dan kufur di sore harinya, untuk menanamkan benih-benih keraguan di dalam hati kaum yang lemah.

Mereka mempersempit jalan-jalan kehidupan terhadap orang yang memiliki hubungan keuangan dengan mereka. Apabila mereka mempunyai tanggungan hutang kepada orang mukmin dan tidak dapat melunasinya mereka mengatakan sesungguhnya hutangku kepadamu hanya kubayar ketika kamu masih berada di atas agama nenek moyangmu, apabila kamu telah keluar dari agama nenek moyangmu tidak akan kubayar lagi.

Mereka melakukan itu sebelum Perang Uhud sekali pun mereka terikat perjanjian dengan Rasulullah ﷺ. Rasulullah dan para sahabat tetap bersabar atas hal itu semua, agar mereka mau sadar, di samping untuk mewujudkan keamanan di dalam negeri.

Tetapi, mereka tidak melihat bahwa Allah telah menolong orang-orang yang beriman di medan Badar dan mereka telah memiliki kekuatan dan kewibawaan orang-orang yang jauh maupun yang dekat. Maka mereka menyatakan kejahatan dan permusuhannya secara terang-terangan.

Orang Yahudi yang paling dengki dan paling jahat adalah saat Kaab bin Asyraf, sebagaimana halnya Bani Qainuqa merupakan kelompok yang paling jahat di antara ketiga kelompok Yahudi. Bani Qainuqa tinggal di dalam Madinah. Profesi mereka adalah tukang sepuh dan pembuat bejana. Dengan profesi tersebut setiap orang dari mereka memiliki alat-alat perang. 

Jumlah prajurit mereka adalah 700 orang. Mereka adalah Yahudi Madinah yang paling berani dan Yahudi pertama yang melanggar perjanjian.

Ketika Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin di Badar, ulah mereka semakin brutal. Mereka membangkitkan keributan dengan mencela dan mengganggu setiap muslim yang mendatangi pasar mereka, sampai mereka berani mengganggu para wanita kaum muslimin.

Tatkala kejahatan mereka sudah memuncak, Rasulullah ﷺ mengumpulkan mereka, menasehati mereka, dan mengajak mereka kepada kebenaran. Tetapi kejahatan dan kesombongan mereka semakin menjadi.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dari jalur Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata,

“Setelah Rasulullah ﷺ berhasil menundukkan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di pasar Bani Qainuqa dan berkata,

“Wahai orang-orang Yahudi, masuklah kedalam Islam sebelum kalian ditimpa oleh apa yang telah menimpa kaum Quraisy.”

Mereka mengatakan,
“Hai Muhammad, Janganlah Engkau membanggakan kemenangan terhadap kaum Quraisy mereka itu tidak mengerti ilmu peperangan. Seandainya kami yang Engkau hadapi dalam peperangan niscaya Engkau akan mengetahui siapa sebenarnya kami. 

Kemudian Allah تَعَالَى menurunkan ayat

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: 

Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.

Surah Ali ‘Imran (3:12)

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). 

Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. 

Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. 

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.
Surah Ali ‘Imran (3:13)

Makna jawaban dari Bani Qainuqa itu merupakan pernyataan terbuka untuk berperang, tetapi Nabi ﷺ menahan amarahnya dan bersabar, demikian pula kaum muslimin. Mereka menunggu sampai orang-orang Yahudi berbuat kejahatan melampau batas.

Orang-orang Yahudi dari Bani Bani Qainuqa bertambah berani. Tidak lama kemudian mereka berbuat kerusuhan di Madinah. Mereka berusaha untuk membinasakan kaum Muslimin dan menutup celah-celah kehidupan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dari Abu Aun bahwasanya seorang wanita Arab datang ke pasar Bani Qainuqa untuk menjual barang dagangannya. Dia mendatangi tukang sepuh dan duduk di sana. Tiba-tiba beberapa orang Yahudi menginginkan wanita itu untuk membuka penutup mukanya. Tetapi wanita itu menolak. Tanpa diketahui oleh wanita itu secara diam-diam tukang sepuh itu menyangkutkan ujung pakaian yang menutup seluruh tubuh wanita Arab itu pada bagian punggungnya. Ketika wanita itu berdiri terbukalah aurat bagian belakangnya.

Orang-orang Yahudi yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Wanita itu kemudian berteriak meminta pertolongan. 

Mendengar teriakan itu salah seorang dari kaum Muslimin menyerang tukang sepuh Yahudi itu dan membunuhnya.

Orang-orang Yahudi yang berada di tempat itu kemudian mengeroyoknya dan membunuhnya. Peristiwa itulah yang menyebabkan terjadinya peperangan antara kaum muslimin dan orang-orang Yahudi dari Bani Qainuqa.

Melihat peristiwa biadab yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Bani Qainuqa, Rasulullah hilang kesabaran. Beliau menyerahkan urusan Madinah kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir, menyerahkan bendera kaum muslimin kepada Hamzah bin Abdul Mutholib, dan bersama tentara Allah beliau berangkat menuju Bani Qainuqa.

Ketika Yahudi dari Bani Qainuqa melihatnya, mereka segera berlindung di dalam benteng-benteng mereka.

*Bersambung ke bagian 87*