Selasa, 08 Desember 2020

Empat Negeri Diberkahi Allah SWT

Semakin cepet berjalannya waktu, kita tidak akan menyadari bahwa akhir zaman semakin mendekat. Semakin dekatnya akhir zaman, semakin dekat pula hari kiamat.

Tanda-tanda kiamat kecil sudah sering kita rasakan. Suatu saat nanti, kita akan dihadapkan dengan fitnah Dajjal sebagai tanda kiamat besar akan datang.

Untuk itu Rasulullah SAW merekomendasikan 4 negeri yang sebaiknya dihuni umat islam karena diberkahi oleh Allah SAW. Berikut penjelasan ke-4 negeri tersebut.

1. Mekah dan Madinah

Mekah dan Madinah adalah kita suci untuk umat islam semenjak zaman Nabi kita terdahulu. Kota suci ini menjadi kunci umat islam agar terbebas dari fitnah Dajjal yang terkenal kejam. Allah SWT juga sudah menjamin bahwa kedua tempat ini akan dijaga oleh malaikat dari fitnah keji Dajjal.

Dalam hadistnya Rasulullah SAW bersabda,

“ Tiada suatu negeri pun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorong pun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turun lah di suatu tanah yang berpasir (di luar Madinah) lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik (dari Makkah – Madinah) .” ( HR. Muslim).

2. Yaman

Allah SWT memberikan julukan untuk Yaman yaitu baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur, yang artinya negeri yang aman dan senantiasa mendapat ampunan dari Rabb-nya.

Tidak heran jika Yaman juga salah satu negeri rekomendasi Rasulullah untuk dihuni umat islam di akhir zaman. Namun, perlu diketahui bahwa hanya umat islam yang terpilihlah yang bisa menempati ini karena nantinya akan menjadi pasukan perang.

Dari Abdullah bin Hawalah mengatakan, ” Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“ Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Karena ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa, hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Karena Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Dinilai shohih oleh Al-Hakim dan Al-Albani)

Ciri-ciri penduduk yang akan menempati yaman yaitu memiliki hati yang lembut, seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda: “ Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling luluh hati, dan paling lembut hati, keimanan ada di Yaman dan hikmah ada di Yaman. (HR: Bukhari – Muslim).

3. Syam

Syam adalah negeri yang juga mendapatkan keberkahan dari Allah dengan dilengkapi penjaga kokoh dari malaikat di akhir zaman nanti.

“Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya: mengapa ? Jawab Nabi saw: Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.” (HR. Imam Ahmad)

Syam kelak akan menjadi pusat islam pada akhir zaman inilah tempat yang akan terjadi peperangan dahsyat didalamnya.

“Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang: satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Ibnu Hawalah bertanya: Wahai Rasulullah, pilihkan untukku jika aku mengalaminya. Nabi saw: Hendaklah kalian memilih Syam, karena ia adalah negeri pilihan Allah, yang Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya, jika tak bisa hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya), karena Allah menjamin untukku negeri Syam dan penduduknya.” (HR. Imam Ahmad)

“ Al-Masih Dajjal akan datang dari arah timur, ia menuju Madinah, hingga berada di balik Uhud, ia disambut oleh malaikat, maka malaikat membelokkan arahnya ke Syam, di sana ia dibinasakan, di sana dibinasakan.” (HR. Imam Ahmad).

Kisah Rasulullah Bagian 33

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 33*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Bilal bin Rabbah*

Beberapa pengikut Rasulullah ﷺ yang pertama berasal dari kalangan miskin dan lemah. Ajaran Islam yang melarang penindasan membuat banyak budak dengan segera menjadi seorang Muslim. Namun, jika tuan mereka tahu akan hal ini, para budak itu dipaksa harus memilih:
kembali menyembah berhala atau disiksa habis-habisan.

“Lemparkan dia dan baringkan tubuhnya di atas pasir!” raung Umayyah bin Khalaf Al Juhmi. Rupanya, ia sangat murka mengetahui seorang budaknya, Bilal bin Rabbah, menjadi pengikut Rasulullah ﷺ.

Lebih murka lagi ia ketika tahu bahwa Bilal, si pemuda hitam itu, lebih memilih menghadapi siksa dan membangkang kehendaknya daripada harus keluar dari agama barunya itu.

Orang-orang suruhan Umayyah membuka seluruh baju Bilal. Kemudian, budak malang itu ditelentangkan di atas padang pasir yang panasnya begitu menyengat saat matahari berada di atas kepala.

“Budak jelek, engkau akan diperlakukan seperti ini hingga engkau mati atau engkau mengingkari Muhammad dan kembali menyembah Lata dan Uzza!”.

Menghadapi ancaman itu, Bilal hanya berkata,
“Ahad! Ahad!” (“Maha Esa Allah! Maha Esa Allah! “)

Suara cambuk memerihkan telinga ketika Bilal disiksa, “Ahad! Ahad!”
“Letakkan batu besar di atas dadanya!” raung Umayyah.

Bilal merasa dadanya hampir remuk dan terasa sesak sekali, sehingga nyaris ia tidak dapat lagi bernapas atau pun bersuara, tetapi ia tetap melantunkan kalimat juangngya. “Ahad! Ahad! Ahad!”

Ibu Bilal, Hamamah, juga disiksa tuannya. Menurut suatu riwayat, ia gugur dalam penyiksaan itu dan wafat sebagai syuhada.
(Dalam riwayat yang lain, Hamamah, dimerdekakan Rasulullah ﷺ).

*Khalid bin Sa’id*

Seperti Bilal, Khalid bin Sa’id termasuk orang-orang pertama yang beriman. Khalid adalah orang ke kelima yang masuk Islam. Ia bermimpi akan jatuh ke jurang api, tapi diselamatkan oleh seseorang yang ternyata ia adalah Rasulullah ﷺ.

*Siksaan Demi Siksaan*

Setelah melihat Umayyah menyiksa Bilal sedemikian kejam, para pemilik budak dan pembesar Quraisy yang lain ikut menyiksa para budak mereka yang ketahuan memeluk agama Islam. Beragam siksaan sangat kejam ditimpakan kepada para pemeluk Islam pertama itu.

“Hukuman apa yang harus kutimpakan kepada budak pembangkang ini, Tuan?” Tanya algojo.

Sang Tuan tersenyum sinis, “Cambuk dia sampai tanganmu tidak mampu lagi!”

Algojo melaksanakan tugasnya dengan patuh. Suara lecutan cambuk disertai erangan orang terdengar dari detik ke detik. Setiap lecutan membuat rasa sakit lebih perih dari lecutan sebelumnya. Sebagian orang yang kuat bertahan hingga pingsan. 

Sebagian yang lain gugur karena tidak kuat menahan derita.
Lebih dari itu, ternyata bukan hanya cambuk yang bicara.
“Buka pakaiannya!” perintah seorang bangsawan kepada tukang pukulnya.

Beberapa budak Muslim yang malang itu segera saja menjadi tidak berbaju.
“Pakaikan mereka pakaian besi yang ketat menempel di kulit!” seringai sang bangsawan.

Para tukang pukul segera menurut.
“Sekarang, bakar baju besi yang telah dikenakan itu!” seru bangsawan dengan buas.
Jerit kesakitan budak-budak Muslim itu amat memilukan karena baju besi yang dibakar itu menghanguskan seluruh kulit tubuh mereka.

*Ummu Ubais dan Zinnirah*

Ummu Ubais dan Zinnirah adalah dua perempuan Muslim yang disiksa sampai jadi buta. 

Orang-orang Quraisy mengejek dengan mengatakan bahwa kebutaan itu disebabkan mereka dikutuk berhala.
Akan tetapi, dengan izin Allah ﷻ, keduanya kemudian dapat melihat lagi sehingga orang-orang Muslim dapat membalas ejekan orang-orang kafir.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 32

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 32*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Dahsyatnya Iman*

Abu Thalib memanggil Rasulullah ﷺ dan berkata,
“Muhammad, orang-orang Quraisy kembali datang padaku dan mengatakan, ‘Wahai Abu Thalib, engkau adalah orang terhormat dan terpandang di kalangan kami. Oleh karena itu, kami meminta baik-baik kepadamu untuk menghentikan keponakanmu itu, tetapi tidak juga engkau lakukan. Ingatlah, kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek moyang kita, tidak menghargai harapan-harapan kita, dan mencela berhala-berhala kita. Suruh diam dia atau kami lawan dia hingga salah satu pihak nanti binasa! ‘ ”

Abu Thalib memandang wajah keponakannya lekat-lekat, hampir seperti memohon, lalu katanya,

“Jagalah Aku, Nak. Jaga juga dirimu. Jangan Aku dibebani dengan hal-hal yang tidak dapat kupikul. ”

Rasullullah ﷺ tertegun. 
Beliau tahu, pamannya seolah sudah tidak berdaya lagi membelanya. Pamannya hendak meninggalkan dan melepasnya. 

Sementara itu, kaum muslimin masih lemah dan belum mampu membela diri. Namun, semua diserahkan pada kehendak Allah ﷻ.

Rasullullah ﷺ bertekad untuk terus berdakwah. Lebih baik mati membawa iman daripada menyerah atau ragu-ragu.

Oleh karena itu, dengan seluruh kekuatan jiwa, Rasulullah ﷺ berkata,
“Paman, demi Allah, kalau pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan apakah kemenangan itu ada di tanganku atau aku binasa karenanya.”

Begitulah kedahsyatan iman Rasulullah ﷺ. Abu Thalib sampai tertegun dan gemetar mendengar tekad keponakannya itu. 

Rasulullah ﷺ pergi sambil menitikkan airmata, tetapi Abu Thalib memanggilnya kembali sambil berkata,
“Anakku katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau apa pun yang terjadi.”

*Utsman dan Ruqayyah*

Sore itu, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah dengan hati yang sangat sedih. 

Seharian, beliau melihat para pengikutnya disiksa.
Betapa berat penderitaan orang-orang Muslim saat itu. Khadijah menghampiri suaminya tercinta. Dihibur dan dikuatkannya kembali diri Rasulullah ﷺ.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Ruqayyah, putri kedua Rasulullah ﷺ, tiba-tiba masuk sambil menangis. Ruqayyah mendekap pangkuan ibunya sambil menangis tersedu-sedu.
“Ada apa, sayang?” tanya Khadijah begitu lembut, menutupi kekhawatirannya sendiri akan berita buruk yang dibawa putrinya itu.

“Suamiku menceraikan aku, Bunda,” isak Ruqayyah. “Ayah mertuaku, Abu Lahab, menyuruh suamiku menceraikan aku dan suamiku menurut. Ia dijanjikan akan dinikahkan kembali dengan putri bangsawan.”

Rasulullah ﷺ dan Khadijah saling bertatapan sedih. Sudah sekejam itu Abu Lahab bertindak untuk menyakiti Rasulullah dan keluarganya.

“Ummu Jamil, ibu mertuaku, merobek-robek bajuku,” lanjut Ruqayyah pilu. “Abu Lahab memukuliku. Abu Lahab, Ummu Jamil, dan suamiku, Utbah, bersumpah tidak akan menerima lagi kehadiranku selama ayah masih tetap mendakwahkan Islam.”

Seberapa pun tabahnya Khadijah, akhirnya air matanya menitik juga melihat putrinya yang kini menjadi orang terusir. Dengan lembut, Rasulullah ﷺ memeluk putrinya itu dan menghapus air mata di pipinya.
“Aku lebih sayang Ayah dan Bunda daripada siapa pun di dunia ini,” bisik Ruqayyah kepada Rasulullah ﷺ.

Dengan hati pilu, Rasulullah ﷺ pergi menemui Abu Bakar. Rasulullah ﷺ menceritakan kejadian yang menimpa Ruqayyah.

“Ya Rasulullah,” kata Abu Bakar dengan lembut.
“Sebenarnya, dari dulu, Utsman bin Affan sudah menaruh hati pada Ruqayyah, tetapi Utbah mendahuluinya. Utsman sangat menyesal tidak dapat menyunting putri Anda.”

Mendengar penuturan Abu Bakar, Rasulullah ﷺ pun kemudian menikahkan Utsman dengan Ruqayyah. Untuk sementara, berakhir satu kesedihan.

Masih banyak lagi cobaan dan ujian lain yang akan mendera Rasulullah ﷺ, keluarga, dan para sahabatnya.

*Duri-duri di Jalan*

Gangguan Ummu Jamil dan Abu Lahab semakin menjadi jadi. Setiap kali Rasulullah ﷺ berjalan untuk menemui para pengikutnya, setiap itu pula beliau menemukan duri-duri bertebaran di jalan. Perlahan dan berhati-hati, Rasulullah ﷺ melangkah agar duri tidak menembus kakinya. Namun, hampir setiap kali pula dalam keadaan itu, kotoran dan batu melayang ke arah beliau.

Suara tawa melengking terdengar jika Rasulullah ﷺ tengah sibuk menghindari lemparan batu dan kotoran. Sambil menghapus kotoran yang melekat di pakaian, Rasulullah ﷺ menoleh ke arah suara tawa. Ummu Jamil dan Abu Lahab kelihatan begitu menikmati penderitaan Rasulullah ﷺ. Ummu Jamil berpakaian mencolok dan selalu menatap Rasulullah ﷺ dengan tatapan menghina.

“Lihat!” lengking Ummu Jamil,
“Inilah Muhammad, anak gembel yang berani membawa agama baru! Agama yang dikiranya dapat menyamakan kedudukan para bangsawan dan budak!”

Rasulullah ﷺ tidak berkata apa-apa untuk membalas. Beliau hanya balik menatap dengan tatapan yang tajam.
“Percuma kamu banyak berkata, istriku! Telinganya sudah tuli!” Sembur Abu Lahab. “Hai, para budak! Lanjutkan kesenangan kalian!”

Seketika itu juga, budak-budak kuat bertubuh besar milik Abu Lahab dan Ummu Jamil kembali melempari Rasullulah ﷺ dengan batu, kotoran, dan pasir. 

Diperlakukan seperti itu, Rasulullah ﷺ tidak membalas sedikit pun. Beliau hanya menghindar, menahan sakit, seraya bersabar dan terus bersabar.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 31

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 31*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَبِّدِنَا مُحَمد

*Minta Mukjizat*

Bersungguh-sungguh atau hanya sekedar mengejek, orang-orang Quraisy sering meminta mukjizat kepada Rasulullah ﷺ.

“Kalau Tuhanmu bisa menurunkan mukjizat, kami pasti akan beriman kepadamu!” demikian seru salah seorang dari mereka kepada Rasulullah ﷺ.

“Muhammad! Kalau engkau benar benar Rasulullah, mintalah Tuhan agar menyulap Bukit Shafa dan Marwa menjadi bukit-bukit emas!” seru yang lain.

“Ya, itu benar! Tetapi kalau Tuhanmu tidak sanggup membuat bukit emas, cobalah turunkan ayat-ayat Allah itu dalam sebuah kitab yang diturunkan langsung dari langit! Itu pun sudah akan membuat kami beriman!”

Rasulullah ﷺ tidak menanggapi permintaan-permintaan aneh itu. Melihat Rasulullah ﷺ yang tetap diam dan tenang, orang-orang Quraisy jadi semakin kesal. Dari waktu ke waktu, sering di muka umum dan disaksikan orang banyak, mereka mengajukan permintaan-permintaan lain yang lebih mustahil.

“Muhammad, kami dengar engkau sering membicarakan Jibril. Mengapa engkau tidak menampakkan Jibril di hadapan kami agar kami yakin?”

“Muhammad, kalau Tuhammu memang sehebat yang engkau katakan, mintalah Ia menghidupkan orangtua-orangtua kami yang sudah mati!”

“Muhammad, katamu engkau membawa agama kasih sayang buat seluruh alam! Kalau begitu, mintalah Tuhanmu agar memunculkan mata air yang lebih sedap dari sumur Zamzam!
Bukankah engkau tahu bahwa penduduk Mekah sangat memerlukan air?”
“Ya, setidaknya mintalah Tuhanmu melenyapkan bukit-bukit yang mengurung Mekah agar kota ini dapat mudah dicapai orang dari arah mana pun!”

*Jawaban untuk Kaum Quraisy*

Allah ﷻ sendirilah yang menjawab permintaan-permintaan itu melalui firman-Nya:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
Surah Al-A’raf (7:188)

Melalui ayat ini, Allah ﷻ menyuruh Rasulullah ﷺ mengatakan, “Wahai orang Quraisy, aku hanyalah seorang pemberi peringatan. Bukankah aku tidak meminta kepadamu hal-hal di luar kemampuan akal? Mengapa kamu justru memintaku menunjukkan hal-hal yang tidak masuk akal?

“Wahai orang Quraisy, bukankah Al Qur’an itu sendiri merupakan sebuah mukjizat? Kemudian, mengapa kamu masih meminta mukjizat yang lain? Apakah jika mukjizat itu benar-benar diturunkan, kamu akan beriman kepadaku? Bukankah jika mukjizat itu turun, kamu akan mengatakan bahwa aku hanyalah seorang penyihir yang mengada-ada?

“Wahai orang Quraisy, kalau kamu tidak mau menyembah Allah dan tetap menyembah berhala, mengapa tidak kamu minta saja mukjizat-mukjizat tadi kepada para berhala itu?

Bukankah kamu tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat mendatangkan kebajikan? Bukankah mereka tidak bergerak, tidak hidup, dan hanya terbuat dari batu dan kayu? Bukankah mereka tidak dapat membela diri jika ada orang yang datang dan menghancurkannya?

Demikianlah, Rasulullah ﷺ menjawab dengan kata-kata yang tidak dapat lagi dibantah kebenarannya. Namun, apakah orang-orang kafir itu seketika mau menerima Islam? Tidak, mereka bahkan melakukan hal-hal lain untuk menyingkirkan Rasulullah ﷺ.

Ammarah bin Walid
Sekali pun tidak memeluk Islam, Abu Thalib adalah pelindung Rasulullah ﷺ. Jika ada orang yang membahayakan Rasulullah ﷺ, Abu Thalib dan kabilahnya siap membelanya sampai titik darah penghabisan.

 Tidak ada musuh Rasulullah ﷺ yang berani membunuh beliau tanpa menghadapi Abu Thalib dan kabilahnya. Karena mengetahui kokohnya perlindungan Abu Thalib ini, para pemuka Quraisy mendatangi orangtua itu di rumahnya.

“Abu Thalib,” demikian mereka mengajak bicara,
“keponakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencaci agama kita, dan menganggap sesat nenek moyang kita. Engkau harus menghentikan dia sekarang. Jika tidak, biarlah kami yang akan menghadapinya. Kalau kamu melindunginya juga, biar kabilah-kabilah kami yang akan menghadapi kabilahmu.”

Abu Thalib menghela napas berat,
“Demi Tuhan Ka’bah, biar seluruh Mekah menghalangi jalanku, aku akan tetap melindungi kemenakanku itu.”

Para pemimpin Quraisy itu saling berpandangan, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Bagaimanapun, mereka belum sanggup menghadapi perang saudara yang akan menghancurkan kota Mekah. Mereka memutar akal dan menemukan muslihat lain.

Para pemimpin Quraisy itu kembali mendatangi Abu Thalib sambil membawa serta Ammarah bin Walid. Ia adalah pemuda Quraisy yang gagah perkasa dan paling tampan wajahnya.
“Ambillah dia! Jadikan dia sebagai anak. Ia jadi milikmu. Namun, serahkanlah keponakanmu yang menyalahi agama kita dan agama nenek moyang kita, yang memecah belah persatuan kita itu untuk kami bunuh!”
“Bagaimana, Abu Thalib? Bukankah ini pertukaran yang adil? Seorang laki-laki ditukar pula dengan seorang laki-laki!”

Wajah Abu Thalib berubah murka. Dengan mata menyala, ditatapinya para bangsawan itu satu demi satu.
“Betapa buruknya tawaran kalian kepadaku ini!” geram Abu Thalib.
“Bayangkan, kalian memberikan anakmu kepadaku untuk aku beri makan, sedangkan aku harus menyerahkan anakku untuk kalian bunuh! Demi Tuhan Ka’bah, ini adalah hal yang tidak boleh terjadi buat selamanya!”

Abu Thalib adalah pemimpin kabilah Bani Hasyim. Kini Bani Hasyim terpecah dua. Kaum miskinnya membela Abu Thalib, sedang kaum kayanya membela Abu Lahab.

*Bersambung*

Sabtu, 05 Desember 2020

Kisah Rasulullah Bagian 30

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 30*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Seruan dari Bukit Shafa*

Rasulullah ﷺ menaiki Bukit Shafa. Kemudian dengan suara lantang, beliau memanggil-manggil,
“Wahai orang-orang Quraisy! Wahai orang-orang Quraisy!”

Penduduk Mekah yang sibuk dengan urusannya terkejut dan menoleh.
“Muhammad berseru dari atas Shafa!” seru mereka.

Seketika, orang-orang datang berduyun sambil bertanya-tanya khawatir,
“Ada apa?”

Rasulullah ﷺ memandang kerumunan orang di bawah yang menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.

“Bagaimana pendapat kalian kalau kuberi tahu bahwa di balik-bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerbu. Percayakah kamu kepadaku?”
tanya Rasulullah ﷺ.

“Kami percaya!” jawab orang-orang yang di berkerumun itu.
“Kami tidak akan meragukan kata-katamu. Tidak pernah kami mendengar engkau berdusta.”

Rasulullah ﷺ menarik napas dan menyampaikan seruannya,
“Aku mengingatkan kalian sebelum datang siksa yang amat berat! Wahai orang-orang Quraisy, Allah memerintahkan aku untuk memberi peringatan kepada kalian bahwa yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat adalah mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah.”

Sejenak orang-orang tampak terpesona. Namun, Abu Lahab yang juga hadir di situ, dengan cepat naik darah. Ia berseru keras-keras mencaci Rasulullah ﷺ,
“Celaka engkau, Muhammad! Binasa dan celakalah seluruh hari-harimu! Hanya untuk omong kosong itukah kamu mengumpulkan kami?”

Rasulullah ﷺ tidak berkata apa-apa dihina sekeras itu. Beliau hanya menatap tajam wajah Abu Lahab. Setelah teriakan Abu Lahab itu, orang-orang Quraisy seperti disadarkan dari rasa terpesonanya.

Mereka bubar dengan bermacam tingkah. Ada yang mengerutkan kening, ada yang berbisik-bisik, ada yang melirik Rasulullah ﷺ sambil tersenyum mencibir.

Hinaan Abu Lahab itu tidak dibiarkan Allah ﷻ.Turunlah firman yang mengutuk perbuatan itu.

*Turunnya Surat Al-Lahab*

Allah ﷻ berfirman: mengutuk Abu Lahab

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Surah Al-Lahab (111:1)

مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Surah Al-Lahab (111:2)

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Surah Al-Lahab (111:3)

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.
Surah Al-Lahab (111:4)

فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Yang di lehernya ada tali dari sabut.
Surah Al-Lahab (111:5)

Wahai Abu Lahab, sekarang apa yang akan engkau katakan? Dengarlah, keponakanmu Nabi Muhammad ﷺ tidak akan pernah lagi bungkam terhadap orang yang menentangnya. Keponakanmu Nabi Muhammad ﷺ tidak akan pernah lagi menerima caci maki dan hinaan dari siapa pun sekali pun dari pamannya sendiri. Jika caci maki itu ditujukan pada ajaran Allah ﷺ yang dibawanya. Keponakanmu Nabi Muhammad ﷺ bahkan siap terjun ke medan laga untuk menghadapi orang-orang yang sombong dan congkak seperti dirimu.
Wahai Abu Lahab dengarkanlah! Dengarkanlah firman Allah ﷻ yang baru turun itu! Bukankah firman itu seperti gelegar petir yang menyambar dirimu?
Dirimulah yang binasa, Abu Lahab! Seluruh hari-harimulah yang binasa! Binasalah kedua tanganmu dan sungguh engkau akan benar-benar binasa!

*Abu Lahab*

Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza. Abu Lahab artinya si “Umpan Api”.

Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati Rasulullah ﷺ dihina Abu Lahab. Abu Lahab adalah paman Rasulullah ﷺ.
Lebih dari itu Rasulullah ﷺ menikahkan kedua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan ke dua putra Abu Lahab, Utbah dan Utaibah.

*Ummu Jamil*

Selain Abu Lahab, ada seorang lagi yang amat murka dengan turunnya Surat Al Lahab. Dia adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab. Begitu mendengar bunyi Surat Al Lahab yang disampaikan orang kepadanya, hati Ummu Jamil menggelegak marah. Ia keluar rumah dan berjalan ke sana kemari mencari sasaran pelampaisan kemarahan.

Tidak lama kemudian, ia bertemu dengan Abu Bakar. Amarahnya naik ke ubun ubun.
“Apa maksud temanmu melantunkan syair tentang diriku?” bentak Ummu Jamil kepada Abu Bakar.

Abu Bakar mengerti bahwa yang dimaksud Ummu Jamil adalah Rasulullah. Sebenarnya, saat itu Rasulullah ﷺ ada di sisi Abu Bakar, tetapi Allah ﷻ menutupi beliau dari pandangan Ummu Jamil.

“Demi Allah, temanku itu tidak pandai bersyair!” sanggah Abu Bakar.
“Bukankah temanmu itu mengatakan bahwa di leherku ada tali dari sabut yang dipintal?”
Ummu Jamil meraba-raba lehernya. Di leher itu, ada untaian kalung yang amat indah. Ia mempertontonkan perhiasannya itu kepada Abu Bakar sampai Abu Bakar merasa jengah dan memalingkan wajahnya.

“Inilah tali sabut yang dimaksud temanmu itu?” ejek Ummu Jamil sambil tersenyum. “Tidakkah ini merupakan tali sabut paling indah di dunia?”

Ummu Jamil kemudian berlenggak-lenggok genit sambil mempermainkan kalungnya. Ia tertawa dengan congkak. Abu Bakar tidak membalas, beliau cuma memejamkan mata.

Melihat Abu Bakar yang tetap tenang, Ummu Jamil melengos pergi sambil mengomel,
“Semua orang Quraisy tahu bahwa aku adalah putri kebanggaan mereka!”

Ummu Jamil adalah wanita yang sangat cantik. Ummu Jamil berarti “Ibu Kecantikan”. Namun, seperti suaminya, Ummu Jamil sangat membenci Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Begitu bencinya sampai ia menyuruh budak-budaknya melemparkan kotoran dan batu kepada Rasulullah ﷺ setiap kali beliau lewat.

*Bersambung*

Jabal Qaf

Dunia ini masih menyimpan banyak rahasia dan masih misteri hingga saat ini. Salah satu yang belum terpecahkan adalah keberadaan Jabal Qaf, sebuah gunung tak kasat mata yang tak bisa dilihat dengan mata biasa.

Sebagian besar umat Islam percaya bahwa Jabal Qaf diciptakan memang secara misterius dan tersembunyi. Konon katanya Jabal Qaf adalah gunung terbesar sekaligus jadi induknya para gunung di seluruh bumi.

Dilansir dari islamkaffah, al-Alusi menggambarkan Jabal Qaf sebagai Gunung halimunan yang tak kasat mata. Selain itu gunung tersebut digambarkan sebagai gunung dengan 70 lapis. Ibnu ‘Asyur mengibaratkan bahwa warna biru pada langit berasal dari pantulan cahaya biru Jabal Qaf (Tafsir al-Alusi, 5/443. Tafsir al-Adib, 5/177).

Dalam kitab An-Nawadir menjelaskan bahwa di bagian belakang Jabal Qaf terdapat serupa bumi tak kasat mata berwarna perak dan besarnya tujuh kali dunia. Bumi itu berisi malaikat dan jumlahnya sangat banyak.

Para malaikat itu memegang panji-panji Islam dan berkumpul setian bulan Rajab di tempat itu. Mereka mendoakan para nabi dan umat Nabi Muhammad SAW.

Memang belum ada penelitian ilmiah terkait Jabal Qaf.

Jumat, 04 Desember 2020

Kisah Rasulullah Bagian 29

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 29*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Kaum Muslimin Awal*

Mengetahui betapa kerasnya kebencian orang-orang Quraisy, kaum Muslimin permulaan (Assaabiquunal Awaluun), melaksanakan ibadah mereka secara sembunyi-sembunyi. Jika hendak shalat mereka pergi ke celah-celah gunung di Mekah.

 Keadaan ini berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Sementara itu, sedikit demi sedikit Islam semakin meluas.

 Firman Allah ﷻ yang turun satu demi satu semakin memperkuat keyakinan kaum Muslimin.

Ada satu hal yang membuat dakwah Islam berkembang, yaitu keteladan Rasulullah ﷺ, yang beliau contohkan dengan sangat baik.

Beliau adalah orang yang penuh bakti dan penuh kasih sayang. Beliau juga sangat rendah hati sekaligus gagah berani. Tutur kata beliau lembut dan selalu berlaku adil. Hak setiap orang pasti ditunaikan sebagaimana mestinya. Perlakuan Rasulullah ﷺ terhadap orang-orang yang lemah, yatim piatu, orang sengsara, dan orang miskin adalah perlakuan yang penuh kasih, lembut dan sayang.

Pada malam hari beliau tidak cepat tidur, Beliau bertahajud dan membaca wahyu yang disampaikan Allah ﷻ padanya. Beliau selalu merenung tentang nasib umatnya. Beliau juga merenungkan betapa luar biasanya penciptaan langit, bumi dan segala isinya. Seluruh permohonannya dihadapkan kepada Allah ﷻ. 

Hal-hal seperti itu membuat orang-orang yang sudah beriman semakin bertambah cintanya kepada Islam dan semakin kukuh keimanannya. Mereka sudah berketetapan hati meninggalkan sesembahan nenek moyang mereka dan tidak takut siksaan orang-orang kafir yang membencinya.

Kalau orang lain telah Rasulullah ﷺ dakwahi bagaimana dengan keluarga beliau? Apakah beliau juga berdakwah kepada paman-paman beliau yang sebagiannya merupakan para pembesar Quraisy yang disegani? Apa yang mereka lakukan ketika mereka tahu bahwa Rasulullah ﷺ mengajak meninggalkan sesembahan berhala yang telah begitu lama diwariskan oleh nenek moyang mereka.

*Jamuan Makan Untuk Kerabat*

Tidak ada yang lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada kaum kerabatnya sendiri. 

Setelah tiga tahun, turunlah firman Allah ﷻ yang memerintahkan agar beliau berdakwah kepada kerabatnya.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Surah Asy-Syu’ara’ (26:214)

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.
Surah Asy-Syu’ara’ (26:215)

فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan;
Surah Asy-Syu’ara’ (26:216)

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
Surah Asy-Syu’ara’ (26:217)

Rasulullah ﷺ mengundang makan keluarga besar beliau. Mereka pun datang,

“Muhammad beri aku arak!” seru seorang paman beliau yang bernama Zubair.
Namun Rasulullah ﷺ hanya menyuguhkan susu. Setelah mereka makan, Rasulullah ﷺ berdiri dan berkata,
“Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah masyarakat lebih baik dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Allah telah menyuruhku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu yang mau mendukungku?”

Setelah sesaat terpesona, semua orang menggerutu dan bangkit hendak pulang. Namun mereka kembali terperangah ketika Ali bin Abu Thalib yang masih remaja bangkit seraya berseru lantang,
“Rasulullah saya akan membantumu! Saya adalah lawan siapa saja yang engkau tentang!”

Rasulullah ﷺ menepuk bahu Ali sambil berkata kepada yang lain,
“Inilah saudara saya, pembantu, dan pengganti saya. Ikuti dan patuhilah dia!”

Mendadak tawa hadirin meledak. Seseorang berkata kepada Abu Thalib,
“Ia memerintahkan engkau supaya mendengar dan mematuhi anakmu sendiri”

Kemudian, semua orang bubar begitu saja. Tidak seorang pun di antara para undangan yang tertawa terbahak-bahak itu menyadari bahwa di antara mereka akan ditebas Ali memang bersungguh-sungguh dengan kata-katanya itu.

*Walid bin Mughirah*

Pada awal kenabian, ada seorang bernama Walid bin Mughirah. Ia mempunyai dua sahabat yang merupakan penyair hebat. Dengan syair-syairnya, mereka berusaha menjelek-jelekkan Rasulullah ﷺ. Dengan syair, Walid mempengaruhi orang banyak dengan dua sahabat penyairnya.

*Penduduk Mekah Tidak Hirau*

Meski ajaran Rasulullah ﷺ meluas dengan cepat, penduduk Mekah masih berhati-hati dan tidak terlalu hirau. Mereka menduga ajakan Rasulullah ﷺ akan hilang dengan sendirinya dan orang akan kembali menyembah kepercayaan nenek moyang mereka. Yang akhirnya, yang menang pasti Hubal, Latta dan Uza pikir mereka, tidak sadar bahwa keimanan murni yang diajarkan Rasulullah ﷺ tidak dapat dikalahkan.

*Bersambung*