Kamis, 03 Desember 2020

Kisah Rasulullah Bagian 28

KISAH RASULULLAH ﷺ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Bagian 28*

*Shalat*

Shalat adalah satu di antara ibadah pertama yang diajarkan Allah kepada Rasulullah ﷺ. 

Suatu saat, ketika Rasulullah ﷺ dan Khadijah sedang melaksanakan shalat, datanglah Ali bin Abu Thalib. Ali yang saat itu masih anak-anak, tertegun melihat Rasulullah ﷺ dan Khadijah rukuk, sujud, serta membaca ayat-ayat Al Qur’an.

“Kepada siapa kalian sujud?” tanya Ali ketika Rasulullah ﷺ dan Khadijah selesai shalat.
“Kami sujud kepada Allah,” jawab Rasulullah, “Allah telah mengutusku dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah.”

Kemudian, Rasulullah ﷺ mengajak sepupunya itu untuk beribadah kepada Allah ﷻ semata serta meninggalkan berhala-berhala semacam Lata dan Uzza. Rasulullah pun membacakan beberapa ayat Al Qur’an yang membuat Ali bin Abu Thalib terpesona karena ayat-ayat itu demikian indah.

Ali meminta waktu untuk berunding dengan ayahnya terlebih dahulu. 

Semalaman itu, Ali merasa gelisah.
Esoknya, ia memberitahukan kepada Rasulullah ﷺ dan Khadijah bahwa ia akan mengikuti mereka berdua, tidak perlu meminta pendapat ayahnya, Abu Thalib.
“Allah menjadikan saya tanpa saya perlu berunding dulu dengan Abu Thalib,” demikian kata Ali, “apa gunanya saya harus berunding dengan dia untuk menyembah Allah?”

Jadi, Ali adalah anak pertama yang memeluk Islam. Kemudian, Zaid bin Haritsah, bekas budak yang ikut Rasulullah ﷺ, ikut masuk Islam juga.

Sampai di situ, Islam masih terbatas pada keluarga Rasulullah ﷺ: istri beliau, sepupu beliau, serta bekas budak yang ikut beliau. Apa yang harus beliau lakukan untuk menyebarkan Islam lebih luas lagi? Beliau tahu betul betapa kerasnya dan betapa kuatnya orang-orang Quraisy menyembah berhala yang diwarisi dari nenek moyang mereka.

Walau demikian, Islam ini harus disebarkan, betapa pun kerasnya perlawanan orang.

*Keislaman Abu Bakar*

Abu Bakar bin Abu Quhafa dari kabilah bani Taim adalah teman akrab Rasulullah ﷺ sejak zaman sebelum Rasulullah ﷺ diangkat menjadi utusan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ amat menyukai sahabatnya itu karena Abu Bakar adalah orang yang bersih, jujur, dan dapat dipercaya.

Suatu hari, Abu Bakar mendengar desas-desus tentang Rasulullah ﷺ. Beliau segera keluar mencari sahabatnya itu. Ketika mereka bertemu, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
“Wahai Abu Qasim (salah satu panggilan Rasulullah ﷺ), ada apa denganmu? Kini engkau tidak lagi terlihat di majelis kaummu dan kudengar orang-orang menuduh, bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan masih banyak lagi yang mereka katakan.”

“Sesungguhnya, aku adalah utusan Allah,” sabda Rasulullah ﷺ,
“Allah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Sekarang, aku mengajak kamu kepada agama Allah dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya, apa yang kusampaikan adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajak kamu untuk menyembah Allah yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan janganlah menyembah kepada selain-Nya, dan untuk selamanya kamu taat kepada-Nya.”
Rasulullah ﷺ memperdengarkan beberapa ayat Al Qur’an.

 Selesai Rasulullah ﷺ berbicara, Abu Bakar langsung memeluk Islam. Melihat keislaman sahabatnya itu, Rasulullah ﷺ amat gembira. Tidak seorang pun yang ada di antara dua gunung di Mekah yang kegembiraannya melebihi kegembiraan Rasulullah ﷺ saat itu.

Abu Bakar segera mengumumkan keislamannya itu kepada teman-temannya. Beliau juga mengajak mereka mengikuti Rasulullah ﷺ.

Dalam waktu singkat, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abu Waqash pun menemui Rasulullah dan masuk Islam.

*Keislaman Utsman bin Affan*

Utsman bin Affan menuturkan sendiri tentang keislamannya:
“Aku datang kepada bibiku Urwah binti Abdul Muthalib untuk menjenguknya karena ia sakit. Tidak lama kemudian, Rasulullah ﷺ datang ke tempat itu juga dan aku perhatikan beliau. Waktu itu, tampak jelas kebesarannya. Beliau pun menghampiri aku dan berkata,
“Wahai Utsman, mengapa kau memerhatikan aku begitu rupa?”

“Aku menjawab, ‘Aku merasa kagum terhadap engkau dan terhadap kedudukan engkau di antara kami. Aku juga kagum dengan apa yang dibicarakan orang-orang mengenai dirimu.”
Utsman melanjutkan, “Kemudian, Rasulullah mengucapkan kalimat ‘Laa illaha illallah’. Demi Allah, mendengar kalimat itu, aku langsung bergetar. Kemudian, Rasulullah ﷺ membacakan ayat,
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ ٢٢
فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ ٢٣

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.”
(Adz Dzariyat, 51: 22-23).

Kemudian, Rasulullah ﷺ berdiri dan pergi keluar. Aku pun mengikuti beliau dari belakang. Kemudian, aku menghadap beliau dan aku masuk Islam.”

*Pengorbanan Seorang Istri*

Khadijah yang berasal dari kalangan bangsawan Mekah, sadar betul bahwa suaminya kelak akan dibenci oleh orang-orang kafir. Beliau berjuang di sisi suaminya, memilih Islam, dan menjadi pengikut pertama.
Khadijah menukar segala harta miliknya dengan kejayaan Islam yang tidak pernah beliau nikmati.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 27

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 27*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Orang yang Berselimut*

Sayyiduna Muhammad ﷺ yang kini telah menjadi Rasulullah ﷺ terbangun karena mendengar Malaikat Jibril membawakan wahyu kepadanya,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
Hai orang yang berkemul (berselimut), (QS: Al-Muddassir 74:1)

قُمْ فَأَنْذِرْ
bangunlah, lalu berilah peringatan! (74:2)

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
dan Tuhanmu agungkanlah! (74:3)

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
dan pakaianmu bersihkanlah, (74:4)

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (74:5)

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (74:6)

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (74:7)

Khadijah memandang Rasulullah ﷺ dengan kasih yang bertambah besar. Beliau perlahan mendekati suaminya. Khadijah dengan lembut memintanya agar kembali tidur.

“Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah,” demikian jawab Rasulullah ﷺ.

“Jibril membawa perintah supaya aku memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, dan supaya mereka beribadah hanya kepada Allah. Namun, siapa yang akan kuajak? Siapa pula yang akan mendengarkan?”

Khadijah cepat cepat menentramkan hati suaminya. Diceritakannya apa yang tadi dikatakan Waraqah. Dengan penuh semangat, Khadijah menyatakan diri sebagai orang yang mengimani Rasulullah ﷺ.

Dengan demikian, tercatat dalam sejarah bahwa orang pertama yang memeluk Islam adalah Khadijah.

Untuk lebih menentramkan Rasulullah ﷺ, Khadijah meminta suaminya memberitahu dirinya apabila malaikat datang.

Kemudian Jibril memang datang, namun hanya Rasulullah ﷺ yang dapat melihatnya. Khadijah mendudukkan Rasulullah ﷺ di pangkuan sebelah kiri, lalu ke pangkuan sebelah kanan. Malaikat Jibril masih terlihat oleh Rasulullah ﷺ. Namun, ketika Khadijah melepas penutup wajahnya, Rasulullah melihat Sang Malaikat menghilang.
Dari kejadian itu, Bunda Khadijah merasa yakin bahwa yang datang itu benar-benar malaikat, bukan jin.

*Bertemu Waraqah*

Tidak lama kemudian, Rasulullah ﷺ bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Saat itu, Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan thawaf. Sesudah Rasulullah ﷺ menceritakan keadaannya, Waraqah berkata, “Demi Dia yang memegang hidup Waraqah, engkau adalah nabi atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan, disiksa, diusir, dan diperangi orang. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula.”

Kemudian, Waraqah mendekat dan mencium ubun-ubun Rasulullah ﷺ.

Kini Rasulullah ﷺ memalingkan wajah ke sekitarnya, melihat orang-orang yang menyembah patung-patung batu. Orang-orang ini juga menjalankan riba dan memakan harta anak yatim. Mereka jelas-jelas berada dalam kesesatan. 

Kepada orang orang inilah Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk menyeru agar mereka menghentikan perbuatan perbuatan itu.
Namun, apakah mereka mau berhenti begitu saja? Orang orang Quraisy itu benar-benar amat kuat dalam memegang keyakinan mereka.
Orang orang itu bahkan siap berperang dan mati untuk mempertahankan keyakinan mereka. Untuk itu, Rasulullah ﷺ memerlukan datangnya wahyu penuntun lagi.

Namun, wahyu yang dinanti Rasulullah ﷺ ternyata tidak juga turun. Jibril tidak pernah datang lagi untuk waktu yang lama. Rasulullah ﷺ merasa amat terasing. Rasa takutnya kembali muncul. Beliau takut jika Allah ﷻ melupakan bahkan tidak menyukainya. Rasulullah ﷺ kembali pergi ke bukit dan menyendiri lagi di Gua Hira. Ingin rasanya beliau membumbung tinggi dengan sepenuh jiwa, menghadap Allah ﷻ, dan bertanya mengapa dirinya seolah ditinggalkan.

*Surah Adh Dhuha*

Tiba-tiba, wahyu itu turun:
وَالضُّحَىٰ
Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
Surah Ad-Duha (93:1)

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), (93:2)

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (93:3)

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). (93:4)

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. (93:5)

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (93:6)

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (93:7)

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (93:8)

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
(93:9)

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.(93:10).

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (93:11)

Rasa cemas dan takut di hati Rasulullah ﷺ kini hilang sudah. Betapa damainya firman Allah ﷻ itu terasa di hati beliau. Rasulullah ﷺ harus menjauhi setiap perbuatan mungkar dan membersihkan pakaian.

 Beliau harus mengajak orang mengingat Allah ﷻ. Beliau harus tabah menghadapi gangguan, tidak boleh menolak orang yang meminta bantuan, dan berlaku lembut kepada anak yatim.

Allah ﷻ juga mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ yatim, lalu Allah ﷻ melindunginya lewat asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, dan pamannya, Abu Thalib.
Dulu, Rasulullah ﷺ hidup miskin, lalu Allah ﷻ memberinya kekayaan. Allah ﷻ pula yang telah menyandingkan beliau dengan Khadijah, yang menjadi kawan semasa muda, kawan semasa beliau ber-tahannuts, kawan yang penuh cinta kasih, yang memberi nasihat dengan rasa kasih sayang.
Allah ﷻ telah mendapati Rasulullah ﷺ tidak tahu jalan, lalu diberi-Nya beliau petunjuk kenabian. 

Cukuplah semua itu. Hendaklah mulai sekarang, Rasulullah ﷺ mengajak orang kepada kebenaran, sedapat mungkin, sekuat mungkin.

*Bersambung*

Selasa, 01 Desember 2020

Kisah Rasulullah Bagian 26

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 26*

*Diangkat Menjadi Utusan Allah ﷻ*

Makhluk yang datang itu adalah Malaikat Jibril. Ia datang membangunkan Baginda Muhammad ﷺ yang sedang tidur karena kelelahan. 

Jibril berkata kepada Sayyiduna Muhammad ﷺ, “Iqra (Bacalah)!”

Dengan hati yang masih rasa terkejut, Habibuna Muhammad ﷺ menjawab, “Apa yang harus saya baca.”

Kemudian Malaikat Jibril mendekap sehingga Baginda Muhammad ﷺ merasa lemas. Jibril melepaskan dekapannya, lalu berkata lagi, “Bacalah!”

Kejadian itu berulang sampai tiga kali.

Kemudian, setelah Habibuna Muhammad ﷺ berkata, “Apa yang harus saya baca?” barulah Jibril membacakan Surat Al ‘Alaq ayat pertama hingga ayat kelima:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Surah Al-‘Alaq (96:1)

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Surah Al-‘Alaq (96:2)

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Surah Al-‘Alaq (96:3)

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Surah Al-‘Alaq (96:4)

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Surah Al-‘Alaq (96:5)

Setelah mengucapkan ayat-ayat itu, Malaikat Jibril pun pergi meninggalkan Sayyiduna Muhammad ﷺ yang hatinya terhujam oleh firman Allah ﷻ tadi.

Sayyiduna Muhammad ﷺ mendadak tersentak sadar. Beliau terbangun dari ketakutan sambil bertanya-tanya dalam hati, “Siapa gerangan yang kulihat tadi? Apakah aku telah diganggu jin?”

Beliau menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak ada siapa pun. Nabi Muhammad ﷺ diam sebentar dengan tubuh gemetar. Beliau lalu lari ke luar gua, menyusuri celah-celah gunung sambil mengulang pertanyaan dalam hati, “Siapa gerangan yang menyuruhku membaca tadi?”

Mendadak, Nabi Muhammad ﷺ mendengar namanya dipanggil. Panggilan tersebut terasa dahsyat sekali. Beliau memandang ke cakrawala dan melihat malaikat dalam bentuk manusia. Baginda Muhammad ﷺ tertegun ketakutan dan terpaku di tempatnya. Ia memalingkan wajah, tetapi di seluruh cakrawala, ke mana pun beliau memandang rupa malaikat yang indah itu tidak juga berlalu.

*Ketulusan Khadijah*

Di rumah, Khadijah tiba-tiba merasa khawatir dengan nasib suaminya. Beliau mengutus orang untuk mencari suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.

Sementara itu, setelah rupa malaikat menghilang, Sayyiduna Muhammad ﷺ berjalan pulang dengan hati yang sudah di penuhi wahyu Allah ﷻ. Dengan jantung yang terus berdenyut keras dan hati berdebar ketakutan, beliau pulang ke rumah.

“Selimuti aku,” pinta Habibuna Muhammad ﷺ kepada Khadijah.
Khadijah segera menyelimuti suaminya yang menggigil kedinginan seperti terkena demam. Setelah rasa takutnya mereda, beliau memandang Khadijah dengan tatapan mata meminta kekuatan dan perlindungan.

“Khadijah, kenapa aku?” kata Habibuna Muhammad ﷺ.
Kemudian, Baginda Muhammad ﷺ menceritakan semua yang telah terjadi. Beliau juga berkata bahwa ia takut semua itu bukan datang dari Allah ﷻ, melainkan gangguan jin.

“Wahai putra pamanku,” jawab Khadijah penuh sayang, “bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi atas umat ini. Sama sekali Allah ﷻ takkan mencemoohkanmu sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan dan jujur dalam berkata-kata. Engkau selalu mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.”

Kata-kata Khadijah itu menuangkan rasa damai dan tenteram ke dalam hati suaminya yang sedang gelisah. Khadijah benar-benar yakin bahwa suaminya itu bukan diganggu jin. Beliau malah memandang suaminya itu dengan penuh rasa hormat.

Habibuna Muhammad ﷺ pun segera tenang kembali. Beliau memandang Khadijah dengan penuh kasih dan rasa terimakasih.

Tiba tiba, sekujur tubuhnya terasa amat letih dan beliau pun tertidur lelap.

Sejak saat itu, berakhirlah kehidupan tentang seorang Baginda Muhammad ﷺ. Mulai saat itu, kehidupan penuh perjuangan keras dan pahit akan dilaluinya sebagai seorang Rasulullah ﷺ, utusan Allah ﷻ.

*Kabar dari Waraqah bin Naufal*

Khadijah menatap suaminya yang tertidur pulas itu. Dilihatnya kembali suaminya yang tertidur dengan nyenyak dan tenang sekali. Khadijah membayangkan apa yang baru saja dituturkan suaminya. Firman Allah ﷻ dan Malaikat yang indah. Luar biasa!
“Semoga kekasihku ini memang akan menjadi seorang nabi untuk menuntun umat ini keluar dari kegelapan,” demikian pikir Khadijah.

Saat berpikir demikian, senyumnya mengembang. Namun, senyum itu segera menghilang, berganti rasa takut memenuhi hati tatkala dibayangkan nasib yang bakal menimpa suaminya itu apabila orang-orang ramai menentangnya.

Demikianlah, pikiran bahagia dan sedih terus berganti-ganti dalam benak Khadijah. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada seseorang bijak yang dipercayanya.

Khadijah pun pergi menemui pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang jujur, dan menceritakan semua yang didengarnya dari Sayyiduna Muhammad ﷺ.

Waraqah bertafakur sejenak, lalu berkata, “Mahasuci Ia, Mahasuci. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah, suamimu telah menerima ‘namus besar’ 1) seperti yang pernah diterima Musa عَلَيْهِ السَّلَام. Sungguh, dia adalah nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah.”

Khadijah pulang. Dilihatnya suaminya masih tertidur. Dipandanginya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Tiba-tiba, tubuh suaminya menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat memenuhi wajah.

_______
1) Namus Besar
Namus besar yang dimaksud Waraqah bin Naufal berasal dari bahasa Yunani, noms, artinya kitab undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Namus bukan istilah dalam Al Qur’an.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 25

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 25*

*Rumah Tangga Baginda Muhammad ﷺ*

Sayyiduna Muhammad ﷺ selalu membuat suasana rumahnya menjadi hidup dengan canda dan keramahan. Beliau suka berkelakar kepada siapa pun. Bukan hanya kepada istri dan putri-putrinya, beliau juga amat ramah kepada pembantunya.

Sejak muda, Rasulullah ﷺ amat gemar memakai parfum. Bau wewangian itu akan membuat orang-orang di sekitar beliau merasa senang. Rasulullah ﷺ tidak menyukai baju berwarna merah. Beliau lebih suka baju berwarna lurik atau putih. Rasulullah ﷺ juga gemar memakai surban dengan salah satu ujungnya menggelantung antara pundak.
Beliau tidak pernah menggunakan baju yang seluruhnya terbuat dari sutera.

Kemudian datanglah satu orang yang amat Rasulullah ﷺ sayangi. Begitu sayangnya sampai beliau mengangkatnya sebagai anak.

*Zaid bin Haritsah*

Suatu hari, keponakan Khadijah yang bernama Hakim bin Hizam membawa seorang budak laki-laki bernama Zaid bin Haritsah. Zaid dibawa ke rumah Khadijah dalam keadaan mengenaskan. Lehernya dibelenggu sehingga ia terpaksa merangkak seperti seekor kuda. Bunda Khadijah membeli Zaid dan memperlakukannya dengan baik.
Sayyiduna Muhammad ﷺ amat menyukai Zaid. Apalagi ketika Zaid bercerita bahwa ia dijadikan budak dengan cara diculik.

Lima belas tahun yang lalu, Zaid kecil sedang berjalan pulang bersama ibunya ketika datang para perampok gurun. Zaid disergap dan dibawa lari. Sejak itulah ia hidup sebagai seorang budak yang diperjualbelikan ke sana kemari. Nasiblah yang membawanya bertemu dengan Rasulullah ﷺ, orang yang amat Zaid cintai.
Melihat Sayyiduna Muhammad ﷺ amat menyayangi Zaid, Khadijah memberikan Zaid kepada suaminya itu. Khadijah yang bijaksana mengerti bahwa suaminya menganggap Zaid seolah sebagai pengganti Qasim dan Abdullah yang telah tiada. Baginda Muhammad ﷺ segera memerdekakan Zaid. 

Namun, secara tidak terduga, datanglah Haritsah, ayah Zaid.
Haritsah telah bertahun-tahun mencari Zaid sejak anaknya itu menghilang. Haritsah amat menyayangi dan merindukan Zaid sehingga ia membuat puisi kesedihan tentang anaknya itu. Zaid pun amat menyayangi ayahnya.

“Silakan membawa Zaid pulang,” kata Habibuna Muhammad ﷺ kepada Haritsah. “Tetapi, seandainya Zaid memilih tetap bersama saya, saya tidak akan menolaknya.”
Ternyata, Zaid lebih memilih tinggal bersama Baginda Muhammad ﷺ. Sayyiduna Muhammad ﷺ amat bahagia sehingga mengangkat Zaid sebagai putra beliau. Sejak saat itu, Zaid sering dipanggil Zaid bin Muhammad.

Di kemudian hari, Allah ﷻ melarang anak angkat mewarisi harta ayah angkatnya yang telah wafat. Harta seorang ayah tetaplah menjadi hak anak kandung, bukan anak angkat. Maha adil Allah ﷻ Yang Agung.

*Gua Hira*

“Berhala berhala yang bernama Hubal, Lata dan Uzza itu tidak pernah menciptakan seekor lalat sekali pun, bagaimana mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan bagi manusia?” demikian pikir Baginda Muhammad ﷺ.
“Siapakah yang berada di balik semua ini? Siapa yang berada di balik luasnya langit dan tebaran bintang? Siapa yang berada di balik padang pasir yang panas terbakar kilauan matahari? Siapa pencipta langit yang jernih dan indah, langit yang bermandi cahaya bulan dan bintang yang begitu lembut, begitu sejuk? Siapa pembuat ombak yang berdebur dan penggali laut yang begitu dalam? Siapa yang berada di balik semua keindahan ini?”

Demikianlah Habibuna Muhammad ﷺ tidak mencari kebenaran dalam kisah-kisah lama atau tulisan para pendeta. Ia mencari kebenaran lewat alam. Ia mengasingkan dirinya dari keramaian dan pergi ke Gua Hira.
“Betapa sia-sianya hidup manusia, waktu terus berlalu, sementara jiwa-jiwa rusak karena dikuasai khayal tentang berhala-berhala yang mampu melakukan ini dan itu. Betapa sia-sianya hidup manusia karena tertipu dengan segala macam kemewahan yang tiada berguna.'”
Beliau mengasingkan diri seperti itu beberapa hari setiap bulan dan sepanjang bulan Ramadhan. Semakin lama, jiwanya semakin matang dan semakin terisi penuh. Sampai suatu ketika, saat usia Sayyiduna Muhammad ﷺ menginjak 40 tahun, datanglah seseorang yang bukan dari dunia ini menemui beliau di Gua Hira. 
Baginda Muhammad ﷺ yang pemberani dan tenang itu amat terkejut melihatnya.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 24

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 24*

*Membangun Ka’bah*


Dalam pengerjaan Ka’bah orang-orang Quraisy dibagi menjadi empat bagian. Setiap kabilah masing-masing mendapat pekerjaan satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali.

Pemugaran Ka’bah dimulai dengan memindahkan patung Hubal dan patung kecil lainnya. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan pelataran dan membongkar dinding serta fondasi. Sayyiduna Muhammad ﷺ ikut terlibat dalam pekerjaan yang berlangsung berhari-hari itu.

Ada sebuah batu fondasi berwarna hijau yang tidak bisa dibongkar dengan cara apa pun. Karena itu, batu itu mereka biarkan. 

Selanjutnya, didatangkanlah batu-batu granit biru dari bukit sekitarnya. Sebuah bahan pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari Syria pun mulai digunakan.

Pemugaran Ka’bah ini sebenarnya lebih menyerupai perbaikan hasil karya Nabi Ibrahim عَلَيْه السَّلَام dan Nabi Ismail عَلَيْهِ السَّلَام.
Pondasi Ka’bah ditinggikan sampai empat hasta ditambah satu jengkal atau sekitar dua meter. Dalamnya diuruk tanah menjadi lantai yang sulit dicapai air apabila banjir datang kembali. Bersamaan dengan itu, pintu di sisi timur laut pun diangkat setinggi pondasi. Dinding dinaikkan sampai 18 hasta. Saat itulah Ka’bah mulai diberi atap bekas kapal yang kandas itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka’bah bebas dari banjir. Isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil pencuri.

Pembangunan berjalan lancar sesuai dengan rencana sampai dinding tembok mencapai tinggi satu setengah meter dan tiba saatnya batu hitam, Hajar Aswad, ditempatkan kembali ke tempatnya semula di sudut timur.

Karena ini merupakan upacara suci penuh kehormatan, berebut lah setiap kabilah untuk melaksanakannya. 

Kabilah Abdu Dar merasa lebih berhak daripada Kabilah lain sehingga kedua kelompok saling beradu mulut sampai suasana menjadi semakin panas.

Di tengah keadaan itu, muncul Abu Umayyah bin Al Mughirah. Ia adalah orangtua yang dihormati dan dipatuhi. Ia pun mengajukan sebuah usul yang disetujui oleh semua pihak,

 “Serahkanlah putusan ini di tangan orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa.”

*HAJAR ASWAD*

Ternyata yang datang pertama kali dari pintu Shafa adalah Habibuna Muhammad ﷺ. Orang-orang pun bersorak lega.

“Ini dia Al Amin” seru mereka.
“Dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kami yakin dia bisa memecahkan persoalan ini. Kami akan menerima putusannya.”

Orang-orang Quraisy pun menceritakan persoalan yang mereka alami. Baginda Muhammad ﷺ yang saat itu belum berumur 30 tahun, memandang mereka dengan matanya yang teduh dan bijaksana.

 Sayyiduna Muhammad ﷺ melihat berkobarnya api permusuhan pada mata setiap orang dari masing-masing kabilah Quraisy. Keadaan ini benar-benar genting. Kalau salah mengambil keputusan, akan terjadi pertumpahan darah di antara kabilah-kabilah itu.

Baginda Muhammad ﷺ berpikir sejenak, lalu dia berkata,
“tolong bawakan sehelai kain.”
Kain pun segera diberikan. Sayyiduna Muhammad ﷺ mengambil dan menghamparkan kain itu. Dia lalu mendekati Hajar Aswad. Diangkatnya batu hitam itu dan diletakkan di tengah-tengah.

“Hendaknya, setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini,” kata beliau lagi.
Kemudian, para ketua kabilah memegang ujung kain dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Di tempat Hajar Aswad semula berada. Baginda Muhammad ﷺ mengangkat dan meletakkannya kembali.

Semua pihak merasa amat puas dengan keputusan Sayyiduna Muhammad ﷺ yang adil itu. Demikianlah, pada waktu muda. Rasulullah ﷺ telah menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.

*Putra Putri Nabi Muhammad ﷺ*

Khadijah adalah wanita teladan yang terbaik. Beliau wanita yang penuh kasih, setia, dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami tercinta. Khadijah juga wanita yang subur. Setelah lima belas tahun berumah tangga, Khadijah melahirkan enam orang anak. Mereka adalah:
Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Fatimah, Qasim dan Abdullah.
Namun, Qasim dan Abdullah wafat ketika masih bayi, sedangkan keempat anak perempuan yang lain tetap hidup hingga dewasa. Kita dapat membayangkan betapa sedihnya Habibuna Muhammad ﷺ dan Khadijah kehilangan kedua putra mereka.

Ketika pulang ke rumah dan duduk di samping Khadijah, Baginda Muhammad ﷺ sering melihat kesedihan di wajah istrinya itu. Saat itu, mempunyai anak laki-laki bagi masyarakat jahiliah adalah hal yang amat penting dan dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Sebaliknya, mempunyai anak perempuan adalah hal yang amat memalukan, bahkan banyak orang yang memilih mengubur bayi perempuannya hidup-hidup dari pada membesarkannya.
Tentu saja Sayyiduna Muhammad ﷺ dan Khadijah tidak merasa malu memiliki anak-anak perempuan. Mereka menyayangi semua anak mereka tanpa pilih kasih. Apalagi putri bungsu mereka, Fatimah, yang saat itu masih berusia lima tahun, anak cantik yang sedang lucu-lucunya. Hanya saja kehilangan dua anak laki-laki yang masih bayi merupakan derita yang berat bagi orangtua mana pun.

*Kekayaan Terbesar*

Rasulullah ﷺ pernah berkata bahwa kekayaan terbesar adalah istri yang salehah. Khadijah adalah kekayaan terbesar Rasulullah ﷺ pada saat-saat paling sulit dalam hidup beliau.

*Bersambung*

Sabtu, 28 November 2020

Kisah Rasulullah Bagian 23

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 23*

*Sifat Baginda Muhammad ﷺ*

Sayyiduna Muhammad ﷺ telah mendapat karunia Allahﷻ dengan  pernikahan ini. Dari seorang pemuda tidak kaya, Allah ﷻ telah mengangkatnya menjadi laki-laki berkedudukan tinggi dengan harta yang mencukupi.

Seluruh penduduk Mekah memandang pernikahan ini dengan gembira dan penuh rasa hormat. Semua undangan yang hadir berharap bahwa dari pasangan yang sangat ideal ini kelak lahir keturunan yang akan mengharumkan nama Quraisy.

Para sesepuh dari kedua keluarga tahu bahwa Khadijah akan mendukung suaminya dengan kasih sayang dan harta berlimpah. Sebaliknya, mereka juga berharap bahwa Sayyiduna Muhammad ﷺ yang bijak dan cerdas akan membimbing istrinya menuju kebahagiaan hidup.

Kehidupan berlanjut dan keikutsertaan suami istri itu dalam pergaulan yang baik dengan masyarakat membuat orang semakin menghormati mereka. Walau telah mendapat kehormatan demikian itu, Baginda Muhammad ﷺ tetaplah seorang yang rendah hati. Itu adalah sifatnya yang menonjol. 

Jika ada yang mengajaknya berbicara, tidak peduli siapa pun itu, ia akan mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan dengan hati-hati, Habibuna Muhammad ﷺ bahkan memutar badannya untuk menghadap orang yang mengajaknya berbicara.

Semua orang tahu bahwa bicara Baginda Muhammad ﷺ sedikit. Ia justru lebih banyak mendengarkan pembicaraan orang lain. Selain bicara, Habibuna Muhammad ﷺ bukanlah orang yang tidak bisa diajak bergurau. Ia sering juga membuat humor dan mengajak orang lain tertawa, tetapi apa yang ia katakan dalam bergurau sekali pun adalah sesuatu yang benar.

Orang menyukai Sayyiduna Muhammad ﷺ yang apabila tertawa, tidak pernah sampai terlihat gerahamnya. Apabila marah, tidak pernah sampai tampak kemarahannya. Orang tahu ia marah hanya dari keringat yang tiba-tiba muncul di keningnya. Baginda Muhammad ﷺ selalu menahan marah dan tidak menampakkannya keluar.

Orang-orang menyayangi Habibuna Muhammad ﷺ karena ia lapang dada, berkemauan baik, dan menghargai orang lain. Ia bijaksana, murah hati, dan sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Namun, dibalik semua kelembutan itu, ia mempunyai tujuan yang pasti, berkemauan keras, tegas, dan tidak pernah ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian berpadu dalam dirinya sehingga menimbulkan rasa hormat yang dalam bagi orang-orang yang bergaul dengan Baginda Muhammad ﷺ.

*Mahar Pernikahan*

“Saksikanlah para hadirin,” kata Waraqah bin Naufal dengan suara agak keras. “Saksikanlah bahwa aku menikahkan Khadijah dengan Sayyiduna Muhammad ﷺ, dengan mas kawin senilai 12 ekor unta betina.”

*Kambing Sedekah*

Setelah upacara resmi pernikahan selesai, Habibuna Muhammad ﷺ memerintahkan agar seekor kambing disembelih di depan pintu rumah Khadijah dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin. Itu belum termasuk para undangan yang menghadiri jamuan pada malam harinya.
Jadi, selain diundang jamuan makan, fakir miskin pun dapat membawa pulang ke rumah beberapa kantung daging.

*Baqum Si Pedagang Romawi*

Sayyiduna Muhammad ﷺ bukankah orang yang suka berpangku tangan, tetapi aktif bergaul dalam masyarakat. 

Suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang membuat nama Baginda Muhammad ﷺ menjadi semakin harum. Peristiwa itu didahului oleh banjir besar yang melanda Mekah. Bukit-bukit di sekitar Mekah tanpa ampun menumpahkan air hujan yang jarang turun itu ke kota yang tepat berada di bawah. Banjir itu menyebabkan dinding Ka’bah yang memang sudah lapuk jadi retak dan terancam runtuh.

Sebenarnya, sebelum banjir tiba, sudah ada gagasan untuk memperbaiki Ka’bah, tetapi orang-orang takut apabila Tuhan Ka’bah marah. Setelah banjir, tidak bisa dielakkan lagi bahwa dinding Ka’bah harus diperbaiki dan ditinggikan.

Sudah menjadi takdir Allah bahwa waktu itu juga tersiar berita ada sebuah kapal Romawi terdampar di laut Merah, dekat dengan pelabuhan Syu’aibah. Kapten kapal Romawi itu adalah seorang Nasrani yang berasal dari Mesir. Baqum, namanya.

Orang-orang Mekah mengutus Walid bin Mughirah dan serombongan orang untuk membeli kapal itu, membongkar kayu kayunya, dan mengangkutnya untuk membangun kembali Ka’bah. Baqum pun akhirnya dikontrak sebagai ahli kayu.
Pada mulanya, tidak seorang pun berani membongkar dinding Ka’bah walau sedikit, karena takut dikutuk Tuhan. Mungkin mereka masih ingat dengan jelas apa yang menimpa Abrahah dan pasukan gajahnya saat ingin menghancurkan Ka’bah.

Akan tetapi, akhirnya, Walid bin Mughirah memberanikan diri merombak sudut bangunan bagian selatan. Setelah itu, ia menunggu sampai besok. Ketika pagi tiba dan ia tidak juga dikutuk, mereka pun mulai melakukan pembenahan Ka’bah.

*Bersambung^

Jumat, 27 November 2020

Kisah Rasulullah Bagian 22

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 22*

*Perasaan Khadijah*

Setelah beberapa bulan, kafilah Mekah pun datang kembali . Di tempat perhentian Marr Al Zahran, sehari perjalanan dari Mekah, para agen biasanya mendahului datang ke Mekah untuk memberi laporan perdagangan.
 
Habibuna Muhammad ﷺ pun demikian. Ia lebih dulu tiba di Mekah. Namun, sebelum bertemu Khadijah, ia berthåwaf dulu tujuh keliling mengelilingi Ka’bah.

Dari atas balkonnya yang megah, Khadijah bergegas datang menyambut dan Sayyiduna Muhammad ﷺ pun melaporkan hasil penjualan, barang yang dibeli, serta berbagai pengalaman kecil dalam perjalanan. Saat itu, Khadijah sudah sangat terkesan dengan hasil yang diperoleh Baginda Muhammad ﷺ, tetapi itu belum seberapa. Setelah Sayyiduna Muhammad ﷺ pulang, Maisaråh menceritakan sendiri kesan-kesannya terhadap Habibuna Muhammad ﷺ.
“Sungguh, belum pernah aku melihat pemuda yang demikian sempurna memandang masa depan. Keputusan-keputusannya selalu tepat dan perkiraannya tidak pernah salah. Ia juga sangat jujur dan sopan,” demikian sebagian kisah Maisaråh.

Khadijah betul-betul sangat terkesan dengan agen barunya itu. Waraqah bin Naufal pun datang dan mendengar sendiri kisah Maisarah tentang Sayyiduna Muhammad ﷺ. Ada hal yang aneh pada diri Maisarah. Biasanya, ia sangat menekankan laporannya pada masalah-masalah bisnis. Akan tetapi, kini persoalan dagang seolah-olah menjadi hal kecil. Yang dibicarakan Maisarah kali ini hanya tentang Baginda Muhammad, Muhammad, dan Muhammad ﷺ. Padahal, keuntungan yang mereka dapat kali ini benar-benar luar biasa. Jika dikatakan bahwa Khadijah memiliki “Sentuhan Emas”, tepatlah apabila Baginda Muhammad ﷺ disebut memiliki “Sentuhan penuh berkah”.

Ketika Waraqah telah mendengar semua itu, ia tenggelam dalam pemikiran yang sungguh-sungguh. Setelah cukup lama berdiam diri, ia berkata kepada Khadijah,
“Mendengar darimu dan dari Maisarah mengenai Muhammad dan juga dari apa yang kulihat sendiri, aku berpendapat bahwa ia memiliki semua sifat dan kemampuan sebagai seorang utusan Allah. Mungkin dialah yang ditakdirkan untuk menjadi salah seorang di antara para rasul pada masa yang akan datang.”

*Pernikahan Agung*

Khadijah memiliki teman seorang wanita bangsawan bernama Nafisah binti Munyah. Nafisah tahu setelah suami kedua Khadijah meninggal, banyak bangsawan Quraisy yang melamarnya, namun Khadijah menolak. Nafisah tahu bahwa Khadijah takut semua lamaran itu hanya bertujuan mengincar hartanya. Lebih dari itu, Nafisah juga tahu bahwa yang diinginkan Khadijah adalah seorang laki-laki berakhlak agung. Nafisah juga tahu bahwa ada satu laki-laki yang seperti itu di Mekah, ia adalah Habibuna Muhammad ﷺ.

Karena itulah, begitu Khadijah membuka diri kepadanya tentang Baginda Muhammad ﷺ, Nafisah tidak terkejut lagi. Khadijah meminta Nafisah mencari jalan untuk mengetahui bagaimana pandangan Sayyiduna Muhammad ﷺ tentang dirinya. Maka, ketika Baginda Muhammad ﷺ dalam perjalanan pulang dari Ka’bah, Nafisah menghentikannya. Nafisah pun bertanya,
“Wahai Muhammad, Anda telah menjadi seorang pemuda. Banyak lelaki yang lebih muda dari Anda telah menikah dan beberapa di antaranya bahkan telah mempunyai anak. Mengapa Anda tidak menikah?”

“Aku belum mampu menikah, ya Nafisah. Aku belum mempunyai kekayaan yang cukup untuk menikah.”

“Apa jawaban Anda jika ada seorang wanita yang cantik, kaya, dan terhormat mau menikah dengan Anda walaupun Anda belum mampu?”

Sayyiduna Muhammad ﷺ balik bertanya dengan sedikit terperangah,
“Siapakah wanita itu?”

Nafisah tersenyum, “Wanita itu adalah Khadijah putri Khuwailid.”

Alis Baginda Muhammad ﷺ tambah terangkat,
“Khadijah? Bagaimana mungkin Khadijah mau menikah denganku? Bukankah Anda tahu bahwa banyak bangsawan kaya raya dan kepala-kepala suku di Arab ini yang telah melamarnya dan ia telah menolak mereka semua?”

“Jika Anda mau menikahinya, katakan saja dan serahkan semuanya kepadaku. Aku akan mengurus semuanya.”

Ketika itu Abu Thalib menyetujuinya, Habibuna Muhammad ﷺ pun mengiyakan Nafisah. Maka, pernikahan pun dilangsungkan.

Sebagai pengantin, Baginda Muhammad ﷺ datang didampingi paman-pamannya yang ikut berbahagia.

*Perawakan Nabi Muhammad ﷺ*

Jarang ada pernikahan dilangsungkan demikian agung. Dalam acara itu, semua pemimpin Quraisy dan pembesar Mekah diundang. 

Mempelai laki-laki menunggang kuda yang gagah diiringi para pemuda Bani Hasyim yang menghunus pedang. Sementara itu, kaum wanita Bani Hasyim berjalan lebih dulu dan telah diterima di rumah mempelai wanita.

Rumah Khadijah yang megah saat itu telah diterangi cahaya lilin dalam lampion-lampion yang digantung dengan rantai-rantai emas. Setiap lampion terdiri atas 7 batang lilin.

Semua pembantu Khadijah diberi seragam khusus untuk menyambut para tamu yang datang menjelang sore hari. Kamar pengantin benar-benar istimewa. Kain sutera dan brokat digantung begitu serasi. Lantainya tertutup karpet putih dan diharumi dupa dari guci perak.

Khadijah sendiri begitu anggun hingga tampak bercahaya seperti matahari terbit. Ia mengenakan pakaian pengantin yang sangat indah dan jarang ada duanya saat itu. 
Abu Thalib adalah wakil mempelai laki-laki dalam memberi sambutan, sedangkan Waraqah bin Naufal adalah wakil pengantin wanita.

Tidak ada laki-laki segagah Sayyiduna Muhammad ﷺ. Paras wajahnya tampan dan indah. Perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek. Rambutnya hitam sekali dan bergelombang. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung, lebat dan bertaut. Sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi putih matanya agak kemerahan, tampak lebih menarik dan kuat. Pandangannya tajam dengan bulu mata yang hitam pekat. Hidungnya halus dengan barisan gigi yang bercelah-celah.
Cambangnya lebar, berleher jenjang, dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kaki yang tebal. Jika berjalan, badannya agak condong ke depan, melangkah cepat-cepat, dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan, membuat orang patuh kepadanya.

*Bersambung*