Kamis, 26 November 2020

Kisah Rasulullah Bagian 21

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 21*

*Pembicaraan Abu Thalib*

Pada musim semi tahun 595 Masehi, para pedagang Mekah kembali mulai mvenyusun kafilah perdagangan musim panas mereka, untuk membawa barang dagangan ke Syria.

Khadijah juga sedang mempersiapkan barang dagangannya, tetapi ia belum menemukan seseorang untuk menjadi pemimpin kafilahnya. Beberapa nama diusulkan orang, namun, tidak satu pun yang berkenan di hatinya.

Mendengar itu, Abu Thalib mendatangi Khadijah dan menawarkan kepadanya Sayyiduna Muhammad ﷺ, keponakannya yang baru berusia 25 tahun, untuk menjadi agen Khadijah. Abu Thalib tahu bahwa Habibuna Muhammad ﷺ belum cukup berpengalaman, tetapi ia sangat yakin bahwa Sayyiduna Muhammad ﷺ lebih dari sekadar mampu.

Sebagaimana penduduk Mekah yang lain, Khadijah pun telah mendengar nama Baginda Muhammad ﷺ. Satu hal yang Khadijah yakin adalah kejujuran Habibuna Muhammad ﷺ. Bukankah orang Mekah menjulukinya “Al Amin” atau “Orang yang bisa dipercaya”. Maka, Khadijah menyetujui tawaran Abu Thalib. Bahkan ia hendak memberi imbalan dua kali lipat kepada Sayyiduna Muhammad ﷺ dari yang biasa diberikan kepada orang lain. Oleh karena itu, Abu Thalib pulang dengan gembira.

Segera saja Abu Thalib dan Sayyiduna Muhammad ﷺ menemui Khadijah yang kemudian menerangkan tentang seluk beluk perdagangan. Otak Baginda Muhammad ﷺ yang cerdas bekerja dengan tangkas. Ia segera memahami semuanya. Tidak satu penjelasan pun yang ia minta untuk diterangkan ulang.

Maka, kafilah pun disiapkan dengan suara riuh rendah. Khadijah menyertakan seorang pembantu laki-lakinya yang terpercaya, Maisarah, untuk mendampingi Habibuna Muhammad ﷺ di perjalanan. 

Diantar Abu Thalib dan paman-pamannya yang lain, Sayyiduna Muhammad ﷺ datang pada hari yang telah ditentukan. Mereka disambut seorang paman Khadijah yang sedang menanti mereka dengan surat-surat perdagangan.

Pemimpin kafilah membunyikan tanda dan semuanya segera berangkat. Pada musim panas, kafilah Mekah berangkat menjelang senja dan terus berjalan pada malam hari. Mereka beristirahat pada siang hari karena perjalanan siang akan sangat melelahkan semua orang.

Maka, berangkatlah Baginda Muhammad ﷺ menempuh jalur yang pernah ditempuh bersama pamannya 13 tahun yang lalu.

Imbalan untuk Baginda Muhammad ﷺ
Imbalan yang diberikan Khadijah untuk seorang agen adalah dua ekor unta. Akan tetapi, Abu Thalib minta empat ekor unta. Maka, Khadijah pun menjawab,
“Kalau permintaan itu bagi orang yang jauh dan tidak kusukai saja akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai.”

*Berdagang ke Syam*

Dalam perjalanan, Sayyiduna Muhammad ﷺ mengenali bahwa Maisarah adalah teman yang baik. Dengan senang hati, Maisarah menunjukkan dan menceritakan sejarah berbagai tempat menarik yang mereka lewati. Habibuna Muhammad ﷺ juga menemui bahwa anggota kafilah yang lain sangat ramah dan akrab terhadapnya.
Setelah satu bulan berjalan, tibalah mereka di Syria.

Setelah beristirahat beberapa hari, mulailah para pedagang menuju ke pasar. Walaupun ini adalah pengalaman pertama. Baginda Muhammad ﷺ sama sekali tidak bingung dengan tugasnya. 

Maisarah tercengang melihat kelihaian Sayyiduna Muhammad ﷺ mengambil keputusan, pikirannya yang tajam, serta kejujurannya. Semua barang yang mereka bawa laku terjual dengan jumlah keuntungan yang belum pernah didapatkan Khadijah sebelum itu.

Setelah itu, Baginda Muhammad ﷺ membeli barang-barang berkualitas yang akan dibawa pulang ke Mekah untuk dijual dengan harga tinggi.

Di Syria, setiap orang yang berjumpa dengan Sayyiduna Muhammad ﷺ pasti sangat terkesan olehnya. Penampilan Habibuna Muhammad ﷺ sangat memesona, ramah, dan sangat besar perhatiannya pada setiap orang. Di tengah-tengah kesibukan itu, Maisarah melihat bahwa Habibuna Muhammad ﷺ selalu memanfaatkan setiap waktu senggang untuk menyendiri dan berpikir. 

Ini benar-benar tidak lazim bagi Maisarah. Ia tidak menyadari bahwa tuan mudanya ini memang sangat terbiasa meluangkan waktu untuk memikirkan nasib umat manusia.

Sayyiduna Muhammad ﷺ juga amat heran melihat perpecahan berbagai kelompok Nasrani di Syria. Setiap masing-masing dari mereka memiliki jalan dan pendapat sendiri padahal seharusnya mereka bergabung dalam satu kelompok. Manakah yang paling benar dari semuanya itu. 

Pikiran-pikiran seperti ini membuat mata Baginda Muhammad ﷺ selalu terbuka pada saat orang-orang lain terlelap tidur.

Akhirnya, waktu untuk pulang pun tiba. Oleh-oleh untuk handai tolan pun dibeli dan semua barang dikemas. Waktu pulang adalah waktu yang paling menggembirakan karena mereka akan berjumpa lagi dengan orang-orang tercinta di kampung halaman. Mereka tidak sabar lagi mendengar tawa ria anak-anak mereka saat kembali nanti dan mereka sadar jika waktu itu tiba, tidak akan kuat lagi mereka menahan air mata.

*Hari Jum’at*

Hari Jum’at pada zaman jahiliyah adalah hari bersuka ria di seluruh jazirah. Semua orang sibuk di pasar.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, pernah terjadi, khutbah Jum’at Rasulullah ﷺ hampir terganggu, karena saat itu datang kafilah membawa barang dagangan.

Pada hari Jum’at, semangat berdagang mengaliri darah semua orang pada saat itu.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 20

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 20*

*Khadijah*

Namanya Khadijah binti Khuwalid. Sosoknya cantik dan anggun. Setelah ayah dan ibunya meninggal, saudara-saudara Khadijah saling membagi harta kekayaan peninggalan orangtuanya. Namun, Khadijah sadar bahwa kekayaan dapat membuat orang hidup menganggur dan berfoya-foya.

Dia dikaruniai kecerdasan yang luar biasa dan kekuatan sikap untuk mengatasi godaan harta. Maka dari itu, Khadijah pun memutuskan untuk membangun kekayaannya sendiri berbekal warisan orangtuanya.

Tidak lama kemudian, Khadijah telah membuktikan bahwa kalau pun tidak mendapat harta warisan, dia mampu mendapatkan kekayaan itu dari hasil jerih payahnya sendiri.

Dengan harta yang diperolehnya, Khadijah membantu orang-orang miskin, janda, anak-anak yatim, dan orang-orang cacat. Jika ada seorang gadis yang tidak mampu, Khadijah menikahkan dan memberi mas kawinnya. Khadijah lembut dan ramah. Walau menjadi pemimpin tertinggi dalam menjalankan bisnis keluarga sepeninggal Ayahnya, dia juga mau menerima saran-saran orang lain. Khadijah tidak menyukai adanya jarak hubungan antara atasan dan bawahan. Dia menganggap bawahan sebagai rekan kerja yang pantas dihormati.

Khadijah sendiri selalu tinggal di rumah. Karena itu, biasanya dia minta bantuan seorang agen, jika sebuah kafilah sedang dipersiapkan untuk pergi ke luar negeri. Orang yang dimintai bantuan itu bertanggungjawab membawa barang-barang dagangannya untuk dijual ke pasar-pasar asing. Khadijah sangat teliti memilih seorang agen. Dia juga sangat lihai merencanakan waktu keberangkatan kafilah dan tempat tujuannya sebab barang akan terjual dengan cepat pada waktu dan tempat yang tepat.

Begitu suksesnya Khadijah sebagai seorang saudagar, sampai-sampai jika sebuah kafilah Quraisy berangkat dari Mekah, bisa dipastikan lebih dari separuhnya adalah harta perdagangan milik Khadijah. Dia seperti mempunyai sentuhan emas. Diibaratkan jika dia menyentuh debu, debu ini akan berubah menjadi “emas”. Karena itu penduduk Mekah menjulukinya “Ratu Quraisy” atau “Ratu Mekah”.

Kalau hanya kekayaan yang menjadi ukuran, tentu Allah ﷻ tidak akan menjadikan Khadijah (kelak) sebagai istri seorang rosul. Pasti ada sifat lain yang lebih utama yang membuatnya sepadan dengan Nabi Muhammad ﷺ.

*_Catatan_*

Sebuah kafilah dagang pada masa itu ibarat kampung bergerak. Hewan beban berjumlah 1000 sampai 2500 ekor dan diiringi seratus sampai tiga ratus orang. Kafilah perlu organisasi yang baik, biaya besar, dan keberanian yang cukup. Jika ada perampok, seluruh anggota kafilah harus berani menyabung nyawa untuk mempertahankan harta yang dibawanya.

*Wanita Suci*

Khadijah mempunyai seorang paman bernama Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah sanak saudara Khadijah yang paling tua. Dia Sangat mengutuk kebiasaan bangsa Arab Jahiliah yang menyembah berhala sehingga menyimpang jauh dari apa yang diajarkan Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَام dan Nabi Ismail عَلَيْهِ السَّلَام. Waraqah sendiri adalah hamba Allah ﷻ yang setia dan lurus. Dia tidak pernah meminum minuman keras dan berjudi. Dia murah hati terhadap orang-orang miskin yang membutuhkan pertolongannya.

Khadijah sangat terpengaruh pemikiran Waraqah bin Naufal. Khadijah juga sangat membenci berhala dan patung-patung sesembahan.

Bersama beberapa keluarganya, Khadijah adalah pengikut setia ajaran Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَام dan Nabi Ismail عَلَيْهِ السَّلَام.

Jika mendengar ada seorang anak perempuan akan dikubur hidup-hidup. Waraqah dan Khadijah akan segera menemui sang Ayah dan mencegah perbuatannya. Jika kemiskinan yang menjadi alasan rencana pembunuhan itu, Khadijah dan Waraqah akan membeli anak itu dan membesarkannya seperti anak kandung sendiri.

Sering kali beberapa waktu setelah itu, ayah si anak menyesali perbuatannya dan mengambil putrinya kembali. Waraqah dan Khadijah akan memastikan dulu bahwa anak itu akan diasuh dengan benar dan disayangi, setelah itu barulah dia mengizinkan sang Ayah membawa pulang anaknya kembali.

Budi pekerti Khadijah yang agung, santun, lembut dan penuh keteladanan ini membuat semua orang menjulukinya juga sebagai Khadijah At Thahirah atau Khadijah yang suci.

Pertama kalinya dalam bangsa Arab seorang wanita dijuluki demikian, padahal orang Arab pada masa jahiliah itu sangat mengagungkan laki-laki dan merendahkan wanita.

*_Catatan_*

Selain Khadijah, ada pula beberapa saudagar wanita terkenal.
Di antaranya adalah:
~ Hindun, istri Abu Sofyan dan
~ Asma binti Mukharribah, ibu Abu Jahl.

Para Saudagar wanita ini biasanya juga menjual keperluan wanita, seperti pakaian, parfum, perhiasan emas dan perak, permata dan obat-obatan. Barang-barang ini tidak memerlukan banyak ruang, ringan dan laku keras di mana-mana.

Bersambung

Rabu, 25 November 2020

Kisah Rasulullah Bagian 19

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 19*

*HILFUL FUDHUL*

Selain mengikuti peperangan, Sayyiduna Muhammad ﷺ yang masih remaja juga mengikuti sebuah perjanjian yang amat baik. Perjanjian itu kelak dikenal dengan nama Hilful Fudhul.

Perjanjian ini bertujuan untuk melindungi hak-hak para pedagang asing yang sering kali terdzalimi. Pencetus perjanjian ini adalah protes seorang pedagang asing dari Yaman.

Saat itu, Ash bin Wa’il, seorang saudagar Mekah, tidak mau membayar utang kepada si pedagang. Pedagang itu lalu menggubah syair dan membacakannya di depan umum.

Syair ini amat menggugah perasaan para pemuka Quraisy. Mereka khawatir apabila dibiarkan terus, para pedagang Asing tidak mau lagi memasuki Mekah. Apalagi Perang Fijar mengakibatkan mulai terjadinya perpecahan di pihak Quraisy.

Sepeninggal Abdul Munthalib, orang-orang Quraisy dari keluarga yang lain sudah mulai berani mencoba menentang kekuasaan pemerintahan Quraisy. 

Maka dari itu, atas usulan Zubair bin Abdul Munthalib, seorang paman Baginda Muhammad ﷺ, orang-orang Quraisy dari keluarga Hasyim, Zuhra, Taim berkumpul. Mereka bersepakat dan berjanji atas nama Tuhan Maha Pembalas bahwa Tuhan akan berada di pihak yang terdzalimi, sampai orang itu tertolong.

Pertemuan ini sendiri berlangsung di rumah Abdullah bin Jud’an At Taimi yang megah. 

Perjanjian Hilful Fudhul ini menjamin perlindungan terhadap hak-hak orang lemah. Sayyiduna Muhammad ﷺ ikut menyaksikan perjanjian dan amat menyukainya.

Di kemudian hari, setelah diutus menjadi seorang Rosullullah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: ” Aku tidak suka mengganti perjanjian yang kuhadiri di rumah Ibn Jud’an itu dengan jenis unta yang baik. Kalau sekarang aku diajak, pasti akan kutolak”

*Besarnya Diyat*

Diyat adalah pembayaran ganti rugi.
Untuk kematian/wajah cacat total ganti ruginya sebanyak 100 ekor unta. Satu kaki/tangan/mata jadi buta diganti dg 50 ekor unta.
Jika wajah cacat total, nilai gantinya 100 unta.
Luka sampai menembus otak, 33 ekor unta.
Cacat kelopak mata, 25 ekor unta.
Satu jari hilang/tulang retak, 15 ekor unta.
Luka sampai tulang kelihatan, 10 ekor unta.
Satu gigi copot, 5 ekor unta.
Demikian seterusnya dalam ketetapan yang rinci.

*MENGGEMBALAKAN KAMBING*

Baginda Muhammad ﷺ melewati masa remajanya dengan menggembalakan kambing. Beliau pernah berkata kepada para sahabatnya,
“Musa diutus, dia menggembala kambing. Daud diutus, dia menggembala kambing. Aku diutus juga menggembala kambing keluargaku di Ajyad.”

Sambil menggembala, pikiran Sayyiduna Muhammad ﷺ menerawang,
“Siapa yang menciptakan bintang-bintang yang begitu kemilau? Siapa yang membuat udara untuk kuhirup? Siapa yang membuat jantungku berdetak? Siapa yang membuat matahari mengejar bulan dan bulan mengejar matahari?”

Ribuan pertanyaan seperti itu membuat Habibuna Muhammad ﷺ selalu sibuk berpikir. Hal itu membuat akhlak beliau terjaga demikian baik dari perbuatan buruk yang sering terjadi di Mekah.

Pada saat itu, orang menyembah patung di mana-mana, laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri sering pergi berduaan, orang-orang melakukan thawaf tanpa busana, pesta mabuk-mabukan setiap malam, dan masih banyak keburukan lain.

Meski demikian, pernah juga Baginda Muhammad ﷺ ingin pergi ke kota untuk melihat sebuah pesta pernikahan.
“Tolong jaga kambing-kambingku,” pinta Sayyiduna Muhammad ﷺ kepada seorang teman gembalanya.
“Baiklah, memang sudah giliranmu yang pergi bersenang-senang,” kata teman Baginda Muhammad ﷺ.
“Selama ini, kami selalu ada di padang gembala seperti seorang pertapa.”

Baginda Muhammad ﷺ pun pergi memasuki Mekah.
Di ujung kota, ia melihat ada sebuah pesta pernikahan yang dipenuhi berbagai hiburan dan musik.

Namun, belum sempat Baginda Muhammad ﷺ tiba di rumah itu, tubuhnya tiba tiba disergap keletihan. Sayyiduna Muhammad ﷺ duduk bersandar di dinding dan tertidur lelap sampai pagi. Ia tidak sempat melihat tontonan di pesta sedikit pun.

Esok harinya, Sayyiduna Muhammad ﷺ datang lagi ke Mekah dengan maksud yang sama. Kali ini, sebelum ia tiba di tempat pesta, telinganya mendengar musik indah yang turun dari langit, musik yang jauh lebih indah daripada semua musik di dunia ini. Musik itu membuai Baginda Muhammad ﷺ dan ia pun kembali tertidur.

Sejak itu, Habibuna Muhammad ﷺ tidak lagi berminat untuk melihat pertunjukan musik di pesta. Agar terhindar dari kenakalan yang sering dibuat para pemuda seusianya.

Akhlak Habibuna Muhammad ﷺ yang demikian baik selagi muda membuatnya disayang dan dipercaya semua orang hingga ia pun dijuluki Al Amin, artinya “Yang Dipercaya”.

Bersambung

Kisah Rasulullah Bagian 18

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 18*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Perlindungan Allah ﷻ*

Abu Thalib segera melaksanakan apa yg disarankan oleh Buhaira, karena peringatan itu memang beralasan.

Segera, setelah Abu Thalib dan Sayyiduna Muhammad ﷺ meninggalkan rumah Buhaira, datanglah 3 orang ahli kitab bernama Zurair, Daris, dan Tammam kepada Buhaira. Ketiganya menyandang senjata di pinggang. Mereka bertanya kepada Buhaira apakah ia juga melihat seorang anak dengan ciri-ciri seperti ini dan itu.

Buhaira tahu bahwa mereka mencari Sayyiduna Muhammad ﷺ. Rupanya, ketiga orang ini juga telah mendengar tentang Sayyiduna Muhammad ﷺ. Buhaira memandang senjata2 yang mereka bawa dengan perasaan ngeri.

Buhaira tahu mereka mencari Habibuna Muhammad ﷺ dengan maksud membunuhnya. Oleh karena itu, Buhaira berusaha memberikan perlindungan kepada Sayyidina Muhammad ﷺ.

Tidak henti-hentinya Buhaira menasihati ketiga tamunya akan adanya kekuasaan Allah ﷻ. Diingatkannya bahwa bagaimanapun usaha mereka, mereka tidak akan mampu mendekati Sayyiduna Muhammad ﷺ untuk membunuhnya.

Akhirnya, ketiganya pun melihat kebenaran dalam perkataan Buhaira. Batallah niat mereka untuk mengejar dan membunuh Sayyiduna Muhammad ﷺ, kemudian berlalulah mereka dari hadapan Buhaira.

Allah ﷻ menjaga Baginda Muhammad ﷺ dari kejahatan dan kotoran-kotoran jahiliyah. 

Allah membimbing Sayyiduna Muhammad ﷺ tumbuh menjadi orang yang paling ksatria, paling baik akhlaknya, paling mulia asal-usulnya, paling baik pergaulannya, paling agung sikap santunnya, paling murni kejujurannya, paling jauh dari keburukan dan akhlak yang mengotori kaum lelaki sehingga semua orang menjulukinya “Al Amin” karena Allah ﷻ mengumpulkan sifat-sifat itu pada diri Habibina Muhammad ﷺ.

Kelak setelah menjadi Rasul, Habibuna Muhammad ﷺ bercerita tentang perlindungan Allah ﷻ kepadanya sejak masa kecil dari segala bentuk kejahiliyahan. 

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Pada masa kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraisy mengangkut batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami melepas baju untuk alas di atas pundak (sebagai ganjalan) untuk memikul batu.

“Aku maju dan mundur bersama mereka. Namun, tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. Ia berkata, ‘Kenakan pakaianmu!’ 

Kemudian, aku mengambil pakaianku dan memakainya. 

Setelah itu, aku memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman temanku.”

*Membantu Paman*

Sayyiduna Muhammad ﷺ juga pernah menjadi gembala sewaan, untuk membantu Abu Thalib yang hidup dalam kemiskinan

*Perang Fijar*

Sebagai seorang remaja yang tumbuh di lingkungan Jazirah Arab. Sayyiduna Muhammad ﷺ juga mengalami perang. 
Perang itu disebut Perang Fijar.
Saat peperangan dimulai, Umur Sayyiduna Muhammad ﷺ memasuki lima belas tahun.
Perang itu sendiri disebabkan sebuah pembunuhan.
Barradz bin Qois dari Bani Kinanah membunuh Urwa Ar-Rahhal bin Utba dari Bani Hawazin, hanya karena Barradz jengkel ketika Urwa dipilih untuk memimpin kafilah dagang Nu’man bin Mundhir yang kaya.
Diam diam , Barradz mengikuti kafilah Urwa dari belakang dan membunuh Urwa.
Padahal ketika itu adalah bulan suci, bulan yang tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk menumpahkan darah.

Karena Quraisy pelindung Barradz, Bani Hawazin mengumumkan perang terhadap Quraisy untuk membalas kematian Urwa. Perang pun pecah pada bulan suci. Selama empat tahun berturut-turut, kedua belah pihak saling menyerang.

Dalam pertempuran itu, awalnya Sayyiduna Muhammad ﷺ bertugas memunguti anak panah lawan yang berjatuhan dan memberikannya kepada paman-pamannya. 

Namun, pada tahun-tahun berikutnya, beliau ﷺ juga meluncurkan panah ke arah lawan untuk melindungi paman-pamannya.

Perang pun berakhir dengan perdamaian ala pedalaman: pihak yang menderita lebih sedikit korban manusianya harus membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sejumlah selisih kelebihan korban. Dalam hal ini, pihak Quraisy yang lebih sedikit menderita korban harus membayar kelebihan korban sebanyak dua puluh orang Hawazin.

*Barradz bin Qois*

Barradz bin Qois, si penyebab Perang Fijar, adalah seorang pemabuk.
Karena merusak citra sukunya, dia diusir dan mendapat naungan suku lain. Namun di sana, dia juga mabuk berat dan membuat onar kemudian diusir lagi.

Akhirnya, Harb bin Muawiyah, ayah Abu Sofyan, menampungnya walaupun hampir saja Barradz bin Qois diusir lagi, karena terus berbuat onar.

Dikarenakan perlindungan Harb dari Quraisy inilah, Bani Hawazin menyerang Quraisy ketika Barradz bin Qois membunuh Urwa bin Utba.

Bersambung

Kisah Rasulullah Bagian 17

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 17*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Percakapan Buhaira*

Akan tetapi, segera saja Buhaira merasakan ada sesuatu yang kurang dari rombongan Quraisy itu.

Maka, ia kembali mengulangi permintaannya,
“Hai Orang-orang Quraisy, jangan sampai ada yang tidak makan makananku ini.”

Salah seorang Quraisy berkata,

“Hai Buhaira, tidak ada seorang pun tertinggal yang layak datang kepadamu, kecuali anak muda yang paling kecil di antara kami. Ia berada di tempat perbekalan rombongan.”

Buhaira menggeleng-geleng kepala,

“Kalian jangan seperti itu. Panggil dia untuk makan bersama kalian!.”

Orang-orang Quraisy merasa malu. Salah seorang dari mereka bahkan berkata,

“Demi Lata dan Uzza, adalah aib dari kami kalau putra Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut makan bersama kami.”

Setelah Muhammad ﷺ dipanggil, Buhaira memeluknya dan mendudukkannya bersama rombongan Quraisy yang lain. Sambil menyaksikan tamu-tamunya makan, sebenarnya mata Buhaira tertuju kepada Muhammad ﷺ dengan seksama. Dari hasil pengamatannya itulah, Buhaira mengambil kesimpulan dalam hati, “Anak ini mempunyai sifat-sifat kenabian.”

Jamuan selesai. Sambil mengucapkan terimakasih, rombongan Quraisy pun membubarkan diri menuju tempat perkemahan mereka untuk beristirahat.

Namun, Buhaira tidak membiarkan Muhammad ﷺ pergi. Diajaknya anak itu untuk duduk dan bicara.

“Hai anak muda,” panggil Buhaira,

“dengan menyebut nama Lata dan Uzza, aku akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadamu dan engkau harus menjawabnya.”

Wajah Muhammad ﷺ tampak berubah dan ia menjawab,

“Jangan bertanya tentang apa pun kepadaku sambil menyebut nama Lata dan Uzza. Demi Allah, tidak ada yang sangat aku benci melainkan keduanya.”

Buhaira tersenyum dan mengulangi permintaannya, “Baiklah, kalau begitu aku akan bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah dan engkau harus menjawab pertanyaanku.”

Wajah Muhammad ﷺ berubah cerah dan ia mengangguk,

“Tanyakan kepadaku apa saja yang ingin engkau tanyakan.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Saran Buhaira kepada Abu Thalib*

Buhaira menanyakan banyak sekali hal kepada Muhammad ﷺ, tentang tidur Muhammad ﷺ, tentang postur tubuh Muhammad ﷺ, dan banyak lagi hal lainnya.

Muhammad ﷺ menjawab semua itu dan semua jawaban itu sesuai benar dengan perkiraan Buhaira. Kemudian, Buhaira melihat punggung Muhammad ﷺ dan mendapati tanda kenabian di antara kedua bahu Muhammad ﷺ. Tanda kenabian itu seperti bekas orang berbekam.

Setelah itu, Buhaira mendekati Abu Thalib dan bertanya kepada nya, 

”apakah anak muda ini anakmu? ”

”Iya, dia anakku.” Jawab Abu Thalib

Buhaira menggeleng.
“Tidak, dia bukan anakmu. Anak muda ini tidak pantas mempunyai ayah yang masih hidup”

Abu Thalib agak tercengang, lalu dia pun mengangguk.
“Kau benar. Dia bukan anakku, dia anak saudaraku”

Buhaira mengangguk-angguk puas lalu bertanya lagi.

“Apa yang dikerjakan ayahnya?”

“Ayahnya telah meninggal dunia ketika dia masih berada dalam kandungan ibunya ”

“Engkau benar” kata Buhaira menghela nafas dalam-dalam. Kemudian, sambil berbisik, dia menyampaikan sebuah saran dengan sangat sungguh-sungguh.

“Sekarang, dengar saranku baik-baik. Bawa anak saudara mu ini ke negeri asalmu sekarang juga! Jaga dia dari orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka melihat padanya seperti apa yang aku lihat, mereka pasti akan membunuhnya. sesungguhnya, akan terjadi sesuatu yang besar pada diri anak saudaramu ini. Karena itu, segera bawa pulang dia ke negeri asalmu!”

Abu Thalib tampak ketakutan dengan peringatan itu. Dia yakin bahwa apa yang dikatakan Buhaira itu benar. Maka dari itu, segera setelah urusan perdagangannya selesai, Abu Thalib segera membawa Muhammad ﷺ pulang. Sesulit apa pun beban hidupnya, Abu Thalib tidak pernah lagi pergi berdagang ke tempat jauh demi melindungi keponakannya itu.

*Bushra (kota di mana Buhaira tinggal)*

Jalur yang dilewati kafilah Abu Thalib adalah jalan kafilah Barat yang menyusuri Laut Merah, Madyan, Wadi Al Qurra, Hijir, dan Kota Bushra.

Kota Bushra atau Bostra telah lama didirikan Romawi sebagai ibu kota wilayah Hauran, untuk menahan serbuan Badui pedalaman.

Di kota ini, Romawi memusatkan pasukan dan mengumpulkan pajak dari para kafilah.
Bagi kafilah sendiri, Bostra adalah pusat perdagangan paling ramai sebelum tiba di Syria yang terletak lebih ke Utara.

Bersambung

Kisah Rasulullah Bagian 16

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 16*

اَللَّهُمَّ صَلِّ سَيِّدِنَا عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Mengikuti Paman*

Hati Muhammad ﷺ yang masih kecil merasa pengap dengan kehidupan di Mekah.
Setiap hari, dilihatnya anak-anak fakir miskin seusianya bekerja bersama-sama dengan bertelanjang tanpa rasa malu.

Muhammad ﷺ juga melihat setiap malam pintu rumah orang-orang kaya tertutup rapat. Di dalam, mereka berpesta pora, menyaksikan para penari, dan bermabuk-mabukan sampai pagi sambil dijaga oleh para budak. Padahal, di tempat lain, ia melihat orang-orang berjuang mencari rezeki antara hidup dan mati.

Muhammad ﷺ sering sekali melintas di depan gubuk-gubuk reyot dan rumah-rumah kumuh. Pintu-pintu mereka juga tertutup rapat, tetapi di dalamnya tinggal orang-orang yang hidup menderita. Orang-orang itu jika tidak memiki bahan makanan, besok atau lusa terpaksa menggadaikan anak gadis, istri atau ibunya untuk dikumpulkan menjadi budak para saudagar demi melepaskan diri dari lilitan hutang.

Di depan gubuk-gubuk itu, Muhammad ﷺ melihat para pemuda berkumpul. Pikiran mereka dipenuhi impian tentang datangnya mukjizat yang akan mampu membebaskan Mekah dari kebiadaban. Para pemuda itu berkumpul mengelilingi seorang laki-laki yang bercerita tentang legenda-legenda indah orang-orang terdahulu yang berjuang melawan raja yang sewenang-wenang.

Suatu saat, pada usia Muhammad ﷺ 12 tahun, Abu Thalib berniat pergi berdagang ke Syam untuk mencari nafkah.

“Ajaklah aku, Paman!” pinta Muhammad ﷺ.

“Tetapi, perjalanan padang pasir begitu sulit dan jauh! Aku tidak tega mengajak anak sekecilmu menempuh kesulitan sedemikian berat!”.

Saat itu, hanya Abu Thalib tempat Muhammad ﷺ berlindung. Ia merasa amat kesepian jika harus menghadapi kehidupan Mekah seorang diri, tanpa ada paman di sampingnya.

“Kepada siapakah Paman akan meninggalkan aku seorang diri apabila Paman pergi nanti?” tanya Muhammad ﷺ begitu mengiba.

Abu Thalib sangat terharu,
“Demi Allah, aku pasti membawanya pergi. Ia tidak boleh berpisah denganku dan aku tidak boleh berpisah dengannya selama-lamanya.”

*Lihb Si Peramal*

Orang-orang Quraisy sering mendatangi Lihb dengan membawa anak-anaknya untuk diramal.

Suatu hari, Lihb melihat Muhammad ﷺ.
“Kemarilah, hai anak muda!” serunya. 

Namun, Abu Thalib segera menyembunyikan Muhammad ﷺ dan membawanya pergi hingga Lihb berteriak-teriak,
“Celakalah kalian, bawa ke sini anak muda yang aku lihat tadi! Demi Allah, anak ini akan menjadi orang besar di kemudian hari!”


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Jamuan Buhaira*

Berangkatlah rombongan kafilah Quraisy menuju ke Syam 1). Ketika tiba di Busra, mereka melewati rumah ibadah seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira. Ia adalah pendeta yang pandai. 
Di rumah ibadahnya, selalu ada pendeta dan umat Nasrani yang menuntut ilmu kepada Buhaira.

Biasanya, Buhaira tidak pernah menggubris rombongan Quraisy yang setiap tahun melintas di tempat itu. Namun, kali ini ada yang berubah pada diri Buhaira. Ketika rombongan Quraisy, termasuk Abu Thalib dan Muhammad ﷺ, singgah di dekat rumah ibadahnya, Buhaira memerintahkan para pembantunya untuk membuat masakan yang banyak.

Buhaira berbuat begitu karena dari jendela rumah ibadahnya, ia melihat hal yang aneh pada rombongan Quraisy. Ada awan kecil yang bergerak pelan mengikuti ke mana pun kafilah pergi. Ada sesuatu atau seorang di dalam kafilah yang dilindungi awan itu dari terik matahari.

Buhaira bergegas mendatangi kafilah yang tengah beristirahat di bawah pepohonan rindang dan berkata
“Hai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua, anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka, singgah di rumahku”

Salah seorang Quraisy bertanya,

“Demi Allah, hai Buhaira, alangkah istimewanya apa yang engkau perbuat kepada kami hari ini. Padahal, kami sering melewati tempat mu ini. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

“Engkau benar,” jawab Buhaira,
“dulu aku memang seperti yang engkau katakan. Namun, kalian, semuanya, adalah tamuku kali ini dan aku ingin menjamu kalian.

 Aku telah membuat makanan dan kalian semuanya harus ikut makan.”

Dengan senang hati, rombongan Quraisy pun masuk ke rumah Buhaira untuk memenuhi undangannya. Hanya saja, Muhammad ﷺ tidak ikut karena ia masih kecil. Ia ditugaskan menjaga perbekalan kafilah.

1) Negeri Syam

Abu Thalib berangkat tahun 582 Masehi ke negeri Syam.
Syam saat itu adalah sebuah negeri yang wilayahnya (sekarang) meliputi Syria, Yordania, dan Palestina.
Syam berada di bawah pemerintahan Romawi Timur

Bersambung

Kisah Rasulullah Bagian 15

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 15*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Abdul Muthalib Wafat*

Muhammad ﷺ dibawa pulang oleh Ummu Aiman. Ia pulang sambil menangis hatinya pilu karena kini sebatang kara. 
Muhammad ﷺ makin merasa kehilangan. Ia menjalani takdir sebagai seorang anak yatim-piatu.
Terasa olehnya hidup yang makin sunyi dan semakin sedih.

Baru beberapa hari yang lalu, ia mendengar dari ibunya cerita keluhan duka kehilangan ayahandanya semasa ia dalam kandungan.
Kini, ia melihat sendiri di hadapannya, ibunya pergi untuk tidak kembali lagi, sebagaimana ayahnya dulu. 

Muhammad ﷺ yang masih kecil itu kini memikul beban hidup yang berat, sebagai seorang yatim-piatu.

Ketika tiba di Mekah, Abdul Muthalib menyambut kedatangan cucunya itu dengan rasa iba yang dalam.
Kecintaan Abdul Muthalib pun semakin bertambah kepada Muhammad ﷺ.

Rasa duka Muhammad ﷺ mungkin agak ringan apabila kakeknya, Abdul Muthalib, dapat hidup lebih lama lagi. 
Namun, Allah سبحانه و تعال
sudah menentukan lain.
Pada usia 80 tahun, sang kakek pun meninggal dunia. Saat itu, Muhammad ﷺ berusia delapan tahun. Ia mengiringi jenazah kakeknya ke kubur sambil berlinangan air mata.

Kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu membekas begitu dalam pada diri Rasulullah ﷺ, sehingga di dalam Al Quran pun disebutkan ketika Allah ﷻ mengingatkan Rasulullah ﷺ akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya di tengah kesedihan itu,

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
Surah Ad-Duha (93:6)

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Surah Ad-Duha (93:7)

*Keluarga Umayyah*

Kematian Abdul Muthalib merupakan pukulan yang berat bagi keluarga Hasyim. Tidak ada anak-anak Abdul Muthalib yang memiliki keteguhan hati, kewibawaan, pandangan tajam, terhormat, dan berpengaruh di kalangan Arab seperti dirinya.

Kemudian keluarga Umayyah tampil ke depan mengambil tampuk pimpinan yang memang sejak dulu mereka idam-idamkan, tanpa menghiraukan ancaman yang datang dari keluarga Hasyim.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Diasuh Abu Thalib*

Sebelum wafat, Abdul Muthalib menunjuk salah seorang anaknya untuk mengasuh Muhammad ﷺ. Ia tidak menunjuk Abbas yang kaya, namun agak kikir. Ia juga tidak menunjuk Harist, putranya yang tertua karena Harist adalah orang yang tidak mampu.
Abdul Muthalib menunjuk Abu Thalib untuk mengasuh Muhammad ﷺ karena sekalipun miskin, Abu Thalib memiliki perasaan yang halus dan paling terhormat di kalangan Quraisy.

Abu Thalib juga amat menyayangi kemenakannya itu. Budi pekerti Muhammad ﷺ yang luhur, cerdas, suka berbakti, dan baik hati, sangat menyenangkan Abu Thalib. Ia bahkan lebih mendahulukan kepentingan Muhammad ﷺ daripada anak-anaknya sendiri.

Begitu pun sebaliknya, Muhammad ﷺ amat mencintai pamannya. Ia tahu pamannya memiliki banyak anak kecil dan hidup dalam kemiskinan. Namun demikian, pamannya tidak pernah berhutang kepada orang lain. 
Abu Thalib lebih suka bekerja keras memeras keringat untuk menafkahi keluarganya. Karena itulah, tanpa ragu, Muhammad ﷺ ikut bekerja seperti anak-anak Abu Thalib yang lain. 
Ia ikut membantu pekerjaan keluarga Abu Thalib, menggembalakan kambing, dan mencari rumput.

Abu Thalib merasa bahwa Muhammad ﷺ kelak akan menjadi orang yang bersih hatinya dan dijauhkan dari dosa. 
Ia yakin, jika mengajak Muhammad ﷺ berdoa, Tuhan akan mengabulkan permohonannya. 
Seperti yang dilakukannya ketika orang-orang Quraisy berseru “Wahai Abu Thalib, lembah sedang kekeringan dan kemiskinan melanda. Marilah berdoa meminta hujan”.

Maka, Abu Thalib keluar bersama Muhammad ﷺ. Ia menempelkan punggung Muhammad ﷺ ke dinding Ka’bah dan berdoa. 
Kemudian, mendung pun datang dari segala penjuru, lalu menurunkan hujan yang sangat deras hingga tanah di lembah-lembah dan di ladang menjadi gembur.

Bersambung