Sabtu, 25 Juli 2020

Kisah Asal Usul Kota Makkah

Bulan Dzulqadah dan Dzulhijjah adalah bulan Nabi Ibrahim bersama keluarganya. Pada bulan ini, tradisi kehidupan kelarga ini ‘diamalkan’ ulang oleh umat Islam. Seperti, thawaf, sai, lempar jumrah, atau berkurban yang menjadi bagian ritual haji.

Negeri Saba’

Adapun yang menjadi titik sentrum ibadah haji adalah Makkah. Terbentuknya kota suci tersebut tidak bisa dilepaskan dari Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Dalam Surat Saba’ 15, Allah menjelaskan, “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.

(Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Dulu, di negeri Saba, atau Yaman kin, ada dua bendungan di timur dan di barat—dalam bahasa al-Quran di kiri dan di kanan. Namanya bendungan Ma’rib.

Dua bendungan inilah yang menjadikan Saba’ menjadi negeri yang subur. Makanan dan buah-buahan melimpah. Semua jenis sayuran ada. Perkebunan, pertanian, peternakan, dan perdagangan negeri Saba’ sangat maju dan kaya raya.

Namun, pada saat itu, mereka kufur atas nikmat Allah tersebut. Karena kekufuran mereka, dua bendungan itu akhirnya disapu banjir dan diganti oleh Allah dengan pepohonan berduri. Sebagaimana lanjutan ayat di atas.

“Tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl (sejenis pohon cemara) dan sedikit dari pohon Sidr (sejenis pohon berduri). (Saba 16)

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba 17)

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (Saba 18).

Negeri yang Diberkahi

Yang dimaksud dengan negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya ialah negeri berada di Syam, karena kesuburannya. Dan negeri-negeri yang berdekatan ialah negeri-negeri antara Yaman dan Syam, yaitu gurun pasir Makkah yang tandus.

Saat itu, Hajar dan Ismail sudah diberkahi mata air Zamzam. Karena mata air itu, orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesulitan.

“Maka mereka berkata: ‘Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak perjalanan kami.’ Dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; Maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi Setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (Saba 19)

Karena kekeringan dan tidak ada tetumbuhan dan air yang bisa mereka makan secara layak, maka semua suku-suku yang ada di Saba keluar dari negerinya.

Asal Usul Kota Makkah

Saat itu, belum ada suku Arab kecuali di Saba. Mereka pindah bermigrasi ke negeri Syam yang subur. Posisi Saba atau Yaman, jika dilihat di peta, berada di bagian selatan. Saat mereka hendak menuju negeri Syam, mereka harus melewati lembah yang berada di tengah-tengahnya.

Saat melewati lembah itulah mereka melihat burung-burung yang berputar-putar di atasnya. Kabilah dari Saba ini sebenarnya heran. Biasanya mereka tidak pernah menemukan air di sekitar daerah itu, tapi mengapa sekarang banyak burung yang berputar-putar. Kedatangan burung-burung adalah tanda bahwa di sana ada air. Mereka pun medatangi tempat itu.

Dan benar. Ternyata, ada seorang ibu dan anak yang sedang duduk di samping mata air Zamzam. Menariknya, kabilah yang sedang dalam perjalanan itu masih meminta izin kepada Hajar untuk tinggal di sana.

Luar biasa, mereka sudah punya adab. Mereka adalah sebuah suku besar dari Saba’. Belakangan, suku itu disebut sebagai Suku Jurhum. Mereka yang pernah hidup di Saba’ yang subur pada masanya. Mereka memiliki keahlian perkebunan dan peternakan.

Inilah awal terbentuknya Kota Makkah dengan mata air Zamzam yang tidak pernah kering. Suku Jurhum ini selanjutnya membangun rumah. Mereka juga sudah membawa ternak yang mereka bawa dari negeri Yaman.

Pada saat itu Ismail tumbuh besar di tengah-tengah komunitas suku Jurhum ini. Inilah awal asal usul terbentuknya kota Makkah.

Makna Nama Ibrahim

Dalam bahasa Syiria atau Aramik, Ibrahim itu artinya “Sang Penyeberang”. Ibrahim bisa berjalan kaki dari Babilonia (Irak) menuju Palestina. Dari Palestina ke Mesir. Dari Mesir kembali lagi ke Palestina. Dan dari Palestina menuju Makkah.

Ibrahim jika dilihat dari bahasa Arab berasal dari kata abun dan rahim. Abun artinya ayah, sedangkan rahim artinya penuh perhatian dan sangat sayang.

Karena teramat sayang dan perhatiannya, Ibrahim akhirnya sering menjenguk Hajar dan Ismail ke Mekkah. Ia ingin tahu siapa yang merawatnya, bergaul dengan siapa dan bagaimana keadaannya.

Nama-Nama Lain Kota Makkah

Dalam al-Quran, lembah Makkah disebut dalam berbagai istilah. Ada istilah al-balad al-amin (kota yang aman; negeri yang aman; negeri yang terlindungi).

Istilah itu dapat ditemukan dalam rangkaian firman Allah QS. A-Tiin: “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Mekah) ini yang aman.”

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa Tin ialah tempat tinggal Nabi Nuh yang berada di Damaskus yang banyak pohon Tin. Dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh pohon Zaitun.

Makkah juga disebut dengan nama Bakkah. Istilah ini, menurut Nurcholish Madjid, ternyata juga dipakai dalam Bible, yaitu ada dalam kitab Genesis yang melukiskan tentang bagaimana Ismail diberkati oleh Tuhan yang berjalan menuju lembah bernama Bakkah. Ini sebagai suatu ilustrasi tentang sampainya Ismail ke negeri itu.

Istilah lain untuk Mekkah yang juga digunakan dalam al-Quran adalah Ummul-Qura. Istilah ini yang sekarang dijadikan nama sebuah universitas di Mekkah, yaitu Universitas Ummul-Qura.

Sama persis artinya dengan istilah dalam bahasa Yunani yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu metropolitan. Metro artinya umm (ibu), dan politan artinya qura (kota, polis). Jadi, metropolitan atau ummul-qura adalah sama dengan ibukota. Sebab, Mekkah itu ibukota spiritual umat manusia.

Dulu Mekkah juga disebut dengan nama Macoraba. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu maqrabah yang artinya tempat melaksanakan kurban.

Dalam sejarahnya, tempat ini memang dianggap tempat suci dalam melaksanakan kurban. Menurut sumber-sumber agama yang tercampur legenda, Makkah itu sudah ada dan dikenal sejak Nabi Adam. Jadi bukan seak zaman Nabi Ibrahim.

Dengan demikian, keberadaan dan terbentuknya keadaban kota Makkah itu dihidupkan kembali oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya atas perintah dan wahyu yang disampaikan Allah kepadanya.

Sekali lagi, semua ini bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi karena proses alamaiah yang dilakukan oleh manusia. Tetapi, semua ini terjadi atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Wallahu a’lamu bi al-shawab. 



Senin, 20 Juli 2020

Kisah Tentang Gua Hira

Siapa yang tidak pangling dengan penampakan Gua Hira sekarang. Gua bersejarah bagi umat Islam itu berada di balik puncak Jabal Nur, sebuah gunung dengan tinggi 640 meter yang ada di Kota Mekah, Arab Saudi. Jaraknya sekitar 4 km dari Kabah di Masjidil Haram.

Gua yang berukuran tak lebih dari 3 meter itu merupakan salah satu situs Islam bersejarah di Kota Mekah. Di Gua Hira, Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya Alquran. Risalah terbesar umat manusia itu diperoleh Nabi Muhammad setelah menghabiskan waktunya untuk uzlah atau menyediri di Gua Hira selama beberapa hari.

Tak mengherankan jika Gua Hira di Jabal Nur menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi umat Muslim saat berhaji maupun umrah, selain tentunya Kabah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah. Saking tingginya minat kunjungan ke situs bersejarah ini, ada saja pihak-pihak yang tak bertanggungjawab dengan merusak situs dan membuat coretan/grafiti dimana-mana.

Foto: pintu masuk Gua Hira di Jabal Nur dipenuhi coretan da tulisan

Jika sebelumnya Anda pernah mendaki Jabal Nur, maka sepanjang jalan akan mendapati banyak coretan maupun tulisan di sepanjang jalur pendakian. Begitu juga ketika berada di atas puncak gunung dan sekitaran mulut gua, banyak ditemukan coretan/grafiti di atas batu-batunya.

Kini, semua coretan yang semula menempel di atas bebatuan di Jabal Nur maupun Gua Hira sudah dibersihkan. Semuanya telah direstorasi, dibersihkan dari coret-coretan sehingga batu-batunya terlihat lebih alami seperti dulu kala.

Disamping itu, bangunan-bangunan ilegal yang biasa digunakan untuk pedagang maupun tembok-tembok semi permanen yang berada di situs-situs bersejarah seluruhnya dibongkar. Yang demikian dilakukan untuk meluruskan praktik-praktik keliru para peziarah saat berada di Jabal Nur, dan mengembalikan kondisinya seperti semula.

Foto: Setelah direstorasi, Gua Hira bersih dari coretan dan tulisan

Proses pengerjaan restorasi Jabal Nur dan Jabal Tsur dilakukan sejak bulan April 2020. Prosesnya dilakukan secara bertahap, dengan tiga bagian, yakni bagian pertama adalah menghilangkan seluruh tulisan, coretan, gambar yang ada di situs Jabal Nur-Gua Hira dan Gua Tsur.

Bagian kedua, menghancurkan bangunan ilegal semi permanen, dan ketika menghancurkan bangunan kayu, tenda-tenda pedagang yang berdiri di sekitar situs. Semua tahapan dikerjakan secara stimultan selama dua bulan lebih.

Dan sekarang, dua situs bersejarah bagi umat Islam, yakni Jabal Nur--Gua Hira dan Jabal Tsur-Gua Tsur yang bertahun-tahun dipenuhi coret-coretan kini sudah bersih. Kondisinya dikembalikan seperti bentuk aslinya.

Foto: Setelah direstorasi, Gua Hira bersih dari coretan dan tulisan

Sebelumnya, Wali Kota Mekah, Muhammad Al-Quwaihes mengatakan semua tulisan dan coretan yang berada di situ bersejarah Jabal Nur dan Jabal Tsur akan dihapus dan dibersihkan. Semua fasilitas ilegal, benda-benda dan permukiman kumuh di sekitarnya juga akan dibongkar.

"Tangga akan dibangun untuk menfasilitasi pendakian naik dan turun dari puncak gunung di mana gua berada. Semua persyaratan akan diambil untuk memastikan keamanan pengunjung dan menjaga gunung sebagai landmark alami, yang memiliki makna besar dalam sejarah Islam," katanya dilansir SaudiGazette.

Selanjutnya, otoritas Mekah akan membangun pusat informasi sejarah otentik tentang Jabal Nur--Gua Hira dan dokumentasinya. Wali Kota menyinggung beberapa praktik salah yang selama ini terjadi karena pengunjung tidak memiliki informasi yang tepat tentang Jabal Nur--Gua Hira.

"Pusat sejarah akan menjadi sumber referensi yang dapat diandalkan untuk informasi yang benar, bersama dengan dokumentasi sejarah gunung dan misi nubuwah," katanya menambahkan bahwa pusat budaya akan menampilkan sejarah gunung dan gua dari awal era Islam hingga zaman modern.

Minggu, 19 Juli 2020

Pegunungan Bersejarah di Kota Makkah

Pegunungan bersejarah di Kota Makkah adalah jendela menuju keindahan dan kemegahan kota suci. Ia menyajikan sudut pandang yang kesemuanya terfokus pada setiap aspek dari Masjidil Haram.

Kawasan pegunungan itu juga merupakan lokasi yang sempurna untuk para pelancong. Terutama pemandu, fotografer, dan peneliti untuk mendokumentasikan, menyajikan, atau belajar lebih banyak tentang kisah Makkah dari zaman Nabi Muhammad ﷺ hingga hari ini.

Jurnalis foto Saudi Abdulmohsen Doman mengatakan kepada Arab News bahwa media dan lembaga internasional menggunakan tempat-tempat yang strategis di pegunungan untuk mendapatkan bidikan terbaik Kota Makkah, terutama selama musim haji, ketika jutaan Muslim dari seluruh dunia mengunjungi kota suci.

Mahdi Nafaa Al-Qurashi, yang merupakan peneliti sejarah dan pemandu wisata Saudi, mengatakan bahwa Mekah terletak di formasi geologi Shield Arab. “Ini adalah salah satu formasi tertua di wilayah ini dan terbentuk dari batu granit yang diselingi dengan bukit batu dan lembah, dan yang terpenting adalah Lembah Ibrahim Al-Khalil,” katanya.

Al-Qurashi mengatakan bahwa fondasi Masjidil Haram dibangun dari gunung-gunung ini, khususnya Gunung Ka’bah. Gunung-gunung itu menceritakan kisah dari zaman sejarah dan dikaitkan dengan banyak peristiwa, selain hubungannya dengan sejarah Rasulullah.

Dia memaparkan bahwa Rasulullah mengumumkan kenabiannya dari puncak Bukit Al-Safa dan Gunung Abu Qubays dan Quaiqian, yang bersama-sama disebut sebagai Al-Akhshabayn. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan wahyu pertamanya dari Allah SWT di gua Hira, di Jabal Nur (Gunung Cahaya) dan tinggal di Gunung Thawr selama tiga hari. selain itu, Khadija binti Khuwaylid dimakamkan di dasar Bukit Belaskasih (Jabal Al-Rahma). “Jadi Semua gunung-gunung ini memiliki kisah dan konotasi sejarah yang hebat,” kata Al-Qurashi.

Sementara itu, Mansour Al-Dajani, yang juga adalah seorang peneliti tentang sejarah Makkah, mengatakan bahwa salah satu gunung paling terkenal di Makkah adalah Abu Qubays, yang merupakan salah satu dari Al-Akhshabayn dan disebut dalam Hadits. “Gunung itu terletak di sebelah timur Masjidil Haram, dan dikatakan sebagai gunung pertama yang diletakkan di bumi,” katanya kepada Arab News.

Gunung terkenal lainnya adalah Gunung Quaiqian, yang juga merupakan salah satu dari Al-Akhshabayn, dan dikenal sebagai Jabal Hindi. Gunung itu terletak di sebelah barat Masjidil Haram, dan disebut Quaiqian karena suara gemerincing senjata. Jabal Khendama juga merupakan salah satu gunung paling terkenal di Makkah dan terletak di belakang Gunung Abu Qubays.

Al-Dajani mengatakan bahwa gunung-gunung penting lainnya di Makkah termasuk Jabal Nur, yang terletak di timur laut di puncak Makkah, di sebelah kiri gunung yang mengarah ke Kota Mina. Ini adalah gunung tempat Nabi pertama kali menerima wahyu.

Selain itu, ada juga Gunung Thawr, yang terletak di selatan, berjarak sekitar 3 km dari Masjidil Haram. “Nabi dan Abu Bakar Al-Siddiq bersembunyi di gunung ini ketika mereka hijrah ke Madinah,” tambahnya.

Jabal Omar juga merupakan gunung yang terkenal, terletak di sebelah barat Masjidil Haram dan terbentang dari Al-Shabika ke Al-Mesfala, keduanya daerah terkenal di Makkah. Ada juga Gunung Thubair di timur, di seberang Jabal Nur.

Di sinilah tempat dimana Nabi Ibrahim AS pertama kali melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Namun, Al-Dajani menjelaskan bahwa ada beberapa perubahan terhadap sebagian dari struktur gunung-gunung tersebut di era modern ini, untuk membuat segala sesuatunya lebih mudah bagi umat Islam, dan hal itu termasuk perluasan Masjid Agung.

“Gunung Quaiqian diratakan, demi Proyek Perluasan Al-Shamiya, ekspansi ketiga Saudi. Selain itu, Jabal Omar digantikan oleh proyek Jabal Omar. Abu Qubays sekarang memiliki istana kerajaan, dan terowongan didirikan melalui Jabal Khendama untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, serta proyek kesehatan, perumahan dan hotel juga akan dibangun di sana,” kata Al-Dajani.

Selain itu, sebuah pusat budaya akan didirikan di bagian bawah Jabal Al-Nour sehingga pengunjung dapat mengakses informasi tentang Makkah dan Gua Hira. Situs ini juga akan dipersiapkan agar gunung dapat dipulihkan sebagai landmark alami karena signifikansi historisnya.



Haji 2020

Haji 2020 akan menjadi haji yang istimewa bagi 10 ribu jemaah yang terpilih menunaikan rukun Islam kelima ini. Saat ini, mereka diwajibkan melakukan karantina di rumah selama 7 hari.

Karantina rumah ini dilakukan sejak Sabtu (18/7) hingga tanggal 3 Zulhijah, sesuai dengan instruksi Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

Para jemaah ini terdiri dari 30 persen warga lokal Saudi dan 70 persen ekspatriat yang menetap di Saudi. Untuk ekspatriat, proses seleksi dilakukan setelah mereka mendaftar secara online.

Dikutip dari situs yang terkait dengan Dua Masjid Suci, Haramain Shirafain, pada Minggu (19/7), Kemenkes Saudi telah menghubungi calon jemaah haji yang lolos seleksi itu, mengunjungi rumah-rumah mereka untuk mengecek kesehatan, memberi suntikan vaksin untuk melawan demam dan influenza musiman, dan memasangi jemaah dengan 'gelang pintar'.

Setelah karantina rumah selesai, jemaah diminta berangkat ke Makkah dan meneruskan karantina selama 4 hari mulai fajar tanggal 4 Zulhijah hingga tanggal 8 Zulhijah sebelum Zuhur.

Haji 2020 Mengambil Miqat di Qarnul Manazil

Setelah itu, proses haji dimulai. Para jemaah mengambil miqat (tempat dimulainya umrah dan haji) di Qarnul Manazil di Taif pada tanggal 8 Zulhijah. Di lokasi yang terletak 90 km timur Makkah ini, jemaah mulai memakai pakaian ihram.

Dan setelah pemeriksaan medis beres, mereka dibawa ke Mina dan tinggal di menara-menara Mina, bukan di tenda. Jarak Makkah ke Mina sekitar 10 km.

Di sini dilakukan finalisasi dengan melakukan survei medis terakhir untuk mendapatkan persetujuan dari otoritas yang berwenang.

Haji 2020 dilaksanakan di tengah pandemi virus corona. Arab Saudi menerapkan protokol kesehatan ketat untuk mencegah penularan COVID-19. Mulai hanya memilih jemaah yang sehat dan tidak memiliki sakit kronis, mewajibkan memakai masker sepanjang waktu, jaga jarak per jemaah 1,5 hingga 2 meter, dan larangan menyentuh Ka’bah dan Hajar Aswad.

Jemaah juga diwajibkan menjalani karantina sebelum pelaksanaan ibadah haji seperti yang dilakukan sekarang dan karantina juga dilakukan setelah ibadah haji selesai awal bulan Agustus 2020. 


Kamis, 16 Juli 2020

Tentang Kiswah Kabah

Kain penutup Kakbah (kiswah) diangkat setinggi tiga meter, pada Kamis malam (19/7/2019). Pengangkatan kiswah Ka'bah menjadi tanda dimulainya  musim haji 1440 Hijriah.

Mengutip akun instagram Reasahalharamain atau pengelola dua masjid di Tanah Suci, menyatakan kain penutup Kakbah diangkat selepas Salat Isya.

"Kain penutup Ka'bah diangkat setinggi tiga meter, dalam rangka menyambut musim haji," bunyi akun media sosial pengelola Masjidil Haram.

Berdasarkan maklumat pengelola Masjidil Haram, pengangkatan kiswah Kakbah untuk memelihara dan menjaga kebersihan kiswah, menghindari dari aksi merusak atau memotong kain kiswah.

Serta mencegah sebagian jemaah haji untuk mengkultuskan dan mengharap berkah dari kiswah.

Sebagai informasi, Kiswah biasanya diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah, atau pada hari ketika jemaah haji berada di Arafah. Nama kiswah dalam bahasa Arab berarti 'selubung'.

 

Kain Kiswah Kakbah Diangkat Sebagai Tanda Permulaan Musim Haji 2019. Instagram
 
Kain Kiswah Kakbah Diangkat Sebagai Tanda Permulaan Musim Haji 2019. Instagram

Kain kiswah diangkat setinggi tiga meter dari area tawaf. Kain putih kemudian dipakai untuk menutupi bagian yang terbuka di setiap sisinya. Kiswah ini akan kembali menutupi seluruh bagian Kakbah setelah musim haji selesai.

Konsultan Ibadah PPIH Daker Mekah, Mohammad Ulinnuha mengatakan pengangkatan kiswah Ka'bah berlangsung setiap tahun menjelang musim haji. Selain menjaga kebersihan kiswah, pengangkatan demi keamanan.

"Kain itu kan mahal, kalau ditarik-tarik rusak. Ada juga yang gunting-gunting kiswah itu kan."


Minggu, 12 Juli 2020

Kisah Tentang 3 Mujizat Nabi Ismail

BERBICARA sejarah dan kisah nabi tentu tak lepas dari mukjizat. Allah SWT memberikan bermacam mukjizat kepada nabi dan rasulnya, untuk membuktikan kekuasaan-Nya sekaligus kebenaran utusanNya. Tiap rasul beda mukjizatnya.

Salah satu mukjizat Allah untuk Nabi Ibrahim adalah tubuhnya tak terbakar saat dilempar ke kobaran api besar oleh Raja Namrud. Mukjizat Nabi Musa bisa membelah lautan. Mukjizat Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati. Mukjizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar adalah Alquran sebagai pedoman hidup manusia hingga kiamat.

Lalu, apa mukjizat Nabi Ismail a’laihissalam?

Nabi Ismail merupakan putra Nabi Ibrahim. Dari keturunannya lah nabi terakhir Muhammad SAW lahir sekaligus menutup risalah kenabian.

Berikut beberapa mukjizat Nabi Ismail dikutip dari Wikipedia dan beberapa sumber:

1. Mata Air Zamzam

Kisah munculnya air zamzam bermula ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam mendapat perintah dari Allah Subhaanahu wa Ta'ala untuk membawa istrinya Siti Hajar dan anak sematawayangnya Nabi Ismail 'alaihissalam di lembah gersang Hijaz atau sekarang Makkah.

Tak lama di sana, Nabi Ibrahim dapat perintah lagi dari Allah untuk kembali ke Syam melanjutkan dakwah. Sementara di lembah Hijaz belum ada penduduk saat itu.

Nabi Ismail yang masih bayi kehausan di tengah terik matahari karena persediaan air mereka habis. Hajar panik, ia terus berlari antara bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali mencari sumber air.

Kemudian ia mendengar ada suara yang berasal dari tempat Nabi Ismail dibaringkan di atas tanah. Hajar kaget melihat ada air yang muncul di tanah yang digeser-geser dengan tumit Nabi Ismail.

Riwayat lain menyebutkan saat itu malaikat Jibril ikut membantu menggali dengan sayapnya hingga air keluar memancar di tengah lembah yang tandus. Akhirnya Hajar dapat minum air dan menyusui Ismail kembali.

Air yang keluar itulah zamzam, tak pernah kering sampai sekarang. Ini diakui sebagai air terbaik di muka bumi.

Kemudian malaikat Jibril berkata kepadanya, “Janganlah kamu takut ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

2. Perintah untuk berkurban

Suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Ismail ‘alaihissalam. Setelah bangun, Nabi Ibrahim mendatangi anaknya dan mengungkapkan tentang mimpinya.

Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102)

Nabi Ibrahim membawa Ismail ke Mina, lalu ia taruh kain di atas muka anaknya agar ia (Ibrahim) tidak melihat muka anaknya yang dapat membuatnya terharu, sedangkan Nabi Ismail telah siap menerima keputusan Allah.

Ketika Nabi Ibrahim sudah pasrah kepada Allah dengan meletakkan pisau di leher Ismail bersiap menyembelihnya, tiba-tiba keduanya mendengar seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaafffat: 104-106)

Tidak lama setelah ada seruan itu, Nabi Ibrahim melihat malaikat Jibril dengan membawa kambing yang besar. Maka Nabi Ibrahim mengambilnya dan menyembelihnya sebagai ganti dari Ismail. Peristiwa ini kemudian menjadi hukum dalam Islam yakni perintah berkurban.

3. Membangun Kakbah

Setelah Nabi Ismail, Nabi Ibrahim datang kepadanya lalu berkata, "Wahai Ismail, Allah memerintahkanku dengan suatu perintah.” Ismail berkata, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.” Ibrahim berkata lagi, “Apakah kamu akan membantu aku?” Ismail berkata, “Ya, aku akan membantumu.” Ibrahim berkata, “Allah memerintahkan aku agar membangun rumah di tempat ini.”

Nabi Ibrahim menunjuk ke suatu tempat yang agak tinggi dibanding sekelilingnya. Di dekat tempat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah Kakbah, Ismail bekerja mengangkut batu-batu sedangkan Nabi Ibrahim yang menyusunnya (membangunnya) hingga ketika bangunan sudah tinggi, Nabi Ismail datang membawa batu itu lalu meletakkannya untuk Nabi Ibrahim agar bisa naik di atasnya sementara Nabi Ismail memberikan batu-batu.

Keduanya bekerja sambil mengucapkan kalimat doa, “Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 127). Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus membaca doa tersebut.

Setelah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail selesai membangun Ka’bah, maka keduanya berdoa, “Ya Tuhan Kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui–Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128).


Selasa, 07 Juli 2020

Pahala Berhaji

Pahala melaksanakan ibadah haji adalah surga. Nabi SAW mengabarkan, “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Haji mabrur adalah haji yang diterima (maqbul). Ciri peraih haji mabrur adalah selalu menebar kebaikan dan perbaikan sepulang melaksanakan ibadah haji.

Secara etimologi haji itu berarti menuju. Sedang secara terminologi, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, haji adalah pergi ke Tanah Suci untuk berziarah dengan cara khusus. Syaratnya, kata Syaikh Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib adalah Islam, baligh, berakal, merdeka, ada bekal dan kendaraan, aman dan mampu melakukan perjalanan.

Untuk memperoleh haji mabrur tampaknya diperlukan sejumlah kesanggupan (istitha’ah). Allah SWT mengindiskasikan hal ini, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran/3: 97). Kesanggupan, menurut pengarang Tasfir Jalalain, adalah memiliki perbekalan dan kendaraan.

Namun perbekalan dan kendaraan ini saja dipandang belum cukup, diperlukan kondisi badan yang fit dan prima baik dalam perjalanan, semasa melaksanakan ibadah haji, maupun saat kembali ke tanah air. Karena itu, ibadah haji sebaiknya dilaksanakan selagi berusia muda agar dapat leluasa melaksanakan seluruh rangkaian rukun dan kewajiban haji secara paripurna.

Tidak seperti ibadah puasa, shalat, dan zakat, ibadah haji adalah gabungan ibadah hati, badan, dan harta karena memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu, melaksanakan ibadah haji bagi orang yang berusia muda tampaknya lebih mudah ketimbang orang yang berusia tua. Untuk itu menabung agar bisa beribadah haji selagi muda harus menjadi prioritas.

Beribadah haji selagi muda tidak hanya berefek positif bagi kehidupan pribadi, tapi juga kehidupan sosial. Para haji muda diharapkan berperan aktif di dalam kehidupan masyarakat sebagai role model dan agen perubahan. Harus ada yang menghapus stigma bahwa seorang haji itu adalah orang tua yang lemah secara fisik dan hanya menjalin ibadah vertikal ke langit.

Nabi SAW menganalogikan pahala haji mabrur setara dengan jihad, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Apakah berarti kami harus berjihad?” Nabi SAW menjawab, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari). Jihad dengan demikian identik dengan usia yang masih muda dan gagah berani.

Haji adalah pralambang kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu beribadah haji seperti pelaksanaan furgatorio (proses pemurnian) menuju paradiso (surga). Nabi SAW bersabda, “Barangsiap berhaji ke Baitullah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat fasik maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).

Jadi sosok peraih haji mabrur secara ideal adalah berusia muda, saleh ritual dan sosial, dan suci. Peraih haji mabrur ini diharapkan mampu merevivalisasi Islam dan masyarakat muslim. Seperti ungkapan Bung Karno, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Untuk itu mari kita gelorakan ajakan beribadah haji ini seperti halnya dilakukan oleh Nabi Ibrahim ribuan tahun silam yang diabadikan Alquran. “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj/22: 27).

Ayat ini lagi-lagi meniscayakan beribadah haji itu dilaksanakan selagi masih muda agar mampu berjalan kaki, mampu berada di dalam kendaraan selama berjam-jam, dan mampu berdesak-desakan dengan saudara sesama muslim yang datang dari negeri yang jauh. Insya Allah “pahala sosial” melakukan ibadah haji di usia muda lebih besar.

@