Selasa, 07 April 2020

Gua Hira

1. Terletak di sebuah Gunung Jabal Nur

Letak gunung yang berarti cahaya ini kira-kira 4 km arah timur laut dari Masjidil Haram, Makkah. Lebih tepatnya berada di jalur jalan Thaif (Sael). Ketinggian gunung ini tidak terlalu tinggi yakni di angka 281 m dengan panjang track pendakian sekitar 645 m.

2. Kontur gunung berupa bebatuan

Meski tidak terlalu tinggi, tetapi medan yang harus dilalui lumayan berat karena berupa bebatuan mulai dari yang ukuran kecil sampai yang berukuran besar. Bebatuan ini dapat berguguran sewaktu-waktu sehinngga untuk mencapai titik di mana Gua Hira berada harus ekstra hati-hati.

3. Telah dibuatkan anak tangga ke Gua Hira

Jalur di badan gunung menuju ke Gua Hira memang sudah dibuatkan anak tangga. Tetapi, bagi para pendaki tetap harus berhati-hati lebih lagi dalam mengatur energi supaya tidak cepat habis. Maklum, keadaan cuaca di gunung ini terasa panas sehingga rawan akan dehidrasi.

4. Terdapat tiga pos pendakian menuju Gua Hira

Layaknya gunung seperti yang ada di Indonesia, jalanan menuju Gua Hira juga sudah disiapkan pos di tiga titik untuk beristirahat. Pos-pos ini berbentuk gazebo sehingga cocok untuk sejenak memulihkan energi.

5. Celah sempit untuk menuju ke Gua Hira

Berada di punggung Gunung Jabal Nur, Gua Hira memiliki celah dan lorong sempit untuk dilewati. Oleh sebab itu, para jemaah yang hendak memasukinya harus bergantian dengan jemaah lainnya.

6. Ukuran gua tergolong kecil

Jangan bayangkan Gua Hira memiliki stalakmit dan sejenisnya, sebab gua ini hanya berukuran panjang kurang lebih 3 m, lebar 1,5 m serta tinggi kurang lebih 2 m.

7. Tidak menjadi tempat dalam rangkaian ibadah haji

Meski termasuk tempat yang bersejarah untuk napak tilas, Gua Hira tidak termasuk tempat dalam rangkaian ibadah haji yang wajib dikunjungi. Hal ini berbeda dengan tempat-tempat lain seperti Padang Arafah, Mina atau Muzdalifah.


Senin, 06 April 2020

Kisah Sayyidina Abdullah

Ketika usianya dianggap cukup dewasa dan matang, Abdul Muthalib meminang Sayyidah Aminah untuk anaknya, Sayyidina Abdullah. Saat itu keduanya datang ke rumah orang tua Sayyidah Aminah, Wahab bin Abdu Manaf. Usai menyampaikan maksud dan tujuannya, Sayyidah Aminah dan ayahnya menerima pinangan mereka dengan suka cita.

Pesta pernikahan digelar tidak lama setelah itu. Diriwayatkan bahwa pesta pernikahan berlangsung selama tiga hari tiga malam. Sesuai dengan adat masyarakat Makkah ketika itu, Abdullah tinggal di rumah mertuanya selama masa resepsi tersebut. Pada hari keempat, Abdullah dan istrinya baru pindah ke rumah yang telah disiapkan. Abdullah diriwayatkan berusia 24 tahun ketika menikahi Aminah.

Kebersamaan Abdullah dan Aminah hanya berlangsung selama beberapa hari saja, sekitar 10 hingga 15 hari. Abdullah harus berangkat ke Gaza dan Syam untuk berdagang bersama dengan kafilahnya Suku Quraisy. Bagi suku keluarga Nabi Muhammad, berdagang ke Syam adalah sebuah tradisi yang ‘harus’ dilakukan karena hanya sekali dalam setahun. Hasil perdagangan kafilah dagang Quraisy tidak hanya untuk yang ikut saja, tapi juga dibagikan kepada seluruh anggota suku. Atas dasar itu, Allah memuji Suku Quraisy dalam Al-Qur’an Surat Qurasy.

Kafilah dagang Quraisy kembali ke Makkah setelah sebulan lebih berdagang ke Syam dan Gaza. Namun tidak ada Abdullah dalam rombongan tersebut. Ia jatuh sakit di tengah perjalanan sehingga harus tinggal di Madinah untuk berobat. Riwayat lain menyebutkan bahwa Abdullah singgah di rumah saudara ibunya di Madinah, setelah dari Gaza. Tapi ketika hendak balik ke Makkah bersama kafilah, dia jatuh sakit di tempat pamannya itu.

Kafilah dagang Quraisy tetap melanjutkan perjalanan pulang. Sesampai di Makkah, mereka memberitahu Abdul Muthalib bahwa anaknya tengah sakit. Abdul Muthalib kemudian mengutus anaknya, Al-Harits, untuk menemani dan menjemput Abdullah ketika sehat nantinya. Namun ketika sampai di Madinah, Al-Harits mendapatkan kabar bahwa Abdullah telah wafat dan dikuburkan di sana. Al-Harits kembali ke Makkah dengan membawa kabar pilu dan sedih. Tidak diragukan lagi, kabar tersebut menyayat hati Abdul Muthalib dan Aminah.

Abdullah wafat meninggalkan istri, Aminah, yang tengah mengandung buah hatinya. Disebutkan bahwa Aminah baru menyadari kalau haidnya terhenti sebulan setelah kepergian suaminya ke Syam dan Gaza untuk berdagang.

Abdulloh mewariskan harta peninggalan yang terdiri dari lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan, Ummu Aiman. Seseorang yang kelak mengasuh Nabi dan Nabi menganggapnya sebagai ibu kedua.

Bisa jadi peninggalan itu menunjukkan bahwa Abdullah adalah seorang kelas menengah, tidak kaya dan juga tidak miskin. Namun yang pasti, di usianya yang masih cukup muda, 25 tahun, Abdullah sudah mampu bekerja, berusaha mencari kekayaan, hingga akhirnya memberikan harta peninggalannya untuk keluarganya.

Ummu Aiman

Nama asli Ummu Aiman adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amr bin Hashan bin Malik bin Salamah bin Amr bin Nu’man. Ia seorang kulit hitam dan berasal dari negeri Habasyah (sekarang Ethiopia). Ia juga bukan orang terpandang dan tidak memiliki keluarga yang terkemuka. Namun demikian, Nabi Muhammad sangat menghormati Ummu Aiman karena dedikasinya. Bahkan, beliau menganggap Ummu Aiman sebagai ibu keduanya, setelah Aminah binti Wahab.

“Ummu Aiman adalah ibu setelah ibuku (Aminah binti Wahab),” kata Nabi Muhammad. 

Ummu Aiman adalah ‘harta peninggalan’ ayah Nabi Muhammad, Abdullah. Ia memang dipersiapkan untuk melayani Aminah yang saat itu sedang mengandung bayi Nabi Muhammad. Semenjak Nabi lahir, Ummu Aiman menjadi pelayan utama. Ia terus menjaga dan tinggal bersama Nabi, baik ketika tinggal di rumah Abdul Muthalib, di rumah Abu Thalib, di rumah Khadijah, bahkan ketika di Madinah.


Isra Mi'raj

Isra' Mi'raj agaknya sulit dinalar secara logika karena keterbatasan akal manusia, namun peristiwa ini bisa diterima ketika kita menggunakan keyakinan iman. Begitulah Islam mengajarkan hakikat dan keimanan.

Apa yang dialami Nabi Muhammad (SAW) saat Isra' wal Mi'raj ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi.

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui." (QS. Al-Isra': 1)

Kiyai Naziri Alfansuri dalam satu kajian di Masjid Ar-Rahman, Perumahan Bumi Mas Raya Cikokol, Tangerang, mengatakan, Isra' Mi'raj adalah peristiwa agung yang di dalamnya terdapat hikmah luar biasa.

Isra' artinya perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsha Palestina. Ketika beliau melakukan Isra ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha), di sana beliau memimpin salat bersama para Nabi dan Rasul. Allah menjadikan tempat salat Nabi itu bisa menampung 124.000 Nabi. Masya Allah Tabarakallah.

Sedangkan Mi'raj adalah perjalanan dari Baitul Maqdis menuju Sidratul Muntaha hingga bertemu dengan Allah 'Azza wa Jalla. Di sinilah Rasulullah SAW menerima perintah salat 50 waktu dalam sehari. Namun akhirnya Allah yang Maha Pengasih memberi keringanan salat 5 waktu dalam sehari. Subhanallah.

Dalam perjalanan Mi'raj itu, diperlihatkan banyak tanda-tanda kebesaran Allah. Salah satunya bertemu para Nabi pilihan Allah:

1. Di langit pertama Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam 'alaihissalam.

2. Di langit kedua Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Isa 'alaihissalam.

3. Di langit ketiga Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf 'alaihissalam.

4. Di langit keempat Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris 'alaihissalam.

5. Di langit kelima Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun 'alaihissalam.

6. Di langit keenam Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa 'alaihissalam.

7. Di langit ketujuh Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Ketika Nabi Muhammad SAW mengetuk pintu langit langsung dibukakan. Namun, ketika Rasulullah mengetuk pintu Sidratul Muntaha dengan kalimat "Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh", salam beliau tidak dijawab dan pintu tidak dibuka. Rasulullah pun menangis dan berkata kepada Malaikat Jibril, "apa salahku wahai Jibril?"

Lalu Malaikat Jibril berkata bahwa Dia (Allah Ta'ala) itu As-Salam. Rasulullah pun tersadar dan bertaubat kepada Allah Ta'ala. Lalu Rasulullah bertanya bagaimana aku memberikan salam? Kemudian Allah mengajarkan beliau dengan ucapan yang sangat indah:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ

"Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu kepunyaan Allah."

Itulah kalimat Rasulullah mengetuk pintu 'Arsy. Barulah kemudian Allah 'Azza wa Jalla menjawab:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

"Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya."

Kemudian Rasulullah SAW menjawabnya:

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

"Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang saleh."

Rasulullah mengatakan meskipun aku sendirian menghadap-Mu, para Nabi dan Malaikat mengantarku, akankah mereka mendapatkan apa yang aku dapatkan?

Apakah umatku yang tertinggal di dunia juga mendapatkan salam itu? Masya Allah, sudah sampai kepada Allah, Nabi SAW masih kepikiran umatnya. Begitulah besarnya cinta Rasulullah kepada umatnya. Namun tidak semua mendapat berkah ucapan itu, kecuali hanya umat Nabi yang menjadi hamba saleh yang dicurahkan keselamatan.

Untuk menjadi hamba Allah yang saleh syaratya harus salat. Tidak ada orang yang membaca tahiyat kecuali salat. Maka perbaikilah salat dan sempurnakanlah ia agar menjadi hamba yang saleh.

Setelah pulang dari peristiwa Isra' Mi'raj duduk di dekat Ka'bah. Ketika itu hanya sahabat setia Abu Bakar RA yang percaya dengan peristiwa yang dialami Nabi SAW itu. Apapun yang dikatakan Rasulullah, beliau percaya sehingga Abu Bakar digelari Ash-Shiddiq.

Ketika itu tidak hanya kaum kafir Makkah, kaum muslim pun bertanya-tanya soal Isra Mikra'nya Nabi. Sahabat bertanya kapan ke sana lagi? mengatakan sebenarnya Mi'raj kalian lebih mudah. Sucikan dirimu, berwudhulah dan berdiri di atas sajadah, lalu salat. Dari saat engkau berdiri hingga salam berarti engkau sudah melakukan mi'raj.

Salat itu bertemu Allah Ta'ala. Apa yang dikerjakannya merasa dilihat Allah Ta'ala itu sudah Mi'raj. Sembahlah Tuhanmu seolah-olah engkau melihatnya dan yakinlah Allah Ta'ala melihatmu.

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ

"Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya hal itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (merendahkan diri)." (QS. Al-Baqarah: 46)

Salat itu memang berat kecuali bagi orang yang khusyu', yaitu yang dalam salatnya ia merasa ketemu Robbnya. Kalau tidak salat itu tidak Mi'raj. Dari rumah ke masjid itu artinya isra'. Mi'rajnya Allah gambarkan dengan 1 raka'at salat kita.

Peristiwa melewati 7 lapis langit ini mengandung hikmah bahwa manusia melakukan 7 gerakan salat. Setiap lapis langit itulah penghormatan kita kepada Allah Ta'ala atau kepada yang dilalui .

Saat tahiyat akhir di situlah kalimat yang digunakan Rasulullah untuk mengetuk pintu 'arsy. Abdun itu artinya menghamba yang di dalamnya ada dua unsur, ruh dan jasad harus dihadirkan. Maka tidak diterima orang yang salat ruhnya ke mana-mana. Apalagi kalau sebelum shalat di hati ada dendam kepada orang lain.

"Kita akan dianggap Abdun oleh Allah apabila kita merendahkan diri serendah-rendahnya saat salat. Allah tidak akan menerima salat orang yang tidak melepaskan apa yang menempel pada dirinya. Allahu akbar itu adalah kalimat untuk memutus kesombongan kita," kata Kiyai Kiyai Naziri Alfansuri.

Apa yang kita baca saat Tahiyat adalah dialog dengan Allah Ta'ala.

الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Salat itu adalah Mi'raj bagi orang-orang yang beriman."

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓٮِٕكَتَهٗ يُصَلُّوۡنَ عَلَى النَّبِىِّ ؕ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا‏

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

(QS. Al-Ahzab:56)


Kisah Abdul Muthalib Menggali Sumur Zamzam



Nama asli Abdul Muthalib adalah Syaibatul Hamdi, karena pada suatu hari ketika Hasyim hendak pergi berdagang ke Syam melalui jalan Madinah, Ia menikahi Salma binti Amr salah satu keturunan dari Bani ‘Adi bin Najar dan dikaruniai seorang anak bernama Syaibatul Hamdi. Kemudian Hasyim meninggalkan keduanya untuk melanjutkan perjalanan menuju Syam.

Sayangnya, Hasyim meninggal dalam suatu peperangan, dan Syaibatul Hamdi pun tinggal bersama Ibunya selama tujuh tahun. Kemudian Muthalib (saudara dari dari Hasyim) membawa Syaibatul Hamdi ke Mekkah dan orang-orang Mekkah pada saat itu mengira bahwa Syaibatul Hamdi merupakan budak dari Muthalib, sehingga Syaibatul Hamdi terkenal dengan nama Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib mempunyai tanggung jawab besar setelah pamannya dalam urusan Ka’bah seperti Siqayah dan Rifadah, yaitu memberi minum para jamaah haji, yang diambil dari sumur-sumur di luar Makkah. Karena pada saat itu sumur zam-zam yang Allah karuniai kepada Nabi Ismail melalui hentakan kedua kakinya itu telah kering dan tidak diketahui lagi keberadaannya selama ribuan tahun.

Pada suatu hari, Mekah dilanda kekeringan yang mengharuskannya mencari solusi dari kekeringan tersebut, sebelum para jamaah haji datang untuk melaksanakan haji. Di tengah kebingungan yang Ia rasakan, Abdul Muthalib tidur di Hijr Ismail. Ia bermimpi ada sesorang yang menyuruhnya untuk menggali sumur zam-zam.

Ibnu Hisyam menjelaskan mengenai mimpi tersebut bahwa ketika Abdul Muthalib tidur di Hijr Ismail, beliau bermimpi ada seseorang yang mendatanginya kemudian berkata, “Galilah Thayyibah (Kebaikan)!” lalu ia bertanya, “Apa itu Thayyibah?” Namun orang itu pergi begitu saja.

Keesokan harinya ketika Abdul Muthalib sedang tidur, orang tersebut datang kembali untuk kedua kalinya seraya berkata, “Galilah Birrah (kebaikan)!” Abdul Muthalib masih tidak faham, ia menjawab, “Apa itu birrah?” Bukan malah menjawab, orang itu pergi begitu saja.

Lalu keesokan harinya orang tersebut datang untuk ketiga kali dalam mimpinya, “Galilah Madhnunah!” Abdul Muthalib kembali bertanya, “Apa itu Madhnunah?”. Orang itu pergi lagi tanpa memberi jawaban apapun.

Barulah hari keempat, orang misterius tersebut datang di mimpinya dengan perintah yang jelas, “Galilah zam-zam!” Namun demikian, kakek Rasul ini masih belum faham, ia pun bertanya kembali, “Apa itu zam-zam?”

“Air yang tidak kering dan tidak meluap, engkau dapat memberi minum para jamaah haji dengannya. Letaknya di antara kotoran dan darah, di paruh gagak yang tuli dan di sarang semut,” jawab si misterius.

Setelah mendapatkan titik terang mengenai letak dan keberadaan zam-zam, ia pun mulai menggali sumur zam-zam bersama para kabilah Quraisy.

Dalam proses penggalian zam-zam Abdul Muthalib menemukan banyak kesulitan baik dari segi penggaliannya yang sangat kering, disertai perdebatan dengan kaum Quraisy lainnya yang tidak setuju dalam penggalian sumur zam-zam, yang mereka anggap mereka juga berhak atas sumur nenek moyang mereka, yaitu Nabi Ismail AS.


Jabal Uhud

Jika kamu telah menunaikan Haji maupun Umrah di Tanah Suci Makkah, mungkin juga telah menginjakkan kaki di bukit ini, namanya Jabal Uhud, sebuah bukit yang indah menjadi tempat favorit bagi para peziarah.

Lokasinya sekitar 6 Km di sebelah utara Masjid Nabawi. Dari jauh bukit ini tampak merah berwibawa dan berkesan di hati. Bukit ini memiliki ketinggian sekitar 1.050 meter, panjangnya 7 Km dan terdiri dari batu-batuan granit, marmer merah dan batu-batu mulia.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, Jabal Uhud adalah gunung yang ada di surga. Bagi yang pernah melihat bukit ini, Insyaallah kelak akan melihatnya di surga. Keberadaan bukit ini juga mengingatkan kita akan peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam.

Pada tahun 625 di bukit ini terjadi perang besar pasukan Muslim melawan kafir Makkah yang kala itu menyerbu Madinah. Nabi dan para sahabat menghadapi kafir Quraish ini dari lereng-lereng Jabal Uhud hingga peristiwa ini disebut perang Uhud.

Kala itu, umat Islam terdiri hanya 700 orang harus menghadapi 3.000 orang kafir dengan perbekalan yang sangat banyak. Terjadilah pertempuran hebat. Pasukan kafir Quraisy pun mundur dan meninggalkan harta dan perbekalan mereka. Situasi ini dimanfaatkan 50 pemanah hebat yang berada di atas Bukit Uhud karena khawatir tak mendapat bagian.

Mereka turun dari bukit hingga lupa pesan Nabi agar mereka tidak meninggalkan Bukit Uhud. Semuanya turun kecuali komandannya Abdullah bin Jabir dan 6 pemanah lainnya. Alhasil, melihat situasi itu Khalid bin Walid (komandan Quraisy saat itu) memanfaatkan keadaan membawa pasukan berbelok dari arah belakang pasukan Islam dan terjadilah kekalahan besar.

Korban dari pasukan Islam pun berjatuhan. Perang ini menggugurkan 70 sahabat Nabi termasuk 7 pahlawan Uhud. Yang paling membuat Rasulullah SAW terpukul dan sedih adalah gugurnya Sayyidina Hamzah RA (pemimpin para syuhada). Beliau disalati sebanyak 70 kali dan jasadnya dimakamkan terpisah dengan para syuhada lainnya.

Kalau memandang perkuburan para Syuhada Uhud terlihat dua makam berbatu hitam. Itulah makam Sayyidina Hamzah dan Abdullah bin Jahsy (sepupu Nabi). Berziarah ke Jabal Uhud ini sangat dianjurkan untuk mengenang bagaimana beratnya perjuangan Nabi dan para sahabat dalam mempertahankan Islam dari serangan Kafir Quraisy. Jika mereka semua habis terbunuh saat itu, tentu hari ini kita tidak menjadi muslim dan tidak akan merasakan nikmat iman dan Islam.

Jika ingin melihat bukit yang ada di surga, maka berziarahlah ke Bukit Uhud sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda: “Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga. (HR Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain dikisahkan, Jabal Uhud ini pernah bergetar ketika Nabi Muhammad SAW berjalan di atasnya bersama Sayyidina Abu Bakar, Umar dan Utsman RA. Ketika itu Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: "Diamlah engkau Uhud, di atasmu sekarang ada Rasulullah dan orang yang selalu membenarkannya (Abu Bakar RA) dan dua orang yang akan mati syahid (Umar bin Khattan dan Utsman bin Affan).

Seketika Gunung Uhud pun diam mentaati ucapan Nabi. Dari riwayat ini kita bisa menyimpulkan betapa cintanya Gunung Uhud kepada Nabi Muhammad SAW. Terbayang gunung saja girangnya bukan main ketika Rasulullah menginjaknya.

Sejatinya kita pun harus mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi kecintaan Jabal Uhud kepada Beliau. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada manusia terpilih, Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan para sahabat.


Yang Membuat Ingin Kembali Ke Tanah Suci


Meski sudah pernah ke Tanah Suci (Makkah dan Madinah), seseorang biasanya ingin kembali ke sana. Ada saja sesuatu yang memotivasi untuk kembali ke sana.

Makkah dan Madinah adalah kota suci yang biasanya tersimpan di hati kebanyakan Muslim. Sepanjang hidupnya, seorang Muslim biasanya berniat untuk dapat ke sana, setidaknya sekali.

Dua kota tersebut menyimpan sejarah perjuangan dakwah para nabi Ibrahim misalkan, membangun Ka'bah bersama Ismail di sana. Mereka berdua juga mempertaruhkan kehidupannya demi menjalankan perintah Allah. Jejak perjuangan dakwah mereka diabadikan dalam beberapa ritual haji dan umrah, seperti melempar batu di Jamarat Mina.

Kurang lebih ada tiga hal yang membuat Muslim ingin kembali ke Tanah Suci.

Air Zamzam

Biasanya jamaah beristirahat setelah melaksanakan tawaf. Sambil berjalan santai dari tempat tawaf (mataf) menuju tempat sa'i (mas'a) jamaah biasanya menyempatkan diri meneguk air zamzam. Berdasarkan catatan sejarah, air ini merupakan anugerah Allah untuk istri Nabi Ibrahim, Hajar, dan anaknya Ismail, yang kelelahan pada masa awal menempati Makkah.

Air itu terus memancar hingga detik ini. Jamaah haji dan umrah pasti membawa air tersebut sebagai oleh-oleh.

Ka'bah

Bangunan berbentuk kubus berbalut kiswah hitam itu adalah kiblat umat Islam. Di mana pun umat Islam berada pasti akan menghadap ke Ka'bah ketika melaksanakan shalat.

Ketika berziarah ke Makkah, umat Islam biasanya melaksanakan umrah. Setelah berihram di miqat dan berniat haji atau umrah, jamaah akan bertawaf di Masjidil Haram.

Jamaah biasanya menyempatkan diri menempelkan badan di Ka'bah untuk berdoa. Ketika itu biasanya mereka menangis haru karena melihat langsung bangunan warisan Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai bapak para nabi. Setelah itu mereka melaksanakan sa'i dan bertahalul.

Raudhah Raudhah

Raudhah Raudhah adalah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar Masjid Nabawi di Madinah. Area ini ditandai dengan karpet berwarna hijau. Pada musim haji (Dzulqaidah--Dzulhijah) dan umrah (puncaknya pada Ramadhan), Raudhah menjadi tempat yang paling dinikmati.

Di sana jamaah mendirikan shalat sunah dan berzikir.Berdasarkan hadis, barang siapa yang berdoa di raudhah akan dikabulkan oleh Allah.

Setiap Muslim bercita-cita untuk dapat mengunjungi Tanah Suci karena itu merupakan bagian dari ajaran Islam yang dianjurkan (untuk berumrah, bahkan wajib (untuk berhaji). Namun, kewajiban itu akan gugur jika seseorang dikategorikan tak mampu.


Kisah Halimah As-Sadiyah Pengasuh Nabi - Pengetahuan

Pada saat itu sedang masa paceklik, Halimah dan keluarganya tidak memiliki apapun untuk dimakan. Akhirnya ia bersama suaminya yang bernama Harits bin Abdul ‘Uzza memutuskan untuk keluar dari tempat tinggalnya dan mencari bayi- bayi yang bisa disusui. pengasuh nabi

Perempuan bernama Halimah binti Abu Dzu’aib As-Sa’diyah ini berangkat bersama dengan para perempuan bani Sa’ad yang juga mencari bayi untuk disusui. Halimah pergi dengan suaminya dan membawa bayi kecil yang masih disusui, ia menunggangi keledai betina serta membawa unta yang sudah tua.

Dalam perjalanan, mereka tidak bisa tidur karena tangisan bayi mereka yang kelaparan. Sedangkan ASI Halimah tidak mencukupi dan unta tua pun sudah tidak lagi mengeluarkan susu. Namun Halimah tetap mengharapkan pertolongan dan jalan keluar. Halimah terus mengendarai keledainya yang sudah tidak kuat lagi. Ia dan suaminya menghabiskan perjalanan paling lama di antara yang lain, hal ini membuatnya semakin letih, hingga pada akhirnya ia sampai di Mekah.

Bangsa Arab pada masa itu memiliki tradisi mencari para perempuan untuk menyusui bayi- bayi mereka. Hal ini bertujuan untuk menghindari bayi dari serangan penyakit dan supaya bayi mereka kuat, serta dapat menguasai bahasa mereka yang masih orisinal.

Sesampainya di Mekah, semua perempuan sudah mendapatkan bayi untuk disusui, kecuali Halimah. Saat itu ada bayi yatim bernama Muhammad, para perempuan sudah ditawari untuk menyusui bayi tersebut, namun mereka semua menolaknya karena hawatir tidak mendapatkan bayaran.

“Apa yang bisa kami harapkan dari Ibu dan kakek dari bayi yatim ini?” ujar para perempuan tersebut.

Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke negerinya. Saat itu Halimah belum mendapatkan bayi, ia berkata pada suaminya, “Demi Allah, aku tidak rela pulang bersama teman-temanku tanpa membawa bayi, aku akan mengambil anak yatim itu.”

“Aku tidak melarangmu untuk itu, semoga bayi itu membawa keberkahan bagi kita,” jawab sang suami.

Halimah membawa bayi Muhammad bersamanya. Ketika Halimah menyusuinya, ASI Halimah melimpah sebanyak apapun bayi tersebut dapat meminumnya, sampai akhirnya kenyang dan tertidur. Lalu Halimah meletakkannya dan menyusui bayi kecilnya, bayi Halimah pun juga menyusu hingga kenyang. Akhirnya keduanya tertidur dengan pulas, padahal sebelumnya, bayi kecil Halimah tidak bisa tidur karena kelaparan. Suami Halimah pergi ke unta tua miliknya dan susu unta tersebut penuh hingga mereka dapat meminumnya.

Ketika dalam perjalanan, Halimah selalu berada pada posisi terdepan. Hingga perempuan bani Sa’ad lainnya berkata padanya, “Hey, berjalanlah dengan pelan, bukan ini keledai yang waktu itu kelelahan?”

“Ya,” jawab Halimah sang pengasuh nabi.

Demikianlah bayi Muhammad membawa keberkahan, hingga tidak satu pun dari teman- temannya dapat mengejar Halimah dan keluarganya.

Mereka pun akhirnya tiba di perkampungan Bani Sa’ad. Tempat tersebut merupakan tempat yang paling tandus. Namun saat Halimah baru saja tiba di rumahnya, kambing- kambingnya kembali dalam keadaan kenyang dan susunya penuh, hingga ia dapat memerah dan meminumnya.

Di tempat lain, perempuan- perempuan Bani Sa’ad juga memerah kambingnya, namun tidak keluar setetes pun. Hal ini membuat orang-orang yang menyaksikan berkata kepada para penggembalanya, “Ikutilah kemanapun kambing putri Abu Dzuaib digembala.”

Namun hal itu tetap saja tidak membawa perubahan, kambing- kambing para perempuan tersebut tetap kelaparan dan tidak mengeluarkan susu. Sedangkan kambing Halimah selalu kenyang dengan susu yang yang melimpah. Hal tersebut terus berjalan selama hampir dua tahun sampai Halimah menyapih Nabi Muhammad SAW.

Muhammad tumbuh tak seperti anak-anak pada biasanya. Belum genap usia dua tahun, tubuhnya besar dan beliau menjadi anak yang tegap. Halimah menemui keluarga nabi Muhammad untuk mengembalikannya pada ibunya, namun Halimah masih berharap bayi tersebut masih tinggal bersamanya.

Sesampainya di Mekah, Halimah memohon agar bayi Muhammad tetap tinggal bersamanya, dan pada akhirnya Ibu Rasulullah mengizinkannya. Rasulullah tinggal bersama Halimah sampai umurnya mencapai empat (lima) tahun. Setelah itu, Halimah tak lagi menjadi pengasuh nabi.

Halimah dan Harits memiliki satu putra dan dua putri, yaitu Abdullah bin Harits, Unaisah binti Harits, dan Judzamah binti Harits yang terkenal dengan Asy-Syima’. Selain itu sepupu nabi Muhammad yang bernama Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muttalib juga disusui Halimah, sehingga ia juga merupakan saudara sepersusuannya.

Dalam al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa sebelumnya Rasulullah SAW juga pernah disusui oleh Suwaibah, budak dari Abu Lahab. Suwaibah memiliki anak bernama Masruh. Selain itu Suwaibah juga menyusui paman nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Muttalib dan menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi.