Senin, 06 April 2020

Cerita Corona di Makkah dan Madinah

Wabah virus corona yang menggemparkan dunia membuat beberapa negara menutup akses pendatang yang masuk ke negaranya. Salah satu negara yang membatasi pendatang asing adalah Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi sempat menolak jemaah umrah untuk sementara waktu. Tanah Suci tersebut mendadak sepi dan tak ada kegiatan. Berikut beberapa potret Ka'bah sebelum dan saat ditutup karena virus corona.

1. Suasana Ka'bah yang selalu ramai jemaah dari berbagai negara sebelum virus corona menyerang.

2. Namun, pada 4 Maret lalu, Arab Saudi menangguhkan semua jemaah umrah untuk mencegah penyebaran virus corona.

3. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ditutup dari satu jam setelah salat Isya per 5 Maret 2020.

4. Pemerintah membangun pagar di sekitar Kabah untuk mencegah virus corona menempel pada kainnya.

5. Suasana Kabah dan Mekkah yang sepi pun menjadi sorotan dunia. Tampak tak ada kegiatan sama sekali.


6. Jemaah yang memakai kain ihram pun gak diizinkan masuk Masjidil Haram.

7. Selama ditutup, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi disterilisasi di luar waktu salat.

8. Area makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khatab juga ditutup.

9. Area untuk ibadah Sai yang dilakukan dengan berlari dari Bukit Safa-Marwah juga ditutup hingga penagguhan dicabut.

10. Selama masa penutupan, jemaah setempat diizinkan berdoa di Masjidil Haram, tetapi akses menuju air zamzam ditutup.

Semoga wabah virus corona segera hilang. Sehingga tak ada lagi kegiatan yang terganggu, termasuk umrah. 

Pilar di Madinah - Pengetahuan

Setidaknya ada 232 buah pilar atau tiang di Masjid Nabawi. Di antara ratusan pilar tersebut, ada beberapa pilar yang memiliki sejarah dan arti khusus. Meskipun beberapa kali mengalami perluasan –Alhamdulillah-, tempat-tempat tiang-tiang ini tetap terjaga. Sekarang, tiang-tiang itu diberi tanda untuk dikenali para peziarah.

Pada masa Rasulullah ﷺ, tiang-tiang Masjid Nabawi terbuat dari pohon kurma. Tiang-tiang tersebut terletak di Raudhah Syarifah yang luasnya 144 m2. Berikut ini adalah nama-nama tiang (usthuwaanah) yang berada di dalam Raudhah Masjid Nabawi:

  1. Al-Usthuwaanah al-Mukhalqah
  2. Al-Usthuwaanah al-Qur’ah atau Usthuwaanah Aisyah
  3. Usthuwaanah At-Taubah/Usthuwaanah Abu Lubabah
  4. Usthuwaanah As-Sarir
  5. Usthuwaanah Al-Haras
  6. Usthuwaanah al-Wufud

Banyak orang yang mengunjungi masjid Nabi tidak menyadari pilar ini atau tidak mengetahui latar belakang sejarahnya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan gambaran tentang letak dan latar belakang sejarah tiang-tiang tersebut. Dan jika Anda ditakdirkan berkunjung ke Masjid Rasulullah ﷺ, Anda akan lebih meresapi jejak-jejak Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di sana:

Pertama: Ustuwanaah al-Mukhallaqah

Makna dari al-Mukhallaqah adalah al-Muthayyabah yang diberi minyak wangi. Dari kata al-khaluq yang artinya parfum.

Jabir bin Abdullah mengatakan, “Orang pertama yang memberi wewangian pada Masjid Nabawi adalah Utsman bin Affan radhillahu ‘anhu. Ketika orang-orang Khaizuran datang berhaji pada tahun 70 H, diperintahkan agar masjid diberi wewangian. Yang menangani pemberian wewangian pada masjid ini adalah seorang wanita. Maka dia memberi wewangian seluruh bagian masjid termasuk kamar Nabi ﷺ”.

Diriwayatkan dari as-Samhudi dari Ibnu Zubalah bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat wajib di tiang ini selama beberapa belas hari setelah perubahan arah kiblat.

Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anhu mengupayakan untuk shalat di tiang ini. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, “Aku melihat Rasulullah ﷺ biasa shalat di tiang ini”.

Dan hingga sekarang, khususnya bagian raudhah Masjid Nabawi, dibersihkan dengan air mawar setiap hari.

Kedua: al-Usthuwaanah al-Qur’ah atau Ustuwanaah Aisyah

Pilar ini juga disebut “Utswaanah Qur-ah” atau tiang undian. Tiang ini juga disebut dengan tiang Muhajirin. Karena sahabat-sahabat Muhajirin sering duduk di dekatnya. Tempat ini awalnya digunakan Nabi ﷺ sebagai tempat shalat.

Tiang Aisyah
Tiang Aisyah terletak di tengah al-Rhaudhah asy-Syarifah. Yaitu tiang ketiga jika dihitung antara dinding makam Rasulullah ﷺ dan mimbar nabi. Tiang ini dinamai dengan “Usthuwaanah Aisyah” sebagai pengingat dan penghormatan kepada perjuangan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha dalam penyebaran Islam.


Ketiga: al-Usthuwaanah At-Taubah/Usthuwaanah Abu Lubabah

Tiang ini merupakan tiang keempat dari mimbar, yang kedua dari kubur, dan yang ketiga dari arah kiblat. Tiang ini disebut tiang Abu Lubabah, yakni seorang sahabat Nabi ﷺ yang namanya adalah Rifa’ah bin Abdul Mundzir.

Pada Perang Bani Quraizhah, Rasulullah ﷺ mengutus Abu Lubabah radhiallahu ‘anhu kepada Bani Quraizhah. Melihat kedatangan Abu Lubabah, orang-orang Yahudi; laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berlarian kepadanya. Kemudian mereka menangis hingga Abu Lubabah merasa iba pada mereka. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berkata kepada Abu Lubabah, “Hai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu kalau kami tunduk kepada hukum Muhammad?” Abu Lubabah menjawab, “Ya”. Abu Lubabah berkata seperti itu sambil memberi isyarat dengan tangan ke tenggorokannya, yang artinya siap-siaplah kalian mati.

Abu Lubabah menyesali apa yang ia ucapkan. Ia berkata, “Aku tidak beranjak dari tempatku ini hingga Allah menerima taubatku atas perbuatanku. Aku berjanji kepada Allah agar selama-lamanya tidak diperlihatkan pada negeri yang di dalamnya aku pernah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya”.

Ibnu Hisyam mengatakan, “Abu Lubabah mengikat diri pada tiang masjid selama enam hari. Pada masa itu, istrinya datang di setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa mengerjakan shalat. Usai shalat, ia kembali mengikat diri”.

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, berkata, “Taubat Abu Lubabah diterima Allah”. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada Abu Lubabah?” Beliau ﷺ bersabda, “Silakan, jika engkau mau”. Ummu Salamah berdiri di depan pintu kamarnya –itu terjadi sebelum hijab diwajibkan– kemudian berkata, “Hai Abu Lubabah, bergembiralah, karena Allah telah menerima taubatmu”. Para sahabat pun mengerumuni Abu Lubabah untuk melepaskan ikatannya, namun ia berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak mau, hingga Rasulullah sendiri yang melepaskanku dengan tangannya”. Ketika Rasulullah ﷺ, keluar untuk menunaikan shalat subuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah, kemudian melepaskan ikatannya’.

Keempat: Usthuwaanah as-Sarir (ranjang)

As-sarir artinya ranjang. Di tempat ini Rasulullah ﷺ biasa beriktikaf. Beliau letakkan tempat tidurnya yang terbuat dari pelepah kurma, lalu berbaring di tempat ini. Karena itulah tiang ini dinamakan tiang as-sarir. Tiang ini terletak di sebelah Timur tiang Abu Lubabah.

Di belakang (bila dilihat dari sisi Utara) tiang as-sarir, berdiri kokoh tiang al-Haras (penjagaan). Apabila berjumpa dengan masyarakat, Rasulullah duduk di tempat ini dan dijaga oleh para sahabatnya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah yang paling sering menjaga beliau. Karena itu pula tiang ini dinamakan tiang Ali. Ketika Allah ﷻ menurunkan firman-Nya,

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 67).

Keenam: Usthuwaanah al-Wufud

Dari sisi utara, tiang ini terletak di belakang tiang al-Haras. Rasulullah ﷺ biasa duduk di sini tatkala menyambut para utusan dari bangsa Arab yang datang ke Madinah.

Denah Masjid Nabawi


Penutup

Tempat-tempat ini mengingatkan kita kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Dulu, beliau ﷺ dan para sahabatnya pernah shalat, duduk, dan bercakap di tempat-tempat ini. Sebagaimana Abu Bakar pernah teringat Nabi ﷺ satu tahun setelah beliau wafat. Abu Bakar naik ke atas mimbar kemudian mengucapkan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah berdiri di tempat aku berdiri sekarang…” lalu beliau menangis karena teringat akan Rasulullah ﷺ.

Pada zaman Umar bin al-Khattab, saat ia dan kaum muslimin masuk ke wilayah Syam, di waktu shalat Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan. Saat sampai lafadz “asyhadu anna Muhammad Rasulullah” semua kaum muslimin menangis. Mereka teringat saat Bilal mengumandangkan adzan di masa Rasulullah ﷺ.

Karena itu, tiang-tiang ini adalah sebagai penambah cinta dan rindu kepada Rasulullah ﷺ. Menggairahkan kembali cinta yang mulai rapuh karena kelalaian kita. Dan tentu tidak layak, kita jadikan tempat-tempat ini untuk meminta-minta kepada Rasulullah ﷺ. Karena kita hanya beribadah kepada Allah SWT. 


Kisah Nabi Yunus - Pengetahuan

Dikisahkan, setelah menyampaikan ancaman turunnya azab kepada kaumnya, Nabi Yunus ‘alaihissalam kemudian berjalan hingga di sebuah pesisir. Rupanya, kepergian Yunus ‘alaihissalam tanpa seizin Allah. Makanya, Dia menggambarkan sang nabi dengan “melarikan diri,” sebagaimana dilansir Al-Qur’an, “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan,” (QS Ash-Shaffat [37]: 139-140).

Meski demikian, Nabi Yunus ‘alaihissalam tentu ridha terhadap segala ketentuan Allah. Ia menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Ini artinya, seorang hamba tidak boleh marah atau kesal atas ketentuan Tuhannya. Karena itu, ia pergi meninggalkan kaumnya tanpa seizin Tuhannya. Atas dasar itu pula, Allah melarang Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihissalam menjadi seperti nabi yang pernah ditelan ikan (Nabi Yunus ‘alaihissalam), sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya),” (QS Al-Qalam [68]: 48).

Setiba di pantai, Nabi Yunus ‘alaihissalam bertemu sekelompok orang yang berada di kapal. Karena mengenali sang nabi, mereka pun membawanya. Namun, setelah beberapa saat berlayar, kapal yang ditumpangi sang nabi mendadak berhenti dan tak bisa melanjutkan perjalanan. Aneh sungguh aneh, sebab kapal-kapal yang ada di kiri dan kanannya tetap berlayar seperti biasa. Sementara kapal yang ditumpangi Nabi Yunus ‘alaihissalam hanya terombang-ambing di atas air. Tak berjalan sedikit pun.

Sebagian riwayat mengatakan, kapal diterpa guncangan hebat, sehingga mereka takut bila kapal tenggelam. Namun Nabi Yunus ‘alaihissalam menyadari jika diamnya kapal akibat keberadaan dirinya. Disampaikanlah kepada para awak kapal bahwa kapal tersebut tak mau bergerak karena ditumpangi seorang hamba yang lari dari tuhannya, “(Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan,” (QS Ash-Shâffât [37]: 140). Karenanya, kapal tidak akan berjalan selama hamba tersebut berada di atasnya. Sehingga ia harus dilemparkan ke tengah lautan agar kapal bisa kembali berlayar seperti kapal lainnya. Namun, mereka menolak melemparkan Nabi Yunus ‘alaihissalam, karena tahu bagaimana kemuliaannya di hadapan Allah. Walau bagaimana pun, ia seorang nabi-Nya.

Akhirnya, Nabi Yunus ‘alaihissalam menawarkan jalan keluar, “Coba adakanlah undian di tengah kalian. Siapa nama yang keluar dari undian, dialah yang harus terlempar ke lautan.” Dilaksanakanlah undian, dan hasilnya adalah nama Nabi Yunus ‘alaihissalam. Namun mereka enggan melemparkannya. Mereka kembali mencoba untuk kedua kalinya. Hingga ketiga kalinya, hasilnya tetap sama. Undian jatuh kepada Nabi Yunus ‘alaihissalam. Sungguh kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya, Kemudian Yunus ikut undian dan dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu,” (QS Ash-Shâffât [37]: 141).

Begitu mengetahui hasil undian, Nabi Yunus ‘alaihissalam tak ragu menghempaskan diri ke lautan. Namun, belum juga menyentuh air, tubuh Nabi Yunus ‘alaihissalam sudah lebih dulu disambar ikan besar. Sehingga, para penumpang lain pun yakin bahwa Sang Nabi tidak akan selamat dari kematian, sebagaimana dilansir dalam Al-Qur’an, Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela, (QS Ash-Shâffât [37]: 141).

Maksud dalam keadaan tercela di sana adalah Nabi Yunus ‘alaihissalam meninggalkan kaumnya dalam keadaan kesal karena azab tak kunjung datang menimpa mereka. Yang akhirnya, ia lari dari mereka tanpa seizin Tuhannya.

Begitu ikan menyambar tubuh Nabi Yunus ‘alaihissalam, Allah memerintah ikan tersebut untuk tidak membinasakan hamba-Nya. Tak heran bila ikan itu hanya membawa Sang Nabi ke dasar lautan, sehingga diliputi beberapa kegelapan, yakni kegelapan laut, kegelapan perut ikan, dan kegelapan malam, Maka ia menyeru dalam beberapa kegelapan, (QS Al-Anbiyâ [21]: 87).

Dalam perut ikan tersebut Nabi Yunus ‘alaihissalam mendengar tasbih kerikil dan hewan-hewan laut. Maka, ia pun menyeru dan bertasbih kepada-Nya seraya mengakui dan menyesali segala kesalahannya, Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim,” (QS al-Anbiyâ [21]: 87).

Maka terdengarlah seruan itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui segala rahasia, Dzat Yang Maha Mengangkat madarat dan ujian, Dzat Yang Maha Mendengar suara selemah apa pun, Dzat Yang Maha Mengetahui perkara samar walau sekecil apa pun, Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan meskipun besar, Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kesdihan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman, (QS al-Anbiyâ [21]: 88). (Ibnu Katsir, Al-BidAyah Wan-Nihâyah, jilid 1, hal. 233).

Andai bukan karena tasbih dan taubatnya kepada Allah, niscaya ia sudah hancur dalam perut ikan, dan tinggal menunggu hari kebangkitan, Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit, (QS Ash-Shaffat [37]: 143-144).

Setelah Nabi Yunus ‘alaihissalam berdoa, Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya di tempat yang diperintahkan-Nya. Namun, begitu dimuntahkan, ia dalam keadaan sakit, lemah, dan kulitnya mengelupas, Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit, (QS al-Shâffât [37]: 145).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan kulit Nabi Yunus ‘alaihissalam yang mengelupas akibat gesekan yang dialaminya selama dalam perncernaan ikan seperti tubuh burung yang baru dicabuti bulunya. Nyaris tak ada bulu sedikit pun.

D tempat Yunus ‘alaihissalam dimuntahkan, Allah menumbuhkan sebuah pohon seperti pohon labu, Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu, (QS Ash-Shaffat [37]: 146).

Dikabarkan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi Yunus ‘alaihissalam berlindung di bawah pohon labu tersebut. Ia memakan buahnya. Namun, selang beberapa lama, tumbuhan itu pun kering. Ia pun menangis, hingga Allah menurunkan wahyu sekaligus memberikan teguran kepadanya, “Engkau menangis karena pohon itu, bukan menangisi seratus ribu orang yang hendak engkau binasakan.”

Demikian kisah yang disarikan dari hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, jilid 11, hal. 541, nomor hadits 1195, dari Abdullah ibn Mas‘ud, tepatnya dalam “Kitâb Fadhâ’il Yûnus.” Wallahu a’lam.

Dari kisah di atas, dapat dipetik beberapa pelajaran, di antaranya:

  • Seorang mukmin hendaknya tetap berpegang pada perintah Allah dan bersabar menghadapi hukum-hukum-Nya. Tidak boleh tergesa-gesa dalam memutuskan perkara yang sudah menjadi urusan-Nya.
  • Allah terkadang menguji para hamba-Nya yang saleh saat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah-Nya. Itu pula yang dialami kaum Nabi Yunus ‘alaihissalam. Namun, berkat keimanan, kesalehan, dan doa, mereka diselamatkan oleh Allah. Begitu pula Nabi Yunus ‘alaihissalam yang selamat dari dalam perut ikan.
  • Doa dan pengakuan terhadap dosa juga memiliki pengaruh besar terhadap keselamatan dari berbagai malapetaka. Dalam Al-Qur’an telah disebutkan, dengan doa dan tasbihnya, Nabi Yunus ‘alaihissalam diselamatkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya, Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit, (QS al-Shâffât [37]: 144).
  • Dalam kisah di atas ada beberapa perkara yang menunjukkan kekuasan Allah. Dia berkuasa menghentikan kapal yang ditumpangi Nabi Yunus ‘alaihissalam, sedangkan kapal-kapal yang lain berlayar di sekitarnya. Dia juga berkuasa untuk menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihissalam saat berada di dalam perut ikan. Dia kemudian memerintah ikan tersebut untuk memuntahkannya di pinggir lautan. Bahkan, Dia memperdengarkan tasbih batu-batu kerikil di dasar lautan.
  • Pelanggaran yang dilakukan Nabi Yunus ‘alaihissalam tidak sampai mencederai atau menurunkan kedudukannya sebagai seorang nabi. Ia adalah salah seorang nabi dan rasul Allah yang dipilih dan diunggulkan-Nya. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan agar seorang tidak mengira atau mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Nabi Yunus ibn Mata hanya karena pelanggaran yang pernah dilakukannya. Dalam Shahîh al-Bukhârî dikatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Jangan sampai ada di antara kalian yang mengatakan, ‘Sesungguhnya aku lebih baik dari Yunus ibn Mata.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Tidaklah pantas bagi seorang hamba menyatakan, ‘Aku lebih baik dari Yunus ibn Mata,’” (HR. Al-Bukhari).
  • Hadits tersebut juga menunjukkan betapa utamanya doa Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihissalam, sampai-sampai doa tersebut juga dijadikan doa khusus oleh orang-orang yang tengan dilanda kesulitan, oleh orang-orang yang sedang dirundum kesedihan, atau diliputi masalah dan kebingungan. Doa dimaksud adalah:

    لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim, (QS al-Anbiyâ’ [21]: 87).
  • Seluruh makhluk taat kepada Allah. Termasuk ikan besar yang memakan Nabi Yunus, dan atas perintah-Nya, ia tidak sampai membinasakannya. Begitu pula saat ada perintah untuk memuntahkan Nabi Yunus ‘alaihissalam, ikan itu memenuhinya. Selain itu, kita tahu bahwa seluruh ikan dan batu-batuan laut, semuanya bertasbih kepada Allah, sebagai yang terdengar oleh Nabi Yunus ‘alaihissalam. 

Kisah Zainab - Pengetahuan

Suatu hari, Zainab binti Jahsyin, merasa bangga kepada istri-istri Nabi yang lain dengan omongan berikut: “Yang menikahkan kalian dengan Rasulullah adalah keluarga-keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan Allah dari atas tujuh langit”.

Sangatlah wajar kalau ibunda Zainab merasa bangga. Namun yang menjadi titik tekan tulisan ini bukanlah masalah dinikahkan oleh Tuhan atau masalah kebanggaan dinikahkan Tuhan.

Persoalannya, yang ditekankan dalam tulisan ini ialah apa yang menyebabkan Zainab binti Jahsyin mendapat kemuliaan sebesar itu? Faktor-faktor apa saja yang melatarinya?

Kalau kita mau membuka lembaran sejarah emas kehidupan istri-istri Nabi, maka akan kita dapati bahwa Zainab binti Jahsyin disamping memiliki paras cantik, dia juga memiliki karakter dan akhlak yang terpuji.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah, mantan anak angkat Rasulullah SAW. Zaid berkulit hitam dan memiliki paras yang tak begitu menarik dipandang, namun karena taat pada Rasulullah, Zainab pun mau menikah dengan Zaid bin Haritsah. Akhirnya, ketaatan membawa hikmah yang sangat besar di baliknya.

Pernikahan Zaid dan Zainab ternyata pernikahan yang terpilih untuk membatalkan tradisi tabanni (adopsi) anak dalam tradisi jahiliyah, di mana anak angkat akan dianggap seperti anak kandung dan mewarisi harta.

Dengan sabar, Zainab menjalaninya sampai akhirnya perceraian pun tak terelakkan. Melalui titah Allah langsung, Nabi mendapat perintah untuk menikahi Zainab.

Sebelumnya di zaman jahiliyah, menikahi istri anak angkat merupakan aib yang memalukan, karena seperti menikahi bekas istri anaknya sendiri.

Namun karena ini merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Rasulullah pun menerimanya dengan penuh taat. Meski secara manusiawi agak berat.

Pelajaran pertama yang dapat diambil dari bunda Zainab ialah ketaatan. Ketaatan kita pada Allah dan Rasul-Nya akan berbuah kebahagiaan.

Zainab binti Jahsyin termasuk dari wanita as-saabiqunal awaalun (orang-orang yang terlebih dahulu masuk Islam). Hanya beliau yang kisah pernikahannya diabadikan dalam al-Qur` ‘an.

Syariat jilbab juga berkaitan dengannya. Ia memiliki sifat, kebiasaan dan akhlak sebagai berikut: rajin ibadah, tunduk, khusyu’, rajin puasa, rajin shalat malam, sangat dermawan dan tak segan-segan dalam membantu orang yang membutuhkan.

Di antara gelarnya ialah: ummul masaakin (ibu orang-orang miskin), mafza’ul aitaam (tempat berlindung anak-anak yatim), malja’ul araamil (tempat berlindung wanita-wanita janda).

Tak hanya itu, beliau merupakan istri Nabi yang terampil bekerja menjahit dan mendermakan hasil jahitannya fi sabilillah. Dari gambaran singkat ini nampaklah keluhuran akhlak beliau.

Suatu gambaran yang patut diteladani oleh kaum hawa. Menjadi sosok mandiri, terampil, dermawan, rajin ibadah dan senantiasa berjuang untuk kepentingan perjuangan Islam. Karena itulah sangat pantas jika beliau merupakan wanita terpilih menjadi satu-satunya wanita yang pernikahannya diabadikan Al-Qur`an.

Bagi yang menginginkan kemuliaan dari Allah, hendaknya banyak-banyak belajar dari keteladanan beliau.

Sebelum meninggal, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam pernah bersabda pada istri-istrinya: “Orang yang pertama kali menyusulku ialah yang paling panjang tangannya”. Setelah mendengar kata-kata Rasul tersebut, mereka mulai menjulurkan tangan masing-masing dan ternyata Zainab binti Jahsyin yang terpendek, karena secara postur memang lebih pendek dari A’isyah dan lainnya. Mereka menyangka bahwa yang dimaksud paling panjang tangannya ialah secara fisik.

Namun setelah mereka tahu bahwa yang meninggal lebih dahulu ialah Zainab, baru mereka mengerti bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan ialah yang bekerja secara mandiri dengan tangannya serta gemar bersedekah dengan hasil jerih payahnya.

Lagi-lagi, Zainab binti Jahsyin, mendapatkan penghargaan yang begitu mulia dari Rasulullah. Lebih dari itu, ia juga meriwayatkan dari Rasulullah sebanyak 11 hadits. Dengan demikian beliau juga punya perhatian besar dalam hal keilmuan, khususnya periwayatan hadits.

Bagi wanita muslimah yang ingin menjadi wanita muslimah teladan, dan ingin mendapatkan kemuliaan begitu besar dari Allah, maka teladanilah sikap, sifat dan amalan ibunda Zainab binti Jahsyin.


Shalat Di Masjid Bagi Wanita - Pengetahuan


Berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Bukhâri dan Muslim, satu shalat di Masjidil Haram memang lebih utama dari seratus ribu shalat di masjid lain, satu shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, dan di Masjid al-Aqsha lebih utama dari lima ratus shalat di masjid lain. Namun bagi para wanita termasuk jamaah haji, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Dasarnya adalah hadits berikut ini: عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ 
Dari Ummu Humaid Radhiyallahu anhuma –istri Abu Humaid as-Sa’idi Radhiyallahu anhu – 
bahwa ia telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasûlullâh, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu daripada shalatmu di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” 
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allâh.

Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid Radhiyallahu anha yang begitu menaati sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan selalu shalat di rumah. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi wanita. Jika seorang wanita dihadapkan pada pilihan shalat di rumah (hotel) dan shalat di Masjidil Haram, lalu ia memilih shalat di Masjidil Haram, ia akan mendapatkan pelipatan pahala lebih dari seratus ribu. Namun jika ia memilih shalat di rumah (hotel), ia akan mendapatkan pahala lebih besar lagi. Pemahaman akan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti inilah yang membuat masjid-masjid di Arab Saudi sepi dari jamaah wanita. Kadang-kadang mereka rindu untuk datang ke masjid, dan para suami tidak boleh melarang mereka untuk datang ke masjid. Namun perlu dijelaskan kepada para isteri bahwa shalat di rumah lebih baik. Adapun masjid-masjid di tanah haram Makkah selain Masjidil Haram, sebagian besar Ulama berpendapat bahwa shalat di sana juga mendapatkan pelipatgandaan sebanyak lebih dari seratus ribu kali, karena kata Masjidil Haram dalam beberapa ayat al-Qur’ân bermakna lebih luas dari sekedar Masjidil Haram yang kita kenal, dan mencakup tanah haram Makkah semuanya. Namun tentu saja Masjidil Haram lebih afdhal, sebagaimana shaf depan Masjidil haram juga lebih afdhal dari shaf belakang, meskipun sama-sama mendapatkan pahala berlipat ganda. Sebagian Ulama lagi berpendapat bahwa pelipatgandaan seratus ribu kali hanya untuk Masjidil Haram saja. 
Pendapat kedua ini lebih kuat, karena dalam sebagian riwayat hadits disebutkan bahwa yang mendapat pelipatgandaan Masjid Ka’bah, yakni masjid yang memilik ka’bah. صَلاَةٌ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ المَسَاجِدِ، إِلاَّ مَسْجِدَ الكَعْبَةِ Satu kali shalat di dalamnya (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Ka’bah.” 
Sementara tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan pelipatgandaan pahala sebanyak seratus ribu kali lebih di masjid-masjid lain di tanah haram Makkah.

Rabu, 01 April 2020

Kisah Siti Aisyah - Pengetahuan

ASH SHIDDIQAH BINTI ASH-SHIDDIQ, Al-'Atiqah binti al-'Atiq, kekasihnya kekasih, penghibur yang dekat dengan junjungan Nabi Muhammad SAW, wanita yang dibebaskan dari segala cacat dalam Kitabullah dan bersih dari keraguan hati hingga ia mampu melihat Jibril, utusan Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib. Wanita yang selalu berpuasa dan berpuasa hingga tubuhnya lemah karena puasa. Ialah Aisyah, pemilik cinta pertama dalam Islam, cinta Rasulullah SAW.

Sungguh Aisyah memiliki kedudukan yang agung seperti kisah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Shafwan: "Ada tujuh hal pada diriku yang tidak dimiliki oleh wanita manapun, kecuali yang diberikan oleh Allah kepada Maryam binti Imran. Demi Allah, aku tidak mengatakan ini sebagai kesombongan terhadap para sahabatku (maduku).

Hal itu adalah:  

(1) Malaikat Jibril pernah turun membawa gambarku kepada Rasulullah (dalam mimpi); 

(2) Rasulullah menikahiku saat aku baru berusia tujuh tahun lalu aku diberikan kepada beliau saat berusia sembilan tahun; 

(3) beliau menikahiku sebagai seorang gadis dan tidak ada seorang manusia pun yang menyamaiku; 

(4) wahyu datang kepada Rasulullah SAW saat aku dan beliau dalam selimut yang sama; 

(5) aku adalah orang yang paling beliau cintai; 

(6) ada ayat yang turun berkaitan denganku ketika umat ini hampir hancur; 

(7) Aku pernah melihat Jibril dan tidak satu pun istri Rasulullah selain aku yang pernah melihatnya,

(8) dan Rasulullah SAW wafat di rumahku tanpa ada seorang pun menemani selain malaikat dan aku.

Wanita yang jujur, setia, tulus, pencemburu, dan terhormat: Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Ayahnya bernama Abdullah ibn Utsman ibn 'Amir ibn 'Amar ibn Ka 'b ibn Sa'd ibn Murrah ibn Ka'b ibn Lu'ay al-Qurasyi at-Taimi. Ibunya bernama Ummu Ruman binti 'Amir ibn 'Uwaimir al-Kinaniyyah, sahabat wanita yang agung dan mukminah yang pernah disabdakan oleh Rasulullah: "Siapa yang ingin melihat bidadari maka hendaklah ia melihat Ummu Ruman."

Wanita yang dibersihkan namanya dari atas tujuh langit adalah Aisyah binti Abu Bakar r.a. Ialah Ummul Mukminin, istri junjungan seluruh umat manusia, yang paling beliau cintai dan putri dari laki-laki yang beliau cintai. Aisyah adalah wanita yang telah membuktikan, sejak empat belas abad yang lalu, bahwa wanita bisa menjadi lebih unggul daripada laki-laki dan bisa menjadi politikus, bahkan prajurit perang.

Wanita ini telah berguru dan dididik dalam madrasah nubuwah, madrasah iman, dan madrasah perjuangan. Pada masa kanak-kanak, Aisyah dididik oleh guru kaum Muslimin dan manusia paling utama di antara mereka, yaitu sang ayah: Abu Bakar ash-Shiddiq. Selanjutnya, pada masa remaja, ia dibimbing oleh Nabi dan mahaguru umat manusia, orang yang paling mulia dan paling utama, yaitu sang suami: Rasulullah SAW.

Dengan demikian, Aisyah telah merangkum ilmu, keutamaan, dan pengajaran yang membuatnya mampu meninggalkan gema dalam sejarah yang gaungnya abadi sepanjang masa. Peninggalan-peninggalan Aisyah diajarkan di berbagai fakultas-fakultas agama sementara amal-amalanya yang paripurna menjadi ruang lingkup kajian bagi setiap pengajar sejarah Arab dan kaum Muslimin.

Rasulullah SAW menikahi Aisyah r.a. atas perintah Allah SWT, pasca meninggalnya mendiang Sayyidah Khadijah r.a. Ketika Aisyah masih anak-anak yang berusia enam tahun. Pada saat yang sama, Rasulullah menikahi Saudah binti Zum'ahr.a., tetapi ia hanya memboyong Saudah dan tinggal bersamanya selama tiga tahun. Setelah itu, Nabi baru mmeboyong Aisyah ketika telah berusia sembilan tahun. Rasulullah memboyong Aisyah pada bulan Syawal tahun ke-2 H sesudah Perang Badar.

Tentang hari pernikahannya, Aisyah menggambarkan sebagai berikut, "Rasulullah mendatangi rumah kami lalu berkumpullah sejumlah laki-laki dan wanita Anshar. Selanjutnya, ibuku mendekatiku saat aku sedang memanjat di antara dua pelapah kurma. Ibu menurunkanku lalu merapikan rambutku dan mengusap wajahku dengan sedikit air. Setelah itu, ibu bergegas menuntunku pulang ke rumah dan ketika sampai di pintu, ibu menghentikanku hingga napasku terengah-engah.

Selanjutnya, ibu mengajakku masuk sementara Rasulullah SAW sedang duduk. Ibu mendudukkanku di pangkuannya sambil berkata: 'Mereka adalah keluargamu. Semoga Allah memberkahimu karena mereka dan semoga Dia memberkahi mereka karenamu".

Sayyidah Aisyah adalah pengantin wanita yang manis, tubuhnya langsing, kedua matanya lebar, rambutnya ikal, dan wajahnya bersinar kemerah-merahan. Kini Aisyah telah berpindah ke rumah barunya. Rumah itu hanyalah sebuah kamar di antara beberapa kamar yang dibangun mengelilingi masjid dan terbuat dari bata dan batang kurma.

Di dalam rumah ini, diletakkan satu alas tidur dari kulit kayu. Tidak ada yang membatasi antara alas tidur ini dan tanah selain tikar, dan pada daun pintunya, diberaikan tabir yang terbuat dari serabut.

Sejak Aisyah menginjakkan kaki di rumah Muhammad SAW, semua merasakan keberadaanya. Jika ada seorang gadis yang mengetahui apa yang sedang dihadapi, ia adalah Aisyah binti Abu Bakar. Aisyah telah membangun kepribadian sejak hari pertama ketika ia memasuki rumah Rasulullah yang mengelilingi masjid itu ....

Di dalam kamar sederhana itu, di tengah kehidupan rumah tangga Nabi, Sayyidah Aisyah r.a. tumbuh menjadi guru bagi setiap wanita di seluruh dunia dan sepanjang sejarah. Aisyah menjadi istri terbaik yang selalu menghibur suami, memberikan kebahagiaan, dan menghilangkan beban yang beliau alami di luar rumah akibat pergumulan dengan kehidupan dan berdakwah di jalan Allah SWT.

Aisyah menjadi istri yang terbaik, memiliki tangan maupun hati yang mulia. Aisyah mampu bersabar bersama Rasulullah SAW dalam menghadapi kemiskinan dan kelaparan hingga pernah melewati berhari-hari tanpa ada apa di rumah Rasulullah untuk sekedar memasak roti ataupun sesuatu yang bisa dimasak. Mereka berdua hanya hidup dengan makan kurma dan air.

Ketika kaum Muslimin mengalami kehidupan yang makmur, suatu hari Aisyah dihadiahi 1.000 dirham oleh Mu'awiyah. Saat itu Aisyah sedang berpuasa dan tidak memiliki apa pun untuk berbuka. Aisyah pun menerima dirham-dirham itu lalu membagikan seluruhnya kepada para fakir miskin.

Karena itu, budak Aisyah bertanya, "Tidakkah engkau bisa menggunakan 1 dirham saja untuk membeli daging guna berbuka nanti?" Aisyah menjawab, "Andai engkau mengingatkanku (tadi) pastilah aku melakukannya."

Aisyah tidak pernah tertekan oleh kemiskinan dan tidak pula kegirangan oleh kekayaan. Ia mampu menajaga kehormatan diri hingga dunia menjadi remeh baginya. Aisyah tidak menghiraukan kedatangan maupun kepergian dunia.

Demikianlah, Aisyah r.a. menjadi wanita yang sangat mementingkan waktu untuk mendengar dari Rasulullah hingga ia berhasil menguasai ilmu dan balaghah yang membuatnya layak menjadi guru para laki-laki serta menjadi rujukan bagi mereka dalam bidang hadis, sunnah, dan fikih. Dalam hal ini, az-Zuhri mengatakan, "Andaikan ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, pastilah ilmu Aisyah lebih tinggi."

Hisyam ibn 'Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, "Aku pernah bersahabat dengan Aisyah. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih memahami suatu ayat yang turun, suatu keajaiban, suatu sunnah, atau sebuah syairtidak pula ada yang lebih kuat dalam meriwayatkannya, atau suatu hari yang berjalan di kalangan Bangsa Arab, nasab, tentang hukum, maupun kedokteran dibandingkan dengan Aisyah.

Selanjutnya, aku bertanya kepadanya: 'Wahai bibi, dari manakah engkau memahami perihal kedokteran?' Aisyah menajawab: 'Aku pernah sakit lalu nabi menjelaskan sesuatu kepadaku kemudian ada orang yang sakit lalu nabi menjelaskan sesuatu kepadanya. Aku mendengar orang saling mengabarkan satu sama lain dan aku mengahafalnya'."


Kisah Fatimah Az-Zahra - Pengetahuan

Dalam kalender Islam, tanggal 20 Jumadil Akhir, merupakan hari kelahiran Fatimah az-Zahra, putri cantik Nabi Muhammad SAW.

Fatimah

merupakan putri keempat Nabi Muhammad dari istri pertamanya Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Ia lahir 5 tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi Rosul.

Muhammad begitu mencintai Fatimah az-Zahra. Bentuk kecintaannya itu juga banyak diungkapkan lewat ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW. "Sungguh Fatimah bagian dariku. Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah." Tak hanya itu, Nabi juga pernah mengatakan jika Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia. Begitu kuatnya ungkapan cinta Muhammad untuk sosok Fatimah az-Zahra.

Sepanjang hidupnya, Fatimah yang akhirnya menikah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib, digambarkan sebagai sosok yang cantik dan cerdas. Bahkan ia dianggap sebagai perempuan terbaik dimasanya karena pengabdiannya kepada sang ayahanda dan suami tercinta.

Tidak lama setelah Nabi Muhammad wafat, tepatnya setelah enam bulan, Fatimah juga meninggal dunia karena jatuh sakit. Tepatnya di hari Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 28 tahun. Ia meninggalkan Ali dan 4 anaknya yakni dua putra, Hasan dan Husain serta dua putrinya, Zainab dan Ummu Kultsum.