Selasa, 20 April 2021

Air Zamzam



Air Zamzam merupakan bukti kekuasaan Allah dan begitu istimewa. Sejak awal tercipta, sumur Zamzam tidak pernah kering dan terus mengalir meski dikonsumsi jutaan manusia.
Bagi umat Islam, air Zamzam sudah tak asing lagi. Air Zamzam yang merupakan jenis air terbaik di seluruh dunia memang diketahui banyak mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Air Zamzam merupakan bukti kekuasaan Allah dan begitu istimewa. Sejak awal tercipta, sumur Zamzam tidak pernah kering dan terus mengalir meski dikonsumsi jutaan manusia. Namun, tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya yang menggali sumur ini.

Kita pasti sering mendengar bahwa asal muasal sumur ini dari kisah nabi Ismail AS yang saat itu menggerak-gerakkan kaki ke tanah sambil menangis karena kehausan.

Sedangkan sang ibu, Siti Hajar, berlari-lari dari bukit Safa dan Marwah, berusaha mencarikan air untuk putranya Ismail yang masih bayi.

Setelah berlari hingga tujuh kali dari bukit Safa ke bukit Marwah, akhirnya memancarlah air yang kemudian diberi nama Zamzam tersebut. Namun apakah air ini memancar begitu saja, atau ada yang menggalinya?

Menurut sumber yang valid dari beberapa hadis, ternyata air Zamzam tidak memancar begitu saja, namun terlebih dahulu digali.

Bahkan Siti Hajar melihat sendiri siapa yang menggali mata air yang tidak akan pernah habis hingga hari kiamat tersebut. Lantas siapa sebenarnya yang menggali sumur Zamzam?

Kisah yang beredar selama ini mengatakan jika air Zam-zam memancar dari kaki mungil Ismail yang menggesek-gesekannya ke tanah. Kemudian muncul lah mata air sama-sama tersebut.

Namun berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, sumur zam-zam digali oleh seorang Malaikat Allah. Malaikat tersebut menggali Zam-zam dengan tumit (sayapnya) hingga terpancarlah air zam-zam dari tempat antara bukit safa dan marwah tersebut.

“ Ini adalah kejadian yang mendasari tradisi jemaah haji berjalan antara Safa dan Marwah. Ketika Siti Hajar (r.a.) mencapai bukit Marwa (untuk terakhir kali), ia mendengan sebuah suara, kemudian ia diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ia mendengar suatu itu terus-menerus dan berkata, ‘Wahai (siapapun engkau)! Engkau telah membuatku mendengarkan suaramu; apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat membantuku?’

Dan ajaib! Ia melihat satu malaikat di lokasi Zam-Zam, sedang menggali tanah dengan tumitnya (atau sayapnya), hingga airnya memancar dari tempat itu.

Ia lalu membentuk tangannya seperti mangkuk, dan mulai mengisi tempat air minumnya yang terbuat dari kulit dengan air menggunakan tangannya, dan air itu lalu mengalir keluar setelah dia menciduk sebagian di antaranya.” (Hadist Shahih Bukhari: Volume 044, Kitab 055, Hadits 583)

Air zam-zam yang keluar waktu itu sangat banyak, sehingga Siti Hajar mencoba untuk membendungnya dengan menggunakan tanah di sekitarnya.

“ Jika ia (Siti Hajar) telah meninggalkan air itu, (mengalir secara alami tanpa campur tangannya), maka air itu akan mengalir di atas permukaan bumi.” (Shahih Bukhari: Volume 044, Buku 055, Hadits 583)

Sementara itu Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memberikan catatan: “ Air zam zam adalah yang terbaik dan paling mulia dari semua air, yang tertinggi kedudukannya, yang paling berharga, paling mulia dan paling bernilai bagi manusia.

Sumur Zam Zam digali oleh malaikat Jibril dan airnya yang Allah gunakan untuk memadamkan rasa haus Nabi Ismail alaihissalaam”

Senin, 19 April 2021

Rumah Abu Jahal


Peninggalan rumah Abu Jahal di Makkah ternyata sudah diubah menjadi sebuah jamban atau toilet. Bagaimana penampakannya? Simak lewat artikel di bawah!

Dalam sejarah Islam, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan syiar dakwah, tak selalu berjalan mulus, ada saja orang-orang yang menentangnya.

Salah satu penentang paling vokal dan dikenal pada zaman itu adalah Abu Jahal yang bernama asli Amr bin Hisyam bin Mughirah

Abu Jahal pada zaman Nabi merupakan pemuka besar dari suku Kuraisy.

Ia merupakan penentang dakwah Nabi Muhammad SAW, bahkan, dialah sosok yang pernah merencanakan pembunuhan Rasulullah.

Saking benci dan permusuhan besarnya kepada Nabi, Abu Jahal pun mendapatkan gelar Fir’aun umat Nabi Muhammad SAW.

Sampai akhirnya, ia mati mengenaskan saat terjadi perang Badar.

Kisah singkat tersebut, menggambarkan kebengisan musuh Rasulullah pada zaman Nabi.

Menengok zaman sekarang, ternyata peninggalan rumah Abu Jahal di Kota Makkah masih bersisa.

Kendati tak dapat melihat rumahnya langsung, tapi lokasinya masih diketahui.

Konon, Rumahnya itu kini diubah menjadi sebuah jamban atau toilet besar untuk jemaah haji dan umrah.

Ingin tahu, rupa bekas rumah sang penentang Nabi Muhammad tersebut yang kini menjadi jamban raksasa?

8 Potret Peninggalan Rumah Abu Jahal yang Diubah Jadi Toilet

1. Dialihfungsikan Menjadi Toilet Umum

Sudah disinggung di awal, jika bekas rumah Abu jahal kini diubah menjadi toilet umum.

Toilet tersebut kabarnya dapat digunakan oleh 1000 jamaah, laki-laki dan perempuan.

Lokasinya pun berada di area Masjidil Haram, sehingga banyak dipakai oleh mereka yang melaksanakan umrah dan haji.

Tampak depan toilet ini, sepertinya dibangun menggunakan jenis batuan berwarna cokelat.

Warna khas bangunan yang sering ditemui di kawasan Timur Tengah.

2. Dekat dengan Rumah Nabi Muhammad SAW

Menurut vlogger Abdulrohman Akam dan Almad Mulyana, rumah Abu Jahal dan Nabi Muhammad sangat berdekatan.

Tampak pada gambar, jika toilet besar ini langsung berhadapan dengan peninggalan rumah Rasulullah.

Rumah Nabi Muhammad sendiri kini dijadikan sebagai perpustakaan.

3. Pintu Masuk

Inilah pintu masuk ke dalam toilet yang merupakan peninggalan rumah Abu Jahal.

Pintu masuk ini berukuran besar sebab kerap dipakai oleh banyak jemaah haji dan umrah.

4. Suasana di Dalam Toilet

Setelah masuk kamu dapat melihat bawah isi ruangan toiletnya sendiri begitu besar.

5. Ada Tempat Wudu

Selain toilet, disediakan juga tempat wudu untuk para jemaah.

Sehingga, di dalam toilet besar ini fasilitasnya dapat dibilang lengkap dan sangat membantu jemaah umrah maupun haji.

Tempat wudunya didesain dengan area duduk, ramah dipakai untuk segala usia.

6. Tempat Minum

Tak hanya tempat wudu, disediakan juga tempat khusus untuk meminum air.

Seperti diketahui, di Makkah, cuacanya panas sehingga tempat minum air akan dibutuhkan.

Tempat minumnya juga berjejer panjang, bisa dipakai oleh banyak jemaah yang kehausan.

Melempar Jumroh


Melempar jumrah merupakan bagian dari rukun haji yang ketika ditinggalkan maka hajinya tidak sah. 

Imam Ghazali dalam kitabnya Asrar Al-Hajj yang diterjemaahkan menjadi Rahasia Haji memberikan contohnya.

Pertama jamaah berdiri menghadap kiblat. Dibolehkan jika menghadap ke tempat jumrah. Dan setelah itu melempar tujuh kerikil ke arah jumroh dengan mengangkat tangan bergantian membaca talbiyah dan takbir.

Imam Ghazali mengatakan, tata cara berdiri untuk melempar jumrah Aqabah dan batu jumrah sesuai hadits. Dalam hadits Jabir diterangkan bahwa Nabi Muhammad SAW melempar jumrah dari dasar lembah dengan tujuh batu kerikil.

Abu Daud meriwayatkan dari Sulaiman bin Amr bin al-'Ahwas dari ibunya bawa, "Dia melihat nabi melempar jumroh dari dasar lembah."(HR Abu Daud).

Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa, "Nabi melempar jumroh dengan mengambil posisi dimana Ka'bah berada di sebelah kirinya dan Mina di sebelah kanannya lalu berkata.

"Inilah tempat diturunkannya surat Al Baqarah" (Bukhori dan Muslim).

Imam Ghazali menyarankan, setiap selesai melempar satu batu kerikil membaca doa berikut:

"Allah Maha Besar. Aku berjalan di atas jalan ketaatan kepada Allah meski setan datang menghadap. Ya Allah aku mempercayai kitab sucimu dengan mengikuti sunnah Nabimu.."

Selesai melempar jumrah, berhentilah membaca talbiyah dan takbir kecuali takbir di belakang tiap-tiap salat fardhu mulai dari dzuhur hari raya kurban hingga subuh hari terakhir Tasyriq. Pada hari ini jangan berdiam di tempat melempar jumroh untuk berdoa aku mah tetapi cukup berdoa di tempat persinggahannya.

Tentang tidak berdiam di tempat melempar jumrah kata Imam Ghazali adalah berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Sulaiman bin Amr bin al-'Ahwas dari ibunya bahwa dia berkata.

"Aku melihat Rasulullah SAW melempar jumroh aqobah dari dasar lembah dengan 7 batu kerikil dan tidak berdiam di sana."


Haji Wada



Pada hari Jumat 9 Dzulhijah ketika Haji Wada Nabi Muhammad SAW menyampaikan khobahnya terakhir. 

Ada ulama yang menyebutkan bahwa khutbah beliau itu merupakan deklarasi hak-hak asasi manusia yang pertama.

Berikut untaian kalimat yang disampaikan Rasulullah pada awal khutbahnya di hadapan 140 ribu jamaah sahabat.

"Wahai sekalian manusia! Dengarkanlah baik-baik dan perhatikan apa yang akan aku sampaikan dalam khotbah ini, karena aku akan memaparkan beberapa hal yang teramat penting, sedangkan aku tidak tahu apakah di tahun yang akan datang aku masih bisa bersama kalian di tempat ini, dalam suasana seperti ini. Jangan-jangan aku tak bisa bertemu kalian lagi setelah tahun ini."

Bukankah di tengah-tengah khutbahnya, sering beliau menyelipkan kata-kata, "Ingat! Apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!" Dan beliau juga meminta agar para sahabat yang hadir pada hari itu menyampaikan intisari khutbahnya kepada orang-orang yang tidak hadir.

Adapun pokok-pokok khotbah Rasulullah itu 12 poin. Berikut poin-poin dari khotbah sebagai berikut:

1. Sesungguhnya darah alian harta benda kalian adalah Mulia. Karomatan diri kalian terpelihara (haram bagi orang lain) sampai kalian menemui Tuhan, dan suci sebagaimana sucinya hari ini (Arafah) sebagaimana sucinya bulan ini (Dzulhijjah), dan seperti sucinya negeri ini (tanah Haram ke Makkah) dan sekitarnya.

2. Barangsiapa memegang amanah di antara kalian, maka hendaknya mengembalikan amanah itu kepada pemiliknya yang berhak.

3. Ingatlah! Segala macam amalan dan taradisi jahiliyah telah berada di bawah telapak kakiku (telah ku hapus seluruhnya), yang tak sesuai dengan syariat Islam.

4. Tuntutan utang darah yang terjadi di zaman Jahiliyah sebelum Islam telah diampuni. Dan tuntutan darah yang aku batalkan untuk pertama kalinya adalah darah Amir bin Rabiah bin al-Harits yang disusukan oleh Bani Sa'ad kemudian dibunuh oleh Hizail.

5. Riba (rente) adalah 1 sistem ekonomi yang diharamkan Allah dan aku memulainya dengan membatalkannya atau menghapuskan riba yang akan diterima oleh pamanku sendiri yaitu Abbas bin Abdul Muthalib.

6. Bertawakallah kepada Allah SWT dalam hal berkaitan dengan urusan wanita. Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka sebagai amanat dari Allah SWT dan mereka telah dihalalkan buat kalian dengan kalimat Allah. Istri-istri kalian mempunyai hak terhadap kalian, sebagaimana juga kalian mempunyai hak terhadap mereka.

Oleh karenanya hanya kalian yang diperkenankan tidur bersama mereka dan menyentuh ranjangnya, dan mereka tidak boleh memasukkan seseorang yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali atas izin kalian.

7. Semua orang mukmin itu bersaudara, oleh karena itu tidak halal bagi seorang mukmin mengambil harta orang lain kecuali setelah mendapat pembenaran dari pemiliknya.

8. Sepeninggalanku, janganlah kalian menjadi kafir lagi, di mana sebagian di antara kalian memerangi sebagian yang lain. Aku tinggalkan untuk kalian dua buah pusaka yang jika kalian tetap berpegang teguh pada keduanya, kalian tidak akan pernah sesat untuk selama-lamanya, yaitu Kitab Alquran dan Sunnah rasulnya hadis.

9. Sesungguhnya setelah aku tidak ada lagi nabi, dan sesudah Kalian juga tidak ada lagi Uma. Oleh sebab itu, aku berpesan kepada kalian agar tetap menyembah Allah SWT, Tuhan kalian, mendirikan salat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadan, membayar zakat dengan ikhlas, dan mengerjakan haji di Baitullah nicaya kalian masuk surga.

10. Tuhan kalian adalah satu Yang Maha Esa, kakek Kalian juga satu, karena kalian berasal dari Adam dan Adam telah Allah ciptakan dari tanah. Orang yang paling baik atau mulia di antara kalian ialah yang paling bertakwa kepada Allah. Tidak ada keistimewaan bagi orang Arab atau bangsa yang bukan Arab (Ajam), kecuali dengan Taqwa.

11. Allah telah menentukan dan menetapkan hak menerima pusaka bagi keluarga yang meninggal dunia. Oleh karenanya, tidak boleh berwasiat bagi penerima waris. Sesungguhnya laknat Allah bagi seorang yang (mengakui menisbatkan) diri bapak kepada yang bukan bapaknya, juga laknat dari malaikat dan seluruh manusia.

12. Kemudian pada waktunya kelak, kamu semua akan ditanya tentang aku Apa jawaban kalian?

Dengan gemuruh kata KH Ahmad jamaah serentak menjawab.

"Kami bersaksi bahwa engkau Ya Rasulullah SAW menyampaikan dan menyempurnakannya risalahmu."

Kemudian baginda Rasulullah SAW mengangkat tangannya ke langit Seraya berseru. "Ya Allah saksikanlah!"

Rasulullah SAW. 3 kali mengulangi ucapan itu. Dan yang menarik adalah sikap rabiah bin Umayyah bin Khalaf yang senantiasa mengulangi setiap ucapan Rasulullah SAW dengan suaranya yang lantang.



Zamzam



Pada waktu haji wada, Nabi Muhammad SAW minum air zamzam dalam jumlah yang banyak. Beliau ingin menimba air zamzam sendiri dan meminumnya, akan tetapi nanti orang-orang akan mengikuti perbuatan itu, sehingga menyebabkan desak-desakan.

"Oleh karena itu aku tidak melakukannya," sabda Rasulullah seperti dituturkan Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitabnya Fadhilah Haji.

Maulana Muhammad mengatakan, ada dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Beliau SAW pernah meminum air zamzam dari hasil timbaannya sendiri. Dan Rasulullah menimba itu kemungkinan ketika sumur sedang sepi.

Dan sabda beliau di atas ketika orang-orang antri berdesak-desakan sehingga beliau tidak minum dengan menimba sendiri. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW meminta air zamzam kepada Abbas ra.

Ia berkata, "Air ini telah tersentuh oleh banyak tangan manusia (semacam telaga tempat berkumpulnya air) di rumah, aku mempunyai air zamzam yang jernih maukah aku ambilkan di rumah?"

Rasulullah bersabda, "Tidak, berikanlah kepadaku air zamzam dari tempat yang semua orang minum darinya."

Kemudian Ibnu Abbas ra memberikan air zamzam dari sumur itu dan memberikannya kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW meminumnya lalu mengguyurkannya di wajahnya, lalu mengambil lagi dan meminumnya lalu mengguyurkan sisanya di atas tubuhnya lagi.

Minggu, 18 April 2021

Pengelolaan Wakaf Baitul Asyi Aceh di Mekkah


Di manakah para ulama besar dan orang Indonesia tinggal di Makkah pada masa lalu? Pertanyaan inilah yang paling menggelayuti pikiran selama tinggal di Makkah beberapa tahun silam. Bertanya kepada para mukimin tetap saja sulit. Apalagi, bagi orang seperti mereka yang kebanyakan datang ke Arab Saudi hanya sekadar cari duit. Jangan harap akan bisa tahu soal-soal keberadaan para pendahulunya yang sudah ratusan tahun lebih dahulu tinggal di Makkah.

Namun, perlahan misteri itu terkuak. Ini berkat informasi dari seorang pria asal Palembang yang sudah 30 tahun lamanya tinggal di Makkah. Namanya Khudri. Dia pun peduli soal-soal ini karena merasa masih keturunan ulama besar Palembang yang pernah tinggal di Makkah, Abd al-Samad al-Palimbani.

"Para leluhur itu tinggal di kawasan yang disebut Rubath atau Zaqaq Jawa (rumah, kampung atau gang pendatang asal Nusantara dan Asie Tenggara yang kala itu lazim dipanggil sebagai orang Jawa). Sisa-sisa tempatnya masih ada dan beberapa anak keturunannya pun masih ada di sana," katanya. Ada juga yang menyebut zaqaq dengan panggilan rubath. Dua istilah ini hampir mirip dan sebangun.

Tak cukup memberitahu, dengan menggunakan mobil mewahnya, Khudri pun mengantarkan saya ke sebuah tempat yang berada di dekat jembatan layang Misfalah. Di seberang Hotel Falistine berdiri bangunan gedung yang disebut Burj al-Abbas. Menurut dia, di situlah area yang disebut Zaqaq Jawa.

"Tiga puluh tahun lalu, ketika saya baru datang pertama kali ke Makkah, di situ banyak tinggal keturunan orang-orang Jambi, Banten, Kalimantan Selatan, Palembang, Jawa, dan lainnya. Tapi, kini tinggal beberapa saja karena rumahnya sudah banyak yang dijual. Kini, masih ada seorang keturunan Muara Enim di sana. Namanya Abdul Hakim," kata Khudri.

Memang bila membayangkan seperti apa kira-kira suasana kampung Jawi (sebutan bagi orang Indonesia pada masa lalu di Arab), pada masa kini sangatlah sulit. Bangunan sudah berubah total menjadi gedung-gedung tinggi. Bayangan sebagai padang pasir pun tak terlihat. Tak ada lagi gundukan gunung batu atau padang pasir. Yang ada kini hanyalah kompleks gedung modern, sebuah terowongan, serta begitu banyak ruas jalan.

Tak jauh dari tempat itu, Khudri pun membawa kami ke depan sebuah gang yang dia sebut sebagai Rubath Jawa. Karena saat itu sudah malam, di sana terlihat banyak orang berpeci putih tengah duduk-duduk di atas permadani yang digelar di depan sebuah rumah. "Ya, itulah para penghuni Rubath Jawa. Mereka adalah para santri Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Makkah," ujar Khudri .

Keterangan dia makin nyambung ketika dia menggeser sedikit arah perjalanannya. Selang beberapa ratus meter dia menunjuk sebuah rumah besar yang ada di pinggir jalan. Dia kemudian menceritakan beberapa tokoh ulama besar yang pernah tinggal di situ. Salah satunya adalah pakar tasawuf dan mantan Menteri Agama, Said Agil Husin al-Munawar.

Khudri menuturkan, bila ditelusuri sebenarnya banyak sekali ikatan emosional antara orang Indonesia dan kawasan Makkah. Bahkan, harap diketahui hingga kini banyak sekali tanah wakaf milik para leluhur orang Indonesia yang menjadi kawasan Masjidil Haram. Lahan tanah yang kini berdiri Hotel Daarut Tauhiid, Grand Zamzam, Hotel Hilton, dan pelataran Masjidil Haram sekalipun, sebenarnya banyak merupakan lahan wakaf orang Indonesia.

"Ingat, dahulu yang datang ke Makkah adalah orang-orang yang benar-benar kaya. Jadi, jangan heran kalau mereka punya lahan di sekitar Ka'bah. Tapi, sayang pihak ahli warisnya tak jelas lagi karena tanah itu kemudian diwakafkan ke Masjidil Haram," katanya.

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Saudi sempat mencari anak keturunan orang Indonesia yang bernama Fatimah. Rencananya akan mendapat ganti rugi karena tanah wakaf leluhurnya dipakai untuk pelebaran pelataran Masjidil Haram dan Hotel Grand Zamzam. "Tapi, sayang tak ketemu, padahal jumlah ganti ruginya sangat besar," ujar Khudri.

Lalu, di manakah para orang Jawi dahulu belajar di Makkah? Khudri kemudian menunjuk ke sebuah lahan parkir Bus Saptco yang ada di samping Hotel Daarut Tauhiid. Lahan ini dahulu adalah Madrasah Shaulatiyah.

"Nah, di madrasah yang kini menjadi lahan parkir inilah para ulama besar, seperti KH Ahmad Dahlan, Hasyim Asy'ari, Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Nawawi al-Bantani, Abd al-Samad al-Palimbani, Ahmad Khatib al-Minangkabawi pernah menuntut ilmunya selama di Makkah."

Namun, jejak sejarah soal rumah dan pemukiman warga Nusantara--termasuk Aceh ada pada berbagai tulisan Snouck Hurgronje. Di sana dijelaskan bahwa mukimin Makkah selalu erat berubungan dengan masalah politik di Tanah Air.

Salah satu contoh pastinya ada pada sosok penulis "Syair Prang Sabi" yang legendaris: Chik Panti Kulu. Dalam perjalanan pulang dari Makkah itulah dia menulis syair perlawanan yang memberi pupuk yang membuat kian berkobarnya Perang Aceh.

Orang kaya asal Aceh, Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Bugak Asyi), pun sejak awal tahun 1800-an sudah mewakafkan tanah dan rumah miliknya di Makkah. Lahan tanah itu memang berada di tempat strategis karena sangat dekat dengan Ka'bah, bahkan kini ada di area perluasan Majidil Haram. Harga lahannya kini jelas selangit alias mahal sekali.

Dalam ikrar wakaf Habi Bugal Asyi berikrar begini. Ikrar ini diambil dari biografi Habib Adurrahman bin Alwi al-Habsyi (Habib Bugak Aceh. Buku ini hasil kajian dan ditulis Prof Dr Syahrizal Abbas MA, Kamaruzzaman Bustaman-Ahmad PhD, Dr Munawar A Djalil MA, Dr Khairuddin, dan Ir Sulaiman AW MP.

“Rumah tersebut (Baitul Aysi) dijadikan tempat tinggal jamaah haji asal Aceh yang datang ke Makah untuk menunaikan ibadah haji dan juga tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Makah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Makah untuk haji, maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri atau mahasiswa) Jawi,”. (Jawi atau Jawa adalah istilah yang waktu itu digunakan untuk menyebut pelajar atau mahasiswa wilayah Asia Tenggara) yang belajar di Makkah).

“Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa Asia Tenggara pun tidak ada lagi yang belajar di Makah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Makkah yang belajar di Masjidil Haram, sekiranya mereka inipun tidak ada juga, maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjidil Haram untuk membiayai keperluan Masjidil Haram.”

''Para mukimin dari berbagai penjuru dunia bertukar pikiran dengan aneka isu yang terjadi di negaranya masig-masing. Mereka tidak hanya belajar, berhaji, atau tinggal. Mereka juga berdikusi mengenai isu mutakhir. Ada perkumpulan diskusi, tak hanya berbahasa Arab tapi banyak juga memakai bahasa asalnya, termasuk bahasa Melayu,'' begitu catatan Snouck Hurgonje. Pada kemudian hari Snouck mempelajari karakter orang Aceh--dan juga orang nusantara. Makkah dengan para mukiminnya saat itu adalah pusat "pusat pergerakan Islam" di Indonesia.

Dan bila melihat ke belakang lagi, yakni zaman dahulu, sebenarnya tak hanya Aceh yang punya tanah di Makkah. Berbagai kesultanan yang ada di nusantara punya tanah yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal bagi warganya yang tengah berada di kota suci. Mereka tinggal di sana secara gratis tanpa dipungut biaya apa pun, misalnya, sewa atau hingga biaya akomodasi harian.

Maka, di Makkah kala itu di kenal banyak bait atau rumah milik orang Banjar, Riau, Minangkabau, Bugis, Ternate, Banten, Jawa, dan lainnya. Para orang kaya yang berasal dari suku itu yang membelinya. Para sultan di Nusantara adalah salah satu pihak yang punya di antaranya.

Uniknya lagi, mereka tidak membeli tanah di Makkah yang sembarangan atau tidak stategis. Mereka membeli tanah di siktar area Masjidil Haram. Mereka jelas bisa membelinya karena orang nusantara pasti orang yang punya duit, bahkan kadang merupakan orang yang diutus oleh para sultan (dahulu tahun 1620-an ada utusan Kesultanan Mataram Jawa dan Banten).

Pada tahun yang lebih modern ada orang yang mendapat restu sultan untuk pergi dan belajar di Makkah. Orang ini adalah KH Ahmad Dahlan yang notabene juga anak abdi dalem Kesultanan Mataram Islam Yogyakarta. Dia pergi beberapa kali pada awal tahun 1900-an.

Sayangnya, saking ikhlasnya tidak ada yang mengelola secara profesional tanah atau rumah itu selayaknya orang Aceh itu. Mereka tak secara jelas mewakafkan atau mengalihkan kepada pihak siapa dan untuk tujuan apa atas tanah tersebut. Apalagi kini perluasan Masjidil Haram terus berlangsung. Rumah dan aneka bangunan milik pribadi di sekitar Ka'bah dibongkar dan dipinggirkan. Akibatnya, hanya rumah wakaf milik orang Aceh itu yang memang letaknya tak jauh dari Masjidil Haram yang jelas nasibnya.

Jadi, tanah wakaf di Makkah itu ternyata mengandung soal begitu komplek dan rumit. Pertaruhannya tak hanya soal fulus belaka, tapi juga menyangkut soal sejarah perkembangan Islam di nusantara. Bahkan, bisa lebih jauh, yakni soal perlawanan dan perjuangan melawan kolonial sampai eksistensi pendirian negara republik Indonesia.

Doa Berhaji



Alquran surat Al-Baqarah ayat 128 mengabadikan doa Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Doa ini bagus dipanjatkan bagi setiap orang yang beriman yang ingin cepat dipanggil Allah sebagai tamunya (bisa berangkat haji).

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Rabbana waj'alna muslimaini laka wamin dzurriyyatina ummatan muslimatan laka wa arina manasikana watub 'alaina innaka antat-tauwwabur rahim"

Artinya. "Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang taat kepada-Mu, begitu pula anak keturunan kami. Jadikanlah mereka ummat Islam, ajarkanlah cara-cara beribadah haji kepada kami, ampunilah dosa-dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang kepada semua makhluq-Mu."