Kamis, 25 Maret 2021

Hal Yang Disampaikan Nabi Muhammad Saat Berhaji

Pada saat perjalanan ibadah haji Nabi Muhammad SAW selalu memotivasi para sahabatnya agar menyempurnakan amalan ibadah hajinya. Motivasi itu beliau sampaikan dengan menyampaikan kabar gembira atas ganjaran yang diterima oleh seorang hamba yang menyempurnakan amalan ibadah hajinya.

Abu Thalah Muhammad Yunus Abdussatar dalam kitabnya 'Kaifa Tastafidu min al-Haramain asy-Syarifain Ayyuha az-Zair wa al-Muqim' mengatakan bahwa Bilal meriwayatkan, nabi bersabda:

"Di pagi hari dari Muzdalifah menjelang berangkat ke Mina, sesungguhnya Allah memberi Anugerah kepada kalian di Muzdalifah ini. Dia menjadikan orang jelek dari kalian menjadi baik dan memberikan orang yang baik apa yang dia minta. Karena itu berangkatlah dengan menyebut nama Allah. (HR Ibnu Majah).

Hal-hal penting yang disampaikan nabi kepada jamaah haji adalah hukum-hukum agama dalam rangkaian ibadah haji. Nabi menggabungkan aspek penjelasan teori dan amalan praktis tentang khotbahnya di depan jamaah haji pada sehari sebelum hari Tarwiyah dan pelajaran hukum-hukum manasik.

"Setiap kali melaksanakan amalan Haji tertentu beliau selalu menjelaskan hukum ibadah tersebut," kata Abu Thalhah.

Abu Thalhah menyampaikan apa yang diajarkan Nabi SAW ketika haji.

Pertama, Nabi SAW menjelaskan kedudukan rukun Islam serta kaidah-kaidah pokoknya. Dalam salah satu khotbahnya pada musim haji dia bersabda.

"Bertakwalah kalian kepada Tuhanku melaksanakan salat lima waktu, puasalah di bulan Ramadan, tunaikanlah zakat hartamu dan taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu. (HR Tirmidzi).

Kedua, Nabi melarang berbuat syirik dan perkara haram besar lainnya yang berkaitan dengan pelanggaran darah, harta dan kehormatan diri. Nabi bersabda.

"Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah mulia sebagaimana mulianya hari ini pada bulan ini, dan begeri kalian ini. (HR Bukhari).

Seandainya yang lain sesungguhnya dosa besar itu ada empat: Jangan kalian sekutukan tuhan dengan sesuatu apapun, janganlah kalian bunuh jiwa yang dimuliakan Allah kecuali dengan hak, janganlah kalian mencuri, dan janganlah kalian berzina. (HR Ahmad).

Ketiga nabi menjelaskan hukum agama seperti cara memandikan dan mengkafani orang yang meninggal dalam keadaan ihram. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Ibnu Abbas bahwa suatu ketika ada seorang yang sedang wukuf di Arafah, tiba-tiba dia terjatuh dari kendaraannya hingga meninggal. Maka nabi bersabda.

"Mandikan lah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dengan dua lembar kain, jangan beri wangi-wangian, jangan tutup kepalanya karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dewasa ini kata Abu Thalhah banyak melihat kebodohan tersebar sehingga permasalahan agama tidak di ketahui, ilmu dilupakan dan ajaran-ajaran agama tidak dikenal. Kedekatan sebagian umat Islam kepada agamanya tidak lebih sekedar kedekatan sejarah, peran dan warisan, bukan kedekatan pemahaman dan pengetahuan, apalagi dalam praktek dan penerapan.

"Keadaan seperti inilah yang memudahkan peluang bagi orang-orang sesat untuk menyebarkan kebatilan dan di kalangan kaum awam," katanya.

Menurutnya kalau kita perhatikan, jutaan jamaah haji datang dari berbagai negara setiap tahunnya. Sebenarnya itu adalah kesempatan bagi Ulama untuk mengajarkan hukum-hukum agama kepada mereka, untuk lebih memperdalam kebanggaan mereka memeluk agama Islam serta meningkatkan gairah beragama guna menghilangkan gelapnya kebodohan dan menyebarkannya cahaya ilmu di kalangan umat.

Madinah Saat Ini

Madinah Al Munawwarah memiliki tempat yang berharga di hati umat Islam. Karena warisan agama dan sejarahnya yang luar biasa dan ini adalah kota Nabi.

Dilansir di spa.gov.sa, Sabtu (5/9) karena status Islam, budaya, sejarah, dan sosial Madinah Al Munawwarah serta tempat-tempat dan bangunan Islam bersejarah yang terkait dengan biografi Nabi Muhammad, saw, Madinah mendapatkan perhatian, kepedulian, pengembangan dan pembangunan sepanjang sejarah.

Masjid Suci Nabawi yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun pertama Hijrah, setelah datang ke Madinah hijrah dari Makkah, dengan panjang 30 meter dan lebar 35 meter, telah dilakukan pemugaran sekitar 10 kali berturut-turut yang terbesar terjadi selama era negara Saudi.

Perluasan Masjid Nabawi berlanjut dalam periode waktu yang berbeda dari negara-negara Islam berturut-turut. Masjid Suci Nabawi juga mendapat perhatian dan perhatian sejak penyatuan Kerajaan Arab Saudi oleh pendiri kerajaan Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud dan putra-putranya.

Setelah dia mempersiapkan semua infrastruktur dan meluncurkan sejumlah proyek untuk memperluas area masjid dan menyediakan berbagai layanan yang diperlukan untuk Masjidil Haram beserta para jamaah dan pengunjungnya.

Selama pemerintahan almarhum Raja Abdulaziz, beberapa perbaikan dilakukan pada Masjid Suci Nabi. Pada 1365 H, pilar dan dinding sisi utara Masjid terlihat retak, oleh karena itu almarhum Raja Abdulaziz mengeluarkan perintah, setelah mempelajari proyek, untuk melakukan pekerjaan konstruksi dan memperluas Masjid.

Pada 1370 H, pembongkaran bangunan yang berdekatan dengan Masjid Suci Nabi dimulai. Pada tahun 1375 H, pekerjaan konstruksi dan perluasan pada masa pemerintahan Raja Saud bin Abdulaziz selesai, karena pembangunannya dilakukan dengan menggunakan beton bertulang, yang menghasilkan penambahan 6033 meter persegi persegi masjid.

Pada masa pemerintahan Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud dan dengan semakin banyaknya orang yang datang ke Masjid Nabawi, terutama pada musim haji, perluasan Masjid Nabawi menjadi perlu untuk menampung jumlah yang semakin meningkat tersebut. Raja Faisal mengeluarkan perintah untuk memperluas Masjid Nabawi, karena perluasan dilakukan di sisi barat Masjid hanya dengan menambahkan 35.000 meter persegi ke alun-alun Masjid.

Pada masa pemerintahan Raja Khalid bin Abdulaziz Al Saud, Souq Al-Qmashah terbakar pada tahun 1397 H, yang terletak di sisi barat daya Masjid Suci Nabi. Area Souq diratakan dan pemilik rumah dan properti diberi kompensasi. Areal seluas 43 ribu meter persegi ini, sebuah bujur sangkar yang luas dan teduh, ditambahkan ke dalam Masjid Nabawi dan sebagian diperuntukkan sebagai tempat parkir. Perluasan ini tidak termasuk Masjid itu sendiri.

Pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud, dia memerintahkan untuk menyediakan studi untuk perluasan besar Masjid Suci Nabi. Pada 1405 H, peletakan batu pondasi untuk proyek perluasan Masjid Nabawi. Proyek perluasan menampung lebih dari 257 ribu jamaah dalam total area 165.500 meter persegi setelah menyelesaikannya.

Perluasan tersebut termasuk membangun ruang bawah tanah untuk menampung AC, lemari es, dan layanan lainnya. Termasuk juga mengelilingi Masjid Nabawi dengan halaman seluas 23 ribu meter persegi, yang lantainya dilapisi marmer dan granit, sesuai bentuk geometris dalam berbagai model cantik Islami.

Seluas 135 ribumeter persegi halaman ini telah dialokasikan untuk sholat, untuk menampung 250 ribu hingga 400 ribu jamaah jika seluruh area alun-alun yang mengelilingi masjid digunakan. Ini membuat kapasitas seluruh Masjid dan halaman sekitarnya lebih dari 650 ribu jamaah, mencapai satu juta jamaah pada waktu puncak.

Pada masa pemerintahan Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud, proyek perluasan Masjid Nabawi terbesar sepanjang sejarah diluncurkan, selain proyek payung di Masjid Suci Nabawi. Kapasitas Masjid Suci Nabawi akan mencapai dua juta jamaah pada akhir proyek. Kemudian raja memerintahkanuntuk membuat dan memasang payung yang sejajar dengan pilar-pilar alun-alun Masjid Nabawi yang berjumlah 250 buah payung.

Payung-payung ini mencakup area seluas 143 ribu meter persegi yang mengelilingi empat sudut masjid, di mana lebih dari 800 jamaah dapat beribadah di bawah salah satu payung ini. Sebagai bagian dari proyek payung, 436 kipas kabut telah dipasang pada 250 payung yang menutupi berbagai alun-alun Masjid Nabawi, yang memiliki luas sekitar 175.500 meter persegi dan menampung sekitar 251 ribu jamaah.

Perhatian terhadap Dua Masjid Suci dan para pengunjungnya terus berlanjut di era yang makmur ini di bawah kepemimpinan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Penjaga Dua Masjid Suci menegaskan di setiap forum pentingnya dan keteguhan untuk terus mengerjakan proyek ekspansi besar di Dua Masjid Suci untuk melayani Islam dan Muslim di samping menyediakan semua sarana untuk melayani jamaah, pelaku umrah dan pengunjung menggunakan sistem yang terintegrasi pekerjaan dan koordinasi langsung antara berbagai entitas terkait.

Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud menyetujui untuk mulai melaksanakan proyek pengembangan dan modernisasi operasional dan teknis dari sistem suara, sistem arus cahaya dan sistem elektromekanis di Masjid Suci Nabawi dan halamannya sesuai dengan teknologi terbaru yang tersedia secara global.

Raja juga menyetujui pengembangan sistem suara, AC dan kontrol otomatis dalam proyek Masjid Nabawi, selain mengembangkan tempat parkir dan gedung layanan.

Masjid Suci Nabawi juga merupakan bagian penting dari Visi Kerajaan 2030 yang disajikan oleh Yang Mulia Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz, Putra Mahkota, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, yang bertujuan untuk membangun Dua Masjid Suci dan meningkatkan semua layanan dan mengatasi segala kesulitan, sehingga para peziarah, pelaku umrah dan pengunjung menemukan segala cara untuk membantu mereka melaksanakan ritualnya.

Madinah Al Munawwarah memiliki banyak tempat religius dan bersejarah, yang menjadi indikasi kebesaran kota ini dan hubungannya dengan biografi dan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah Masjid Quba yang berada di barat daya Madinah.

Perluasan Masjid Quba berlanjut, hingga era Saudi di mana ekspansi terbesar terjadi, untuk menampung lebih dari 20 ribu jamaah, di mana bagian utara masjid diperuntukkan bagi wanita dengan kapasitas lebih dari 7.000 jamaah. Salah satu landmark terpenting bagi peziarah dan pengunjung yang datang ke Madinah adalah Tujuh Masjid.

Madinah Al-Munawwarah dikenal karena banyak gunung dan lembahnya, yang terkait dengan biografi Nabi Muhammad SAW. Di antara yang paling penting dari gunung-gunung ini adalah Gunung Uhud dan di sebelahnya adalah Syuhada (Syuhada) Makam Uhud, yang meliputi kuburan 70 orang syahid para Sahabat (Para Sahabat Nabi Muhammad) yang menjadi korban selama Pertempuran Uhud. Gunung ini merupakan tengara penting dalam biografi Nabi dan sejarah Islam.

Di antara lereng pegunungan Madinah ada lembah-lembah yang dilalui Nabi. Lembah-lembah ini menjadi saksi peradaban kuno yang menetap di Madinah atau melewatinya, karena beberapa peradaban ini disebutkan dalam biografi Nabi Muhammad SAW, atau ditemukan pada zaman ini melalui prasasti dan gambar yang muncul di bebatuan sebagai tanda-tanda makhluk yang hidup di tanah Jazirah Arab pada era sebelum dan sesudah Islam.

Wadi Al-Aqeeq atau (Lembah Terberkati) dianggap sebagai salah satu lembah terpenting dari lembah ini, seperti yang disebutkan dalam banyak hadits yang menunjukkan keutamaan dan keindahan alamnya, di mana Nabi Muhammad SAW, menggunakan untuk pergi keluar menikmati udara dan cuacanya yang bagus.

Kelebihan Makkah dan Madinah

Madinah sangat identik dengan rumah kediaman Rasulullah, sedangkan Makkah dengan keberadaan Ka'bah di wilayahnya. Hal ini amatlah lumrah karena keberadaan dua simbol tersebut sangat mewakili identitas kedua kota suci tersebut.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya yang berjudul "Badai al-Fawaid" mengatakan, bahwa jawaban Ibnu Uqail al-Hanbali ketika ditanya mengenai perbandingan keistimewaan antara Hujrah dan Ka'bah adalah, "Jika yang dimaksud hanya sekedar Hujrah saja maka Ka'bah tentu lebih istimewa."

Namun, jika yang dimaksud hujroh adalah tempat kediaman Rasulullah, maka demi Allah tidak demikian pula tidak sebanding jika dibandingkan dengan Arsy dan yang menopangnya, surga Adn dan bintang-bintang yang berotasi sekalipun. Karena di dalam Hijrah tersebut terdapat jasad, di mana jika ditimbang dengan langit dan bumi, maka niscaya jasad itu akan lebih berat."

An-Nawawi berkata, "Pendapat yang terpilih adalah, bahwa langit lebih istimewa daripada bumi, tanpa jasad Rasulullah yang mulia, para ulama sepakat bahwa kota Makkah dan Madinah lebih istimewa daripada negeri-negeri lainnya. Namun, mereka berbeda pendapat dalam membandingkan keistimewaan keduanya.”

Alqurthubi mengatakan, bahwa Umar bin Khattab sebagai sahabat, dan mayoritas penduduk Madinah berpendapat bahwa kota Madinah lebih istimewa. Ini merupakan pendapat mazhab Imam Malik dan salah satu riwayat Imam Ahmad jadi perbedaannya adalah, keistimewaan yaitu dengan kecuali kan Ka'bah. Karena Ka'bah lebih istimewa daripada tempat lain yang ada di kota Madinah. Pendapat ini dikatakan oleh Ash Shalihi dalam kitab Al Madinah Al Munawaroh.

Di dalam kitab Nawadir, Tirmidzi berkata, "Aku mendengar Zubair bin Bakkar berkata," sebagian penduduk Madinah menulis sebuah buku tentang Madinah. Begitupula dengan beberapa orang penduduk Makkah menulis buku tentang kota Makkah. Masing-masing mereka menyebut kan keistimewaan daerahnya. Hingga akhirnya ada seorang penduduk Madinah yang menuliskan keistimewaan kedua daerah tersebut dalam satu buku, yang tidak ada satupun maka dapat melakukan yang sama."

Orang Madinah itu berkata, "Sungguh, setiap jiwa diciptakan dari tanah, dimana setelah wafat dia dikuburkan didalamnya. Sedangkan jiwa Rasulullah diciptakan dari tanah Madinah. Dengan demikian tanah Madinah memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan seluruh tanah bumi.” (al-Mashudi Wafa Al Wafa).

Mush'ab berkata, "Ketika Al Mahdi datang ke kota Madinah dia disambut oleh Malik dan tokoh-tokoh kota Madinah dari jarak beberapa mil. Ketika melihat Al-Mahdi menemuinya dan memeluknya. Menoleh kepada Al Mahdi dan berkata, "Wahai pemimpin Muslim sekarang engkau telah memasuki kota Madinah. Dirimu melewati kaum di sebelah kanan dan kiri. Mereka adalah putra-putra kaum Muhajirin dan Anshor. ucapkan salam kepada mereka! Sungguh, di muka bumi ini tidak ada kaum dan kota yang lebih baik dari penduduk dan kota Madinah."

"Almahdi bertanya dari mana kamu mendengar perkataan ini wahai Abu Abdullah?"

Ia menjawab. "Karena tidak ada makam seorang nabi pun yang diketahui tempatnya di muka bumi ini selain maka Nabi Muhammad. Jadi, siapa saja yang di tempat oleh makam Nabi Muhammad, maka keistimewaan mereka harus diakui dari yang lainnya." Lalu, al-Mahdi pun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya itu.

Ash-Shalihi asy-Syami berkata setelah menyebutkan kisah tersebut dalam kitabnya itu. "Pada kisah ini terdapat isyarat mengenai keistimewaan orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah."

Rasulullah pernah bersabda, "Jibril terus mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga akan menerima warisan."(HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini tidak mengkhususkan satu tetangga atas tangga lainnya.

Membayangkan Perjuangan Rasulullah Ketika Di Madinah



Di antara adab berziarah ke Madinah adalah dengan membayangkan bahwa Madinah sebagai kota perjuangan Nabi Muhammad SAW. Dan akhirnya di kota inilah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dimakamkan.

Imam Ghazali Rah.a mengatakan, selain membayangkan Rasulullah semasa hidupnya, para peziarah atau jamaah umrah dan haji membayangkan kehidupan para sahabatnya. Mereka para sahabat yang selalu menenami Rasulullah dalam suka dan duka perjuangan Rasulullah menegakan agama Islam.

"Hendaknya juga membayangkan masa-masa ketika para sahabat berkumpul untuk mendapatkan manfaat dengan melihat dan mendengarkan sabda Rasulullah SAW," kata Imam Ghazali seperti dikuti dalam kitab Fadhilan Haji karya Syekh Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a

Untuk menyanjungnya Imam Ghazali menuliskan sebuah syair berikut syairnya. "Kehidupan kerajaan bunga yang indah di atas singgasana taman bunga. Ribuan pasukan burung Bulbul juga ada. Suara hiruk pikuk juga ada. Ketika musim gugur tiba yang tersisa di kebun bunga itu hanyalah duri penjaga taman memberitahu bahwa di sinilah dulu ada kuntum bunga."

Setelah itu Imam Ghazali menyarankan hendaknya kita merasa bersedih karena tidak diperkenankan melihat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya di dunia. Karena kata Imam Ghazali pada hari akhirat nanti, kita tidak tahu tentang keadaan kita.

"Apakah kita bisa bertemu dengan Rasulullah SAW dengan penuh kegembiraan atau kita akan menelan kesedihan lagi," katanya.

Besok di hari akhir kita akan dihalau dari pintu gerbang Rasulullah dan amalan buruk kita akan menjadi penghalang kita untuk menemui Rasulullah. Karena disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda.

"Pada hari kiamat golongan umatku akan dihalau dari bertemu denganku. Aku akan mengatakan bahwa mereka adalah umatku dan aku akan mendapatkan jawaban engkau tidak tahu mengenai apa saja yang telah mereka kerjakan sepeninggalanmu."

Oleh karena itu, kata Imam Ghazali apabila kalian mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan sunnah syariat Rasulullah kalian jangan merasa aman bahwa kejahatan itu akan menjadi penghalang antara kalian dengan Rasulullah. Di samping itu hendaknya selalu mengharapkan Rahmat karena Allah SWT telah menghadirkan kalian dari tempat yang jauh di Madinah, maka tidak mustahil Allah akan mempertemukan kalian dengan Rasulullah di akhir kelak.

Membaca apa yang disampaikan Imam Ghazali di atas Maulana Muhammad Zakariyya langsung menutup tulisannya dengan doa. "Semoga Allah SWT juga mengaruniakan keberuntungan ini kepada hamba yang hina ini. Amin ya Robbal aalaminn bi wasilati Nabiyyika Sayyidil Mursalin shallallahu alaihi wasallam."

Kisah Rasulullah Bagian 116





KISAH RASULULLAH ﷺ

Bagian 116

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

 
 
*Topan*

Selama perang Ahzab yang mencekam itu tak henti-hentinya Rasulullah ﷺ berdoa siang dan malam merendahkan diri kepada Allah memohon agar pasukan Ahzab dikalahkan dan diguncangkan.

Pada suatu malam, angin topan mengamuk melanda Madinah dan sekitarnya. Kaum muslimin segera berlindung dibalik pagar pertahanan. Rasa dingin begitu menusuk tulang. Pada saat itu, Rasulullah ﷺ berseru mengalahkan deru angin,

“Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepada ku, mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat!”

Semua sahabat terdiam. Rasulullah ﷺ mengulangi seruannya sampai tiga kali, Namun semua sahabat dicekam dahsyatnya topan. Rasulullah ﷺ pun berseru,

“Bangkitlah wahai Hudzaifah, carilah berita dan laporkan kepadaku!”

Hudzaifah bangkit dan mendengarkan pesan Rasulullah ﷺ,

“Berangkatlah mencari berita musuh dan janganlah engkau melakukan tindakan apa pun.”

Hudzaifah berangkat dengan membawa panah. Ia berjalan dengan susah payah melawan angin.

Hudzaifah menuturkan sendiri pengalamannya. Aku berjalan seperti orang yang sedang dicengkeram kematian, hingga tiba di markas musuh.
Kulihat Abu Sufyan sedang menghangatkan punggungnya di perapian. Aku segera memasang anak panah pada busur ku, namun aku teringat pesan Rasulullah ﷺ, “Janganlah engkau melakukan tindakan apapun!” Kalau aku panah pasti akan kena pahanya.

Pada saat itu, angin dan tentara Allah sudah mengobrak-abrik musuh, menerbangkan kuali, memadamkan api, dan menumbangkan perkemahan. Abu Sufyan bangkit dan berkata,

“Wahai kaum Quraisy setiap orang hendaknya melihat siapa teman duduknya.”

Aku segera memegang tangan orang yang berada di sampingku lalu bertanya,

“Siapakah Anda?” Dia menjawab, “Fulan bin Fulan” Selanjutnya Abu Sufyan berkata,

“Wahai orang-orang Quraisy! Demi Allah. Sesungguhnya kalian tidak tinggal di tempat yang layak. Kuda unta dan ternak kita banyak yang mati. Bani Quraizhah telah mengkhianati janjinya kepada kita. Badai ini membuat peralatan dapur kita kocar-kacir, tidak dapat menyalakan api, dan tidak satu tenda pun yang berdiri tegak. Oleh karena itu, pulanglah kalian. Aku sendiri juga akan pulang.”

*Bergerak ke Bani Quraizhah*

Hudzaifah pulang dengan bersusah payah dan melaporkan apa yang dilihatnya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menyelimuti Hudzaifah dengan kain yang biasa digunakan untuk sholat. Hudzaifah pun tertidur sampai pagi. Kemudian, sambil bergurau. Rasulullah ﷺ membangunkan Hudzaifah.

“Bangun, wahai tukang tidur!”

Kaum muslimin memandang tempat yang baru saja beberapa jam lalu dipenuhi ribuan musuh bersenjata lengkap itu, kini kosong, kecuali serpihan tenda dan peralatan lain yang berserakan di sana-sini.
Berakhirlah Perang Khandaq pada tahun kelima Hijriah.

Ketika semuanya telah terpana. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Segala puji bagi Allah. Dialah yang telah menolong hambanya dan memberi kekuatan kepada tentaranya. Dialah yang mengalahkan pasukan Ahzab dengan dirinya sendiri. Orang-orang Quraisy tidak akan pernah lagi menyerang ke sini. Sebaliknya, kita yang akan memerangi mereka. Kalian yang akan memasuki Mekah, lalu menghancurkan patung patung nya.”

Kaum muslimin bertakbir. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan diliputi rasa syukur dan bangga dengan kemenangan ini. Mereka telah melewati cobaan yang teramat berat. Sejak saat itu mereka yakin dakwah mereka akan menjadi ajaran baru yang dihormati dan di tunggu-tunggu kedatangannya.

Namun masih ada persoalan yang menggantung dengan bani Quraizhah. Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum muslimin melakukan sholat Ashar di depan perkampungan bani Quraizhah. Dengan ketaatan yang mengagumkan, kaum muslimin yang sudah sangat lelah dalam perang Ahzab itu mengikuti perintah tersebut.

Rasulullah ﷺ memberikan bendera kepada Ali bin Abi Tholib. Namun, begitu Ali tiba di depan benteng bani Quraizhah, ia mendengar orang-orang Yahudi mencaci-maki Nabi Muhammad ﷺ dan hendak mencemarkan nama istri-istri beliau.

Rasulullah ﷺ segera menampakkan diri dan mendadak semua cacian itu berhenti.

“Wahai golongan kera, Allah sudah menghinakan kamu, bukan? Allah sudah menurunkan murkanya kepada kamu sekalian bukan?” Demikian seru Rasulullah ﷺ.

Kaum muslimin mengepung bani Quraizhah selama 25 hari terus menerus.

Bersambung

Hukum Sewa Orang Untuk Kerjakan Ibadah Haji (Badal Haji)

Sewa menyewa tidak hanya di dalam muamalah pada jual beli. Sewa menyewa juga ada di dalam ibadah terutama dalam ibadah haji.

Dalam bukunya Ensiklopedia Fiqih Hajin dan Umrah Gus Arifin menuliskan, orang yang disewa dengan syarat sewa-menyewa seperti adanya biaya sewa menyewa, akad dan resiko dari muamalah tersebut. Maka ia boleh menggunakan semua yang diperbolehkan dari sewa-menyewa tersebut.

"Jika ada kelebihan biaya dari pelaksanaan ibadah haji maka itu menjadi haknya," katanya.

Namun, jika biaya sewa menyewa tersebut hilang dicuri dan lain-lain atau harus membayar dam karena pelanggaran ihram maka itu menjadi beban yang harus ditanggung sendiri di mana ibadah haji tetap harus dilaksanakan sesuai akad.

Mayoritas ulama Hanafi berpendapat, tidak boleh menyewa orang lain untuk melaksanakan ibadah haji, seperti juga tidak boleh mengambil upah dan dalam mengajarkan Alquran. Dalam hadis riwayat Ubay bin Ka'ab RA pernah mengajar di Al Quran dan ia diberi hadiah busur panah.

Lalu Rasulullah SAW bersabda. "Kalau kamu mau busur dari api menggantung di leher mu ya ambil saja."(HR Ibnu Majah).

Rasulullah SAW juga berpesan kepada Utsman Bin Abil Ash. "Angkatlah muadzin yang ia tidak mengambil upah atas pekerjaan adzan yaitu." (HR Abu Daud).

Mayoritas ulama Syafi'i dan Hambali serta sebagian ulama Hanafi berpendapat boleh menyewa orang untuk melaksanakan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya yang boleh diwakilkan dengan landasan hadist yang mengatakan.

"Sesungguhnya upah yang paling layak kamu ambil adalah mengajarkan kitab Allah." (HR. Bukhari).

Mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat. "Boleh menyewa orang untuk melaksanakan ibadah haji berlaku baik untuk orang yang telah meninggal maupun orang yang belum meninggal."

Ulama Maliki berpendapat, maksud menyewa orang melaksanakan ibadah haji, karena menurut mereka hanya upah mengajarkan Alquran yang diperbolehkan dalam masalah ini. Menyewa orang melaksanakan ibadah haji juga hanya boleh untuk orang yang telah meninggal dunia dan itu pun harus ada wasiat itu kalau tidak mewasiatkan maka tidak sah.

Perintah Haji

Perintah berhaji diserukan kepada seluruh manusia di bumi. Perintah ini nyatanya telah digaungkan sejak manusia berada dalam kehidupan di rahim ibu.

Seruan berhaji sendiri diabadikan di dalam Alquran Surah Al-Hajj ayat 27, Allah SWT berfirman: “Wa adzzin finnaasi bil-hajj ya’tuuka rijaalan wa ala kulli dhaamiri ya’tiina min kulli fajjin amiqin,”. Yang artinya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”.

Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menaiki Bukit Qubais beliau kemudian bertanya kepada Allah tentang apa yang harus dia lakukan. Maka Allah pun berfirman yang terangkum dalam Surah Al-Hajj ayat 27 itu tadi.

Nabi Ibrahim kemudian berseru: “Wahai manusia, wahai hamba Allah! Berkunjunglah ke Rumah Allah (Baitullah),”. Kemudian, Allah memperdengarkan seruan Nabi Ibrahim itu kepada setetes nutfah yang ada dalam rahim ibu. Allah memperdengarkan seruan Nabi Ibrahim kepada kehidupan, pada alam, kepada tumbuh-tumbuhan.

Lalu semua ahli tauhid menjawab: “Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal-hamda wa ni’mata laka walmulka laa syarika laka,”. Yang artinya: “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya puji, nikmat, dan kekuasaan hanya ada pada-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu,”.

Maka dijelaskan bahwa seluruh kehidupan mengucapkan talbiah. Bumi mengucap talbiah, langit mengucap talbiah, dan seluruh alam semesta mengucap talbiah. Seluruh keadaan menjadi saksi bahwa kemenangan berada di tangan agama hanif ini, Islam. Dan kebahagiaan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.