Kamis, 25 Maret 2021

Hukum Sewa Orang Untuk Kerjakan Ibadah Haji (Badal Haji)

Sewa menyewa tidak hanya di dalam muamalah pada jual beli. Sewa menyewa juga ada di dalam ibadah terutama dalam ibadah haji.

Dalam bukunya Ensiklopedia Fiqih Hajin dan Umrah Gus Arifin menuliskan, orang yang disewa dengan syarat sewa-menyewa seperti adanya biaya sewa menyewa, akad dan resiko dari muamalah tersebut. Maka ia boleh menggunakan semua yang diperbolehkan dari sewa-menyewa tersebut.

"Jika ada kelebihan biaya dari pelaksanaan ibadah haji maka itu menjadi haknya," katanya.

Namun, jika biaya sewa menyewa tersebut hilang dicuri dan lain-lain atau harus membayar dam karena pelanggaran ihram maka itu menjadi beban yang harus ditanggung sendiri di mana ibadah haji tetap harus dilaksanakan sesuai akad.

Mayoritas ulama Hanafi berpendapat, tidak boleh menyewa orang lain untuk melaksanakan ibadah haji, seperti juga tidak boleh mengambil upah dan dalam mengajarkan Alquran. Dalam hadis riwayat Ubay bin Ka'ab RA pernah mengajar di Al Quran dan ia diberi hadiah busur panah.

Lalu Rasulullah SAW bersabda. "Kalau kamu mau busur dari api menggantung di leher mu ya ambil saja."(HR Ibnu Majah).

Rasulullah SAW juga berpesan kepada Utsman Bin Abil Ash. "Angkatlah muadzin yang ia tidak mengambil upah atas pekerjaan adzan yaitu." (HR Abu Daud).

Mayoritas ulama Syafi'i dan Hambali serta sebagian ulama Hanafi berpendapat boleh menyewa orang untuk melaksanakan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya yang boleh diwakilkan dengan landasan hadist yang mengatakan.

"Sesungguhnya upah yang paling layak kamu ambil adalah mengajarkan kitab Allah." (HR. Bukhari).

Mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat. "Boleh menyewa orang untuk melaksanakan ibadah haji berlaku baik untuk orang yang telah meninggal maupun orang yang belum meninggal."

Ulama Maliki berpendapat, maksud menyewa orang melaksanakan ibadah haji, karena menurut mereka hanya upah mengajarkan Alquran yang diperbolehkan dalam masalah ini. Menyewa orang melaksanakan ibadah haji juga hanya boleh untuk orang yang telah meninggal dunia dan itu pun harus ada wasiat itu kalau tidak mewasiatkan maka tidak sah.

Perintah Haji

Perintah berhaji diserukan kepada seluruh manusia di bumi. Perintah ini nyatanya telah digaungkan sejak manusia berada dalam kehidupan di rahim ibu.

Seruan berhaji sendiri diabadikan di dalam Alquran Surah Al-Hajj ayat 27, Allah SWT berfirman: “Wa adzzin finnaasi bil-hajj ya’tuuka rijaalan wa ala kulli dhaamiri ya’tiina min kulli fajjin amiqin,”. Yang artinya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”.

Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menaiki Bukit Qubais beliau kemudian bertanya kepada Allah tentang apa yang harus dia lakukan. Maka Allah pun berfirman yang terangkum dalam Surah Al-Hajj ayat 27 itu tadi.

Nabi Ibrahim kemudian berseru: “Wahai manusia, wahai hamba Allah! Berkunjunglah ke Rumah Allah (Baitullah),”. Kemudian, Allah memperdengarkan seruan Nabi Ibrahim itu kepada setetes nutfah yang ada dalam rahim ibu. Allah memperdengarkan seruan Nabi Ibrahim kepada kehidupan, pada alam, kepada tumbuh-tumbuhan.

Lalu semua ahli tauhid menjawab: “Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal-hamda wa ni’mata laka walmulka laa syarika laka,”. Yang artinya: “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya puji, nikmat, dan kekuasaan hanya ada pada-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu,”.

Maka dijelaskan bahwa seluruh kehidupan mengucapkan talbiah. Bumi mengucap talbiah, langit mengucap talbiah, dan seluruh alam semesta mengucap talbiah. Seluruh keadaan menjadi saksi bahwa kemenangan berada di tangan agama hanif ini, Islam. Dan kebahagiaan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.

Rabu, 24 Maret 2021

Mengapa Madinah Disebut Kota Haram

Allah SWT menjadikan Madinah sebagai kota haram sebagaimana Allah menjadikan Makkah juga kota haram. Dan apa yang dimaksud dalam Tanah Haram itu?

Dikutip dari buku Bekal Haji karya Ustadz Firanda Andirja, Nabi Muhammad ﷺ bersabda sebagai berikut:

اِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةُ "Sesungguhnya Ibrahim menjadikan Makkah tanah haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah tanah haram", (HR Muslim).

Maksud haram di sini yakni diharamkan di Kota Makkah dan Madinah memotong pohon yang berdiri, membunuh binatang buruan, dan mengangkat senjata untuk tujuan menumpahkan darah atau berperang. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْ الْمَدِيْنَةِ أَنْ يُقْطَعَ عَضَاهُهَا أَوْ يُقْتَلَ صَيْدُهَا "Sesungguhnya aku mengharamkan memotong pohon yang berdiri dan membunuh hewan buruan di Madinah." (HR Muslim). Dalam riwayat lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya aku mengharamkan kota Madinah yang batas wilayahnya antara dua gunung yang ada di kota Madinah agar tidak menumpahkan darah, tidak membawa senjata untuk berperang, dan tidak mengugurkan daun-daun pohon yang ada di Kota Madinah, kecuali untuk makanan ternak." (HR Muslim).


Cara Wali Allah Menghindari Syahwat di Kota Suci

Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi mengisahkan seorang Wali Allah bernama Abu Bakar Daqqaq Rah.a. Abu Bakar sudah 20 tahun tinggal di Makkah, namun terbesit dalam hatinya ingin minum susu.

"Akan tetapi dengan sengaja ia tidak meminumnya atau memang tidak ada," kata Syekh Maulana Muhammad Zakariyya seperti dikisahkan dalam kitabnya Fadhilah Haji.

Kata Syekh Maulana Muhammad Zakariyya, bila syahwatnya memuncak ingin minum susu, ia pergi ke Asqalan. Di sana ia menjadi tamu warga Asqalan. Di sana, pandangannya jatuh ke arah seorang wanita yang cantik.

"Karena cantiknya ia telah menarik hatinya (Abu Bakar)," katanya.

Gadis itu berkata kepada Abu Bakar. "Jika engkau benar-benar mencintaiku, tentu keinginan untuk minum susu akan keluar dari hatimu."

Mendengar ucapan itu ia kembali ke Makkah dan melakukan thawaf. Kemudian Ia tidur dan bermimpi berjumpa dengan Nabi Yusuf aku berkata kepadanya. "Wahai Nabi Allah engkau telah selamat dari Zulaika, Semoga Allah SWT selalu menyejukkan pandanganmu."

Nabi Yusuf AS berkata, "Juga selamat untukmu, semoga Allah SWT selalu menundukkan pandangan. Engkau telah selamat dari gadis Asqalan. Kemudian Nabi Yusuf membaca surah Ar-Rahman ayat 45-46.

Artinya, "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.."

Syekh Maulana Muhamamad Zakariyya mengatakan bahwa ada seorang Syekh berkata, "Manusia tidak akan bisa keluar dari ikatan syaitan dengan mengikuti nafsu." Dan katanya lagi, "Bersenang-senanglah dengan berpegang kepada Allah dan janganlah bersenang-senang dengan meninggalkan Allah SWT."

Barangsiapa yang bersenang-senang dengan berpegang kepada Allah SWT ia akan selamat. Dan barangsiapa bersenang-senang dengan lari dari Allah SWT ia akan binasa. Bersenang-senang dengan berpegang kepada Allah adalah hati yang dilumuri oleh dzikir kepada Allah SWT dan bersenang-senang dengan dari dari Allah SWT adalah hati yang lalai.

Rasulullah SAW bersabda "Apabila pandangan laki-laki tertuju pada seorang wanita yang cantik dan ia langsung mengalihkan pandangannya, maka Allah SWT akan memberinya taufik untuk melakukan amalan yang ia rasakan manisnya.

Kisah Rasulullah Bagian 115

KISAH RASULULLAH ﷺ

Bagian 115

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Rasulullah Mengutus Nu’aim bin Mas’ud*

Bersabar bukan berarti berdiam diri. Rasulullah ﷺ memanggil Nu’aim bin Mas’ud yang baru saja masuk Islam dan hal itu tidak diketahui oleh musuh. Pada masa jahiliyah Nu’aim sangat erat bersahabat dengan bani Quraizhah dan Ghathafan.

“Ya Rasulullah, sesungguhnya kaum saya tidak mengetahui keislaman saya. Karena itulah silahkan kalau mau berbuat apa saja yang engkau inginkan terhadap diri saya,” kata Nu’aim.

Rosululloh ﷺ menjelaskan rencananya kepada Nu’aim, setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda,

“Laksanakanlah rencana ini, Nu’aim karena suatu pertempuran itu memang penuh tipu daya.”

Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ adalah strategi yang luar biasa untuk memecah-belah musuh. Atas perintah Rasulullah ﷺ, Nu’aim pergi menemui bani Quraizhah. Nu’aim berkata,

“Kalian semua telah tahu betapa aku sangat mencintai kalian,”

“Kami memang tidak menaruh curiga sama sekali kepada-mu,” jawab bani Quraizhah.

Nu’aim melanjutkan,
“Sebenarnya orang-orang Quraisy dan Ghathafan tidak sama dengan kalian sebab ini adalah negeri kalian. Di sini lah kalian menyimpan harta dan istri-istri kalian. Sementara itu harta dan istri-istri orang Quraisy serta kekuatan ada di tempat masing-masing.
Lagipula pengepungan sudah berjalan terlalu lama. Orang Quraisy dan Ghathafan mulai kehabisan bekal. Kuda-kuda dan unta-unta mereka sudah semakin kurus karena rumput di sekitar Madinah telah menggundul. Sebentar lagi mereka akan pulang, sementara kalian akan ditinggalkan sendiri untuk menghadapi Muhammad dan pengikutnya.
Mengapa kalian sampai hati menghianati Muhammad? Bukankah kalian mengetahui bahwa Muhammad itu sangat jujur dan setia? Ia pasti akan membela kalian jika kalian dalam kesulitan seperti yang tertera dalam perjanjian di antara kalian dan Muhammad.
Jika pasukan al-Ahzab datang posisi kalian akan terjepit. Yang pasti kalian tidak akan mampu menghadapi Muhammad dan para pengikutnya, jika kalian dan mereka saling berhadapan langsung.”

“Apa yang harus kami lakukan?” tanya orang Yahudi itu bingung.

“Minta sandera dari pihak Quraisy dan Ghathafan. Dengan demikian keduanya tidak akan pulang melainkan bertempur bersama kalian. Janganlah kalian mau disuruh menyerang sebelum sandera-sandera dari pihak Ahzab ada di tangan kalian,” jawab Nu’aim bin Mashud.

Bani Quraizhah menyetujui usul yang menurut mereka sangat baik ini.

*Musuh Terpecah Belah*

Kemudian secara diam-diam Nuaim melanjutkan visinya, ia pergi ke perkemahan bani Ghathafan yang juga sahabatnya. Kepada mereka Nuaim berkata,

“Sebenarnya bani Quraizhah merasa menyesal telah memusuhi Muhammad. Mereka enggan meneruskan pertempuran di pihak kalian. Hati-hati, mereka akan berpura-pura meminta sandera kepada kalian, padahal sandera itu akan diserahkan kepada Muhammad, agar Muhammad memaafkan perbuatan mereka.”

Mendengar itu para pemimpin Ghathafan dan Quraisy jadi ragu-ragu terhadap bani Quraizhah. Abu Sufyan pun menulis surat kepada Kaab pemimpin bani Quraizhah.

“Kami sudah cukup lama tinggal di tempat ini dan mengepung Muhammad. Menurut hemat kami, besok kalian harus sudah menyerbu Muhammad dari belakang dan kami akan menyusul.”

“Besok hari Sabtu,” tulis Kaab. “Pada hari Sabtu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.”

“Cari hari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok,” geram Abu Sufyan dalam surat balasannya.
“Sebab besok Muhammad sudah harus diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak turut serta dengan kami, persekutuan kita dengan sendirinya bubar dan kamulah yang akan kami serbu lebih dahulu sebelum Muhammad!”

Bani Quraizhah tidak berani melanggar pantangan pada hari Sabtu. Mereka mengulangi jawaban itu dengan tambahan bahwa ada golongan mereka yang dapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu, sehingga berubah menjadi monyet dan babi.
Kemudian bani Quraizhah malah meminta sandera dari pihak Ahzab untuk ditahan di benteng mereka agar yakin bahwa orang Quraisy dan Ghathafan tidak akan pergi begitu saja.

Mendengar itu, yakinlah pasukan Ahzab bahwa apa yang dikatakan Nu’aim benar. Keraguan besar segera melanda pasukan Ahzab. Jika bani Quraizhah tidak menyerang dari belakang, mereka terpaksa harus menyerang dari depan melalui parit. Padahal parit itu tidak akan diseberangi dengan cara bagaimanapun.

Karena orang Quraisy menolak menyerahkan sandera. Yakinlah bani Quraizhah bahwa mereka akan ditinggalkan.

_Shallu ‘alan Nabi…_

Bersambung

Selasa, 23 Maret 2021

Kisah Rasulullah Bagian 114

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 114*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ 
مُحَمد

*Kaum Muslimin Sangat Terkejut*

Tentu saja Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya terkejut setelah mendengar Yahudi Bani Quraizhah telah membelot ke pihak musuh. Ini berarti pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu harus membagi pasukan dalam dua kelompok pertempuran. Keadaan ini benar-benar memberatkan.

Rasulullah ﷺ mengutus Saad bin Muadz pemimpin suku Aus yang pernah menjadi sekutu sekaligus pelindung bani Quraizhah ditemani Sa’ad bin Ubadah pemimpin suku Khazraj dan beberapa orang sahabat Rasulullah ﷺ meminta mereka mengecek keadaan bani Quraizhah.

Para sahabat itu kemudian pergi menemui bani Quraizhah yang telah mengurung diri dalam benteng mereka. 

Saad bin Muadz mencoba mengingatkan perjanjian damai yang berisi saling bantu antara kaum muslimin dan bani Quraizhah.

“Antara kami dan Muhammad tidak ada ikatan apa-apa dan tidak ada perjanjian apa-apa,” jawab bani Quraizhah kepada Saad bin Muadz.

Saad berusaha menyadarkan bani Quraizhah terhadap risiko yang akan mereka hadapi karena membelot dari perjanjian dengan kaum muslimin. Saad meminta mereka agar tetap mau menjadi sekutu dengan segala kejujuran sebagaimana pada masa-masa lalu dan tetap menjaga hak kedua belah pihak agar tidak mengecewakan Rasulullah ﷺ pada saat-saat sulit seperti ini.

Namun jawaban bani Quraizhah sangat kasar dan menghina. Saad bin Muadz marah sekali sampai terjadi perang mulut antara Saad bin Muadz dan bani Quraizhah. Akhirnya Saad dan para sahabat yang lain pulang dengan hati kesal.

“Biarkan mereka menentang dirimu, sebab jika dilayani hanya akan menambah ramai pertengkaran antara kita dan mereka,” hibur Sa’ad bin Ubadah kepada Saad bin Muadz.

Saad bin Muadz menemui Rasulullah ﷺ dan melapor,
“Ya Rasulullah, mereka telah melanggar perjanjian sebagaimana dulu dilakukan suku Adhal dan Qarah.”

Mendengar itu Rasulullah ﷺ bersabda,

“Allahu akbar, Bergembiralah wahai kaum muslimin!”

Saad masuk Islam pada usia 31 tahun. Pada usia 37 tahun Ia pergi menemui Syahidnya. 

Hari-hari keislaman sampai wafatnya diisi semua dengan karya-karya gemilang dalam berbakti kepada Allah ﷻ dan rasulnya ﷺ.

*Suara Kaum Munafik*

Kata-kata hiburan Rasulullah ﷺ yang penuh semangat itu tidak ditanggapi dengan baik oleh orang-orang munafik dan mereka yang lemah Iman.

Memang benar, keadaan seperti itu membuat hampir seluruh sahabat dilanda kecemasan. 

Al-Qur’an melukiskan bahwa keadaan kaum muslimin waktu itu sedang diuji dengan guncangan yang amat dahsyat sampai-sampai tidak tetap lagi penglihatan mereka. 

Terasa sesak naik sampai ke tenggorokan dan mereka menyangka bermacam-macam terhadap Allah. Akan tetapi bagaimanapun keadaannya orang yang imannya kuat tidak beranjak dari sisi Rasulullah ﷺ.

Berbeda halnya dengan orang-orang munafik. 

Mereka berkata,
“Muhammad berjanji kepada kita semua bahwa suatu saat kita akan merebut kekayaan Kaisar Persia dan Romawi. Nyatanya? Hari ini saja tidak seorang pun dari kita merasa aman, bahkan untuk sekedar pergi ke jamban.”

Suara-suara Sumbang yang lain juga terdengar,

“Muhammad rumah kami saat ini sedang kosong tak berpenghuni. 

Ijinkanlah kami keluar dari barisan tempur untuk pulang ke rumah masing-masing karena rumah kami terletak di luar Madinah.”

Para sahabat setia menjadi marah,
“Mereka sungguh-sungguh penghianat. Ya Rasulullah, ijinkanlah kami memenggal leher-leher mereka!”

Rasulullah ﷺ tidak ingin memaksa seseorang untuk bertempur. Beliau mengijinkan orang-orang lemah iman itu untuk pulang, biarlah hanya orang-orang yang mampu menghadapi bahaya dan benar-benar menginginkan mati syahid saja yang tetap bertahan di barisan pasukan. Orang-orang lemah iman justru akan menularkan rasa takutnya kepada banyak orang.

Dan penilaian Rasulullah ﷺ ini tepat sekali. 

Setelah perginya orang-orang pengecut, barisan tempur yang tersisa justru semakin bulat tekadnya untuk bertempur dan berjuang.
Rasulullah ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ bahwa, jika orang melarikan diri dari kematian, seandainya pun bisa hanya akan mengecap kesenangan dunia sebentar saja. Tak layak seorang lari dari bencana, padahal bencana itu datang atas izin Allah ﷻ dan Allah ﷻ -lah yang satu-satunya sumber pertolongan dan perlindungan.

*Pasukan Quraisy Mulai Putus Asa*

Rasulullah ﷺ merancang suatu strategi baru. Beliau ingin menawarkan kepada pasukan Ghathafan sepertiga hasil perkebunan Madinah jika mereka mau kembali pulang. Tidak ragu lagi. Orang Ghathafan pasti akan menyambut baik dan jika mereka pulang pasukan musuh yang tersisa tinggal 4 ribu prajurit Quraisy.

Rasulullah ﷺ meminta pendapat terlebih dahulu kepada Saad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin penduduk asli Madinah.

“Ya Rasulullah Jika Allah yang memerintahkan kami pasti tunduk dan patuh” demikian jawab keduanya,
“namun jika ini pendapat Tuan kami tidak sependapat. Dulu orang Ghathafan tak pernah merasakan kurma Madinah, kecuali dengan membeli atau sedang diundang jamuan padahal waktu itu kami semua masih musyrik. 

Lalu mengapa kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam kami harus menyerahkan harta kami seperti itu? Demi Allah kami tidak akan memberikan sesuatu kepada mereka kecuali tebasan Pedang.”

Rasulullah ﷺ mengangguk setuju,
“ini memang pendapatku sendiri sebab aku melihat orang-orang Arab menyerang kita dengan panah.”

Pertempuran dilanjutkan, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar prajuritnya tidak menampakkan diri kecuali dengan berbaju besi lengkap. Namun Saad bin Mu’adz terkena panah hingga menembus urat tangannya. Saat itu ia hanya mengenakan baju besi yang pendek.
Doa Saad pada waktu itu adalah,

“Ya Allah Sesungguhnya engkau tahu bahwa aku amat mencintai Jihad melawan orang-orang yang mendustakan Rasulullah dan mengusirnya.

Ya Allah, jika engkau masih menyisakan sedikit peperangan melawan orang-orang Quraisy, berikanlah sisa kehidupan kepadaku agar aku bisa memerangi mereka karena Engkau semata.”

Nah pada suatu malam pasukan Quraisy yang sudah hampir kehilangan akal untuk menerobos parit mencoba kembali menyeberangi parit dengan pasukan berkuda pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan muslim menebarkan hujan panah. Dalam gelap Rasulullah ﷺ berhasil memanah Ikrimah sehingga pasukan musuh terperosok dan kembali mundur.

Abu Sufyan mengirim surat kepada Rasulullah ﷺ yang isinya menuduh Rasulullah ﷺ sebagai pengecut, Abu Sufyan menantang muslimin untuk bertempur di lapangan terbuka.

Rasulullah ﷺ tersenyum dan membalas surat itu. 

Isinya mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini beliau memang akan keluar menemui mereka untuk mengikis habis berhala-berhala Quraisy di Mekah. Pada hari-hari ini kesabaran memang menjadi senjata terampuh untuk meraih kemenangan.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 113

Bismillahirrahmanirrahim...

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 113*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
*Serangan Gencar*

Dalam penggalian itu orang-orang munafik menunjukkan rasa enggan, mereka sengaja menampakkan diri seperti orang lesu dan tidak memiliki kemampuan. Banyak yang diam-diam melarikan diri ke rumah masing-masing. Sementara setiap Sahabat Muslim pasti meminta izin kepada Rasulullah ﷺ jika mempunyai suatu keperluan. Kemudian setelah selesai kembali lagi bekerja pada penggalian.

Parit telah selesai digali, ketika pasukan musyrik datang. Melihat jumlah musuh sebesar itu orang-orang munafik dan mereka yang lemah jiwanya seketika menggigil ketakutan. 

Mereka langsung berprasangka buruk kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan rasulnya sampai mereka berkata dalam hati,
“Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan rasul-nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya.”

Pasukan musyrik terkejut sekali ketika melihat ada parit yang terlalu lebar di depannya untuk diseberangi.

Ini perbuatan orang pengecut! Jadi mereka sambil berputar-putar mencari rongga parit yang sempit untuk dilompati, Amarah mereka menggelegak bukan main. Belum pernah dalam sejarah peperangan orang Arab melakukan strategi seaneh ini.

Sambil tersenyum, pasukan muslim mewaspadai gerakan musuh. Dengan tangkas mereka menghujani anak panah, lawan yang mencoba mendekati parit.

Kemudian muncul sekelompok penunggang kuda Quraisy yang tangguh. Mereka adalah Amir bin Abdul Wudd, Ikrimah Bin Abu Jahal, Dhirar bin Khattab dan lain-lain. Dengan nekat mereka terjun ke parit dan berhasil sampai ke seberang.
Namun Ali bin Abi Thalib dan beberapa orang muslim mengepung tempat itu. Melihat Ali bin Abi Thalib, Amir bin Abdu Wudd yang pemberani, menantang duel. Ali pun menghadapinya. Mereka berputar-putar dan suara denting pedang beradu demikian kerasnya, masing-masing memekik nyaring ketika mereka saling menebas dan menangkis.

Ali bin Abi Thalib berhasil merobohkan musuhnya. Kaum muslimin yang lain berhasil mendesak para prajurit Quraisy ke tepi parit sehingga mereka mundur tunggang langgang.

Ikrimah bin Abu Jahal sampai meninggalkan tombaknya melihat serangan ganas para prajurit muslim.

Ketika dalam keadaan segenting seperti itu, lagi-lagi kaum muslimin dikhianati.

*Pengkhianatan Yahudi*

Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah ada tiga kelompok Yahudi di kota itu, mereka adalah:
Bani Qainuqa, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.

Namun, akibat ulahnya sendiri Bani Qainuqa dan Bani Nadhir terusir dari Madinah.

Kepada pemimpin Bani Quraizhah inilah Huyay bin Khattab pemimpin Bani Nadhir datang menghasut.

Kaab bin Asad Al Quraizhy pemimpin Bani Quraizhah akhirnya membukakan pintu bentengnya setelah Huyay menggedor berkali-kali.
“Kaab, aku datang bersama Quraisy dan Ghatafan berikut para pemimpin mereka. 

Semuanya sudah berjanji kepadaku untuk tidak pulang sebelum dapat membinasakan Muhammad dan para pengikutnya.”

Mendengar kata-kata Huyay, Kaab menjawab,

“Celakalah engkau Huyya! Tinggalkan aku dari urusanku! Aku tidak melihat diri Muhammad melainkan sosok orang yang jujur dan menepati janji!”

Namun Huyay terus membujuk-membujuk dan membujuk sampai akhirnya Kaab pun setuju untuk mengkhianati kaum muslimin. Mulailah Bani Quraizhah mengincar benteng tempat kaum wanita dan anak-anak Muslim berlindung yang dijaga Hasan bin Tsabit.

Shaffiyah binti Abdul Muthalib Bibi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan adik perempuan Hamzah melihat ada seorang laki-laki Yahudi datang mengendap-ngendap mengelilingi benteng, 

Shafiyyah segera memberi tahu Hasan bin Tsabit,
“Wahai Hasan, lihat ada orang Yahudi 
mengelilingi benteng ini. 

Demi Allah aku khawatir ia akan menunjukkan titik lemah benteng ini kepada pasukannya Yahudi padahal Rasulullah ﷺ dan para sahabat sedang bertempur di garis depan. Hampiri orang itu dan bunuh dia!”

“Engkau tahu sendiri bahwa aku bukanlah orang yang mahir dalam bunuh membunuh,” jawab Hasan
Shaffiyah yang gagah berani itu mengambil sepotong tiang dan memukul orang Yahudi itu sampai mati. Karena tindakannya ini, kaum Yahudi tidak berani terang-terangan menyerang benteng yang mereka kira dijaga dengan kuat.

Apa yang akan dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat, ketika mengetahui bahwa Bani Quraizhah berniat menikam dari belakang?

Orang Yahudi adalah pedagang dan ilmuwan yang jauh lebih unggul dari Anshor yang terdiri atas Aus dan Khazraj. 

Namun, ketika melihat pemeluk Islam meningkat pesat, orang Yahudi khawatir mereka akan kalah dalam perdagangan dan pengetahuan. Kemudian mereka menolak kerasulan Muhammad ﷺ dan mentertawakan ajaran beliau.

_Shallu ‘alan Nabi…_

*Bersambung*