Senin, 22 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 107

*Kisah Rasulullah*

*Bagian 107*

عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Perang Sobekan Kain*

Rasulullah ﷺ menyerahkan kepemimpinan Madinah kepada Abu Dzar Al-Ghifari, kemudian Beliau berangkat bersama pasukannya secara diam-diam. 

Tujuannya menyergap musuh sebelum mereka sempat mempersiapkan diri.

Abu Musa Al-Asy’ari menceritakan perang itu.”Waktu itu, setiap 6 orang dari kami bergantian menaiki seekor unta. Kemudian telapak kaki pecah-pecah. Telapak kaki saya sendiri pecah dan kuku-kukunya copot. 

Waktu itu, kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain, karena itu aku menyebut peperangan ini dengan Dzatur Riqo atau sobekan kain.

Sejumlah 400 orang sahabat dipimpin Rasulullah ﷺ berhasil melakukan serangan mendadak terhadap kumpulan pasukan Bani Ghatafan di Nakhl. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menurunkan rasa takut di hati pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar itu sehingga mereka lari pontang-panting tanpa bertempur sama sekali. 

Harta dan kaum wanita ditinggalkan begitu saja untuk ditawan pasukan muslim.

Setelah kemenangan gemilang itu Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya bersiap diri menghadapi serangan balik musuh. 

Dalam keadaan seperti itu Rasulullah ﷺ memimpin sahabatnya melakukan shalat khauf (shalat dalam keadaan takut).

Satu kelompok berbaris bersama Rasulullah ﷺ, sedangkan kelompok yang lain menghadap musuh. Kelompok pertama kemudian sholat bersama Rasulullah ﷺ lalu Beliau berdiri tegak ketika kelompok pertama menyempurnakan shalatnya. Setelah itu kelompok pertama tadi mundur dan berbaris menghadapi musuh sedangkan kelompok kedua maju dan Rasulullah ﷺ mengimami mereka meneruskan sholatnya yang belum selesai. 

Kemudian Rasulullah ﷺ duduk sementara mereka menyempurnakan shalat, kemudian mereka mengikuti Rasulullah ﷺ.

Dalam pertempuran ini, dua orang sahabat, satu dari Muhajirin dan satu dari Anshar mendapat giliran jaga malam, sedangkan saudara-saudara mereka yang lain beristirahat. 

Sahabat Muhajirin melakukan salat malam dan terkena panah musuh, tetapi dicabutnya panah itu dengan tenang dan meneruskan sholatnya. Demikian sampai tiga kali. Ketika sahabat Anshar itu mengetahuinya dia bertanya,

“Mengapa kamu tidak memberi tahu aku?”

“Engkau sedang membaca satu surat dan aku tidak ingin memutuskannya,” jawab sahabat Muhajirin.

Sifat pengecut tidak akan kita temukan dalam kisah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Jika menjadi pengecut, ilmu kita akan padam. 

Orang lain bahkan diri sendiri tidak akan mendapat manfaatnya. 

Orang pengecut pekerjaannya akan sia-sia. Duduknya di bawah tidak berani di atas dia hanya menjadi pengikut tidak berani diikuti.

*Bani Musthaliq*

Setelah kemenangan pada Perang Badar kedua Rasulullah ﷺ memerintahkan para penyair muslim untuk menyebarkan syiar Islam tentang kemenangan dan kegagalan pasukan Quraisy. Tidak hanya sampai di situ para penyair itu juga mencela Abu Sufyan dan pasukannya.

Hal itu tidak dibiarkan oleh sekutu Quraisy yang paling kuat yaitu Bani Musthaliq. Bani musthaliq adalah penguasa perdagangan. 

Mereka mempunyai banyak harta dan budak-budak kulit hitam, selain itu mereka membiarkan orang-orang Quraisy menjadi pemimpin mereka karena orang-orang Quraisy-lah yang tinggal di dekat Kabah tempat patung-patung Tuhan mereka diletakkan.

Bani musthaliq mengutus para penyairnya menemui Abu Sufyan untuk menghibur pemimpin Quraisy itu. 

Para penyair melantunkan kata-kata cacian bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. 

Al Haris pemimpin Bani Musthaliq juga mengajak suku-suku di sekitar Bani Musthaliq untuk berkumpul menyusun pasukan. Semua suku yang mendukungnya adalah mereka yang bertempat tinggal di tepi laut merah.

Selanjutnya Bani Musthaliq maju sebagai komandan perang Pasukan gabungan itu. 

Bendera kini diserahkan orang Quraisy kepada Al Haris. Dari kemampuan tempur Al Haris memang lebih pantas menjadi Panglima dibandingkan Abu Sufyan. Di bawah kepemimpinannya semua persiapan pasukan di lakukan dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa pasukan ini akan menyerang Madinah, maka Rasulullah ﷺ pergi meninjau wilayah musuh untuk mengetahui tempat terbaik bagi kaum muslimin apabila harus bertempur.

Setelah mengadakan musyawarah dengan para sahabatnya, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk menyambut pasukan musuh.

Yang menakjubkan adalah cara Rasulullah ﷺ menjinakkan hati Abdullah bin Ubay yang sebenarnya sangat membenci kaum muslimin. Abdullah bin Ubay ditugasi pemimpin pasukan Anshor dari suku Khazraj.

Rasulullah ﷺ kemudian mengundi di antara istri-istrinya, Siapakah di antara mereka yang akan diajak mengikuti pertempuran. Ternyata nama Aisyah yang keluar. Maka Aisyah bisa dinaikkan ke unta yang khusus disediakan untuk beliau.

Penyair berperan penting dalam Perang urat syaraf. Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada Hasan bin Tsabit seorang penyair.

“Wahai Hasan, engkau berjuang melawan orang kafir dan Jibril selalu bersamamu. Ketika sahabatku bertempur menggunakan senjata, engkau bertempur dengan kata-katamu.”

*Bersambung bagian 108*

Jumat, 19 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 104

*Kisah Rasulullah*

*Bagian 104*


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Membayar Diyat*

Alangkah berdukanya Rasulullah ﷺ. Pilu yang amat sangat terasa oleh Beliau akibat pembantaian itu. 

Alangkah susah payahnya beliau menahan duka cita. 

Dengan lirih Beliau berkata ini adalah tanggung jawab Abu Bara, sudah sejak semula aku berat hati dan khawatir sekali.

Abu Bara juga sangat terkejut. Terpukul sekali dengan penghianatan yang dilakukan Amir bin Ath Thufail. Abu Bara merasa amat terhina, tidak disangkanya Amir bin Ath Thufile melanggar perlindungan yang diberikan kepada kaum muslimin. 

Tindakan itu sama dengan mencoreng arang di dahi Abu Bara, Anak Abu bara sangat memahami perasaan ayahnya. Pemuda bernama Rabi’a itu bangkit.

“Aku akan menghukum Amir bin Ath thufail dengan kedua tanganku sendiri.”

Setelah berkata begitu Rabi’a pun pergi sambil memanggul tombak. 

Sampai di tempat Amir bin Ath Thufail, Rabi’a menghampiri orang itu. 

Dengan mata menyala. Tanpa sempat dicegah siapa pun, Rabi’a menghantamkan tombaknya. Dan Amir bin AthThufail pun rubuh.

Begitu dalamnya duka cita Rasulullah ﷺ atas kematian para sahabatnya sampai selama 30 Hari penuh beliau harus mendoakan mereka. Dalam doa yang dibacakan setiap selesai sholat subuh itu, beliau juga berdoa, semoga Allah mengadakan pembalasan terhadap mereka yang telah membunuh para sahabatnya.

Namun di tengah duka yang begitu dalam Rasulullah ﷺ tidak lupa untuk berbuat adil. 

Begitu mendengar bahwa ada dua orang sahabat kaum muslimin yang terbunuh dengan tangan Amir bin Umayyah, Rasulullah ﷺ segera berkata

“Engkau telah membunuh dua orang berarti aku harus membayar diyat (uang tebusan) kepada keluarga mereka.”

Peristiwa Bi’ir Maunah ini menimbulkan keberanian di hati musuh-musuh kaum muslimin di Madinah. Gugurnya para sahabat Rasulullah ini membuat orang-orang Yahudi bani Nadhir semakin berani. Padahal setelah Bani Qainuqa terusir. Bani Nadhir lebih memilih diam karena dicekam ketakutan. 

Namun setelah perang Uhud dan terakhir di tragedi di Bi’ir Maunah mereka mulai bertindak lebih berani.

Mereka menunggu kesempatan untuk membunuh Rasulullah ﷺ sendiri.

Tanpa mereka duga kesempatan itu segera datang.

*Pengkhianatan Yahudi*

Sesuai dengan perjanjian antara kaum muslimin dan orang Yahudi. Bani Nadhir diharuskan ikut membayar diyat yang harus dibayarkan kaum muslimin kepada keluarga orang yang terbunuh dari bani Amir.

Karena itulah Rasulullah ﷺ datang ke tempat Bani Nadhir di Quba. 

Beliau disertai 10 sahabat terkemuka di antaranya Abu Bakar, Umar Bin Khattab, dan Ali Bin Abi Thalib. Setelah sholat berjamaah di Masjid Quba, Rasulullah ﷺ dan rombongannya memasuki perkampungan Bani Nadhir.

Setelah mengetahui maksud kedatangan beliau orang-orang Bani Nadhir menunjukkan wajah yang manis,

“Kami akan membantumu Muhammad, sekarang duduklah di sini biar kami menyiapkan dulu keperluanmu.”

Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya duduk di tepi rumah beratap tinggi milik salah seorang Yahudi.

Sementara itu orang-orang Bani Nadhir tidak menyiapkan uang untuk membantu membayar diyat, melainkan malah berkasak-kusuk perihal rencana jahat mereka.

“Tidak ada lagi kesempatan sebagus ini untuk membunuh Muhammad,” ucapan salah seorang pemuka Yahudi.

“Engkau benar,” ujar seorang Yahudi lain dengan mata berkilat.

“Pada waktu lain, sangat susah membunuh Muhammad karena ia selalu berada di tengah-tengah sahabatnya. Kini justru Muhammad datang di tengah kita. Jika kita biarkan kesempatan ini akan berlalu begitu saja.”

Akhirnya orang-orang Yahudi itu sepakat untuk membunuh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

“Namun bagaimana cara kita membunuh dia?” tanya seorang kebingungan.

Semua terdiam sejenak, lalu seseorang yang berwajah licik berjalan mengambil batu penggilingan yang besar dan berat sambil berkata,

“Siapakah di antara kalian yang mau mengambil batu penggilingan ini Lalu naik ke atap rumah dan menjatuhkannya ke kepala Muhammad sampai remuk?”

Majulah seseorang yang paling jahat di antara mereka Amir bin Jahsy. 

“Aku!”

“Jangan lakukan itu!” cegah Sallam bin Miskam. Rupanya ia salah satu orang yang berpikiran jernih di tempat itu.

“Demi Allah, Allah pasti memberi tahu Muhammad tentang rencana kita. 

Sesungguhnya, perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian antara kita dan dia!”

Namun yang lain tidak peduli, mereka tetap menjalankan rencana jahat itu.

*Rasulullah Selamat*

Jibril pun turun memberitahu Rasulullah ﷺ tentang rencana jahat itu. Seketika itu juga beliau bangkit dan pergi dengan cepat seolah-olah ada sesuatu keperluan. Para sahabat yang menyertai beliau sama sekali tidak diberi tahu apa-apa. Karena itu mereka menunggu Rasulullah ﷺ kembali.

Kini giliran orang-orang Yahudi yang kebingungan. Mendadak saja rencana mereka gagal karena itu mereka bermanis-manis wajah kepada para sahabat yang menunggu untuk menghilangkan kesan buruk.

Setelah cukup lama menunggu Rasulullah tidak kembali, para sahabat Rasulullah memutuskan untuk pulang mencari beliau. 

Mereka menemukan Rasulullah ﷺ telah berada di masjid Madinah.

“Ya Rasulullah, tiba-tiba saja Tuan pergi sedangkan kami tak menyadari,” kata para sahabat.

Rasulullah ﷺ tahu rencana jahat Yahudi Bani Nadhir terhadap dirinya. Beliau pun memanggil Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan pesan beliau kepada Bani Nadhir.

Muhammad bin Maslamah berkata di hadapan orang-orang Yahudi,
“Tinggalkan Madinah dan jangan hidup bertetangga dengan ku. 

Kuberi waktu 10 hari. Siapa saja yang masih ku temui setelah itu akan ku penggal lehernya.”

*Bersambung bagian 105*

Kamis, 18 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 103

*Kisah Rasulullah*

*Bagian 103*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Khubaib bin Adiy*

Khubaib bin Adiy sedang berada di dalam penjara. 

Orang-orang Mekah menyeretnya keluar untuk disalib di hadapan umum.

Sebelum naik kayu salib, Khubaib bertanya,

“Dapatkah kamu membiarkan aku sekedar melakukan shalat dua rakaat?”

Permintaan itu dikabulkan. Khubaib melakukan sholat dua rokaat dengan baik dan sempurna. Setelah sholat ia membalikkan badannya, menghadapi semua orang. Lalu berkata,

“Kalau bukan karena kamu akan menyangka aku sengaja memperlambat karena takut dibunuh, niscaya aku masih akan shalat lebih banyak lagi.”

Setelah itu, orang-orang Quraisy menaikkan ke atas tunggak kayu.

Dengan mata sayu, Khubaib memandangi orang-orang yang menontonnya sambil berseru,

“Ya Allah hitungkan jumlah mereka itu, binasakan mereka dalam keadaan tercerai berai, jangan biarkan hidup seorang pun!”

Mendengar suara yang keras itu, para penonton gemetar. Sebagian dari mereka bahkan merebahkan diri seolah-olah takut terkena kutukan. Sesudah itu, Khubaib dibunuh.

Seperti halnya Zaid, Khubaib pun gugur sebagai syahid yang memegang teguh amanat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Dua roh suci ini melayang memasuki surga yang dijanjikan.

Seandainya mau, terus saja mereka dapat menyelamatkan diri mereka. Keduanya tinggal berkata bahwa mereka akan kembali ke agama nenek moyang, dan orang-orang Quraisy bersenang hati menerima para prajurit segagah mereka.

Namun keyakinan keduanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan hari kemudian sudah sedemikian tinggi. 

Keimanan mereka sudah sekokoh karang dan tidak bisa lagi dikikis oleh siksaan atau tawaran harta duniawi.

Mereka melihat maut bukan sebagai akhir segalanya, namun justru sebagai cita-cita hidup di dunia ini. Lagi pula mereka yakin bahwa darah mereka yang tumpah akan memanggil-manggil saudara-saudara muslim mereka supaya memasuki Kota Mekah sebagai pemenang.

Saudara-saudara muslim mereka akan menghancurkan pertahanan dan perbuatan syirik. 

Kesucian sebagai rumah Allah akan dipulihkan. 

Tidak ada lagi nama berhala yang disebut kecuali nama-nama Allah yang Mahasuci.

*Rasulullah Berduka*

Rasa duka menyelimuti Madinah, awan tampak bergumpal-gumpal. 

Mendung di hati Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin membuahkan air mata duka yang membasahi pipi. Penyair Rasulullah, Hasan bin Tsabit membacakan syair-syair duka untuk mengenang kepergian enam orang syuhada itu.

Beban di benak Rasulullah terus bertambah berat. Beliau khawatir kejadian seperti itu akan terulang lagi. 

Orang-orang Arab yang masih membenci kaum muslimin akan terdorong melakukan hal serupa di kemudian hari.

Tiba-tiba datanglah Abu Bara Amir bin Malik seorang pemuka masyarakat di daerah Najd. Rasulullah ﷺ pun menawarkan kepadanya, agar ia mau memeluk agama yang mulia ini. 

Namun Abu Bara menolak.

Meskipun demikian Abu Bara tidak menunjukkan sikap yang memusuhi Islam. Ia bahkan berkata,

“Muhammad saya mempersilahkan engkau mengutus sahabat-sahabatmu ke Najd dan mengajak mereka itu mau menerima ajaranmu.

Saya berharap banyak orang yang akan memeluk Islam.”

Ini adalah sebuah peluang besar, namun Rasulullah ﷺ masih khawatir. Beliau takut akan terjadi penghianatan lagi terhadap para sahabatnya. Dia tidak bisa segera menjawab permintaan Abu bara. 

Melihat keraguan di wajah Rasulullah ﷺ. Abu Bara pun mengerti.

“Saya menjamin mereka!” tegas Abu Bara.

“Kirimkanlah utusan ke sana untuk mengajak mereka menerima ajaranMu”

Rasulullah ﷺ melihat kejujuran di mata Abu Bara, beliau juga tahu bahwa Abu Bara adalah orang yang dapat dipercaya. Dia adalah orang yang ditaati masyarakatnya. Setiap kata-katanya akan dituruti orang-orang Najd. Siapa pun yang sudah pernah diberikan perlindungan oleh Abu Bara, tidak pernah diganggu oleh orang lain.

Berdasarkan pertimbangan ini dan peluang besar berkembangnya Islam di Jazirah Arabia. 

Rasulullah ﷺ memanggil Al Mundir bin Amr dari bani Sa’idah. 

Beliau menugasi Al Mundir memimpin 70 orang muslim pilihan untuk menyebarkan ajaran Islam di Najd.

Rombongan dai itu pun berangkat dengan penuh harap akan datangnya kebaikan. Apakah benar mereka akan diterima dengan baik atau sebaliknya, malah dikhianati.

*Tragedi Bi’ir Maunah*

Ketika tiba di Najd, tepatnya di Bi’ir Ma’unah, ke 70 muslim itu berhenti. Daerah itu terletak di antara wilayah Bani Amir dan Bani Sulaim. Al Mundir mengutus Haram bin Milhan menemui Amir bin Ath Thufail, pemimpin bani Sulaim. 

Haram ditugasi menyampaikan surat Rasulullah ﷺ kepada pemimpin-pemimpin Najd, Namun Amir bin Ath Thufail sama sekali tidak membaca surat Rasulullah ﷺ itu. Ia bahkan memerintahkan agar Haram bin Milhan dibunuh.

Setelah itu Amir meminta bantuan Bani Amir untuk membunuh kaum muslimin yang lain. Bani Amir menolak karena mereka adalah suku Abu Bara. Mereka tidak ingin melanggar perlindungan yang diberikan pemimpin mereka sendiri.

Amir bin Ath Thufail cepat berpaling ke suku-suku Najd yang lain. Beberapa suku menyatakan dukungan atas penghianatan Amir. 

Dengan cepat mereka berkumpul dan berangkat mengepung sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ di Bi’ir Mau’nah.

Mulai curiga karena Haram bin Milham tidak kunjung kembali, kaum muslimin di Bi’ir Mau’nah mulai meningkatkan kewaspadaan. Namun segala tindakan untuk menarik diri dari tempat itu sudah terlambat, karena dari segala penjuru para prajurit Najd muncul mengepung.

Segera saja kaum muslimin mencabut pedang dan siap bertarung. Pertempuran tidak seimbang segera pecah. Para Dai itu bertempur mati-matian tanpa sedikit pun niat untuk menyerah. Al Mundir yang saat itu tengah menengok ternak yang menjadi perbekalan mereka, berlari dan terjun ke pertempuran. Hampir seluruh sahabat Rasulullah ﷺ di Bi’ir Mau’nah gugur kecuali dua orang.

Kaab bin Said disangka telah mati, namun begitu pasukan Najd pulang, Ka’ab bangun dan pulang ke Madinah dengan tubuh di penuhi luka.

Satu orang lagi bernama Amir bin Umayyah.

Di tengah perjalanan pulang ke Madinah Amir bin Umayyah bertemu dua orang yang mencurigakan. Dikiranya kedua orang itu termasuk pasukan yang menyergap dan membunuh para sahabatnya. Pada tengah malam Amir menyerang dan berhasil membunuh kedua orang itu.

Sampai di Madinah Amir mengakui semuanya, termasuk dua orang yang ia bunuh. Namun kedua orang itu ternyata bukanlah musuh. Mereka justru termasuk suku bani Amir yang telah terikat perjanjian jiwar atau bertetangga baik dengan kaum muslimin.

*Bersambung bagian 104*

Rabu, 17 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 102

*Kisah Rasulullah*

*Bagian 102*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Peristiwa Ar Raji*

Rasulullah ﷺ selalu siap mengirim para sahabatnya untuk mengajarkan Islam kepada setiap suku yang memerlukan. Karena itu dengan prasangka baik Rasulullah memenuhi permintaan Bani Hudzail.

Saat itu utusan Hudzail berkata,

“Muhammad di kalangan kami ada beberapa orang Islam, kirimkanlah beberapa orang sahabat Tuan bersama kami yang kelak akan dapat mengajarkan hukum Islam dan Alquran kepada kami.

Enam orang sahabat besar diutus dan pergi bersama rombongan penjemput dari Hudzail.

Penghianatan terjadi ketika mereka sampai di pangkalan air Ar Raji milik Bani Hudzail, Enam orang sahabat itu dikepung. Begitu sadar bahwa mereka masuk dalam perangkap, keenam dai itu mencabut pedang. Hanya senjata itu yang mereka bawa namun di wajah mereka tidak terlihat terasa gentar sedikit pun.

Orang-orang Hudzail berkata,

“Demi Tuhan, kami tidak ingin membunuh kalian. 

Kalian akan kami jual kepada penduduk Mekah sebagai tawanan. Kami berjanji Atas nama Tuhan kami bahwa kami tidak bermaksud membunuh kalian, karena itu menyerahlah.”

Keenam sahabat itu saling berpandangan mereka menyadari bahwa apabila mereka dibawa ke Mekah sebagai tawanan, mereka pasti akan disiksa habis-habisan dan dibunuh. Itu berarti penghianatan besar yang lebih berat daripada pembunuhan biasa.

Setelah saling sepakat dalam hati, salah seorang sahabat menjawab,

“Kami tidak akan menyerah, lakukan apa yang kalian mau kami sudah siap bertarung membela kehormatan agama dan nabi kami.”

Maka orang-orang Hudzail yang jauh lebih banyak jumlahnya itu pun menyerang. Keenam sahabat itu bertarung dengan gigih, pedang mereka ayunkan dengan tangkas untuk menebas hujan panah atau menangkis tusukan tombak. Pertarungan tidak seimbang itu pun berakhir, tiga orang syahid dan tiga orang lagi berhasil ditangkap hidup-hidup.

Mereka yang ditangkap itu adalah Abdullah bin Thariq, Zaid bin Adatsinah, dan Khubaib bin Adiy. Kemudian mereka segera dibelenggu dengan kuat dan dibawa ke Mekah.

Namun di tengah jalan Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan diri dari pengikat.

“Harus ada yang memberitahu Rasulullah ﷺ tentang penghianatan ini!” demikian pikir Abdullah.

“Aku harus berusaha meloloskan diri sekarang, namun jika gagal aku sudah siap menyusul ketiga temanku yang lain ke akhirat.”

Zaid bin Adatsinah
Abdullah bin Thariq menyerang seorang pengawal dan berhasil merebut pedangnya. 

Dengan pedang itu ia berusaha merebut seekor kuda, namun orang-orang Hudhail segera pulih dari rasa terkejutnya. Mereka mengambil batu dan melempari Abdullah dari belakang. Batu-batu sebesar kepalan tangan menghantam tubuh dan kepala sahabat mulia itu. 

Abdullah jatuh bersimbah darah dan gugur dalam keadaan yang sangat diimpikan setiap muslim. Syahid membela agama.

Kedua tawanan yang lain terus dibawa ke Mekah dan dijual. Zaid bin Adatsinah dijual kepada Shafwan bin Umayyah.

“Aku akan membunuhnya sebagai balasan terbunuhnya ayahku di tangan mereka,” geram Safwan dengan mata menyala-nyala.

Ayah Shafwan, Umayyah bin Khalaf dibunuh Bilal bin Rabah dalam Perang Badar.

“Nastas,” panggil Shafwan keras-keras.
Seorang Budak berbadan tegap datang.

“Siksa dan bunuh orang ini,” perintah Shafwan kepada Nastas.

“Bawa dia ke tempat di mana semua orang bisa melihatnya!” ujar Shafwan.

Zaid pun diseret-seret melalui jalan-jalan di Mekah. Sebagian orang menyoraki dan mencemoohnya. 

Sebagian lain menaruh kagum, dalam hati melihat ketabahan Zaid. 

Tak terlihat sedikit pun rasa takut di wajah Zaid.

Di tengah siksaan itu, Zaid tetap tampak berwibawa dan teguh seperti Bukit Cadas.

Di tempat Zaid akan dibunuh, Abu Sufyan datang mendekat.

“Zaid, orang segagah engkau tidak pantas mati begini,” ujar Abu Sufyan.

“Bersediakah engkau memberikan tempatmu itu pada Muhammad? dia-lah yang harus dipenggal lehernya, sedang kau dapat kembali kepada keluargamu!”

Zaid menatap Abu Sufyan seakan heran dengan pertanyaan itu.

“Tidak,” jawab Zaid.

“Seandainya Rasulullah ﷺ di tempatnya sekarang ini akan menderita karena tertusuk duri sekali pun, sedang aku ada di tempat keluargaku, aku tidak akan rela!”

Abu Sufyan terpana sambil menggeleng kagum. Ia berkata,

“Belum pernah aku melihat seorang begitu mencintai sahabatnya sedemikian rupa seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai Muhammad.”

Zaid pun dipenggal. Ia gugur sebagai syahid yang memegang teguh amanat Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Tabrani dari Ibnu Abbas Rasulullah ﷺ bersabda sekuat-kuat ikatan iman adalah persaudaraan karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, cinta karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan membenci karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

*Bersambung bagian 103*

Selasa, 16 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 101

*Kisah Rasulullah*

*Bagian 101*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Rasulullah ﷺ menyadari bahaya dari keadaan ini. 

Yahudi Bani Nadhir berhasil memanfaatkan kekecewaan orang muslim pada perang Uhud dan mereka meraih banyak sekali keuntungan. Hampir setiap malam, rumah-rumah judi itu dipenuhi orang. Keadaan ini tidak saja akan membuat muslimin kehilangan banyak uang. 

Tetapi juga akan membuat hancur misi mereka untuk menjadi umat yang terbaik. Bisnis jelek orang Yahudi ini tidak saja akan membuat orang miskin, tetapi juga menghancurkan jiwa manusia.

Maka Rasulullah ﷺ pun menyerukan bahwa judi dan khamer dilarang. 

Orang-orang Bani Nadhir segera mengajukan protes,

“Muhammad, kebijakanmu akan membuat kami bangkrut. 

Kalau memang demikian, Ijinkanlah kami berdagang dengan orang Quraisy agar produksi khamer dan peternakan babi kami tidak gulung tikar!”

Akan tetapi Rasulullah ﷺ tidak menghiraukan protes itu. Beliau tidak peduli dengan hancurnya pabrik-pabrik khamer dan peternakan babi. Semua itu tidak ada artinya dibandingkan hancurnya jiwa para sahabatnya akibat judi dan mabuk-mabukan.

Yahudi Bani Nadhir mengancam akan memutuskan perjanjian dan akan menjual senjata kepada orang-orang Quraisy,

Rasulullah ﷺ tetap pada pendiriannya. Kaum muslimin sejak itu diharamkan berjudi dan mabuk-mabukan. 

Apalagi masih sangat banyak masalah yang harus dihadapi.

Lebih dari 70 keluarga Syuhada Uhud masih menangisi kepergian anggota keluarganya.

Khamer adalah minuman yang diharamkan. Yang termasuk Khamer adalah minuman keras, minuman yang memabukkan, minuman yang membahayakan yang dibuat dari semacam buah-buahan dan lain-lain.

*Ummu Salamah*

Untuk menghibur hati para sahabat dan keluarganya yang ditinggalkan para syuhada, Rasulullah ﷺ selalu menegaskan bahwa mereka memiliki masa depan gemilang. 

Mereka harus yakin bahwa kebenaran yang mereka perjuangkan akan menang. Kaum muslimin harus kembali giat bekerja. Benih-benih di ladang sudah menunggu untuk ditanam dan kemudian dituai.

Kaum muslimin yang masih hidup semestinya menjadi pelipur lara. Anak-anak juga ada yang kehilangan ayah mereka. Maka dari itu Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan, agar para sahabatnya senantiasa menolong orang lain karena sesungguhnya orang yang bisa menolong nasib para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah atau seperti orang yang mengerjakan shalat pada malam hari dan shaum pada siang hari.

Rasulullah ﷺ berhasil menemukan para sahabat yang bersedia menikahi para janda syuhada, tetapi ada juga janda yang dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak ingin menikah lagi. 

Janda itu adalah Hindun bin Umayyah istri almarhum Abu Salamah. 

Usianya baru 30 tahun, cerdas, anggun, dan bijaksana. Rasulullah ﷺ sudah berusaha agar Ummu Salamah, demikian ia dipanggil, mau menerima lamaran para sahabat terkemuka, baik dari Anshar maupun Muhajirin, bahkan Umar Bin Khattab dan Abu Bakar As Siddiq pun mengajukan lamaran. 

Namun semua itu ditolak oleh Ummu Salamah.

Siapakah orang yang lebih baik dari Abu Salamah, demikian selalu yang ia katakan. 

Rasulullah ﷺ tahu bahwa sebetulnya Ummu Salamah dan anaknya sangat memerlukan perlindungan seorang laki-laki, hanya saja Ummu Salamah sulit melepaskan diri dari bayang-bayang Abu Salamah yang sangat dia cintai.

Karena tidak ada jalan lain Rasulullah ﷺ pun mengajukan diri untuk menjadi suami Ummu Salamah. Awalnya Ummu Salamah menolak, alasannya dirinya sudah tua dan pencemburu, namun Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa beliau bahkan sudah berusia dua kali lipat dari Ummu Salamah. 

Rasulullah ﷺ juga mendoakan agar Allah menghilangkan sifat pencemburu dari hati Ummu Salamah.

Akhirnya Ummu Salamah pun bersedia menjadi istri Rasulullah ﷺ. Menjadi Ibu bagi seluruh kaum Mu’minin.

Demikianlah dengan terjun memberi contoh akhirnya Rasulullah ﷺ membuat banyak janda miskin dan anak yatim tertolong dan terlindungi masa depannya.

*Ustman bin Affan Membeli Sumur*

Di Mekah orang-orang Quraisy menggembar-gemborkan kemenangan mereka dalam Perang Uhud. 

Mereka menyuruh para penyair mengumandangkan kemenangan itu, sekaligus mengejek Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin.

Suasana kegembiraan mewarnai hampir seluruh rumah di Mekah, penyanyi dan penari terdengar di setiap halaman. Khamer dituangkan, hewan-hewan disembelih, dan orang-orang Arab dari berbagai penjuru diundang untuk merasakan kegembiraan itu.

Uang yang sangat besar diberikan kepada penyair-penyair suku lain yang bersenandung mengejek Rasulullah ﷺ. 

Para penyair itu juga membakar semangat orang untuk mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghadapi kaum muslimin setahun yang akan datang.

Semua ini bergema di seluruh pelosok Jazirah. 

Beberapa suku yang tadinya takut kepada kaum muslimin kini mulai berani mengangkat wajah. Getaran semangat ini juga dirasakan kaum Yahudi di Madinah. Oleh sebab itu timbullah keberanian mereka untuk meremehkan Rasulullah ﷺ, terutama di kalangan Yahudi Bani Nadhir.

Sejak Rasulullah ﷺ melarang pengikutnya pergi ke rumah-rumah judi, kemarahan Bani Nadhir semakin memuncak. Puncaknya, salah seorang hartawan Bani Nadhir telah melarang kaum muslimin mengambil air dari sumur yang dimilikinya.

Kaum muslimin tersentak dengan perlakuan ini. Kini, harga segelas air lebih mahal dari sebotol khamer. 

Maka Rasulullah ﷺ menganjurkan para sahabatnya yang berharta untuk membeli sumur tersebut.

Utsman bin Affan-lah yang pertama kali menyambut seruan ini. Namun orang Yahudi itu menolak menjual lebih dari setengah sumurnya. 

Usman menaikkan tawaran harga sebuah sumur itu tiga kali lipat harga sumur biasa. 

Begitu orang Yahudi itu mengizinkan, Utsman bin Affan segera menghibahkan separuh sumur ini kepada kaum muslimin. Semua orang boleh mengambil air untuk diri sendiri maupun ternak tanpa harus membayar.

Rasulullah ﷺ amat bahagia dengan tindakan Utsman ini, sehingga beliau berucap,

“Sesudah ini tidak ada bahaya apa pun bagi Utsman untuk setiap hal yang dilakukannya.”

Tindakan Utsman bin Affan merupakan buah dari rasa persaudaraan yang tulus. Persaudaraan seperti ini akan melahirkan muslim yang saling mengutamakan, saling menyayangi dan memaafkan saling membantu dan saling melengkapi antara yang satu dengan lainnya.

Namun suku-suku yang membenci kaum muslimin pun mulai berulah dengan berbagai siasat kejam dan licik.

*Bersambung bagian 102*

Senin, 15 Februari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 100

*Kisah Rasulullah*

*Bagian 100*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Mengejar Musuh*

Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa orang-orang penyembah berhala, kaum munafik dan orang-orang Yahudi mulai menertawakan kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud.

“Muhammad bilang kalau perang Badar itu merupakan tanda kekuasaan Tuhan mereka atas kerasulannya maka apa pula pertanda peristiwa Uhud itu?”

Sesuatu harus dilakukan agar kewibawaan kaum muslimin akan kuat seperti sedia kala.

Sehari setelah perang Uhud Rasulullah ﷺ memerintahkan seorang muadzin nya untuk kembali mengumpulkan pasukan. Namun hanya pasukan Uhud saja yang boleh ikut. Tujuannya untuk memburu pasukan Abu Sufyan yang belum lagi tiba di Mekah.

Berita keberangkatan kaum muslimin itu dengan cepat sampai ke telinga Abu Sufyan. 

Seketika itu juga ketakutan melanda pasukan Mekah mereka mengira kaum muslimin berangkat dari Madinah dengan bantuan baru. 

Padahal mereka masih berada di Rauha, jauh dari Mekkah.

Sementara pasukan Madinah sudah sampai di Hambra Al-Assad. 

Kemudian lewatlah Ma’bad Al Khuza’i yang saat itu belum masuk Islam. Ia baru saja melewati tempat pasukan Madinah berkemah. Abu Sufyan bertanya tentang keadaan pasukan muslim Ma’bad menjawab,

“Muhammad dan sahabat-sahabatnya sudah berangkat mau mencari kamu dalam jumlah yang belum pernah kulihat semacam itu. Orang-orang yang dulunya tidak ikut, sekarang menggabungkan diri dengan dia. Mereka semua terdiri atas orang-orang yang sangat geram kepada orang-orang yang hendak membalas dendam!”

Kebingungan melanda Abu Sufyan Apa yang harus saya lakukan sekarang ini.

Orang Arab pasti akan mencemooh apabila sekarang pasukan Quraisy mundur begitu saja. Padahal baru saja mereka merebut kemenangan. Namun apabila mereka memaksakan diri kembali menghadapi kaum muslim, Abu Sufyan yakin mereka tidak akan mampu menghadapi kemarahan musuh. Karena itu Ia melakukan sebuah siasat licik.

Abu Sufyan menitipkan pesan kepada kafilah suku Abdul Qais yang sedang menuju Madinah, kafilah Itu diminta memberitakan bahwa pasukan Quraisy akan menemui pasukan Islam di Hambra Al-Assad dan akan menyerang habis-habisan.

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya menunggu tiga hari sambil menyalakan api unggun. 

Namun pada saat yang sama orang-orang Quraisy terus pulang ke Mekah.

*Pasukan Abu Salamah*

Pasukan muslim kembali ke Madinah. Kewibawaan pihak muslim sedikit terangkat karena ternyata musuh tidak berani kembali untuk menghadapi mereka. Akan tetapi, segera tersiar berita bahwa Tulaihah dan Salamah bin khuwailid sedang menggerakkan Banu Assad untuk menyerang Madinah dan menggempur Rasulullah ﷺ sampai ke rumahnya sendiri.

Selain itu tujuan Banu Assad adalah untuk merampas ternak kaum muslimin yang digembalakan di ladang-ladang sekeliling Madinah.

Rasulullah ﷺ segera bertindak, beliau memanggil Abu Salamah bin Abdul Asad. Beliau yang memerintahkan Abu Salamah membawa 150 pasukan.

Rasulullah ﷺ menyuruh agar pasukan hanya berjalan pada malam hari dan siangnya bersembunyi. Mereka harus menempuh jalan yang tidak biasa dilalui orang.

Abu Salamah berangkat dan melaksanakan perintah perang Rasulullah ﷺ secermat dan secepat mungkin. Ia pun berhasil. Mereka menyergap musuh yang sedang dalam keadaan tidak siap.

Pagi buta itu rasa takut menyumbat kerongkongan Banu Assad karena tiba-tiba saja tanpa peringatan, pekik takbir membahana dan pasukan muslim menyerang tenda-tenda mereka. Banu Assad berusaha bertahan sekuat dan selama mungkin, namun gagal. 

Mereka mundur sambil membawa apa pun yang bisa dibawa.

Setelah menguasai perkemahan musuh, Abu Salamah mengirimkan dua pasukan pengejar.
Sementara itu ia dan pasukan ketiga menjaga perkemahan. Pasukan pengejar kembali dengan membawa harta rampasan.

Seperti yang sudah diatur dalam Islam seperlima harta rampasan itu diberikan untuk Rasulullah ﷺ, orang-orang miskin, dan orang orang yang kehabisan bekal di perjalanan. Sisanya dibagikan kepada anggota pasukan. 

Setelah itu mereka kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan.

Hanya saja Abu Salamah tidak hidup lebih lama, sesudah itu, luka-lukanya pada perang Uhud kembali ternganga dan ia syahid karenanya.

*Judi dan Minuman Keras*

Setelah Yahudi Bani Qainuqa diusir, Yahudi Bani Nadhir ingin mewarisi pasar Bani Qainuqa. Namun kesempatan itu sudah tertutup oleh pasar kaum muslimin yang berkembang sedemikian besar, maka dari itu Bani Nadhir pun melakukan cara lain untuk meraih kemakmuran. Mereka membuka rumah-rumah judi. Di tempat itu juga disediakan banyak sekali minuman keras.

Saat itu Rasulullah ﷺ belum melarang judi dan khamer. Karena itu banyaklah para lelaki muslim yang datang ke rumah-rumah judi. 

Mereka banyak menghabiskan uang untuk berjudi, meminum khamer sampai mabuk. 

Para lelaki muslim ini masih terguncang oleh kekalahan pada perang Uhud dan lepasnya harta rampasan yang sudah mereka kumpulkan.

*Bersambung bagian 101*

Kisah Rasulullah Bagian 99

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 99*

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Dukacita untuk Hamzah*

Tidak cukup menganiaya mayat Hamzah. Hindun binti Utbah bersama wanita-wanita lain menganiaya mayat kaum muslimin. Melihat semua itu Abu Sufyan menghampiri seorang muslim dan berkata,

“Mayat-mayatmu telah mengalami penganiayaan. Akan tetapi aku sungguh tidak senang juga tidak benci. 

Aku tidak melarang, juga tidak memerintahkan.”

Selesai menguburkan mayat-mayat temannya sendiri Quraisy pun pergi. 

Sekarang, kaum muslimin kembali ke garis depan untuk menshalatkan dan menguburkan mayat-mayat para syuhada. Rasulullah ﷺ berkeliling medan tempur mencari jasad pamannya, Hamzah. 

Ketika dilihatnya jasad Hamzah sudah dianiaya dengan perut yang sudah terurai, beliau merasa sedih, sedih sekali sampai beliau berkata,

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti ini.”

“Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.”

Selanjutnya beliau bersabda,

“Demi Allah kalau pada suatu ketika Allah memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, akan ku aniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Nah saat itulah turun firman Allah Quran surat An Nahl 16 ayat 126-127 yang artinya:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Surah An-Nahl (16:126)

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Dan bersabarlah (hai Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

Surah An-Nahl (16:127)

Setelah Firman itu turun Rasulullah ﷺ memaafkan pihak musuh. Ditabahkannya hatinya dan beliau melarang orang melakukan penganiayaan.

Di jalan, Rasulullah ﷺ mendengar para wanita bani Asyhal menangisi para syuhadanya.

“Tidak ada wanita yang menangisi Hamzah,” ujar Rasul.

Mendengar ini Saad bin Muadz menyuruh para wanita Bani Asyhal menangis untuk Hamzah.

Rasulullah ﷺ bergegas menemui mereka dan bersabda,

“Bukan ini yang saya maksudkan. Pulanglah, Semoga Allah memberikan rahmat dan tidak boleh menangis lagi setelah hari ini.”

*Abdullah bin Ubay*

Rasulullah ﷺ pulang ke Madinah dengan beban pikiran yang cukup berat. 

Fatimah Az-Zahra putri beliau membasuh luka-luka ayahnya dengan air.

Ternyata, para tawanan perang Badar yang dulu dikasihani dan dibebaskan kembali memerangi kaum muslimin.

Rasulullah ﷺ teringat lagi kata-kata Umar Bin Khattab dulu,

“Ya Rasulullah bunuh orang-orang ini agar tidak seorang pun berpidato mengobarkan api kebencian terhadap dirimu.”

Orang muslim pantang berbuat kesalahan untuk kedua kalinya. Karena itu, beliau memerintahkan untuk membunuh seorang tawanan yang tertangkap. Orang itu adalah tawanan perang Badar yang sudah dibebaskan.

Rasulullah ﷺ juga memikirkan belas kasihan yang diberikan kaum muslimin kepada pihak musuh. Semua muslim menahan pedang ketika mereka menemui Hindun di medan perang. 

Padahal jika dia dibunuh tidak akan terjadi Hamzah disiksa sedemikian rupa.

Pembunuh Hamzah yang berkulit hitam itu sebenarnya juga tidak tahu wajah Hamzah. Hindunlah yang menunjukkannya.

Pasukan Quraisy yang telah lari lintang pukang juga tidak akan kembali lagi untuk menyerang, apabila tidak dikejar oleh Hindun dan diberitahukan bahwa kaum muslimin tengah diserang Khalid bin Walid dari belakang.

Kemudian Rasulullah ﷺ pergi ke masjid. Di sana, beliau melihat ada tangis penyesalan pasukan panah yang telah jelas-jelas melanggar perintah Rasulullah ﷺ.

Hati beliau amat lembut karena itu beliau memaafkan mereka semua.

Sebelum itu di sana beliau melihat Abdullah bin Ubay tengah berpidato agar orang-orang mencintai Rasulullah ﷺ.

Inilah gembong kaum munafik yang telah membujuk 300 Orang prajurit kembali ke Madinah. Beberapa sahabat yang ikut ke Uhud melompat ke arah Abdullah bin Ubay, lalu menarik bajunya sampai terhuyung-huyung.

“Mengapa kalian menyerangku pada saat aku menganjurkan kepada orang-orang agar patuh dan cinta kepada Muhammad?” demikian Abdullah bin Ubay menjerit.

Umar Bin Khattab meminta izin untuk membunuh si penghianat itu, namun sekali lagi Rasulullah ﷺ melarang nya.

*Besambung bagian 100*