Rabu, 06 Januari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 62

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 62*
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَبِّدِنَا مُحَمَّد

*Menuju Yatsrib*

Tiga hari tiga malam lamanya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar tinggal di Gua Tsur. Selama tiga hari itu pula, musyrikin Quraisy kelabakan. 

Abdullah bin Abu Bakar menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap hari ia memata-matai pembicaraan orang Quraisy dan menyampaikan ke Gua Tsur ketika petang tiba. 

Asma binti Abu Bakar setiap sore mengantarkan makanan bersama Abdullah. 

Sementara itu, Amir bin Fuhairah yang menggembalakan kambing di luar Gua Tsur selalu memerah susu kambing agar Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar tidak kehausan sekaligus memberi tahu jika ada orang yang mendekat. 

Ketiga orang itu menjalankan tugasnya dengan tenang sehingga tidak satu pun orang Quraisy yang mencurigai gerak-gerik mereka.

Setelah tiga hari, kepanikan di kota Mekah sudah agak mereda. Saat itu lah Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar berangkat ke Madinah. Mereka diiringi Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan yang saat itu masih kafir. 

Ketika akan berangkat, ternyata tidak ada tali yang dapat digunakan untuk menggantungkan makanan dan minuman di pelana unta. Asma memecahkan masalah itu. Dengan sigap ia merobek sabuknya menjadi dua helai kain panjang. Sejak saat itu, Asma dikenal dengan Dzatun Nithaqain (yang bersabuk dua).

Dengan cerdik Rasulullah ﷺ memilih jalan yang sulit dan tidak bisa dilalui orang. Beliau memilih jalan memutar ke tepi laut. Mereka berusaha secepatnya menjauhi Mekah dan menghindari daerah pemukiman.

Di Mekah orang ribut mendengar sebuah pengumuman yang sangat menarik,
“Siapa pun yang dapat menemukan Muhammad dan membawanya sampai ke Mekah, akan mendapat hadiah 100 ekor unta.”

Dengan cepat, berita itu menyebar sampai ke dusun-dusun yang jauh. Suraqah bin Malik, kepala kabilah Bani Mudlij, turut mendengar berita itu.

Suatu saat, ia didatangi seorang anggota kabilahnya yang datang tergopoh-gopoh.
“Tuan, tadi saya melihat dari jauh ada beberapa unta lewat di tepi pantai. Mungkin itulah Muhammad!”

“Bukan, itu orang lain!” kata Suraqah.

Namun, setelah berkata begitu, Suraqah cepat-cepat pulang dan mengambil senjata lengkap. Ia pacu kudanya ke arah yang ditunjukkan orang tadi.

Ternyata yang di buru Suraqah memang benar rombongan Rasulullah ﷺ.

*Suraqah bin Malik*

Dengan cepat, Suraqah telah berada di belakang rombongan Rasulullah ﷺ. Abu Bakar yang selalu waspada menoleh dan melihat musuh mendekat,

“Ya Rasulullah, ada orang mengejar kita! Kita tentu akan tertangkap!”

Namun, Rasulullah ﷺ tetap tenang. Tanpa menoleh ke belakang, beliau bersabda,

“Tenanglah sahabatku, jangan bersusah hati. Sesungguhnya Allah bersama kita.”

Kemudian, Rasulullah ﷺ berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah kami akan dia (Suraqah) sekehendak Engkau.”

Saat itu juga, kuda Suraqah tergelincir dan penunggangnya terpelanting. Suraqah terdiam sejenak. Ia merasa ada yang tidak beres. Suraqah pun memaksa kudanya bangkit dan mengejar lagi.

Dengan keras kepala, Suraqah memaksa berdiri kudanya yang hampir tidak mampu bangkit. Ia lalu kembali mengejar. Untuk ketiga kalinya, namun Suraqah terjatuh lagi. Saat itu hilanglah niat jahat dalam hatinya. Ia memanggil-manggil Rasulullah ﷺ.

Beliau pun berhenti dan membiarkan Suraqah mendekat.

“Maafkan saya, beribu-ribu maaf!” kata Suraqah.
“Jangan engkau balas perbuatan saya, wahai Muhammad! Berilah saya sebuah surat jaminan bahwa engkau tidak akan membalas saya saat engkau dan agamamu kelak telah menguasai seluruh jazirah Arab.”

Rasulullah ﷺ tersenyum dan mengabulkannya.
“Tahukah Anda bahwa orang-orang Quraisy menjanjikan 100 ekor unta bagi siapa pun yang dapat membawa Anda kembali” ucap Suraqah.

Rasulullah ﷺ kembali tersenyum menyejukkan hati.

Dengan penuh semangat, Suraqah menawarkan bekal dan peralatan untuk perjalanan jauh. 

Namun, Rasulullah ﷺ menolaknya dengan halus. Beliau hanya berpesan agar Suraqah merahasiakan pertemuan ini.

Sebelum kembali berangkat, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Ya Suraqah, suatu saat kelak engkau akan berpakaian dan memakai perhiasan, gelang, serta emas yang biasa di pakai raja-raja Persia.”

Dengan hati dipenuhi rasa bahagia, Suraqah memandang wajah Rasulullah ﷺ yang pergi menjauh.

*Memerah Susu*

Tidak lama kemudian, rombongan Rasulullah ﷺ melewati kemah seorang ibu yang bernama Ummu Ma’bad. 

Mereka pun berhenti untuk membeli kurma, daging, dan susu. 

Tempat seperti itu memang biasa menyediakan perbekalan untuk para musyafir yang lewat. Namun sayang, apa yang mereka inginkan ternyata sudah habis. Ummu Ma’bad yang baik hati merasa iba.

“Demi Allah, seandainya ada sesuatu yang Tuan-Tuan butuhkan, silahkan mengambilnya,Tuan-Tuan tidak perlu membayar.”

Rasulullah ﷺ melihat kambing kurus dan bertanya,

“Bagaimana keadaan kambing itu, Ummu Ma’bad? Apakah ia bisa mengeluarkan susu?”

“Kambing itu adalah kambing yang sakit-sakitan Tuan. Ia sama sekali tidak menghasilkan susu.”

“Apakah engkau memperkenankan saya memerah susunya? tanya Rasulullah ﷺ lagi.

“Silahkan jika memang Tuan mengira ia dapat menghasilkan susu.”

Dengan izin Allah ﷻ, kambing sakit-sakitan itu menghasilkan susu ketika Rasulullah ﷺ memerahnya. Susu itu beliau berikan kepada Abu Bakar, lalu Abdullah bin Uraiqith, dan terakhir untuk beliau sendiri. 

Sesudah itu, beliau memerahkan susu untuk Ummu Ma’bad. Dan, beliau memerahkan segelas lagi untuk suami Ummu Ma’bad.

“Ambillah ini satu gelas buat Abu Ma’bad jika nanti ia datang.”

Setelah itu, Rasulullah ﷺ dan rombongannya pun meneruskan perjalanan. 

Sesudah matahari terbenam, datanglah Abu Ma’bad. Melihat segelas susu telah disediakan untuknya, ia keheranan dan bertanya pada istrinya, dari mana segelas susu ini Ummu Ma’bad?”

“Ini dari kambing kita yang sakit-sakitan.”

Kemudian Ummu Ma’bad bercerita panjang lebar. Abu Ma’bad segera keluar dan memerah susu kambing yang kurus itu.

Ternyata sejak saat itu sampai mati kambing kurus itu selalu menghasilkan banyak susu.

Abu Ma’bad berkata kepada istrinya,
“Sungguh, saya bercita-cita apabila kelak saya dapat berjumpa dengan orang yang kau ceritakan itu, saya hendak menjadi pengikut dan sahabatnya.”

*Bersambung*

Selasa, 05 Januari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 61

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 61*

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Memburu Rasulullah ﷺ*

Di Mekah, musyrikin Quraisy tampak panik. Para pembesar berkumpul sepagi mungkin. Dengan segera, pasukan berkuda disebar ke beberapa perkampungan seputar Mekah, untuk mencari Rasulullah ﷺ.

“Mengapa Muhammad bisa lolos? Bukankah kita telah mengepung begitu rapat sampai tidak seekor ular gurun pun dapat lolos?” teriak seorang pembesar.

Semua orang terdiam. Mereka berusaha mencari jawabannya. Namun, tidak seorang pun bisa menjelaskan apa yang terjadi.
“Sudahlah, itu tidak penting!” akhirnya seseorang berseru.
“Sekarang yang paling mendesak adalah menemukan Muhammad secepat mungkin! Ada yang punya usul?”

“Panggil pencari jejak paling ahli! Suruh dia melacak jejak Muhammad!”

Usul itu segera dijalankan. Pencari jejak yang amat ahli itu mengikuti jejak yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ. Pasukan bersenjata lengkap mengikuti di belakangnya dengan wajah tidak sabar. 

Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang semalam ditugaskan menyergap Rasulullah ﷺ.

Setelah bekerja dengan teliti, pencari jejak itu menarik napas sambil menggeleng, “Jejaknya sudah terhapus oleh orang yang lalu lalang tadi pagi!”

“Gawat!” gemas seseorang. “Apa kau punya usul lain, pencari jejak?”
“Siapa sahabatnya? Kita bisa bertanya kepada sahabat Muhammad yang paling dekat!”

Orang Quraisy saling pandang dan serempak bergumam, “Abu Bakar!”

Dipimpin Abu Jahal, pasukan pencari itu tiba di rumah Abu Bakar. Asma binti Abu Bakarlah yang keluar membukakan pintu.
“Di mana ayahmu?” bentak Abu Jahal.
“Dia pergi dan saya tidak tahu ke mana perginya,” jawab Asma dengan berani.

“Jangan berdusta! Katakan ke mana perginya?”
“Saya tidak tahu! Di rumah hanya ada ibu dan saudari saya.”
“Ah, terlalu!” sambil bersungut, Abu Jahal menampar wajah Asma keras-keras.

*Sarang Laba-Laba*

Ketika mereka keluar kota dan menjajaki beberapa jalan, sang pencari jejak menemukan jejak mencurigakan. 

Kemudian, satu kelompok pasukan berkuda mengikuti jejak itu sampai tiba di kaki Gunung Tsur. Namun, di situ jejak terputus. Mereka kebingungan.
“Ke mana arah kita? Ke kanan atau ke kiri?” tanya komandan pasukan. “Apakah Muhammad masuk ke dalam gua itu atau terus mendaki ke puncak?”

“Aku tidak tahu,” geleng si Pencari Jejak.
Namun, lewatlah seorang gembala dan mereka menanyainya.
“Mungkin saja mereka ke dalam gua itu,” jawab sang gembala.
“Tapi aku tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”

Di dalam gua, keringat dingin Abu Bakar keluar, ketika mendengarnya,
“Bagaimana kalau mereka sampai masuk ke dalam sini? Bukan keselamatanku yang aku khawatirkan, melainkan keselamatan Rasulullah!” kata Abu Bakar dalam hati.

Beberapa pemuda naik dan melongok-longok ke mulut gua. Jantung Abu Bakar hampir lepas. Ia berbisik, “Ya Rasulullah, kalau ada yang menengok ke bawah, pasti kita akan terlihat.”
Rasulullah ﷺ menjawab mantap, “jangan takut Abu Bakar, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Para pemuda itu turun, kembali ke pasukannya.
“Mengapa kalian tidak masuk ke dalam gua?” tanya komandan mereka dingin.
“Gua itu tertutup sarang laba-laba! Tidak mungkin Muhammad masuk ke dalam tanpa merusaknya!”
“Lagi pula ada dua ekor merpati hutan bersarang tepat di mulut gua!” lapor yang lain. “Jika Muhammad ﷺ masuk ke dalam, sarang itu juga pasti akan rusak.”

Komandan pasukan mengalihkan mukanya ke arah lain sambil menghela napas, “Baiklah, naik kudamu! 

Kita cari ke arah lain!” Pasukan pun menjauh.
Sarang laba-laba dan burung merpati yang menutupi gua itu adalah pertolongan yang diberikan Allah ﷻ. 

Padahal sebelum Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar masuk, tidak ada laba-laba dan burung merpati yang bersarang.

Selain laba-laba dan burung merpati, di mulut gua juga mendadak tumbuh sebatang pohon yang menghalangi sebagian jalan masuk.

Di dalam, Abu Bakar menarik napas lega. Keimanannya kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ semakin bertambah kuat.

*Perjuangan Anak Muda*

Abdullah bin Abu Bakar dan saudarinya, Asma binti Abu Bakar, masih muda ketika mereka membantu hijrah Rasulullah ﷺ dan ayah mereka. Abdullah bertugas mencari berita di tengah kaum Quraisy, sedangkan Asma mengirimkan makanan ke gua. Itulah ciri khas para pemuda Muslim sepanjang zaman. 

Mereka tidak hanya tekun beribadah ritual, tetapi juga mengerahkan seluruh kesanggupanya untuk berjuang.

*Menenteramkan Kakek*

Abu Quhafah adalah ayah Abu Bakar. Dia buta. Setelah Abu Bakar hijrah, Abu Quhafah mendatangi Asma. Sang kakek khawatir Abu Bakar tidak meninggalkan sepeser pun untuk putrinya.

Memang demikian, karena Abu Bakar membawa semua uangnya untuk perjuangan Islam di Madinah.

Asma membungkus batu dan berkata, Ayah telah meninggalkan banyak uang untuk kami. Abu Quhafah meraba batu itu dan hatinya tentram karena ia menyangka Abu Bakar memang meninggalkan uang yang banyak.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 60

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 60*

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمد

*Dikepung*

Abu Bakar berpesan kepada putranya, Abdullah, agar setiap hari mendengarkan rencana-rencana Quraisy saat mereka tahu Rasulullah ﷺ telah berangkat hijrah:

“Abdullah, setiap petang pergilah ke Gua Tsur tempat Rasulullah ﷺ dan aku bersembunyi. Ajaklah adikmu, Asma. Suruh ia membawa makanan untuk kami.”

Abu Bakar juga menugasi pembantunya, Amir bin Fuhaira, agar menggembalakan kambing-kambingnya di dekat Gua Tsur selama Rasulullah dan Abu Bakar sembunyi di situ. 

Amir bertugas memerah susu kambing untuk minum Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar, sekaligus memberi peringatan jika orang-orang Quraisy itu mendekat.

Malam pun tiba, Rasulullah ﷺ telah besiap-siap. Beliau meminta Ali bin Abu Thalib untuk tidur di atas tempat tidur beliau dan menggunakan selimut yang biasa beliau kenakan.

Kemudian, datanglah para pembunuh ke rumah Rasulullah ﷺ. 

Mereka adalah para pemuda kekar yang berasal dari berbagai kabilah. 

Pembunuh-pembunuh itu bersenjata lengkap dan mengepung rumah Rasulullah ﷺ dari segala penjuru: depan, belakang, dan samping. Disertai para ketua kabilah, jumlah semuanya hampir seratus orang. 

Tampaknya tidak ada celah sedikit pun untuk meloloskan diri.

Menurut sebuah riwayat, salah seorang dari mereka mengintai ke dalam rumah Rasulullah ﷺ dengan memanjat. 

Konon, setiap kali ia memanjat, terdengarlah suara tangis seorang anak perempuan. Orang itu pun segera turun. Begitulah yang terjadi berkali-kali.

Menurut adat kesopanan Quraisy, terhinalah seorang ksatria yang memasuki rumah orang yang akan dibunuhnya dan hinalah seorang ksatria yang sampai merusak keamanan seorang perempuan. 

Anak perempuan tadi adalah seorang keluarga Rasulullah ﷺ yang terbangun dari tidurnya.

Demikianlah, para pembunuh terus berusaha mengintai untuk memastikan apakah Rasulullah ﷺ masih berada di rumah atau tidak. Ketika melihat Ali bin Abu Thalib yang tidur dengan berselimut, mereka menyangka itu adalah Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, tenanglah mereka.

*Rasulullah ﷺ Meloloskan Diri*

Ketika saatnya tiba, Rasulullah ﷺ keluar rumah dengan sangat perlahan. Beliau mengambil segenggam pasir dan menaburkannya ke kepala para pengepung sambil membaca doa. 

Dengan pertolongan Allah, para pengepung itu tidak dapat melihat Rasulullah ﷺ ke luar rumah. Bahkan semuanya jadi mengantuk dan tertidur. 
Rasulullah ﷺ pun pergi.
Tidak lama kemudian, Abu Bakar datang. 

Setelah tahu apa yang terjadi, Abu Bakar segera menyusul Rasulullah ﷺ dan berhasil menemui beliau di tengah perjalanan menuju Gua Tsur. Pagi hampir tiba ketika tiba-tiba muncul seorang laki-laki tua yang tidak seorang pun pernah melihatnya. Orang tua itu berseru nyaring untuk membangunkan para pengepung, “Hai orang banyak! Kamu semua di sini sedang menunggu apa? Mengapa kalian tertidur demikian pulas?”

“Kami sedang menunggu Muhammad! Bukankah ia masih tidur di dalam!”

Orang itu menggeleng-geleng,
“Kasihan …. kasihan …. kasihan sekali kalian! Muhammad sudah pergi dari tadi setelah menaburkan pasir di kepala kalian!”

Para pemuda gagah itu bangkit, sambil membersihkan pasir di kepala mereka,
“Aduh, pasir di kepala kita! Sungguh keterlaluan! Keterlaluan!”

Salah seorang dengan gemas menggedor-gedor pintu rumah Rasulullah ﷺ. “Muhammad! Muhammad! Muhammad!”

Mereka kemudian menyerbu masuk dengan pedang terhunus. Hanya dalam waktu beberapa detik, mereka mengelilingi tempat tidur Rasulullah ﷺ.

Dengan kasar, selimut ditarik dan pedang-pedang terangkat siap untuk dihujamkan. 

Namun, Ali bin Abu Thalib yang tidur di tempat Rasulullah itu segera melompat bangun dan siap menghadapi maut.

Wajah para pemuda itu membeku pucat melihat bukan Rasulullah ﷺ yang berbaring.
“Mana Muhammad?” hardik mereka kasar.
“Aku tidak tahu!” jawab Ali bin Abu Thalib.

Para pemuda itu kemudian menggiring Ali bin Abu Thalib ke dekat Ka’bah. Di sana mereka memukul, menendang, dan menampar wajah beliau. Namun, Ali lebih baik mati daripada mengatakan di mana Rasulullah ﷺ berada. 

Dengan putus asa, mereka pun melepaskan Ali bin Abu Thalib yang telah bertahan demikian berani.

*Di Gua Tsur*

Saat itu Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Gua Tsur. Selama berjalan, Abu Bakar sebentar-sebentar melangkah di muka Rasulullah ﷺ, lalu disamping, kemudian pindah ke belakang. 

Demikian berulang-ulang.
“Abu Bakar, saya tidak mengerti perbuatanmu ini?” ucap Rasulullah ﷺ.

“Ya Rasulullah, saya takut kita diikuti pengintai. Untuk mengelabuhi mereka, saya berpindah-pindah berjalan di dekat Anda.”

Saat itu Rasulullah ﷺ berjalan dengan kaki telanjang. Padahal beliau tidak biasa berjalan tanpa alas kaki. 

Akibatnya, kaki Rasulullah ﷺ dipenuhi luka. Tiba di Gua Tsur, Abu Bakar meminta Rasulullah ﷺ menunggu sebentar di luar. Abu Bakar tahu Gua Tsur banyak dihuni binatang-binatang liar, buas, dan berbisa seperti ular dan kalajengking. 

Tidak seorang manusia pun berani masuk ke dalamnya.
Abu Bakar pun masuk dan membersihkan gua tanpa menghiraukan bahaya yang mengancam. Ia merobek pakaiannya secarik demi secarik untuk menutup semua lubang yang terlihat. Setelah itu, dengan pakaian terkoyak-koyak, ia menyingkirkan batu-batu. 

Mendadak seekor ular yang bersembunyi di balik bebatuan itu menggigit kakinya dengan keras. Sakit sekali bekas gigitan itu seperti hendak meledakkan kepalanya. 

Namun, Abu Bakar menahan rasa sakit itu dan terus bekerja tanpa bersuara.

Setelah selesai, Rasulullah ﷺ pun masuk. Demikian lelahnya beliau hingga tertidur dengan meletakkan kepala di pangkuan Abu Bakar. Saat itu, rasa sakit bekas gigitan ular semakin terasa menyengat sampai-sampai air mata Abu Bakar menetes-netes. Setitik air mata itu menetes di muka Rasulullah ﷺ. 

Beliau bangun dengan terkejut.
“Mengapa engkau menangis wahai Abu Bakar?”

“Saya digigit ular, ya Rasulullah.”
“Oh, mengapa tidak engkau katakan dari tadi?”

“Saya takut membangunkan engkau.”
Rasulullah ﷺ memeriksa luka Abu Bakar dan mengusapnya. 

Seketika itu juga, bengkak dan rasa sakitnya lenyap. 

Kemudian, Rasulullah ﷺ bertanya,
“Kemana pakaianmu?”

Abu Bakar menceritakan semua yang terjadi. Rasulullah ﷺ terharu. Beliau pun berdoa, “Ya Allah, letakkan Abu Bakar kelak pada hari Kiamat pada derajatku!”

*Bersambung*

Minggu, 03 Januari 2021

Kisah Rasulullah Bagian 59

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 59*

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

*Umar dan Hamzah Hijrah*

Akhirnya berangkatlah kaum Muslimin secara berangsur-angsur.
Yang tinggal di Mekah saat itu hanyalah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Hamzah, Umar bin Khattab, dan beberapa gelintir orang yang tidak menemukan cara untuk meloloskan diri. Ketika Abu Bakar meminta izin untuk berhijrah, 

Rasulullah ﷺ menjawab, “Jangan tergesa-gesa, mungkin saja Allah memerintahkan aku berhijrah dengan disertai seorang kawan.”

Akhirnya, Hamzah pun berangkat bersama beberapa orang. Namun, beda dengan saudara-saudara Muslimnya yang berangkat dengan sembunyi-sembunyi. 

Hamzah bin Abdul Mutthalib berangkat terang-terangan sambil menyandang pedang. 

Sorot matanya seolah-olah berkata,
“Siapa pun yang berani mencegahku pergi, akan menghadapi tebasan pedang!”

Melihat sorot mata itu, tidak seorang Quraisy pun yang berani bertanya-tanya.

Setelah itu, Umar bin Khattab pun menyusul. Ia pergi bersama beberapa orang lemah dan miskin yang tidak mungkin dibiarkan pergi jika dikawal seorang pelindung yang disegani Quraisy.

Sambil menyandang pedang, meletakkan busurnya di pinggang. Umar bin Khattab pergi melewati Ka’bah. 

Tangannya menggenggam anak-anak panah. Di hadapan para pembesar Quraisy yang sedang duduk-duduk disitu, ia berkata,
“Siapa di antara kalian yang ingin ibunya merasakan kematian anaknya, yang ingin anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda, temuilah aku di belakang lembah ini.”

Namun, tidak seorang pun beranjak memenuhi tantangan itu. Melihat tantangannya tidak terjawab, Umar bin Khattab melompat ke atas kuda dan pergi memimpin rombongan hijrah. Kepergiannya diikuti tatapan penuh rasa takut sekaligus benci orang-orang yang memusuhi Islam.

Kini, tinggallah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Ali bin Abu Thalib yang belum berhijrah. 

Melihat Rasulullah ﷺ sendirian, para pemuka Quraisy merencanakan sesuatu yang jahat untuk mencelakakan beliau.

*Quraisy Mengincar Rasulullah ﷺ*

Pada sebuah pertemuan bernama Darun Nadwah, para pemimpin Quraisy berkumpul untuk menentukan sikap terhadap Rasulullah ﷺ.
“Sudah berkali-kali kita membicarakan kepergian Muhammad dan pengikutnya ke Yatsrib, tetapi sampai saat ini tidak ada satu pun tindakan yang bisa kita lakukan!” ujar seseorang.

“Betul, padahal persoalan ini begitu gawat buat kita. Sadarilah oleh kalian, jika Muhammad dan pengikutnya berkumpul di Yatsrib, suatu saat bisa saja mereka datang ke sini untuk menyerang kita!”

“Dan kafilah-kafilah dagang kita!” jerit yang lain. “Kafilah-kafilah dagang kita harus melalui daerah pinggiran Yatsrib untuk bisa sampai ke Syam! Apa jadinya jika perdagangan kita mereka tutup? Kita akan kelaparan dan menderita! Persis seperti kita mengurung Muhammad dan keluarganya selama beberapa tahun di Syi’ib Abu Thalib!”

Semua orang bergidik ngeri membayangkan kemungkinan itu. 

Sejenak tidak seorang pun tahu harus berkata apa. Sampai akhirnya, seseorang memecahkan keheningan,
“Kita harus segera bertindak! Kemukakan usul kalian tentang apa yang harus kita lakukan!”

“Masukkan dia dalam kurungan besi dan tutup pintunya rapat-rapat, kemudian kita awasi biar dia mengalami nasib seperti penyair-penyair semacamnya sebelum dia, seperti Zuhair dan Nabighah!”

Namun pendapat ini tidak mendapat dukungan yang lain.
“Kita usir dia! Buang saja dia keluar Mekah!”
Namun, nanti dia bisa bergabung dengan pengikutnya di Yatsrib!”

Akhirnya mereka menyetujui usul Abu Jahal yang sangat kejam,
“kita ambil seorang anak muda yang tangguh dan terpandang dari setiap suku. Kemudian suruh mereka menusuk Muhammad secara bersama-sama dengan pedang-pedang yang telah diasah setajam mungkin. Bani Abdu Manaf dan Bani Hasyim tidak akan bisa membalas kematian Muhammad karena seluruh suku di sini terlibat pembunuhan itu! 

Paling-paling kita hanya harus membayar ganti rugi yang bisa kita tanggung bersama-sama!”

*Persiapan Hijrah Rasulullah ﷺ*

Pada hari dilaksanakannya rapat untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Jibril turun dan menyampaikan firman Allah ﷻ yang membongkar rencana Quraisy tersebut. Setelah itu, Jibril berkata,
“Ya Rasulullah! Jangan Anda tidur malam ini di atas tempat tidur yang biasa, sesungguhnya Allah menyuruh Anda agar berangkat hijrah ke Yatsrib.”

Jibril juga menyampaikan bahwa kawan hijrah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar. 

Setelah mendengar perintah tersebut, tanpa membuang waktu lagi, Rasulullah ﷺ pergi ke rumah Abu Bakar.

Saat itu, tengah hari. Panas matahari terasa membakar kepala. Rasulullah ﷺ berjalan sambil menutup muka dan kepala. Begitu tiba di depan rumah Abu Bakar, beliau segera memanggil-manggil sahabatnya itu.

Abu Bakar terkejut,
“Rasulullah sampai memerlukan datang di tengah panas yang amat menyengat begini, pasti ada sesuatu yang penting.”

Tergesa-gesa Abu Bakar keluar menyambut Rasulullah ﷺ dan menyilakan beliau masuk. Rasulullah ﷺ duduk dan berkata,
“Allah telah mengizinkan aku keluar dan hijrah.”

Dengan hati berdebar dan penuh harap, Abu Bakar bertanya,
“Berkawan dengan ….. saya ya Rasulullah?”

Rasulullah ﷺ tersenyum, ” Ya dengan izin Allah.”

Saat itu juga, Abu Bakar menangis karena begitu bahagia. Sudah berbulan-bulan lamanya ia berharap agar Allah ﷻ memberinya kehormatan untuk menemani hijrah Rasulullah ﷺ. Saat ini, impiannya itu menjadi kenyataan.

Abu Bakar bangkit dan menunjukkan dua ekor unta yang sangat bagus,
“Ya Rasulullah ambillah salah satu dari kedua ekor unta ini untuk kendaraan Tuan.”

Rasulullah ﷺ kemudian memilih seekor unta dan beliau namakan Al-Qushwa. Abu Bakar segera berkemas. Beliau memerintahkan kedua putrinya, yaitu Aisyah dan Asma, untuk membantu menyiapkan bekal.
Rasulullah ﷺ cepat-cepat kembali ke rumah dan memanggil Ali bin Abi Thalib. Beliau berpesan agar Ali mengembalikan semua barang orang-orang yang sebelumnya dititipkan kepada Rasulullah ﷺ.

*Pemandu*

Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar menyewa seorang pemandu atau penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith. Ia termasuk orang Quraisy yang tinggal di luar kota Mekah. Ia hafal benar jalan-jalan dan situasi di daerah itu. Ia masih seorang musyrik, tetapi dapat dipercaya.

*Daya Tahan Rasulullah ﷺ*

Hijrah menandai berakhirnya periode Mekah dalam dakwah Rasulullah ﷺ. Selama 13 tahun berdakwah di Mekah, Rasulullah ﷺ telah menunjukkan daya tahan, kesabaran, dan ketabahan yang luar biasa. Beliau menerima semua perlakuan buruk orang kafir selama bertahun-tahun tanpa amarah, apalagi hingga patah semangat.

*Bersambung*

Kisah Rasulullah Bagian 58

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

*Bagian 58*
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

*Ikrar*

Mereka mengulurkan tangan kepada Rasulullah ﷺ dan berikrar. 
Inilah yang tercatat dalam sejarah sebagai Baiat Aqabah kedua. 

Dalam Ikrar kedua ini, mereka berkata,
“Kami berikrar mendengar dan setia pada waktu suka dan duka, pada waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan kami tidak takut kritik siapa pun atas jalan Allah ini.”

Rasulullah ﷺ menjabat tangan para lelaki, tetapi tidak menyentuh tangan wanita. Setelah itu, beliau berkata,

“Pilihlah dua belas orang pemimpin dari kalangan Tuan-Tuan yang akan menjadi penanggung jawab masyarakatnya.”

Mereka lalu memilih sembilan orang Khazraj dan tiga orang Aus. 

Kepada para pemimpin itu, Rasulullah ﷺ berkata,
“Tuan-Tuan adalah penanggung jawab masyarakat seperti pertanggungjawaban pengikut-pengikut Isa binti Maryam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggung jawab.”

Peristiwa ini selesai tengah malam di celah Gunung Aqabah, jauh dari masyarakat ramai. 

Saat itu,mereka berharap hanya Allah ﷻ saja yang mengetahui urusan mereka. Namun, ternyata ada orang lain yang kebetulan sedang lewat dan merasa curiga dengan suara-suara dari puncak bukit. Orang itu memanjati lereng gunung dan menyaksikan baiat Aqabah kaum Muslimin.

*Ketentuan Perang*

Salah satu isi penting ikrar Aqabah kedua ini adalah dicantumkannya ketentuan tentang perang. Pihak Anshar berjanji akan membela Rasulullah ﷺ sekali pun harus berperang dan mengorbankan jiwa. 

Semua itu dilakukan kaum Anshar tanpa pamrih sama sekali tidak mengharapkan apa pun dari Rasul kecuali keridhaan Allah ﷺ.

*Quraisy Terkejut*

Orang yang mengintai peristiwa ikrar tadi berteriak, memberi tahu penduduk Quraisy yang tinggal di Mina, tidak jauh dari Aqobah.
“Muhammad dan orang-orang yang pindah agama itu sudah berkumpul! Mereka akan memerangi kamu!”

Walau cuma mendengar selintas, orang itu mengetahui maksud kaum Muslimin. Dengan berteriak keras-keras, ia bermaksud mengacaukan baiat kaum Muslimin. Orang itu berharap kaum Muslimin jadi takut, gelisah, dan membatalkan perjanjian mereka dengan Rasulullah ﷺ.

Namun, tekad kaum Muslimin sudah tidak lagi tergoyahkan. 

Bahkan, dengan semangat menyala, Abbas bin Ubadah berkata kepada Rasulullah ﷺ,
“Demi Allah yang telah mengutus Tuan atas dasar kebenaran, kalau sekiranya Tuan berkenan, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami!”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Kami tidak diperintahkan untuk itu. Kembalilah ke kemah Tuan-Tuan.”

Dengan cepat dan diam-diam, kaum Muslimin kembali ke kemah mereka dan tidur sampai pagi, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.

Akan tetapi, pagi itu, orang Quraisy sudah mengetahui berita adanya ikrar. Mereka benar-benar sangat terkejut. Para pemuka Quraisy berkumpul dengan cepat dan segera bertindak. Mereka mendatangi para pemimpin rombongan Aus dan Khazraj.
“Apa yang terjadi? Kami dengar tadi malam kalian menjanjikan sesuatu kepada Muhammad!” ujar pemimpin Quraisy setengah menuduh.

Tidak semua rombongan Aus dan Khazraj adalah Muslim. Kebetulan para pemimpin rombongan adalah mereka yang belum beriman.
“Tidak! Kalian pasti salah! Tidak seorang pun dari rombongan kami keluar perkemahan tadi malam!” bantah para pemimpin rombongan dari Yatsrib itu.

Tadi malam, kaum Muslimin memang bergerak diam-diam. Mereka tidak memberi tahu anggota rombongan yang belum beriman tentang perjanjian mereka dengan Rasulullah ﷺ. Akhirnya, orang-orang Quraisy kembali dengan hati ragu. Sementara itu, dengan tenang, anggota rombongan dari Yatsrib berkemas dan berangkat pulang.

*Hijrah*

Kaum Anshar atau ‘para penolong’, demikianlah Rasulullah ﷺ menjuluki para sahabat barunya dari kota Yatsrib.

Sebelum kaum Anshar datang, rasanya dakwah Islam akan berputar di sekitar Mekah saja. 

Padahal, seluruh penduduk Mekah sudah diancam habis-habisan oleh para pemimpin Quraisy agar tidak menjadi pengikut Rasulullah ﷺ. Di mata orang Quraisy, tiba-tiba saja Islam sudah menjadi kuat nun jauh di Yatsrib sana dan itu di luar jangkauan mereka.

Tanpa membuang waktu lagi, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya menyusul kaum Anshar ke Yatsrib. 

Dengan sangat cerdik, beliau memerintahkan kaum Muslimin hijrah dengan berpencar-pencar dan diam-diam agar tidak menimbulkan kepanikan Quraisy.

Mulailah mereka berhijrah sendiri-sendiri dalam kelompok-kelompok kecil. Cara seperti itu berbeda dengan yang dilakukan Nabi Musa yang membawa kaumnya berhijrah dalan kelompok besar sekaligus. Ketika orang Quraisy tahu, mereka mulai panik.

“Tahan mereka yang mencoba mengungsi itu! 

Kurung orang yang mencoba pergi!” perintah seorang pemimpin.

“Mengapa tidak kita bunuh saja?” seru yang lain.

“Apa kamu sudah tidak waras? Kalau kita bunuh, kabilahnya akan menuntut balas!
Quraisy akan dipecah dalam perang saudara! Itu sudah pasti akan menguntungkan Muhammad! Tidak, tidak ada yang di bunuh. Bujuk saja supaya mereka kembali kepada sesembahan lama. Iming-imingi dengan harta kalau perlu. Jika tidak mau juga, siksa dengan keras!”

Demikian keras orang Quraisy bertindak, sampai-sampai ada istri yang dipisahkan dari suaminya. Kalau istrinya orang Quraisy, ia tidak boleh ikut suaminya hijrah. Jika tidak menurut, wanita itu akan mereka kurung.

Semua itu rela dijalani kaum Muslimin. Mereka rela berpisah dari keluarga bahkan meninggalkan harta untuk berhijrah demi kebebasan menyembah Allah ﷺ.

*Bersambung*

Jumat, 01 Januari 2021

Ulang Tahun Saat Pandemi

Taart dan nasi kuning itu cuman dessert. Menu utama adalah doa dan rasa syukur.
Selamat memasuki gerbang remaja anak baik. Selalu punya mimpi besar dalam hidup, banyak gembira dan bersyukur atas apa yang dimiliki sekarang. Jangan sombong, jangan gengsi dan harus selalu rendah hati, tetap bantu ayah bunda biar pun banyak bibi hilir mudik di rumah.
Jalan masih panjang, serupa sama game online, harus ngadepin banyak rintangan biar sampai ke level paling tinggi, dan akhirnya nanti mengerti seluruh alur ceritanya. 
Cc. Wawaw

Sisi Kanan

Saya tidak pernah tahu, kenapa good angel yang saya suka adalah sisi kanan. Selama menerima pendidikan yang saya tahu sisi kiri tubuh dikendalikan oleh otak kanan. Salah satu hal yang dikelola otak kanan adalah emosi, imajinasi dan visualisasi perasaan. Mungkin rasa bahagia itu yang membuat saya memilih sisi kanan.