Sabtu, 05 Juli 2025

Pekanbaru

Tradisi dan Adat Budaya Pekanbaru-Melayu Riau

Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Darimanapun asalmu selama kita berada di kota bertuah ini, maka wajib menjaga tradisi dan adat tunjuk ajar Melayu Pekanbaru.

Julukan Kota Pekanbaru adalah Pekanbaru Kota Bertuah. Julukan Bertuah ini adalah akronim Dari Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman, Harmonis.

Kenapa Pekanbaru disebut kota bertuah 
Karena hal tersebut untuk menggambarkan kondisi terbaik yang diinginkan penduduk Pekanbaru.

Pekanbaru terletak di tepi Sungai Siak, diceritakan pada awalnya merupakan kota kecil yang memiliki pasar atau pekan yang bernama Senapelan.
Wilayah Senapelan (Pekanbaru) pada awalnya pernah menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hal ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah, yang dianggap sebagai pendiri Pekanbaru modern. 
Dengan berbagai pertimbangan seperti ekonomi dan politik yang berkembang di Wilayah Riau, beliau pada saat itu memindahkan pusat kerajaan dari Mempura ke Senapelan. Senapelan saat itu dipimpin oleh Kepala Suku yang disebut Batin. 
Pada tanggal 23 Juni 1784, Senapelan yang akhirnya disebut Pekanbaru resmi berdiri dan akhirnya tanggal tersebut itu pula yang ditetapkan sebagai Hari jadi Kota Pekanbaru. 
Pekanbaru menjadi kota pada tahun 1948, meningkat menjadi kotapraja tahun 1956, dan menjadi ibukota provinsi Riau sebagai pengganti Kota Tanjung Pinang pada tahun 1959. Saat ini Pekanbaru memiliki 15 kecamatan dengan 83 kelurahan dan luas wilayah 446.50km2.

Pekanbaru merupakan kota ketiga terbesar di Sumatera setelah Medan dan Palembang, terkenal dengan hasil produksi minyak, baik minyak bumi maupun minyak yang dihasilkan dari kelapa sawit.
Pekanbaru tidak memiliki banyak objek wisata sektor alam, tapi ada banyak jasa pariwisata yang menawarkan kelebihan seperti pusat perbelanjaan, pasar wisata pasar bawah, hotel, bandara, terminal bus antar kota dan antar provinsi, pelabuhan dan kuliner. 
Masyarakat Pekanbaru pun bersifat kosmopolitan, karena dipengaruhi oleh letak strategis ditengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatera. Ada  banyak etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini, seperti suku Minangkabau, Melayu yang merupakan suku asli Riau, kemudian Jawa, Batak dan Tionghoa. Adapun adat, kebudayaan dan bahasa daerah melayulah yang mengatur tingkah laku dan kegiatan masyarakat yang bertempat tinggal di Pekanbaru. Kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh budaya Islam.
Tradisi, kebudayaan, dan adat istiadat masyarakat Pekanbaru menjadi satu kesatuan yang mendorong negara Indonesia semakin dikenal hingga ke mancanegara.
Bukan hanya itu saja, Pekanbaru juga menjadi salah satu kota yang memiliki beragam minuman, makanan, dan buah-buahan khas.
Seperti Gulai ikan patin, mie sagu, bolu kemojo,durian, nenas dan es lancang kuning dan masih banyak lainnya.
Saat ini Pekanbaru juga menjadi salah satu daerah di Indonesia yang cukup produktif dalam berwirausaha.

Mempunyai penduduk yang ulet dan gigih kini Pekanbaru pun mempunyai berbagai produk khas yang tak kalah populernya, seperti Batik Corak Pekanbaru, Kain tenun songket Pekanbaru, produk pisang kipas, kerupuk kulit patin dan masih banyak lagi yang lainnya.
Meskipun sudah sangat berkembang dan menjadi daerah yang maju, tetapi masyarakatnya tidak melupakan tradisi, kebudayaan, serta adat istiadat Pekanbaru-Melayu Riau yang sudah ada sejak dahulu.
Kesadaran dari dalam diri menjadikan setiap warga Pekanbaru tetap mempertahankan kelestarian tradisi dan juga keberagaman budayanya.
Tak heran bila beberapa warisan adat budaya berikut ini tetap lestari hingga sekarang!

Rumah Adat

Di Pekanbaru terdapat Rumah Adat Khas yang disebut Selaso Jatuh Kembar atau Balai Selaso. Bangunan yang sangat luas ini seperti rumah tapi fungsinya bukan merupakan tempat tinggal. Di dalam rumah adat ini terdapat Balai Adat, tempat berkegiatan bersama, sebagai tempat yang dipergunakan untuk melakukan pertemuan dan musyawarah. 
Keunikan dari rumah adat Selaso Jatuh Kembar adalah banyaknya hiasan dinding, jendela, pintu, birai tangga (pagar dinding rendah tepi tangga). 
Salah satu ukiran yang terkenal adalah Itik Sekawan. Ukiran ini merupakan gambar sekawanan itik yang berbaris rapi menggambarkan kehidupan masyarakat yang kompak dan selalu berdampingan. 
Ukiran terkenal lainnya adalah Pucuk Rebung, yang bentuknya menyerupai tunas, dan terbagi beberapa jenis.
1. Pucuk Rebung Kaluk Paku menggambarkan gotong royong dan saling tolong menolong di masyarakat.
2. Pucuk Rebung Bertunas menggambarkan hilangnya rasa lapar dan haus serta permasalahan hidup, agar penghuni rumah selalu sejahtera dan berkecukupan.
3. Pucuk Rebung Sekuntum menggambarkan musyawarah untuk mufakat.
4. Pucuk Rebung Sirih Tunggal menggambarkan agar aura negatif hilang dari dalam rumah.

Tak hanya hiasan dinding, ukiran bermakna juga dapat terlihat di birai tangga rumah adat ini. Coraknya ada yang berombak Awan Larak menggambarkan kelancaran rezeki masyarakat, kemudian ada pula yang berupa corak Lebah Gantung yang menggambarkan ketekunan dan kegigihan layaknya lebah.

Tarian adat 
Tari persembahan merupakan salah satu tarian yang menjadi kebanggaan dan icon seni masyarakat melayu dan sudah dijadikan tarian wajib dalam menyambut tamu di Pekanbaru.
Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu dan ditampilkan untuk menghormati dan menyambut tamu yang datang. Tari persembahan ini identik dengan pengajuan tepak sirih kepada orang yang dihormati dan meminta untuk mencoba sirih yang telah diberikan. Ini merupakan tradisi yang turun menurun dalam rakyat Melayu. Suka atau tidak, para tamu juga wajib memakan daun sirih yang sudah diberikan para penari. 

Pakaian Adat
Sebagian masyarakat sudah tahu bahwa Kota Pekanbaru mempunyai pakaian adat yang sangat khas. Pakaian tersebut memang sangat populer di Pekanbaru-Riau bahkan juga telah digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah lainnya.
Pakaian adat untuk wanita dan pria yang merupakan busana tradisional dan biasa dikenakan masyarakat Pekanbaru, baik itu untuk kegiatan sehari-hari maupun dikenakan saat upacara-upacara adat.
Pakaian adat wanita sehari-hari disebut : Baju Kurung
Desainnya sederhana dengan tampilan lengan panjang dan atasan yang menjuntai hingga sebawah lutut, memberikan simbol nilai-nilai kesopanan agar dijunjung tinggi oleh masyarakat. Baju kurung ini biasa digunakan sehari-hari, dibuat longgar dan tidak ketat, agar tidak menampakan lekuk tubuh yang memakainya.

Kemudian salah satu pakaian adat lainnya adalah Kebaya Laboh.
Kebaya laboh digunakan untuk acara-acara resmi seperti upacara adat atau perkawinan. Kebaya Laboh dipadukan dengan kain songket sebagai bawahan. Kebaya Laboh sebenarnya mirip dengan Kebaya pada umumnya. Perbedaannya pada panjang Kebaya, jika panjangnya tiga jari diatas lutut maka menunjukan wanita yang memakainya belum menikah. Sementara jika menjuntai sampai tiga jari dibawah lutut, maka dapat diketahui bahwa wanita yang memakainya telah menikah.

Sedangkan pakaian adat untuk pria menggunakan pakaian adat berupa baju Kurung Cekak Musang dan  Baju Kurung Belanga. 
Baju Kurung Belanga umumnya dibuat setelan dengan celana. Dikenakan pula kain samping atau kain songket ditambah penutup kepala berupa songkok, ikat kepala, juga tanjak. Tanjak dibuat dari jenis kain yang sama dengan baju dan celana atau kain samping atau kain songket.
Bentuk pakaian adat untuk pria lainnya ada yang disebut Baju Cekak Musang, mirip dengan busana Baju Kurung Belanga hanya ketika dikenakan terutama dalam acara resmi dilengkapi dengan penutup kepala berupa kopiah berwarna hitam. 

Warna-warna yang digunakan untuk pakaian adat Pekanbaru untuk wanita dan pria ini cenderung cerah dan dominan warna merah, kuning dan hijau. Ketiga warna ini masing-masing melambangkan nilai-nilai penting yang dihormati di masyarakat. Hijau melambangkan nilai rohani dan kepatuhan. Kuning melambangkan nilai kebesaran keluarga raja. Merah melambangkan nilai keberanian dan kepahlawanan.

Biasanya motif kain songket Pekanbaru selalu menggunakan gambar dasar dengan bentuk geometri sebagai salah satu ciri khasnya.
Sehingga kain songket Pekanbaru mudah sekali dikenali, terlebih lagi karena kain tersebut selalu menggunakan kain yang berbahan dasar tenun. 
Tetapi karena ingin terus mengikuti kebutuhan konsumen, kain tenun songket Pekanbaru juga mulai dibuat sesuai dengan perkembangan bahan pakaian di masa sekarang. Salah satunya adalah penggunaan kain katun akan tetapi makna alam yang tersimpan dalam setiap motif hiasan kain tetap selalu ada.
Sejak dahulu masyarakat Pekanbaru-Melayu Riau memang sudah terkenal akan keterikatannya dengan alam.
Bahkan banyak ritual kebudayaan di daerah Pekanbaru yang ditambahkan unsur alam oleh masyarakat ketika pelaksanaannya.

Masyarakat Pekanbaru-Melayu Riau sangat bangga akan warisan budaya mereka dan berusaha untuk tetap menjaga serta mempertahankan dan melakukan kegiatan yang dianggap penting keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. 
Beberapa tradisi budaya Pekanbaru-Melayu Riau yang menjadi warisan budaya secara turun temurun yang terkenal antara lain :

Petang Megang
Mengaji budak ditengah surau
Surau dibangun tepi sepadan
Tradisi bernama petang belimau
Tempat bersuci menyambut Ramadhan

Masyarakat Pekanbaru memiliki tradisi Petang Megang untuk memanjatkan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat menjelang bulan puasa. Petang Megang memiliki istilah lain yaitu Balimau Kasai.
Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Pekanbaru untuk menyambut bulan suci Ramadhan. 
Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis dan jeruk kapas, dicampur dengan harum-haruman dari bunga dan daun tujuh rupa seperti, serai wangi, daun nilam, akar siak dan mayang pinang. 
Tradisi Petang Megang biasanya dimulai dengan ziarah ke makam para leluhur yang merupakan tokoh agama yang dihormati, kemudian setelah selesai shalat ashar di Mesjid Raya, rombongan bergerak ke Rumah Singgah Tuan Kadi yang berada di pinggiran sungai Siak, sambil dilakukan arak-arakan oleh warga masyarakat sekitar, tokoh agama dan pemimpin adat dan pemimpin daerah. Dengan diiringi kesenian Kompang, atau alat musik tradisional khas Melayu, arak-arakan menuju lokasi upacara Petang Megang yang dilangsungkan di tepian Sungai Siak.
Kemudian dilakukan acara Mandi Balimau yang secara simbolis dilakukan pengguyuran terhadap beberapa anak yatim. Dilanjutkan setelahnya dengan lomba menangkap itik di sungai siak serta rangkaian lomba dan acara lainya. Terakhir masyarakat akan turun bersama untuk bersih-bersih atau mandi di Sungai Siak.

Rumah Singgah Tuan Kadi itu apa ? Rumah Singgah Tuan Kadi adalah rumah peninggalan sejarah yang ada di Kota Pekanbaru. Rumah yang berbentuk limas ini dulunya berfungsi sebagai rumah singgah bagi Sultan Siak Sri Indrapura apabila berkunjung ke Senapelan yang merupakan cikal bakal Kota Pekanbaru. Dulunya Senapelan merupakan atau Kota Pekanbaru saat ini merupakan daerah kekuasaan Sultan Siak.

Di Rumah Singgah Tuan Kadi inilah Sultan Siak beserta pengiringnya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumah Tuan Kadi lainnya, rumah ini terletak di tepi Sungai Siak, tak jauh di bawah Jembatan Siak III.

Tradisi adat dari Pekanbaru lainnnya adalah Berinai Curi.
Sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan, peralatan berinai (berupa bubuk pacar arab atau pasta henna), yang akan digunakan untuk melukis kuku jari tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki calon pengantin wanita diambil diam-diam (dicuri) dari rumah calon pengantin wanita. Makna dari tradisi Berinai Curi adalah menolak malapetaka atau bencana, menjauhkan pengantin dari kemalangan dan gangguan jin jahat terutama bagi calon pengantin wanita dan dipercaya akan membuat wajah pengantin semakin bercahaya saat hari pernikahan tiba.

Tradisi lainnya di masyarakat Pekanbaru disebut sebagai Tepuk Tepung Tawar.
Tradisi Tepuk Tepung Tawar adalah tradisi yang wajib dilakukan terutama saat acara pernikahan, khitanan, aqiqah, pengukuhan adat, berangkat naik haji hingga menempati rumah baru. Maknanya adalah memberikan doa selamat.
Sebelum pelaksanaan tepuk tepung tawar tercatat sejumlah bahan yang wajib ada, yaitu beras kunyit, beras putih, beras bertih, air wangi dan bunga rampai. Kelima bahan tersebut memiliki makna khusus. Beras kunyit simbol adat melayu yang kental berwarna kuning sekaligus diharapkan agar diberi murah rezeki, beras putih bermakna kesucian. Beras bertih bermakna kemakmuran. Bunga rampai bermakna keindahan. Air wangi bermakna sebagai penyejuk hati orang yang ditepuk tawari.
Prosesi tepuk tepung tawar dilakukan dengan mengambil daun yang telah diikat dan dicelupkan ke bahan-bahan air wangi yang sudah dipersiapkan untuk dipercikan ke tangan yang ditepung tawari. Selanjutnya orang yang melakukan tepuk tepung tawar mengambil beras kunyit, beras putih, beras bertih dan bunga rampai untuk ditaburkan pada orang yang sedang menjalani prosesi adat sambil membaca sholawat. Jumlah orang yang ditunjuk untuk penepuk tepung tawar haruslah berjumlah ganjil.

Kebudayaan serta adat istiadat masyarakat Pekanbaru-Riau sudah banyak mengalami perkembangan.
Tetapi masih banyak masyarakat yang bersedia melestarikannya sebagai warisan orang-orang terdahulu, seperti halnya tradisi Petang Megang yang sampai saat ini masih sering dipertunjukkan.

Karenanya adat istiadat adalah bagian dari kekayaan budaya suatu daerah atau bangsa. Oleh karena itu Cara Menghargai Keberagaman Budaya Daerah
1.Tidak menjelek-jelekan atau menghina        suku dan ras bangsa lain 
2. Menghormati adat istiadat daerah lain.
3. Senantiasa untuk mau mengenal adat   istiadat dari berbagai budaya suku yang 
    ada di Indonesia.

Pergi naik pesawat
Ke Kota Semarang
Bangsa ini punya beribu adat
Adat budaya peninggalan nenek moyang.










Ondel-ondel

Ondel-ondel adalah boneka besar berpasangan yang awal mulanya dibuat untuk keperluan upacara adat penyembuh wabah penyakit yang disebut juga upacara tolak ba'la. Upacara tolak ba'la salah satunya diadakan untuk mengusir wabah penyakit yang menyerang suatu perkampungan. Dikisahkan saat itu ada suatu kampung yang hampir penduduk di kampung itu mengalami wabah penyakit. Di masa itu dokter dan rumah sakit masih belum dikenal, yang ada hanya dukun yang mengobatinya. Dikisahkan dukun pun bermeditasi mencari petunjuk obat mujarab, dan dari meditasinya dukun memperoleh pesan (wangsit)  untuk membuat sepasang orang-orangan yang ukurannya sangat besar. Orang-orangan itu disebut yang dapat mengusir roh jahat di kampung tersebut.
Akhirnya penduduk kampung membuat orang-orangan berbentuk besar tanpa nama yang dipikul dan diarak bersama-sama oleh masyarakat kampung untuk mengusir roh jahat.
Ternyata apa yang dilakukan dukun dan penduduk kampung membuahkan hasil, seluruh penduduk sembuh dari wabah penyakit yang menyerang kampung.
Penduduk kampung meyakini orang-orangan yang dibuat itu merupakan sarana meminta pertolongan dari kekuatan gaib sehingga dijadikan ritual saat suatu kampung mengalami hal-hal yang tidak diinginkan yang digunakan sebagai ritual mengusir roh jahat, dan diimplementasikan ke dalam boneka tersebut sebagai wujud dari roh baik sebagai pengusirnya dan lambat laun menjadi kebiasaan adat.
Asal usul penamaan ondel-ondel sendiri berawal karena ukuran boneka yang sangat besar, yang perlu dipikul oleh beberapa orang sehingga mengakibatkan boneka itu seakan berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dari menggelengkan kepala itu lahir sebutan dari masyarakat untuk boneka besar itu yakni Ondel-ondel. Seiring perkembangan waktu, Ondel-ondel itu pun diberi nama, yaitu Kobar untuk boneka laki-laki yang ditandai dengan wajah merah dan Borah untuk boneka perempuan, yang ditandai dengan wajah putih.
Ondel-ondel yang awalnya berfungsi sebagai penolak ba'la, saat ini lebih berfungsi sering dipertunjukan untuk menyemarakan pesta rakyat, penyambutan tamu kehormatan, arak-arakan pengantin sunat atau acara pernikahan. Wajah dan gambaran dari Ondel-ondel masa kini lebih manis dan bersahabat, sejalan dengan fungsi ondel-ondel yang berubah dari boneka tolak ba'la menjadi boneka penghibur bagi semua kalangan usia.



Bacaan Ratib Al Haddad

Bacaan Latin

Al Fatihah Ila Hadrotinnabiy Muhammadin shalllahu alayhi wa alihi wasallam - Al Fatihah.

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn, ar-raḥmānir-raḥīm, māliki yaumid-dīn, iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn, ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm.

Aamanar Rasulu bimaa unzila ilayhi min Rabbihi wal mu'minun kullun aamana Billaahi wa Malaaikatihi wa Kutubihi wa Rusulih laa nufarriqu bayna ahadin min Rusulih wa qaalu sami'naa Wa ata'naa Ghufraanaka Rabbanaa wa Ilaikal masiir.

Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa Maa kasabat wa 'alayhaa maktasabat Rabbanaa laa tuaakhidhnaa in-nasiinaa aw akhta'naa Rabbanaa Wa laa tahmil 'alaynaa isran kamaa hamaltahu 'alal-ladhiina min qablinaa Rabbanaa wa laa Tuhammilnaa maa laa taaqata lanaa bih wa'fu 'annaa wa'ghfir lanaa warhamnaa Anta Mawlaanaa Fa'nsurnaa 'alal qawmil kaafiriin... Aamiin.

Laa ilaaha Illallaahu Wahdahu laa shariika lahu Lahul Mulku wa Lahul Hamdu Yuhyii wa Yumiitu wa Huwa 'alaa kulli shay'in Qadiir (3x).

Subhaanallaahi wal Hamdu Lillaahi wa laa ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar (3x).

Subhaanallaahi wa bi-Hamdihi subhaanallaahil 'Aziim (3x).

Rabbana'ghfir lanaa wa tub 'alaynaa innaka Anta't Tawwaab ur Rahiim (3x).

Allaahumma Salli 'alaa Muhammad Allaahumma Salli 'alayhi wa Sallim (3x).

A'udhu bi-Kalimaatillaahi't taammaati min sharri maa khalaq (3x).

Bismillaahilladhii laa yadurru ma'a Ismihi shay'un fil ardi wa laa fis-samaa' wa Huwa's Samii' ul 'Aliim (3x).

Radiinaa Billaahi Rabbawwa bil Islaami diinaw wa bi Muhammad-in Nabiyyaa (3x).

Bismillaahi wal Hamdu Lillaahi wal khayru wash sharru bi-Mashii'atillaah (3x).

Aamannaa Billaahi wal Yawmil aakhir tubnaa iia llaahi baatinan wa zaahiraa (3x).

Yaa Rabbanaa wa'fu 'annaa wa'mhulladhii kaana minnaa (3x).

Yaa Dhal Jalaali wal Ikraam amitnaa 'alaa diinil Islaam (7x).

Yaa Qawiyyu Yaa Matiinu ikfi sharraz-zaalimiin (3x).

Aslaha llaahu umural Muslimiin Sarafallaahu sharral mu'dhiin (3x).

Yaa 'Aliyyu Yaa Kabiiru Yaa 'Aliimu Yaa Qadiiru Yaa Samii'u Yaa Basiiru Yaa Latiifu Yaa Khabiir (3x).

Yaa Faarij al-hammi Yaa Kaashifal-ghammy Yaa man li-'abdihi Yaghfiru wa Yarham (3x).

Astaghfirullaaha Rabbal-baraayaa Astaghfirullaaha min al-khataayaa (4x).

Laa ilaaha Illallaah (50/100x, hingga 1000x).

Muhammadur Rasulullahi Shalallahu 'alayhi Wasallama wa sharrafa wa karrama wa majjada wa 'azzama wa Radiya llahu ta'ala 'an 'ashabi Rasulillahi 'ajma'iina wattabi'ina lahum bi'ihsaanin 'ila yau middini wa'alaina ma'ahum birahmatika yaa 'arhamar Rohimiin. Mutahhariin wa Ashaabihil Muhtadiin wat Taabi'iina lahum bi-ihsaanin ilaa yawmiddiin.

Kamis, 12 Juni 2025

LASMININGRAT GARUT

Raden Ayu Lasminingrat  merupakan tokoh pendidikan wanita asal garut yang lahir pada tahun 1843, putri dari seorang Ulama, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda bernama Raden Haji Musa dengan Raden Ayu Ria.

Lasminingrat memiliki intelektual luar biasa di dunia pendidikan karena ayahnya yang sangat memperhatikan hal itu. Tetapi karena mendapatkan sekolah belanda di daerah Sumedang, Lasminingrat diasuh oleh teman Belanda ayahnya yaitu Levyson Norman, sehingga lasminingrat tercatat sebagai wanita pribumi yang cerdas  dan mahir  dalam menulis dan berbahasa Belanda pada masanya. Selain itu, lasminingrat juga mendapatkan darah seni dari ayahnya yaitu nembang (menyanyi).

Dari kemahirannya dalam penulisan dan kesempatan yang diberikan oleh Karel Frederick Holle seorang Belanda yang sangat peduli terhadap pendidikan dan sastra sunda, Lasminingrat menerbitkan buku Tjarita Erman pada tahun 1875 yang isinnya ditulis dalam aksara jawa. Selain itu, terbit juga buku Wanasari atau Roepa-Roepa Dongeng pada tahun 1876. Kedua buku tersebut tidak hanya tersebar di Garut saja, melainkan hingga luar Jawa.

Selain menerbitkan buku, Lasminigrat juga  mendirikan Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1907 di lingkungan Pendopo Kabupaten Garut yang muridnya kebanyakan anak-anak gadis, bahkan muridnya mencapai 200 orang. Kegiatan dalam sekolah ini Lasminigrat mengajarkan membaca dan menulis serta keterampilan-keterampilan bagi perempuan.

Pada masa kependudukan Jepang, Sakola Keutamaan Istri itu diganti namanya menjadi Sekolah Rakyat (SR). Sampai pada akhirnya, tahun 1950 Sekolah Rakyat (SR) berganti lagi menjadi SDN Ranggalawe I dan IV yang sekarang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Garut.

Meskipun nama Lasminingrat tenggelam diantara pahlawan perempuan lainnya, tetapi karya-karya yang dimiliki oleh Lasminingrat tidak ikut tenggelam. Hasil perjuangannya  pun kini masih berdiri di Kabupaten Garut dan ditetapkan sebagai bangunan yang dilindungi oleh Pemerintah Provinsi.